Thursday, 25 December 2008

Notulen dari atas Taksi

Kalau saya menyebut “taksi” di judul tulisan ini, jangan bayangkan mobil sedan seperti taksi-taksi di Surabaya atau Jakarta. “Taksi” yang saya maksudkan di sini adalah sebutan untuk angkutan pedesaan di Madura. Semakin ke pelosok rute taksi di Madura, kondisi mobilnya relatif semakin buruk—mungkin disesuaikan dengan kondisi jalannya. Taksi dengan rute yang melintas jalan provinsi biasanya relatif masih cukup bagus kondisinya. Taksi di jalan yang paling pelosok biasanya berjenis mobil pick-up.

Saat masih kecil dulu, saya nyaris selalu ikut ayah saya yang setiap pekan pulang ke rumah asalnya di Karduluk. Kami pasti naik taksi, karena ayah tak punya kendaraan bermotor—sampai sekarang.

Ingatan saya tentang taksi di masa kecil dulu ternyata masih tak jauh berbeda dengan taksi saat ini, terutama taksi dengan rute yang sering saya tumpangi, yakni rute Prenduan-Ganding. Sopir dan kenek taksi biasanya akan menunggu penumpang penuh sesak, sehingga kadang Mitsubishi L300 atau Toyota Hiace-nya memuat sekitar hampir 20 orang! Saat masih kecil dulu, pernah suatu kali taksi yang saya tumpangi bersama ayah dicegat polisi. Saya lihat, dengan tatapan yang tampak tanpa emosi dan tanpa empati, si polisi berkata kepada si sopir, “Penumpang bukan pindang, jangan ditumpuk-tumpuk seperti itu.” Tampaknya si polisi sedang ingin menjadi pahlawan penegak hukum negara.

Saat saya dewasa, jika melihat polisi di jalan, saya jadi selalu ingat kata-kata dingin si polisi pada si sopir itu. Saya kadang kemudian tak habis pikir: apakah si polisi tidak tahu betapa tekanan ekonomi para sopir pedesaan itu telah menuntutnya sedemikian rupa sehingga mereka tak punya pilihan lain kecuali memuat penumpang sebanyak-banyaknya—asal masih muat? Bukankah itu pelajaran ekonomi yang paling sederhana: modal sekecil-kecilnya, untuk keuntungan yang sebesar-besarnya? Kalau mau berbicara tentang keselamatan, bukankah para sopir itu juga tengah berusaha menyelamatkan dapur keluarga mereka?

Dalam lima bulan terakhir, secara rutin saya kembali berlangganan memanfaatkan jasa taksi-taksi di rute Prenduan-Ganding. Setiap Kamis, saya naik taksi ke Karduluk: berangkat pagi-pagi sebelum jam tujuh, dan pulang selepas tengah hari.

Hal berbeda yang paling tampak yang saya temui belakangan ini terutama berkaitan dengan penumpang. Saat ini, penumpang sudah semakin jarang. (Apakah ini pertanda baik, bahwa masyarakat sudah banyak yang punya kendaraan bermotor?) Sementara jumlah taksi yang beroperasi relatif cukup banyak.

Tadi siang, saat saya pulang dari Karduluk, saya lihat ada 11 mobil yang antre menunggu penumpang. Dan, ini dia kabar buruknya, tak ada satu pun kendaraan yang berpenumpang. Semuanya kosong melompong. Saya jadi tak tahu taksi yang mana yang berada di antrean terdepan, sampai kemudian ada seorang pemuda yang melambai-lambaikan tangannya di kejauhan sambil berteriak, “Lukguluk, Ganding...”

Rupanya saya menjadi penumpang pertama di siang yang cukup terik itu. Saya masuk dan duduk di kursi belakang. Kaca jendela saya buka agak lebar, agar angin lebih leluasa masuk. Si pemuda yang berteriak dan mengantar saya tadi kemudian menghilang entah ke mana.

Dari kursi belakang, saya bisa melihat taksi-taksi lain yang berjejer di kanan kiri jalan. Di antara mobil-mobil itu, saya melihat stiker-stiker calon anggota legislatif yang ditempel di kaca-kaca mobil, dengan berbagai ukuran, dari bermacam partai. Beberapa minggu yang lalu, saya sempat bertanya kepada sopir yang saya tumpangi tentang stiker-stiker itu. Katanya, ada orang yang membagikannya.

Cukup lama saya duduk sendiri di mobil itu, mungkin sekitar 20 menitan, sampai kemudian si sopir datang, menghidupkan mesin, dan berangkat. Toyota Hiace yang umurnya pasti tak jauh berbeda dengan usia saya itu pun melaju. Saya menyapa si sopir, memastikan apa dia memang mau berangkat—karena penumpangnya hanya saya. Dia mengiyakan tanpa menoleh ke belakang—mungkin agak sedikit kesal dengan nasibnya siang itu.

