Monday, 27 February 2012

Mengantarkan Perpustakaan ke Ruang Kelas

Siswa SMA 3 Annuqayah menikmati suguhan "perpustakaan" yang diantar ke ruang kelas.

Membangkitkan minat baca menjadi salah satu persoalan penting di negeri kita, termasuk juga di sekolah. Apalagi di tengah terbatasnya fasilitas perpustakaan sekolah dan kurang terbiasanya siswa dalam membaca di lingkungan sebelumnya, misi untuk menumbuhkan kebiasaan membaca di sekolah menjadi semakin menantang. Perpustakaan yang tampil kurang menarik dan buku bacaan yang terbatas membuat siswa enggan datang ke perpustakaan dan menekuri buku. Beginilah mungkin nasib dan tantangan siswa dan sekolah khususnya di daerah pelosok yang minim fasilitas.

Tambahan lagi, sekolah-sekolah di pedalaman kadang juga berhadapan dengan masalah keaktifan dan kedisiplinan guru untuk datang tepat waktu ke sekolah.

Sekitar setahun yang lalu, saya menemukan tawaran ide untuk menjawab dua persoalan ini. Jadi, dalam rangka membangkitkan minat baca siswa di sekolah dan sekaligus sambil menunggu guru yang belum masuk kelas (aspek yang kedua ini bisa diabaikan jika guru-guru sudah bisa masuk tepat waktu ke sekolah/kelas), maka saya pikir akan menarik kiranya jika kita mencoba mengantarkan perpustakaan ke ruang kelas.

Mengantarkan perpustakaan ke ruang kelas? Maksudnya?

Sambil menunggu guru datang, atau di awal jam pelajaran, kita bagikan satu tulisan bermutu dan inspiratif kepada tiap siswa untuk dibaca di dalam kelas. Karakteristik dan kriteria tulisannya adalah: panjangnya berkisar antara 600 hingga 700 kata, memuat ide atau tema yang menarik dan atau inspiratif serta dekat dengan kehidupan atau pengalaman siswa, memiliki gaya bertutur naratif atau mudah dicerna, dan bisa mendukung kepada kegiatan pembelajaran dan pendidikan.

Mengapa 600 hingga 700 kata? Jumlah ini sebenarnya bersifat relatif. Tapi tulisan dengan panjang sedemikian ini kira-kira dianggap cukup nyaman dibaca karena siswa hanya akan membutuhkan waktu sekitar 3-5 menit untuk menuntaskannya. Jika berhadapan dengan tulisan yang relatif panjang, mereka yang belum terbiasa membaca bisa jadi sudah akan merasa malas sebelum mulai membaca.

Dari mana tulisan itu diambil? Tulisan-tulisan itu bisa diambil dari buku, majalah, koran, internet, dan sebagainya. Patokannya adalah kriteria di atas tadi, yang pada dasarnya dibuat dengan asumsi bahwa kriteria ini akan menjaga mutu tulisan sekaligus akan cocok untuk mereka yang belum terbiasa membaca—dengan kata lain, bisa membangkitkan semangat membaca.

Siapa yang memilih tulisan itu? Semula, saya melakukannya sendiri. Tetapi selanjutnya saya juga menghubungi beberapa teman yang cukup akrab dan mengerti dengan dunia perbukuan dan kepenulisan, berpesan kepada mereka bahwa jika mereka menemukan tulisan dengan kriteria di atas, mohon untuk memberi tahu saya. Tentu saja saya juga memaparkan gagasan di balik permohonan saya ini. Jadi, bisa dikatakan tulisan dipilih oleh tim.

Sampai di sini, saya merasa gagasan ini cukup menarik, karena bisa dibilang juga menjadi bagian dari gagasan yang sangat saya dukung—dan pernah saya tulis serta dicoba dipraktikkan saat saya menjadi Kepala Perpustakaan Madaris 3 Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, tahun 2008-2009 lalu—agar perpustakaan bisa lebih aktif mendorong tradisi membaca dengan bentuk kegiatan dan inovasi-inovasi kreatif.

Secara sederhana, dengan program ini saya menargetkan siswa akan membaca paling sedikitnya 100 tulisan bermutu (dengan kendali mutu yang harus dijaga dengan ketat) dalam satu tahun pelajaran. Untuk diketahui, dalam satu tahun pelajaran biasanya ada sekitar 230 hari efektif. Jadi target 100 tulisan per tahun pelajaran ini sebenarnya adalah target minimal yang tidak muluk dan cukup realistis.

Jika dalam satu tahun pelajaran siswa membaca paling sedikit 100 tulisan bermutu, maka dalam tiga tahun mereka akan telah membaca 300 tulisan! Saya pikir target ini masih sangat mungkin berlipat ganda.

