Wednesday, 29 January 2014

Rahmat Allah untuk Jalan ke Surga




Ide penulisan buku ini muncul hampir setahun yang lalu, tepatnya di awal Maret 2013. Saat itu saya baru saja selesai menulis 42 esai al-Qur’an yang diminta oleh Penerbit Al-Mizan, salah satu unit perusahaan PT Mizan Pustaka yang khusus menerbitkan al-Qur’an. Hampir genap dua bulan menulis 42 esai al-Qur’an memberi saya banyak pengalaman berkesan. Secara khusus, saya sangat tertarik dengan gagasan penulisan esai pendek untuk memperkaya pemahaman satu atau serangkaian ayat terpilih dari al-Qur’an yang digagas oleh Al-Mizan.

Setelah penulisan 42 esai al-Qur’an itu rampung, saya tertarik untuk menulis esai-esai al-Qur’an dengan konsep serupa untuk kelompok tema yang berbeda. Saya kemudian mulai memperjelas gagasan saya itu dengan mencoba melihat berbagai kemungkinan. Hal pertama yang harus saya tentukan adalah pilihan tema. Singkat cerita, akhirnya saya memilih tema pernikahan dan keluarga.

Mengapa tema pernikahan dan keluarga? Alasan yang cukup praktis dari sisi perbukuan adalah bahwa saya berpikir jika esai-esai bertema pernikahan dan keluarga ini terbit dalam bentuk sebuah buku mungil, rasanya akan banyak orang yang tertarik karena buku semacam ini di antaranya bisa menjadi kenang-kenangan di acara pernikahan. Tambahan lagi, buku-buku bertema pernikahan dan keluarga belum ada yang mengemas pembahasannya dengan bertolak dari ayat atau kelompok ayat al-Qur’an tertentu.

Selain itu, saya juga punya pikiran yang lebih bersifat personal. Saya juga berpikir bahwa rasanya akan menarik jika di acara pernikahan saya nanti buku semacam ini bisa hadir sebagai kenang-kenangan. Pikiran yang menggoda ini sebenarnya dapat dibilang agak tidak jelas (absurd), karena waktu itu saya belum punya bayangan kapan saya akan menikah dan siapa calon pasangan yang bersedia menikah dengan saya.

Alasan lainnya terkait dengan pokok tema itu sendiri. Ketertarikan saya pada tema pernikahan dan keluarga sebenarnya sudah dimulai sekitar 12 tahun yang lalu, yakni menjelang pertengahan 2002 saat saya baru saja selesai menyunting terjemahan buku karya Khaled M. Abou El Fadl berjudul Conference of the Books: The Search for Beauty in Islam. Di antara kumpulan esai yang menuturkan semangat intelektual era kejayaan Islam itu, saya menemukan satu esai yang membahas tentang pernikahan. Abou El Fadl, intelektual kelahiran Kuwait yang kini menjadi profesor hukum Islam di University of California, Los Angeles, Amerika Serikat, itu memberi bingkai menarik tentang pernikahan dengan berlandaskan pada nilai-nilai spiritualitas Islam.

Buku-buku tentang pernikahan dengan sudut pandang Islam sebenarnya kemudian cukup banyak saya temukan. Tapi hingga kini, esai Abou El Fadl yang berjudul “Partnership with God” (Kemitraan dengan Tuhan) itu masih selalu menarik untuk saya baca. Pada tingkat tertentu, ada nuansa mendalam pada esai itu yang tak saya temukan pada tulisan yang lain.

Sudut pandang Islam tentang pernikahan dan keluarga yang relatif lebih mendalam—katakanlah yang lebih filosofis dan memiliki nilai spiritualitas—menurut saya menarik dan penting jika kita melihat pernikahan dan keluarga sebagai sebuah terminal penting dalam rentang hidup seseorang. Saya teringat sebuah kutipan yang ada di salah satu buku terbitan Qanita, lini penerbit Mizan untuk buku-buku bertema perempuan. Kutipan dari Joseph Barth itu kurang lebih berbunyi: “Pernikahan adalah peluang terakhir kita, dan yang terbaik, untuk menjadi dewasa.”

Kutipan ini pada tingkat tertentu mengemukakan peran penting pernikahan dalam perkembangan pribadi seseorang. Kematangan diri seseorang mungkin belum teruji secara lebih utuh jika ia belum menikah. Demikian pula, dari sisi lain, peluang mematangkan diri bagi orang yang masih belum menikah sebenarnya masih terbuka karena kehidupan berkeluarga mungkin dapat mengantarkannya pada tingkat kematangan tertentu.

