Monday, 23 November 2009

Orang Miskin Dilarang Sakit

Minggu, 15 November. Sore itu saya mendapat kabar duka dari Madura. Widadah (sehari-hari dipanggil Wiwid), yang pernah menjadi murid terbaik saya di SMA 3 Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep, dikabarkan meninggal dunia oleh sepupu saya. (Allahummaghfir laha warham-ha waj‘al jannata ma'wa-ha). Dia meninggal di ICU RSUD Sumenep, setelah sehari sebelumnya melahirkan dua anak pertamanya (kembar). Saat menerima kabar itu, saya tak terlalu banyak bertanya tentang kronologi dan sebab-musababnya. Saya hanya tertegun. Lama. Sungguh, saya terkejut sekali mendengar berita duka ini. Saya membayangkan dua putra kembarnya, keluarganya.

Sepertinya baru kemarin, saat saya memberikan buku Muhammad karya Martin Lings untuknya, setelah dia dinobatkan sebagai siswa teladan di pertengahan 2008 lalu di sekolah. Saya mencoba mengingat-ingat, kapan terakhir kali saya berjumpa dengan dia. Sayangnya, ingatan saya tak cukup kuat. Setelah lulus dari SMA 3 Annuqayah, dia menikah, dan sependek ingatan saya, saya tak pernah bertemu dengannya lagi.

Saya memang tak berusaha mencari informasi lebih jauh tentang meninggalnya Wiwid. Akan tetapi, secara kebetulan, saya menemukan berita tentang itu. Seorang teman di Facebook yang juga seorang anggota DPRD Sumenep menuliskan dua posting di dindingnya yang berkaitan dengan hal itu. Saya kutip lengkap dan persis sebagaimana berikut:


sekali lg pelayanan RSUD Smnp m'dapat sorotan negatif dari masyarakat, pelayanan t'hadap pasien ASKESKIN krg m'dapatkan pelayanan standart minimal, t'buti pasien operasi melahirkan "Widadah" asal desa Poreh Kec. Lenteng Smp saat ini sedang tergolek kritis di ruang ICU krn t'indikasi adanya infeksi pasca operasi yg diakibatkan telatnya penangan dari petugas di sana. (15 November 2009, 9.43 WIB)
sampai info ini ditulis blm ada 1 dokterpun yg menangani pasien tsb, walau sy telah telpon lgsg k Kep. RSUD "dr. Kifli Mahmud" (15 November 2009, 9.44 WIB)



Membaca dua posting itu dua hari yang lalu, saya agak terkejut, bercampur sedih, dan juga jengkel. Pikiran saya jadi ke mana-mana. Sempat terlintas di benak saya: seharusnya ada sesuatu yang bisa dilakukan oleh pihak rumah sakit untuk menyelamatkan Wiwid. Tapi, hal yang terjadi tidaklah menurut aturan yang semestinya.

Jika benar dugaan dalam posting teman saya itu, bahwa infeksi pasca operasi itu diakibatkan telatnya penanganan petugas rumah sakit, sungguh, ini adalah kali kesekian saya mendapat kabar tentang masyarakat kecil di Sumenep yang kurang mendapatkan perhatian dalam hal pelayanan kesehatan. Memang, kerap saya dengar bahwa pasien dengan Asuransi Kesehatan Masyarakat Miskin (Askeskin) mendapat perlakuan berbeda di rumah sakit.

Mestinya para petugas kesehatan itu mengerti bahwa kesehatan bukanlah hal yang sepele. Ia bisa berkaitan langsung dengan hak hidup seseorang. Hak untuk mendapat akses kesehatan yang baik adalah hak setiap warga negara. Dan negara berkewajiban untuk memenuhinya.

Hanya karena seseorang menggunakan Askeskin, yang itu berarti dia tidak mampu membayar dengan penuh dan dibantu oleh negara, para petugas malah menganaktirikannya. Sungguh logika dan juga kepekaan mereka telah tumpul. Mestinya, orang yang tak mampu itu mendapat perhatian lebih, bukannya diabaikan.

