Saturday, 5 July 2014

Merawat Silsilah Keimanan


Saat beberapa pekan lalu berada di tengah puluhan bahkan mungkin ratusan peziarah di makam Maulana Malik Ibrahim di kota Gresik, saya bertanya-tanya: apa yang membuat orang-orang ini beramai-ramai datang ke tempat ini? Apa sebenarnya yang menjadi penarik atau magnet di tempat ini sebagaimana di makam-makam Wali Songo lainnya?

Meski dibesarkan di lingkungan pesantren, saya baru tersadar bahwa ternyata lingkungan terkecil saya, yakni keluarga dan perkampungan Pesantren Annuqayah di Guluk-Guluk, Sumenep, rasanya tidak memiliki tradisi ziarah yang sangat kuat. Tak ada rombongan ziarah yang sifatnya rutin dan diikuti oleh jumlah yang besar ke makam Wali Songo setiap tahunnya.

Saya mendengar kisah orang-orang yang berziarah ke makam Wali Songo atau makam para wali dan ulama lainnya dengan latar nazar tertentu. (Dalam tradisi Islam, nazar berarti janji untuk berbuat sesuatu (dalam hal ini: berziarah) saat maksud seseorang terkabul.) Ada pula orang yang berziarah lantaran sedang menghadapi satu masalah berat yang ingin diselesaikan atau memiliki hajat tertentu yang ingin diwujudkan.

Tentu saja saya tak bisa menebak isi kepala orang-orang yang saya lihat saat itu. Para peziarah itu, yang di antaranya saya lihat mengenakan pakaian seragam, masing-masing menyimpan maksud kedatangannya ke tempat itu dalam dirinya masing-masing. Saya sendiri saat itu sebenarnya berada di tempat itu selama beberapa waktu secara kebetulan.

Namun, saat saya sadar bahwa saya ada di makam Maulana Malik Ibrahim, saya jadi terpikir sesuatu. Saya teringat buku-buku sejarah Wali Songo dan buku sejarah masuknya Islam di Indonesia, seperti yang ditulis Agus Sunyoto dan Azyumardi Azra. Ingatan saya menyebutkan bahwa Maulana Malik Ibrahim yang inskripsi makamnya bertuliskan angka tahun 882 H/1419 M dianggap sebagai penyebar Islam tertua di tanah Jawa. Dalam buku Atlas Wali Songo (2012), Agus Sunyoto mengutip pendapat beberapa sejarawan yang menegaskan hal ini.

Tepat dalam statusnya sebagai penyebar Islam tertua di tanah Jawa itulah pikiran saya mengatakan bahwa nilai penting ziarah ke makam Maulana Malik Ibrahim ini mungkin adalah untuk merawat dan menyegarkan jalinan silsilah keimanan saya. Jika Maulana Malik Ibrahim adalah penyebar Islam tertua di tanah Jawa maka tentu saja keyakinan keagamaan yang saya miliki dan ajaran keagamaan yang saya anut saat ini bersumber dari peranannya itu. Keimanan saya pastilah tersambung dengan kepercayaan yang serupa dengan Maulana Malik Ibrahim itu.

Saya jadi terpikir bahwa di setiap tempat, dengan skala yang sempit hingga luas, pastilah ada tokoh kunci yang menjadi pelopor dakwah Islam sehingga ajaran agama Islam menjadi hidup dan berkembang di sana. Dan dalam hal ini, Maulana Malik Ibrahim berada dalam konteks tempat dengan skala yang luas.

Menurut saya, sangat pantas kiranya kita memberi penghormatan dan berupaya merawat silsilah keimanan kita dengan cara yang secara subjektif cocok untuk diri kita masing-masing. Bagi saya, berziarah ke Maulana Malik Ibrahim dan atau para pelopor dakwah Islam lainnya, seperti untuk wilayah Madura kita mengenal Kiai Kholil Bangkalan, dapat menjadi upaya reflektif dan spiritual untuk merawat dan menyegarkan bangunan keimanan diri saya.

Yang pertama mungkin semacam rasa syukur dan penghormatan, karena mereka, para ulama dan pendakwah itu, telah menjadi perantara bagi sampainya keimanan dan ajaran Islam pada diri saya. Selain itu, kadar ketokohan, spiritualitas, serta kecintaan dan kedekatan mereka dengan Allah swt pada tingkat tertentu nilainya sangatlah istimewa, sehingga menjadi faktor penting yang membuat umat Islam tertentu seperti saya yang dibesarkan dalam tradisi pesantren bertawasul (tawassul) melalui para wali tersebut.

Kerangka seperti ini tampaknya penting untuk digarisbawahi untuk memberi nilai lebih pada kegiatan ziarah yang selama ini sering dilakukan oleh umat Islam Indonesia pada khususnya. Ziarah ke para wali atau ulama jika bisa jangan hanya dilakukan lantaran adanya keperluan yang sifatnya “pragmatis” saja, tapi juga diletakkan sebagai upaya untuk menelusuri jalinan keimanan kita dan merefleksikannya secara subjektif dalam diri kita masing-masing. Dengan demikian kita berharap agar bangunan keimanan kita dapat terus terawat dan dapat tersambung ke sumber pokok keimanan kita, yakni Allah swt.

Hanya Allah-lah yang dapat memberi pertolongan untuk kita. Wallahu a‘lam.

Read More..

Sunday, 22 June 2014

Pertanggungjawaban Pribadi


Dan sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu Kami ciptakan pada mulanya, dan kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia) apa yang telah Kami karuniakan kepadamu; dan Kami tiada melihat besertamu pemberi syafa'at yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu Tuhan di antara kamu. Sungguh telah terputuslah (pertalian) antara kamu dan telah lenyap daripada kamu apa yang dahulu kamu anggap (sebagai sekutu Allah) - (Q., s. al-An‘am/6: 94)



Manusia adalah makhluk individu dan juga makhluk sosial. Dalam menjalani kehidupannya, manusia seringkali membina kemitraan dengan orang lain, baik itu individu, kelompok, lembaga, dan sebagainya. Kemitraan yang dijalin manusia dengan orang lain dilakukan dengan harapan agar dapat membantunya menemukan kehidupan yang lebih baik.

Untuk tujuan ini, bentuk kemitraan yang dilakukan manusia bisa juga berupa agama yang di antara ajarannya mendorong kecintaan pada Tuhan dan berbuat baik kepada sesama. Di sisi lain, terkadang manusia juga percaya bahwa harta benda dapat menolongnya mengantar pada kehidupan yang bahagia.

Di manakah sebenarnya kita mesti meletakkan berbagai bentuk jalinan kemitraan yang kita bangun selama hidup di dunia? Apa maknanya semua itu jika pada akhirnya kita dipisahkan dari dunia ini oleh kematian?

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, dituturkan bahwa Nabi menjelaskan bahwa yang menyertai mayat ke alam akhirat itu hanya amalnya. Keluarga dan hartanya akan tetap di dunia. Catatan amal selama di dunia itulah yang akan menjadi perhitungan kelak di akhirat.

Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Nabi menjelaskan bahwa amal manusia di dunia itu semuanya terputus bila ia sudah meninggal. Namun ada tiga amal yang masih akan menambah catatan amal kebaikannya meski ia sudah meninggal: sedekah jariah, ilmu yang diambil manfaatnya, dan anak saleh yang mendoakan orangtuanya.

Hadis ini kurang lebih memberikan penegasan untuk ayat 94 surat al-An‘am ini. Ayat ini menerangkan bahwa kelak manusia itu akan kembali kepada Allah (di hari kiamat) sebagai pribadi. Artinya, segala amal pada masa hidup seseorang akan dipertanggungjawabkan secara pribadi di hadapan Allah. Semua jalinan kemitraan, entah itu hubungan keluarga, keanggotaan sebuah organisasi, jabatan, dan harta benda, tak akan ada gunanya lagi di akhirat nanti. Suami atau istri, anak dan sanak keluarga yang lain, guru dan pembimbing spiritual, dan yang lainnya, tidak akan bisa membantu kita di akhirat nanti. Hanya amal kebaikan kita saja yang akan bisa mewujudkan kebahagiaan kita di akhirat.

Lebih jauh, al-Razi menulis bahwa ayat ini di antaranya menegaskan bahwa pada hakikatnya manusia itu bergerak dari alam yang sifatnya jasmani menuju alam rohani. Dari dunia menuju akhirat, pada akhirnya hanya amal kebajikanlah yang akan berharga—tidak lainnya. Karena itu, hal yang bersifat fisik-jasmani sejatinya hanya akan bernilai sejauh ia bisa membuahkan bekal kebajikan yang dapat dibawa ke akhirat nanti. Sungguh merugi jika hal-hal yang bersifat fisik-jasmani itu oleh manusia selama berada di dunia tidak dimanfaatkan untuk menghimpun bekal ke akhirat.

Mengingat akan wujud pertanggungjawaban pribadi di akhirat nanti sebagaimana digambarkan ayat ini, kita diingatkan untuk tidak tertipu dengan pesona kehidupan dunia. Bahwa berbagai macam hal yang tampak dapat melindungi kita saat ini dan membuat nyaman kehidupan kita sekarang ini bisa jadi kelak sama sekali tak ada nilainya.


Daftar Pustaka

Abu Zakariyya Muhyiddin bin Syaraf Annawawi, Riyadlus Shalihin, Alharamayn, t.t., 2005.

Fakhruddin Muhammad bin ‘Umar bin al-Husayn al-Razi, al-Tafsîr al-Kabîr (Mafâtîhul Ghayb), Dârul Kutub al-‘Ilmiyyah, Beirut, 2004.

Wahbah al-Zuhayli, al-Tafsîr al-Munîr fî al-‘Aqîdah wa al-Syarî‘ah wa al-Manhaj, Dârul Fikr, Damaskus, 2009.


Esai ini dikutip dari buku Al-Qur'an al-Karim: The Wisdom (Penerbit Al-Mizan, Bandung, Mei 2014). Tentang proses kreatif penulisan esai ini, silakan baca tulisan ini.


Read More..

Wednesday, 28 May 2014

Rasa Iba dan Perilaku Nista


Setiap manusia normal pasti memiliki sisi perasaan yang bisa membuatnya gembira, marah, sedih, haru, dan sebagainya. Mendapatkan sesuatu yang menyenangkan, kita bisa gembira. Menyaksikan kesewenangan, kita bisa marah. Tertimpa musibah, kita bisa sedih. Menemukan ketulusan, kita bisa terharu.

Tak ada yang salah jika seorang manusia memiliki perasaan-perasaan itu. Yang penting takarannya tepat dan situasinya memang wajar, tidak dibuat-buat. Jika berlebihan atau tidak ditempatkan secara pas, perasaan-perasaan itu bisa saja menggiring kita untuk berbuat sesuatu yang tercela dan nista.

Kemarahan mungkin bisa membuat kita bertindak di luar batas hak dan wewenang kita. Kesedihan berlebihan mungkin bisa membuat kita putus harapan. Kegembiraan atau rasa haru mungkin juga bisa membuat kita lupa diri sehingga berbuat seenaknya, seperti mengambil hak orang lain, dan semacamnya.

Setan mungkin memang begitu cerdik menguntit kita di antara berbagai perasaan yang mungkin mendatangi kita secara wajar. Pada saat itu, setan mungkin mendorong kita dan membumbui perasaan kita dengan seribu satu resep yang kemudian bisa membuat kita tidak tepat dalam menyikapi perasaan manusiawi tersebut.

Terkait hal ini, saya punya pengalaman pribadi saat saya merasa begitu haru dan iba. Bukan pada siapa-siapa, tapi pada ibu saya.

Saat itu baru saja lebaran Iduladha tahun 2010. Ibu saya ingin mengunjungi salah satu adik saya yang mondok di Pondok Pesantren Darul Falah, Bangsri, Jepara. Mumpung liburan, ibu dan saya tidak punya tugas mengajar atau kesibukan khusus lainnya. Maka tepat pada malam hari di hari lebaran, dengan menggunakan angkutan umum, saya bersama ibu saya berangkat menuju Bangsri, Jepara.

