Sunday, 6 August 2017

Mengagumi Semesta, Mensyukuri Bumi


Judul buku: Eksplorasi Tata Surya
Penulis: A. Gunawan Admiranto
Penerbit: Mizan, Bandung
Cetakan: Pertama, Mei 2017
Tebal: 276 halaman
ISBN: 978-602-441-009-4


Ketertarikan manusia terhadap fenomena alam semesta telah muncul sejak ribuan tahun silam. Tak heran, disiplin ilmu astronomi menjadi salah satu cabang ilmu tertua.

Agustinus Gunawan Admiranto, peneliti di Pusat Sains Antariksa dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), menulis buku ini untuk memaparkan kembali pengetahuan- pengetahuan dasar astronomi berkaitan dengan tata surya dengan gaya penyajian yang sederhana.

Buku yang terdiri dari lima bab ini hanya berfokus pada tata surya, bukan seluruh benda langit yang telah dipelajari manusia. Pembahasan tentang tata surya banyak terpusat pada ulasan tentang matahari mulai dari proses pembentukannya, bagian-bagian yang menyusunnya, termasuk kemungkinan habisnya bahan bakar inti di matahari yang akan menyebabkannya membesar menjadi ”bintang raksasa merah”.

Matahari saat ini diperkirakan berusia 4,5 miliar tahun ditaksir akan menjadi bintang raksasa merah pada 6,4 miliar tahun mendatang (hlm 48). Bumi satu-satunya rumah bersama manusia merupakan planet istimewa sehingga bisa mendukung berlangsungnya kehidupan yang berkembang di permukaannya.

Planet yang mengorbit matahari pada 150 juta kilometer ini memiliki air dalam tiga tingkat wujud, yakni cair, beku, dan uap. Bumi tidak terlalu panas, seperti Merkurius dan Venus serta juga tidak terlalu dingin seperti Mars. Ketebalan atmosfer bumi yang seimbang memungkinkan kehidupan berlangsung di bumi.

Jika ketebalan atmosfer bumi seperti Venus yang 80 kali lebih tebal, tidak mungkin ada kehidupan di bumi. Sebaliknya, bila lebih tipis, maka meteor akan mudah masuk ke bumi dan tidak sempat terbakar di udara (hlm 77). Di antara fakta menarik tentang atmosfer adalah bahwa 20% oksigen yang ada di atmosfer ternyata dihasilkan oleh hutan di daerah Amazon.

Atmosfer saat ini merupakan atmosfer ketiga sejak bumi terbentuk dikendalikan oleh ganggang hijau biru yang terdapat di lautan. Ganggang inilah menjaga proses yang menghasilkan keseimbangan jumlah oksigen dan karbon dioksida. Ada juga bagian membahas tentang keadaan iklim bumi saat ini khususnya terkait dengan isu perubahan iklim.

Perubahan iklim global diperkirakan terjadi mulai era revolusi industri. Kecenderungan meningkatnya iklim global disebabkan oleh semakin banyaknya gas rumah kaca (karbon dioksida dan metana) yang terlepas ke atmosfer. Namun, para ahli masih tidak sepakat seberapa besar sumbangan manusia pada peningkatan jumlah gas rumah kaca ini (hlm. 91-92).

Bagian yang menarik dari buku ini terdapat di bagian ”lampiran”. Di sini Admiranto berusaha memberikan bantahan atas ”teori” bumi datar yang belakangan cukup populer. Penganut ”teori” bumi datar ini menurut Admiranto, umumnya tergolong tidak kritis dan menyukai hal-hal sensasional.

Mereka juga menyukai teori persekongkolan, misalnya dengan mengatakan bahwa NASA didirikanolehmantantokoh- tokoh Nazi Jerman. Ada rencana jahat dari pihak tertentu mengurangi penduduk bumi secara drastis (depopulasi) atau adanya sekelompok manusia ingin membentuk satu Tata Dunia Baru.

Pandangan kelompok ini sering tidak mendidik, menakut-nakuti, dan mempersempit nalar. Kelemahan utama kelompok ini adalah mereka tidak memiliki bangunan teori yang konsisten dan utuh untuk menjelaskan klaim-klaim mereka. Bahkan, teori ini dapat dibantah dengan pengamatan dan pembuktian sederhana.

Misalnya, pembuktian dengan pergerakan kapal laut jika dilihat dari pantai atau bayangan bumi di bulan saat terjadi gerhana (hlm 272-275). Buku ini mengisi kekosongan minimnya buku ilmiah dasar tentang astronomi yang dikemas secara populer dan berbahasa Indonesia.

Penyajiannya yang tersaji dengan model tanyajawab dilengkapi dengan ilustrasi pendukung serta QR code di nyaris setiap halaman untuk menggali informasi lebih jauh di YouTube, membuat buku ini terasa nyaman dan mudah dicerna. Buku ini muncul pada saat pemanasan global terus meningkat seiring industrialisasi dan globalisasi merangsek hingga ke pelosok desa di negara-negara berkembang.

Meningkatnya pemanasan bumi berbanding lurus dengan tingkat ketamakan manusia untuk terus menerus mengeksploitasi alam. Pada satu sisi, eksploitasi alam mengakibatkan rusaknya sebagian besar hutan yang menjadi sumber keseimbangan alam.

Pada sisi lain, pusat-pusat baru industri dan pabrik-pabrik terus menghasilkan emisi gas karbon dioksida yang menimbulkan efek rumah kaca dan selanjutnya meningkatkan suhu bumi. Buku ini memberi pemahaman yang baik tentang alam semesta, termasuk bumi.

Dengan membaca buku ini, kiranya akan muncul rasa kagum sekaligus rasa syukur kita sebagai salah satu makhluk hidup yang tinggal di dalamnya. Kewajiban kita selanjutnya adalah ikut menjaga keseimbangan alamiah yang ada di dalamnya agar kehidupan bisa terus berlangsung dengan baik.


Tulisan ini dimuat di Koran Sindo, 6 Agustus 2017.


Read More..

Tuesday, 25 July 2017

Biografi Pemikiran Para Penggugat Kemapanan


Judul buku: Membongkar Rezim Kepastian: Pemikiran Kritis Post-Strukturalis
Penulis: Haryatmoko
Penerbit: Kanisius, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, 2016
Tebal: 160 halaman
ISBN: 978-979-21-4561-8


Buku yang ditulis oleh Haryatmoko ini menghimpun pemikiran singkat enam filsuf Prancis dari kelompok post-strukturalis. Mereka adalah para filsuf penggugat kemapanan, yakni Michel Foucault, Pierre Bourdieu, Jean Baudrillard, Paul Ricoeur, Gilles Deleuze, dan Jacques Derrida. Pemikiran mereka merayakan salah satu sisi corak berpikir kefilsafatan, yakni aspek dekonstruktif, yang bekerja dengan mempertanyakan pandangan tertentu yang sifatnya sudah cukup mapan untuk dikritik, digugat, dan dibongkar. Bagi mereka, kemapanan dan kepastian dapat menggiring pada kemandekan dan menghalangi perkembangan.

Michel Foucault dikenal sebagai filsuf yang mengemukakan gagasan tentang relasi kuasa dan pengetahuan. Selama ini, kekuasaan biasanya diidentikkan dengan negara sehingga kekuasaan bersifat terpusat. Menurut Foucault, kekuasaan bersifat menyebar dan produktif. Karena bersifat menyebar, mereka yang terlibat tidaklah sedikit. Hasilnya pun tidak selalu terangkum dalam hal-hal yang bersifat negatif.

Dahulu, kekuasaan sering dikaitkan dengan perang atau aturan dalam bentuk perintah dan larangan. Namun, bagi Foucault, kekuasaan dapat berwujud dalam relasi antara pasien dan klien, tes wawancara di sebuah perusahaan, atau jajak pendapat. Dari relasi-relasi semacam itu, kekuasaan yang beroperasi menghasilkan pengetahuan. Pengetahuan inilah yang kemudian dikembangkan yang pada gilirannya turut berperan dalam pembentukan individu modern. Dari situ, didefinisikanlah hal yang normal dan hal yang tidak normal (hlm. 14-17).

Jika Bourdieu mengungkap sisi narsistik setiap orang demi memperoleh pengakuan sosial, Baudrillard meletakkan fenomena konsumsi manusia modern dalam kerangka “manipulasi tanda”. Manusia modern terjebak dalam rimba tanda yang merupakan reduksi dari realitas. Cara mereka membuat keputusan konsumsi dipandu oleh aturan tanda, baik demi mendukung posisi kelasnya maupun untuk mengafirmasi hidup dan identitas mereka.