Untunglah, baru sekitar 100 meter mobil itu bergerak, ada dua orang penumpang menyetop mobil ini. Seorang pemuda berkaos Palang Merah Indonesia dan memakai sarung, dan seorang nenek tua. Sekitar hampir satu kilometer kemudian, saat mobil bergerak pelan hampir tikungan, ada lagi seorang ibu tua yang naik. Dialah yang kemudian meramaikan atmosfer mobil di siang yang kerontang ini.

Ibu tua itu berkulit hitam agak keriput, mengenakan baju berwarna kuning, dengan motif bunga-bunga. Jilbabnya warna oranye. Saya tidak bisa melihat cukup jelas, karena dia duduk di kursi tengah, di kursi ekstra yang terbuat dari kayu. Pandangan saya sedikit terhalang oleh dua orang penumpang yang duduk di kursi tengah. Si ibu tua itu mengatakan bahwa dia sebenarnya tadi lama menunggu di pertigaan Prenduan. Tapi akhirnya dia memilih berjalan kaki. Dia khawatir jika terlanjur naik taksi, taksi itu antre lama sekali—seperti pengalamannya sebelumnya.

Belum lama dia naik ke taksi, dia menyodorkan ongkos kepada si sopir taksi sambil menyebutkan tempat tujuannya itu. (Untuk diketahui, taksi ini tak ada keneknya, seperti kebanyakan taksi belakangan ini, karena menurut sopir-sopir rute Prenduan-Ganding, keuntungan yang didapat saat ini sungguh tak seberapa untuk dibagi dengan kenek.) Dia hendak pergi melayat ke Brungbung. Dari belakang saya mendengar si sopir meminta ongkos tambahan. Sepertinya si ibu memberi uang dua ribu rupiah, dan si sopir meminta tambahan seribu rupiah.

“Memang ongkosnya segini, Bu. Sudah lama tarifnya naik, berbulan-bulan yang lalu. Percayalah. Saya tak mau membohongi ibu,” kata si sopir meyakinkan. Si ibu tampak masih bertahan, seperti hendak menawar, sampai akhirnya ia mengeluarkan uang ribuan yang sudah lusuh dan sedikit sobek.

Tak lama setelah ibu itu menggenapi ongkosnya seperti permintaan sopir, dua penumpang yang lain turun karena sudah tiba di tujuan—di sebuah tempat bernama “na-bungkar”. Tinggallah kami berdua di taksi. Setelah itu, dari mulut si ibu, mengalirlah cerita-cerita menarik yang sungguh mengundang haru. Si ibu memulai dengan memberi tahu bahwa ia berasal dari Pamekasan.

“Saya dari Kampung Baru, Pamekasan,” katanya, seperti hendak melengkapi formulir identitas yang tak disodorkan oleh siapa-siapa. Si sopir kontan memberi respons cepat.

“Kenal dengan Toha, Bu?” tanya si sopir.

“Ya, kenal, dia tetangga saya. Dia di timur rumah saya,” si ibu menukas.

“Dia itu paman saya, Bu,” ujar si sopir.

Begitu tahu ada tetangganya yang memiliki hubungan kerabat dengan si sopir, pembicaraan menjadi semakin akrab. Si ibu menanyakan nama si sopir. Sopir itu bernama Idris.

Cerita-cerita pun mengalir semakin lancar. Fakta bahwa si sopir ternyata masih ponakan salah satu tetangganya itu ternyata menjadi semacam pelumas bagi kisah-kisah ibu tua itu yang lainnya.

Ibu tua itu bekerja sebagai pemulung. Jika cukup mujur, katanya, dia bisa meraup untung dua puluh ribu rupiah per hari—atau lebih. Rupanya, nasib si ibu ini masih sedikit lebih baik daripada 3 miliar orang lain di muka bumi ini—yakni separuh populasi manusia—yang hidup dengan uang tak sampai dua puluh ribu rupiah sehari.

Ibu tua itu adalah tulang punggung keluarga. Suaminya sudah uzur dan tak bisa bekerja. Meski tak bekerja, suaminya masih tetap merokok. “Uang rokoknya sehari menghabiskan empat ribu rupiah, Nak. Dan sayalah yang menyediakannya,” kata si ibu menjelaskan pada Idris dengan nada pasrah. “Meski sebenarnya bukan kewajiban saya, setiap hari saya tetap menyediakan uang rokok itu. Mungkin ini bisa menjadi amal kebaikan saya,” lanjutnya.

Si ibu kemudian bercerita tentang anak-anaknya yang sudah berkeluarga dan tak tinggal bersamanya. Menurut si ibu, garis nasib anak-anaknya tak jauh berbeda dengan dirinya: hidup pas-pasan. “Yang penting semuanya sehat dan selamat, Bu,” kata Idris menanggapi.

Cerita si ibu akhirnya harus berakhir karena Brungbung sudah di depan mata. Sebelum turun, saya menyaksikan peristiwa yang sungguh tak terduga sebelumnya: Idris tiba-tiba menjulurkan dua lembar uang ribuan kepada si ibu tua.

“Bu, ini saya kembalikan ongkosnya dua ribu,” katanya.

