Tuesday, 5 August 2014

Tantangan Membaca 2.0


Sejak bertugas sebagai kepala sekolah di SMA 3 Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, mulai bulan Agustus 2010, saya berusaha memperkuat visi sekolah di bidang literasi (membaca dan menulis). Beberapa program untuk mendorong siswa gemar membaca dan menulis telah dirancang dan dilaksanakan. Di antaranya program Perpus-Masuk-Kelas, Perpustakaan-dalam-Kelas, bimbingan menulis berita atau menjadi pewarta warga untuk blog sekolah, dan sebagainya.

Pada akhir tahun pelajaran 2013/2014 lalu, kami sempat meluncurkan program baru yang bernama “Tantangan Membaca”. Dalam rentang waktu antara 10 Mei 2014 sampai dengan 10 Juni 2014, siswa SMA 3 Annuqayah ditantang untuk membaca minimal 5 buku terpilih dari 22 judul yang tersedia di perpustakaan dalam kelas masing-masing. Siswa membuktikan ketuntasan membacanya dengan menulis ulasan/rangkuman buku yang dibaca sedikitnya satu halaman kuarto.

Siswa yang berhasil memenuhi tantangan ini dan menuliskan ulasan/rangkuman buku yang dibacanya kemudian mendapatkan sertifikat dari sekolah. Lebih dari itu, siswa yang memaparkan hasil bacaannya dalam forum terbatas yang difasilitasi sekolah kemudian mendapatkan penghargaan tambahan berupa buku bacaan.

Meski pemberitahuan program ini cukup mendadak dan waktu pelaksanaannya cukup terbatas dan bahkan 10 hari di antaranya merupakan hari pelaksanaan ujian semester, ternyata ada 11 orang siswa yang berhasil menuntaskan program ini (jumlah siswa kelas X, XI, dan XII SMA 3 Annuqayah di bulan Mei 2014 adalah 198 siswa). Delapan siswa di antaranya memaparkan hasil bacaannya dalam forum terbatas setelah pelaksanaan ujian semester. Selain kesebelas siswa tersebut, saya mendapatkan laporan bahwa sebenarnya cukup banyak siswa lainnya yang juga turut membaca beberapa buku namun mereka kesulitan menulis ulasan atau rangkumannya. Karena itu, mereka tidak mendaftarkan diri kepada ketua kelas masing-masing sebagai siswa yang telah menyelesaikan program “Tantangan Membaca” ini.

Setelah menyiapkan dan memantau langsung pelaksanaan program ini, mulai dari tahap pemilihan buku bacaan yang kemudian disebar di tiap kelas hingga pelaksanaan pemaparan hasil bacaan oleh siswa, saya mencatat beberapa hal sebagai evaluasi.

Pertama, secara umum, kebanyakan siswa—untuk tidak mengatakan semuanya—belum memiliki kebiasaan membaca buku yang baik. Karena itu, perlu ada bimbingan khusus tentang bagaimana cara mencerna buku yang baik (dan cepat). Demikian pula, siswa perlu dibekali keterampilan yang sifatnya praktis dan lepas (bahkan sifatnya bisa personal) tentang bagaimana mengulas sebuah buku. Untuk kedua hal ini, sekolah harus memprogram pelatihan mencerna buku (digesting) dan meresensi buku untuk semua siswa.

Kedua, siswa perlu belajar cara memaparkan gagasan secara lisan dengan baik agar gagasan yang disampaikan lebih mudah dipahami pendengar. Untuk masalah ini, sekolah perlu memberi materi semacam pelatihan tentang teknik presentasi. Ketiga, perlu ada layanan yang siap membimbing siswa bila saat membaca buku ada kesulitan atau hal yang ingin ditanyakan. Keempat, perlu adanya dukungan yang lebih kuat dari guru dan wali kelas untuk mendorong agar siswa mau mengikuti program ini.

Terlepas dari berbagai kekurangan yang ditemukan di lapangan, saya sangat tertarik untuk terus mendukung dan mengembangkan program ini. Selain penambahan koleksi buku terpilih untuk dimasukkan dalam program ini yang kemudian disebar di tiap kelas, saya berpikir untuk mengarahkan program ini agar siswa membaca buku secara lebih terfokus.

