Sunday, 8 May 2016

Membagi Cinta


Seperti apa rasanya membagi cinta? Itu pertanyaan yang tiba-tiba muncul dalam pikiran saya saat anak kedua saya lahir Jum’at sore kemarin.

Saya tiba di rumah saat istri saya sudah selesai melahirkan dan makhluk mungil yang beratnya 3,5 kg itu sedang dimandikan oleh bidan desa di halaman rumah. Saat itu banyak orang di halaman rumah karena kebetulan ada acara rutin muslimatan sore itu. Di antara kerumunan orang, saya melihat anak pertama saya yang sedang digendong.

Dia terlihat seperti bangun tidur. Saya pikir dia mungkin juga agak bingung melihat keramaian orang dan makhluk kecil baru yang sedang menjadi pusat perhatian. Apakah wajahnya juga menyimpan semacam kekhawatiran?

Dalam usianya yang masuk di bulan keenam belas, dia memang belum bisa berkomunikasi dengan sempurna layaknya orang dewasa. Tapi saya berpikir bahwa cara dia memahami keadaan sudah cukup baik. Untuk hal-hal sederhana, dia sudah bisa mengerti, seperti jika saya meminta (dengan kata-kata) barang yang sedang dipegangnya atau ada di dekatnya.

Menyaksikan adanya tanda-tanda bahwa akan ada pusat baru di lingkungannya, saya pikir cukup wajar jika dia memperlihatkan wajah khawatir. Lalu saya berpikir: seperti itukah mungkin rasanya kekhawatiran yang timbul dalam hal keharusan berbagi cinta?

Hadirnya anak kedua ini di satu sisi bagi saya adalah semacam ujian: seberapa bisa saya mampu membagi cinta untuk kedua anak saya—juga untuk istri saya. Secara manusiawi, kita bisa memiliki kecenderungan untuk lebih condong pada sesuatu yang berstatus setara, seperti pada teman, murid, guru, anak, dan sebagainya. Terhadap anak, tentu kita harus bisa memperlakukan mereka secara adil. Jangan sampai yang satu merasa lebih diperhatikan dan yang lain merasa kurang.

Bagaimana saya bisa berlaku adil untuk kedua anak saya dalam mencurahkan perhatian dan cinta saya untuk mereka? Apa ukurannya bahwa saya sudah berlaku adil?

Bagi saya, pertanyaan ini bukan semata pertanyaan teoretis yang mungkin tidak cukup mudah dijawab. Ini juga persoalan praktis tentang bagaimana saya mengendalikan diri dari sikap berlebihan yang berada di luar batas kepantasan. Saya teringat peringatan Allah swt dalam surah al-Ma’idah [5] ayat kedelapan agar jangan sampai kebencian kita yang berlebihan pada suatu kelompok dapat menghilangkan sifat adil yang mestinya kita pegang. Al-Razi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa terhadap orang kafir pun Allah menuntut sikap adil (mungkin bisa juga disebut sikap yang proporsional dan objektif). Apalagi pada sesama saudara (seiman).

2 x 24 jam telah berlalu. Dalam waktu yang singkat ini, saya menyaksikan bagaimana anak pertama saya melihat adik barunya. Saat baru lahir dan baru dimandikan, saya yang mengendong anak pertama saya berusaha untuk mengenalkannya dengan mendekatkannya dan mengarahkan tangan anak pertama saya agar menyentuh adik barunya. Tapi waktu itu anak pertama saya menolak—mungkin karena masih memandang adiknya sebagai makhluk baru yang asing.

Malam hari di hari kelahiran, anak pertama saya sudah mau menyentuh adiknya. Bahkan sudah belajar memberi ciuman ringan meski tetap berada dalam pantauan ketat saya. Namun sesekali saat istri saya menggendong bayi barunya atau saya yang menggendong, si anak pertama kadang berteriak seperti ingin mendapat perhatian juga.

Saya kemudian berpikir bahwa kehadiran anak kedua ini bukan hanya ujian buat saya, tapi juga buat kami sekeluarga, dalam hal membagi cinta dan perhatian. Dalam rentang waktu yang panjang, saya pikir saya juga perlu memberi ruang dan teladan bagi si anak pertama agar ia bisa belajar tentang bagaimana berbagi dan membagi cinta dan perhatian. Sebenarnya menurut saya kalimat ini salah, karena saya pikir saya juga bisa berstatus belajar pada anak saya atau istri saya dalam soal ini. Jadi yang tepat mungkin bentuk relasi “saling” atau mutualisme.

Saya berharap bahwa keberkahan untuk kami sekeluarga bisa datang melalui kehadiran anak kedua saya yang lahir dengan relatif mudah pada Jum’at sore kemarin ini. Keberkahan ini bukan hanya untuk hal-hal yang bersifat duniawi dan material, tapi juga untuk menjadi jalan bagi kedewasaan dan kematangan jiwa kami sekeluarga.

Semoga Allah memberkahi kami sekeluarga.


Read More..

Monday, 25 April 2016

Bumi dan Beban Konsumsi


Tujuh miliar manusia saat ini semakin hari semakin terasa membebani bumi. Masalahnya, beban itu bukan semata terkait jumlah penduduk bumi yang terus bertambah. Beban yang mendera sehingga wajah bumi kini menjadi kusut terkait dengan hal yang lain, yakni gaya hidup konsumtif.

Perubahan drastis wajah bumi dicatat oleh Paul Crutzen, seorang ahli kimia dari Belanda, dengan istilah Era Manusia (Antroposen). Istilah ini dibuat untuk menggambarkan zaman ketika dampak kehadiran manusia benar-benar terasa (membebani) bagi bumi. Crutzen mengusulkan bahwa Era Manusia dimulai pada akhir abad ke-18. Ukurannya, sejak saat itu kadar CO2 di bumi meningkat secara teratur (Kolbert, 2011).

Para ilmuwan lainnya mengukur dampak kehadiran manusia dengan rumus IPAT. Dampak kehadiran manusia (Impact) ditentukan oleh jumlah penduduk (Population), tingkat kemakmuran (Affluence), dan perkembangan teknologi (Technology).

Jika dibaca secara cermat, rumus IPAT ini masih memperlihatkan hasrat para ilmuwan untuk menampilkan ilmu sebagai perkakas objektif. Akibatnya, mereka mengabaikan unsur subjektif manusia yang justru berperan besar dalam mengukur dampak kehadiran manusia. Unsur subjektif itu terkait dengan hasrat konsumsi.

Filsuf kontemporer seperti Jean Baudrillard menyatakan bahwa dalam kegiatan konsumsi saat ini ada logika sosial dan logika hasrat. Kegiatan konsumsi tidak hanya urusan pemenuhan kebutuhan belaka. Ia bisa terkait dengan identitas, status, atau pengakuan sosial. Demikian pula, bisa saja hasrat konsumsi ditumbuhkan dari meniru hasrat orang lain (Haryatmoko, 2016: 63-85).

Iklan mendorong kegiatan konsumsi berlebih sehingga salah satu nafsu purba manusia, yakni keserakahan, mendapatkan ruang aktualnya. Kita ingat Mahatma Gandhi pernah menyatakan bahwa ketamakan manusialah yang membuat bumi ini tak cukup untuk memuaskan segelintir manusia.

Namun, mesin hasrat yang menggelora pada diri manusia saat ini tidak datang begitu saja. Dari Herbert Marcuse, penulis buku One-Dimensional Man (1964), kita mengetahui bahwa mekanisme ekonomi kapitalis telah memanipulasi pengertian tentang kebutuhan sehingga manusia dijebak dengan kebutuhan palsu. Dalam masyarakat kapitalis, kata Marcuse, semua segi kehidupan—pendidikan, sosial, kebudayaan, politik, juga agama—diarahkan untuk tujuan keberlangsungan budaya kapitalis yang konsumeristis. Masyarakat dipaksa untuk menyesuaikan diri dengan alur yang dirancang oleh sistem kapitalis ini.

Sistem kapitalis terus berusaha mendongkrak produktivitas barang yang kemudian dibarengi dengan upaya untuk mendorong konsumsi habis-habisan. Senjata utamanya adalah iklan. Iklan mendorong perilaku konsumsi dengan mengubah definisi sederhana tentang kebutuhan. Iklan diam-diam juga memperkenalkan konsep baru tentang barang yang usang dan ketinggalan (mode) zaman.

Annie Leonard, kritikus fenomena konsumerisme dari Amerika yang membuat video animasi The Story of Stuff (2007), mengutip sebuah data yang menyebutkan bahwa warga Amerika Serikat setiap hari diserbu oleh tiga ribu iklan—Anda berapa? Iklan-iklan inilah yang membuat kehidupan mereka tidak tenang. Mereka didikte untuk terus berbelanja dan mengikuti ritme produksi barang-barang baru yang terus dikampanyekan tiada henti.

Serbuan iklan inilah di antaranya yang membuat nafsu konsumtif kita hampir tak terbendung. Setidaknya ada dua hal yang kemudian hilang dari kesadaran kita dalam aktivitas konsumsi dan menyampah yang dilakukan setiap hari. Pertama, kesadaran bahwa sumber daya alam yang ada di bumi ini bersifat terbatas. Kedua, kesadaran bahwa barang yang kita konsumsi semuanya berasal dari alam dan akan berakhir menjadi sampah.

Kegiatan konsumsi telah benar-benar mengubah wajah bumi. Seorang biolog kelautan, Rachel Carson, pada 1962 menulis buku fenomenal berjudul Silent Spring. Buku itu mencatat kepekaan Carson dalam membaca alam saat musim semi terasa menjadi sepi. Serangga-serangga dan kehidupan liar lainnya terganggu akibat penggunaan pestisida DDT.

Penggunaan pupuk dan bahan-bahan kimia lainnya dalam dunia pertanian saat ini sudah disadari dapat berdampak buruk pada alam. Namun umat manusia saat ini sangatlah sulit untuk menghentikan laju beban berat yang mereka berikan pada alam akibat aktivitas bercocok tanam itu. Apa sebabnya? Di era konsumsi saat ini, pertanian tak hanya dilakukan untuk memberi makan umat manusia, tapi juga untuk peternakan besar-besaran demi menghasilkan daging dan juga untuk bahan bio-solar (BBM).

Menghadapi dorongan hasrat konsumsi yang terus menggempur tiap saat, umat manusia harus terus dibangunkan kesadarannya akan makna kehadirannya yang singkat dan tanggung jawabnya bagi kelestarian alam. Hasrat konsumtif manusia menguat di antaranya karena dia lupa akan kefanaan hidup dan dampak perilakunya bagi alam dan generasi mendatang.

Manusia terus berlari mengejar mimpi kemajuan dan produktivitas melalui proses produksi dan konsumsi yang tiada henti. Pada saat yang sama, manusia lupa bahwa jejak-jejaknya di jalan konsumtif itu sudah terlalu jauh hingga benar-benar membebani bumi.

Butuh revolusi kesadaran yang sifatnya radikal untuk menghentikan jalan kehancuran bumi melalui konsumsi berlebih ini. Ini adalah sebentuk jihad diri, karena lawan sebenarnya yang dihadapi manusia dalam hal ini adalah dirinya sendiri yang berbentuk keserakahan yang tak mengenal batas.


Tulisan ini dimuat di Harian Jawa Pos, 24 April 2016.


Read More..

Sunday, 24 April 2016

Nasionalisme Kaum Minoritas


Judul buku: Mencari Sila Kelima: Sebuah Surat Cinta untuk Indonesia
Penulis: Audrey Yu Jia Hui
Penerbit: Bentang Pustaka, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, Oktober 2015
Tebal: xxiv + 162 halaman


Dalam konteks kehidupan kebangsaan, nasionalisme kadang menjadi konsep yang mengawang-awang. Hal ini di antaranya terjadi jika konsep nasionalisme itu tidak pernah direfleksikan dan didialogkan dengan kehidupan konkret para warga. Malah terkadang nasionalisme dijadikan pembenaran untuk tindakan yang melanggar hak individu.