Jika benar bahwa penyebab meninggalnya Wiwid adalah karena telatnya penanganan petugas (dan ini tentu saja masih harus diverifikasi secara jujur dan objektif—sebentar, apakah dalam hal ini saya bersikap cukup wajar dan masuk akal untuk mengharapkan objektivitas?), maka jelas para petugas yang mestinya bertanggung jawab telah melakukan hal yang salah—paling tidak secara moral. Mereka telah lalai dalam tanggung jawabnya. Membiarkan orang meninggal karena layanan kesehatan yang tidak maksimal adalah sesuatu yang tidak baik atau salah secara moral. Jika seseorang mampu mencegah terjadinya hal yang buruk secara kesehatan tanpa harus mengorbankan hal penting pada dirinya (apalagi itu adalah kewajibannya), maka jika orang itu tak melakukannya, berarti ia telah melakukan suatu kesalahan.

Saya tidak mendapat sumber informasi yang lain mengenai hal ini. Meski begitu, saya cukup mudah untuk meyakini bahwa pelayanan rumah sakit di negeri kita memang masih sungguh jauh dari standar. Saya banyak mendengar cerita-cerita semacam ini dari beberapa kawan. Di koran dan media massa lainnya, kita juga sering mendapat informasi serupa, tentang buruknya layanan kesehatan, dan, lebih jauh lagi, tentang kecenderungan memperlakukan orang sakit sebagai barang dagangan—bukan manusia.

Saat rehat di kelas kuliah saya yang sedang berdiskusi soal etika biomedis (layanan kesehatan) beberapa pekan yang lalu, saya bilang kepada teman kelas saya yang seorang dokter dari Slovenia bahwa buat saya diskusi semacam ini saat ini masih terasa cukup mewah. Standar pelayanan kesehatan di negeri saya masih jauh dari memadai. Sementara itu, di belahan dunia yang lain, orang sudah lama berbicara dan mempraktikkan kewajiban untuk tidak menularkan penyakit kepada orang lain (obligatory precautions), informed consent, dan semacamnya.

Saya juga jadi teringat Michel Foucault (1926-1984), filsuf Prancis yang menulis buku The Birth of the Clinic (1963), yang bertutur tentang relasi kuasa yang bekerja di rumah sakit melalui tatapan medis (medical gaze, regard) para dokter yang bekerja dengan paradigma kontrol dalam kerangka panopticon.

Saya juga jadi teringat judul sebuah buku yang cukup menarik: Orang Miskin Dilarang Sakit. Ya, orang miskin jangan sampai sakit, karena mereka tak akan mendapatkan pelayanan yang baik di negeri ini. Buku ini tidak saja menunjukkan banyak hal tentang carut-marut wajah layanan kesehatan di negeri kita. Lebih dari itu, cobalah Anda ketikkan judul buku ini di mesin pencari Google, dan Anda akan mendapatkan tulisan-tulisan dan laporan faktual bernada serupa dari berbagai sumber.

Mengingat itu semua, saya benar-benar takut untuk sakit. Sungguh. Bukan apa-apa. Karena saya memang termasuk orang miskin.

6 komentar:

M. Faizi said...

Widadah telah meninggal dunia. Ia meninggal sebagai Ibu bagi dua anak kembarnya. Sedih. Ceritanya mengharukan.
Semoga kita tidak sakit dan terlantar kah...

Blog Watcher said...

NEGERI PENUH DENGAN KETIMPANGAN ; ORANG MISKIN VS ORANG KAYA


Fenomena menarik terjadi dipenhujung tahun ini. Setelah gonjang-ganjing menyoroti masalah penegakan hukum, kini guncangan kembali terjadi, kali ini dalam dunia ekonomi. Yaitu dirilisnya daftar 40 orang terkaya di Indonesia oleh majalah bisnis Fobes.

Dari laporan terbaru majalah tersebut, rata-rata nilai total kekayaan mereka naik dunia kali lipat bila dibandingkan bulan desember tahun 2008. Dari US$ 21 miliar (sekitar Rp. 197,4 triliun) menjadi US$ 42 miliar (sekitar 394,8 triliun) tahun 2009.

Tentunya ini akan menjadi bekal positif bagi pelaku perekonomian untuk menapaki tahun depan.

