Thursday, 30 November 2006

Batas Seorang Peragu

Seorang peragu adalah sosok yang memasrahkan dirinya untuk berlama-lama tinggal di ruang kemungkinan pikiran yang tak berbatas. Seorang peragu mungkin teramat percaya bahwa penelusuran yang dilakukannya dengan segala perangkat logika dan teori dapat mengantarkannya ke titik jawaban yang akan cukup memuaskan. Seorang peragu mungkin begitu terpikat dengan keadaan yang memberikan cukup jaminan, bahwa pilihan yang akan dibuatnya dapat menjanjikan hal-hal yang amat ia impikan, sementara ia lupa betapa banyak waktu dan keruwetan yang ia habiskan untuk mendapatkan jaminan kepastian itu. Seorang peragu mungkin bukanlah semacam spekulan yang berani melakukan lompatan dan terobosan penuh improvisasi—seorang yang cukup berani menghadapi risiko. Profil seorang peragu memang sangat mungkin cocok dengan gambaran pemikiran sosok perfeksionis.

Akan tetapi, hingga di titik manakah sebenarnya seorang peragu tak mampu lagi memberi suplai makanan untuk keraguan yang dirawatnya begitu rupa? Di titik manakah ia, pada akhirnya, akan menyerah, dan terjun bebas begitu saja di salah satu koordinat kemungkinan yang dihadapinya? Berapa waktu yang dibutuhkan seorang peragu untuk tiba pada keyakinan bahwa situasi apa pun yang kelak akan didapatkannya dengan pilihan yang ia ambil, ia harus terus berupaya keras untuk membuatnya menjadi lebih baik—tanpa harus dipusingkan dengan semacam rasa sesal?

Sepertinya tak keliru dikatakan bahwa sebagai titik tolak, keraguan mungkin akan cukup berguna—tentu jika bijak mengelola. Tapi jika keraguan seperti menjadi garis tak berhingga, atau katakanlah, titik-titik garis yang berwujud lingkaran penuh, ia betul-betul dapat menyesatkan!

1 komentar:

Rara Bentar said...

Hmm jadi pengen nulis juga tentang rasa dan kondisi yang sering menghinggapi ini..