Buku ini adalah suara warga tentang nasionalisme yang sangat patut didengar. Nilai penting buku ini bukan saja karena suara itu berasal dari kelompok minoritas dalam konteks kehidupan kebangsaan Indonesia, tetapi juga karena selama ini tidak banyak pembahasan tentang nasionalisme yang sifatnya reflektif dengan bertolak dari pengalaman konkret individu warga negara.

Penulis buku ini, Audrey Yu Jia Hui, adalah gadis keturunan Tionghoa dengan tingkat kecerdasan yang luar biasa. Ia menamatkan S-1 di Amerika Serikat pada usia 16 tahun dan pada saat berumur 10 tahun telah memecahkan rekor MURI untuk skor TOEFL 573.

Namun buku ini bukan tentang kegeniusan Audrey. Buku yang ditulis seperti surat ini menuturkan pengalaman keseharian Audrey yang direfleksikan dalam bingkai nasionalisme. Di antara hal yang direfleksikan adalah masih begitu banyaknya benih prasangka di antara berbagai kelompok masyarakat Indonesia sehingga pergaulan sosial mudah tersulut konflik.

Audrey yang dibesarkan dalam keluarga berkecukupan di Surabaya bercerita tentang prasangka terhadap asisten rumah tangga. Mereka dikesankan bodoh dan tak bisa dipercaya. Akibat prasangka, sisi kemanusiaan pada asisten rumah tangga itu sering tak terlihat, misalnya tentang perjuangan mereka untuk menghidupi keluarganya, kesulitan hidup yang mereka hadapi, dan sebagainya.

Audrey, yang kini bekerja di Changzhou, Tiongkok, bercerita tentang pengalamannya saat bertemu dengan para TKW di penerbangan Hongkong-Surabaya. Saat menyaksikan tingkah para TKW yang memalukan, Audrey merasa terdorong untuk memisahkan identitasnya dengan mereka: bahwa ia berbeda, dan karena itu tak perlu dipedulikan.

Pergulatan eksistensial semacam ini dirasakan Audrey sebagai ujian bagi nasionalisme dan rasa persaudaraannya sebagai sesama warga Indonesia. Dalam momen seperti ini, Audrey tertantang untuk tetap memperlakukan mereka sebagai tóng bāo, yakni sebagai orang yang “lahir dari rahim yang sama”, yakni Indonesia.

Tidak mudah untuk menghadapi prasangka seperti ini, bukan hanya karena prasangka itu begitu telah ditanamkan berulang-ulang tapi juga kadang didukung dengan pembenaran oleh para pemuka agama atau kasusnya beririsan dengan prasangka yang berlatar agama—selain juga prasangka berbasis etnis.

Rasa kebangsaan ini harus dipulihkan dengan pendidikan sejati. Pendidikan sejati akan mengembalikan hati nurani dan status primordial warga negara sebagai manusia. Selain itu, pendidikan sejati juga diharapkan dapat menumbuhkan kasih sayang di antara sesama warga, sebagaimana yang menjadi ruh dan inti pesan agama.

Pada bagian ini, Audrey memberi perbandingan dengan pengalamannya di Tiongkok. Di sana ia melihat proses pendidikan banyak digali dari khazanah lokal, seperti filosofi dan tradisi leluhur.

Audrey juga mengkritik sekolah-sekolah internasional di Indonesia yang menurutnya gagal membangun identitas kebangsaan. Bahkan, murid-murid di sana cenderung menyimpan sikap superior yang pada titik tertentu dapat mengikis rasa persaudaraan kebangsaan.

Sementara itu, di sisi lain, negara tampak gagal membangun identitas dan persaudaraan di antara sesama warga. Padahal Indonesia memiliki filosofi kebangsaan yang luar biasa, yakni Pancasila. Sayangnya, dalam kehidupan sehari-hari, banyak pengurus publik yang justru sering mempertunjukkan sikap yang bertentangan dengan Pancasila. Bentuknya banyak yang berupa ketimpangan dan absennya keadilan sosial dalam kehidupan nyata sehari-hari.

Selain sebagai refleksi kebangsaan, buku ini memperlihatkan tantangan kebangsaan Indonesia di hari depan. Dalam tatanan dunia yang semakin menyatu, Audrey menunjukkan generasi muda bangsa yang mengalami kegalauan dalam merumuskan identitas kebangsaan. Jika semua tinggal diam, ini akan menjadi ancaman serius bagi masa depan Indonesia.

Buku ini adalah panggilan yang tulus kepada seluruh elemen bangsa untuk lebih membumikan Pancasila.


Tulisan ini dimuat di Harian Radar Madura, 24 April 2016.


Read More..

Friday, 15 April 2016

Pesan Cinta Buku untuk Anak dan Remaja

Judul buku: The Magic Library: Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken
Penulis: Jostein Gaarder dan Klaus Hagerup
Penerbit: Mizan, Bandung
Cetakan: Pertama, Januari 2016
Tebal: 284 halaman
ISBN: 978-979-433-924-4


Jostein Gaarder adalah penulis Norwegia yang karya-karyanya telah banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Sisi paling menarik dari karya-karyanya adalah bahwa ia mengangkat tokoh anak dan remaja serta memberi nuansa reflektif yang kental.

Dalam karya Gaarder yang ditulis bersama Klaus Hagerup ini, tokoh remaja kembali tampil sebagai pemeran utama. Novel ini mengambil tema yang relatif lebih ringan, bukan dengan bobot filosofis yang cukup berat, yakni tentang dunia kepenulisan dan perbukuan. Cara penyajiannya khas Gaarder: berlapis, mengandung unsur cerita detektif dan misteri, dan ada unsur petualangan yang khas anak-anak dan remaja.

Novel ini berkisah tentang dua saudara sepupu, Berit dan Nils, yang tinggal di kota yang berbeda di Norwegia. Keduanya berkorespondensi dengan menggunakan buku-surat yang mereka kirimkan via pos. Nah, bersamaan dengan awal mereka saling berkirim surat itu, Berit dan Nils mengalami beberapa kejadian aneh yang berhubungan dengan seorang perempuan misterius.

Di sebuah toko buku, perempuan misterius, yang belakangan diketahui bernama Bibbi Bokken itu, membayari buku yang dibeli Nils dan tampak ngiler menyusur dan memandangi buku-buku. Sementara Berit secara tak sengaja menemukan dan membaca surat untuk Bibbi Bokken dari seseorang yang menyinggung soal “perpustakaan ajaib” dan “buku yang akan terbit tahun depan di Norwegia” (hlm. 11-15).

Jadilah kemudian buku-surat Berit dan Nils itu dipenuhi dengan tema peristiwa misterius itu. Semakin tebal misteri yang menyelimuti beberapa kejadian terkait dengan Bibbi Bokken itu, semakin Berit dan Nils diliputi rasa penasaran yang kadang bercampur dengan rasa ketakutan. Ada dugaan bahwa Bibbi Bokken, yang kadang disebut si Nyonya Buku dan si Penyihir Buku, bersama komplotannya sedang mengincar buku-surat Berit dan Nils. Dan itu tampak terbungkus dalam sebuah rencana rahasia berbau konspirasi yang berkaitan dengan Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken dan dunia perbukuan di Norwegia.

Yang unik, dan ini khas Gaarder, di sepanjang petualangan bak detektif penuh misteri itu, ada banyak hal menarik yang tersaji ke hadapan pembaca tentang dunia perbukuan dan kepenulisan. Berit dan Nils dalam buku-suratnya berbicara tentang Winnie the Pooh karya A.A. Milne, penulis buku anak-anak dari Swedia Astrid Lindgren, HC Andersen yang masyhur dari Denmark, Anne Frank yang meninggal di usia remaja sebagai korban Perang Dunia II dengan catatan hariannya yang kemudian cukup melegenda, penulis drama dari Norwegia Henrik Ibsen, dan sebagainya (hlm. 36-52).

Surat-surat Berit dan Nils serta alur novel ini juga banyak menyajikan pengenalan tentang dunia perbukuan dan perpustakaan. Misalnya tentang sistem klasifikasi desimal Dewey, yang digunakan untuk memudahkan pengkategorian buku di perpustakaan (hlm. 63-66). Ada juga dialog dan pemaparan tentang sejarah buku dan penerbitan, penemuan mesin cetak yang dikenal dengan Revolusi Gutenberg, teori sastra, teori fiksi, proses kreatif kepengarangan (teori menulis), dan semacamnya (hlm. 215-219).

Novel ini memang tepat dikatakan sebagai “sebuah surat cinta kepada buku dan dunia penulisan”—sebutan yang diberikan oleh sebuah terbitan di Jerman untuk karya ini. Novel ini tampaknya sengaja disusun untuk mempromosikan budaya baca-tulis dan mengenalkan lika-liku dunia kepustakaan dan kepenulisan kepada anak dan remaja.

Strategi tekstual yang dimainkan karya ini cukup kena dan cocok untuk segmen pembaca yang disasar. Alih-alih memaparkan secara kronologis atau sistematis, karya ini justru menyelipkan pesan cinta buku dan menyuguhkan pesona karya-karya dari dunia aksara dalam jalinan kisah misteri petualangan yang menarik dan enak diikuti—sesuai dengan selera kaum remaja dan anak-anak.


Versi yang sedikit berbeda dengan tulisan ini dimuat di Koran Jakarta, 15 April 2016.


Read More..

Sunday, 10 April 2016

Pesan Spiritual dalam Kisah Menawan

Judul buku: Secawan Anggur Cinta: Ajaran-Ajaran Inti Tasawuf dalam Kisah-Kisah
Penulis: Syekh Muzaffer Ozak
Penyunting: Robert Frager, Ph.D.
Penerbit: Zaman, Jakarta
Cetakan: Pertama, Februari 2016
Tebal: 211 halaman
ISBN: 978-602-1687-86-4


Semua agama membawa pesan spiritual. Bentuk dan polanya bisa berbeda, tapi semangatnya kurang lebih sama.

Dalam Islam, pesan spiritual ini tersampaikan dalam tasawuf. Jalan tasawuf bertujuan mengantar seseorang agar berlaku selaras dengan Tuhan dan mampu bertindak sebagai perpanjangan kehendak-Nya. Buku Secawan Anggur Cinta memaparkan ajaran-ajaran pokok tasawuf. Yang menarik, ajaran inti tasawuf itu dalam buku ini disampaikan dalam kisah-kisah.

Naskah buku ini semula merupakan ceramah dan kuliah yang disampaikan penulisnya, Syekh Muzaffer Ozak, pada rentang tahun 1980 hingga 1985 di Amerika. Penyuntingnya adalah murid Syekh Muzaffer bernama Robert Frager, psikolog lulusan Harvard University dan pendiri Institute of Transpersonal Psychology.

Buku ini memuat 11 bab yang menjelaskan ajaran inti tasawuf, di antaranya tentang cinta, pengenalan diri, berserah diri pada Tuhan, sikap sabar, macammacam godaan, dan sikap murah hati. Menurut Syekh Muzaffer, jika tasawuf adalah upaya untuk menyingkap tabir antara seseorang dan Tuhan, maka jalan sufi tak lain adalah jalan cinta. Langkah awalnya adalah mensyukuri semua pemberian Tuhan (hlm. 29, 41). Dalam menempuh jalan sufi, seseorang harus bisa mengelola bilik batinnya sehingga tidak dikuasai oleh nafsu duniawi.

