Wednesday, 8 June 2011

Suara Senja

Sore ini saya duduk sendiri di sini, di pinggiran desa yang sunyi dan dikelilingi hutan berjarak beberapa kilometer dari kota Malang. Di sini, jarang sekali saya mendengar bunyi mesin kendaraan sejak tiba Jum’at petang yang lalu. Sesekali di kejauhan saya mendengar lamat-lamat alunan pengeras suara memutar lagu-lagu atau ayat suci di malam hari.

Sore ini, di sekeliling, di antara rerimbunan pohon menjulang dan udara dingin, berbagai macam binatang berbunyi. Cicak, aneka serangga dan burung, dan di kejauhan ada juga suara lutung. Menyimaknya lebih dalam, saya membayangkan seolah-olah mereka itu adalah para pengisi suara dari sebuah film kolosal yang disutradarai oleh Sang Maha Pencipta.

Sore ini saya bersyukur telah sedikit menemukan waktu jeda. Meski bukan jeda dari segalanya, paling tidak saya berkesempatan untuk mendengarkan suara senja di sebuah tempat baru yang kadang terasa asing ini. Senja yang mendung dan berkabut memang bisa membawa sedikit murung. Tapi saya mencoba menangkap suara senja yang lain dari binatang-binatang liar yang ada di sekeliling saya saat ini.

Adakah mereka sekarang sedang menyuarakan keriangan? Adakah mereka tengah merayakan kebebasan? Ataukah mereka tengah menyampaikan rasa terima kasih mereka kepada beberapa manusia di sini yang terus saling bergandeng tangan memperjuangkan hak-hak para satwa liar? Atau mungkinkah saja mereka sedang menyuarakan protes-protes mereka atas kerakusan manusia yang telah menepikan nilai kehidupan mereka?

Suara-suara mereka bergabung dengan suara alam lainnya di sini: desir angin, riak dedaunan, dan suara-suara lainnya. Semua tampak tengah membentuk harmoni.

Senja hari ini akan segera berakhir. Tapi saya yakin bahwa harmoni itu akan terus berlanjut ke malam, lalu ke dinihari, pagi, siang, dan tiba kembali di senja seperti sekarang ini. Selain Sang Waktu, siapa lagi yang bisa menghentikan harmoni mereka ini?

Saya tahu bahwa waktu yang saya punya hanyalah setitik dari seluruh rangkaian putaran harmoni semesta ini. Sore ini, di detik-detik yang tersisa, saya berusaha menyerahkan waktu jeda saya untuk bergabung dalam harmoni alunan semesta. Saya mencoba menjadi bagian dari mereka. Di antara keheningan, saya mencoba bergabung dan merasakan indahnya harmoni suara senja.

Petungsewu, 6 Juni 2011

1 komentar:

Bernando J. Sujibto said...

Impressive indeed.