Tantangannya sementara ini adalah menemukan tulisan yang benar-benar bermutu, bertema beragam, dan cocok dengan siswa. Karena itu, catatan saya ini sebenarnya saya maksudkan sekaligus sebagai undangan kepada semua pihak untuk berpartisipasi. Mari, jika punya atau ketemu dengan tulisan bagus yang kira-kira cocok dengan kriteria dan latar belakang di atas, segera hubungi saya. Atau mungkin Anda memiliki tulisan karya Anda sendiri yang kira-kira layak diantarkan ke ruang kelas, silakan, saya tunggu.

Andaikan para pengelola sekolah punya gagasan yang sama dengan saya dan mau bekerja sama menemukan esai-esai atau tulisan dengan mutu dan racikan yang tepat, saya kira target menemukan sekian ratus judul bisa lebih mudah. Karena itu, mari, jika ada kepala sekolah atau kepala perpustakaan yang mau bekerja sama, saya tunggu.

Berapa tulisan yang sejauh ini sudah terkumpul? Meski gagasan ini sudah muncul sekitar setahun yang lalu, tapi saya baru bisa menggarapnya secara lebih serius beberapa waktu yang lalu. Sampai sejauh ini saya sudah mengumpulkan sekitar 60 judul tulisan. Artinya, 60 judul itu sudah diketik ulang. Tapi tidak semuanya siap pakai, karena masih ada proses yang harus dilalui, di antaranya memastikan mutu dan kelayakan tulisan sebelum diperbanyak dan dibagikan kepada siswa.

Selain 60 judul tersebut, ada beberapa tulisan yang sedang dalam proses pengetikan.

Seperti apa contoh tulisan yang sudah dianggap layak dan bermutu? Sekali lagi, saya memilih tulisan atas dasar kriteria di atas. Dalam prosesnya, saya menemukan tulisan Jalaluddin Rakhmat, M. Quraish Shihab, Nurcholish Madjid, Dewi Lestari (Dee), Goenawan Mohamad, Jakob Sumardjo, dan sebagainya. Yang menarik, sangat mungkin ada satu buku yang sangat layak untuk disuguhkan semua ke ruang kelas dengan cara dicicil. Misalnya, saya sedang memproses buku Jalaluddin Rakhmat, Tafsir Kebahagiaan (Serambi, 2010), untuk disuguhkan semuanya ke ruang kelas karena semua bagian di buku ini tampaknya akan sangat cocok dan bakal disukai siswa.

Mungkin siswa—khususnya yang belum terbiasa membaca—bisa menolak untuk membaca sebuah buku tertentu, meski itu bagus. Tapi kalau dengan cara dicicil, bisa jadi dia akan tuntas membaca buku tersebut tanpa merasa terbebani.

Jika sebuah tulisan sudah melewati proses “jaminan mutu” dan diketik rapi, apa langsung siap pakai dan diperbanyak?

Nah, ini dia yang menarik. Untuk mendukung tujuan besar yang terkandung dalam proyek ini, menurut saya, kita juga layak bekerja keras dengan menyuguhkan kamus kecil untuk setiap tulisan yang akan dibawa ke ruang kelas itu. Kamus kecil ini bukan semacam makanan penutup. Ini lebih merupakan sayur yang akan menambah gizi tulisan yang disajikan ke ruang kelas itu. Jadi, kata-kata yang sekiranya belum cukup akrab untuk siswa dicetak tebal, dan di bagian bawah kemudian disajikan kamus kecil yang definisinya diambil dari Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Pusat Bahasa. Kamus kecil ini juga akan menerangkan nama-nama tokoh atau tempat yang ada dalam tulisan tersebut.


Salah satu contoh tulisan yang diantarkan ke ruang kelas.


Di antara naskah yang saya pilih, ada cerita-cerita singkat penuh hikmah dengan tokoh Nasruddin yang juga terkenal di kalangan sufi yang diceritakan ulang oleh Sugeng Hariyanto dalam bahasa Inggris. Bukunya diterbitkan oleh Penerbit Kanisius. Saya mengambil cerita berbahasa Inggris dari buku ini sekaligus juga dengan disertai terjemahan bahasa Indonesianya yang disusun oleh Klub Penerjemah Perpustakaan Madaris 3 Annuqayah pada tahun 2008 lalu. Anggota klub ini dahulu kebanyakan adalah siswa SMA 3 Annuqayah. Nah, untuk tulisan seperti ini, kamus kecilnya adalah kamus bahasa Inggris.

Di banyak kesempatan jika saya berbicara tentang kepenulisan atau mengajar bahasa Indonesia di ruang kelas, saya sering menekankan pentingnya penguasaan kosa kata bagi mereka yang ingin belajar bahasa—bahasa apa pun. Jadi, proyek mengantarkan perpustakaan ke ruang kelas ini sekaligus juga memastikan bahwa mereka juga disuguhi kamus bahasa.

