Monday, 19 August 2013

Waktu Sela dan Kamera Seadanya


Sejak memiliki kamera saku pada pertengahan 2009 dan menyukai fotografi mulai sekitar akhir tahun 2009, saya kadang meluangkan waktu secara khusus untuk berburu gambar. Tujuannya adalah untuk belajar dan menajamkan naluri fotografi. Memang objek dan momentumnya sering kali biasa. Tapi saya percaya bahwa dengan sudut pandang yang tepat, setiap jepretan dapat memberi pelajaran yang baru buat saya.

Sejak memiliki kamera yang lebih baik, yakni kamera DSLR, hobi berburu gambar menjadi semakin menggoda. Sayangnya, bersamaan dengan itu, kesibukan saya di kegiatan kependidikan justru semakin padat sehingga saya agak kesulitan mengatur waktu untuk secara khusus berburu gambar. Apalagi, perangkat kamera DSLR dengan perangkat pendukung (lensa, filter, dan yang lain) cukup menyita ruang dan agak ribet untuk dibawa.

Pada akhir bulan November 2012 lalu, saya sempat kedatangan tamu fotografer terkemuka, Tedi K. Wardhana (instruktur Darwis Triadi School of Photograpy, Jakarta). Pada kesempatan itu, dia memberikan pelatihan singkat fotografi kepada murid dan guru di SMA 3 Annuqayah. Fokusnya pada fotografi dengan kamera telepon seluler (ponsel). Dari pemaparan Pak Tedi, saya tersadar bahwa belajar fotografi juga bisa dilakukan dengan perangkat mobil yang nyaris dimiliki semua orang: telepon seluler. Apalagi saat ini telepon seluler yang memiliki fasilitas kamera terbilang murah dan sudah dimiliki banyak orang.

Apa yang paling mungkin digali dan dipelajari dari kamera ponsel? Paling tidak ada dua hal: pembingkaian dan kepekaan pada cahaya. Pembingkaian adalah hal yang menurut saya sangat mendasar dalam fotografi, yakni bagaimana kita memasukkan objek tertentu dalam bingkai gambar yang sedang kita bidik. Setiap kali mengambil gambar dengan kamera, saya berusaha untuk membayangkan bahwa saya sedang mengambil secuil gambar dari realitas yang ada di hadapan saya dalam sebuah batas atau bingkai tertentu. Nah, untuk melatih hal ini, kamera ponsel tentu saja tidak punya hambatan.

Yang kedua adalah soal kepekaan pada cahaya. Kamera pada dasarnya bekerja melalui cahaya. Kamera merekam objek yang kita ambil dengan berdasarkan masukan cahaya yang ada di sekitar objek tersebut. Penyesuaian terhadap keberadaan cahaya dengan objek yang kita tuju sangatlah penting dalam fotografi. Arah cahaya datang dan posisi kita yang sedang mengambil gambar akan berpengaruh pada gambar yang akan dihasilkan. Dengan teknologi yang seadanya, kamera ponsel dapat menjadi media eksplorasi untuk dapat merekam objek secara lebih baik dengan menempatkan diri dan menyesuaikan dengan situasi cahaya yang ada.

Jika kebetulan ada waktu dan berada di hadapan objek dan situasi yang tepat, saya berusaha memanfaatkan kamera ponsel saya dengan niat belajar. Contohnya adalah sore tadi. Saat pulang dari menghadiri tasyakkuran pernikahan seorang rekan di Kecamatan Batang-Batang, sekitar 60 km dari rumah saya di Guluk-Guluk, pulangnya kami mampir shalat asar di Masjid Jamik Sumenep. Begitu turun dari kendaraan, naluri fotografi saya langsung bekerja saat melihat Masjid Jamik Sumenep di sore sekitar pukul 16.35 WIB itu.

Langit biru. Senja yang cerah. Awan putih terbentuk cukup rapi di balik pintu gerbang masjid yang dominan dengan warna putih dan kuning itu. Saya teringat pada keagungan masjid yang dibangun di masa pemerintahan Panembahan Somala (1762-1811) dengan arsitek Lauw Pia Ngo itu. Nilai multikultural gerbang masjid yang berarsitektur China itu bagi saya sungguh membanggakan untuk diceritakan.

Setelah menunaikan shalat asar, saya pun mulai mengambil gambar dengan fokus pada gerbang masjid yang dibangun selama enam tahun itu, yakni mulai 1781 hingga 1787. Dengan menggunakan kamera ponsel Samsung GT-P3100, ternyata gambar yang dihasilkan cukup memuaskan buat saya. Dan, yang terpenting, saya berkesempatan untuk menajamkan naluri fotografi saya.

Di jalan pulang setelah meninggalkan Masjid Jamik Sumenep, sambil melihat-lihat hasil jepretan saya, pikiran saya sempat tergoda untuk secara khusus mengeksplorasi Masjid Jamik Sumenep sebagai objek kamera dengan waktu yang lebih leluasa dan utuh. Sungguh rasanya akan menjadi pengalaman menarik. Tapi saya belum tahu kapan saya bisa melakukannya.

Di bawah ini adalah beberapa hasil jepretan saya sore tadi.









5 komentar:

Addarori Ibnu Wardi said...

Kalau ingin membuat kualitas cahaya yang baik bagaimna? Soale kalau menggunakan kamera HP biasanya kurang maksimal, dan kalau ada cahaya yang berlawanan akan ada warna kehitaman.

M Mushthafa said...

Dengan kamera ponsel, sekali lagi, kita bisa belajar pembingkaian dan mengasah kepekaan cahaya. Soal cahaya, kamu harus mengenali bahwa posisi pemotret, objek, dan sumber cahaya akan berpengaruh. Jika backlight (cahaya ada di belakang objek yang dipotret dan di hadapan pemotret), maka pasti objek akan menjadi siluet. Jika dipaksa objek menjadi fokus yang jelas, maka latar di belakang akan tidak jelas.

Zyadah said...

Wah... Keren, yaa.
Ehh... pocket digital yang bagus untuk belajar fotografi yang merk apa, yaa?
Bagaimana kalau hasil jepretan sampean diupload dan dibikin label khusus di blog ini? Pasti tambah +plus!

Salam ta'dhim,
Zyadah

Afif Arifin said...

pernah ke Flickr.com? mungkin referensi yang oke Ra untuk menajamkan insting fotografi.

M Mushthafa said...

Zyadah: kamera saku secara umum sama. Menurut saya, belajar fotografi bagus dimulai dari kamera saku sehingga bisa memaksimalkan dasar-dasarnya.
Afif: saya punya akun Flick. tapi insting fotografi saya pikir terutama dikembangkan dengan praktik. Terima kasih.