Pada titik ini, konsumsi mendorong orang untuk menjadi individualistis. Pemenuhan hasrat pada barang atau jasa konsumsi tertentu lebih ditentukan oleh dorongan pribadi sehingga lambat laun solidaritas kian luntur (hlm. 71).

Sementara itu, Paul Ricoeur membangun konsep hermeneutika yang mulai masuk ke ranah ontologis dengan mencangkokkan hermeneutika pada fenomenologi. Ricoeur menawarkan cara baca baru atas teks yang di antara kategori hermeneutikanya mendorong pembaca untuk melakukan pengambilan jarak terhadap diri sendiri dalam proses pemahaman diri (apropriasi).

Secara lebih khusus Ricoeur menawarkan pengambilan jarak dalam bentuk analogi permainan. Bagi Ricoeur, dalam kaitannya dengan hubungan antaragama, pengambilan jarak melalui permainan membuka peluang bagi perjumpaan informal yang dapat melepaskan dari keseriusan hidup dan ketakutan atas sanksi sosial. Dari situ, diharapkan ada pemahaman baru yang lebih segar dengan terbukanya kemungkinan penafsiran yang bersifat kreatif (hlm. 97-102).

Filsuf “pemberontak” lainnya adalah Jacques Derrida yang dikenal dengan metode “dekonstruksi”. Filsuf yang menjadi salah satu ikon penting pemikir post-strukturalis ini mengembangkan metode dekonstruksi untuk membongkar rezim kepastian. Dekonstruksi mencoba menawarkan cara untuk mengungkap kontradiksi dalam politik teks sehingga diperoleh pemahaman atau kesadaran yang lebih tinggi.

Dekonstruksi menyuburkan cara pandang kritis dengan mengungkap selubung ideologis yang hadir secara samar dalam politik bahasa. Penggambaran identitas terkait istilah pribumi dan pendatang serta konstruksi istilah minoritas dan mayoritas, misalnya, secara diam-diam sejak awal sudah bercorak ideologis dan jika digali lebih mendalam menyimpan kontradiksi internal yang cukup kompleks (hlm. 134-135).

Cara berpikir kritis yang coba ditumbuhkan oleh para filsuf yang dihadirkan dalam buku ini sangat penting untuk dipelajari di tengah situasi kehidupan yang diam-diam kadang menghadirkan penindasan terselubung yang bertolak dari cara berpikir yang dogmatis dan kaku.


Versi pendek tulisan ini dimuat di Koran Jakarta, 24 Juli 2017.


Read More..

Sunday, 4 June 2017

Spiritualitas Islam Menjawab Tantangan Zaman


Judul buku: Islam Tuhan, Islam Manusia: Agama dan Spiritualitas di Zaman Kacau
Penulis: Haidar Bagir
Penerbit: Mizan, Bandung
Cetakan: Pertama, Maret 2017
Tebal: xxxiv + 288 halaman
ISBN: 978-602-441-016-2


Kemajuan ilmu dan teknologi yang semakin canggih pada satu sisi ikut menenggelamkan pamor agama. Apalagi agama belakangan kadang menunjukkan wajah yang menakutkan saat terorisme dan kekerasan berdasar agama kerap terjadi.

Buku yang ditulis oleh Haidar Bagir, pendiri Penerbit Mizan, ini mencoba merekonstruksi dan menyegarkan pemahaman atas aspek-aspek pokok dalam Islam sehingga ia dapat berkiprah untuk kemanusiaan dan masa depan kehidupan dunia yang lebih baik bersama agama dan unsur peradaban masyarakat yang lain.

Pembahasan dimulai dengan memberikan gambaran masalah yang dihadapi umat manusia pada umumnya dan bangsa Indonesia pada khususnya. Secara umum, dunia menghadapi krisis makna, kehampaan hidup, dan kegalauan yang lahir seturut dengan perkembangan ilmu dan teknologi. Kemajuan teknologi komunikasi secara ironis justru melahirkan misinformasi dan disinformasi yang sebagian menggerogoti ikatan sosial dan menipiskan rasa saling percaya. Luapan informasi justru membuat orang kehilangan arah.

Kekacauan akibat disorientasi di tengah kemelimpahan informasi ini menurut Haidar turut memberi andil bagi lahirnya paham-paham keagamaan yang radikal. Ideologi radikal bagi Haidar adalah pegangan keyakinan keagamaan yang instan dan simplistik untuk mendapatkan ketenteraman hidup. Ideologi radikal ini menjadi dasar pembenaran bagi tindakan kekerasan para penganutnya di tengah rasa frustrasi akibat tekanan sosial ekonomi yang mereka hadapi.

Pada bagian berikutnya Haidar berusaha menggali kekayaan khazanah Islam yang kiranya dapat disodorkan sebagai gagasan alternatif untuk mengatasi berbagai masalah tersebut. Pada bagian ini Haidar tampak memberi penekanan pada unsur pemikiran Islam yang bercorak filosofis untuk dijadikan sebagai alat baca kritis dan kerangka pandang dalam upaya memberi jalan keluar.

Secara tegas, Haidar menyebut “hermeneutika sebagai metode untuk memahami teks agama secara lebih terbuka dan relevan dengan tantangan-tantangan masa.” Karena hermeneutika lahir bukan dari rahim peradaban Islam, Haidar juga membuat perbandingan dengan metode takwil yang menurutnya memiliki unsur yang sejalan dengan hermeneutika.

Pada bagian ini, Haidar menggambarkan busur hermeneutik (hermeneutic arc) yang dicetuskan Paul Ricouer dalam konteks Islam sebagai berikut: teks agama/naql dipahami dengan akal/‘aql, dicek lagi dengan naql, diverifikasi lagi dengan ‘aql, dan seterusnya.

Dalam hal perkembangan sains, Haidar percaya bahwa ekses buruk teknologi yang muncul di antaranya akibat perceraian sains dengan filsafat. Terlepasnya sains dari kesatuan organiknya dengan filsafat memutus kemungkinan sains untuk memberi perhatian pada aspek transenden dan religius yang dapat digali dari filsafat.

Untuk menjawab tantangan zaman, Islam secara internal menurut Haidar harus mendorong sikap moderat (wasathiyyah), sikap terbuka, dan mengupayakan persatuan. Bagi Haidar, prinsip moderasi adalah salah satu risalah pokok Islam yang digambarkan al-Qur’an dan hadits. Selain itu, sejarah mengajarkan bahwa Islam memiliki dan berproses melalui keragaman mazhab yang luar biasa yang dirawat dalam semangat persatuan.

Dialog dengan umat agama lain dan gugus peradaban lain, termasuk budaya lokal, juga perlu dilakukan untuk saling memperkaya perspektif dalam melabuhkan visi kemanusiaan agama pada kehidupan nyata.

Benang merah solusi yang ditawarkan Haidar untuk meneguhkan peran Islam dalam kehidupan masa kini adalah dengan menghidupkan sisi spiritualitas Islam. Bagi Haidar, di antara masalah pokok yang membuat Islam menjadi tumpul dan ketinggalan zaman adalah kecenderungan orientasi keagamaan pada aspek hukum. Haidar percaya bahwa aspek spiritualitas Islam yang mempromosikan penghayatan keagamaan berorientasi cinta akan mampu menguatkan kiprah agama.

Jantung penggerak peradaban adalah agama, dan jantung agama adalah spiritualitas. Menurut Haidar, pemaparan tentang ibadah dalam sumber-sumber pokok Islam pada tingkatan yang tertinggi “selalu bermakna hubungan antara makhluk dan Tuhan yang berdasarkan cinta.”

Agama yang kental dengan nuansa spiritual dan cinta dipercaya akan mampu memupuskan fundamentalisme dan radikalisme keagamaan yang kaku, keras, formalistis, dan cenderung dangkal. Di sisi yang lain, Islam Cinta, demikian Haidar menyebut, juga akan mampu menjawab problem-problem sekularisme seperti kehampaan makna hidup dan sebagainya.

Dengan Islam Cinta, Haidar percaya bahwa Islam akan menjadi lengkap sebagai “Islam Tuhan dan Islam Manusia”. Artinya, Islam tidak hanya akan melangit di dunia transenden tetapi juga akan membumi dan memberi sumbangan nyata bagi kemanusiaan.

Meski dihimpun dari berbagai tulisan yang terbit dalam rentang tahun 1986 hingga 2016, alur pemikiran Haidar dalam buku ini terlihat jelas dan cukup sistematis. Apalagi, jalinan sistematika pembahasannya ditegaskan dalam pendahuluan sepanjang 13 halaman. Namun demikian, pada beberapa bagian gagasan yang dikemukakan memang tidak cukup mendalam. Wajar, kebanyakan tulisan dalam buku ini berasal dari media massa populer dengan ruang terbatas.