40 Orang Terkaya Indonesia
1 (1-2). R. Budi & Michael Hartono US$ 7 miliar
2 (5). Martua Sitorus US$ 3 miliar
3 (12). Susilo Wonowidjojo US$ 2,6 miliar
4 (9). Aburizal Bakrie US$ 2,5 miliar
5 (8). Eka Tjipta Widjaja U$S 2,4 miliar
6 (6). Peter Sondakh US$ 2,1 miliar
7 (4). Putera Sampoerna US$ 2 miliar
8 (1). Sukanto Tanoto US$ 1,9 miliar
9 (11). Anthoni Salim US$ 1,4 miliar
10 (20). Soegiharto Sosrodjojo US$ 1,2 miliar
11 (25. Low Tuck Kwong US$ 1,18 miliar
12 (7). Eddy William Katuari US$ 1,1 miliar
13 (13). Chairul Tanjung US$ 999 juta
14 (23). Garibaldi Thohir US$ 930 juta
15 (24). Theodore Rachmat US$ 900 juta
16 (26). Edwin Soeryadjaya US$ 800 juta
17 (14). Trihatma Haliman US$ 750 juta
18 (baru). Ciliandra Fangiono US$ 710 juta
19 (15). Arifin Panigoro US$ 650 juta
20 (10). Murdaya Poo US$ 600 juta
21 (baru). Hashim Djojohadikusumo US$ 500 juta
22 (baru). Kusnan & Rusdi Kirana US$ 480 juta
23 (27). Prajogo Pangestu US$ 475 juta
24 (18). Harjo Sutanto US$ 470 juta
25 (17). Mochtar Riady US$ 440 juta
26 (39). Eka Tjandranegara US$ 430 juta
27 (40). Ciputra US$ 420 juta
28 (22). Hary Tanoesoedibjo US$ 410 juta
29 (baru). Sandiaga Uno US$ 400 juta
30 (baru). Boenjamin Setiawan US$ 395 juta
31 (34). Alim Markus US$ 350 juta
32 (21). Aksa Mahmud US$ 330 juta
33 (31). Sutanto Djuhar US$ 325 juta
34 (32). Kartini Muljadi US$ 320 juta
35 (33). Soegiarto Adikoesoemo US$ 300 juta
36 (35). George & Sjakon G Tahija US$ 290 juta
37 (28). Paulus Tumewu US$ 280 juta
38 (19). Husein Djojonegoro US$260 juta
39 (baru). Bachtiar Karim US$ 250 juta
40 (36). Kris Wiluan US$ 240 juta

Ket: Angka dalam kurung peringkat tahun lalu.

POTRET KETIMPANGAN SOSIAL

Kemakmuran adalah tujuan pembangunan dan kemiskinan adalah kegagalannya. Bila kita liat daftar 40 orang terkaya tersebut, keadilan sosal yang selama ini kita damba-dambakan seakan-akan sudah tercapai. Namun disisi yang lain, kemiskinan merupakan wajah yang tidak dapat disembunyikan.

Bila kita mengukur distribusi kekayaan dengan indeks Gini, akan semakin terlihat jelas jurang perbedaan antara sikaya dengan simiskin.

Data BPS tahun 1998, Indeks Gini berada pada angka 0,32. Tahun 1999, naik menjadi 0,33. Terakhir pada 2005, naik lagi menjadi 0,34. Semakin tinggi nilai yang dihasilkan maka semakin buruk distribusi pendapatanya. Dengan jelas terlihat jurang perbedaan antara orang miskin dengan orang kaya semakin melebar.

Ironi!!! negeri yang banyak memproduksi Orang-orang kaya, ternyata banyak juga menghasilkan orang-orang miskin.

Kekaaan para Taipan dari tahun ke tahun terus merangkak naik, Jutaan orang-orang miskin dan ribuan pengangguran pun juga makin tinggi.

Akhirnya sulit bagi kita untuk tidak menyebut "kita adalah bangsa yang penuh dengan ketimpangan dan kepincangan."

omahbanyu said...
This comment has been removed by the author.
omahbanyu said...

yang menyedihkan lagi saat keadaan sakit menjadi ladang bisnis yang subur: obat-obatan mahal yang tidak perlu, rujukan penanganan yang hanya menghabiskan waktu dan uang, pelayanan yang mempersulit agar bayar lebih mahal untuk kemudahan, susu pengganti ASI yang menguras kocek tapi tidak lebih baik dari ASI... apakah ketika sakit kita selalu harus merasa tidak aman di negeri sendiri, disepelekan ketika tidak bisa menghadirkan segepok uang untuk sebuah pelayanan prima?

Yayasan Annajah said...

Bukan hanya di RSUD Sumenep, di Puskesmas terdekat juga demikian, telat penanganannya

M Mushthafa said...

Buruknya layanan kesehatan ini tampaknya terjadi di banyak tempat di Indonesia. Termasuk juga di desa-desa. Sungguh parah.