Monday, 14 November 1994

Sekolah Masuk, Siswa Ngantuk, Sekolah Libur, Siswa Terhibur

Sudah merupakan gejala umum dalam masyarakat siswa, bahwa telah ada dua jenis penyakit yang rupanya tengah terjangkit, yang itu akan dapat menjadi kendala utama untuk mencapai tujuan pendidikan di sekolah. Adapun dua jenis penyakit ini sifatnya adalah psikologis, yang tidak jarang berlanjut dengan aksi fisik yang tidak etis dan konstruktif.
Jenis yang pertama adalah ketidak-semangatan siswa dalam mengikuti materi pelajaran yang disajikan oleh guru. Ketidak-semangatan dalam belajar ini—jika dibiarkan—akan menjadikan suasana belajar yang lesu, loyo dan tidak sehat. Maka sekaligus akan sulit untuk mengkader siswa-siswa yang berkualitas baik dan handal.
Pada hakikatnya ketidak-semangatan siswa ini disebabkan oleh dua faktor utama, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal ini dapat berupa dua hal, yang pertama adalah kurangnya pemahaman siswa terhadap maksud dan tujuan mempelajari suatu materi pelajaran. Hal ini tidak dapat dianggap sebagai suatu hal yang sepele, sebab niat memang menempati posisi kunci dalam melaksanakan suatu aktivitas hidup. Untuk itulah, sebelum memberikan suatu materi untuk siswa, guru harus dapat memantapkan pemahaman siswa mengenai hal ini, lebih-lebih untuk materi pelajaran yang sifatnya praktis.
Yang kedua adalah siswa masih belum mampu dalam menyerap dan menerima materi yang disajikan guru. Ini disebabkan karena siswa hanya menerima kepada apa yang disajikan oleh guru di sekolah, tanpa berusaha mencari pengetahuan tambahan di luar jam sekolah. Siswa yang semacam ini, dalam menerima pelajaran, akan sedikit mengalami kesulitan karena wawasan keilmuannya yang sempit. Maka siswa itu haruslah dinamis.
Sedang yang kedua adalah faktor eksternal, dapat berupa sistem pendidikan yang tidak dialogis, dengan terlalu aktifnya guru dalam melangsungkan proses belajar-mengajar. Ini akan menjadikan siswa pasif, sehingga siswa merasa tidak turut punya andil dalam proses pendidikan. Sistem CMGASP (Cara Mengajar Guru Aktif Siswa Pasif) ini juga akan mengakibatkan siswa tidak akan berusaha untuk mencari pengetahuan tambahan di luar sekolah.
Kadang-kadang masih ada juga sebagian guru yang kurang mampu menyajikan materi pelajarannya dengan baik, dan kurang sistematis. Sehingga siswa sulit untuk memahaminya, dan siswa dapat menajdi bosan dengan rutinitas belajar mereka karena adanya guru mereka yang “belum begitu profesional” (baca: penyampaiannya kaku).
Hal ini jugalah yang dapat mengakibatkan timbulnya penyakit yang kedua, yaitu kegembiraan (“keterhiburan”) siswa bila gurunya tidak masuk.
Namun selain itu perlu pula dikaji mengenai sikap dan pandangan siswa tentang ke-libur-an atau ketidakhadiran guru ini dalam beberapa aspek. Agar penilaian kita terhadap siswa dan guru dapat obyektif.
* * *
Dari beberapa paparan di atas, rasanya perlu sekali diadakan langkah-langkah antisipatif terhadap kedua jenis penyakit tersebut.
Langkah tersebut yang penulis tawarkan adalah adanya saling pengertian antara guru dan siswa untuk dapat menciptakan kondisi belajar yang lebih kondusif. Langkah ini sebenarnya masih memerlukan suatu reinterpretasi kontekstual dalam operasionalnya yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan belajar yang ada.
Mungkin dengan kiat di atas, tujuan esensial pendidikan dapat kita capai, yaitu untuk mencetak pribadi-pribadi yang mandiri dan dapat bersikap dewasa.


Tulisan ini dipublikasikan di “Fokus”, Majalah Dinding Kelas 1-A Madrasah Aliyah 1 Annuqayah edisi III, 12 November 1994.

1 komentar:

Membahas Politik said...

Seharusnya guru membuat suasana belajar yang menyenangkan, tidak tegang melulu