Singkat cerita, setelah dari siang hingga sore berjumpa dengan adik saya, sowan ke kiai, melihat-lihat pondok, dan sebagainya, pada sore sekitar pukul 16.15 WIB kami berdua hendak pulang ke Madura.

Ibu dan adik saya di PP Darul Falah, Bangsri, Jepara

Kami menunggu angkutan umum menuju kota Jepara dari Bangsri. Cukup lama kami menunggu, angkutan umum rata-rata penuh sesak. Rupanya ini memang jam-jam terakhir angkutan umum menuju kota Jepara dan memang angkutannya terbatas. Akhirnya kami pun menemukan angkutan yang sebenarnya sudah cukup sesak. Saya bersama ibu naik ke angkutan dengan agak berdesakan. Untung kami bisa menemukan tempat duduk. Ternyata keadaan angkutan umum pedesaan di Jepara tak jauh berbeda dengan angkutan umum di kampung saya.

Tak sampai setengah jam, kami tiba di kota Jepara. Sekali lagi, kami cukup kesulitan menemukan angkutan ke Kudus. Para penumpang tampak memenuhi bus tanggung menuju Kudus sampai terlihat sebagian berdiri berdesakan. Cukup lama menunggu bersama beberapa orang yang tampaknya juga hendak ke Kudus, saya coba bertanya. Ternyata memang demikian angkutan ke Kudus jelang petang, selalu ramai dan sesak.

Daripada tak menemukan angkutan, akhirnya kami putuskan untuk ikut salah satu bus yang sudah penuh. Naik ke atas bus, saya dan ibu saya sudah tak menemukan tempat duduk lagi. Kami harus rela untuk berdiri berdesakan.

Saat itulah, di tengah perjalanan ke Kudus, saya sesekali menatap ibu saya yang berdiri sambil berpegangan di antara para penumpang. Saya merasa begitu haru dan iba. Ibu saya, yang usianya saat itu sudah hampir 60 tahun, tak memperlihatkan ekspresi yang kusut. Ibu tampak biasa saja. Sementara saya merasa gelisah menyaksikan ibu harus berdiri berdesakan di angkutan umum sore itu.

Jarak sekitar 30 km ke kota Kudus terasa lama. Pikiran saya melayang-layang memikirkan ibu yang masih tak kunjung menemukan tempat duduk. Orang-orang mungkin sama-sama kecapekan sehingga tak siap untuk berbagi tempat duduk. Saya berusaha untuk mengerti. Tapi ini ibu saya, ibu yang saya saksikan tiap hari ketulusannya dalam membesarkan anak-anaknya, ibu yang saya tahu juga begitu penuh perhatian kepada murid-muridnya di kelas dan di pondok, ibu yang saya tahu sangat peduli dengan para tetangga dan tamu-tamu yang berkunjung ke rumah.

Saya teringat ibu saya saat dia dulu menyiapkan daging abon untuk putrinya yang sedang belajar di Jombang. Dia menyiapkan sendiri di dapur, lalu tiba-tiba saat itu tangannya kecipratan minyak goreng yang sedang panas di atas penggorengan. Saya teringat ibu saya saat malam-malam mencucikan pakaian putra-putrinya di rumah dan rela menunda waktu istirahatnya setelah seharian penuh—ya, seharian penuh—ke sana kemari dengan berbagai hal. Saya teringat ibu saya yang kadang memanggil seorang tetangga yang kebetulan melintas di sebelah timur rumah saat ibu punya sesuatu yang bisa dibagi untuknya.

Pikiran saya terhenti berkelana saat sadar bahwa jalanan sudah cukup gelap. Cahaya lampu mulai menerangi jalanan dan bangunan-bangunan di kiri kanan.

Pada akhirnya, sekitar maghrib, kami tiba di Terminal Jetak yang merupakan terminal kedua di kota Kudus dan menjadi penghubung utama ke Jepara. Terminal tipe C itu sudah terlihat gelap. Bus yang kami tumpangi menurunkan penumpang di luar terminal.

Sadar dengan suasana terminal yang kelihatan lengang, pikiran saya jadi gelisah. Masih adakah angkutan kota ke Terminal Kudus untuk melanjutkan perjalanan ke Surabaya? Kami bertanya kepada orang di situ, dan katanya kadang masih ada. Kami pun menunggu. Cukup lama, yang ditunggu tak datang jua. Akhirnya kami pun putuskan untuk menunggu sambil berjalan ke arah kota.

Kami berjalan dengan pelan sambil sesekali melihat siapa tahu ada angkutan melintas. Kadang kami melihat ada angkutan kota yang mendekat, tapi ternyata ia sudah tak hendak ke Terminal Kudus. Sopirnya sudah mau pulang ke rumah.

Cukup lama juga kami berjalan. Saya mulai merasa agak gerah. Saya lihat ibu saya. Ibu tampak biasa saja. Saya berpikir untuk mencari sekadar tempat duduk di pinggir jalan untuk beristirahat sejenak. Tapi kebetulan di sekitar saya tak melihat tempat yang bisa menjadi tempat istirahat.

Akhirnya, setelah cukup lama, kami menemukan angkutan kota yang bisa mengantar kami. Bukan ke Terminal Kudus, tapi kata si sopir, kami bisa menunggu bus ke Surabaya di situ. Alhamdulillah.

Selama di angkutan itu, pikiran saya kembali pada bayangan ibu tadi sore yang berdiri di angkutan dan juga ibu yang berjalan cukup jauh sampai menemukan angkutan ini. Saya seperti menyesal, mengapa saya tidak mengusahakan untuk menyewa mobil untuk perjalanan ke Jepara ini. Ya, keluarga kami memang tidak punya kendaraan pribadi, termasuk sepeda motor. Tapi saya pikir kami bisa menyewa mobil untuk perjalanan ini. Namun saya sadar bahwa menyewa mobil dari Sumenep ke Jepara tidaklah murah, paling tidak untuk ukuran kantong keluarga kami.

Andai kami membawa mobil sewaan ke Jepara, tentu ibu tidak harus berdiri berdesakan dari Jepara ke Kudus dan tidak harus berjalan kaki cukup lama saat petang ketika mencari angkutan yang dapat mengantar kami ke Terminal Kudus.

Saya membayangkan, pengalaman seperti tadi, perasaan iba menyaksikan ibu yang tampak “menderita”, saya jadi terpikir: mungkin pengalaman-pengalaman seperti ini bisa mengubah seseorang berpikir untuk melakukan sesuatu yang tidak semestinya. Andai saya kemudian, di waktu-waktu berikutnya, punya kekuasaan, atau punya pintu menuju kekuasaan, bisa jadi rasa iba saya pada ibu saya itu dapat menggiring saya untuk menyalahgunakan kekuasaan saya guna mengobati kekecewaan dan mungkin rasa bersalah saya karena telah membiarkan ibu saya punya pengalaman kurang nyaman seperti itu. Saya bisa saja berbuat sesuatu yang nista.

Saat itu saya jadi terpikir mungkin beberapa orang yang menyalahgunakan kekuasaannya dengan melakukan tindakan korupsi ada yang di antaranya berangkat dari motif kompensasi atas derita atau rasa iba yang ia temui, termasuk iba atas diri sendiri atau orang-orang terdekat yang dicintainya. Untuk situasi seperti inilah maka mungkin muncul istilah nepotisme.

Perasaan iba itu lalu mungkin mengubah diri seseorang untuk melupakan nilai-nilai moral atau bentuk-bentuk ukuran kepatutan sosial lainnya. Tepat pada titik inilah mungkin terletak situasi yang membahayakan kita saat tenggelam dalam perasaan di luar takaran yang wajar. Rasa iba, sebagaimana perasaan lainnya, dapat melelapkan akal sehat sehingga mungkin saja kita berbuat sesuatu yang “tidak masuk akal” dengan melanggar norma-norma sosial.

Kembali pada rasa haru dan iba saya atas pengalaman bersama ibu tersebut, saya percaya bahwa bagaimanapun, ketulusan ibu saya juga menjadi salah satu kunci penting untuk tetap menjaga saya dari perasaan yang berlebihan. Ketulusan ibu saya untuk mengunjungi salah seorang adik saya di pondok di Jepara dan kerelaannya untuk dengan cara apa pun bisa memenuhi keinginannya itu menurut saya insya Allah turut menularkan semangat dan energi positif untuk saya sehingga—alhamdulillah—saya masih bisa terjaga dari sisi buruk perasaan yang melebihi takaran.

Sampai di sini, saya berdoa semoga Allah senantiasa menjaga ibu saya dan keluarga saya pada khususnya untuk senantiasa terhindar dari perasaan yang berlebihan sehingga dapat membuat kami lepas dari nilai-nilai dan norma yang kami yakini. Lebih khusus lagi, semoga Allah senantiasa menjaga ibu saya dan memberi rahmat dan keselamatan di dunia dan akhirat. Karena dari ibu saya, kami senantiasa belajar banyak hal tentang hidup yang mulia. Amien.


Baca juga:
>> Dunia Ayah Kian Menyempit

Read More..

Monday, 26 May 2014

Saat Kacamata Pengetahuan Mengubah Dunia


Pernahkah Anda merasakan situasi saat pengetahuan atau informasi tertentu menempatkan Anda di posisi yang berbeda di dunia? Bagaimana sebenarnya pengetahuan atau informasi mengubah cara pandang Anda dalam melihat dunia?

Bayangkanlah tiga sosok manusia yang tengah mengunjungi sebuah kebun binatang atau, sebagai contoh agar lebih jelas, Taman Safari Prigen, Pasuruan. Tiga sosok itu adalah anak kecil, seorang dewasa biasa, dan satu lagi seorang dewasa yang pernah berkenalan dengan ide tentang animal welfare (kesejahteraan binatang).

Seorang anak kecil yang baru pertama kali melihat aneka binatang liar di Taman Safari tentu saja akan merasa sangat heran dan mungkin juga merasa riang. Dari dalam kendaraan, ia dapat menyaksikan binatang-binatang yang sebelumnya mungkin hanya ia kenal melalui gambar atau cerita gurunya. Binatang-binatang itu tak pernah ia jumpai di lingkungan tinggalnya sehingga pertama-tama ia mungkin akan merasa takjub. Mungkin ada banyak pertanyaan yang ia lontarkan, mulai dari nama, habitat, makanan, atau hal teperinci lainnya, yang bisa membuat orang dewasa yang menemaninya merasa terganggu dan mungkin sedikit kesal.

Seorang anak kecil mungkin akan menilai aneka satwa itu sebagai sesuatu yang eksotis: istimewa dan aneh. Saat ia berkesempatan melihat hewan-hewan itu secara lebih dekat, bisa jadi rasa takjub dan riangnya semakin bertambah. Sebagian rasa penasarannya mungkin terjawab. Namun keheranannya bisa bertambah saat ia menyaksikan beberapa hewan menampilkan pertunjukan sirkus di hadapan para pengunjung.

Ia menyaksikan beberapa ekor gajah menampilkan sepenggal kisah mereka di hutan, dikejar pemburu liar, menyelamatkan dan membela diri, terluka, ditolong polisi hutan, dan seterusnya. Gajah-gajah itu tampak begitu pintar dan terlatih, bisa memahami pikiran dan ucapan manusia, mampu mengikuti alur cerita sedemikian rupa, dan secara sangat baik memperagakan beberapa atraksi dengan amat mahir. Di akhir bagian, gajah-gajah itu dengan tenang melayani para penonton yang hendak foto bersama.

Di lain tempat, beberapa ekor lumba-lumba ia lihat berdansa penuh gaya, mengejar bola yang dilempar si pelatih ke udara, atau melompati lingkaran yang digantung di ketinggian. Mereka tampak begitu pintar. Mereka tampak begitu riang saat mendapatkan tepuk riuh para penonton.