Tampilan luar kadang menipu. Dikisahkan bahwa ada seorang nelayan miskin yang menjadi guru sufi di kampungnya. Suatu saat, ada salah seorang muridnya yang hendak mengunjungi kota tempat tinggal guru si nelayan sufi tersebut di negeri yang jauh. Si nelayan sufi menyampaikan pesan agar ia mendapatkan nasihat dari gurunya. Murid si nelayan cukup kaget saat tiba di kediaman guru nelayan sufi tersebut.

Tempat tinggalnya sangat mewah dan pakaiannya lebih bagus daripada orang kaya di daerah itu. Murid si nelayan tambah merasa aneh karena Sang Guru memberi nasihat agar si nelayan sufi “jangan terlalu terikat pada dunia.” Pesan itu terasa aneh berhadapan dengan fakta kemewahan yang dilihatnya. Namun nyatanya, si nelayan sufi terkejut saat menerima nasihat itu. Dia mengakui bahwa ternyata selama ini hati dan pikirannya masih sering berpikir tentang dunia.

Saat makan kepala ikan hasil tangkapannya di laut, dia sering berharap menikmati makanan mewah yang jauh lebih nikmat (hlm. 57-60). Cerita ini menegaskan bahwa dalam jalan tasawuf yang lebih penting adalah cara menguasai nafsu yang sering kali begitu tersembunyi. Kisah lainnya mengingatkan tentang betapa godaan iblis kadang begitu sederhana tetapi dampaknya bisa berantai. Suatu saat, iblis protes karena selalu dipersalahkan sebagai yang menyesatkan manusia.

Padahal, kata si iblis, ia kadang hanya melonggarkan pasak seekor domba yang sedang diikat. Namun, gara-gara dilonggarkan, domba itu mengamuk di rumah seseorang. Akibatnya, suami-istri di rumah itu bertengkar hingga bercerai. Pertengkaran pun meluas ke pihak dua keluarga (hlm. 167-169).

Ajaran inti tasawuf yang lain mendorong manusia untuk berbuat baik kepada sesama dengan bermurah hati. Ada kisah-kisah menarik yang diangkat di buku ini untuk menggambarkan sikap murah hati dengan sederhana, seperti senang melayani dan memuliakan tamu, membantu tetangga meski harus menggagalkan rencana untuk naik haji, dan sebagainya (hlm 181-189). Sikap bermurah hati dengan mendahulukan pelayanan kepada orang lain adalah latihan dasar dalam jalan sufi untuk menaklukkan ego yang merusak.

Kisah-kisah dalam buku ini mengangkat cerita bertema sederhana tapi mengilhamkan agar kita dapat mereguk secawan anggur cinta di jalan spiritual yang terjal. Di tengah kehidupan yang cenderung semakin materialistis, kisah-kisah dalam buku ini dapat membantu pembaca untuk menghidupkan dimensi batin dalam dirinya sehingga dapat menerangi jalan hidup yang kian membingungkan dan kadang sulit dicerna nalar.


Tulisan ini dimuat di Harian Koran Sindo, 10 April 2016.

Read More..

Thursday, 10 March 2016

Membaca Ulang Hukuman Mati

Judul Buku: Menolak Hukuman Mati: Perspektif Intelektual Muda
Editor: Lucia Ratih Kusumadewi dan Gracia Asriningsih
Pengantar: Franz Magnis-Suseno
Penerbit: Kanisius, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, Desember 2015
Tebal: 222 halaman
ISBN: 978-979-21-4462-8


Hukuman mati adalah hukuman yang kontroversial. Ini terlihat saat seorang narapidana diputuskan akan dihukum mati, masyarakat dari berbagai kalangan ramai berkomentar di media, mulai dari akademisi, ahli hukum, agamawan, pengamat politik, dan masyarakat biasa.

Buku ini menggugat keberadaan hukuman mati dalam sistem hukum di Indonesia. Buku yang ditulis oleh sebelas intelektual muda ini membedah hukuman mati dari perspektif filsafat, sosiologi, psikologi sosial, sejarah, politik, dan budaya. Pandangan umum yang diusung secara tegas oleh para penulis buku ini adalah bahwa sudah waktunya hukuman mati dihapuskan dari segenap sistem hukum kita.

Lucia Ratih Kusumadewi, salah satu penulis sekaligus editor buku ini, menunjukkan bahwa adanya hukuman mati merupakan potret masyarakat yang sakit jiwa. Dalam masyarakat yang sakit, bentuk-bentuk kekerasan termasuk hukuman mati tidak hanya dilegalkan tapi juga dinikmati oleh masyarakat.

Lucia menunjukkan contoh konkretnya saat ia menemukan sebuah foto bocah kecil yang beredar di internet kala kontroversi hukuman mati mencuat di awal tahun 2015. Dalam gambar tersebut, anak kecil itu menyampaikan pesan dalam poster kecil bertuliskan: “Tante Anggun.. Biarkan gembong narkoba MATI”. Lucia merasa miris bahwa anak kecil di negeri ini telah mulai terlibat dalam wacana sadisme.

Dengan meminjam teori tentang masyarakat yang sehat dari Sigmund Freud, Lucia mengusulkan pentingnya penguatan etika biofilia yang menjunjung tinggi nilai kehidupan dan berdasar pada humanisme normatif. Dalam kerangka etika biofilia, ada tiga kondisi sosial yang perlu didorong agar penolakan hukuman mati bisa mendapatkan jalan keluar yang tepat dan manusiawi, yakni penguatan rasa aman, penegakan keadilan, dan jaminan kebebasan sehingga masyarakat dapat berpartisipasi aktif dan bertanggung jawab.

Dari sudut pandang hukum dan politik, terungkap bahwa hukuman mati di Indonesia lebih banyak terkait dengan pertimbangan politik daripada pertimbangan hukum dan keadilan. Benny Hari Juliawan dalam buku ini menyebut hukuman mati sebagai pertunjukan kekuasaan negara. Dalam kilasan sejarah Indonesia, hukuman mati dalam berbagai periode menegaskan hal ini, seperti dalam kasus eksekusi mati Kartosoewirjo pada 1962, operasi penembakan misterius pada 1982-1985, dan sebagainya.

Dilihat dari perspektif grasi dan praktiknya di Indonesia, hukuman mati juga tampak sangat politis. Robertus Robet, pengajar di program sosiologi Universitas Negeri Jakarta, menganalisis penolakan grasi Presiden Joko Widodo dalam kasus hukuman mati terpidana narkoba tahun 2015 lalu. Menurutnya, keputusan presiden untuk menolak memberikan grasi lebih sebagai sarana yang mudah dan “murah” untuk mendapatkan simpati publik di tengah keterjepitannya akibat kisruh calon kapolri saat itu.

Salah satu argumen yang paling populer untuk mendukung hukuman mati adalah efek jera sehingga diharapkan kejahatan berat serupa tidak akan muncul di masa depan. Untuk mematahkan argumen ini, Poengky Indarti, salah satu penulis dalam buku ini yang juga direktur eksekutif Imparsial, memberikan analisisnya.

Di antara sanggahannya disebutkan bahwa berdasarkan statistik di beberapa negara nyatanya kasus kriminalitas justru ditemukan rendah jumlahnya di tempat yang tak menganut sistem hukuman mati. Selain itu, jika dianalisis karakter kejahatan yang diberi sanksi hukuman mati, ditemukan bahwa ia berada dalam jenis kejahatan yang tidak terpengaruh pada hukuman, yakni dalam kategori instrumental-acts yang bersifat high commitment.

Kontroversi hukuman mati di Indonesia tampaknya memang masih akan panjang ceritanya. Buku ini dapat ditempatkan sebagai upaya untuk membuka ruang diskusi yang lebih terbuka dan kritis atas masalah penting tersebut karena berdasarkan analisis beberapa penulis di buku ini terungkap bahwa hukuman mati selain banyak yang bersifat politis juga banyak melibatkan unsur emosi.

Selain itu, buku ini mengajak kita untuk melihat kasus kejahatan dalam kerangka yang lebih luas, seperti juga dalam kaitannya dengan isu kemiskinan, lemahnya penegakan hukum, dan kecenderungan aparat negara yang korup.


Tulisan ini dimuat di Majalah Gatra, 10-16 Maret 2016.

Read More..

Friday, 12 February 2016

Berkomunikasi dengan Anonim


Pernahkah Anda berkomunikasi dengan seseorang yang tak Anda kenal? Di mana? Seberapa lama? Untuk urusan apa? Bagaimana rasanya?

Saat media komunikasi sekarang semakin beragam dan juga semakin mempermudah kita, beberapa orang kadang melupakan hal-hal yang sebenarnya cukup mendasar dalam berkomunikasi. Bagi saya, komunikasi secara sederhana adalah upaya untuk menjalin hubungan dengan orang lain baik—bisa untuk keperluan yang hanya singkat atau bahkan untuk urusan yang akan berlangsung dalam waktu yang lama. Sebagai sebuah upaya menjalin relasi, tentu saja ada dimensi etis di situ.

Karena itu, menurut saya, hal yang penting dilakukan dalam menjalin komunikasi agar tetap berada dalam kerang etis adalah memperkenalkan diri. Saat hendak berhubungan dengan orang lain, sewajarnya pertama kali kita saling memperkenalkan diri jika memang salah satu atau keduanya belum saling kenal.

Dalam bentuk komunikasi langsung, yakni yang berlangsung secara tatap muka, hal ini mungkin bukan lagi hal yang perlu diingatkan. Tapi seiring dengan semakin bermacamnya media komunikasi, saya sering mengalami berkomunikasi dengan anonim atau dengan entah siapa. Itu bisa terjadi dalam pesan pendek atau sms, panggilan telepon, email, atau di jejaring sosial di internet.

Komunikasi anonim ini terjadi misalnya saat tiba-tiba ada nomor telepon baru yang menelepon dan langsung saja bicara pada poin utamanya. Padahal, saya masih belum kenal orang ini sehingga kadang saya masih butuh waktu untuk berpikir tentang arah atau topik pembicaraan si penelepon dan kaitannya dengan saya.

Ada pula bentuk komunikasi anonim yang lain. Si penelepon atau orang yang sms kadang hanya menyebut kelompok tertentu sehingga identitas spesifik si penelepon menjadi tak begitu jelas. Misalnya: “Saya pengurus xxx, Pak,” katanya di seberang. Ya, saya tahu bahwa xxx itu lembaga atau organisasi yang memang saya kenal. Tapi komunikasi ‘kan pada dasarnya juga bersifat personal meskipun sedang mewakili lembaga atau organisasi.

Dalam jalur komunikasi yang berlangsung di internet, komunikasi anonim cenderung semakin sering saya jumpai. Di Facebook, akun-akun anonim dengan nama organisasi, lembaga, atau perkumpulan, sering saya jumpai. Hal yang membuat saya kesal adalah bila akun-akun semacam itu, termasuk akun email (organisasi/lembaga/perkumpulan), menghubungi saya dan di dalam pesan yang dikirim tak ada nama orang yang mengirim.

Sekali lagi, saya memang sudah tahu lembaga atau organisasi itu. Tapi ‘kan yang mengirim pasti orang, bukan lembaga atau organisasi. Mengapa tidak dicantumkan?

Saya pernah menegur sebuah email yang dikirim dari akun organisasi/perkumpulan yang di situ tak tercantum nama orang yang mengirimkannya. Saya merasa tak nyaman. Komunikasinya terasa tidak manusiawi. Saya seperti berkomunikasi dengan “makhluk halus”. Akhirnya saya menyampaikan unek-unek saya itu. Saya sampaikan bahwa sebaiknya si pengirim mencantumkan nama sehingga saya tahu saat itu sedang berbicara dengan siapa.