Maka mulai tahun pelajaran 2014/2015 ini, saya terpikir untuk menyiapkan dan meluncurkan program “Tantangan Membaca 2.0”. Sambil tetap mempertahankan model yang lama, kecuali soal jumlah buku dan waktu yang diberikan, dalam versi baru, program ini akan menantang siswa untuk membaca sejumlah buku dalam kategori tema yang sama. Misalnya, “Tantangan Membaca” untuk buku-buku bertema sejarah kehidupan Nabi Muhammad saw. Saya akan memilih sejumlah buku dalam tema ini yang mencakup aneka pembahasan yang kira-kira mewakili berbagai segi kehidupan Nabi untuk kemudian ditawarkan kepada siswa yang berminat. Untuk tema ini, misalnya, sementara yang sudah terbayang dalam benak saya antara lain buku Muhammad karya Martin Lings, Pribadi Muhammad karya Nizar Abazhah, Bilik-Bilik Cinta Muhammad karya Nizar Abazhah, Khadijah: The True Love Story of Muhammad karya Abdul Mun’im Muhammad, Ketika Nabi di Kota karya Nizar Abazhah, Muhammad: Rasul Zaman Kita karya Tariq Ramadan, Dan Muhammad adalah Utusan Allah karya Annemarie Schimmel.

Tema apa saja yang akan ditawarkan? Sesuai dengan semangat program literasi di SMA 3 Annuqayah, tema yang ditawarkan adalah terutama tema-tema yang menjadi visi pengembangan strategis SMA 3 Annuqayah dan dengan mempertimbangkan ketersediaan buku bermutu dalam tema serumpun yang kira-kira bisa dicerna siswa setingkat SMA/MA. Hingga saat ini, yang terbayang dalam benak saya adalah tema al-Qur’an, sejarah kehidupan Nabi Muhammad, akhlak/tasawuf, kepesantrenan dan Islam Nusantara, lingkungan hidup, Madura, jurnalisme, tokoh/sejarah, dan sastra.

Sekarang, saya sedang berusaha menyusun daftar buku terpilih untuk beberapa tema ini. Seperti halnya saat memilih daftar buku terpilih yang dibeli tahun pelajaran lalu yang menghabiskan dana lebih dari 10 juta rupiah, pekerjaan memilih buku yang bagus dan bisa dicerna siswa setingkat SMA/MA ini bukan perkara mudah.

Saya berpikir bahwa dengan membaca buku secara terfokus, pengalaman membaca siswa pasti akan memberi manfaat yang lebih baik. Saya berpikir bahwa bisa jadi himpunan informasi yang dikumpulkan siswa dari sejumlah buku dalam satu tema itu nantinya akan memunculkan pertanyaan-pertanyaan atau gugus gagasan yang membuka penjelajahan lebih lanjut. “Tantangan Membaca 2.0” menurut saya mungkin bisa menjadi pemicu bagi lahirnya para pembelajar mandiri yang punya semangat meneliti. Agar lebih efektif, saya pikir dalam proses mencerna buku-buku yang masuk dalam daftar, siswa perlu mendapatkan bimbingan khusus, misalnya tentang sebaiknya buku apa yang pertama kali dibaca, dan sebagainya.

Gagasan tentang “Tantangan Membaca 2.0” ini muncul bulan Ramadan lalu. Dengan menuliskan gagasan itu di sini, saya berharap ada masukan dari siapa saja yang sekiranya dapat membantu segera terwujudnya program ini atau semakin baiknya program ini.

Semoga Allah meridai.


Baca juga:
>> Menyemarakkan Semangat Membaca dan Menulis di Sekolah
>> Kerangka Acuan Program Pengembangan Literasi SMA 3 Annuqayah Tahun Pelajaran 2013/2014


4 komentar:

Wahyu Alam said...