Di mata seorang dewasa pada umumnya, Taman Safari dan berbagai pertunjukan satwa itu nilainya mungkin tidak seheboh tanggapan anak kecil yang pikirannya masih sederhana. Mungkin orang-orang dewasa itu akan membawa pengetahuan umum mereka saat mereka berjumpa dengan berbagai satwa itu. Mereka yang memiliki pengetahuan cukup baik di bidang biologi mungkin akan berusaha mencocokkan pengetahuan yang ia punya dengan apa yang ia saksikan. Mereka yang hanya punya pengetahuan umum mungkin hanya akan berpikir tentang tempat asal satwa-satwa itu dan bagaimana mereka bisa bertahan hidup di habitat baru mereka ini. Mereka mungkin membayangkan betapa sibuknya pengurus Taman Safari ini memberi makan satwa-satwa itu setiap hari. Apalagi satwa-satwa itu berjenis karnivora. Bagaimana pula cara para penjaga merawat kesehatan mereka?

Namun mungkin dunia akan tampak berbeda saat pengetahuan memberi kita kacamata yang akan memberi warna baru pada apa yang ada di hadapan kita.

Mungkin memang benar. Pada pandangan pertama, kita semua mungkin akan merasa takjub dengan pemandangan aneka satwa itu. Namun, berikutnya, pengetahuan kita tentang dunia satwa akan menjadi kacamata yang akan memberi warna tertentu dalam melihat lebih jauh satwa-satwa itu.

Mereka yang sudah pernah bertemu dengan gagasan tentang animal welfare (kesejahteraan binatang) mungkin akan melihat satwa-satwa itu dari sudut pandang yang berbeda. Secara sederhana, animal welfare adalah keadaan satwa yang sehat, nyaman, aman, dan sejahtera. Tiga tahun lalu, saya pernah mengikuti pemaparan Drh. Wita Wahyu, salah seorang anggota dewan penasihat ProFauna, tentang animal welfare ini. Menurut Drh. Wita, setidaknya ada lima hal yang harus diperhatikan untuk menjamin terpenuhinya animal welfare ini, yaitu bahwa satwa itu bebas dari rasa lapar dan haus, bebas dari rasa tidak nyaman, bebas dari rasa sakit, bebas mengekspresikan perilaku normal, dan bebas dari rasa tertekan.

Satwa liar dipandang punya hak untuk mendapatkan animal welfare. Manusia akan dianggap bersalah jika mengabaikan hak satwa liar ini.

Untuk contoh yang lebih konkret, kita bisa mengambil dari film The Cove. Film dokumenter tahun 2009 ini menuturkan perjalanan Rick O’Barry, seorang aktivis pembebas lumba-lumba, bersama rekan-rekannya dalam merekam penangkapan dan pembantaian lumba-lumba yang rutin dilakukan di sebuah teluk kecil di Taiji, Jepang. O’Barry, yang merupakan mantan pelatih lumba-lumba di serial televisi pertama yang menampilkan lumba-lumba, melalui film dokumenter yang mendapatkan penghargaan Academy Award 2010 sebagai film dokumenter terbaik ini membuka mata kita betapa lumba-lumba sirkus seperti di Taman Safari atau di tempat lainnya tak mendapatkan kenyamanan atau bisa kita sebut tersiksa.

Dalam The Cove, digambarkan bahwa di alam liar lumba-lumba bisa menempuh jarak sekitar 40 mil dalam sehari. Ia makhluk yang suka berkelana di tengah luas samudera. Bayangkanlah bagaimana rasanya saat ia dikurung dalam kolam yang luasnya tak seberapa.

Ric O’Barry juga menuturkan bahwa lumba-lumba itu makhluk akustik yang sangat peka dengan suara. Telinga adalah indra penting mereka. Di awal-awal industri hiburan lumba-lumba, kata O’Barry, banyak lumba-lumba yang tidak bisa bertahan lama di kolam karena sistem penyaringan suara yang buruk dan membuat lumba-lumba itu tertekan (stres) dan mati.

Bagaimana teknologi kolam lumba-lumba saat ini khususnya terkait dengan pengelolaan suara? Saya tidak tahu pasti. Yang jelas bisa kita lihat, seperti di Taman Safari, adalah soal ukuran kolam yang terbatas. Selain itu, saya juga teringat pemaparan O’Barry yang menjelaskan bahwa dalam industri hiburan lumba-lumba, digunakan obat-obatan tertentu untuk mengurangi tingkat stres lumba-lumba saat tampil menghibur.

Dalam The Cove digambarkan bahwa Taiji adalah penyedia terbesar lumba-lumba yang disalurkan ke tempat-tempat hiburan di dunia. Seekor lumba-lumba untuk sirkus bisa dihargai hingga 150.000 dolar Amerika. Di Taiji, lumba-lumba yang tidak cocok untuk sirkus diambil dagingnya. Diperkirakan, sekitar 23 ribu lumba-lumba ditangkap di Jepang setiap tahun.

Poster film The Cove dan foto Rick O'Barry. Sumber gambar: Wikipedia

Jadi, penampilan lumba-lumba sirkus yang kelihatan riang gembira itu tampaknya sungguh menipu. Apalagi para penonton yang hanya bisa melihat dari sisi luaran dan tidak mendapatkan informasi tentang lumba-lumba sirkus sebagaimana dalam film The Cove tersebut. Karena itu, di mata seorang dewasa yang sudah pernah menonton film The Cove, penampilan lumba-lumba di Taman Safari mungkin akan membuat ia sedih. Ia dapat memperkirakan penderitaan lumba-lumba yang tengah dipaksa menghibur ratusan penonton itu.

Apakah hewan-hewan sirkus semuanya menghadapi penderitaan seperti lumba-lumba itu? Saya tidak tahu pasti. Tapi konon hewan-hewan sirkus itu pada umumnya mula-mula dilatih dengan memadukan siksaan dan sistem reward and punishment. Ia dibuat paham dengan perintah tertentu yang dalam proses latihannya ia bisa disiksa bila tidak mengikuti perintah yang diinginkan dan akan diberi upah (dalam bentuk makanan) jika mau tunduk pada perintah.

Demikianlah. Pengetahuan tertentu kadang dapat memberi kita kacamata baru sehingga dunia akan tampak begitu berbeda dari biasanya. Memang kadang kacamatanya justru membuat kita gelisah, seperti dalam kasus lumba-lumba di atas. Kita tidak jadi terhibur menyaksikan lumba-lumba di Taman Safari, tapi mungkin jadi berpikir lebih jauh dan mungkin juga berempati. Ini mungkin termasuk jenis pengetahuan yang menggelisahkan—the awful truth, dalam istilah Michael Moore.

Jika dunia sudah tampak berbeda bagi seseorang yang punya pengetahuan, lalu bagaimana cerita selanjutnya? Apakah pengetahuan yang telah memberi kacamata berbeda itu dapat memberikan perubahan yang lebih nyata? Jika yang diharapkan adalah perubahan yang lebih nyata, dari manakah ia mestinya bermula? Bagaimana caranya? Hal apakah yang paling penting untuk mewujudkan dan memulai perubahan yang nyata ini?

Sampai di sini, alhamdulillah, saya diingatkan kembali dengan pertanyaan-pertanyaan mendasar yang menalikan pengetahuan dengan dunia dan perubahan nyata.

Wallahualam.

Baca juga:
>> Ironi Pengetahuan


Read More..

Saturday, 17 May 2014

Keruwetan Berbiaya Mahal


Sebelumnya saya memohon maaf kepada para pembaca karena apa yang akan saya tulis ini bukanlah berangkat dari fakta dalam pengertian yang ketat. Saya tidak mengetahui atau menemukan sendiri sebagian besar fakta yang saya sebut dalam tulisan ini. Jadi, saya mungkin seperti bersandar pada dinding informasi yang tidak kuat, karena dinding itu hanya dibangun dari batu bata informasi yang bukan dari tangan pertama. Saya menulis ini di antaranya dengan harapan untuk mendapatkan ketegasan tentang dasar fakta yang saya asumsikan dari para pembaca sekalian.

Saya akan menulis tentang “keruwetan” yang terjadi setelah pemilihan calon anggota badan legislatif—selanjutnya saya singkat “pileg”—yang berlangsung bulan lalu, tepatnya hari Rabu, 9 April 2014. Saya kesulitan untuk menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan titik fokus hal yang akan saya tuturkan, sehingga saya akhirnya hanya bisa menggunakan kata “keruwetan”.

“Keruwetan” yang saya maksudkan adalah hal-hal buruk yang mungkin bisa disebut ekses dari pelaksanaan pileg tersebut. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, “ekses” berarti “hal (peristiwa) yang melampaui batas”. Mungkin ada beberapa atau bahkan banyak hal buruk yang merupakan sesuatu yang berada di seberang tujuan pelaksanaan pileg itu sendiri. Tapi saya hanya akan mencatat beberapa yang saya anggap cukup penting dan terlintas dalam pikiran saya.

Keruwetan pertama, pileg telah menghancurkan ikatan-ikatan sosial yang ada dalam kehidupan masyarakat kita. Banyak orang mengatakan bahwa pileg kali ini sama halnya dengan pemilihan kepala desa (pilkades). Sebagaimana dalam pilkades, seolah-olah sudah tak ada lagi partai—mungkin juga ideologi. Yang ada adalah orang-orang yang maju—katanya—sebagai calon wakil rakyat. Dalam situasi seperti ini, para calon anggota badan legislatif berupaya keras untuk mencapai tujuannya, yakni duduk sebagai wakil rakyat, tanpa harus memperhatikan calon yang lain yang juga berasal dari partai yang sama (yang idealnya mengusung satu napas perjuangan yang sama).

Karena itu, tak heran, setelah coblosan, perseteruan soal hasil penghitungan suara tidak hanya melibatkan partai politik yang berbeda. Tidak sedikit perselisihan terjadi di antara sesama calon yang berasal dari bendera partai yang sama. Perselisihan di sini dalam bentuk konkretnya secara ekstrem berupa pengambilan (atau pencurian) suara. Di sebuah media dalam jaringan, saya membaca perselisihan macam ini yang terjadi di antara beberapa calon dari satu partai untuk tingkat DPR RI dari wilayah Jawa Timur.

Sebenarnya perseteruan macam ini juga bisa terjadi sebelum hari pemilihan. Bentuknya bisa berupa kampanye hitam—dengan tingkat yang berbeda-beda—di antara sesama calon yang bahkan bisa jadi berasal dari satu partai. Saya membaca hal semacam ini di media-media sosial untuk calon-calon yang sifatnya lokal, regional, juga nasional. Perseteruan memang tidak mesti melibatkan calon itu sendiri, tapi terjadi pada tim-tim sukses si calon.

Dalam lingkup yang lebih kecil, di satu desa misalnya, nuansa perseteruan ala pilkades dapat saya rasakan. Dalam kehidupan masyarakat desa, hubungan kekerabatan, faktor tetangga, dan jalinan sosial yang lain bisa menjadi pertimbangan penting. Di desa saya, saya mendengar ada sebuah keluarga membagi suaranya untuk DPRD tingkat kabupaten untuk beberapa calon dengan mempertimbangkan jalinan dan irisan sosial yang ada dalam keluarga mereka dengan beberapa calon.

Dengan model pilkades, biasanya hubungan calon dan pendukung atau mereka yang tidak mendukung akan berlanjut setelah pemilihan. Mereka yang sebelumnya tidak mendukung calon yang terpilih biasanya akan mendapatkan tempat di pinggiran. Situasi ini bisa bertahan beberapa lama—bisa hingga beberapa tahun.

