Wednesday, 17 November 2010

Ironi Pengetahuan


Bila orang pada umumnya menyatakan bahwa pengetahuan itu memberi terang, saya kini punya pikiran lain. Ada kalanya pengetahuan tertentu justru menggelisahkan. Setidaknya, itulah yang saya alami pagi tadi.

Bersilaturahmi di hari lebaran, di rumah seorang famili, tadi pagi saya disuguhi air minum dalam kemasan. Merknya Aqua. Saya tak punya masalah kesehatan dengan air minum dalam kemasan. Namun saya bermasalah dengan merk Aqua—gara-gara pengetahuan saya. Apalagi, air minum yang isi bersihnya 240 ml itu tepat dikeluarkan dari pabrik Aqua kedua di Pandaan yang telah beroperasi sejak 1984. Saat saya melirik ke labelnya, tampak jelas tertulis: “Mata Air Pandaan, Gunung Arjuno”.

Kegelisahan saya itu terjadi karena pengetahuan saya. Saat di Trondheim, Norwegia, bulan April lalu, saya sempat membaca sebuah berita di laman Media Indonesia Online (yang sekarang sudah tak bisa diakses, tapi masih terdokumentasi di laman Walhi) tentang aktivitas perusahaan Aqua yang mengancam debit air tanah di Gunung Arjuno. Dilaporkan bahwa PT Tirta Investama (Danone Aqua) setiap hari mengeksploitasi 1,5 juta liter air tanah di lereng Gunung Arjuno. Akibatnya, warga Pasuruan banyak yang mengeluh karena sumber mata air mereka banyak yang mati.

Saya mencoba membayangkan angka 1,5 juta liter itu, dan saya lalu teringat pada air botol Aqua kemasan 1,5 liter. Jika air yang dieksploitasi setiap hari itu dikemas dengan botol ukuran 1,5 liter, maka itu akan sama dengan sejuta botol kemasan 1,5 liter! Imajinasi visual tentang sejuta botol yang berderet tiap hari, siap diangkut, didistribusikan, dan dijual itu, terasa mengganggu pikiran saya. Ke manakah mereka itu semua akan berakhir?

Satu setengah juta liter! Jika setiap orang rata-rata memakai air bersih sebanyak 150 liter per hari, maka air yang dieksploitasi Aqua setiap hari di Pasuruan itu cukup untuk jatah sepuluh ribu orang yang tinggal di Pasuruan!

Ini adalah sejenis pengetahuan yang menggelisahkan. Atau, dalam istilah Michael Moore, the awful truth. Dan pengetahuan ini kemudian menemukan momentumnya untuk menggelisahkan saya tadi pagi.

Sebenarnya, masalah terbesar yang saya hadapi dalam kasus ini bukan terletak pada aspek teoretis atau konseptual. Masalahnya ada pada tindakan, yakni bagaimana saya menyikapi dan merespons pengetahuan saya itu. Pengetahuan itu telah merepotkan saya, memaksa saya untuk berpikir kembali untuk menjulurkan tangan saya meraih satu-satunya pilihan air minum yang tersedia di tempat itu pagi tadi.

Saya lalu teringat pembahasan Franz Magnis-Suseno tentang kebebasan, yang kemudian menyadarkan saya bahwa pada saat semacam tadi pagi itulah saya sebenarnya dapat menegaskan bahwa saya memiliki kebebasan. Saya punya kebebasan karena saya memiliki pilihan—dengan berbagai konsekuensinya.

Dan saya pun tahu, pilihan apa yang sebaiknya saya ambil pagi tadi. Ya, setidaknya pagi tadi—entah lain kali.

9 komentar:

Cinta Syahadah said...

dan setau saya Danone itu sepertinya milik luar negeri..! bahkan kalo gak salah itu milik Fremanson.. CMIIW

M Mushthafa said...

Perusahaan yang berdiri tahun 1973 ini dibeli Danone (bermarkas di Paris) pada 1998. Kabarnya menguasai saham 74%.

Tapi saya kira siapa pun pemiliknya tak terlalu penting. Poinnya adalah soal perilakunya terhadap alam.

Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya..

Anonymous said...

Nice share Mus.. :)

Apokpak said...

Hiii... jadi ngeri yang mau minum air kemasan...

Dwi Larasatie Nur Fibri said...

Saya teringat jaman kerja praktek dahulu di sebuah perkebunan teh di jawa tengah. Perusahaan tersebut mencanangkan program tanam jati setiap tahun untuk melindungi sumber mata air yang juga digunakan oleh perusahaan tersebut. Saya tidak tahu bagaimana dengan Danone di Pasuruan. Tapi menurut saya, berawal dari diri sendiri saja. KEtika kita memilih untuk mengkonsumsi air minum dalam kemasan misalnya, mungkin bisa diimbangi dengan menanam sebuah pohon untuk setiap berapa liter yang kita konsumsi. Karena pada dasarnya bumi ini saling berhubungan.

Dewi Malam said...

Nasibnya sama dengan kampung saya (red: wonosobo) yg dijadikan lahan eksploitasi sumber mata air..

Beginilah nasib bangsa kaya sumber daya tapi miskin pengetahuan & welas asih, alam cuma dieksploitasi utk kepentingan org2 tertentu, meraka tidak mikir dg dampaknya thdp lingkungan dan melupakan kearifan lokal..

inilah negara bodoh yang sangat aku bela... salam kenal mas...

Hamiddin said...

hal-hal kecil yang jarang kita sadari kadang muncul tiba-tiba sebagai akibat kearifan ilmu yang kita miliki. Kadang perilaku hidup kita sebenarnya mengeksploitasi hidup orang lain. kata sponsor, senang lihat orang susah, susah lihat orang senang. Tapi bagaimanapun, dimanapun, kita telah dicengkram oleh hegemoni kekuasaan, baik dalam pemerintahan, perusahaan, dan lain-lain. Salam gus. Hamiddin

M Mushthafa said...

@Dwi: betul, yang mungkin kita lakukan di antaranya adalah mencari kompensasi. Memang, rumus sederhananya, jika kita menghadapi dilema dan memilih salah satunya, maka harus ada upaya agar sisi yang kita tinggalkan itu bisa imbang.
@Dewi: selama paradigma berpikirnya masih ga bener, memang susah mengharapkan mereka peduli dengan nilai keberlanjutan.
@Hamiddin: selamat berjuang melawan cengkeraman hegemoni.

HeruLS said...

Ah, pengetahuan yg menggelisahkan.
Tapi, kerap kali dalam kenyataannya, pengetahuan itu tak terpakai.