Waw.. Saya sangat mengapresiasi program ini. Gila, ini mungkin program pertama di sebuah SMA, di Indonesia. Benar sekali. Dalam himpitan gugel dan bimbel seperti jaman sekarang, perlu cara kreatif untuk membentuk minat baca sekolah.

Akan lebih bagus lagi, jika resensi buku yg dihasilkan dipublish di blog.

Jadi ada tambahan ide lagi,
Bagi yg berhasil menyelesaikan tantangan ini, akan mendapatkan pelatihan khusus dan gratis dari Plat-M, tentang bagaimana menggunakan blog sebagai media alternatif menulis.

Plat-M siap bertandang ke SMA 3 Annuqoyah, sekalian silahturahmi dengan kepala sekolahnya, juga bisa sharing ttg manfaat blog kepada siswa yg berhasil menyelesaikan tantangannya.

Bagaimana, Pak?

Apabila setuju, bisa email saya ke wahyu@plat-m.com

M Mushthafa said...

Terima kasih, Mas Wahyu, untuk apresiasi dan dukungannya. Senang sekali jika suatu waktu Plat-M bisa berbagi ilmu untuk siswa kami. Saya setuju. Cuma mungkin waktunya tidak di awal tahun pelajaran ini. Kami masih mengutamakan untuk memberi pelatihan membaca buku dan menulis resensi buku terlebih dahulu.

Ahmad Subhan said...

3823Salam Mas Mushthafa,

Saya menduga, selain karena waktu yang singkat, hanya ada 10 siswa yang menyambut program tantangan membaca ini dikarenakan belum meratanya kebiasaan membaca di kalangan siswa. Bisa jadi, kesepuluh siswa yang berhasil dan yang ternyata juga membaca beberapa judul buku namun tak membuat ringkasan serta presentasi isi buku, adalah mereka yang sudah punya kebiasaan membaca lebih intensif ketimbang kebanyakan siswa.

Saya teringat Taman Baca Multatuli di Dusun Ciseel, Lebak Banten, yang punya program 'Reading Group Max Havelaar'. Di sana anak-anak usia SD dan SMP diajak membaca bersama novel Max Havelaar. Kegiatan yang diadakan seminggu sekali dan seringkali hanya dapat membaca, disertai penjelasan, sekitar 2-3 halaman ini dapat berlangsung selama sekitar satu tahun hingga novel tersebut tuntas dibaca. Intensitas inilah yang, bagi saya, membuat kemampuan anak-anak di sana punya kemampuan mencerna isi novel yang sebetulnya lumayan rumit itu.

Saya jadi tambah yakin bahwa persoalan kebiasaan membaca itu memang lebih baik jika dimulai sejak sebelum SMA. Soal bagaimana bentuk kegiatannya tentu dapat beragam, sesuai konteks lingkungan masing-masing.

Tentu saja bukan berarti program tantangan membaca ini terlambat. Adanya program ini bagi saya sudah sangat hebat. Setelah membaca beberapa tulisan mengenai program tantangan membaca di blog ini dan Taman Karya Madaris, saya jadi menduga bahwa program ini baru memberi kesempatan bagi beberapa siswa yang sudah punya kebiasaan membaca dengan baik. Mungkin kebiasaan itu sudah terbangun pada mereka yang sedikit itu melalui berbagai cara yang bersifat individual. Program tantangan membaca membuka kesempatan bagi mereka yang ternyata menonjol ini untuk tampil.

Saya berharap program wajib baca yang sudah direncanakan oleh Annuqayah pada periode mendatang dapat membangun kebiasaan membaca pada siswa secara lebih merata.

M Mushthafa said...

Mas Subhan, terima kasih atas masukannya yang sangat berharga. Dua poin penting yang saya catat:
(1) perlu dicoba program pendampingan membaca intensif untuk buku terpilih tertentu sebagai media latihan membaca dan membangun kebiasaan membaca secara mendalam.
(2) siswa yang masih benar-benar jauh dari buku perlu diutamakan agar bisa mulai dekat dengan buku. Untuk hal ini, perlu analisis dan program yang lebih matang lagi.
Sekali lagi, terima kasih, Mas Subhan.