Kadang saya terpikir bahwa pengirim email dari akun lembaga atau organisasi atau perkumpulan yang tak mencantumkan nama orang pengirimnya terkesan enggan untuk bertanggung jawab. Bukankah tanggung jawab merupakan salah satu dimensi etis dalam berkomunikasi?

Namun kadang saya tidak berani berpikiran terlalu jauh seperti itu, yakni bahwa si pengirim itu orang yang tak mau bertanggung jawab. Saya berpikir mungkin ini terjadi semata lantaran kekhilafan atau ketidaktahuan saja. Mungkin si pengirim lupa. Atau ini sebentuk sikap awam saat seseorang menggunakan media komunikasi baru dan kesadarannya masih belum menjangkau hal teknis yang ternyata juga terkait dengan dimensi etis itu.

Jadi, pesan moral dari pengalaman saya ini ada dua. Pertama, jika mau berkomunikasi dengan orang yang sekiranya belum mengenal kita, awalilah dengan perkenalan singkat sebelum masuk ke pokok pembicaraan. Kedua, jika menggunakan akun lembaga atau organisasi atau perkumpulan dalam berkomunikasi, jangan lupa untuk mencantumkan nama Anda sebagai orang yang mengirimkan pesan dengan akun tersebut. Kedua hal ini penting untuk mengingatkan kita bahwa ada dimensi etis dalam komunikasi sehari-hari—meski itu sifatnya sederhana—yang semestinya senantiasa kita jaga.

Wallahu a’lam.


Read More..

Thursday, 11 February 2016

Kemampuan Membaca sebagai Ciri Pendidikan Unggul

Landasan, Tantangan, dan Pengembangannya




Upaya untuk terus membenahi sektor pendidikan di Indonesia terus dilakukan dengan berbagai cara. Program pembenahan kurikulum, peningkatan kompetensi guru dan pengelola pendidikan, pemerataan akses pendidikan, pengembangan muatan pelajaran di bidang-bidang tertentu, dan sebagainya, telah dilakukan baik oleh pengurus publik maupun masyarakat umum. Pembenahan tersebut ada yang berupa perbaikan sistem atau terkait dengan aspek tertentu dalam dunia pendidikan.

Sekitar pertengahan 2015 yang lalu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Anies Baswedan, meluncurkan program Penumbuhan Budi Pekerti (PBP) melalui Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015. Program yang dapat dilihat kesinambungannya dengan program pendidikan karakter yang dicanangkan sejak tahun 2010 ini sempat menerima banyak tanggapan baik berupa dukungan maupun kritik. Sejumlah pakar mengkhawatirkan program ini akan sama tidak efektifnya dengan penataran P4 di era Orde Baru. Beberapa pakar mengkhawatirkan kegiatan berupa upacara bendera, menyanyikan lagu kebangsaan, atau doa bersama yang diamanatkan dalam peraturan tersebut hanya akan menjadi seremoni yang kering.

Terkait program PBP tersebut, ada hal menarik yang tampaknya masih kurang mendapat perhatian besar dari masyarakat luas. Dalam program PBP tersebut, terselip kegiatan harian berupa membaca buku nonpelajaran selama 15 menit sebelum pembelajaran dimulai. Tentang hal ini, Anies Baswedan menjelaskan bahwa dengan program ini diharapkan siswa mendapatkan porsi untuk mengembangkan potensi dirinya sendiri.

Sampai sejauh ini, tampaknya belum ada penjelasan yang cukup teperinci, khususnya dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, mengapa kegiatan membaca ini masuk dalam program PBP atau bagaimana kaitan yang lebih jelas antara membaca dan budi pekerti.

Terlepas dari soal ini, kita semua sepakat bahwa membaca itu sangat penting dalam proses pendidikan. Namun apakah membaca memang hanya terkait dengan soal ilmu dan pengetahuan?

Menurut A. Dardiri Zubairi (2014), kepala Madrasah Aliyah Nasy’atul Muta’allimin Gapura, Sumenep, berdasarkan pengamatannya di beberapa sekolah di Sumenep, ada kecenderungan bahwa siswa-siswa yang mempunyai rekam jejak rajin dalam membaca (dan menulis) berpeluang lebih mudah sukses saat melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi dan atau saat berkiprah di tengah-tengah masyarakat.

Dugaan ini patut dicermati lebih mendalam karena ini dapat mengantarkan kita pada jawaban tentang kaitan antara membaca dan budi pekerti atau dengan hal lain yang lebih luas. Tulisan ini hendak menguji dan menelusuri lebih jauh tentang keterampilan atau kemampuan membaca dalam kerangka yang lebih luas, yakni dalam konteks pendidikan unggul. Pertanyaan dasarnya: seberapa luas sebenarnya cakupan dan implikasi dari kemampuan membaca yang dimiliki seseorang khususnya siswa atau peserta didik di sekolah? Berdasarkan keluasan dan area cakupannya, bisakah kemampuan membaca kita posisikan sebagai salah satu ciri pendidikan unggul? Seberapa kuat pemosisian itu dan bagaimana nilai kontekstualnya?

Untuk memperjelas posisi dan status normatif dari kemampuan membaca, tulisan ini akan menguraikan tantangan kontekstual dari pembentukan kemampuan membaca terutama dalam kaitannya dengan era informasi yang semakin canggih ini. Setelah itu, akan dibahas juga strategi pengembangan kemampuan membaca di sekolah atau lembaga pendidikan serta mendiskusikan tantangan penerapannya.


Kekuatan Membaca

Untuk melihat lebih jauh kekuatan atau daya yang dapat dihasilkan dari kemampuan membaca, kita bisa menempuh dua jalan utama. Pertama, kita dapat membuat sebuah analisis internal yang bersifat reflektif terhadap kegiatan membaca. Pemaparan ini dapat bertolak dari refleksi atas pengalaman yang bersifat individual maupun berangkat dari berbagai penelitian psikologi kognitif yang relevan.

Jalan kedua dapat berupa uraian historis-sosiologis atas peranan kegiatan atau kemampuan membaca dalam kerangka yang lebih bersifat komunal. Pada model ini, diuraikan implikasi konkret yang bersifat faktual-sosiologis atas aktivitas membaca yang sifatnya masif berdasarkan pengalaman kelompok masyarakat tertentu.

Pada dua alur pembahasan tersebut, kegiatan atau kemampuan membaca sangat identik dengan buku. Artinya, saat berbicara tentang daya yang dihasilkan dari kegiatan membaca, yang dimaksudkan terutama adalah kegiatan membaca berobjek buku atau teks yang relatif panjang dan sistematis.

Melalui jalur analisis yang pertama, kita bertolak dari pemahaman bahwa membaca pada dasarnya adalah kegiatan yang bersifat individual berupa upaya untuk menyerap makna dari teks yang disusun secara sistematis. Pengertian ini terkait dengan kegiatan membaca yang dilakukan untuk kepentingan informatif atau keilmuan yang sifat orientasinya relatif berjangka panjang. Ini berbeda dengan kegiatan membaca dalam keperluan yang sifatnya praktis dan berorientasi jangka pendek.

Sebagai kegiatan keilmuan, membaca disebut sebagai sebuah kegiatan yang berorientasi jangka panjang karena ini terkait dengan karakter potensi inteligensi manusia. Kegiatan inteligensi manusia mengandaikan adanya waktu dan intervensi yang bersifat konstan. Diperlukan sebuah pendekatan yang bersifat memusat agar objek inteligensi dapat ditangkap secara lebih utuh (Leahy, 2001: 157).

Waktu yang relatif lama dan konstan dan disertai dengan pendekatan memusat menuntut adanya kegigihan atau tekad yang kuat dalam kegiatan membaca. Menuntaskan bacaan pada dasarnya adalah mengikuti alur gagasan penulis teks yang bisa memuat serangkaian data dan argumentasi dengan berbagai lika-liku penalarannya. Saat membaca, pembaca secara tidak langsung diajak untuk menangkap kepaduan gagasan yang dibangun oleh penulis teks melalui unit-unit gagasan yang tersusun sedemikian rupa (Mushthafa, 2013: 144).

Dengan demikian, kebiasaan membaca pada tingkat individual dapat mendorong bagi terbentuknya pribadi yang tekun dan gigih. Karakter tekun dan gigih ini, menurut penelitian Angela Lee Duckworth (2013) yang dipaparkan di TED.com, adalah kunci penting kesuksesan para pelajar atau karyawan yang ditelitinya selama beberapa tahun—bukan IQ, penampilan fisik, atau yang lainnya. Pribadi dengan tekad yang kuat akan memiliki semangat dan ketahanan yang baik untuk meraih tujuan-tujuan jangka panjang yang oleh Duckworth diibaratkan seperti pelari maraton.

Etos dan semangat keilmuan berupa kesungguhan hati yang bersifat terus-menerus, kerja keras, dan semangat pantang menyerah merupakan di antara beberapa hal yang disebutkan dalam kitab klasik Ta‘lim al-Muta‘allim yang termasuk dalam hal yang mesti dimiliki oleh seorang pelajar (Azzarnuji, tt: 20-25).

Selain membentuk individu yang tekun dan melatih diri untuk fokus dan berkonsentrasi, membaca juga mendorong kerja pikiran yang bersifat kritis. Saat mencerna teks, pembaca juga didorong untuk memadukan gagasan teks yang sedang dihadapinya dengan berbagai perasan gagasan dari teks yang telah dipahami sebelumnya. Dengan mempertemukan gagasan teks yang dibaca dengan persediaan pengetahuan pembaca berarti sama halnya dengan melangsungkan dialog di antara berbagai teks yang pernah dijumpai pembaca. Dialog antar-teks ini tentu saja bersifat lintas-masa menurut zaman penulisan teks masing-masing sesuai dengan karakternya yang sangat mungkin beragam sekali.

Dalam dialog semacam ini, pikiran didorong untuk bekerja secara kritis mulai dalam proses memahami gagasan satu teks, menemukan kesinambungan atau keterkaitannya dengan teks-teks serupa, menilai dan membandingkan kekuatan gagasan atau data yang disajikan, dan memberi makna kontekstualnya dengan lingkungan hidup dan gagasan si pembaca.

Dengan demikian, kegiatan membaca sangat jelas tampak sebagai kegiatan belajar yang bersifat aktif. Dalam kegiatan membaca, yang lebih dominan adalah aktivasi kesadaran analitis-logis. Ini berbeda dengan kegiatan menonton televisi, yang di situ titik yang berperan besar adalah gambar/imaji, yang dengan demikian “berbicara lebih langsung dan lebih menyentuh totalitas persepsi (kognitif, afektif, imajinatif)”. Karena itu, menurut I. Bambang Sugiharto, dalam kegiatan menonton kekuatan-kekuatan tak sadar (hasrat, kehendak, dst.) lebih menguasai kesadaran (Sugiharto, 1998: 110-112).

Sementara itu, melalui penelusuran historis-sosiologis, tak diragukan lagi bahwa membaca atau buku menjadi penggerak penting kemajuan peradaban. Michael H. Hart, penulis buku klasik 100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia menempatkan Nabi Muhammad sebagai tokoh paling berpengaruh. Kita tahu bahwa mukjizat terbesar Nabi Muhammad adalah kitab suci al-Qur’an yang kemudian berbentuk teks. Setelah teks al-Qur’an disusun secara padu pada masa ‘Utsman bin ‘Affan, sampai sekarang al-Qur’an telah menginspirasi lahirnya ribuan teks-teks lain (Mushthafa, 2014).