Upaya untuk menguatkan kiprah agama (Islam) di era kekinian tentu saja masih membutuhkan pemikiran dan aksi lebih jauh. Buku ini dapat dilihat sebagai semacam peta umum yang memuat beberapa gagasan kunci, meski mungkin juga belum cukup lengkap. Haidar, misalnya, belum secara cukup jelas menjelaskan posisi dan strategi Islam Cinta—yang juga mengusung nilai moderasi yang tentu sangat terkait dengan nilai keadilan—dalam menghadapi kapitalisme yang eksploitatif pada orang-orang lemah yang terpinggirkan.

Pada titik ini, paling tidak buku ini ikut mengingatkan para intelektual muslim dan tokoh-tokoh agama lainnya untuk bersama-sama berefleksi dan membaca ulang agama secara kritis demi menjawab tantangan zaman yang kian kompleks.

Versi pendek tulisan ini dimuat di Koran Jakarta, 2 Juni 2017.



Read More..

Monday, 10 April 2017

Bakti Sekolah Katolik untuk Pendidikan Indonesia


Judul buku: Lembaga Pendidikan Katolik dalam Konteks Indonesia
Penulis: Paul Suparno, dkk
Penerbit: Kanisius, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, 2017
Tebal: 336 halaman
ISBN: 978-979-21-5102-2


Salah satu potret masyarakat Indonesia yang damai tecermin dari sikap aktif berbagai unsur masyarakatnya dalam menyumbangkan kerja nyata bagi pembangunan bangsa. Buku ini merekam pergulatan para pegiat pendidikan berlatar Katolik dalam ikut memperjuangkan pembangunan bangsa melalui jalur pendidikan berbasis iman.

Kerja-kerja kependidikan oleh umat Katolik Indonesia dirintis oleh seorang misionaris Belanda, Pastor Fransiskus Van Lith, SJ (1863-1926), di Yogyakarta dan Jawa Tengah yang kemudian menyebar ke seluruh Indonesia. Pelayanan di bidang pendidikan bagi Van Lith diharapkan dapat mengantarkan “pemuda-pemuda Jawa sehingga mereka mendapat kedudukan yang baik dalam masyarakat” (hlm. 6).

Lembaga pendidikan Katolik yang kemudian muncul dan berkembang hingga saat ini bertolak dari semangat keagamaan. Paul Suparno, mantan rektor Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, dalam buku ini menegaskan bahwa sekolah Katolik dipandang sebagai kehadiran Gereja dalam dunia untuk “ikut meneruskan karya keselamatan Tuhan bagi umat manusia” (hlm. 48).

Namun demikian, dalam dinamikanya, sekolah-sekolah Katolik juga menghadapi tantangan berupa mulai pudarnya nilai-nilai kekatolikan yang dulu ditekankan, seperti nilai kasih. Di antara penyebabnya diduga karena beberapa sekolah Katolik mengikuti kurikulum pemerintah begitu saja. Paul Suparno dalam buku ini menegaskan 6 nilai kekatolikan yang harus ada, seperti nilai dan semangat kasih persaudaraan, nilai sosial dan keadilan, dan semangat mau diutus bagi orang lain (hlm. 50-51).

Tarsisius Sarkim, Wakil Rektor I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, melihat keberadaan lembaga-lembaga pendidikan Katolik secara lebih luas sehingga ia mengusulkan tiga agenda penting, yakni penegasan misi, penguatan tata kelola, dan peningkatan sumber daya (hlm. 61-89). Berdasarkan evaluasi internal yang dilaksanakan oleh Komisi Pendidikan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) pada 2016 atas lembaga-lembaga pendidikan Katolik di Indonesia, ditemukan bahwa di antara tantangan yang dihadapi adalah dalam hal rancangan terintegrasi internalisasi nilai-nilai Katolik, perencanaan terpadu pengembangan institusi, dan juga pengembangan sumber daya manusia (hlm. 22).

Selain membahas aspek idealisme pendidikan Katolik berdasarkan ajaran Gereja, buku ini juga mengulas praktik pendidikan dan model-model pembelajaran yang menarik dan inspiratif yang dikembangkan beberapa lembaga pendidikan Katolik. St Kartono, guru SMA Kolese De Britto Yogyakarta, menuturkan model pembelajaran Bahasa Indonesia dengan menggunakan materi-materi aktual dari koran (hlm. 165). Ada juga pemaparan tentang Sekolah Tarakanita yang menanamkan nilai-nilai cinta lingkungan di sekolah (hlm. 231) dan juga SMP Santa Ursula Bandung yang memberikan pendidikan kewirausahaan secara lebih tertata (hlm. 267).

Buku yang memuat 20 tulisan ini merupakan refleksi internal para pegiat pendidikan berlatar Katolik untuk menegaskan dan menguatkan bakti dan kontribusinya bagi kehidupan bangsa. Model reflektif seperti ini kiranya patut dicontoh oleh unsur masyarakat yang lain yang juga memberi kontribusi di bidang pendidikan bagi bangsa Indonesia.


Tulisan ini dimuat di Koran Jakarta, 8 April 2017.


Read More..

Monday, 20 March 2017

Menakar Kematangan Hidup Berdemokrasi


Judul buku: Komunikasi dan Demokrasi: Esai-Esai Etika Komunikasi Politik
Penulis: Alois A Nugroho
Penerbit: Kanisius, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, 2016
Tebal: 240 halaman


Secara umum, demokrasi saat ini dipandang sebagai pilihan terbaik untuk menjadi acuan tata kelola kehidupan berpolitik dan bermasyarakat. Namun demikian, kenyataan menunjukkan bahwa realitas dunia politik yang berlandaskan demokrasi tak selalu mulus dan sesuai dengan harapan. Kadang ada kontradiksi, bahkan kadang ada situasi anarki.

Buku ini memuat kumpulan esai yang berusaha menyorot dan merefleksikan dinamika kehidupan politik di Indonesia khususnya di bidang komunikasi dan demokrasi dengan sudut pandang etika atau filsafat moral. Dengan sudut pandang yang bercorak reflektif dan filosofis ini, Alois A Nugroho, penulisnya, mencoba masuk ke aspek mendalam dari setiap peristiwa untuk kemudian mengulas perihal bagaimana sepatutnya kita mengambil sikap dalam situasi tersebut.

Misalnya tentang masalah kampanye negatif. Beberapa pemikir di bidang etika memandang kampanye negatif sebagai hal yang tidak etis karena dipandang lebih banyak memuat informasi yang menyesatkan atau menyimpang. Kampanye negatif kadang juga disampaikan secara anonim sehingga tak memiliki bobot pertanggungjawaban yang cukup.

Namun demikian, ada juga kelompok yang tidak sepenuhnya sepakat untuk mengutuk praktik kampanye negatif. Kampanye negatif yang rasional, yang menitikberatkan pada aspek gagasan dan kebijakan daripada aspek kehidupan pribadi, dipandang dapat meningkatkan kadar kelengkapan informasi bagi para pemilih.

Berbeda halnya dengan kampanye hitam yang disepakati tidak etis. Kampanye hitam menggerogoti semangat demokrasi karena hanya menyajikan fitnah dan menyesatkan rakyat sebagai partisipan demokrasi. Bahkan kampanye hitam dapat memecah belah kehidupan masyarakat.

Seiring dengan mulai maraknya kampanye hitam, seperti yang menimpa cawapres Boediono pada 2009 dan semakin marak pada pilpres 2014, pesan kebencian belakangan cenderung semakin meningkat seiring dengan semakin luasnya penggunakan media sosial di internet. Pesan kebencian menurut Rita Kirk Whillock sejatinya merupakan “anihilasi retoris” terhadap lawan. Pesan kebencian menutup kemungkinan dialog dengan menyudutkan dan mematikan lawan. Bahkan menurut Erich Fromm pesan kebencian juga menutup diri sendiri untuk berproses dan berubah.

Meski begitu, bukan berarti hal-hal negatif tidak boleh disiarkan di media. Penulis buku ini sepakat dengan Amartya Sen yang menyatakan bahwa media massa yang bebas seharusnya menjadi pijar demokrasi, termasuk dengan memberitakan kelompok yang menderita, terpinggirkan, atau tertindas. Di sini media massa berperan sebagai ruang publik dalam fungsi protektif, yakni melindungi rakyat dari penyalahgunaan wewenang kekuasaan.

Di era demokrasi, bagaimanapun, wewenang dan kekuasaan sangatlah penting untuk diawasi. Di salah satu bagian, buku ini mengungkap beberapa kasus etika administrasi negara yang menunjukkan bahwa kewenangan kini juga telah menjadi “komoditas langka.” Misalnya kasus Gayus dan mafia pajak. Pada level akar rumput, komodifikasi kewenangan yang melanggar etika dapat ditemukan dalam kasus pengurusan KTP, urusan kenaikan pangkat, pencalonan anggota DPRD, dan sebagainya.