Bahkan, saat pileg kemarin, saya mendengar ada calon yang menyebar uang dan menandai dan menghitung secara teperinci perkiraan dan perolehan suaranya di tiap tempat pemungutan suara (TPS) berdasarkan amplop yang telah disebar sebelumnya. Cara ini katanya diiringi dengan semacam ancaman: bahwa jika ternyata ada selisih suara antara amplop dan hasil di TPS, maka si calon tidak akan bertanggung jawab atas situasi keamanan di wilayah itu.

Beberapa contoh yang saya kemukakan ini menurut saya menunjukkan adanya pertanda terlepasnya ikatan-ikatan sosial dalam kehidupan masyarakat kita. Saya menangkap ada benih-benih penyekatan dalam ruang sosial di antara calon yang saling bersaing itu yang dampaknya bisa cukup mahal dan fatal. Dalam bentuk yang sederhana dan berskala kecil, mungkin sekali muncul kerenggangan antara dua orang atau lebih akibat perbedaan dukungan politik. Dalam bentuk yang lebih rumit, ini bisa meluas pada konflik di antara kelompok-kelompok di masyarakat.

Menurut saya, skala kerenggangan dan konfliknya di antaranya ditentukan oleh kedalaman (intensitas) keterlibatan seseorang dengan calon yang didukungnya, kematangan seseorang dalam melihat perbedaan, dan kerangka politik yang dimiliki si calon yang ditanamkan kepada tim atau pendukungnya. Jika berbagai faktor kunci ini berada dalam kutub negatif, maka mungkin tingkat kerenggangan yang akan dihasilkan bisa cukup ekstrem. Apalagi hal itu terjadi pada tokoh kunci dalam masyarakat yang bisa memengaruhi orang lain.

Hancurnya ikatan-ikatan sosial dalam kehidupan masyarakat kita dari satu sisi berarti hilangnya modal sosial kita sebagai komunitas atau masyarakat. Kehidupan sosial kita tidak akan berjalan dengan baik jika salah satu tali yang mengikat berbagai orang dalam rumpun kehidupan masyarakat lucut. Program-program pembangunan atau semacamnya akan menghadapi kendala yang cukup berarti jika ikatan-ikatan itu telah tercerai berai. Apalagi jika disusul oleh lucutnya tali yang lain. Jika ikatan-ikatan sosial itu lepas, maka itu berarti ancaman bagi kehidupan kita sebagai sebuah bangsa.

Selanjutnya, keruwetan kedua, dengan adanya politik uang yang luar biasa, pileg kali ini cenderung semakin mengarahkan putusnya ikatan suci dunia politik sebagai ranah pengabdian dan menggantinya dengan tujuan yang sifatnya duniawi. Dunia politik lalu cenderung ditampilkan sebagai panggung perebutan kekuasaan.

Para elite politik (partai) cenderung mempertontonkan perilaku, pernyataan, dan juga perseteruan yang menempatkan politik sebagai hal sangat material dan duniawi kepada masyarakat luas. Ini adalah bentuk “sekolah” atau pendidikan yang sangat manjur karena wujudnya langsung berupa contoh, bukan sekadar kata-kata. Bahkan kata-kata bisa berseberangan dengan teladan yang ditampilkan.

Jika ada slogan-slogan ideal yang mungkin kadang dikutip dari teks suci dalam panggung kehidupan politik kita, khususnya dalam kaitannya dengan suasana pileg yang lalu, masyarakat masih kesulitan untuk melihat keterkaitan ungkapan-ungkapan ideal itu dengan praktik politik yang tampak di depan mata. Masyarakat masih cukup sulit untuk menemukan teladan dalam kehidupan politik yang menunjukkan kemanjuran teks-teks suci itu sebagai pengarah laku politik mereka.

Lunturnya misi suci politik dalam kehidupan masyarakat tidak saja menjadi contoh pendidikan politik yang bersifat negatif. Ia juga menenggelamkan salah satu harapan kekuatan sosial yang dapat mengusung perubahan secara sistematis dalam kehidupan bermasyarakat. Politik sebagai proses tawar-menawar terkait tata kelola kehidupan bersama menjadi surut dalam tujuan jangka pendek yang dangkal dan duniawi.

Jika dicermati lebih jauh, dua sisi keruwetan yang saya gambarkan di sini ternyata berbiaya mahal. Banyak orang mengatakan bahwa pileg kali ini tampaknya memang telah semakin ramai dengan politik uang. Bisik-bisik di masyarakat di sekitar saya menunjukkan hal tersebut. Untuk calon anggota badan legislatif di tingkat kabupaten, saya mendengar beberapa calon mengeluarkan dana ratusan juta rupiah. Bahkan tidak sedikit yang di atas satu miliar!

Saya mencoba membayangkan, dari ratusan calon anggota badan legislatif di Sumenep, berapa miliar uang yang bertaburan dalam beberapa bulan di sekitar pileg tahun ini? Demikian juga, berapa dana yang masyarakat keluarkan untuk kepentingan pileg? Kemudian, apa yang mereka dan masyarakat akan dapatkan dari jumlah yang begitu besar itu, setidaknya dalam lima tahun ke depan?

Di media saya membaca berita tentang calon yang gagal yang kemudian berakhir dengan kondisi kejiwaan yang tertekan (stres). Ada pula yang tersiar berusaha menarik kembali uang atau sumbangan yang sebelumnya ia keluarkan. Pada tingkat perseorangan pun, ternyata keruwetan kadang ternyata harus bermodal mahal.

Membaca berbagai keruwetan setelah pileg di atas, masih layakkah kita menaruh harapan? Di kabupaten saya, melihat daftar anggota badan legislatif yang terpilih, saya bersyukur masih bisa melihat beberapa nama yang tampaknya masih bisa diberi harapan. Saya sadar bahwa memang tak ada orang yang sempurna. Tapi saya pikir ada beberapa orang yang insya Allah bisa berbuat sesuatu di sana.

Namun kadang pikiran saya masih terbentur lagi dengan gagasan tentang “dunia dewan” yang tampaknya memiliki aturan (“struktur”) tersendiri. Sebagai sebuah dunia yang secara relatif dapat berdiri sendiri, ia bisa memiliki kekuatan pengubah atau bahkan pengendali pada kehendak dan idealisme seseorang. Untuk mereka yang tadi saya sebut layak diberi harapan, saya bertanya-tanya apakah mereka dapat selamat dari ekses buruk struktur “dunia dewan” tersebut sehingga dengan segala keterbatasannya dunia ideal mereka dapat terus dibawa dan diperjuangkan di sana?

Dari jauh, saya mencoba merawat harapan yang rasanya cukup berat ini. Semoga Allah memberi kekuatan bagi mereka yang punya niat baik untuk berjuang demi kehidupan masyarakat yang lebih baik.


Baca juga:
>> Money Politics Around Us
>> For Whom the People (don't) Hope


Read More..

Saturday, 10 May 2014

Dunia Ayah Kian Menyempit


Sekitar hampir setahun setengah ini, dunia ayah saya kian hari tampaknya semakin menyempit. Hari-harinya hampir sepenuhnya hanya dihabiskan dengan berbaring di kamar. Ayah tak bisa ke mana-mana. Untuk duduk saja ayah sudah mesti dibantu. Ia sudah tak kuasa berjalan tanpa dibantu kursi roda. Bahkan, untuk berdiri tegak pun, ia sudah sangat kesulitan meski dibopong.

Dunia ayah saya benar-benar telah semakin menyempit. Beberapa bulan terakhir, kata-katanya sudah sangat sulit dimengerti, bahkan oleh kami yang sehari-hari hidup bersama dengannya. Dengan wajah yang tampak begitu lelah dan kusut, terkadang ayah berteriak seperti memanggil-manggil orang. Namun kami tidak tahu pasti apa maksudnya.

Dengan pelafalan yang nyaris tak jelas, kami hanya bisa menerka makna yang ada di balik suara ayah yang lebih sering seperti gumaman itu. Kadang kami menangkap rasa pasrah, atau perasaan yang kosong, saat makna di balik lafal-lafalnya itu gagal ditangkap atau dijawab sekenanya. Kadang pula kami menangkap rasa serupa geram. Pada saat seperti itu, saya membayangkan mungkin ayah saya merasa tengah berada di perbatasan dunia. Ayah berusaha berpegang dan bertahan agar tetap berada di satu dunia bersama kami.

Bahasa memang bisa menyatukan dan memisahkan, seperti kisah Iskandar Dzulqarnain yang direkam al-Qur'an, saat ia tiba di antara dua gunung dan penduduknya menggunakan bahasa yang nyaris tak bisa dipahami. Itulah mungkin gambaran tentang batas dunia—dunia kita yang dibatasi bahasa.

Jika dikatakan bahwa makna kata-kata itu sifatnya manasuka, maka kini saya semakin paham betapa kata-kata atau bahasa tidak lebih hanya soal kesepakatan. Manusia belajar berbahasa dan merekam kata-kata dengan menyimpan makna yang sifatnya manasuka itu dalam ingatannya. Lalu bagaimanakah jika kata-kata yang dilontarkan pun dilafalkan dengan tidak jelas dan nyaris seperti manasuka?

Namun begitu, saya percaya bahwa di balik pelafalan yang terganggu, dunia ide ayah saya masih hidup meski mungkin tak semeriah saat ia masih sehat. Dunia ide ayah saya tampaknya masih mampu menangkap suasana bahagia, sedih, dan semacamnya, atau bahkan merekam nama-nama baru yang masuk ke dalam dunianya yang makin menyempit itu.

Saat saya membawa dan memperkenalkan istri saya untuk pertama kalinya ke hadapannya, ayah saya menunjukkan ketersambungannya dengan ungkapan haru dan sesenggukan tertahan. Pernah suatu hari saat saya hanya pulang sendiri ke rumah tanpa istri saya, saya mencoba menguji ingatan ayah saya tentang nama istri saya. Ternyata ayah saya bisa mengingat dan menyebutnya dengan baik.

Tapi bagaimanapun, dunia ayah saya memang kian menyempit. Mungkin kini ayah hanya menyimpan sejumlah gagasan dalam jumlah yang amat sedikit—yang mungkin tak lain hanya berkaitan dengan hal-hal mendasar terkait kebutuhan manusia untuk bertahan hidup ditambah dengan perbendaharaan yang berisi orang-orang terdekatnya.

Menyaksikan dunia ayah saya yang menyempit itu, kadang saya teringat pada saat ayah saya untuk pertama kalinya menyeberang Jembatan Suramadu di pertengahan Juni 2010 saat bersama kerabat yang lain menjemput kedatangan saya dari Eropa. Surabaya—itulah jarak terjauh yang ditempuhnya setelah pada akhir 2007 ayah diserang stroke ringan.

Apakah yang ayah rasakan saat itu, empat tahun yang lalu, saat kami bersama-sama berkumpul dengan lengkap untuk sebentuk rasa syukur atas tuntasnya studi dan kedatangan saya? Saya juga teringat Mei 2007, saat ayah menghadiri wisuda saya di Yogyakarta bersama kerabat-kerabat dekat. Saya melihat foto wisuda saya, menatap ekspresi bahagia ayah di antara istri dan anak-anaknya. Ya Allah, lama saya tak melihat raut wajah ayah yang seperti itu.

Kini, dalam dunianya yang semakin menyempit itu, ayah hampir pasti akan memanggil-manggil kami jika di kamarnya ayah hanya sendiri dan sedang terjaga. Ayah memang tak perlu apa-apa, hanya ingin ada salah satu dari kami di sana. Apakah dunia yang kian menyempit itu telah menghadirkan rasa cemas untuknya?

Ayah saya memang termasuk orang yang suka "kepikiran" saat anak-anaknya pergi ke tempat jauh. Saat untuk pertama kalinya saya berangkat kuliah ke Yogyakarta pada tahun 1997, kami dapat menangkap kecemasannya. Begitu juga saat adik-adik saya melanjutkan studi ke luar kota selang beberapa tahun kemudian.

