Sunday, 25 May 2008

Bukan Cerita-Pembunuhan Biasa

Judul buku : In Cold Blood

Penulis : Truman Capote

Penerjemah : Santi Indra Astuti

Penerbit : Bentang Pustaka, Yogyakarta

Cetakan : Pertama, September 2007

Tebal : viii + 476 halaman



Cukup banyak novel yang mengisahkan cerita pembunuhan bergaya detektif ataupun horor. Tapi buku karya Truman Capote—wartawan The New Yorker—ini bukanlah cerita-pembunuhan biasa. Hal utama yang membedakan karya Capote ini adalah titik tolak dan pengolahannya. Capote mengangkat cerita dalam buku ini dari kisah nyata.


Awal penulisan buku ini bermula saat Capote membaca berita pembantaian keluarga petani kaya di Holcomb, Kansas, di koran New York Times 16 November 1959. Empat orang yang meninggal dengan sadis adalah Herb Clutter, istrinya Bonnie, dan kedua anak remaja mereka, Nancy dan Kenyon. Selain cara pembunuhan yang tampak sangat kejam dan sadis, motif pembunuhan ini tampak gelap di mata petugas kepolisian. Tak ada tanda-tanda perlawanan yang berarti, dan, yang lebih mengherankan, polisi tak menemukan benda berharga yang dicuri. Saat si pembantai akhirnya tertangkap enam pekan setelah kejadian, diketahui bahwa mereka mengambil tak lebih dari 42 dolar dari rumah korban.


Tertarik dengan berita tersebut, Capote berangkat ke tempat kejadian bersama sahabatnya, Harper Lee—pengarang novel terkenal To Kill a Mockingbird. Setiba di Holcomb, Capote menjadi benar-benar terpikat dengan kasus ini, sehingga ia kemudian mengikuti perjalanan kasus ini hingga lima tahun empat bulan lebih. Terutama di tahap-tahap awal, Harper Lee sangat membantu kerja reportase Capote.


Alur utama novel yang dibagi dalam empat bagian ini sebenarnya terbilang cukup sederhana. Dimulai dari latar kejadian dan kasus pembantaian di bagian pertama, perburuan si pelaku dan kisah perjalanan pelaku yang melarikan diri, tertangkapnya si pembantai, dan berakhir dengan penggambaran malam eksekusi si pembantai di bulan April 1965, di sebuah gudang yang dingin di sudut lapangan Penjara Negara Bagian Kansas di Lansing.


Keistimewaan pemaparan cerita dalam buku ini akan tampak jika pembaca melihatnya dari sudut pandang jurnalistik. Bagaimanapun, jika dilihat dari latar penulisan, novel ini pertama dan terutama harus dilihat sebagai sebuah karya jurnalistik. Sebuah liputan mendalam atas sebuah kasus yang disajikan dengan kecanggihan narasi yang memukau. Dalam novel ini, Capote berhasil menggambarkan detail setiap bagian cerita dengan amat cermat.


Karakter semua tokoh penting dalam novel ini tergambar dengan sangat kuat. Karakter masing-masing anggota keluarga Clutter, misalnya, tergambarkan dengan cukup kuat, baik dengan langsung menceritakan kehidupan sehari-hari mereka atau melalui interaksinya dengan para tetangga. Karakter keluarga Clutter yang dikenal baik dan disegani oleh para tetangga karena ramah dan suka membantu digambarkan di bagian awal novel ini dengan sangat baik, dengan secara detail menuturkan aktivitas masing-masing anggota keluarga di hari terakhir mereka sebelum pembantaian. Sesekali ada kilas balik yang bersifat umum untuk memperkuat deskripsi yang disajikan. Ketakutan warga Holcomb yang terteror setelah peristiwa pembantaian itu juga tergambar dengan baik dengan cara menuturkan pembicaraan orang-orang di kawasan terpencil itu, baik di kedai, kantor pos, sekolah, atau rumah penduduk.