Komodifikasi kewenangan jelas merupakan pelanggaran etis yang tak bisa dipandang sepele. Ia mencederai nilai dasar kewenangan yang sebenarnya diperuntukkan bagi pengaturan kehidupan bermasyarakat demi tercapainya masyarakat yang sejahtera. Singkatnya, komodifikasi kewenangan juga adalah tindakan korupsi. Sedangkan korupsi pada dasarnya adalah tindakan menikam demokrasi.

Kumpulan esai dalam buku ini semula dimuat di media massa dalam rentang tahun 2009 hingga 2015. Meski beberapa tulisan bertolak dari kasus khusus yang terjadi dalam jagad politik di Indonesia, buku ini tetap akan memiliki nilai kontekstual karena penulis menggunakan sudut pandang kefilsafatan dengan berpijak pada nilai-nilai abadi seperti keadilan, kesetaraan, tanggung jawab, dan sebagainya.

Lebih jauh, uraian-uraian reflektif dalam buku ini dapat menjadi bahan dan titik tolak untuk menakar kembali tingkat kematangan kita semua—rakyat atau masyarakat umum dan juga pengurus publik—dalam menjalani kehidupan berdemokrasi di era reformasi. Di tengah iklim komunikasi politik dan kehidupan demokrasi yang masih penuh tantangan, buku ini bernilai penting untuk mengingatkan kita semua agar terus berupaya keras membangun kehidupan demokrasi dengan landasan etika dan hati nurani.


Tulisan ini dimuat di Koran Sindo, 19 Maret 2017
.


Read More..

Tuesday, 10 January 2017

Kebijaksanaan Islam untuk Mengarungi Kehidupan


Judul buku: Al-Hikam Al-Islamiyyah: Untaian Mutiara Kebijaksanaan Islam dalam Kitab Suci, Sabda Nabi, dan Ujaran Ulama Sufi
Penulis: Imam Jamal Rahman
Penerbit: Serambi, Jakarta
Cetakan: Pertama, Juni 2016
Tebal: 330 halaman
ISBN: 978-602-290-067-2


Kebahagiaan hidup akan sulit diraih jika hanya dijalani secara dangkal. Kebahagiaan membutuhkan penghayatan yang mendalam untuk memaknai setiap tapak saat menjalani kehidupan. Penghayatan hidup ini dapat diraih dengan orientasi yang jelas berlandaskan nilai-nilai spiritual.

Imam Jamal Rahman, praktisi dan ahli spiritualitas agama-agama, melalui buku ini memaparkan butir-butir mutiara spiritualitas Islam yang dapat dijadikan kemudi dan titik tolak orientasi dalam menjalani hidup. Ada 33 mutiara spiritualitas yang dijelaskan Rahman dalam buku ini. Sumbernya berasal dari al-Qur’an, hadis, dan ujaran ulama sufi.

Rahman memulai uraiannya dengan kutipan dari sumber yang diacu, lalu diulas secara bebas dengan penekanan pada aspek spiritualitas tertentu. Di setiap penutup ulasannya, Rahman memberikan renungan praktis yang dapat dijadikan latihan untuk membentuk dan mempertajam aspek spiritualitas yang dibahas sebelumnya.

Menurut Rahman, kisah kehidupan Nabi Muhammad adalah salah satu sumber inspirasi spiritualitas yang sangat penting. Kisah Nabi Muhammad memperlihatkan kekuatan transformatif spiritualitas ketika ego berhasil ditundukkan dan ditransformasikan untuk melayani Tuhan dari segala kemanusiaan. Kemajuan Islam yang berarti setelah Nabi hijrah ke Madinah mengajarkan kepada kita bahwa perubahan hidup itu membutuhkan hijrah pribadi—baik perpindahan spiritual maupun fisik.

Sementara itu, orientasi hidup bermula dari pengenalan diri yang cukup. Misteri kehidupan harus dijawab dengan mengetahui siapa diri kita, dari mana kita datang, dan ke mana kita akan pergi. Kaum spiritual mengajarkan bahwa kehadiran manusia tak lain adalah untuk mengenal Tuhan. Selain dengan laku ibadah, jalan untuk mengenal juga ditempuh melalui pelayanan kepada manusia dan semua ciptaan. Pelayanan yang autentik akan mengantarkan seseorang pada unsur ilahi yang terdapat pada semua makhluk.

Namun jalan spiritual ini sering terhalang oleh selubung duniawi yang menyeret manusia pada jalur yang jauh dari tujuan ilahi. Menurut Rahman, selubung spiritual itu bisa berwujud kesehatan dan kekayaan. Kata Rahman, saat hidup kita tak ada masalah, saat kita baik-baik saja dan makmur, kita tidak banyak menaruh perhatian pada masalah-masalah spiritual.

Untuk menguatkan spiritualitas, Rahman mencatat pentingnya komunitas spiritual yang autentik, yakni orang-orang dekat yang tulus, penuh cinta, dan setia untuk saling mendukung dan membimbing dalam menapak jalan spiritual. Rumi menyebut komunitas semacam ini dengan Lingkaran Cinta. Individu-individu dalam komunitas ini akan saling menyokong, ibarat dinding yang berdiri membentuk bangunan sehingga bisa menopang atap.

Rahman juga berbicara tentang spiritualitas dalam kerangka masyarakat majemuk. Menurut Rahman, kita sering terkungkung dalam diri kecil kita termasuk dengan identitas kelompok kita sendiri. Lebih jauh, kita kadang memiliki perasaan superioritas moral di hadapan kelompok lain. Bagi Rahman, ini adalah cerminan ego diri yang belum berhasil dijinakkan.

Dalam situasi ini, ego yang masih liar ini dapat menutup peluang untuk bekerja sama dengan orang di luar kelompok kita.

Dalam konteks ini, firman Allah yang menjelaskan tentang keragaman ciptaan dalam al-Qur’an surah al-Hujurat ayat 13 oleh Rahman dimaknai sebagai seruan untuk menjalin ikatan manusiawi tanpa harus terpaku pada identitas kelompok. Saling mengenal adalah basis kerja sama untuk kebajikan dan senjata untuk menumpas prasangka.

Rahman mengambil contoh kasus penolakan sebagian warga Amerika atas proposal untuk membangun satu masjid dan pusat antariman di Ground Zero di kota New York. Yang mengejutkan, 61 persen rakyat Amerika yang menolak ternyata secara pribadi tak punya kenalan seorang muslim seorang pun.

Selain gaya bertutur yang mengalir dan renyah, kelebihan buku yang versi bahasa Inggrisnya berjudul Spiritual Gems of Islam ini terletak pada aspek praktis yang dipaparkan untuk mempertajam aspek spiritualitas tertentu. Alur yang memberi ruang untuk panduan dan latihan praktis dalam buku ini persis seperti yang digunakan Rahman dalam karyanya yang lain yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, yakni The Fragrance of Faith: The Enlightened Heart of Islam (diterjemahkan dengan judul Wajah Sejuk Agama) dan Sacred Laughter of the Sufis (diterjemahkan dengan judul Tiada Sufi Tanpa Humor).

Ketika menjelaskan kehidupan Nabi Muhammad sebagai sumber inspirasi spiritualitas, misalnya, Rahman memberi panduan agar pembaca mencoba mencontoh satu laku spiritual tertentu dari Nabi dalam waktu tertentu untuk merasakan kekuatan transformatif yang bisa dicapai.

Buku ini mengajak pembaca untuk menyelam ke kedalaman sari pati kehidupan, yakni spiritualitas yang autentik, yang belakangan ini tidak saja terselubung oleh arus kehidupan duniawi, tapi juga kadang tertutup oleh spiritualitas semu yang cukup memperdaya. Buku ini mencoba menyegarkan kembali sumber-sumber pokok ajaran Islam secara kontekstual dengan bingkai dimensi spiritual yang sangat penting untuk dikemukakan di tengah kecenderungan penghayatan keagamaan yang dangkal.

Tulisan ini dimuat di Harian Radar Madura, 8 Januari 2017.



Read More..

Wednesday, 14 December 2016

Jembatan untuk Pendidikan Kontekstual: Refleksi Kritis dari Lapangan


Judul buku : Mendidik Pemenang Bukan Pecundang
Penulis : Dhitta Puti Sarasvati & J. Sumardianta
Penerbit : Bentang Pustaka, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, April 2016
Tebal : xvi + 324 halaman


Salah satu kritik mendasar terhadap dunia pendidikan saat ini adalah kenyataan bahwa pendidikan, yakni sistem persekolahan, dipandang masih belum mampu menjawab tantangan zaman. Lulusan sekolah masih banyak gagap menghadapi kenyataan hidup di masyarakat saat mereka terjun dan bergelut langsung dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu pertanda yang dapat dikemukakan terkait dengan problem krisis sosial-ekologis yang dihadapi umat manusia saat ini. Dalam pandangan sejumlah pihak, sekolah dipandang belum cukup mampu untuk menanamkan kepekaan ekologis atau melek ekologis (ecological literacy) terhadap para siswa di sekolah sehingga siswa gagal memberi tanggapan kritis atas krisis sosial-ekologis yang dihadapi umat manusia.