Selain dari sudut perkembangan (kedewasaan) pribadi, nilai penting pernikahan tampak dalam peran kependidikannya atau fungsi perwarisan nilai-nilai luhur. Melalui berbagai cara, pernikahan atau keluarga dapat menjadi sarana untuk memperluas dan merawat ajaran agama atau pahala kebajikan agar terus mengalir lintas-zaman. Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumiddin misalnya menyebutkan bahwa di antara manfaat pernikahan adalah kehadiran anak (keturunan), yang darinya dapat diberikan kerangka pandang keagamaan. Memiliki anak di antaranya dapat diniatkan agar ia dapat ikut mendoakan kita sebagai orangtua kelak di kemudian hari. Selain itu, lanjut al-Ghazali, pernikahan juga dapat menjadi sarana jihad-diri (mujâhadah al-nafs). Merawat dan mendidik keluarga, membimbing keluarga agar tetap berada dalam petunjuk Allah, mengusahakan nafkah yang halal, dan peran-peran keluarga lainnya yang membutuhkan kegigihan dan kesabaran, semuanya adalah peran-peran yang nilai keutamaannya sangat besar.

Dalam konteks yang agak berbeda, ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud yang pada tingkat tertentu juga menggambarkan keutamaan peran melestarikan generasi dengan memberikan pendidikan yang baik. Hadits dari Abu Sa‘id al-Khudri itu menuturkan sabda Nabi: “Barangsiapa yang menanggung tiga orang anak perempuan, lalu mendidiknya, menikahkannya, dan memperlakukannya dengan baik, maka ia berhak masuk surga.”

Berbagai keutamaan pernikahan dan kehidupan berkeluarga yang dihubungkan dengan agama sebagai titik utama serta janji surga di ujung lainnya memberikan dorongan tersendiri bagi saya untuk menulis esai-esai al-Qur’an ini. Lebih jauh, apa yang saya lakukan dengan menulis esai-esai al-Qur’an bertema pernikahan dan keluarga dalam buku ini mungkin bisa dikatakan sebagai semacam penggalian lebih lanjut tentang bagaimana Islam, khususnya al-Qur’an, memberikan kerangka pandang dan tuntunan tentang pernikahan dan kehidupan berkeluarga.

Sebagai jalan pencarian diri menuju janji surga dari Allah swt, serta dengan kesadaran bahwa al-Qur'an adalah rujukan dan pedoman dasar umat Islam, buku ini diharapkan juga dapat menjadi pengingat untuk sebuah keinginan agar saya dan istri saya pada khususnya dapat senantiasa menjalani kehidupan berumah tangga dan bermasyarakat sesuai dengan tuntunan al-Qur'an. Selain itu, buku ini juga diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya untuk merawat kecintaan pada al-Qur’an, termasuk pula menyebarkan kecintaan itu pada sesama muslim dan mungkin juga generasi mendatang.

Pada akhirnya, buku ini memang tidak hanya dibuat untuk memuaskan keingintahuan saya semata. Ada hal yang sangat istimewa dari buku ini yang pada tahun lalu, saat konsep buku ini muncul di benak saya, sama sekali masih belum terbayang. Hal yang sangat istimewa itu tidak lain adalah seseorang yang sangat istimewa yang mungkin karenanya pula buku ini bisa terbit saat ini.

Rasanya ada kebahagiaan yang berlimpah saat saya menyelesaikan esai al-Qur’an terakhir untuk buku ini. Ide yang tahun lalu masih tampak samar kini bukan hanya menjadi semakin terang. Sesuatu yang jauh lebih bernilai secara pribadi di balik ide itu saat ini juga telah semakin benderang.

Saya berharap ini semua adalah bagian dari rahmat Allah. Selanjutnya, saya juga berharap bahwa limpahan rahmat dari Allah swt ini dapat menjadi pembuka bagi pintu rahmat yang lain. Saya teringat pada firman Allah di surah Annahl [16] ayat 72 yang menggambarkan berbagai bentuk nikmat Allah dalam kehidupan berkeluarga.

Dengan penuh rendah hati dan penuh harap, saya berdoa semoga kehadiran istri saya, Mudifatul Jannah—sesuatu yang sangat istimewa di balik kehadiran buku ini—dapat menjadi seperti kehadiran Khadijah bagi Muhammad al-Mushthafa. Tariq Ramadan, cucu Hasan al-Banna yang kini berdakwah dan berkiprah di Eropa, pernah menulis bahwa dalam pengalaman spiritual Nabi Muhammad, Khadijah adalah “salah satu tanda gamblang tentang limpahan rahmat dan kecintaan Tuhan kepadanya.”

