Tuesday, 21 February 2012

Melek Informasi

Ada berapa status Facebook yang saya baca hari ini? Ada berapa tweet yang saya ikuti hari ini? Ada berapa iklan yang—sadar atau tidak—menyerbu saya hari ini melalui koran, televisi, radio, internet, dan sebagainya? Ada berapa judul dan teras berita yang saya baca hari ini?

Pertanyaan-pertanyaan ini muncul di benak saya saat saya berpikir soal banjir informasi dari berbagai media yang menimpa kehidupan saya dan orang lain di zaman ini. Informasi itu menyerbu saya melalui bermacam bentuk media komunikasi yang terus memperbarui diri secara cepat. Media komunikasi itu—seperti televisi, internet, koran atau majalah, iklan—tak putus berusaha untuk tampil dengan wajah baru untuk lebih memikat dan menarik perhatian orang banyak.

Di zaman informasi ini, kita memang dikepung oleh media dan informasi. Saya teringat pemaparan Annie Leonard yang menyatakan bahwa warga Amerika saat ini disasar oleh lebih dari tiga ribu iklan setiap hari—bahkan ada yang bilang lebih dari itu.

Saya, yang hidup di pelosok kampung di Madura, mungkin diserbu iklan tak sebanyak itu. Tapi saya yakin jumlahnya bisa mencapai puluhan. Saya akan menemuinya di lembar-lembar koran yang saya baca. Tanpa sadar, saya juga akan melihat iklan di laman-laman yang saya buka. Di kawasan “pertigaan emas” dekat rumah saya, saya akan menemukan iklan-iklan di beberapa toko yang berderet di situ.

Sementara itu, berita-berita, baik itu di koran terbitan lokal maupun nasional, atau juga di internet, setiap hari menyajikan informasi yang melimpah. Saya rasanya ingin menyerapnya setiap pagi. Tapi sering kali waktu saya terbatas untuk melahap informasi yang sepertinya tak terbatas itu.

Kehadiran media yang memuat informasi yang banyak dan beragam, alirannya yang deras, serta kemasannya yang cermat dan memikat ini menurut saya memiliki kekuatan dan pengaruh yang luar biasa dalam kehidupan masyarakat saat ini. Pengaruhnya memang tidak serta-merta terasa, karena perubahan yang kemudian dimunculkannya sering serupa tangga dengan sudut yang agak landai—bukan seperti tikungan tajam.

Pengaruh media ini bagi saya menjadi begitu terasa justru karena saya hidup di kampung. Masyarakat kampung di tempat saya, dengan segala keterbatasan mereka, rata-rata tidak memiliki ruang gerak yang memungkinkannya berjumpa secara langsung dengan banyak hal di luar kebudayaan dan lingkungan mereka. Akan tetapi, kehadiran media, mulai dari yang sederhana seperti televisi hingga internet yang belakangan relatif mulai semakin mudah didapat, telah memberi kemungkinan baru bagi masyarakat di pedalaman—tentu termasuk saya—untuk mengenal dan bersentuhan dengan hal-hal baru, yakni hal-hal yang sebelumnya tampak asing.

Di kelas, misalnya, saya bisa menemukan dengan cukup mudah siswa yang hafal nama-nama pasangan artis dengan beberapa perincian penggalan kisah kehidupan pribadi mereka. Mereka mungkin juga telah memiliki perbendaraan kata berupa istilah-istilah trendi yang bisa saja tak saya pahami. Lebih jauh lagi, mereka bahkan sangat mungkin tak hanya hafal nama-nama atau kosakata, tapi juga diam-diam mengikuti gaya atau segi tertentu dari orang atau hal-hal yang mereka temukan di media. Tambahan lagi, saya kadang bersentuhan langsung dengan orang yang tampaknya telah menjadi korban media di lingkungan pendidikan tempat saya bergiat—dan saya seperti sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi untuk membantu keluar dari jeratan dan pengaruh buruknya.

Media mungkin memang telah menjadi kiblat sekaligus “rasul” yang menawarkan bimbingan ke arah hidup tertentu. Tapi izinkan saya menyebutnya dengan ungkapan yang lain: media saat ini telah menjadi rezim yang diam-diam mengendalikan kehidupan kita. Ia adalah pemerintah yang mungkin tanpa sadar kita pilih melalui sebuah pemungutan-suara-tiada-henti-setiap-hari saat kita menyimak berita, berbelanja, dan sebagainya.

Sampai di sini saya lalu teringat Althusser yang menyatakan bahwa media adalah perkakas ideologis negara. Media bekerja untuk secara diam-diam mengendalikan kehidupan masyarakat agar tetap selaras dengan kepentingan ideologis mereka yang menikmati empuknya kursi kekuasaan.

Menyadari situasi dan tatanan yang sedemikian rupa ini, saya semakin sadar bahwa baik perorangan maupun lembaga-lembaga di masyarakat saat ini sebenarnya memiliki tugas bersama untuk menyiapkan generasi dan masyarakat yang melek informasi dan melek media. Secara khusus, kaum muda tampaknya telah dan akan menjadi sasaran dan mangsa empuk media, karena situasi kejiwaan mereka yang tengah berada di persimpangan jalan memberikan banyak peluang dan keuntungan bagi mereka yang menguasai media untuk dapat diarahkan sesuai dengan kehendak mereka.

