Sunday, 8 January 2006

Bastian Tito dan Kenangan Seorang Anak Kampung

Ilustrasi karya Zainur Rahman van Hamme

Pagi itu, dalam sisa suasana tahun baru, saya mendapat berita yang mengejutkan. Bastian Tito, penulis cerita silat Wiro Sableng, meninggal dunia pada Senin pagi, 2 Januari 2006. Sejenak saya tertegun diam. Rimba persilatan berduka. Dunia kepenulisan kita kembali berduka.

Nama Bastian Tito sebagai penulis menjadi lebih populer setelah cerita-cerita silat Wiro Sableng yang ditulisnya, yang dikenal dengan julukan Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212, diangkat ke layar kaca pada pertengahan dekade 1990-an. Tapi dahulu, bagi saya dan teman-teman sepermainan saya, di sebuah kampung pedalaman Madura, Bastian Tito adalah sosok yang menghidupkan imajinasi dan mengantar saya menjelajah ke banyak dunia.

Bagi saya pribadi, Bastian termasuk orang yang berhasil membuat saya keranjingan membaca dan mencintai pustaka. Buku-bukunya saya beli di pasar desa atau di kios koran di kota (Sumenep). Harga jualnya di tahun 1990-an terhitung murah: seribu perak. Tebalnya antara 100 hingga 200 halaman. Penerbitnya tak cukup ternama. Kemasannya juga tak cukup mewah, dengan kertas buram dan binding yang tak terlalu kuat.

Kemasan karya-karyanya yang sederhana tak terlalu jadi masalah, karena sebagai seorang pencerita, Bastian sungguh menunjukkan kemampuan yang andal dan cukup luar biasa. Setting cerita, alur, penokohan, dan cara penggambaran suasana dalam karya-karyanya sungguh kaya, menarik, dan khas. Pengembaraan Wiro yang membuana mulai dari seantero Pulau Jawa, Madura, Bali, Sumatera, hingga ke negeri Cina dan Jepang, menegaskan penggalian bahan referensi yang cukup mendalam dari penulisnya. Cara penggambaran Bastian saat seorang tokoh muncul dalam sebuah momen peristiwa juga cukup menarik. Tanpa perlu secara langsung menyebut nama atau identitas seorang tokoh, seperti Wiro Sableng, Pangeran Matahari, Sinto Gendeng, Si Muka Bangkai, Tua Gila, Kakek Segala Tahu, atau Dewa Tuak, Bastian justru lebih sering memunculkan seorang tokoh dengan ciri khas mereka dengan karakter yang kuat. Wiro misalnya digambarkan dengan pakaiannya yang serba putih dan agak kumal, sering garuk-garuk kepala, serta sikapnya yang konyol dan kocak.

Seperti dalam cerita silat Kho Ping Hoo, banyak filosofi universal yang termuat dalam kisah Wiro. Penggunaan angka 212 (baca: dua satu dua) pada kapak yang Wiro gunakan, yang juga ditato ke dada Wiro, dijelaskan dalam Empat Brewok dari Goa Sanggreng, dimaksudkan untuk mengingatkan bahwa dalam kehidupan selalu melekat hal-hal yang berpasangan, seperti senang-susah, menang-kalah, atau hidup-mati, tapi semuanya berasal dari dan akan kembali ke Yang Mahasatu.

Pencapaian kebahasaan (kesusastraan) Bastian dalam karya-karyanya tak dapat dipandang sebelah mata, meski karya-karyanya tak dipajang di toko-toko buku terkemuka sekelas Gunung Agung atau Gramedia. Selain cara penggambaran tokoh, cerita, dan suasana yang bernas, cerdas, dan merangsang imajinasi, Bastian juga memperkenalkan ungkapan-ungkapan khas berbau lokal dalam menuturkan peristiwa. Untuk menggambarkan durasi waktu, misalnya, kita akan cukup sering menemukan frasa “sepeminuman teh” atau “sepenanakan nasi” yang tak kita jumpai dalam karya penulis lainnya. Untuk jarak atau ukuran, misalnya, Bastian sering menggunakan “lima tombak” atau “tiga langkah”. Pencapaian kebahasaan yang khas semacam ini jelas akan sulit divisualisasikan ketika cerita silat Wiro Sableng ini diangkat ke layar kaca, sehingga kebanyakan para penggemar Wiro Sableng konon tidak terlalu menyukai versi televisinya.