Dunia ayah kian hari tampak kian menyempit. Beberapa pekan terakhir, saya menyaksikan betapa sulitnya ayah untuk bergerak atau ke kamar mandi meski sudah dibantu. Ya Allah, kadang saya merasa tidak tega saat menangkap ketakberdayaan dan rasa sakitnya saat ayah dibantu berjalan.

Kini, dalam dunianya yang semakin menyempit, saat saya berada di kamar mendampinginya, saya sering bertanya-tanya apakah ayah masih menyimpan gagasan tentang doa dan harapan. Saat pikiran dan dunianya semakin tergerus oleh penyakit dan usia, apakah ayah masih terpikir untuk mendoakan kami, putra-putrinya, seperti dahulu dilakukannya?

Beberapa bulan lalu pernah ada orang yang bertamu untuk meminta doa berkah dari ayah. Saya yang menemuinya di ruang tamu. Saat saya menyampaikan maksud kedatangan si tamu kepada ayah yang terbaring di kamar, ayah tampak masih tersambung. Saya memandu ayah untuk berdoa sesuai dengan maksud kedatangan si tamu, dan ayah terdengar membacakan doa.

Menyaksikan hal ini, saya merasakannya sebagai bagian dari setitik harapan. Menghadapi kehidupan baru dan merasakan beratnya tantangan hidup ke depan, saya tentu sangat berharap dari doa dan perkenan orangtua. Saya percaya bahwa doa mereka akan menjadi kekuatan berharga buat saya. Semoga Allah senantiasa memberkahi kedua orangtua saya. Amien.

Baca juga:
>> Ayah, Apa Kau Masih Bisa Memimpin Pembacaan Shalawat di Perayaan Maulid Tahun Ini?

Read More..

Wednesday, 29 January 2014

Rahmat Allah untuk Jalan ke Surga




Ide penulisan buku ini muncul hampir setahun yang lalu, tepatnya di awal Maret 2013. Saat itu saya baru saja selesai menulis 42 esai al-Qur’an yang diminta oleh Penerbit Al-Mizan, salah satu unit perusahaan PT Mizan Pustaka yang khusus menerbitkan al-Qur’an. Hampir genap dua bulan menulis 42 esai al-Qur’an memberi saya banyak pengalaman berkesan. Secara khusus, saya sangat tertarik dengan gagasan penulisan esai pendek untuk memperkaya pemahaman satu atau serangkaian ayat terpilih dari al-Qur’an yang digagas oleh Al-Mizan.

Setelah penulisan 42 esai al-Qur’an itu rampung, saya tertarik untuk menulis esai-esai al-Qur’an dengan konsep serupa untuk kelompok tema yang berbeda. Saya kemudian mulai memperjelas gagasan saya itu dengan mencoba melihat berbagai kemungkinan. Hal pertama yang harus saya tentukan adalah pilihan tema. Singkat cerita, akhirnya saya memilih tema pernikahan dan keluarga.

Mengapa tema pernikahan dan keluarga? Alasan yang cukup praktis dari sisi perbukuan adalah bahwa saya berpikir jika esai-esai bertema pernikahan dan keluarga ini terbit dalam bentuk sebuah buku mungil, rasanya akan banyak orang yang tertarik karena buku semacam ini di antaranya bisa menjadi kenang-kenangan di acara pernikahan. Tambahan lagi, buku-buku bertema pernikahan dan keluarga belum ada yang mengemas pembahasannya dengan bertolak dari ayat atau kelompok ayat al-Qur’an tertentu.

Selain itu, saya juga punya pikiran yang lebih bersifat personal. Saya juga berpikir bahwa rasanya akan menarik jika di acara pernikahan saya nanti buku semacam ini bisa hadir sebagai kenang-kenangan. Pikiran yang menggoda ini sebenarnya dapat dibilang agak tidak jelas (absurd), karena waktu itu saya belum punya bayangan kapan saya akan menikah dan siapa calon pasangan yang bersedia menikah dengan saya.

Alasan lainnya terkait dengan pokok tema itu sendiri. Ketertarikan saya pada tema pernikahan dan keluarga sebenarnya sudah dimulai sekitar 12 tahun yang lalu, yakni menjelang pertengahan 2002 saat saya baru saja selesai menyunting terjemahan buku karya Khaled M. Abou El Fadl berjudul Conference of the Books: The Search for Beauty in Islam. Di antara kumpulan esai yang menuturkan semangat intelektual era kejayaan Islam itu, saya menemukan satu esai yang membahas tentang pernikahan. Abou El Fadl, intelektual kelahiran Kuwait yang kini menjadi profesor hukum Islam di University of California, Los Angeles, Amerika Serikat, itu memberi bingkai menarik tentang pernikahan dengan berlandaskan pada nilai-nilai spiritualitas Islam.

Buku-buku tentang pernikahan dengan sudut pandang Islam sebenarnya kemudian cukup banyak saya temukan. Tapi hingga kini, esai Abou El Fadl yang berjudul “Partnership with God” (Kemitraan dengan Tuhan) itu masih selalu menarik untuk saya baca. Pada tingkat tertentu, ada nuansa mendalam pada esai itu yang tak saya temukan pada tulisan yang lain.

Sudut pandang Islam tentang pernikahan dan keluarga yang relatif lebih mendalam—katakanlah yang lebih filosofis dan memiliki nilai spiritualitas—menurut saya menarik dan penting jika kita melihat pernikahan dan keluarga sebagai sebuah terminal penting dalam rentang hidup seseorang. Saya teringat sebuah kutipan yang ada di salah satu buku terbitan Qanita, lini penerbit Mizan untuk buku-buku bertema perempuan. Kutipan dari Joseph Barth itu kurang lebih berbunyi: “Pernikahan adalah peluang terakhir kita, dan yang terbaik, untuk menjadi dewasa.”

Kutipan ini pada tingkat tertentu mengemukakan peran penting pernikahan dalam perkembangan pribadi seseorang. Kematangan diri seseorang mungkin belum teruji secara lebih utuh jika ia belum menikah. Demikian pula, dari sisi lain, peluang mematangkan diri bagi orang yang masih belum menikah sebenarnya masih terbuka karena kehidupan berkeluarga mungkin dapat mengantarkannya pada tingkat kematangan tertentu.

Selain dari sudut perkembangan (kedewasaan) pribadi, nilai penting pernikahan tampak dalam peran kependidikannya atau fungsi perwarisan nilai-nilai luhur. Melalui berbagai cara, pernikahan atau keluarga dapat menjadi sarana untuk memperluas dan merawat ajaran agama atau pahala kebajikan agar terus mengalir lintas-zaman. Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumiddin misalnya menyebutkan bahwa di antara manfaat pernikahan adalah kehadiran anak (keturunan), yang darinya dapat diberikan kerangka pandang keagamaan. Memiliki anak di antaranya dapat diniatkan agar ia dapat ikut mendoakan kita sebagai orangtua kelak di kemudian hari. Selain itu, lanjut al-Ghazali, pernikahan juga dapat menjadi sarana jihad-diri (mujâhadah al-nafs). Merawat dan mendidik keluarga, membimbing keluarga agar tetap berada dalam petunjuk Allah, mengusahakan nafkah yang halal, dan peran-peran keluarga lainnya yang membutuhkan kegigihan dan kesabaran, semuanya adalah peran-peran yang nilai keutamaannya sangat besar.

Dalam konteks yang agak berbeda, ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud yang pada tingkat tertentu juga menggambarkan keutamaan peran melestarikan generasi dengan memberikan pendidikan yang baik. Hadits dari Abu Sa‘id al-Khudri itu menuturkan sabda Nabi: “Barangsiapa yang menanggung tiga orang anak perempuan, lalu mendidiknya, menikahkannya, dan memperlakukannya dengan baik, maka ia berhak masuk surga.”

Berbagai keutamaan pernikahan dan kehidupan berkeluarga yang dihubungkan dengan agama sebagai titik utama serta janji surga di ujung lainnya memberikan dorongan tersendiri bagi saya untuk menulis esai-esai al-Qur’an ini. Lebih jauh, apa yang saya lakukan dengan menulis esai-esai al-Qur’an bertema pernikahan dan keluarga dalam buku ini mungkin bisa dikatakan sebagai semacam penggalian lebih lanjut tentang bagaimana Islam, khususnya al-Qur’an, memberikan kerangka pandang dan tuntunan tentang pernikahan dan kehidupan berkeluarga.

Sebagai jalan pencarian diri menuju janji surga dari Allah swt, serta dengan kesadaran bahwa al-Qur'an adalah rujukan dan pedoman dasar umat Islam, buku ini diharapkan juga dapat menjadi pengingat untuk sebuah keinginan agar saya dan istri saya pada khususnya dapat senantiasa menjalani kehidupan berumah tangga dan bermasyarakat sesuai dengan tuntunan al-Qur'an. Selain itu, buku ini juga diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya untuk merawat kecintaan pada al-Qur’an, termasuk pula menyebarkan kecintaan itu pada sesama muslim dan mungkin juga generasi mendatang.

Pada akhirnya, buku ini memang tidak hanya dibuat untuk memuaskan keingintahuan saya semata. Ada hal yang sangat istimewa dari buku ini yang pada tahun lalu, saat konsep buku ini muncul di benak saya, sama sekali masih belum terbayang. Hal yang sangat istimewa itu tidak lain adalah seseorang yang sangat istimewa yang mungkin karenanya pula buku ini bisa terbit saat ini.

Rasanya ada kebahagiaan yang berlimpah saat saya menyelesaikan esai al-Qur’an terakhir untuk buku ini. Ide yang tahun lalu masih tampak samar kini bukan hanya menjadi semakin terang. Sesuatu yang jauh lebih bernilai secara pribadi di balik ide itu saat ini juga telah semakin benderang.

Saya berharap ini semua adalah bagian dari rahmat Allah. Selanjutnya, saya juga berharap bahwa limpahan rahmat dari Allah swt ini dapat menjadi pembuka bagi pintu rahmat yang lain. Saya teringat pada firman Allah di surah Annahl [16] ayat 72 yang menggambarkan berbagai bentuk nikmat Allah dalam kehidupan berkeluarga.

Dengan penuh rendah hati dan penuh harap, saya berdoa semoga kehadiran istri saya, Mudifatul Jannah—sesuatu yang sangat istimewa di balik kehadiran buku ini—dapat menjadi seperti kehadiran Khadijah bagi Muhammad al-Mushthafa. Tariq Ramadan, cucu Hasan al-Banna yang kini berdakwah dan berkiprah di Eropa, pernah menulis bahwa dalam pengalaman spiritual Nabi Muhammad, Khadijah adalah “salah satu tanda gamblang tentang limpahan rahmat dan kecintaan Tuhan kepadanya.”

Untuk itulah, maka ucapan terima kasih yang pertama dan utama saya sampaikan kepada Mudifatul Jannah yang telah bersedia memilih hidup berkeluarga bersama saya. Saya juga berterima kasih dan sangat senang karena dia juga bersedia menulis dua esai dan satu tulisan penutup untuk buku ini.

Yang kedua, saya mengucapkan terima kasih kepada kedua orangtua dan adik-adik saya yang dengan berbagai cara telah mengantarkan saya pada tahap kehidupan saya saat ini. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada guru-guru saya yang telah membekali saya dengan ilmu yang pasti akan sangat bermanfaat dalam kehidupan saya di dunia dan akhirat. Saya akan selalu berhutang budi kepada mereka semua.

