Wednesday, 23 March 2005

Doa yang Menghapus Trauma (Yakinkan Aku)

Pada titik tertentu, kadang manusia di zaman ini mungkin telah dikutuk untuk hidup terlalu dengan logika. Tak ada yang salah dengan logika. Karena benar, justru karena nalar manusia menjadi cukup berharga. Dengan nalar, manusia, di sepanjang sungai sejarah yang dilaluinya, berupaya gigih untuk mencari penjelasan dari semua yang dihadapinya. Berbagai peristiwa hidup, dari yang paling individual hingga yang sosial, semua terjelaskan oleh berbagai disiplin yang terus berkembang, semakin mendalam, dan semakin meluas cakupannya.

Suatu hari, aku berjumpa dengan Trauma. Menurut kamus bahasa Indonesia yang kupunya, Trauma bisa berarti ‘luka berat’, atau ‘keadaan jiwa atau tingkah laku yang tidak normal sebagai akibat dari tekanan jiwa atau cedera jasmani’. Kamus lainnya mencatat, Trauma adalah sebentuk goncangan emosional, ketika sebuah peristiwa yang betul-betul menekan menimpa, sehingga goncangan psikologis yang diakibatkannya dapat berlangsung lama.

Sebenarnya, sungguh, aku ingin sekali kenal lebih jauh dengan Trauma. Sayang, stok pengetahuan, referensi, dan kesempatanku saat ini cukup terbatas. Tapi aku kira, Trauma sudah masuk ke dalam kategori common sense bagi kebanyakan orang, dan karena itu, aku bisa berkesimpulan, bahwa Trauma memang merupakan sebuah pengalaman hidup yang akan cukup menyulitkan. Ya, menyulitkan. Juga perih. Di tengah beban hidup yang kian hari kian sulit, Trauma datang membawa beban yang luar biasa tak terkira. Apakah manusia memang sudah tercipta cukup kuat untuk berhadapan dengan Trauma?

Aku ingin bertanya kepadamu, Rika, tentang siapa sebenarnya Trauma. Aku percaya kau punya sejenis informasi tentang ini. Aku ingin bertanya, dengan apa Trauma bisa dienyahkan. Aku ingin tahu, bagaimana dia harus diperlakukan—apa kita harus baikan dengan dia, atau mengambil sikap bermusuhan?

Rika, aku ingin bercerita bahwa dalam ruang common sense-ku yang teramat sederhana, Trauma masih merupakan hal yang sulit sekali—untuk tidak mengatakan tak bisa—dihilangkan. Sayang sekali, aku terlalu terbiasa menggunakan nalar semacam ini, yang entah salah entah benar. Lalu nalar dan logika ini harus bertemu dengan harapan-harapan, seperti bahwa, tentu saja, kita akan selalu berharap bahwa orang yang benar-benar kita cintai, sampai kapan pun, dapat hidup dengan kebahagiaan, dengan damai dan tenang. Sementara Trauma, bagaimanapun juga, sulit bersanding dengan alam pikiran yang tenang. Karena memang, Trauma datang seperti tsunami terdahsyat yang menghantam karang rapuh seseorang. Trauma membuat seseorang harus keluar dari suatu ruangan, dengan tak lagi cukup kuat untuk menjadi dirinya sendiri, harus hidup dengan berbasa-basi, karena bilik impian masa depan dalam dirinya sepertinya sudah nyaris dihabisi.

Selain pertanyaan-pertanyaan umum di atas, sebenarnya aku ingin sekali bertanya—dan ini adalah pernyataan eksistensial buatku—apakah doa, sebagai bentuk lain dari harapan yang menguat dan mengendap, bila dilakukan atas dasar hati yang bersih dan penuh, dapat membalikkan keadaan, bahwa Trauma yang bertamu ke ruang pribadi orang yang kita kasihi itu dapat dihilangkan? Beri aku saran, Rika, bagaimana menundukkan nalar kerdilku yang belakangan terus membuatku sangat bersedih, yang membuatku sulit menerima kenyataan pahit, bahwa Trauma akan terus mengurungnya dalam kesedihan. Rika, yakinkan aku, bahwa harga harapan dan ketulusan itu jauh lebih bernilai ketimbang nalar…

2 komentar:

Robithul Umam said...

coba kau buka kembali rencana awal hidupmu, bahwa kau bisa melewati segala tantangan itu, hanya trauma kau bisa pusing. anggap saja, hidup ini hanya cerita yang nantinya pasti akan berakhir, untuk itu mari kita isi hidup ini penuh dengan cerita, cerita yang bisa membuat kita tertawa, gundah dan lain-lain. aku memang bukan Rika yang.......

airmengalir said...

kalo memang pengen pulang ya pulang saja............................................................