Di sisi yang lain, kesenjangan praktik pendidikan di sekolah dengan kebutuhan masyarakat dan tantangan zaman juga terasa kurang terjembatani oleh dunia akademis, yakni pendidikan tinggi yang mengelola jurusan keguruan dan ilmu pendidikan.

Buku berjudul Mendidik Pemenang Bukan Pecundang yang ditulis oleh dua orang praktisi pendidikan ini kiranya dapat menjadi jembatan untuk menghidupkan kembali pendidikan kritis dan pendidikan kontekstual. Pendidikan kritis dan pendidikan kontekstual yang dimaksudkan di sini adalah model pendidikan yang mampu menanamkan kepekaan kepada para peserta didiknya atas situasi masyarakat yang bergerak cepat dan praktik pendidikan yang mampu menjawab tantangan zaman di masa mendatang.

Dhitta Puti Sarasvati, penulis buku ini, adalah lulusan Teknik Mesin ITB dan Pendidikan Matematika Universitas Bristol (UK) yang saat ini mengajar di Fakultas Pendidikan, Sampoerna University, setelah sebelumnya menjadi guru honorer dan juga aktif di Ikatan Guru Indonesia (IGI). Sedangkan J. Sumardianta, penulis lainnya, mengajar di SMA Kolese De Britto, Yogyakarta.

Pada bagian pengantar, dijelaskan bahwa “buku ini ditulis bagi para pendidik, calon pendidik, dan orangtua untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi dunia nyata” (hlm. xiv). Generasi seperti apa yang diharapkan dapat lahir dari sekolah ideal oleh penulis buku ini? Dari judulnya, pembaca bisa menjawab: generasi pemenang, bukan generasi pecundang.

Penulis buku ini menjelaskan makna “pemenang” pada tulisan pertama dengan membuat pembedaan antara generasi muda tipe pengemudi (driver) dan penumpang (passenger). Dengan mengutip Rhenald Kasali, dijelaskan bahwa generasi pemenang memiliki sejumlah ciri, misalnya visioner, proaktif dan siap memelopori perubahan, siap turun tangan, mampu melihat solusi dalam tiap masalah, suka bekerja keras, menjadi trend setter, dan sebagainya. Sementara itu, generasi penumpang yang juga diidentikkan dengan pecundang digambarkan bermental pasif, kurang mandiri, cepat menyerah, mudah mengeluh dan frustrasi, sulit mencari alternatif jalan keluar, dan sebagainya (hlm. 5-8).

Sesuai dengan karakternya yang merupakan kumpulan tulisan, maka dalam buku ini tidak ada uraian yang sifatnya sistematis untuk menjawab cara sekolah membentuk generasi pemenang itu. Pembaca harus menyimpulkan sendiri bagaimana generasi pemenang itu dibentuk oleh sekolah. Dalam menjelaskan masalah ini, buku ini memberi jawaban secara teoretis maupun praktis. Maksudnya, ada jawaban yang digali dari gagasan atau teori, ada pula yang dijawab melalui pemaparan praktik yang baik (good practice) di lapangan.

Misalnya, buku ini mengutip pendapat Prof. Soedjatmoko bahwa jantung sekolah berkualitas ada tiga, yakni perpustakaan, laboratorium, dan interaksi (hlm. 17-18). Perpustakaan merupakan sumber informasi yang untuk konteks saat ini sebenarnya tak dapat digantikan sepenuhnya dengan internet. Perpustakaan dalam bentuknya yang konvensional yang memuat buku-buku, majalah, dan semacamnya, pada tingkat mendasar mendorong siswa di sekolah untuk memiliki kemampuan mencari dan mengolah informasi. Tanpa kemahiran dasar ini, internet yang menyediakan informasi tak terbatas akan jauh berkurang nilainya. Internet hanya akan menjadi gudang data belaka. Malahan jika siswa—atau bahkan juga guru—langsung masuk ke dunia internet tanpa dasar kemampuan melek informasi yang cukup maka bisa saja ia terperangkap pada mentalitas instan.

Jika perpustakaan berfungsi sebagai penyedia informasi, laboratorium adalah tempat siswa melakukan praktik, bereksplorasi, bereksprimen, dan meneliti. Tentu saja, laboratorium yang dimaksudkan di sini bukanlah laboratorium dalam arti sempit. Laboratorium dapat berupa alam terbuka, pasar tradisional, dan sebagainya. Satu hal yang digarisbawahi buku ini adalah bahwa kita sebagai bangsa Indonesia sangatlah beruntung karena memiliki kondisi alam dan kondisi sosial budaya yang sangat kaya yang sebenarnya dapat menjadi laboratorium yang luar biasa maknanya bila mampu dimanfaatkan secara baik oleh guru dan siswa.

Interaksi adalah unsur penting yang ketiga pada ciri sekolah berkualitas. Interaksi adalah roh yang menjadikan para pelaku di sekolah bersatu dalam semangat belajar dan meraih kehidupan yang lebih baik. Interaksi, atau juga disebut relasi, meliputi jalinan mendalam antara guru dan murid, guru dan orangtua, murid dan orangtua, termasuk juga relasi masyarakat sekolah dan pengetahuan.

Jalinan antara para pelaku, terutama antara guru dan murid, akan memberikan sentuhan yang mengilhamkan perubahan baik pada tataran kognitif maupun sikap. Jalinan yang baik akan mengikat para pemangku kepentingan di sekolah pada misi mendasar sekolah sebagai salah satu motor penggerak peradaban.

Namun demikian, dalam iklim pembelajaran yang penuh beban administrasi dan berlangsung begitu formal, interaksi yang hangat di sekolah tidak mudah kita temukan. Justru terkadang interaksi yang hangat ini ditemukan di sekolah-sekolah pinggiran. Puti dalam buku ini memberi contoh sebuah sekolah di Garut, Jawa Barat, yang pada setiap Jum’at sore menggelar acara kumpul-kumpul secara guyub antara guru, perwakilan murid, orangtua, dan masyarakat, untuk membicarakan perbaikan mutu sekolah.

Selain tiga hal pokok yang menjadi jantung pendidikan berkualitas tersebut, buku ini juga menyinggung tujuan pendidikan dan pembelajaran, termasuk orientasi belajar. Pada tingkat yang sederhana, proses pembelajaran diorientasikan untuk membekali pengetahuan dan keterampilan pada siswa. Pada tingkat lainnya, proses pendidikan juga diorientasikan untuk menanamkan kecintaan siswa pada ilmu. Selain itu, proses pendidikan juga dilakukan untuk membentuk sikap siswa menghadapi tantangan zaman, termasuk hidup bersama dalam kehidupan masyarakat yang beragam. Demikan juga, belajar perlu diorientasikan agar mendorong siswa menjadi manusia yang terus-menerus berusaha agar lebih bermartabat, lebih kritis, lebih toleran, dan menjadi lebih baik (hlm. 90-95).

Ada satu bagian dalam buku ini yang cukup menarik yang menggambarkan orientasi pembelajaran. Puti yang lulusan perguruan tinggi terkemuka dan sebelumnya juga menempuh pendidikan yang baik di lembaga unggulan merasakan bahwa ternyata keseluruhan proses pendidikan formal yang diikutinya tidak cukup berhasil mengenalkan dan menanamkan kepekaan atas realitas sosial masyarakat yang timpang. Pengalaman Puti sebagai guru honorer di sebuah sekolah pinggiran di Bandung membuka dan menggugah kesadarannya bahwa masih banyak masyarakat Indonesia yang belum dapat menikmati pendidikan berkualitas. Kesadaran akan realitas sosial yang timpang ini justru baru muncul saat Puti bekerja sebagai guru dan pendidik (hlm. 29).

Dari kenyataan ini terlihat betapa orientasi dan proses pendidikan di negeri ini tampaknya memang masih belum berhasil mengarah pada model pendidikan kritis dan pendidikan kontekstual sebagaimana yang menjadi semangat pemaparan buku ini.

Namun demikian,buku ini juga beusaha mengangkat praktik-praktik pendidikan yang sederhana tapi mencerahkan untuk keluar dari keterbatasan sistem persekolahan yang ada saat ini. Misalnya, Puti bertutur tentang Komunitas Sahabat Kota (KSK) di Bandung yang merupakan organisasi nirlaba yang menghimpun sejumlah anak muda lokal di Bandung untuk membantu mengoptimalkan tumbuh kembang anak-anak dengan memanfaatkan berbagai potensi setempat.