Karakter dua pembunuh, Perry dan Dick, mendapat porsi pemaparan yang lebih banyak lagi—karena dapat dikatakan bahwa kedua orang inilah tokoh utama novel ini. Karakter dua pemuda ini menjadi semakin tergambar kuat setelah mereka ditangkap, dalam proses pemeriksaan, dan selama proses pengadilan. Dalam menggambarkan karakter Perry dan Dick ini sepertinya Capote cukup terbantu oleh akses yang dimilikinya untuk mengikuti kasus ini dari dekat dan menelaah arsip-arsip yang berhubungan dengan tokoh dan peristiwa. Dalam novel ini, misalnya, ada kutipan surat untuk Perry dari salah seorang temannya, dan juga kutipan pernyataan autobiografis Perry dan Dick untuk psikiater. Bahkan Capote juga mengikuti eksekusi kedua pembunuh itu.


Karya Capote ini sering digunakan sebagai rujukan dan contoh dari apa yang populer disebut sebagai “jurnalisme baru”. Jurnalisme baru, yang populer di Amerika sejak 1960-an, berusaha mengatasi keterbatasan gaya penyajian berita yang kering, dan berusaha menyampaikan berita mendalam secara lebih segar kepada pembaca. Genre jurnalisme yang kadang juga disebut “jurnalisme sastrawi” ini adalah sebentuk reportase yang dikerjakan secara mendalam, dengan gaya penulisan yang lincah dan renyah. Menurut Andreas Harsono dari Pantau, jurnalisme sastrawi menukik lebih dalam daripada apa yang lazim dikenal sebagai in-depth reporting. Ia bukan saja melaporkan peristiwa, tetapi masuk ke dalam psikologi yang para pelaku dan menerangkan mengapa ia melakukan hal tersebut.


Tentu saja dalam model penulisan jurnalisme sastrawi fakta tetap harus menjadi patokan utama. Dalam konteks ini, buku Capote yang disebutnya sebagai “novel nonfiksi” ini bisa menjadi agak kontroversial. Disebutkan dalam Wikipedia bahwa selama mewawancarai narasumber, Capote tak pernah mencatat dan hanya mengandalkan ingatannya. Ia baru menulis setelah wawancara selesai. Capote mengklaim bahwa memorinya mampu mengingat 94% persis seperti apa yang dikatakan narasumber. Terkait dengan aspek faktual dalam novel ini, memang ada beberapa komentator yang meragukannya.


Terlepas dari hal tersebut, bagaimanapun novel ini memang bukan cerita-pembunuhan biasa. Jika kita melihatnya sebagai sebuah karya “fiksi”, sangat layak jika dikatakan bahwa novel ini disebut-sebut sebagai a brilliant insight of criminal mind, sebuah kajian lengkap dan emosional untuk mengenali benak para penjahat. Dunia gelap Perry dan Dick diceritakan dengan sangat terperinci dan penuh emosi. Di sisi yang lain, jika kita membaca karya ini sebagai “novel nonfiksi”, sebagai sebuah karya jurnalistik, maka novel ini bisa memberikan inspirasi bagi para jurnalis untuk menyajikan fakta, peristiwa, ataupun fenomena dengan cara penyajian baru yang lebih tajam, mendalam, dan mencerahkan.


Tulisan ini dimuat di Harian Sinar Harapan, 1 November 2008.

3 komentar:

Nadya Pramita said...

waduh novel berat...
baca teenlit, chicklit gitu lah sekali-sekali....
he he he....

Mommo said...

De' remmah kebereh bajarin kak

Edu Badrus Shaleh said...

untung saya Capote nggak tinggal di Indonesia. Coba kalau dia menulis novel beginian di bangsa ini... yah dijamin nggak Laku dehhh...
kalau dia yakin tentang ingatannya yang 94%, maka 6%-nya adalah fiksi. Jadi simpulnya: "novel 6%fiksi". hwehwewwwweeehehehe....