Khusus untuk penerbitan buku ini, saya mengucapkan terima kasih kepada Cak Amar Faishal dari Penerbit Al-Mizan (PT Mizan Pustaka) yang telah memberi kepercayaan kepada saya untuk terlibat dalam penerbitan al-Qur’an yang juga memuat esai-esai saya (yang rencananya akan terbit dalam waktu dekat), yang dari situlah kemudian muncul ide penulisan buku kecil ini. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada Qamaruddin SF dan Muhammad Husnil dari Penerbit Serambi (Penerbit Zaman), Jakarta, yang telah memberi masukan untuk konsep awal buku ini. Saya juga berterima kasih kepada beberapa sahabat yang telah memberi masukan pada naskah awal tulisan ini setelah saya tayangkan di blog pribadi saya. Tak lupa saya juga berterima kasih kepada Fahmi yang telah membantu teknis pencetakan buku ini.

Terakhir, saya mohon maaf jika ada hal yang tak sempurna dalam buku ini. Saya sadar sepenuhnya bahwa saya tak punya latar belakang akademik di bidang tafsir atau studi al-Qur’an. Bahkan latar belakang akademik saya di luar bidang keagamaan.

Selain itu, keterbatasan waktu, bahan rujukan, dan teknis lainnya juga membuat proses penulisan buku ini menjadi kurang ideal. Jika disederhanakan, proses penyusunan buku ini memakan waktu sekitar dua minggu. Kami sebenarnya ingin menulis lebih baik. Di beberapa bagian, kami melihat peluang untuk ulasan yang lebih mendalam. Namun, karena berbagai keterbatasan itu, maka misalnya, ada beberapa ayat pernikahan dan keluarga yang tidak dibahas dalam buku ini. Karena itu, kami terbuka untuk berbagai kritik dan masukan yang insya Allah akan dapat menyempurnakan buku ini.

Semoga Allah meridai kehadiran buku ini dan pilihan saya untuk menjalani kehidupan berkeluarga bersama Mudifatul Jannah.

Wa mâ tawfîq illâ bi l-Lâh.


Tulisan ini adalah kata pengantar untuk buku Jalan ke Surga: Esai-Esai al-Qur'an tentang Pernikahan dan Keluarga. Buku ini ditulis bersama Mudifatul Jannah dan diterbitkan sendiri untuk kenang-kenangan syukuran pernikahan saya dengan Mudifatul Jannah, 10 Februari 2014 mendatang.


Baca juga:
>> 42 Esai al-Qur'an
>> Peduli Keluarga, Peduli Masyarakat
>> Tegas dalam Mendidik Keluarga
>> Pesan Moral al-Qur'an untuk Menghargai Perempuan
>> Keagungan Allah dan Kecanggihan Sistem Kehidupan
>> Kisah Penciptaan dan Muatan Nilai Silaturrahim
>> Keberagaman dan Tujuan Penciptaan


Read More..

Monday, 27 January 2014

Peduli Keluarga, Peduli Masyarakat



Dan mereka (hamba-hamba Allah Yang Maha Pemurah itu) senantiasa berkata: “Tuhan Pemelihara kami, anugerahkanlah untuk kami, dari pasangan-pasangan kami serta keturunan kami, penyejuk mata (kami) dan jadikanlah kami teladan bagi orang-orang yang bertakwa." - Q., s. al-Furqan [25]: 74


Doa yang dibaca seseorang menggambarkan sosok kepribadiannya. Diceritakan bahwa saat dizalimi oleh kaum kafir, Nabi Muhammad saw. berdoa: “Ya Allah, berilah petunjuk pada kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.” Doa ini menggambarkan kelembutan akhlak Nabi bahkan terhadap orang yang menyakitinya sekaligus juga memperlihatkan kecintaan Nabi yang besar pada umatnya.

Ayat di atas, yakni surah al-Furqan ayat 74, memuat kutipan doa yang cukup populer di kalangan umat Islam. Doa yang cukup singkat ini berisi permohonan kepada Allah untuk mendapatkan pasangan hidup dan keturunan yang dapat menyejukkan hati dan pandangan kita serta agar seluruh anggota keluarga dapat menjadi teladan bagi orang yang bertakwa.

Al-Qurthubi menjelaskan ungkapan “penyejuk mata” (qurrota a‘yun) dalam ayat ini dengan mengatakan bahwa berdasar asal makna katanya, “qurrah” berarti “dingin” (al-bard). Orang Arab pada umumnya merasa tidak nyaman dengan hawa yang panas di daerah mereka dan merasa senang dengan hawa dingin. Menurut M. Quraish Shihab, beberapa ulama mengemukakan bahwa dalam masyarakat Arab, air mata yang dingin itu menunjukkan kegembiraan, sedang air mata yang hangat menunjukkan kesedihan. Konon, dahulu ini dijadikan patokan saat seorang lelaki melamar seorang perempuan: jika air mata si perempuan ternyata dingin, berarti dia gembira dengan lamaran si lelaki. Sedang jika hangat, berarti si perempuan bersedih atau tidak suka dengan lamaran si lelaki.

Ulama-ulama tafsir menjelaskan makna “penyejuk mata” (qurrota a‘yun) ini dengan menggambarkan pasangan dan keturunan yang berperilaku baik, taat menjalankan perintah agama, dan menjaga diri dari perilaku tidak baik. Anggota keluarga yang demikian ini tentu akan menyejukkan hati karena tidak merepotkan dan menjadi biang masalah dalam keluarga atau masyarakat.

Doa agar pasangan dan keturunan kita dapat menjadi orang yang saleh di satu sisi menunjukkan semangat untuk merawat ketersambungan ibadah atau amal kebaikan lainnya. Kebajikan diharapkan tidak hanya berhenti pada diri orang yang berdoa itu, tapi juga bisa tersambung pada keluarga dan keturunannya. Ini sangat cocok dengan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Hadis tersebut menuturkan penjelasan Nabi bahwa amal manusia itu semuanya terputus saat ia meninggal dunia. Namun ada tiga amal yang masih akan menambah catatan amal kebaikannya meski ia sudah meninggal: sedekah jariah, ilmu yang diambil manfaatnya, dan anak saleh yang mendoakan orangtuanya.

Doa dalam ayat ini juga memuat permohonan agar anggota keluarga kita dapat menjadi teladan (imâm) orang-orang yang bertakwa. Permohonan ini pada tingkat tertentu mengandung semangat dakwah. Doa ini menggambarkan keinginan si pemohon agar dia dan anggota keluarganya dapat menjadi contoh dan pemimpin dalam kehidupan masyarakat.

Quraish Shihab menerangkan kata “imâm” yang digunakan dalam ayat ini. Menurut Quraish, kata “imâm” diambil dari kata “amma-yaummu” yang berarti “menuju, menumpu, meneladani”. Kata “umm” yang berarti “ibu” masih satu akar kata dengan kata “imâm” yang secara umum diartikan “pemimpin” ini. Jadi, menurut Quraish, dari asal usul kata ini kita dapat memahami bahwa pemimpin itu seharusnya menjadi tumpuan dan teladan bagi orang lain. Mungkin atas dasar inilah Ibrahim al-Nakha’i memahami potongan doa kedua ini bahwa yang diminta bukanlah kepemimpinan (riyâsah), tapi keteladanan (qudwah).

Sebagian ulama menerangkan bahwa potongan doa yang kedua ini menunjukkan bahwa Islam mendorong umatnya untuk tertarik dan berusaha berperan sebagai pemimpin dalam kehidupan masyarakat.

Doa yang tercantum dalam ayat ini sebenarnya merupakan rangkaian penjelasan Allah tentang ciri-ciri ‘ibâdurrahmân (hamba Allah Yang Maha Pemurah) yang untuk mereka dijanjikan tempat yang tinggi di surga. Rangkaian penjelasannya yang dimulai dari ayat 63 oleh Wahbah al-Zuhayli kemudian dirangkum dengan menguraikan 11 ciri ‘ibâdurrahmân ini. Ayat yang memuat doa di atas menurut Wahbah menunjukkan ciri ‘ibâdurrahmân yang terakhir.

Menutup ciri-ciri ‘ibâdurrahmân dalam rangkaian ayat tersebut, doa yang termuat dalam ayat di atas ini menunjukkan bahwa sosok ‘ibâdurrahmân tak hanya memiliki kualitas kesalehan yang bersifat pribadi berupa taat beribadah, konsisten menjauhi larangan agama, dan semacamnya. Ia juga dicirikan dengan sikap peduli pada keluarga dan masyarakat. Ia tidak hanya khusyuk sendiri dalam beribadah, tapi juga ingat, berusaha, dan menaruh harapan yang besar pada anggota keluarganya yang lain agar dapat juga taat kepada Allah, teguh pendirian dalam menyebar kebajikan, dan menjadi teladan.

Doa ini memberikan kerangka pandang yang sangat penting dalam meletakkan keluarga dan masyarakat dalam kehidupan beragama dan juga berkeluarga. Ia tampak ingin menegaskan bahwa pribadi yang baik harus juga memiliki sisi kepedulian sosial. Tuntunan ini sebenarnya akan menjadi lebih jelas dan nyata jika kita berkaca pada teladan kehidupan Nabi Muhammad saw.

Wallahua‘lam.



Daftar Pustaka

Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad al-Anshari al-Qurthubi, al-Jami‘ li-Ahkamil Qur’an, Dârul Hadits, Kairo, 2007.

Abu Zakariyya Muhyiddin bin Syaraf Annawawi, Riyadlus Shalihin, Alharamayn, t.t., 2005.

M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah, Lentera Hati, Jakarta, 2009.

Wahbah al-Zuhayli, al-Tafsîr al-Munîr fî al-‘Aqîdah wa al-Syarî‘ah wa al-Manhaj, Dârul Fikr, Damaskus, 2009.


Baca juga:
>> Tegas dalam Mendidik Keluarga
>> Pesan Moral al-Qur'an untuk Menghargai Perempuan
>> Keagungan Allah dan Kecanggihan Sistem Kehidupan
>> Kisah Penciptaan dan Muatan Nilai Silaturrahim
>> Keberagaman dan Tujuan Penciptaan


Read More..

Saturday, 25 January 2014

Tegas dalam Mendidik Keluarga


Hai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Di atasnya (yaitu yang menjaga neraka adalah) malaikat-malaikat yang kasar (hati dan perlakuannya), keras (dalam menyiksa), dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan mereka (senantiasa) mengerjakan apa yang diperintahkan - Q., s. Attahrim [66]: 6


Penanaman ajaran dan nilai-nilai keagamaan baik yang bersifat personal maupun sosial akan lebih mudah dilakukan bila bermula dari rumah. Keluarga adalah unit sosial terkecil yang berperan besar dalam menjalankan fungsi pendidikan dalam kehidupan bermasyarakat. Kehancuran suatu kelompok masyarakat dapat berawal dari terkikisnya peran pendidikan keluarga yang di antaranya tergambar dari ketakpedulian para anggotanya terhadap anggota keluarga lainnya.

Ayat ini menegaskan kewajiban kita untuk menjaga diri dengan memastikan bahwa diri kita dan keluarga kita tidak melakukan pelanggaran nilai dan norma agama yang kelak dapat mengantar ke dalam kobaran api neraka. Secara lebih khusus Ibn ‘Asyur menulis bahwa ayat ini mengingatkan kita agar kecintaan kita pada anggota keluarga jangan sampai menghalangi kita untuk memberikan teguran atau peringatan atau nasihat kepadanya saat ia berbuat salah dengan melanggar nilai dan norma agama.

Terkadang, demi menyenangkan salah satu anggota keluarga kita, kita tidak tegas dalam mengingatkannya. Kita tidak mengacuhkannya. Bahkan, kadang tanpa sadar kita juga terikut pada perbuatan yang tidak benar itu.

Peringatan untuk menjaga keluarga agar tidak keluar dari nilai dan norma agama yang ditegaskan ayat ini tidak berdiri sendiri tanpa latar keadaan tertentu. Jika melihat pada lima ayat sebelumnya yang menjadi pembuka surah Attahrim ini dan cukup terkait dengan ayat ini, maka dalam kitab-kitab tafsir dikemukakan bahwa kelima ayat tersebut menuturkan satu peristiwa sekaligus turun sebagai peringatan Allah atas sikap Nabi saw. yang berjanji untuk tidak melakukan sesuatu demi menyenangkan salah seorang istrinya yang sedang cemburu.

