Wednesday, 7 January 2004

Membebaskan Psikologi dari Belenggu Positivisme


Judul buku : Ilmu Jiwa Berjumpa Tasawuf: Sebuah Upaya Spiritualisasi Psikologi
Penulis : Lynn Wilcox
Penerbit : Serambi, Jakarta
Cetakan : Pertama, November 2003
Tebal : 336 halaman


Arah perkembangan spesialisasi ilmu yang pada abad-abad terakhir di penghujung milenium kedua semakin terlihat jelas pada satu sisi memang mampu menghadirkan kedalaman pengkajian yang luar biasa. Detail yang sangat khusus dari suatu bidang terjelajahi dengan sangat baik. Akan tetapi, ternyata perkembangan semacam ini kadang juga bisa membuat sebuah disiplin ilmu terpuruk dalam jerat cara pandang positivisme.

Lynn Wilcox, seorang mursyid sufi dan profesor psikologi pada California State University, dalam buku ini menunjukkan bahwa akibat dari superspesialisasi dalam bidang ilmu tersebut, psikologi telah menjadi kering dan bahkan cenderung melupakan muasal tempat lahirnya. Psikologi akhirnya terlalu sibuk berburu serpihan data dan informasi tentang manusia. Para psikolog dari spesialisasi yang berbeda mempelajari beragam aspek manusia dan mengabaikan pengertian mendasar psikologi itu sendiri.

Kata “psikologi” pertama kali digunakan dalam bahasa Inggris pada sekitar tahun 1600-an untuk menyebut jiwa, dan psikologi mula-mula adalah cabang metafisika yang membahas jiwa. Tapi akhirnya unsur jiwa sebagai elemen penting dalam psikologi tak lagi diperhitungkan. Maka, mulailah babak positivisme dalam psikologi dirayakan, seperti dalam psikologi eksprimental dan behaviorisme.

Untuk keluar dari belenggu positivisme yang terus membayangi psikologi, Wilcox mengajukan cara pandang tasawuf sebagai ikhtiar mempertemukan psikologi dengan muasalnya, untuk dapat menggerakkan psikologi melampaui kategori-kategori positivistik dan materialistik yang tengah menguasainya. Wilcox memberi sebuah ibarat sederhana tapi begitu mengena. Menurutnya, psikologi bagaikan mempelajari karakteristik sebuah lampu: berapa tingginya, bobotnya, serta bahan yang menyusunnya, atau tentang bagaimana lampu bisa serasi dengan ruang yang akan diteranginya. Tapi psikologi alpa dengan sumber daya listrik yang dapat membuat lampu itu menyala. Tasawuf berkaitan dengan proses penyalaan lampu dan ihwal bagaimana menapak jalan menuju Sumber terang.

Orientasi positivistik ini terjadi karena metode psikologi yang cenderung mengedepankan riset kuantitatif yang hanya didasarkan pada pengamatan indra fisik belaka. Ini membuat psikologi tercurah pada medan sempit yang menyulitkannya mencapai jalan menuju Pengetahuan Absolut. Ibarat pohon, psikologi cenderung sibuk memerhatikan daun-daunnya sehingga melupakan pohonnya, atau bahkan bahwa sebenarnya ada hutan yang begitu luas yang perlu dirambah.

Dalam buku ini Wilcox mengupas secara gamblang aspek-aspek mendasar psikologi, mulai dari sejarah perkembangan, metode, dan berbagai tema-tema umum yang menjadi kajiannya seperti tentang motivasi, memori, pikiran, aktualisasi diri, cinta, agama, dan sebagainya, untuk kemudian dieksplorasi berdasarkan doktrin-doktrin tasawuf. Dengan cara seperti ini, Wilcox membawa psikologi ke dalam rumusan dan ukuran-ukuran baru yang lebih bernuansa spiritual.

Dalam pembahasan tentang sensasi dan memori, penjelasan lebih jauh dari perspektif tasawuf tiba pada peringatan bahwa indra-indra fisik berkenaan dengan sensasi dan memori serta penafsiran materialistik tentang keduanya dapat menjauhkan dan mendistorsi manusia dari realitas absolut. Tasawuf mengajak manusia untuk belajar mengembangkan dan meningkatkan kemampuan penglihatan dan pendengaran melalui mata dan telinga bawaan untuk kembali berhubungan dengan Sumber Kekuatan cahaya. Untuk itu manusia harus mulai melucuti kendali otak yang berlebihan itu, menyeimbangkannya dengan gelombang Lantunan Ilahi dalam diri yang fitri. Demikian pula, manusia juga dilatih agar memori untuk merekam hal-hal tidak hanya dari sudut pandang fisik dan material belaka.

Ketika mengupas soal motivasi pun kita menemukan sebuah perspektif yang menarik tentang hal ini. Psikologi mendefinisikan motivasi sebagai sesuatu yang mengarahkan perilaku manusia, dan melihatnya sebagai bersifat mekanistik atau kognitif. Tapi psikologi tidak mempertanyakan prinsip yang menggerakkan dalam kehidupan ini, dan hanya membahas tentang bagaimana emosi atau motif bekerja. Tasawuf menjelaskan bahwa kekuatan yang menggerakkan itu adalah pancaran ilahiah dari roh Tuhan dan mengajarkan bagaimana cara memperoleh akses ke proporsi yang lebih luas dari spektrum motivasi yang mencakup antara roh Tuhan, dinamika universal, dimensi fisik dan spiritual.

Pelbagai eksplanasi yang dipaparkan dalam buku ini menunjukkan bahwa dengan perjumpaannya dengan tasawuf, psikologi bisa belajar untuk lebih menukik ke sisi personal-eksistensial manusia dengan menggali dimensi kualitatif, baik dari sisi pengetahuan-diri maupun pengetahuan tentang sang Pencipta. Dalam perjumpaan inilah diharapkan baik psikologi maupun tasawuf dapat memberikan kontribusi bagi nestapa kemanusiaan yang terus membayangi kehidupan, mengantarkan umat manusia ke penemuan makna inti keberadaannya yang hakiki.


Tulisan ini dimuat di Koran Tempo, 4 Januari 2004.



1 komentar:

damn avin said...

selamat siang mas, saya afin dari semarang. mau bertanya. mas bisa dapet buku ini beli di mana ya kalo boleh tau ? saya sedang mencari refrensi buku tentang psikologi sufi untuk skripsi saya.