Si ibu tertegun sebentar, lalu menerima dua lembar uang ribuan bergambar Pattimura itu. Dengan agak terburu, si ibu berucap, “Terima kasih, Nak. Hatimu sungguh mulia. Semoga Tuhan memberi balasan kebaikan untukmu.” Si ibu turun dari taksi, dan melangkah pergi ke arah barat.

Idris tak berhenti lama. Ia segera membawa mobilnya bergerak ke utara, dengan satu-satunya penumpang di mobil yang dikemudikannya. Saya lalu menyapanya. Idris kemudian bercerita tentang sepinya penumpang yang berakibat pada minimnya uang yang dia dapatkan. Saat mobil menaik di tanjakan yang terkenal dengan sebutan “druksin”, saya mencoba menghitung pendapatan Idris siang ini. Saya nanti akan membayar lima ribu rupiah. Si ibu tua dari Pamekasan tadi cuma diambil seribu rupiah. Dua orang yang turun di na-bungkar tadi sepertinya masing-masing membayar dua ribu rupiah. Jadi, semuanya sepuluh ribu rupiah. Padahal, berapa liter bahan bakar yang harus diisikan ke tangki mobilnya untuk rute sekitar 11 kilometer itu? Yang jelas, meski tahu pendapatannya siang ini cukup seret, Idris tak ragu beramal untuk si ibu tua dari Pamekasan itu.

Selepas Pangurai, ada lagi satu penumpang yang ikut taksi si Idris ini. Penumpang itu seorang gadis yang mengenakan seragam yang cukup saya kenal. Dia murid MA 1 Annuqayah Putri—yang kebagian jadwal masuk siang hari. Idris mungkin akan menerima uang seribu rupiah dari gadis ini. Sempat terlintas dalam pikiran saya bahwa gadis ini mungkin adalah semacam gol hiburan atas kekalahan Idris siang ini.

Tapi, setelah dipikir-pikir sejenak, saya kira pikiran saya itu keliru. Siang ini Idris tidak kalah. Ia telah meraih kemenangan besar. Ia telah mengalahkan “egoisme”-nya, sehingga ia bisa tulus berbagi dengan ibu tua dari Pamekasan itu, meski tahu bahwa dirinya tak bisa berbuat lebih karena hanya di situlah batas kemampuannya.

Saya jadi teringat stiker-stiker calon anggota legislatif yang ditempel di mobil-mobil taksi yang antre di pertigaan Prenduan tadi—yang kebetulan tak saya temukan di mobil si Idris ini. Apakah para calon anggota legislatif itu pernah mendengar langsung kisah orang-orang kecil seperti yang terekam dari atas taksi-taksi rute Prenduan-Ganding ini? Apakah saat duduk di gedung DPR yang megah itu nanti mereka akan ingat, bahwa dulu mereka pernah menempelkan janji-janji manis mereka di kendaraan yang ditumpangi orang-orang bernasib malang ini?

Saya yakin, jika mereka mau mencatat kisah-kisah para penumpang taksi semacam ini, niscaya mereka akan membutuhkan buku notula yang amat tebal. Dan, notulen-notulen yang mereka buat itu kelak akan menjadi saksi, apakah mereka benar-benar dapat menjadi pahlawan bagi orang-orang yang telah lama bermimpi mendapatkan kehidupan hari esok yang lebih baik itu.

7 komentar:

Hazmi said...

komentar hanya terkait stiker: saya caleg juga, tapi tidak nempel stiker sembarangan, entah kalau loyalis saya. stiker saya juga tidak pakai foto karena pengalaman pemilu 2004 kemarin ada stiker+foto calon DPD wanita yang oleh orang diberi kumis, e lapola, saya kuatir foto saya lalu diberi gigi taring nyulngat sperti drakula. matilah awak kata orang batak

Busri Thaha said...

Jika jarang penumpang, bukan berarti org2 sudah punya mobil semua, tapi krisis sedang melanda.Buat ongkos tak ada.
Stiker caleg,sepertinya para caleg ingin mengatakan bahwa mereka adalah pahlawan rakyat.Padahal perjuangan tidak perlu diberitakan di media mobil, kaleeee....

Asep Saefullah said...

begitu suram realitas yang kerap kita saksikan. namun ternyata di dalamnya masih tersemai kebaikan dan--kadang--kebijaksanaan.
kita mesti lebih banyak belajar dari realitas itu agar hati kita tak sekeras batu

nur-bujanggila said...

lumayan...tidak terlalu buruk.

jalanhakikat said...

Salam empati.

Ahmad Sahidah said...

Pengalaman saya naik angkutan selama ini diungkap kembali dengan seluruh, yang tak sempat diterakan oleh tangan.

pangapora said...

@RINDU PULANG: Mas. Saya mau nulis skripsi. Bisa dipake kan postingan ini? Karna "hendak melengkapi formulir identitas yang tak disodorkan oleh siapa-siapa". Hihi... Cinta saya lantas. (Tahun 2008)