Sebagai orang yang setiap hari bergelut di dunia pendidikan, saya pun bertanya: untuk mereka yang memerankan dirinya sebagai pendidik, apakah mereka menyadari dan mengamati tantangan media dalam kehidupan masyarakat saat ini? Jika jawabannya positif, apakah mereka sudah mereka-reka dan merancang siasat yang perlu dipersiapkan untuk menjawab tantangan berat ini? Lebih masuk lagi, kemudian, di pelajaran apakah dan di kegiatan apakah sekolah dan lembaga pendidikan serupa ikut bersama-sama membekali kaum muda untuk bisa lebih sadar informasi dan sadar media sehingga mereka tak mudah diperdaya?

Saya teringat iklan-iklan politik di koran lokal di Madura saat musim pemilihan umum atau calon anggota legislatif yang dimuat sedemikian rupa sehingga tampak seperti berita. Saya juga teringat berita-berita yang masih menggunakan pilihan-pilihan kata yang tidak adil, seperti kata “menggagahi” untuk kasus pemerkosaan, sehingga pemerkosaan diam-diam dikesankan sebagai sesuatu yang gagah. Saya juga teringat berita-berita di koran yang memuat penggambaran elite-elite politik yang kemudian naik daun karena terkesan tampil merakyat atau peduli dengan nasib rakyat, sementara kenyataan atau rekam jejaknya kadang tampak menunjukkan hal yang berseberangan. Saya pun merasa risau jika mengingat tayangan-tayangan televisi yang sering kali menjauhkan pikiran masyarakat dengan kehidupan nyata di sekitar mereka.

Apa jadinya jika generasi masa depan kita terus dibiarkan melahap sampah informasi dan atau virus-virus yang kadang ikut menyertai banjir informasi di zaman ini?

Sambil terus bergelut menuntaskan pemberantasan buta aksara, saat ini bangsa kita menghadapi tantangan baru untuk menyiapkan dan mendidik warga masyarakatnya agar melek informasi. Tugas ini penting disadari dan ditindaklanjuti dengan langkah nyata, karena jika dibiarkan, masyarakat yang tak dibekali kemampuan kritis untuk mencerna informasi dapat terjatuh pada perbudakan akal budi sehingga kemudian harkat dan martabat kemanusiaannya mungkin bisa terlucuti.

Wallahualam.

7 komentar:

Mahalli Hatim Nadzir said...

Dahsyat! Dan terima kasih, telah membuat saya paham melalui kata 'perkakas ideologis negara' daripada melalui 'aparatus negara ideologis' seperti dalam kumpulan esai Althusser terbitan Jalasutra.

Anonymous said...

tualisan yang hebat. dengan tulisan ini pembaca mendapat informasi bahwa media telah menembur titing paling dalam kehidupan. dari tukisan ini pula saya sadar bahwa media adalahinvestasinyang luar bisa dahsyatnya dalam memberikan revenue dalam apapun bentuknya. terimakasih gus.

Ahmad Sahidah said...

Iklan itu adalah racun. Kita harus mempunyai penangkal, yaitu kesadaran subjek. Pendidikan harus memberikan ini. Semoga.

M. Faizi said...

Yang kita cemaskan adalah media yang tidak seimbang dalam memberi porsi berita, misalnya. Apalagi bagi kita yang tinggal di tempat yang medianya hanya itu-itu saja. Praktis, apa yang dikatakan media, itu yang dipercayai.

M Mushthafa said...

@Mahalli: Terima kasih. Saya mencoba menerjemahkan Ideological State Aparatus dengan frasa yang lebih sederhana. Semoga bisa lebih memberi pengertian pada poin pemikiran Althusser.
@Anonymous: benar, kita bisa berinvestasi lewat media.
@Sahidah: Jika iklan adalah racun, maka saat ini kita telah tergenang racun. Yang paling mendasar, subjek harus sadar akan situasi yang sedemikian ini.
@Faizi: betul, monopoli memang bisa berbahaya. Harus ada pesaing agar tidak sendiri.

Anonymous said...

psikiater bilang bahwa otak kita sdh dicuci tiap hari, yg liat sinetron orng pdalaman, awam lg biasanya sinetron klo mau bersambung tegang jdinya semaleman mikirin lanjutan tu pilem, trnyata bsoknya biasa2 aja g seperti yg smalem ia bayangkan, trus masuk super market ada di tulis beli dua dapet tiga muter lg tu otak ha ha, apalagi anak muda skrang pd demen ma infotaiiment jadinya rusak coz yg diliat glamor penuh fulus sdng yg liat orang pedalaman yg cuma jualan siwalan, tpi semoga orng merasa bahwa seluruh yg ia liat tak ada dlm kehidupan nyata.

M. Mushthafa said...

Benar, kadang arus informasi di sekitar kita, seperti sinetron di televisi dan sebangsanya, justru menjauhkan kita dengan kenyataan yang sesungguhnya. Menggiring kita untuk asyik di "dunia lain".
Terima kasih.