Rasanya bukanlah satu kebetulan pula jika tokoh-tokoh lain yang oleh Hart dianggap paling berpengaruh juga sangat terkait dengan kegiatan membaca. Hart, misalnya, menempatkan Ts’ai Lun, sang penemu kertas dari Tiongkok, dan Johannes Gutenberg yang dicatat sebagai penemu mesin cetak sebagai tokoh paling berpengaruh nomor tujuh dan delapan (Hart, 2012: 39-49). John Farndon, penulis buku 50 Gagasan Luar Biasa yang Mengubah Dunia menempatkan “internet” dan “menulis” di urutan pertama dan kedua gagasan terpenting yang mengubah dunia. Menurut Farndon, internet membuka informasi sehingga tumpah ruah dan mengubah cara orang berkomunikasi. Menulis dijadikan penanda untuk menyebut era prasejarah dan era sejarah. Adanya tulisan memungkinkan terawetkannya gagasan dan dokumen sehingga ia dapat dipelajari orang yang berasal dari tempat yang tak sama dan dari zaman yang berbeda (Farndon, 2011: 364-379).

Contoh terbaik untuk melihat pengaruh buku dan kegiatan membaca bagi kemajuan peradaban adalah masa keemasan Dinasti Abbasiyah di Baghdad pada abad kesembilan. Bayt al-Hikmah yang dibangun Khalifah al-Ma’mun di Baghdad pada tahun 830 tidak saja menjadi perpustakaan yang mengumpulkan buku-buku pengetahuan berbagai tema dari seluruh penjuru dunia yang terjangkau saat itu. Bayt al-Hikmah juga menjadi akademi dan biro penerjemahan yang menjadi tempat berlangsungnya dialog keilmuan antarperadaban secara intens. Proses dan dinamika kerja-kerja ilmiah berbasis kegiatan membaca dan berpusat pada buku ini melibatkan banyak pihak. Al-Ma’mun mengerahkan banyak orang untuk memburu naskah ilmu dari berbagai penjuru dunia. Bahkan al-Ma’mun juga berkorespondensi dengan Raja Leo dari Armenia untuk mencari karya-karya Yunani. Al-Ma’mun juga mempekerjakan para penerjemah yang dibayar mahal untuk mengalihbahasakan teks-teks yang berhasil diburunya itu ke dalam bahasa Arab (Hitti, 2005: 381-394; bdk. Freely, 2011: 77-101).

Dari Bayt al-Hikmah dan proyek penerjemahan itulah lahir karya-karya orisinal dan dari situ juga lahirlah praktik-praktik awal metode keilmuan berbasis observasi dan eksperimen yang kemudian disebut metode ilmiah (Farndon, 2011: 323-324).


Peradaban Tautan dan Kembalinya Scriptura Continua

Kemajuan di bidang teknologi informasi dan komunikasi memang memberi kemudahan akses dan kecepatan lalu-lintas informasi yang tiada tara. Namun begitu, tidak sedikit pihak yang mencatat potensi membahayakan internet dan globalisasi yang mengiringinya. John Updike, seorang sastrawan dari Amerika Serikat, pada tahun 1995 menulis esai menyambut Pameran Buku Frankfurt yang mencoba merefleksikan situasi dunia perbukuan di tengah membanjirnya informasi yang dituang melalui internet waktu itu.

“...sungai elektronika yang meluap tanpa pembatas dan membanjiri segalanya, tak jarang dengan rupa informasi "sampah" dan tak jelas ditujukan kepada siapa. Substansinya terlalu kerdil dibanding kejeniusan teknologinya, sementara pada saat yang sama, kekuatan dahsyat revolusi elektronika telah menggerogoti kontak dengan kehidupan” (Hadar, 2000).

Kutipan ini berusaha menunjukkan paradoks teknologi internet dalam konteks peradaban. Ada tiga poin yang dikemukakan. Pertama, ketakterbendungan arus informasi. Kedua, kedangkalan muatan informasi yang diusung. Ketiga, kecenderungan teknologi untuk mengacaukan pola hubungan masyarakat.

Saat mengantarkan permasalahan dalam pembahasan tentang pendidikan karakter di sekolah, Paul Suparno, mantan rektor Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, menyebutkan pentingnya penguatan pendidikan karakter dengan melihat pengaruh buruk informasi yang melimpah, yakni saat siswa tidak punya kemampuan kritis dalam memilah dan mengambil keputusan tindakan atas dasar informasi yang didapatkannya dari internet pada khususnya. Selain itu, pengaruh kemajuan teknologi juga melahirkan sikap hidup instan dan budaya konsumtif (Suparno, 2015: 22-25).

Penelusuran yang cukup lengkap tentang pengaruh internet pada semangat yang dibawa oleh peradaban buku dilakukan oleh Nicholas Carr dalam bukunya yang berjudul The Shallows (2011). Carr tidak memfokuskan pembahasannya pada dimensi sosiologis dari pengaruh internet, tapi ia menitiktekankan pengaruh internet bagi pembentukan cara berpikir. Kesimpulan pokok yang dikemukakan Carr dalam buku ini adalah bahwa internet menurunkan kemampuan kita untuk berpikir secara mendalam serta menggerus kemampuan kita untuk berkonsentrasi dan merenung—hal-hal yang sangat mendukung kreativitas dan inovasi. Internet mendorong cara berpikir yang dangkal, serba instan, cepat, dan massal.

Untuk tiba pada kesimpulan itu, Carr melakukan penelusuran historis tentang cara orang membaca dari waktu ke waktu dan pengaruhnya terhadap pembentukan cara berpikir (otak). Menurut Carr, sebelum abad ketiga belas, naskah tulisan berhuruf Latin tidak mengenal pemisahan antarkata dengan spasi seperti sekarang ini. Hal ini terjadi karena bahasa tulis pada mulanya mencerminkan asal muasal bahasa di dalam tuturan. Kita tahu bahwa saat berbicara kita tidak menyisipkan jeda di antara tiap kata—tak ada “spasi”. Ini yang disebut dengan scriptura continua. Scriptura continua membuat proses membaca membutuhkan daya kognitif yang besar. Membaca menjadi pekerjaan yang berat bagi pikiran. Karena itu, biasanya dahulu orang membaca dengan suara keras agar proses pemahaman gagasan menjadi lebih mudah. Di Yunani dan Romawi, kadang seseorang memerintahkan budak-budak mereka untuk membacakan teks yang ingin dicerna. Demikian pula, para penulis biasanya mendiktekan karya mereka kepada para juru tulis profesional (Carr, 2011: 61-67).

Saat para juru tulis mulai menggunakan spasi dan kemudian disusul dengan penemuan mesin cetak pada pertengahan abad kelima belas, kegiatan membaca dan menulis mulai menemukan karakter kuatnya. Perkembangan pengetahuan dan ilmu kemudian memiliki jiwa individualisme yang kuat. Membaca dan menulis menjadi kegiatan pribadi terutama dalam pengertian pergulatan gagasannya dan nuansa reflektifnya. Elizabeth Eisenstein menyebutkan bahwa membaca secara mendalam kemudian juga menyertakan “keheningan, kesenyapan, dan sikap yang sama yang dulunya diasosiasikan dengan ibadah spiritual semata”. Pada titik ini daya dobrak kegiatan membaca dan menulis mulai tampak. Karakter yang semakin personal dalam kegiatan membaca dan menulis mendorong orang untuk lebih berani menuangkan dan mengolah gagasannya bahkan berhadapan dengan otoritas agama di Eropa waktu itu (Carr, 2011: 69-74).

Namun revolusi teknologi informasi dan komunikasi yang terjadi saat ini yang ditandai dengan kehadiran internet menurut Carr ternyata justru menarik kembali lahirnya kerumitan membaca yang serupa dengan fenomena scriptura continua. Carr memaparkan banyak penelitian yang secara umum mengarah pada kesimpulan bahwa rancangan menu dan tampilan di halaman-halaman internet mengerdilkan kerja otak untuk berpikir mendalam dan reflektif. Halaman-halaman internet dipenuhi dengan tautan sehingga internet bisa disebut sebagai peradaban tautan. Tautan di sebuah halaman, menurut beberapa penelitian, memecah konsentrasi pembaca. Carr menjelaskan prosesnya sebagaimana berikut:

Sebagai pembaca, ketika kita mendapati sebuah link, kita harus berhenti sejenak, sekurang-kurangnya selama seper sekian detik, memberi kesempatan korteks prafrontal kita untuk mengevaluasi apakah kita harus mengkliknya ataukah tidak. Pengarahan kembali sumber-sumber mental, dari membaca kata-kata menuju pemberian penilaian, mungkin tidak terasa bagi kita—otak kita cepat—tapi ternyata menghambat pemahaman dan ingatan, terutama kalau sering diulang-ulang. Ketika fungsi-fungsi eksekutif korteks prafrontal berjalan, otak kita bukan hanya menjadi terlatih tetapi juga diperlemah. Secara amat nyata web mengembalikan kita pada waktu scriptura continua, ketika membaca merupakan tindakan yang berat secara kognitif (Carr, 2011: 128).

Carr di antaranya mengutip penelitian tahun 2001 yang membandingkan dua kelompok pembaca yang diminta membaca teks yang sama. Bedanya: satu diminta membaca teks linier (dokumen kertas tradisional) dan satu lainnya membaca teks versi web yang memiliki sejumlah tautan. Hasilnya, orang-orang yang membaca teks linier memahami lebih banyak, mengingat lebih banyak, dan belajar lebih banyak dibandingkan pembaca halaman web bertautan. Carr juga memaparkan penelitian-penelitian serupa. Misalnya, ada yang meneliti teks dengan tautan yang lebih banyak cenderung menurunkan kadar pemahaman pembacanya dibandingkan dengan teks dengan tautan yang lebih sedikit. Dari situ disimpulkan bahwa “ada kaitan yang kuat antara jumlah link dan disorientasi atau kelebihan beban kognitif” (Carr, 2011: 133-135).

Memang ada benarnya juga bahwa di hadapan perangkat teknologi, termasuk internet dan alat-alat terkait, ada manusia sebagai subjek atau pelaku yang akan menentukan hasil yang lebih jelas dan konkret. Kecenderungan internet yang sedemikian rupa ini bukanlah satu kemestian di hadapan subjek yang beragam karakter, kemampuan, dan latar belakangnya. Tentu saja, ada banyak hal yang bernilai positif dari kehadiran internet. Namun, poin pokok yang ingin dikemukakan Carr dalam bentuk yang sederhana adalah bahwa internet menurunkan kemampuan membaca secara mendalam. Akhirnya, membaca sekilas (skimming) menjadi bentuk kegiatan yang dominan—bukan membaca intensif. Di satu bagian, Carr menggambarkan kecenderungan ini dengan metafor yang menarik: “yang sedang kita alami adalah pembalikan dari sejarah awal peradaban: kita berevolusi dari pengolah pengetahuan pribadi menjadi pemburu dan peramu di belantara data elektronis” (Carr, 2011: 148).


Generasi Gadget dan Ruang Hening di Sekolah

Tepat di titik yang menantang ini, masyarakat Indonesia pada umumnya dan para siswa di sekolah pada khususnya menghadapi tantangan potensi negatif teknologi informasi dan kesiapan mereka menyongsong era yang semakin kompleks. Ninok Leksono, redaktur senior Kompas, mengungkapkan sebuah ironi bahwa keterhanyutan masyarakat Indonesia dalam gelombang pasang revolusi teknologi informasi tidak hanya mungkin berada di wilayah akademik dan kebudayaan, tapi juga secara ekonomi. Sejauh ini, Indonesia menjadi target pasar yang sangat potensial bagi produsen teknologi informasi. Pada tahun 2008, belanja Indonesia untuk teknologi informasi dan komunikasi mencapai Rp 27 triliun per tahun, sedangkan kontribusi Indonesia dalam bidang kreasi atau produksinya justru minimal—untuk tidak mengatakan tidak ada (Leksono, 2011: xi-xii).