Komunitas yang lahir pada tahun 2007 ini percaya bahwa anak-anak belajar paling baik dari lingkungan hidup mereka. Untuk itu, komunitas ini mengajar anak-anak untuk menjelajahi kota tempat mereka tinggal dan belajar dari sana. Misalnya, mereka diajak untuk membuat peta hijau, yakni peta yang berkaitan dengan berbagai potensi dan masalah lingkungan hidup. Dari komunitas ini, pembaca bisa melihat upaya-upaya kreatif untuk mendorong anak-anak peka terhadap lingkungan dan menjadikan lingkungan sebagai pengilham dan sekaligus sumber belajar (hlm. 257).

Sebagai bagian dari refleksi dari lapangan, buku ini berhasil keluar dari model pendekatan yang semata terfokus pada unsur mikro dalam proses pendidikan di sekolah dan menghindar dari pembicaraan terkait kebijakan pengurus publik. Buku ini tidak saja mengangkat isu-isu yang bersifat mikro dan personal, tapi juga secara kritis mengupas beberapa kebijakan pemerintah di bidang pendidikan. Misalnya, terkait wajib belajar yang dicanangkan pemerintah, buku ini mengingatkan bahwa wajib belajar itu yang terpenting adalah soal penerapannya, yakni bahwa kebijakan ini dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Menurut Puti, kebijakan wajib belajar terutama bukan soal apakah 12 tahun atau 9 tahun, tapi lebih pada soal yang mendasar, yakni terkait dengan ketersediaan layanan pendidikan yang bisa diakses oleh seluruh warga, kualitas layanan pendidikan yang baik, dan perubahan paradigma bahwa pendidikan adalah hak setiap warga negara (hlm. 104-109).

Dalam buku ini, Puti juga mengkritik penerapan kebijakan pendidikan inklusi yang cenderung hanya sekadar menerima murid yang berkebutuhan khusus tanpa persiapan yang cukup. Akibatnya, murid yang berkebutuhan khusus tersebut menjadi terlantar di sekolah (hlm. 35-36).

Terkait berbagai hal ideal yang dibicarakan tentang dunia pendidikan, baik yang dikupas langsung dalam buku ini maupun yang dibicarakan masyarakat umum, buku ini mengingatkan bahwa, bagaimanapun, gagasan-gagasan besar tentang hal ideal dalam dunia pendidikan harus diikuti dengan kerja-kerja konkret untuk mengurus detail yang memungkinkan gagasan-gagasan besar tersebut dapat terwujud (hlm. 119).

Buku ini berhasil mengisi ruang kosong yang ada di antara dunia akademis dalam bidang kajian pendidikan dan praktik pendidikan yang berlangsung di masyarakat. Dengan menghadirkan potret kerja-kerja pendidikan di lapangan yang dibarengi dengan refleksi kritis dan juga perbandingan dengan praktik pendidikan di tempat yang lain, dan kadang juga disorot dengan perspektif teori, buku ini berupaya untuk mengembalikan watak kritis dan kontekstual kerja pendidikan.

Dengan cara ini, buku ini tampaknya cukup mampu untuk menjadi pemantik awal sebagai jembatan di antara dunia praktik dan dunia teoretis, khususnya dunia teoretis yang berkembang di lingkungan akademis di perguruan tinggi ilmu kependidikan, menuju pendidikan yang kritis dan kontekstual. Tentu saja, sebagai sebuah jembatan, buku ini tak akan banyak bernilai jika faktanya catatan-catatan dari lapangan seperti yang ada dalam buku ini tidak mendapat tempat di dunia akademis.

Kehadiran buku ini pada gilirannya juga menyiratkan satu pesan yang kuat bagi dunia akademis bahwa kerja-kerja akademis haruslah terus dijaga ketersambungannya dengan realitas masyarakat melalui refleksi atas aksi-aksi di lapangan. Dengan demikian, membekali kemampuan refleksi kepada para mahasiswa kependidikan atau siapa pun yang akan terjun mengabdi di dunia pendidikan sangatlah penting, karena refleksi dari lapangan ini akan menjadi sumbangan yang sangat berharga bagi dunia pendidikan.

Dari sudut pandang dunia pesantren, buku ini memberi tantangan agar para pegiat pendidikan di pesantren juga mampu merefleksikan praksis yang mereka lakukan di lapangan. Kiranya sangat banyak hal menarik di dunia pendidikan pesantren yang penting untuk direfleksikan dan diangkat untuk dibagikan dengan khalayak luas. Kita mengenal sebuah buku yang sudah menjadi klasik yang ditulis oleh KH Saifuddin Zuhri, Guruku Orang-Orang dari Pesantren, yang menuturkan secara renyah dan cukup reflektif dunia pendidikan pesantren yang khas.

Buku ini menghidupkan kembali visi mendasar pendidikan sebagai landasan perubahan individu dan masyarakat ke arah yang lebih baik dengan landasan sikap kritis dan kemampuan berpikir kontekstual. Untuk ke sana, buku ini di antaranya memaparkan praktik-praktik inspiratif dan juga gagasan-gagasan kritis untuk menegaskan visi mendasar pendidikan tersebut.


Tulisan ini dimuat di Jurnal 'Anil Islam, Vol. 9, Nomor 1, Juni 2016.


Read More..

Monday, 28 November 2016

Belajar dari Kepemimpinan Fergie


Judul buku: The Legend’s Leadership Sir Alex Ferguson: Sukses Tiada Henti
Penulis: Jennie S. Bev
Penerbit: Kanisius, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, 2016
Tebal: 160 halaman
ISBN: 978-979-21-4481-9


Sir Alex Ferguson, yang akrab dipanggil Fergie, adalah legenda klub sepakbola Inggris Manchester United (MU). Dalam masa kepemimpinannya sebagai pelatih klub—sekitar 27 tahun—Fergie telah mempersembahkan puluhan trofi bergengsi.

Buku ini mengangkat nilai-nilai kepemimpinan yang menjadi ruh Sir Alex Ferguson sehingga dapat berhasil mengantarkan MU menjadi klub ternama. Pada bagian pertama, buku ini menyajikan sekilas biografi Fergie.

Fergie lahir pada penghujung tahun 1941 di kota Govan, Skotlandia, dari keluarga buruh. Fergie dikenal aktif di dunia politik dan mendukung Partai Buruh Inggris Raya. Pada tahun 2012 dia mendukung referendum agar Skotlandia tetap menjadi bagian dari Inggris Raya.

Di dunia sepakbola, Fergie memulai kariernya sebagai pemain dari tahun 1957 hingga 1974. Pada tahun 1974, saat usianya belum genap 33 tahun, Fergie memulai karier manajerialnya di klub East Stirlingshire. Kariernya di klub Manchester United dimulai pada 6 November 1986. Di masa awal, Fergie harus menghadapi para pemain yang “jago minum” dan dituntut cerdas untuk mendisiplinkan pemain.

Pada pertengahan dekade 1990-an, Fergie berhasil mengorbitkan beberapa pemain muda yang kemudian menjadi legenda Manchester United. Di antara mereka adalah David Beckham, Paul Scholes, Gary Neville.

Fergie tidak saja lihai memoles pemain muda hingga menjadi bintang lapangan. Ia juga pandai mengelola pemain bintang agar bisa tampil sebagai anggota tim yang saling mendukung. Di tengah persaingan keras Liga Primer Inggris, Fergie tampil cerdik mengelola berbagai potensi pemain dan juga mengelola isu—termasuk media—demi kekuatan dan keunggulan tim.

Dari sejarah hidup dan karier di dunia sepakbola, buku ini merekam 14 nilai-nilai hidup yang menjiwai perjalanan Fergie. Di antara nilai-nilai itu, dikemukakan bahwa Fergie adalah sosok yang senang akan tanggung jawab. Sejak muda, Fergie mengambil alih tugas ayahnya sebagai pencari nafkah keluarga. Inilah mungkin yang membuatnya memiliki standar kegigihan dan etos kerja keras yang tinggi. Fergie juga sangat menghargai kehangatan keluarga. Dari latar keluarga pekerja, ia belajar untuk mensyukuri hal-hal kecil, hidup sederhana, dan peduli pada orang lain.

Latar kehidupan keluarga Fergie yang termasuk “berkerah biru” membentuk karakter kerja keras dan juga rendah hati. Tensi emosi yang tinggi dalam persaingan Liga Inggris kadang dipenuhi dengan ejekan dan umpatan dari para pendukung tim lawan. Tapi Fergie berhasil melewati semuanya dengan baik.

