Monday, 1 September 2014

Plagiasi Bikin Sulit Tidur


Tadi malam saya dibuat tak bisa cepat lelap. Padahal, saya sudah cukup lelah. Sekitar petang, saya baru tiba dari Malang mengikuti International Conference on Islamic Civilization yang diadakan oleh Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang mulai hari Jum’at lalu.

Mengapa saya sulit tidur? Karena saya menemukan salah satu tulisan saya yang bisa dibaca di blog saya ini disalin-tempel dalam sebuah buku yang baru saya beli Ahad siang kemarin di Malang. Buku itu berjudul Psikologi Tasawuf karya Drs. Tamami HAG. M.Ag. terbitan Pustaka Setia, Bandung (2011). Di buku itu, tulisan saya sepanjang sekitar 600 kata yang disalin-tempel hanya dirujukkan ke Koran Tempo edisi 4 Januari 2004, yakni media dan tanggal pemuatan tulisan saya. Tanda perujukan diletakkan di paragraf terakhir dari seluruh bagian yang disalin-tempel.

Saya memeriksa tulisan saya di blog. Saya juga memeriksa arsip kliping tulisan yang disusun saat saya masih berstatus sebagai mahasiswa Fakultas Filsafat UGM itu. Saya bandingkan dengan buku yang baru saya beli itu. Memang salin-tempelnya tidak 100%. Tapi mungkin bisa dibilang 99% tidak jauh berbeda.

Ada bermacam perasaan yang membuat saya terus kepikiran. Saya kecewa. Saya sedih. Saya juga marah. Kekecewaan, kesedihan, dan kemarahan saya buka semata karena tulisan saya disalin-tempel tanpa menyebut nama saya, tapi lebih karena buku ini rupanya ditulis sebagai buku teks kuliah yang jika digoogling tampaknya sudah banyak digunakan mahasiswa dalam menyusun makalah. Saya berpikir, bagaimana mungkin karya yang dibuat dengan cara tak menghargai karya orang lain ini digunakan oleh para pelajar calon generasi penerus bangsa? Saya membayangkan betapa mental plagiasi di balik buku ini punya potensi merusak yang luas.

Tapi mungkin ada orang yang akan bertanya: “Bukankah si penulis sudah mencantumkan rujukan ke koran yang merupakan sumber tulisan saya?” Oke, benar. Tapi jika kutipannya persis, bukankah dalam kaidah penulisan ilmiah cara penulisannya harus berbeda? Serupa dengan cara orang membuat kalimat langsung dan kalimat tidak langsung yang cara penulisannya juga mesti berbeda.

Lagipula, si penulis hanya menyebut nama koran dan tanggal. Padahal di koran tersebut, judul tulisan dan penulisnya jelas ada. Tapi mengapa tidak dicantumkan, termasuk tidak dipasang di daftar pustaka? Di beberapa bagian, penulis buku mengubah kalimat dalam tulisan saya. Ada yang disesuaikan, karena tulisan saya itu merupakan resensi buku karya Lynn Wilcox, Ilmu Jiwa Berjumpa Tasawuf (Serambi, 2003). Tapi, ada bagian yang tak disesuaikan sehingga pembaca mungkin akan sedikit bingung.

Apakah ini termasuk plagiasi? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “plagiat” dimaknai “pengambilan karangan (pendapat dsb) orang lain dan menjadikannya seolah-olah karangan (pendapat dsb) sendiri”. Saya pikir, salin-tempel yang kalimat-kalimatnya 99% persis dan rujukannya dibuat tidak jelas seperti ini termasuk dalam kelompok plagiasi atau penjiplakan.

Agar jelas, silakan pembaca bandingkan secara lebih cermat isi buku yang salin-tempel dengan tulisan saya yang dimaksud.


Saya dengan mudah menemukan kasus salin-tempel ini karena judul subbab yang seluruh isinya bersumber dari tulisan saya tidak diubah dari judul yang saya buat. Judulnya persis sama dengan judul tulisan saya di Koran Tempo edisi 4 Januari 2004 itu. Judulnya khas koran dan sebenarnya kurang cocok untuk judul subbab di buku teks.

Melihat judul-judul subbab yang lain, saya jadi curiga bahwa di bagian yang lain itu saya bisa menemukan kasus salin-tempel serupa. Tadi pagi, saya coba memeriksa subbab sebelum dan sesudah bagian yang salin-tempel dari tulisan saya. Hasilnya, ternyata sama: si penulis buku melakukan salin-tempel dari sumber di internet dengan perujukan yang tidak jelas.