Perkembangan pengguna internet di Indonesia terus menanjak. Menurut data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pada tahun 2003 pengguna internet di Indonesia berjumlah sekitar 8 juta atau 3,6 persen. Jumlah ini naik menjadi 63 juta pada 2012, 71,2 pada 2013, dan 88,1 pada 2014. Kemudian, kecenderungan pengakses dari perangkat bergerak (mobile) juga semakin meningkat. Pada 2013, pengakses internet dari perangkat seluler berjumlah 65 persen, lalu pada 2014 naik menjadi 85 persen. Selanjutnya, menurut data tahun 2012, mayoritas pengakses internet (64,2 persen) berusia 12-34 tahun. Ini berarti, kalangan muda, termasuk pelajar, adalah pengguna mayoritas (Nistanto, 2015; Rusman, 2013: 35).

Generasi muda yang merupakan pengguna baru (“mualaf”) internet ini patut kita pikirkan keberadaannya jika kita memahami dan menerima berbagai kemungkinan negatif internet pada pembentukan cara berpikir mereka. Jika persoalan ini kita kembalikan pada peran sekolah maka pertanyaannya adalah: apa yang telah dilakukan sekolah untuk menyiapkan generasi muda dengan bekal yang cukup baik dalam menghadapi arus informasi dan internet pada khususnya yang berpotensi mengikis kemampuan berpikir mendalam dan mendorong sikap hidup instan?

Pada titik inilah penulis mengemukakan pandangan bahwa idealnya sekolah harus memiliki sejumlah rancangan program sebagai upaya untuk meningkatkan kompetensi membaca siswa. Kemampuan membaca yang baik idealnya dijadikan landasan pokok bagi upaya membangun pendidikan unggul, karena, sebagaimana uraian di atas, kemampuan membaca dapat mendorong bagi lahirnya potensi kreativitas, inovasi, dan sikap kritis. Gagasan untuk menjadikan kemampuan membaca sebagai landasan pokok pendidikan unggul ini bernilai kontekstual dan antisipatif karena arah perkembangan dunia dan teknologi informasi akan terus berlangsung.

Di tengah kultur belajar yang masih lemah dalam masyarakat kita, kehadiran internet yang semakin luas ini bisa saja menghambat upaya peningkatan mutu pendidikan jika tidak dibarengi dengan upaya kerja ekstra dan perhatian khusus. Bentuk perhatian khusus yang dimaksud di sini adalah dengan menjadikan kemampuan membaca sebagai landasan pokok atau ciri dasar pendidikan unggul.

Dilihat secara lebih dekat, perhatian pada peningkatan kemampuan membaca bagi siswa bisa juga disebut sebagai langkah untuk merawat ruang hening dalam diri siswa di tengah hiruk pikuk mereka di dunia gadget. Ruang hening itu, yang di antaranya dapat dijumpai siswa dalam kegiatan membaca intensif, belakangan juga cenderung diabaikan atau kurang diperhatikan seiring dengan upaya pengembangan metode pembelajaran kolaboratif secara berlebihan.

Susan Cain, penulis buku Quiet: The Power of Introverts in a World That Can’t Stop Talking (2012), memaparkan bahwa ada kecenderungan sekolah dan ruang kerja belakangan dirancang bukan sebagai ruang hening. Hal ini berangkat dari asumsi bahwa kreativitas dan produktivitas tumbuh dari tempat yang desain ruangannya tidak “individualistik”. Ruang kerja, misalnya, didesain tanpa dinding, hanya dengan sekat pendek. Bangku-bangku di kelas belakangan dibuat berkelompok. Bahkan, menurut Cain, untuk bidang pelajaran yang sifatnya cenderung lebih bersifat individual, seperti matematika dan pelajaran mengarang, siswa di sekolah kadang diminta untuk bekerja secara berkelompok. Susan Cain menyebut sekolah dan lingkungan kerja cenderung mengakomodasi karakter kaum ekstrover dibandingkan kelompok introver. Bahkan, ada pandangan di kalangan guru bahwa siswa yang introver dipandang sebagai siswa bermasalah.

Ruang hening dalam kegiatan membaca intensif memang tampak lebih cocok bagi kaum introver, dan ini yang sekarang cenderung kurang mendapat ruang di sekolah. Padahal, Cain mengungkapkan bahwa kaum introver memiliki kekuatan tersendiri yang juga dibutuhkan dalam kehidupan sosial. Cain mencatat bahwa menurut riset, siswa introver di sekolah cenderung lebih bagus nilainya dan lebih berpengetahuan. Bahkan, para pemimpin yang membawa perubahan di dunia termasuk dalam kelompok kaum introver, seperti Mahatma Gandhi, Eleanor Roosevelt, dan Rosa Parks. Cain juga menyebut tokoh-tokoh agama seperti Nabi Muhammad, Nabi Musa, Nabi Isa, dan Buddha, melakukan perubahan di masyarakat dengan daya reflektif mereka yang bertolak dari ruang hening (Cain, 2012).


Minimnya Sarana dan Siasat Menyemarakkan Kegiatan Membaca

Dari uraian ini, maka program membaca buku nonpelajaran selama 15 menit sebelum pembelajaran dimulai sebagaimana disebutkan dalam Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti (PBP) sangatlah cocok untuk dijadikan titik tolak pengembangan kemampuan membaca sebagai landasan pendidikan unggul. Tentu saja dibutuhkan program-program yang lain untuk meningkatkan kemampuan membaca di sekolah sesuai dengan potensi, permasalahan, dan konteks lokal masing-masing.

Agus M. Irkham, pegiat literasi, menanggapi peraturan menteri tersebut dengan menyinggung perpustakaan desa dan perpustakaan daerah untuk turut mengambil peran meski diakui bahwa pelaksanaannya masih cukup sulit. Selain itu, dia juga mengingatkan kewajiban pemerintah untuk membangun perpustakaan sekolah. Seruan ini berangkat dari kenyataan bahwa ketersediaan perpustakaan sekolah di Indonesia masih sangat minim. Dia mengutip data yang menyebutkan bahwa SD yang memiliki perpustakaan sekolah berjumlah 30 persen, SMP 36 persen, dan SMA 54 persen (Irkham, 2015). Harian Kompas edisi 23 April 2012 melaporkan bahwa dari 3.100 perguruan tinggi swasta di Indonesia, hanya 35 persen yang punya perpustakaan relatif baik.

Minimnya fasilitas inti, yakni perpustakaan sekolah, untuk meningkatkan kemampuan membaca ini menjadi permasalahan mendasar yang harus mendapatkan perhatian jika kita semua, khususnya pengurus publik, percaya bahwa keunggulan di bidang pendidikan akan sangat baik jika dibangun di atas dasar kemampuan membaca atau kecintaan pada buku. Namun demikian, terlepas dari minimnya sarana, tentu saja para pegiat pendidikan, pengurus publik, pengurus sekolah, para guru, dan masyarakat, harus terus berupaya bersiasat mengatasi kekurangan dan kelemahan di lingkar kewenangannya masing-masing dengan kegiatan yang sesuai dan terjangkau.

Saat terlibat dalam program penanaman kebiasaan membaca di SMA 3 Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, bersama beberapa guru kami menginisiasi program yang disebut Perpus Masuk Kelas. Di lembaga pendidikan yang belum memiliki perpustakaan sekolah ini, kami memilih cuplikan naskah yang bersumber dari buku, majalah, surat kabar, atau internet yang menarik dan memiliki keunggulan tertentu. Cuplikan yang berkisar antara sekitar 500 hingga 1500 kata diketik ulang di selembar kertas folio dan tiap naskah diperbanyak sekitar 40 lembar.

Naskah cuplikan dipilih dengan kriteria tertentu, di antaranya bahwa ia mengangkat tema atau ide yang menarik dan atau inspiratif serta dekat dengan kehidupan atau pengalaman siswa, memiliki gaya bertutur naratif atau mudah dicerna, dan bisa mendukung kegiatan pembelajaran dan pendidikan. Lebih dari sekadar cuplikan, naskah tersebut dilengkapi dengan kamus kecil di bagian akhir untuk memudahkan siswa dalam mencerna tulisan sekaligus memperkaya perbendaharaan kosakata.

Sekitar 100 naskah dengan beragam tema yang saat ini kami miliki ini diantarkan tiap hari ke ruang kelas pada jam pelajaran pertama. Ada perangkat administrasi yang dibuat untuk mencatat naskah yang sudah dibaca di tiap kelas setiap hari agar siswa dapat membaca naskah yang bervariasi.

Tanggapan positif siswa kami temukan dalam beberapa bentuk. Ada siswa yang ingin memfotokopi naskah tertentu. Ada yang menyalin beberapa kosakata baru. Ada yang ingin membaca buku sumber fragmen naskah.

Untuk program yang kami sebut Perpus Masuk Kelas inilah para guru dapat berkontribusi bersama-sama dengan saling menyumbang naskah terpilih sehingga sekolah bisa memiliki naskah yang lebih banyak. Kami membayangkan jika banyak guru dan sekolah yang mencoba menghimpun naskah terpilih seperti ini, maka sekolah-sekolah dapat bertukar dan saling memperkaya naskah (Mushthafa, 2013: 147-156).

Selain itu, SMA 3 Annuqayah juga membuat program Perpus-dalam-Kelas. Sekolah membuat lemari kecil yang diletakkan di semua kelas, lalu lemari itu diisi dengan buku-buku pilihan untuk dibaca siswa. Juga karena dana yang terbatas, buku-buku dalam Perpus-dalam-Kelas ini dipilih dengan cukup ketat dengan kriteria yang serupa dengan pemilihan naskah Perpus Masuk Kelas. Saat ini tiap kelas di SMA 3 Annuqayah memiliki rata-rata sekitar 50 eksemplar buku terpilih.

Program penanaman kebiasaan membaca yang lainnya berupa Tantangan Membaca. Dalam waktu tertentu, dalam hal ini satu bulan, siswa ditantang untuk membaca 5 buku terpilih di antara buku yang tersedia di kelas masing-masing. Bukti ketuntasan membaca berupa ringkasan atau resensi dengan alur umum dan kisi-kisi yang diarahkan dari sekolah. Siswa yang bersedia memaparkan pengalaman membaca mereka tidak hanya diberi sertifikat, tapi juga penghargaan buku dari sekolah.

Kegiatan Tantangan Membaca ini belakangan cukup populer di sekolah-sekolah di Indonesia berkah perjuangan gigih seorang aktivis literasi, Satria Dharma, yang juga menjadi tokoh kunci dalam organisasi Ikatan Guru Indonesia (Dharma, 2014: 52-59). Pada pertengahan 2015, Dinas Pendidikan Pemerintah Kota Surabaya menerbitkan surat yang meminta sekolah-sekolah di Surabaya untuk melaksanakan program Tantangan Membaca di jenjang SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/SMK/MA. Kebijakan ini di antaranya merupakan bagian dari kelanjutan dari pencanangan kota Surabaya sebagai Kota Literasi pada 2 Mei 2014.

Tiga program di atas adalah contoh siasat yang bisa dilakukan sekolah untuk menumbuhkan kebiasaan membaca intensif di kalangan siswa. Tentu saja, program semacam ini membutuhkan dukungan yang juga bersifat sistemik. Artinya, ada dukungan dari para pengambil kebijakan di sekolah sehingga program semacam ini dapat terlaksana dengan baik.

