Sunday, 14 July 2013

Menyemai Benih Pewarta Warga

Para pewarta warga SMA 3 Annuqayah tahun pelajaran 2012/2013

Saat memimpin proses penyusunan Laporan Kegiatan Kependidikan SMA 3 Annuqayah Tahun Pelajaran 2012/2013, saya dan para pimpinan yang lain sangat terbantu dengan berita-berita kegiatan sekolah yang ditulis oleh siswa SMA 3 Annuqayah dan ditayangkan di blog sekolah khususnya dalam satu tahun pelajaran terakhir.

Selain fungsi dokumentasi, tulisan-tulisan siswa itu dapat menjadi sarana promosi kegiatan sekolah. Dari promosi kegiatan itu, tak jarang ada pihak-pihak yang mau bekerja sama atau bahkan membantu program sekolah kami. Tulisan-tulisan siswa itu bahkan kami rujuk dalam laporan singkat yang kami sebarkan kepada para wali siswa pada hari penyerahan rapor 3 Juli lalu.

Tradisi menulis para siswa pada khususnya berkaitan dengan kegiatan sekolah ini sudah saya rintis sejak saya masih belum menjadi kepala SMA 3 Annuqayah, yakni pada tahun 2008. Saat itu saya mengajar materi Bahasa Indonesia. Karena keterbatasan waktu dan keterbatasan yang lain, kemampuan menulis tidak bisa secara leluasa dilakukan di dalam kelas. Untuk itu, saya berinisiatif membuat ruang belajar yang lain bagi siswa untuk belajar menulis. Bentuknya adalah blog sekolah.

Belajar menulis yang paling mudah adalah menuliskan hal yang paling dekat atau sesuatu di sekitar kita. Jadi, menurut saya belajar menulis dengan dimulai dari tema kegiatan sekolah relatif akan cukup mudah bagi siswa. Maka saya mengarahkan proses belajar menulis ke arah penulisan berita sederhana atau straight news.

Saya merangkum cara penulisan berita sederhana dari buku-buku jurnalistik atau sumber lainnya. Dalam menerangkan hal ini kepada para siswa, sering kali saya menggunakan contoh berita yang dimuat di berbagai media untuk mengamati bersama bagaimana proses kreatif di balik penulisan berita-berita tersebut berdasarkan teori kepenulisan yang dipelajari.

Misalnya, saya mengambil satu berita di koran, lalu kami mendiskusikan sumber-sumber berita yang digunakan si penulis. Kami mengamati butir-butir informasi yang ada dan memilahnya berdasarkan jenis sumber berita, lalu mendiskusikan kemungkinan pengembangannya.

Berita yang ditulis siswa itu lalu saya tayangkan di blog sekolah. Untuk mendorong keterbacaan berita tersebut, saya menyebarkan tautan tulisan siswa itu di berbagai media sosial.

Naskah yang ditulis siswa saya periksa dan saya berita catatan. Jika tidak terlalu parah, biasanya saya yang menyunting sekadarnya. Jika masih banyak kesalahan mendasar, saya mengembalikan kepada si penulis dan memintanya untuk melakukan perbaikan. Kadang ada tulisan yang sampai dikembalikan sampai tiga kali. Senang juga jika si penulisnya tidak menyerah untuk menyunting tulisannya.

Sering kali saya harus bertindak lebih aktif dalam menagih tulisan kepada para penyumbang berita. Karena itu, setiap kali ada kegiatan di sekolah, saya sejak awal sering mengingatkan dengan bertanya: siapa yang akan menulis berita kegiatan ini? Dengan cara seperti ini, cukup jarang ada kegiatan sekolah yang tidak dituliskan beritanya oleh siswa.

Apa yang saya lakukan ini bisa dibilang juga merupakan upaya untuk menyemaikan benih-benih pewarta warga di kalangan siswa. Di era informasi ini, sangat penting untuk mendidik para penulis agar juga punya orientasi kepedulian sosial yang wujudnya berupa sikap berbagi (informasi). Mereka yang punya kemampuan menulis semestinya juga menggunakan kemampuannya itu untuk menyiarkan hal-hal penting yang tidak dikabarkan media arus utama.

Saya senang sekali saat menemukan siswa yang dulu aktif menyumbang berita dan kini telah berstatus sebagai alumni SMA 3 Annuqayah masih tetap menulis entah itu di blog pribadinya atau di media yang lain.

Atas kerja sama dan dukungan para siswa yang menyumbangkan proses dokumentasi dan promosi kegiatan sekolah ini, sejak saya menjadi kepala sekolah, saya memberikan penghargaan kepada penyumbang berita paling produktif.


Untuk tahun pelajaran 2012/2013 ini, saya memberikan kenangan-kenangan buku untuk semua penyumbang berita dari kalangan siswa yang jumlahnya ada 9 orang. Namun saya tetap memilih penyumbang berita terbaik dan memberinya penghargaan buku yang lebih banyak daripada penyumbang berita lainnya. Pengumuman nama-nama penyumbang berita dan penyerahan penghargaannya ini dilakukan pada hari penyerahan rapor di Madaris III Annuqayah, 3 Juli lalu.

Saya berharap semangat berbagi informasi ini menjadi salah satu nilai penting yang akan terus dikuatkan di SMA 3 Annuqayah. Dan saya yakin, ini semua akan dicatat sebagai amal kebaikan oleh Allah swt. Semoga Allah meridai.

6 komentar:

Bernando J. Sujibto said...

Selalu keren. Setiap kali menengok perkembangan SMA 3 di blog, saya ikut senang.
Semoga semakin maju dan berokah, gus.

M Mushthafa said...

Terima kasih BJ. Untuk terus maju, kami butuh berjejaring dan melangkah bersama. Untuk bisa ke sana, kami berkomitmen untuk terus berbagi.

Bernando J. Sujibto said...

Siyaaap Gus... Bismillah, demi kebaikan bersama.

M. Faizi said...

Apakah jumlah produktivitas sumbangan tulisan dari warga itu juga didukung oleh ketersediaan akses internet? Berapa persen kira-kira?

Addarori Ibnu Wardi said...

Bagaimana caranya agar tulisan siswa sawajarin bisa dibaca orang termasuk saya? karena hal itu juga termasuk apresiasi pada siswa. Dan hal itu bisa membuat para siswa lebih bersemangat apabila tulisan mereka layak dibaca oleh banyak kalangan.

M Mushthafa said...

@M. Faizi: rasanya tidak ada kaitannya, karena yang mengunggah ke internet saya sendiri. Yang paling penting disemangati, diberi masukan, dan semacamnya.
@Addorarori: saya mengunggahnya di blog sekolah sehingga bisa dibaca orang banyak (yang punya akses internet).