Alkisah, suatu saat Hafshah dan ‘Aisyah diliputi rasa cemburu pada salah seorang istri Nabi, Zaynab binti Jahsy. Penyebabnya, suatu hari Nabi minum madu dan tinggal relatif lama bersama Zaynab. Kebetulan setelah itu Nabi kemudian masuk ke rumah Hafshah, dan Hafshah mencoba mengelabui Nabi dengan mengatakan bahwa dia mencium aroma kurang sedap dari mulut beliau. Singkat cerita, dengan niat untuk menghibur Hafshah, pada akhirnya Nabi berjanji untuk tidak meneguk madu lagi. Sebagai tambahan, Nabi menyampaikan kepada Hafshah agar tidak menyampaikan hal ini kepada ‘Aisyah karena khawatir akan timbul persoalan lain.

Namun ternyata Hafshah membocorkannya kepada ‘Aisyah. Nabi akhirnya mendapatkan informasi soal kebocoran ini dari Allah. Beliau marah dan menurut satu riwayat memisahkan diri dari istri-istrinya selama satu bulan.

Ayat keenam ini, yang merupakan kelanjutan dari rangkaian ayat yang menerangkan peristiwa masalah Nabi dengan Hafshah, memberikan pesan kepada Nabi dan kita semua untuk bersikap tegas dalam menjaga seluruh anggota keluarga agar tetap berada dalam garis norma agama. Nasihat, peringatan, dan petunjuk, haruslah diberikan jika ada anggota keluarga yang berperilaku di luar ajaran agama.

Ilustrasi yang disajikan dalam kitab-kitab tafsir klasik bisa berupa ketegasan dalam mengingatkan pelaksanaan kewajiban agama. Dalam hal ini, dikutiplah sebuah riwayat, bahwa Nabi saw. bersabda: “Perintahkanlah anak-anakmu untuk shalat saat usia mereka tujuh tahun, dan pukullah mereka saat usia sepuluh tahun. Dan pisahkan tempat tidur mereka.”

Gambaran yang lain dapat berupa dorongan untuk melakukan ibadah atau kebajikan. Sebuah riwayat menuturkan bahwa Nabi bersabda: “Allah mengasihi seorang lelaki yang terjaga di malam hari lalu bershalat dan kemudian membangunkan keluarganya. Jika tidak mau bangun, ia lalu memercikkan air ke wajah keluarganya. Allah mengasihi seorang perempuan yang terjaga di malam hari lalu bershalat dan kemudian membangunkan keluarganya. Jika tidak mau bangun, ia lalu memercikkan air ke wajah keluarganya.”

Sikap tegas dalam mendidik anggota keluarga ini jika dicermati menunjukkan satu kerangka landasan kehidupan berkeluarga untuk menjadikan nilai dan norma agama sebagai rujukan utama dalam menghadapi berbagai masalah kehidupan sehari-hari. Masalah apa pun yang dihadapi dalam keluarga mestilah diselesaikan berdasarkan petunjuk dan arahan agama. Sekali lagi, ini menegaskan bahwa kehidupan keluarga semestinya memang diletakkan dalam kerangka “kemitraan dengan Tuhan”, yakni dengan menempatkan Allah dalam puncak segitiga kemitraan bersama pasangan (suami/istri).

Bagaimana pendidikan dalam keluarga dilakukan? Ayat ini mengajarkan tiga nilai mendasar yang terangkum dalam tiga kata kunci: peduli, tegas, dan menghargai. Pertama, harus ada sikap peduli pada anggota keluarga. Elie Wiesel, penerima Nobel Perdamaian tahun 1986 pernah menulis: “Lawan dari cinta itu bukan kebencian, tapi sikap tidak acuh.”

Rasa peduli ini tentu terkait erat dengan rasa tanggung jawab dan kebersamaan. Tanggung jawab ini kelak pasti akan menjadi salah satu bagian yang akan ditagih dan diperhitungkan di Hari Akhir. Sebuah hadis sahih meriwayatkan bahwa Nabi bersabda: “Setiap kamu adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawabannya akan kepemimpinannya. Seorang pemimpin masyarakat akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang laki-laki adalah pemimpin atas anggota keluarganya dan dia akan dimintai pertanggungjawaban.”

Kata kunci kedua, tegas. Sikap tegas dalam mendidik ini dapat tergambar dari kisah Nabi dan Hafshah di atas. Sikap tegas bisa dilihat sebagai bentuk keberanian dan kemampuan untuk mengatasi subjektivitas emosi atau perasaan yang terkadang dapat melunturkan komitmen seseorang pada kerangka dasar pernikahan sebagai “kemitraan dengan Tuhan”. Dalam kejadian di atas, tampak bahwa Nabi pun dapat tergelincir pada sikap yang keliru sampai-sampai mengharamkan hal tidak dilarang oleh agama (minum madu) hanya demi menyenangkan istri beliau. (Inilah latar peristiwa mengapa surah ini diberi nama “Attahrim” yang berarti “mengharamkan”).

Nilai ketiga, menghargai. Dalam ayat ketiga surah ini, al-Qur’an mengajarkan bahwa teguran kepada anggota keluarga haruslah disampaikan dengan cara yang penuh penghargaan, yakni dengan tidak menyebutkan nama orang yang bersalah di depan umum. Ayat ketiga surah Attahrim ini tidak secara khusus menyebutkan nama istri Nabi yang terlibat dalam masalah tersebut. Dikisahkan bahwa salah seorang sahabat Nabi yang juga penafsir al-Qur’an, Ibn ‘Abbas, tak kunjung mengetahui siapa yang dimaksud oleh ayat tersebut hingga sekitar setahun kemudian dari turunnya ayat ini ‘Umar bin al-Khaththab memberitahukannya tentang siapa yang dimaksud ayat itu.

Terakhir, penting untuk disampaikan bahwa perintah al-Qur’an tentang kerangka nilai pendidikan dalam keluarga ini tidak semata-mata ditujukan kepada laki-laki sebagai pemimpin keluarga. Meskipun redaksi ayat ini menunjuk kepada laki-laki, tetapi subjek yang dimaksud ayat ini bukan hanya laki-laki melainkan juga perempuan. Susunan redaksi serupa digunakan al-Qur’an dalam menuturkan perintah puasa. Poin ini juga perlu disampaikan karena sudut pandang ini akan menegaskan kembali status kemitraan dalam kehidupan berkeluarga.

Wallahua‘lam.


Daftar Pustaka

Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad al-Anshari al-Qurthubi, al-Jami‘ li-Ahkamil Qur’an, Dârul Hadits, Kairo, 2007.

‘A’isyah Bintusy-Syathi’, Istri-Istri Nabi saw, Pustaka Hidayah, Bandung, Cet. II, 2004.

M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah, Lentera Hati, Jakarta, 2009.

Muhammad al-Thahir ibn ‘Asyur, al-Tahrîr wa al-Tanwîr, Dâr Suhnun, Tunisia, 1997.

Wahbah al-Zuhayli, al-Tafsîr al-Munîr fî al-‘Aqîdah wa al-Syarî‘ah wa al-Manhaj, Dârul Fikr, Damaskus, 2009.


Baca juga:
>> Pesan Moral al-Qur'an untuk Menghargai Perempuan
>> Keagungan Allah dan Kecanggihan Sistem Kehidupan
>> Kisah Penciptaan dan Muatan Nilai Silaturrahim
>> Keberagaman dan Tujuan Penciptaan


Read More..

Thursday, 23 January 2014

Pesan Moral al-Qur’an untuk Menghargai Perempuan


Hai orang-orang yang beriman! Tidak halal bagi kamu mempusakai (harta atau diri) wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena (kamu) hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya (berupa maskawin atau mengambil warisan dari bekas suaminya), kecuali apabila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata (maka kamu boleh mengambil sebagian dari harta itu dengan menuntut cerai). Dan bergaullah dengan mereka secara ma‘ruf (patut). Selanjutnya apabila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah dan jangan terburu-buru menceraikannya) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.
Dan jika kamu (suami) ingin mengganti pasangan (istri) dengan pasangan yang lain, sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak (berupa maskawin), maka janganlah kamu mengambil kembali darinya sedikit pun. Apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan (melakukan) tuduhan dusta dan dengan (menanggung) dosa yang nyata?
Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sungguh sebagian kamu telah bergaul luas (sebagai suami-istri) dengan sebagian yang lain. Dan mereka (istri-istri) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat (untuk hidup bersama dan saling menjaga rahasia).

Q., s. Annisa’ [4]: 19-21


Pada saat Islam datang, cukup banyak tradisi masyarakat Arab jahiliyah yang tidak menghargai kaum perempuan. Misalnya, ada praktik pertukaran pasangan (nikah al-badal). Ada juga praktik mengizinkan istri yang baru tuntas dari menstruasi untuk “dihubungi” oleh lelaki yang dinilai punya bibit unggul. Praktik-praktik ini dipandang sebagai praktik yang sah.

Perlakukan semena-mena pada perempuan juga terdapat dalam masalah hubungan dalam keluarga. Dalam masyarakat Arab jahiliyah sebelum Islam, bila ada seorang suami meninggal, maka istrinya dianggap milik atau harta warisan untuk anak tiri atau keluarga si suami. Si anak tiri atau keluarga si suami dapat menikahi si perempuan tanpa mahar. Jika pun tidak hendak menikahinya, si anak tiri atau keluarga si suami dapat melarang si istri untuk menikah dengan motif keuntungan materi.

Praktik ini memang tidak direstui oleh kebanyakan masyarakat jahiliyah sehingga oleh mereka disebut nikah al-maqt (pernikahan yang dimurkai). Praktik seperti inilah yang ditegaskan pelarangannya oleh ayat ini. Demikian pula, ayat ini melarang untuk mengambil sebagian maskawin kecuali jika si istri memang terbukti berbuat keji (berzina).

Di samping menegaskan sikap Islam terhadap praktik masyarakat jahiliyah, tiga ayat ini pada dasarnya memang mengatur aspek hukum (fikih) dalam keluarga yang mengalami konflik (perceraian). Wahbah al-Zuhayli menyimpulkan bahwa ketiga ayat ini menegaskan empat ketentuan. Pertama, perempuan tidak boleh dijadikan barang warisan. Kedua, perempuan yang baru ditinggal suaminya tidak boleh dihalang-halangi atau dipersulit untuk menikah kembali. Ketiga, suami harus bergaul dengan istrinya secara patut. Keempat, perempuan harus mendapatkan maskawin secara utuh.

Di balik keempat hal yang disebutkan oleh Wahbah ini yang juga diulas oleh ulama-ulama tafsir lainnya, terdapat beberapa pesan moral Islam untuk menghargai perempuan, khususnya dalam hal kehidupan berkeluarga. Pertama, perempuan harus dipandang sebagai pribadi yang utuh yang juga memiliki harga diri yang sama dengan laki-laki. Ia bukanlah serupa barang atau harta yang dapat diwariskan begitu rupa sebagaimana dipraktikkan oleh masyarakat jahiliyah. Ia adalah seorang pribadi yang juga memiliki kehendak dan bisa membuat keputusan atas masa depan dirinya.

Jika kita coba mempertemukan pesan moral al-Qur’an dengan kerangka pandang filosof Jerman, Martin Heidegger (1889-1976), maka berarti perempuan tidak boleh dipandang sebagai alat (Zuhandenes). Zuhandenes secara harafiah berarti “siap-untuk-tangan”. Keberadaan alat-alat menurut Heidegger berstruktur “untuk”. Gergaji “untuk” memotong. Uang “untuk” membeli sesuatu. Maka jika perempuan dipandang sebagai alat, ia berada “untuk” sesuatu yang lain, yakni untuk laki-laki, sehingga keberadaannya hanya untuk “diperalat”. Ia tidak memiliki nilai (martabat) pada dirinya sendiri.