Untuk bisa mendapatkan dukungan, idealnya para pimpinan dan guru di sekolah punya visi yang sama dalam memandang peran strategis kemampuan membaca bagi siswa. Lebih dari itu, sebenarnya dalam masalah ini keteladanan guru dan kepala sekolah menjadi penting. Harus diakui, salah satu masalah yang menghambat dorongan membaca di sekolah di antaranya adalah belum kuatnya teladan dari para guru. Guru kadang hanya mendorong untuk membaca tapi bahkan tidak tahu untuk memberikan contoh bahan bacaan yang bermutu.

Peluang-peluang kegiatan yang lain untuk menumbuhkan kebiasaan membaca dan mendekatkan siswa dengan buku juga masih terbuka. Di antaranya berupa kegiatan yang sifatnya kerja sama di antara sekolah-sekolah atau lembaga yang telah melaksanakan program tertentu di bidang pembiasaan membaca. Demikian pula, kegiatan-kegiatan lain yang lebih menekankan kepada peningkatan peran guru dan pengelola sekolah untuk penanaman atau penguatan pembiasaan membaca.


Reorientasi Visi Pendidikan Unggul

Sekali lagi, untuk menggerakkan dan menghidupkan upaya penanaman kebiasaan membaca di sekolah pada tingkat paling dasar dibutuhkan visi di kalangan guru, pengelola sekolah, dan pengambil kebijakan terkait di tingkat lokal. Persepsi para guru, pengelola sekolah, dan pengambil kebijakan tentang ciri atau kriteria pendidikan unggul akan menentukan apakah penanaman kebiasaan membaca di sekolah akan memperoleh dukungan nyata—baik secara kebijakan maupun juga secara anggaran.

Sejauh ini, ada kesan bahwa keunggulan di sekolah lebih banyak ditentukan oleh persepsi yang bersifat populer yang secara relatif di antaranya juga dibentuk oleh media. Dalam beberapa tahun terakhir, kriteria keunggulan sekolah juga dipersepsikan dengan prestasi pada ajang-ajang lomba seperti olimpiade sains nasional atau internasional. Beberapa sekolah secara sengaja menargetkan dan mengupayakan agar siswanya dapat meraih prestasi di lomba bertaraf nasional atau internasional tersebut. Namun begitu, ukuran yang seperti ini pun kadang bisa tampak bersifat dangkal karena terkesan hanya memanfaatkan siswa tertentu demi popularitas.

Penelitian Raihani (2011: 99-103, 150-157, 211-217, 277-281) tentang kepemimpinan sekolah transformatif di beberapa sekolah di Yogyakarta di antaranya mengemukakan pandangan komunitas sekolah tentang keberhasilan sekolah (sekolah sukses). Dari tiga sekolah negeri yang diteliti, tidak ada yang secara khusus menyebutkan kemampuan membaca sebagai salah satu tolok ukur atau indikator keberhasilan sekolah. Jawaban yang muncul menyebutkan bahwa keberhasilan sekolah dapat diukur dengan nilai Ujian Nasional, seberapa banyak lulusannya yang diterima di perguruan tinggi terkemuka, ketersediaan fasilitas modern yang lengkap, kedisiplinan, keterampilan kerja, dan sebagainya.

Istilah “sekolah unggul” di antaranya diperkenalkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Wardiman Djojonegoro, pada 1994. Waktu itu, sekolah unggul adalah sekolah yang disiapkan secara khusus seperti dengan seleksi khusus untuk siswa baru, sarana penunjang yang mendukung, guru yang mumpuni, dan sebagainya. Namun, konsep dan praktik sekolah unggul yang seperti ini tidak lepas dari kritik karena dinilai cenderung diskriminatif (Permanasari, 2015).

Mengarahkan kembali kemudi sekolah untuk meraih keunggulan dengan berdasar pada kemampuan membaca tampaknya dapat mengatasi soal diskriminasi dan kecenderungan pemaknaan yang dangkal ini. Dengan siasat dan kerja sama yang baik, program pembentukan kebiasaan membaca di sekolah sangat mungkin dilakukan meski bentuk nyatanya memang perlu disesuaikan dengan situasi sekolah masing-masing. Dengan kekuatannya yang cukup besar dan potensial, kemampuan membaca dapat pula menjadi strategi untuk mengatasi berbagai keterbatasan di dunia pendidikan kita, sebagaimana tergambar dalam kutipan berikut:

...sebagai ruang belajar, buku mampu menembus berbagai keterbatasan yang dimiliki oleh ruang belajar seperti di sekolah. Kurikulum, kebijakan pendidikan nasional, keterbatasan alokasi waktu, dan mungkin faktor-faktor teknis lainnya, menjadi tantangan yang bisa menghambat pemenuhan semangat keilmuan murid di sekolah. Sebaliknya, buku menyerahkan banyak faktor penentu ruang belajar kepada si pembaca, sehingga dia dapat lebih leluasa dalam memenuhi hasrat dan semangat keilmuan serta “keliaran” imajinasi dan kreativitasnya (Mushthafa, 2013: 144).

Senada dengan ini, A. Dardiri Zubairi (2014) membagikan kisah-kisah siswa di lingkungannya yang disebutnya “siswa pinggiran” yang dapat mengatasi berbagai keterbatasan fasilitas di sekolahnya dan keterbatasan ekonomi di keluarganya di antaranya berkat tempaan kemampuan membaca yang ditumbuhkan di sekolah. Menurut Dardiri, kultur membaca dan menulis mampu merawat mimpi-mimpi anak-anak di madrasah pinggiran untuk melampaui kondisi sosio-historisnya “sebagai anak keluarga miskin, anak desa, dan anak yang seringkali mengalami perlakuan diskriminatif serta dipandang sebelah mata karena sekolah di madrasah”.

Sampai di sini, kiranya terjawab sudah bahwa amanat Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti yang di antaranya memuat program pembiasaan membaca bernilai strategis jika didalami dan dikembangkan. Bahkan, jika dipahami secara mendalam, dicermati makna kontekstualnya, dan dilaksanakan secara ajek, program ini dapat benar-benar mendukung pada program pendidikan karakter.

Sudah saatnya para pengelola pendidikan dan pengurus publik terkait melakukan langkah-langkah pengembangan pendidikan yang lebih pokok, lebih bermakna, memberi dampak jangka panjang, dan mampu menjawab tantangan zaman. Penekanan pada upaya penanaman kebiasaan membaca secara mendalam diharapkan dapat menjadi modal yang kuat untuk menyiapkan generasi yang tangguh dan kritis. Dari mereka, diharapkan kemajuan peradaban masyarakat yang kuat dan beradab sebagai sebuah bangsa dapat lebih mudah dicapai.

Wallahu a‘lam.


Bahan Rujukan

Azzarnuji, tt, Ta‘lim al-Muta‘allim: Thariq al-Ta‘allum, Surabaya: Nurul Huda.

Cain, Susan, 2012, “The Power of Introverts,” presentasi TED Talks di Long Beach California pada Februari 2012, diakses di https://www.ted.com/talks/susan_cain_the_power_of_introverts/transcript?language=en pada 25 Juli 2013.

Carr, Nicholas, 2011, The Shallows: Internet Mendangkalkan Cara Berpikir Kita?, Bandung: Mizan.

Dharma, Satria, 2014, The Rise of Literacy, Surabaya: Eureka Academia.

Duckworth, Angela Lee, 2013, “The Key to Success? Grit,” presentasi di TED Talks Education di New York pada April 2013, diakses di https://www.ted.com/talks/angela_lee_duckworth_the_key_to_success_grit/transcript?language=en, pada 23 Juli 2013.

Farndon, John, 2011, 50 Gagasan Luar Biasa yang Mengubah Dunia, Jakarta: Gramedia.

Freely, John, 2011, Cahaya dari Timur: Peran Ilmuwan dan Sains Islam dalam Membentuk Dunia Baru, Jakarta: Gramedia.

Hadar, Ivan A., 2000, “Buku dalam Banjir Elektronika,” Harian Kompas, 29 Juli 2000.

Hart, Michael H., 2012, 100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia, Jakarta: Noura Books.

Hitti, Philip K., 2005, History of the Arabs: Rujukan Induk dan Paling Otoritatif tentang Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Serambi.

Irkham, Agus M., 2015, “Minat Baca Tak Bisa Menunggu,” dalam Harian Koran Tempo, 19 Agustus 2015.

Leahy, Louis, 2001, Siapakah Manusia? Sintesis Filosofis tentang Manusia, Yogyakarta: Kanisius.

Leksono, Ninok, 2011, “Membaca Kita, Sekarang, dan Esok Hari,” kata pengantar dalam buku Nicholas Carr, 2011, The Shallows: Internet Mendangkalkan Cara Berpikir Kita?, Bandung: Mizan.

Mushthafa, M., 2013, Sekolah dalam Himpitan Google dan Bimbel: Visi Pendidikan, Tantangan Literasi, Pendidikan Lingkungan, Yogyakarta: LKiS.

Mushthafa, M., 2014, “Inspirasi al-Qur’an untuk Literasi,” Harian Radar Surabaya, 7 Desember 2014.

Nistanto, Reska K, 2015, “Pengguna Internet Indonesia Tembus 88 Juta,” Kompas, 26 Maret 2015, diakses di http://tekno.kompas.com/read/2015/03/26/14053597/pengguna.internet.indonesia.tembus.88.juta pada 10 Desember 2015.

Permanasari, Indira, 2015, “Sekolah Unggul dan Penyakit Kambuhan Tahun Ajaran Baru,” Harian Kompas, 14 Juli 2015, diakses di http://print.kompas.com/baca/2015/07/14/Sekolah-Unggul-dan-Penyakit-Kambuhan-Tahun-Ajaran pada 10 Desember 2015.

Raihani, 2011, Kepemimpinan Sekolah Transformatif, Yogyakarta, LKiS.

Rusman, 2013, “Pengakses Internet di Indonesia dalam Angka,” dalam Majalah Intisari, April 2013.

Sugiharto, I. Bambang, 1998, “Tafsir dalam Permainan,” dalam Ahmad Sahal, dkk (Ed.), Utan Kayu: Tafsir dalam Permainan (Karya Pilihan Komunitas Utan Kayu), Jakarta: Yayasan Kalam.

Suparno, Paul, 2015, Pendidikan Karakter di Sekolah: Sebuah Pengantar Umum, Yogyakarta: Kanisius.

Zubairi, A. Dardiri, 2014, “Membangun Kultur Baca dan Menulis: Ikhtiar Merawat Mimpi Siswa ‘Pinggiran’,” makalah Seminar Hari Pendidikan Nasional bertema “Memajukan Kehidupan Bangsa dengan Jejaring Gerakan Literasi di Sekolah” di SMA 3 Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep, 24 April 2014.


Tulisan ini dimuat di Jurnal Literasi Volume 01 Nomor 01 Desember 2015-Februari 2016 yang diterbitkan oleh Dewan Pendidikan Kabupaten Sumenep.

Read More..

Sunday, 7 February 2016

Upaya Mengatasi Literalisme


Judul buku: Seni Memahami: Hermeneutik dari Schleiermacher Sampai Derrida
Penulis: F. Budi Hardiman
Penerbit: Kanisius, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, 2015
Tebal: 344 halaman
ISBN: 978-979-21-4345-4


Dalam salah satu bukunya, Jalaluddin Rakhmat pernah mengungkapkan sebuah penelitian yang menyatakan bahwa 70 persen waktu bangun kita digunakan untuk berkomunikasi. Lalu apa jadinya jika komunikasi yang berlangsung antarmanusia itu justru gagal?