Masa kerja Fergie yang cukup lama di MU menunjukkan bahwa ia berhasil melewati berbagai tekanan mental di dunia sepakbola Eropa yang semakin ketat persaingannya. Sesekali ia memperlihatkan gaya kepemimpinan yang cukup kontroversial seperti berkonfrontasi dengan media atau keras memarahi pemainnya.

Sebagai pemimpin, Fergie menerjemahkan disiplin pada aspek yang luas. Disiplin tidak hanya dalam soal mengendalikan dan mengelola pemain, tapi juga dalam hal memberikan arahan yang jelas dan jernih, mengelola perubahan, dan mendorong sikap berani.

Nilai-nilai kepemimpinan Fergie ini tidak saja terlihat dalam setiap pertandingan yang dipimpinnya. Nilai kepemimpinan Fergie ini juga berada pada lapis pengelolaan musim pertandingan dan pengelolaan klub. Dalam mengelola klub, nilai-nilai kepemimpinan dan kecerdasan Fergie terlihat dari fakta bahwa ia bertahan begitu lama di MU.

Buku ini memperlihatkan kepada pembaca bahwa sepakbola tidak saja menjadi ajang hiburan dan industri tapi juga sarat dengan nilai-nilai pembentukan karakter. Di tengah situasi persepakbolaan nasional yang tampak sulit untuk maju, kiranya buku ini dapat menjadi inspirasi perubahan untuk mendorong pengelolaan sepakbola dalam berbagai level secara lebih baik agar sepakbola juga dapat berkontribusi dalam perubahan mental dan ikut memajukan masyarakat.


Tulisan ini dimuat di Koran Sindo, 27 November 2016.
.


Read More..

Sunday, 6 November 2016

Beres-Beres Rumah dan Gaya Hidup Minimalis


Judul buku: The Life-Changing Magic of Tidying Up: Seni Beres-Beres dan Metode Merapikan ala Jepang
Penulis: Marie Kondo
Penerbit: Bentang Pustaka, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, Agustus 2016
Tebal: xviii + 206 halaman
ISBN: 978-602-291-244-6


Tak jarang hal yang dipandang remeh, kecil, dan biasa jika ditekuni dapat melahirkan hal yang luar biasa. Marie Kondo membuktikan hal ini saat namanya masuk di antara 100 Most Influential People of 2015 versi majalah Time berkat ketekunannya mendalami seni beres-beres dan metode merapikan rumah.

Urusan beres-beres dan merapikan rumah selama ini dianggap hal sepele yang tak perlu dipelajari secara khusus. Kenyataannya, menurut Marie Kondo, para “veteran” di bidang mengurus rumah, yakni perempuan 50-an tahun yang rata-rata mengurus rumah sekitar 30-an tahun, kewalahan mengurus rumah karena pendekatan konvensional mereka yang keliru.

Buku ini dapat dilihat sebagai buku yang bersifat praktis, yakni panduan untuk merapikan rumah. Namun, ketekunan, kecermatan, dan kedalaman penelaahan penulisnya yang saat ini berusia sekitar 31 tahun pada bagian tertentu buku ini memperlihatkan sisi yang mendalam, kritis, dan radikal, sehingga mungkin berada pada level yang cukup “filosofis”.

Merapikan rumah, menurut Marie, harus dilakukan secara total dan tuntas dalam satu jangka waktu. Perubahan drastis dan total akan menjadi terapi kejut untuk membentuk pola pikir dan gaya hidup yang rapi. Karena itu, berbenah menuntut tekad dan kesungguhan. Secara praktis, Marie kemudian memberi panduan untuk beres-beres rumah secara tuntas.

Pertama, Marie menerangkan bahwa berbenah itu sebenarnya meliputi dua aktivitas: membuang barang (yang sebenarnya tidak diperlukan) dan menyimpan atau meletakkan barang di tempatnya. Dari pengalamannya sebagai konsultan berbenah, Marie menemukan bahwa kliennya rata-rata menyimpan banyak sekali barang yang sebenarnya sudah tidak digunakan. Seorang klien, misalnya, membuang barang-barangnya hingga 200 kantong sampah bervolume 45 liter.

Ada juga klien yang menumpuk persediaan barang terlalu banyak di rumahnya: tisu toilet hingga 80 gulung, 60 sikat gigi, atau 100 kotak korek kuping yang masing-masing berisi 200 korek kuping.

Klien Marie yang mengoleksi buku banyak yang tak pernah menyentuh dan membaca beberapa bukunya. Saat diminta untuk memilah untuk menentukan buku yang akan dibuang, klien biasanya menjawab: “Siapa tahu saya ingin membacanya kapan-kapan.” Marie menimpali bahwa menurut pengalamannya, yang namanya “kapan-kapan” itu tak akan pernah datang.

Pada tahap membuang ini, terungkap bahwa ternyata orang-orang banyak yang takut akan menghadapi kesulitan hidup gara-gara kekurangan barang. Akhirnya mereka menimbun. Tapi pada giliran berikutnya ternyata timbunan barang itu membuat rumah mereka tidak rapi dan membuat mereka tidak bahagia. Menurut Marie, kita mestinya hanya menyimpan barang-barang yang dapat memberikan kebahagiaan dan membangkitkan kegembiraan.

Menurut Marie, dengan tuntas membuang barang yang sebenarnya tidak diperlukan hingga benar-benar pas sesuai kebutuhan, kita sebenarnya sedang merevitalisasi hubungan kita dengan benda-benda milik kita. Barang-barang yang diabaikan di rumah kita, bagi Marie, adalah barang-barang yang “terpenjara”. Mereka sebenarnya ingin pergi. Dengan membuangnya atau memberikannya pada orang lain, barang-barang itu menghirup udara kebebasan.

Setelah tuntas membuang barang-barang yang tak dibutuhkan, langkah berikutnya adalah disiplin meletakkan barang pada tempatnya. Marie menyarankan agar semua barang di rumah kita harus memiliki tempat yang jelas, tidak tersebar-sebar. Sering kali kita memiliki barang yang tak jelas tempat penyimpanannya sehingga bisa menjadi pangkal kesemrawutan di rumah. Selain kejelasan tempat, disiplin mengembalikan juga penting. Itulah pentingnya “alamat” yang jelas dari barang-barang kita di rumah.

Keajaiban berbenah adalah level kedua yang dipaparkan buku ini. Jika level pertama bersifat praktis, level kedua ini cukup bersifat filosofis. Pada level ini, pertama, kita diajak untuk “memanusiakan” barang-barang kita. Saat melipat baju, kata Marie, kita tidak saja sedang berusaha menghemat tempat penyimpanan pakaian. Ketika melipat baju, kita menyalurkan energi pada pakaian kita, kita juga berdialog, dan berterima kasih atas jasa pakaian kita yang telah menyokong kehidupan kita. Dengan memanusiakan barang-barang itu, kita belajar untuk mengapresiasi dan mensyukuri takdir barang-barang yang telah menjadi bagian dari hidup kita.

Selain itu, berbenah dapat mengantarkan pada pembentukan keterampilan membuat keputusan. Dalam berbenah, kita dilatih untuk membuat keputusan tentang barang yang benar-benar dibutuhkan. Pada saat yang sama, kita dilatih untuk mengikhlaskan barang yang sejatinya kita telantarkan.

Meski bertolak dari hal yang bersifat praktis dan secara eksplisit tak menyebut unsur ideologis yang menjadi landasannya, Marie Kondo dalam buku ini terlihat sedang mempromosikan gaya hidup minimalis atas dasar kesadaran kepedulian akan kelestarian alam. Kehidupan modern yang konsumtif membuat nafsu manusia untuk menumpuk barang kian tak terkendali sehingga kesadaran akan asal-muasal dan nasib barang kita menjadi terabaikan dan terlupakan.

Gaya hidup konsumtif ini tidak saja merusak kelestarian alam. Ia juga merusak kondisi psikologis manusia. Nafsu menumpuk barang nyatanya hanya membuat kita tidak tenang. Menurut beberapa ahli, hidup efisien, yakni hidup secukupnya, juga memberi manfaat psikologis—bukan hanya keuangan.

Lebih dari itu, gaya hidup minimalis yang diusung Marie Kondo dalam buku ini tampak memiliki muatan spiritual yang cukup kental. Jika dirumuskan dalam bahasa agama, mereka yang tak berhasil berbenah bisa saja termasuk orang yang “kufur nikmat”. Selain itu, penimbun barang dapat pula termasuk pada kelompok pemuja barang yang takut kehilangan dan begitu tergantung pada benda-benda duniawi.


Tulisan ini adalah naskah awal tulisan yang dimuat di Harian Jawa Pos, 6 November 2016.


Read More..