Pemeriksaan saya tadi pagi menemukan 7 tautan di internet yang disalin-tempel, termasuk tulisan saya. Di buku itu, 7 tautan tersebut menjelma menjadi 71 halaman (dalam 2 bab). Di antara yang disalin-tempel adalah tulisan Ihsan Maulana dan Martin van Bruinessen. Dalam kasus tulisan Ihsan Maulana, si penulis buku tak menyebut nama Ihsan Maulana atau rujukan tautan blog yang dikutip. Tulisan Ihsan Maulana yang disiarkan di blog pribadinya pada bulan Februari 2008 disalin-tempel dalam 15 halaman di buku itu. Rujukan-rujukan yang digunakan Ihsan Maulana langsung saja dirujuk oleh si penulis buku sehingga pembaca buku akan menduga bahwa pengarang buku merujuk pada buku-buku tersebut. Padahal, kalimat-kalimat dan rujukannya ya mengambil dari tulisan Ihsan Maulana.


Untuk tulisan Martin van Bruinessen, nama profesor dari Utrecht University yang juga peneliti tasawuf dan juga peneliti pesantren ini disebut di bagian awal tulisan yang merupakan salin-tempel dan di buku menjadi 6 halaman itu. Selanjutnya, si penulis buku mencantumkan rujukan-rujukan yang digunakan Martin van Bruinessen seolah-olah si penulis mengakses sendiri bahan rujukan tersebut. Padahal, kalimat-kalimat di buku bisa dibilang persis dengan tulisan Martin yang bisa diakses di laman Utrecht University itu.


Bagaimana dengan bab yang lain?

Cukuplah rasanya 7 tautan dan 71 halaman itu untuk membuat saya benar-benar kecewa, sedih, dan marah. Bukan karena ini terkait tulisan saya, tulisan Ihsan Maulana yang lulusan PP Bata-Bata Pamekasan atau tulisan Martin van Bruinessen yang merupakan profesor di kampus yang adalah almamater saya. Saya kecewa, sedih, dan marah karena perilaku kotor ini dilakukan oleh seorang pendidik di kampus agama, dan karyanya digunakan oleh ribuan atau lebih mahasiswa.

Seorang rekan mengatakan bahwa plagiasi seperti ini akan terus ada sepanjang masa. Tapi tentu saja tidak berarti kita harus diam saja. Pemaparan pengalaman saya melalui tulisan ini setidaknya diharapkan dapat menjadi peringatan bagi saya dan kita semua bahwa ada pekerjaan rumah yang penting diperhatikan di dunia pendidikan kita.

Terakhir, bagi yang kebetulan punya buku tersebut dan tertarik untuk memeriksa bagian salin-tempel yang saya maksud, silakan buka bab kedua dan bab ketiga buku tersebut, lalu bandingkan dengan rangkaian tautan di bawah ini:
Tautan 1
Tautan 2
Tautan 3
Tautan 4
Tautan 5
Tautan 6
Tautan 7


Baca juga:
>> Plagiarisme dan Komunitas Akademik yang Sekarat
>> Vampir Kebudayaan dan Sisi Hitam Dunia Kepenulisan


5 komentar:

M. Faizi said...

Ternyata ini, toh, bukunya. Apakah sebelum buku itu dibeli sudah ada isu tentang penjiplakan di dalamnya atau memang ditemukan secara kebetulan?

M Mushthafa said...

Penjiplakan di buku ini saya temukan secara kebetulan. Setelah membaca buku Robert Frager, kami tertarik belajar psikologi sufi. Cari buku di Togamas Malang, ketemu buku ini. Eh, setelah dibeli, ternyata begitu dibuka dan lihat daftar isi, langsung ketemu dengan judul tulisan saya 10 tahun lalu.

MUHAMMAD ALFAN said...

402Mas Mushthafa...maafkanlah orang yang melakukan itu..mudah2an dengan publikasi ini dia sudah merasa dihukumi...dan mungkin juga dia tidak menyadari bahwa kesalahan yang dilakukannya berdampak begitu besar...semoga saja dia sadar dan meminta maaf ke Mas Musthafa secara langsung. Semoga amal baik Mas Mushthafa menjadi kebaikan juga bagi lainnya...amin

rasyid said...

kata maaf tidak cukup untuk membuat jera, tp minimal kata hukum itu cukup buat bagi plagiator, jangan pernah bartolerir dg orang yg mental tempel sana dan tempel sini, dalam menjiplak karya orang lain,
saya setuju harus dilaporkan, biar ada efek jera untuk selanjutnya

misbahuddin al-mutaali said...

plagiasi tidak bisa dibiarkan,,