Kelincahan bercerita yang ditemukan dalam karya-karya pria kelahiran 23 Agustus 1945 ini mungkin tidak terlalu mengherankan, jika kita tahu bahwa Bastian telah tekun menulis sejak kelas 3 SD dan menerbitkan karyanya sejak 1964. Kisah Wiro Sableng sendiri mulai diterbitkan pada 1967. Ratusan judul karya cerita silat telah ditulisnya. Seorang saudara saya yang setia mengoleksi cerita silat Wiro Sableng mengatakan bahwa koleksinya sudah hampir 200 judul. Padahal Bastian juga sempat menulis cerita-cerita lain selain Wiro Sableng, seperti Boma si pendekar cilik, dan juga cerita berlatar budaya Minang, Kupu-kupu Giok Ngarai Sianok.

Kepulangan Almarhum ke hadirat-Nya pada tanggal dua bulan satu di awal tahun baru ini buat saya menorehkan kesan mendalam dan sejumlah harapan besar dan doa. Semoga masih akan ada penulis-penulis semacam Bastian di masa depan, yang tak henti menulis cerita-cerita memikat, tapi karyanya dapat dijangkau oleh anak-anak kampung yang uang jajannya pas-pasan. Saya berharap akan ada penerbit besar yang tertarik untuk menerbitkan karya-karya “sederhana dan murah” semacam karya Bastian, seperti halnya juga komik-komik lokal, yang mungkin tak cukup memberi gengsi, tapi akan cukup berarti. Saya juga berharap bahwa anak-anak di kampung saya saat ini masih akan bisa menemukan karya-karya murah tapi tak kalah berkualitas semacam karya Bastian di pasar desa, di tengah gempuran sinetron dan tayangan televisi, sehingga itu dapat mengokohkan tradisi membaca di kalangan mereka. Karya-karya Bastian dan semacamnya buat saya, teman-teman sepermainan saya, dan mungkin anak-anak di kampung lainnya, adalah pahlawan dan guru yang telah menyontekkan tradisi membaca dan membuka akses ke dunia aksara.

Selamat jalan Bastian Tito. Karya-karyamu adalah amal yang akan terus diberi pahala oleh Yang Mahakuasa.

* Tulisan ini dimuat di Harian Jawa Pos, 8 Januari 2006

9 komentar:

asik said...

innalillahiwa'inna ilaihi roojiuun

Firman Emry said...

Doaku selalu menyertaimu,2-1-2-006

Anonymous said...

Ulasan yang luar biasa Cak Mus! Kl ke jakarta mampir ke tmptku ya. Decky 97

partelon said...

Al Hamdu li-Llâh, saya bisa nebeng keren di postingan keren ini (y)

Btw, sekedar memperjelas, illustrasi itu saya buat dengan bahan-bahan:

1. Foto diri Alm. Bastian Tito yang nampang di sampul luar-belakang beberapa episode Wiro Sableng

2. Sampul episode berjudul "Pendekar Pedang Akhirat" dan "Ki Ageng Tunggul Keparat. Dua-duanya karya pelukis Arie. Saya hanya mengedit pakaian Wiro agar berwarna putih.

Mungkin, hanya ini yang bisa saya sampaikan... :-)

Gie Harapan Baru said...

Meninggalnya sang maestro,menyisakan banyak pertanyaan tentang petualangan sang pendekar 212 dinegeri Mataram Kuna.
Eyang Sinto yang masih menghilang..
Nasib raja dan kerajaannya
Apa hubungannya dengan si Dewi Dua Musim..
Musuh2nya yang belum tewas...

Gie Harapan Baru said...

Meninggalnya sang maestro,menyisakan banyak pertanyaan tentang petualangan sang pendekar 212 dinegeri Mataram Kuna.
Eyang Sinto yang masih menghilang..
Nasib raja dan kerajaannya
Apa hubungannya dengan si Dewi Dua Musim..
Musuh2nya yang belum tewas...

Herdi Hiray said...

Salam 212

Unknown said...

Salam 212!

Unknown said...

Salam 212!