Menurut Heidegger, manusia (laki-laki dan perempuan) berada dalam kerangka Mitsein (ada-bersama). Budi Hardiman merangkum gagasan Heidegger ini dengan menyatakan bahwa “kita mengenal Ada kita tidak hanya melalui diri kita sendiri, melainkan juga melalui Ada orang-orang lain”. Kerangka semacam inilah yang mungkin didukung oleh al-Qur’an dalam memandang dan memperlakukan kaum perempuan.

Pesan moral kedua, perempuan dalam kehidupan berkeluarga harus diperlakukan secara ma‘ruf (patut). Dalam tafsir-tafsir klasik, hal ini dijelaskan dengan kewajiban suami untuk berperilaku yang lembut, mencukupi nafkah keluarga, menyediakan tempat tinggal yang layak, dan semacamnya. Al-Qurthubi misalnya mengemukakan pendapat ulama secara khusus tentang kewajiban untuk menyediakan pelayan untuk istri. Seringkali, dikutip sebuah hadis untuk memperjelas pesan atau perintah untuk bergaul secara patut ini. Diriwayatkan bahwa Nabi pernah bersabda: “Sebaik-baik kamu sekalian adalah yang berperilaku baik kepada keluarganya. Dan saya adalah orang yang bersikap baik kepada keluarga.”

Perintah bergaul secara patut ini juga berlaku meskipun bahtera keluarga sudah tidak berada dalam situasi yang diharapkan (ideal). Quraish Shihab mengutip dan mendukung pendapat al-Sya‘rawi, ulama Mesir yang meninggal tahun 1999, dalam menjelaskan perintah al-Qur’an yang berbunyi “wa ‘âsyirûhunna bil-ma‘rûf” ini. Menurut al-Sya‘rawi, perintah ini tertuju kepada para suami yang tidak lagi mencintai istrinya. Struktur ayat ini menunjukkan bahwa situasi yang dibahas adalah situasi konflik atau ada hal yang kurang harmonis dalam keluarga. Jadi, walaupun cinta (juga mawaddah) telah pupus, perilaku yang ma‘ruf (patut) harus tetap dijaga.

Alkisah, dahulu ada seseorang yang hendak menceraikan istrinya karena sudah tidak cinta lagi. ‘Umar bin al-Khaththab menanggapi hal itu dengan pertanyaan retoris: “Apa rumah tangga hanya dibina atas dasar cinta? Jika begitu, lalu di mana nilai-nilai luhur? Mana pemeliharaan, mana amanah yang engkau terima?”

Mengiringi perintah untuk bergaul secara patut, ayat di atas berlanjut dengan sebuah peringatan bahwa bisa jadi sesuatu yang sedang dibenci oleh si suami itu memuat banyak kebaikan. Ibn ‘Asyur menjelaskan bahwa bagian ini memberikan petunjuk bagi kita untuk betul-betul berpikir secara matang dan mendalam sebelum membuat keputusan untuk mengakhiri hubungan pernikahan. Jangan sampai kita tertipu oleh hal-hal yang bersifat lahiriah dan gagal menangkap hal-hal baik yang terdapat di balik itu semua. Atau jangan sampai kita membuat keputusan secara sembrono karena kita sedang dikuasai oleh emosi atau syahwat. Demikian penjelasan Ibn ‘Asyur.

Kedua pesan moral yang pada intinya mengingatkan kita semua untuk benar-benar menghargai perempuan atau istri dalam keluarga meskipun berada dalam situasi tidak ideal ini oleh al-Qur’an disajikan dengan dua latar atau alasan (argumen) yang cukup mendasar. Yang pertama, al-Qur’an mengingatkan para suami agar mereka mestinya tidak lupa bahwa antara diri mereka dan istri mereka telah bergaul luas tanpa batas. Untuk menyampaikan pesan ini, al-Qur’an menggunakan kata afdhâ yang berarti “luas”. Kata afdhâ ini biasa juga digunakan untuk menggambarkan keluasan angkasa.

Dijelaskan dalam kitab-kitab tafsir bahwa kata afdhâ dipahami berbeda oleh para ulama. Kebanyakan ulama mengartikannya dengan “berjimak” (bersetubuh). Sebagian memaknainya dengan “berduaan di tempat sepi”. Pendapat mayoritas ulama ini menunjukkan bahwa akad pernikahan yang kemudian memberi status halal bagi pasangan laki-laki dan perempuan untuk berhubungan badan membuka jalan bagi keduanya untuk berbagi semua hal dalam lapisan diri mereka secara penuh. Seolah-olah, tak ada lagi rahasia lahir dan batin di antara mereka.

Dengan hilangnya sekat lahir-batin antara suami dan istri dalam jalinan hubungan pernikahan, maka dengan akal sehat yang cermat dan empati yang mendalam mestinya suami dapat tetap memperlakukan istrinya dengan baik dan penuh kesabaran meski kondisi rumah tangganya sedang retak. Dengan telah hilangnya batas lahir-batin itu, bagaimana mungkin suami akan tega untuk memberi tuduhan palsu kepada istrinya hanya demi memperoleh kembali sebagian maskawin yang telah diberikannya?

Ayat ketiga dalam rangkaian ayat ini menggunakan bentuk kalimat tanya bernada heran setelah didahului oleh bentuk negatif (istifhâm ta‘ajjubî ba‘da-inkâr). Dengan latar dan argumen ini, Ibn ‘Asyur menyebut suami yang melanggar poin ini sebagai seorang yang tidak punya sifat harga diri (murû’ah).

Argumen kedua, al-Qur’an menjelaskan ikatan pernikahan dengan ungkapan mîtsâqan ghalîzhâ (perjanjian yang kuat). Ungkapan ini digunakan al-Qur’an hanya di tiga tempat. Pertama, dalam ayat yang menggambarkan hubungan suami-istri pada ayat ini. Kedua, dalam menggambarkan perjanjian Allah dengan para nabi (Q., s. al-Ahzab [33]: 7). Ketiga, perjanjian Allah dengan bani Israil dalam konteks melaksanakan pesan-pesan agama (Q., s. Annisa’ [4]: 154).

Dari sini kita bisa melihat betapa Allah telah menempatkan ikatan pernikahan secara istimewa karena Dia menyejajarkan ikatan pernikahan itu dengan sesuatu yang agung: perjanjian Allah dengan para nabi.

Dalam sebuah esai menarik, Khaled M. Abou El Fadl menjelaskan status istimewa ikatan pernikahan ini untuk menjadi titik tolak seseorang dalam memahami pernikahan. Dalam ayat yang lain, Allah menyampaikan bahwa dalam pernikahan terdapat anugerah sakinah, mawaddah, dan rahmah. Menurut Abou El Fadl, ini dapat diraih jika kita menempatkan pernikahan sebagai hal yang serius dan istimewa, sebagaimana perjanjian Allah dengan para nabi. Abou El Fadl menawarkan kerangka pernikahan sebagai upaya membangun kemitraan dengan Tuhan (partnership with God).

Apa yang dimaksud dengan kemitraan dengan Tuhan? Abou El Fadl menjelaskannya dengan ungkapan bahasa Arab: “tu‘âmil Allâh fî mâ ta‘mal.” Artinya, “kau berurusan dengan Allah dalam apa saja yang kau lakukan.” Secara sederhana, maksudnya mungkin bisa digambarkan dengan menempatkan Allah dalam puncak segi tiga kemitraan bersama pasangan. Jadi, dalam pernikahan itu sepasang laki-laki dan perempuan menjalin hubungan kemitraan, dan Allah berada di titik ketiga yang menjadi poros jalinan kemitraan tersebut. Dalam bahasa Abou El Fadl, Tuhan adalah mitra-purna dalam pernikahan.

Namun, menjaga nilai mîtsâqan ghalîzhâ atau jalinan kemitraan dengan Tuhan ini tidak cukup mudah. Ia membutuhkan niat, ketekunan, dan keteguhan. Dalam konteks mencari pasangan, Abou El Fadl mengingatkan betapa pentingnya saat mempertimbangkan untuk memilih seseorang sebagai pendamping hidup agar mencari “seseorang yang berkomitmen untuk menjunjung tinggi kemitraannya dengan Tuhan”, “seseorang yang berkomitmen pada pernikahan yang dapat mengantarkan pada kebahagiaan ilahiah.”

Status istimewa dalam ungkapan mîtsâqan ghalîzhâ ini juga mengisyaratkan beratnya tanggung jawab untuk menjaga “perjanjian yang kukuh” tersebut. Kata “menjaga” di sini penting untuk digarisbawahi karena tampaknya nilai konservasi dalam perjanjian pernikahan bernilai cukup penting dan, sekali lagi, menuntut tekad yang kuat. Apalagi jika kita mencermati proses-proses sosial, khususnya dalam cara orang saling berhubungan, yang kian hari semakin rumit dan seperti tertebak—sebuah dunia yang oleh Anthony Giddens disebut “runaway world”.

Giddens dalam sebuah bukunya menggambarkan dampak globalisasi yang telah mengubah berbagai lembaga tradisional, termasuk keluarga (juga agama). Lalu-lintas informasi yang begitu dahsyat kini berpengaruh hingga ke lapisan masyarakat tradisional. Dari negara maju seperti Amerika hingga negara berkembang seperti di Afrika atau Asia, semua terkena dampak. Bedanya hanya tingkat dampaknya saja. Di antara dampak yang mengemuka adalah benturan antara nilai-nilai tradisional keluarga, seperti keintiman, tujuan pernikahan, hubungan anak-orangtua. Hal-hal semacam inilah yang akan menantang setiap pasangan untuk menjaga perjanjiannya itu.

Latar normatif (mîtsâqan ghalîzhâ) dan latar yang cenderung bersifat empiris-faktual (ungkapan afdhâ) ini kiranya penting untuk diperhatikan dan mungkin bisa menjadi salah satu benteng untuk bersiasat menghadapi tantangan globalisasi saat ini. Bagi kaum muslim, hal ini juga sangat penting untuk tetap memastikan bahwa jalinan pernikahan yang dibangun tidak terlepas dari dimensi religius dan ilahiah.

Wallahua‘lam.


Daftar Pustaka

Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad al-Anshari al-Qurthubi, al-Jami‘ li-Ahkamil Qur’an, Dârul Hadits, Kairo, 2007.

Anthony Giddens, Runaway World: How Globalisation is Reshaping Our Lives, Profile Books, London, 1999.

Fakhruddin Muhammad bin ‘Umar bin al-Husayn al-Razi, al-Tafsîr al-Kabîr (Mafâtîhul Ghayb), Dârul Kutub al-‘Ilmiyyah, Beirut, 2004.

F. Budi Hardiman, Heidegger dan Mistik Keseharian: Suatu Pengantar Menuju Sein und Zeit, Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta, 2003.

Khaled M. Abou El Fadl, Conference of the Books: The Search for Beauty in Islam, University Press of America, New York, 2001.

M. Quraish Shihab, Membaca Sirah Nabi Muhammad saw dalam Sorotan al-Qur’an dan Hadits-Hadits Shahih, Lentera Hati, Jakarta, 2011.

M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah, Lentera Hati, Jakarta, 2009.

Muhammad al-Thahir ibn ‘Asyur, al-Tahrîr wa al-Tanwîr, Dâr Suhnun, Tunisia, 1997.

Wahbah al-Zuhayli, al-Tafsîr al-Munîr fî al-‘Aqîdah wa al-Syarî‘ah wa al-Manhaj, Dârul Fikr, Damaskus, 2009.


Baca juga:
>> Keagungan Allah dan Kecanggihan Sistem Kehidupan
>> Kisah Penciptaan dan Muatan Nilai Silaturrahim
>> Keberagaman dan Tujuan Penciptaan


Read More..