Kegagalan dalam berkomunikasi pada dasarnya merupakan kegagalan untuk memahami. Jika kegagalan itu terjadi pada tingkat perseorangan atau dalam hal-hal biasa mungkin dampaknya tidak akan terlalu terasa. Namun apa jadinya jika kegagalan memahami itu terkait dengan hal-hal penting seperti yang tertuang dalam teks-teks otoritatif, yakni teks yang memiliki kewenangan luas, seperti teks terkait otoritas agama atau otoritas politik?

Buku karya F. Budi Hardiman ini menyajikan pemikiran yang bersifat metodologis tentang seni memahami yang dikemukakan oleh para filsuf hermeneutik modern. Ada delapan filsuf yang disajikan di sini, yakni Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, Bultmann, Gadamer, Habermas, Ricoeur, dan Derrida. Kedelapan filsuf ini menyajikan gagasannya tentang apa itu memahami, bagaimana langkah-langkahnya, dan apa saja titik masalah pentingnya.

Istilah “seni” dalam judul buku ini merujuk pada Schleiermacher (w. 1834) yang memaksudkan “seni” di sini sebagai “kepiawaian”. Menurut Schleiermacher, upaya memahami itu ada yang sifatnya spontan dan ada pula yang memerlukan upaya tertentu. Upaya di sini dibutuhkan karena sering kali kita menghadapi situasi yang memuat kesalahpahaman.a

Apalagi dalam konteks kehidupan masyarakat modern yang ditandai dengan kemajemukan. Kesalahpahaman itu menurut Schleiermacher disebabkan oleh prasangka (Vorurteil) saat orang hanya mau menggunakan sudut pandangnya sendiri di hadapan orang lain. Pada titik ini, hermeneutik juga berarti seni mendengarkan, yakni upaya untuk menangkap perspektif orang lain.

Schleiermacher dianggap sebagai pelopor hermeneutik modern karena ia berhasil melepaskan hermeneutik dari disiplin spesifik, seperti teologi, hukum, dan filologi. Sebelumnya, hermeneutik berkembang sebagai bidang khusus.

Hermeneutik Schleiermacher bersifat psikologis karena tujuan utamanya adalah untuk mengungkap dan menghadirkan kembali secara utuh maksud si penulis. Dalam pengertian ini, memahami adalah juga berempati. Namun begitu, Schleiermacher juga menekankan pentingnya interpretasi gramatis dalam proses memahami yang harus dilakukan serentak dengan interpretasi psikologis.

Jika Schleiermacher berhasil membangun dasar bagi hermeneutik universal, Dilthey (w. 1911) meletakkan hermeneutik sebagai salah satu metode ilmiah, khususnya bagi ilmu sosial-kemanusiaan. Dilthey menerobos dominasi positivisme dengan menyatakan bahwa ilmu sosial-kemanusiaan memerlukan metode yang berbeda dengan ilmu-ilmu alam, yakni hermeneutik. Menurut Dilthey, dalam ilmu sosial-kemanusiaan, kita mendekati objek dengan melibatkan diri untuk memahami makna, bukan dengan cara berjarak sebagaimana dalam menghadapi objek ilmu-ilmu alam.

Jika dalam pemikiran Schleiermacher dan Dilthey memahami berada di ranah kognitif, Heidegger (w. 1976) membawa hermeneutik ke wilayah ontologi. Menurutnya, memahami adalah cara Dasein (manusia) bereksistensi. Ia terkait dengan “kemampuan seseorang dalam menangkap kemungkinan-kemungkinannya sendiri untuk berada”. Sebelum masuk dalam wilayah kognitif, ada pra-struktur memahami yang akan mengarahkan proses memahami seseorang.

Sementara itu, Habermas (l. 1929) memberi misi emansipatoris dalam tindakan memahami. Habermas memfokuskan pembahasannya pada teks abnormal, yakni jenis teks yang sebenarnya bahkan tidak bisa dipahami oleh si pembuat teks. Teks abnormal ditemukan dalam kasus psikopatologis dan perilaku kolektif hasil indoktrinasi. Kedua kasus ini merupakan hasil dari bentuk “komunikasi yang terdistorsi secara sistematis”. Karena itu, hermeneutik kritis berupaya untuk membebaskan subjek agar ia dapat meraih otonominya.

Derrida (w. 2004) membawa tindakan pemahaman dalam situasi radikal. Dengan metode dekonstruksi, Derrida menghidupkan perspektif yang berubah-ubah sehingga makna suatu teks tak pernah dapat distabilkan dan diguncang dari dalam.

Sisi menarik gagasan yang diuraikan dengan sangat bernas di buku ini terletak pada kerangka yang dibuat oleh penulisnya yang merupakan dosen di STF Driyarkara, Jakarta. Menurut Budi Hardiman, berbagai pemikiran hermeneutik dari para filsuf ini adalah sebuah upaya untuk mengatasi literalisme. Pemaknaan literal atas teks-teks otoritatif dapat mendorong lahirnya praktik radikalisme dan ekstremisme agama maupun juga sikap antidemokratis dalam politik.

Budi Hardiman mengutip Karen Armstrong yang memberi contoh penafsiran literal kaum Yahudi. Orang Yahudi berpendapat bahwa Allah telah menjanjikan Kanaan (Israel modern) untuk mereka sehingga kebijakan opresif atas orang Palestina memperoleh pembenaran.

Problem penafsiran literal dalam agama juga dijumpai dalam Kristen dan Islam. Kaum literalis berpegang pada asumsi bahwa teks suci membawa kebenaran yang sifatnya siap pakai dan tak perlu dipahami dengan cara lain yang mungkin rumit. Literalisme percaya bahwa makna harfiah sifatnya final, sedangkan hermeneutik berupaya untuk melihat teks dalam model intertekstual dan mempertimbangkan berbagai faktor lain dalam teks dan di luar teks secara lebih luas.

Pemikiran hermeneutik yang disajikan buku ini menarik dan bermakna penting karena pada tingkat mendasar tindakan memahami adalah upaya untuk menjangkau orang lain dan merawat hubungan antarmanusia yang lebih bermartabat dan lebih baik. Dengan demikian, buku ini adalah tentang kehendak untuk menjalin hubungan etis dengan orang lain.

Memang, posisi metodologis hermeneutik dalam kajian agama masih diperdebatkan karena ia dianggap bersumber dari perspektif sekuler. Namun demikian, dalam kaitannya dengan teks keagamaan, pemikiran hermeneutik yang tersaji di buku ini bagaimanapun dapat membantu memperkaya dan mempertajam misi profetis agama sekaligus menjaganya dari penyimpangan akibat godaan kekuasaan dan bentuk penyelewengan lainnya.


Versi yang sedikit berbeda dimuat di Harian Jawa Pos, 7 Februari 2016, dengan judul "Sebuah Seni Mendengarkan Orang Lain."


Read More..

Thursday, 4 February 2016

Membentuk Karakter di Sekolah


Judul Buku: Pendidikan Karakter di Sekolah: Sebuah Pengantar Umum
Penulis: Paul Suparno, SJ
Penerbit: Kanisius, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, 2015
Tebal: 176 halaman
ISBN: 978-979-21-4367-6


Dalam beberapa tahun terakhir, konsep pendidikan karakter menjadi tema paling hangat dan menonjol. Perubahan kurikulum sebagai bagian penting dari upaya perbaikan mutu pendidikan juga dikaitkan dengan pendidikan karakter. Bahkan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pertengahan 2015 lalu meluncurkan program Penumbuhan Budi Pekerti (PBP) melalui Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 yang isinya berkesinambungan dengan program pendidikan karakter yang dicanangkan beberapa tahun sebelumnya.

Buku yang ditulis oleh mantan rektor Universitas Sanata Dharma Yogyakarta ini berusaha untuk memberikan pemahaman yang cukup lengkap tentang pendidikan karakter di sekolah. Pembahasannya meliputi latar situasi dan landasan sehingga pendidikan karakter menjadi penting, pengertian pendidikan karakter, siapa saja yang perlu dilibatkan di sekolah, model pelaksanaan dan contohnya di sekolah, dan juga penilaiannya.

Di bagian awal, Paul Suparno menegaskan bahwa pendidikan karakter sangat penting untuk diseriusi jika kita mencermati situasi dan persoalan bangsa serta tantangan globalisasi. Pada tingkat yang mendasar, berbagai persoalan bangsa seperti pelaku korupsi yang tak kunjung jera, konflik dan tindak kekerasan di masyarakat, kepekaan pada kaum pinggiran, dan sebagainya, sangat terkait dengan pendidikan karakter (hlm 14-20).

Sementara itu, tantangan globalisasi menghadirkan tantangan yang berat. Masyarakat dituntut untuk punya daya saing yang lebih baik. Arus informasi justru cenderung lebih banyak merusak mental generasi muda. Pada tingkat yang cukup jauh, globalisasi yang di antaranya dicirikan dengan arus informas yang semakin cepat bahkan dapat mendorong sikap instan sehingga daya juang dan kerja keras sulit terbentuk.

Dengan melihat pada struktur dasar hakikat manusia yang kaya dimensi, Paul Suparno menegaskan peran penting pendidikan untuk menyiapkan generasi yang berkarakter. Melalui proses pendidikan di sekolah, siswa dibantu untuk mengalami, memperoleh, dan memiliki sejumlah karakter yang diinginkan (hlm. 29).

Paul Suparno menyatakan bahwa faktor penentu pendidikan karakter itu banyak sehingga semua pihak di sekolah harus terlibat, mulai dari siswa, guru, karyawan, pengelola dan pengambil kebijakan, orangtua, dan juga masyarakat.

Kelebihan buku ini di antaranya terletak pada kesederhanaan dan kejelasannya dalam memaparkan pendidikan karakter di sekolah. Pada bagian selanjutnya, Paul Suparno menjelaskan model-model pendidikan karakter yang bisa dilaksanakan di sekolah. Kesimpulannya, Paul Suparno menegaskan bahwa pendidikan karakter harus dilaksanakan secara utuh, yakni tidak hanya melalui pemaparan di dalam kelas, tapi juga melalui program, kegiatan (baik ekstra maupun kokurikuler), dan situasi (seperti aturan, dsb) yang ada di sekolah (hlm. 93).

Paul Suparno juga menguraikan berbagai bentuk pelaksanaan pendidikan karakter melalui pelajaran di kelas. Pendidikan karakter bisa masuk lewat isi bahan pelajaran, juga lewat metode mengajar dan sikap dalam belajar, juga dalam praktik materi tertentu.

Selain uraian yang cukup teperinci, buku ini juga memberi contoh konkret bentuk-bentuk pendidikan karakter yang mungkin dilakukan di sekolah, mulai dari jenjang SD, SMP, dan SMA/SMK. Dalam memberi contoh, Paul Suparno berangkat dari contoh nilai atau karakter tertentu yang kemudian diturunkan dalam bentuk program atau kegiatan di sekolah (hlm. 139-154).

Buku ini penting dibaca tidak saja oleh para guru dan kepala sekolah, tapi juga para calon guru dan pendidik pada umumnya. Pemahaman yang baik yang diperoleh dari buku ini diharapkan dapat lebih meningkatkan mutu pendidikan karakter sehingga mutu kehidupan masyarakat menjadi semakin baik. Bagaimanapun, tujuan mendasar pendidikan sangat terkait dengan keberhasilan pendidikan karakter. Bila pendidikan karakter terabaikan, berarti salah satu fokus utama proses pendidikan tak mencapai hasilnya, yakni membentuk pribadi manusia yang kuat dan beradab sehingga mampu menjawab tantangan zaman.


Versi yang sedikit berbeda dari tulisan ini dimuat di Koran Jakarta, 4 Februari 2016.


Baca juga:
>> "Meradikalkan" Revolusi Mental di Sekolah


Read More..