Dalam praktiknya, yakni di tempat saya mengajar, SMA 3 Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, saya senang sekali saat kemarin melihat beberapa siswa tampak dengan rajin mencatat kosa kata yang dicantumkan dalam tulisan yang dibagikan tersebut. Artinya, mereka tidak hanya mencerna makanan utamanya, tetapi juga menikmati sayurnya.

Tanggapan positif lain yang sudah muncul dan menggembirakan adalah saat ada beberapa siswa yang kemudian datang ke kantor sekolah dan minta izin untuk memfotokopi tulisan yang sebelumnya dibagikan dan telah dibacanya di kelas. Ini mungkin bisa menjadi dorongan agar saya sebagai pengelola harus terus menjaga dan mengevaluasi kualitas setiap tulisan yang dibagikan.

Terakhir, saya ingin menggarisbawahi bahwa program mengantarkan perpustakaan ke ruang kelas ini pada dasarnya hanyalah program pemicu. Tujuannya adalah membangkitkan minat baca dan menginspirasi siswa untuk bergerak menjelajah lebih jauh ke perpustakaan—seperti apa pun kondisinya—atau ke sumber-sumber pengetahuan dan ilmu lainnya. Khusus tentang perpustakaan, bagaimanapun ia akan memainkan peran penting untuk memfasilitasi siswa atau masyarakat pada umumnya untuk terus belajar dan menggali pengetahuan dan ilmu.

Karena itu, wahai pembaca yang budiman, lebih jauh lagi saya sampaikan bahwa sebenarnya, selain berharap dukungan dan partisipasi konkret dari para pembaca sekalian untuk pelaksanaan proyek ini, saya juga berharap dukungan para pembaca yang budiman untuk turut juga membantu memajukan perpustakaan di komunitas saya, misalnya dengan menyumbangkan buku-buku, majalah, dan sebagainya. Andaikan nanti minat baca siswa semakin baik, di antaranya mungkin karena keberhasilan proyek ini, misalnya, maka ini tentu juga akan menuntut peningkatan kualitas perpustakaan untuk memenuhi hasrat akan pengetahuan yang sudah tumbuh di kalangan mereka.

Saya tidak punya banyak daya untuk membangun perpustakaan di komunitas saya—di sekolah tempat saya mengajar, juga di pesantren tempat saya berkhidmat—sendirian, karena kami punya banyak keterbatasan. Tapi saya tidak tinggal diam. Program mengantarkan perpustakaan ke ruang kelas ini, misalnya, adalah salah satu langkah konkret saya menghadapi sekian keterbatasan itu.

Namun, jika Anda, pembaca yang budiman, sepakat dan bersedia menjadi satu tim dengan saya untuk mendukung secara konkret gagasan-gagasan saya di atas, maka keterbatasan itu mungkin tak akan begitu terasa buat saya. Dengan dukungan konkret itu, Anda, pembaca yang budiman, pada akhirnya mungkin akan menjelma lilin-lilin yang pelan-pelan dapat mengusir gelap di sini, di sebuah kampung di pedalaman Madura yang senyatanya sudah tak bisa lepas dari arus globalisasi.

Saya rasa demikian.

Saya tunggu.

Terima kasih.

8 komentar:

M. Faizi said...

kok belum ada keterangan "dimuat di..." ?

M Mushthafa said...

@Faizi: keburu ingin ditayangkan di sini..kalau dikirim ke media, tulisannya agak panjang dan kalaupun akan dimuat mungkin masih harus antre. padahal sudah ingin segera ditayangkan, agar dukungan konkret semakin cepat..

M. Faizi said...

kalau punya saya cuma catatan perjalana dan fragmen-fragmen konyol. jika ada yang cocok, mungkin bisa disumbangkan untuk dibaca.

Di atas itu, salut untuk ide ini.

Titos du Polo said...

Artikel Jalaluddin Rakhmat itu berarti difotokopi sebanyak jumlah siswa?

M Mushthafa said...

@Faizi: catatan di kormeddal sangat nyaman dibaca, naratif, dan sarat hikmah.
@Titos: diperbanyak sejumlah siswa di kelas terbesar, yakni 40 siswa. pada saat yang sama, siswa di tiap kelas membaca tulisan berbeda.

SUBAIDI said...

Seandainya bisa kolaborasi dengan sekolah lain, saling share bahan-bahan itu tentu akan lebih baik lagi.

*menyimak dari Kangean*

Anonymous said...

Two thumbs up untuk upayanya menumbuhkan budaya membaca siswa.

M Mushthafa said...

@Subaidi: jika naskahnya sudah banyak, saya kira saya akan cukup pede untuk menawarkan ke sekolah lain untuk juga melakukan program serupa.
@Anonim: terima kasih atas apresiasinya.