Friday, 2 April 2010

Ayah, Apa Kau Masih Bisa Memimpin Pembacaan Shalawat di Perayaan Maulid Tahun ini?

Andai kau sedang berada di rantau, momen apakah yang akan membuatmu paling mudah untuk teringat pada ayah atau ibumu? Saya menduga kuat bahwa salah satu jawaban favorit adalah saat sakit. Bila kebetulan terbaring sakit di rantau, kita akan tersadar bahwa kita sedang benar-benar sendiri dan jauh dari keluarga.

Tujuh bulan di Eropa, alhamdulillah bisa dibilang saya belum pernah benar-benar sakit. Pernah juga sih, dua kali kurang enak badan agak serius. Yang pertama gara-gara kelelahan sepulang dari Jerman, dan yang kedua pas awal-awal baru tiba di Belanda—mungkin karena masih penyesuaian dengan cuaca dan sibuk mengurus ini itu. Masing-masing, sekitar dua hingga tiga hari saya tak banyak beraktivitas dan hanya beristirahat di kamar saja.

Namun demikian, bukan sakit yang mengingatkan saya pada orang rumah. Selama di Eropa, bulan Maulid-lah yang telah benar-benar mengingatkan saya pada ayah. Dalam rindu, saya bertanya-tanya: apakah ayah masih bisa memimpin pembacaan shalawat di perayaan Maulid tahun ini?

Di sepanjang bulan Maulid, bahkan kadang juga sebelum dan sesudahnya, di Madura pada khususnya biasanya ramai dengan perayaan Maulid. Orang-orang maupun lembaga banyak yang ikut memperingati kelahiran Baginda Nabi Muhammad saw. Bisa dikatakan hampir tiap hari. Dalam perayaan Maulid, shalawat, diba’ dan barzanji dilantunkan bersama-sama dengan dipandu oleh salah seorang yang hadir. Sering kali juga diiringi dengan tabuhan rebana.

Ayah saya bisa dibilang biasa memandu atau memimpin pembacaan shalawat di acara-acara perayaan Maulid di daerah saya. (Sebenarnya, shalawat juga biasa dibacakan dalam acara pernikahan dan ritus lainnya.) Memang, ayah memiliki suara yang merdu. Beberapa orang mengatakan bahwa jika membaca al-Qur’an, suara ayah mirip dengan Syeikh Ali bin Abdurrahman al-Hudzaifi, imam Masjid Nabawi, Madinah, yang terkenal itu.

Dalam perayaan Maulid, ayah biasanya membacakan diba’ dan barzanji atau bacaan shalawat dengan irama lagu yang konvensional. Saya tidak tahu apakah penggambaran saya ini benar. Yang jelas, pilihan irama lagunya bisa dibilang relatif sudah lazim didengar dan mudah diikuti oleh jama’ah yang hadir.

Saya sendiri memang lebih suka seperti itu. Dengan pilihan shalawat yang kurang akrab didengar, saya kadang merasa kurang bisa menyatu dengan suasana religius yang berusaha dibangun dalam sebuah perayaan Maulid.

Meski pilihan irama lagunya biasa, saya harus katakan bahwa saat ayah membacakan diba’, barzanji, atau shalawat, saya dapat merasakan keindahan dan ketulusannya dalam memberikan pujian dan penghormatan kepada Baginda Rasul.

Saat ini, tujuh bulan berpisah dengan keluarga di rumah, dipisahkan jarak sebelas ribu kilometer, saya bertanya-tanya: apakah ayah masih bisa melantunkan diba’, barzanji, dan shalawat di perayaan Maulid tahun ini?

Sejak akhir 2007, yakni sejak stroke (ringan) menyerangnya, saraf motorik ayah terganggu. Ini menyebabkan ayah menjadi agak kesulitan mengolah suaranya. Ayah juga mengatakan bahwa nafasnya menjadi tidak cukup panjang lagi. Sejak saat itu, terkadang ayah menolak memimpin pembacaan diba’ atau barzanji di acara perayaan Maulid.

Kalaupun ayah bersedia, saya dapat merasakan betapa ayah sudah tak bisa fasih membaca diba’ atau barzanji seperti dulu, sebelum stroke menyerangnya. Saya masih ingat, di suatu siang di awal 2007 saya sempat mengikuti sebuah acara Maulid di rumah salah satu famili, dan ayah memimpin pembacaan diba’ di acara itu. Saya masih bisa merasakan kekuatan lantunan suaranya. Bacaan diba’, barzanji, dan shalawat ayah buat saya terasa cukup mampu untuk menghadirkan Baginda Rasul di antara kekhidmatan jama’ah yang hadir di sana.

Setelah itu, saya dapat merasakan betapa kadang ayah tampak kesulitan untuk melafalkan bait-bait syair yang berisi pujian kepada Nabi Muhammad itu. Bahkan kadang ketika membaca ayat al-Qur’an saat shalat berjama’ah, ayah juga kesulitan dan tak sefasih sebelumnya. Kadang ayah tampak cukup emosional dan tak sabar saat ia mengalami kesulitan semacam itu.

Kini, bulan Maulid telah lewat. Tapi mungkin saja masih ada orang yang merayakan Maulid Nabi di sekitar rumah saya. Dan, sampai sekarang pun, pikiran itu masih terus membayangi saya: apakah ayah masih bisa memimpin pembacaan shalawat dalam perayaan Maulid tahun ini—juga tahun-tahun mendatang?

Ayah, saya rindu bacaan shalawatmu. Ayah, saya berdoa untukmu, dan semoga syafa’at Nabi selalu tercurah untukmu. Ayah, maafkan saya, anakmu yang tak tahu berbakti ini.

8 komentar:

M. Faizi said...

JAWAB: masih bisa
terakhir bersamaku hari senin, 29 Maret yang lalu di rumah Pak Rifa'ie.
Nanti siang di pernikahan Sukri, dan nanti malam insya Allah di rumah Pak Ekhwan.

Asmisya said...

Fa, berarti tidak sesedih yang kau bayangkan. berdoalah, karena doa adalah obat mujarab untuk saling menguatkan, untuk sembuh dari sakit terutama bagi orang-orang terdekat kita. sukses yaaa...

Anonymous said...

Ceritamu mengingatkanku pada almarhum ayahku gus....di kala jauh, getaran rindu itu akan semakin kencang terdengar... Tapi saya yakin dan berharap Kyai Abdul Basith Bahar masih bisa melantunkan sholawat nabi...amin.... Sukses gus, saya yakin gus mus Kuat..

Hamiddin

Ahmad Sahidah said...

Meski bersifat pribadi, namun sentuhanya melimpah ke mana-mana, termasuk untuk saya. Terima kasih, Gus.

Airmengalir said...

Bisa, alhamdulillah... bukan hanya di acara Maulid Nabi tetapi juga di tasyakkuran pernikahan Muhammad Syukri beberapa minggu lalu. juga pada acara selamatan Nikah Zaitunah binti Ikhwan.

jalanhakikat said...

'Perjalanan ini jauh, Ayah'

Anonymous said...

Ha....tulisan lora membuat saya menangis. Apalagi K. Abdul Basith memang fans saya. Saat melihat beliau terasa bertemu alm.ayah saya. Rasanya aura ayah saya juga terpancar dalam jiwa beliau. Hiks... saya rindu ayah.

Anonymous said...

Cerita sampeyan membuatku ingat dan merindukan ayah. Hiks,,,