Sunday, 30 October 2016

Kota dan Potret Keterasingan Manusia


Judul buku: Orang-Orang Bloomington
Penulis: Budi Darma
Penerbit: Noura Books, Jakarta
Cetakan: Pertama, Mei 2016
Tebal: xiv + 298 halaman
ISBN: 978-602-385-021-1


Dalam sejarah perkembangan peradaban manusia, kota mula-mula merupakan pusat pergerakan kemajuan peradaban manusia. Sejak mengakhiri periode hidup nomaden dan mulai bertani pada sekitar 20.000 tahun yang lalu, manusia membangun kota dan unit-unit peradaban pendukung lainnya. Namun demikian, sebagai fenomena modern, kota ternyata juga menghadirkan potret kehidupan masyarakat yang mengandung kontradiksi.

Ajip Rosidi menggambarkan kontradiksi kota dalam salah satu puisinya yang berjudul “Djembatan Dukuh” (1956). Ajip Rosidi menulis: “...karena antara kita dan kota yang kita tinggali; karena antara rumah dan kita sendiri; tiada lagi hubungan.”

Orhan Pamuk, dalam karya memoarnya yang berjudul Istanbul (2003) menggambarkan kota Istanbul yang mengalami peralihan dari fase Dinasti Utsmani ke era Turki Modern. Pamuk mencatat bahwa dalam proses transisi tersebut ada kemurungan (huzun) yang hadir dalam kehidupan kota masyarakat Istanbul.

Jika Pamuk melihat Istanbul sebagai sebuah fenomena kemasyarakatan dalam konteks sosial, politik, dan kebudayaan yang cukup luas, kumpulan cerpen karya Budi Darma yang berjudul Orang-Orang Bloomington ini merekam fenomena kota modern dari sudut pandang pergulatan individu yang hidup di dalamnya. Pergulatan yang lebih bersifat individual ini pada satu sisi mencoba memperlihatkan cara kota menghadirkan masalah bagi manusia dalam menjalin hubungan dengan sesama.

Tujuh cerpen dalam buku ini mengangkat tujuh potret kehidupan warga kota Bloomington, Indiana, Amerika Serikat, dalam latar paruh kedua tahun 1970-an. Kota Bloomington, tempat Budi Darma menempuh pendidikan jenjang magister dan doktor pada dekade 1970-an, menurut Budi Darma dalam kata pengantar yang termuat dalam versi cetakan Penerbit Sinar Harapan tahun 1980—yang sayangnya tak dapat dibaca pada versi penerbitan ulang ini—“hanya bertindak sebagai sebuah kebetulan.” Bloomington bisa saja digantikan dengan kota lainnya. Dengan demikian, Budi Darma tampaknya memang ingin memperlihatkan fenomena kota dan pergulatan kejiwaan manusia yang bersifat universal.

Bloomington pada akhir dekade 1970-an sebenarnya bukan terbilang kota besar di Amerika Serikat. Penduduknya hanya sekitar 50 ribu jiwa. Namun, cerpen-cerpen dalam antologi ini membuat pembaca bisa merasakan kota Bloomington sebagai fenomena kehidupan modern. Semua cerpen secara khusus menggambarkan kehidupan para tokohnya di apartemen atau tempat kos dengan ciri kehidupan yang individualistis dengan berpijak pada konsep privasi yang cukup ketat. Nomor telepon bukan sesuatu yang biasa diobral kepada orang lain. Hubungan dengan orang lain tidaklah guyub, cukup kaku dan hanya seperlunya.

Lihatlah misalnya cerpen pertama yang berjudul “Laki-Laki Tua Tanpa Nama”. Dalam cerpen ini, tokoh “saya” menjadi lensa untuk memotret kehidupan tetangga kosnya yang misterius: seorang tua yang tak diketahui namanya dan suka membidik-bidikkan pistol ke tanah dari kamarnya di loteng. Cerpen ini menuturkan kisah tokoh saya yang berusaha mengenal lebih dekat sosok misterius ini. Meski oleh induk semangnya sudah diperingatkan untuk tidak ikut campur dengan urusan orang lain, tokoh saya tetap saja berusaha mengejar lelaki tua yang kabarnya veteran Perang Dunia Kedua itu.

Cerita berakhir dengan cukup tragis: si lelaki tua dalam sebuah drama yang singkat ditembak oleh Ny. Nolan, salah satu tetangga yang juga suka berperilaku aneh, yang ternyata menyimpan prasangka buruk pada lelaki tua itu berdasarkan pembicaraan dengan tokoh saya (hlm. 28-32).

Cerpen-cerpen dalam antologi ini mengungkap jalan pikiran tokoh utamanya yang di antaranya banyak suka ikut campur urusan orang, suka usil, merasa kesepian, dan juga dengki dan diliputi prasangka. Cerpen berjudul “Keluarga M” menceritakan kehidupan apartemen dengan tokoh saya yang dirundung kesepian. Di tengah kesepiannya itu, ia tampak begitu iri dengan kehidupan “keluarga M”, suami-istri dengan dua anak yang semua namanya berawalan huruf M. Gara-gara dua anak keluarga M itu membuat beret cat mobilnya, tokoh saya kemudian dikisahkan berusaha untuk mengganggu keluarga M, mulai dari usulan memasang mesin penjual Coca Cola dengan maksud agar dua anak itu suatu saat terkena pecahan botol, hingga pikiran-pikiran jahat bercampur doa agar keluarga M celaka (hlm. 77-83).

Saat keluarga M mengalami kecelakaan dan tokoh saya ingin membantu, keluarga M justru menolak. Sikap tokoh saya yang sering tampak dengki tapi kadang juga iba melihat keluarga M memperlihatkan konflik kejiwaan manusia yang pelik. Sayangnya, dalam cerpen ini, tokoh saya tak berhasil mengatasi kesepiannya dan juga upayanya untuk menjalin hubungan yang baik dengan orang lain.

Tema serupa juga menjadi pokok pikiran cerpen yang lain, yakni cerpen berjudul “Charles Lebourne” yang menceritakan seorang anak yang secara tak sengaja menemukan ayah yang telah meninggalkan ibunya dan memperlakukan ibunya secara aniaya. Pertemuan tak sengaja di lingkungan apartemen ini mengarah pada pergolakan batin tokoh saya yang ingin membalaskan derita ibunya tapi kadang juga muncul rasa iba melihat penderitaan ayahnya yang sakit-sakitan (hlm. 270-296).

Tujuh cerpen yang masing-masing sedikitnya terdiri dari sekitar 5 ribu kata ini—yang bisa dibilang relatif cukup panjang—ditulis dengan teknik yang baik oleh Budi Darma. Setiap cerpen memperlihatkan keutuhan cerita yang padu. Tak heran jika Budi Darma dianggap sebagai pengarang yang memberi warna baru dalam penulisan prosa di Indonesia.

Ketujuh cerpen dalam buku ini merupakan refleksi atas kondisi kejiwaan manusia modern yang hidup di lingkungan perkotaan. Dalam lingkungan yang cenderung individualistis, beberapa sifat dasar manusia yang luhur seperti belas kasih, rasa empati dan rasa peduli, tertantang oleh arus kehidupan yang juga berpotensi menyuburkan sikap batin negatif. Tak dapat dinafikan bahwa kala karakter negatif itu tumbuh, pada saat yang sama manusia juga bisa merasakan keterasingan, batin yang kosong, dan hidup yang hambar.

Momentum penerbitan kembali cerpen-cerpen Budi Darma, profesor emiritus di Universitas Negeri Surabaya, ini sangatlah tepat. Masyarakat Indonesia saat ini secara perlahan tengah mengalami proses peralihan ke pola kehidupan modern yang cenderung individualistis. Ini terjadi tak hanya di kota. Akibat revolusi teknologi informasi, jiwa kehidupan modern merambah ke mana-mana hingga ke desa.

Penerbitan ulang karya sastra Indonesia bermutu seperti buku ini sangat bernilai bagi pembaca sastra remaja dan belia yang kesulitan untuk mendapatkan buku-buku sastra Indonesia karya penulis terkemuka yang sudah tidak diterbitkan dan sulit didapat.

Kiranya, cerpen-cerpen Budi Darma yang secara berani menelanjangi pikiran-pikiran terdalam manusia-manusia Bloomington sebagai cerminan diri manusia modern ini dapat menjadi pendamping refleksi dalam membaca perubahan zaman dan pergulatan manusia yang hidup di dalamnya. Bisa jadi, di antara tokoh-tokoh yang diangkat dalam kumpulan cerpen ini ada “saya” yang tersembunyi yang diam-diam dengan keakutan masalah kehidupan modern saat ini.


Tulisan ini dimuat di Basabasi.co pada 29 Oktober 2016.

Read More..