Untuk itulah, maka ucapan terima kasih yang pertama dan utama saya sampaikan kepada Mudifatul Jannah yang telah bersedia memilih hidup berkeluarga bersama saya. Saya juga berterima kasih dan sangat senang karena dia juga bersedia menulis dua esai dan satu tulisan penutup untuk buku ini.

Yang kedua, saya mengucapkan terima kasih kepada kedua orangtua dan adik-adik saya yang dengan berbagai cara telah mengantarkan saya pada tahap kehidupan saya saat ini. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada guru-guru saya yang telah membekali saya dengan ilmu yang pasti akan sangat bermanfaat dalam kehidupan saya di dunia dan akhirat. Saya akan selalu berhutang budi kepada mereka semua.

Khusus untuk penerbitan buku ini, saya mengucapkan terima kasih kepada Cak Amar Faishal dari Penerbit Al-Mizan (PT Mizan Pustaka) yang telah memberi kepercayaan kepada saya untuk terlibat dalam penerbitan al-Qur’an yang juga memuat esai-esai saya (yang rencananya akan terbit dalam waktu dekat), yang dari situlah kemudian muncul ide penulisan buku kecil ini. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada Qamaruddin SF dan Muhammad Husnil dari Penerbit Serambi (Penerbit Zaman), Jakarta, yang telah memberi masukan untuk konsep awal buku ini. Saya juga berterima kasih kepada beberapa sahabat yang telah memberi masukan pada naskah awal tulisan ini setelah saya tayangkan di blog pribadi saya. Tak lupa saya juga berterima kasih kepada Fahmi yang telah membantu teknis pencetakan buku ini.

Terakhir, saya mohon maaf jika ada hal yang tak sempurna dalam buku ini. Saya sadar sepenuhnya bahwa saya tak punya latar belakang akademik di bidang tafsir atau studi al-Qur’an. Bahkan latar belakang akademik saya di luar bidang keagamaan.

Selain itu, keterbatasan waktu, bahan rujukan, dan teknis lainnya juga membuat proses penulisan buku ini menjadi kurang ideal. Jika disederhanakan, proses penyusunan buku ini memakan waktu sekitar dua minggu. Kami sebenarnya ingin menulis lebih baik. Di beberapa bagian, kami melihat peluang untuk ulasan yang lebih mendalam. Namun, karena berbagai keterbatasan itu, maka misalnya, ada beberapa ayat pernikahan dan keluarga yang tidak dibahas dalam buku ini. Karena itu, kami terbuka untuk berbagai kritik dan masukan yang insya Allah akan dapat menyempurnakan buku ini.

Semoga Allah meridai kehadiran buku ini dan pilihan saya untuk menjalani kehidupan berkeluarga bersama Mudifatul Jannah.

Wa mâ tawfîq illâ bi l-Lâh.


Tulisan ini adalah kata pengantar untuk buku Jalan ke Surga: Esai-Esai al-Qur'an tentang Pernikahan dan Keluarga. Buku ini ditulis bersama Mudifatul Jannah dan diterbitkan sendiri untuk kenang-kenangan syukuran pernikahan saya dengan Mudifatul Jannah, 10 Februari 2014 mendatang.


Baca juga:
>> 42 Esai al-Qur'an
>> Peduli Keluarga, Peduli Masyarakat
>> Tegas dalam Mendidik Keluarga
>> Pesan Moral al-Qur'an untuk Menghargai Perempuan
>> Keagungan Allah dan Kecanggihan Sistem Kehidupan
>> Kisah Penciptaan dan Muatan Nilai Silaturrahim
>> Keberagaman dan Tujuan Penciptaan


5 komentar:

Zyadah said...

baarokallaah...

M Mushthafa said...

Terima kasih, Zyadah.

wazeen said...

selamat kak

Laskar Jagad said...

Ini buku bagus. Enak utk dibaca. Memperkaya akal. Mempersempit ruang miskin. Dimana bisa didapatkan buku ini, Ya Mushthafa?

Rumput Liar said...

Luar biasa konsep serta kematangan niat untuk mengulas tentang keluarga dalam perspektif Al-Quran yang juga dapat mengabadikan moment ter-agung (insyaAllah) dalam hidup Ra Musthafa dan Mba' Didif..
Selamat..
Semoga semua doa dan harapan kalian selalu dipeluk Tuhan..