Tuesday, 27 January 2015

Pantulan Cahaya dari Pribadi Agung

Judul buku: 60 Orang Besar di Sekitar Rasulullah saw: Serial Kisah Rasul dan Para Sahabat
Penulis: Khalid Muhammad Khalid
Penerbit: Mizania, Bandung
Cetakan: Pertama, September 2014
Tebal: 778 halaman


Sosok Nabi Muhammad saw. merupakan pribadi yang sangat dikagumi oleh banyak pihak. Michael H. Hart, seorang ilmuwan Amerika, dalam bukunya yang legendaris berjudul The 100 menempatkan Nabi Muhammad di urutan pertama sebagai tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah. Menurut Hart, sebagai nabi pembawa agama Islam, Muhammad telah memberi warna yang sangat penting pada perkembangan sejarah dunia.

Di kalangan umat Islam, penghormatan terhadap Nabi Muhammad tentu saja lebih jelas terlihat. Kaum muslim meyakini bahwa beliau adalah teladan kebajikan (uswah hasanah) yang mencerminkan inti ajaran Islam. Karena itu, seruan untuk meneladani kepribadian dan perilaku Nabi Muhammad selalu muncul di komunitas muslim.

Dalam kerangka keteladanan pribadi agung Nabi Muhammad saw itulah buku ini menunjukkan nilai pentingnya. Buku ini sebenarnya memuat 60 kisah para sahabat Nabi. Tapi, dengan mempelajari kehidupan para sahabat Nabi tersebut, pembaca buku ini secara tidak langsung dapat memperoleh pantulan cahaya dari pribadi agung Nabi Muhammad.

Bagaimanapun, para sahabat Nabi itu—terlepas dari segala kekurangannya sebagai manusia biasa—memiliki akses pertama untuk mendapatkan bimbingan dari Nabi Muhammad sehingga kepribadian mereka lebih mudah untuk menghayati nilai-nilai Islam. Di sisi lain, para sahabat Nabi secara umum memiliki tingkat ketulusan yang mendalam dalam keputusannya memilih keyakinan Islam karena pilihan tersebut di awal perkembangan Islam secara umum bukanlah pilihan yang populer dan nyaman secara politis.

Enam puluh sosok sahabat Nabi yang dikisahkan dalam buku ini memiliki sisi menarik yang beragam, termasuk juga dalam statusnya sebagai pantulan cahaya pribadi agung Nabi. Di antara mereka, misalnya, ada Zaid ibn Haritsah, yang darinya kita bisa membayangkan keagungan pribadi Nabi Muhammad saw.

Zaid yang berasal dari Bani Ma‘n suatu ketika tertawan dalam serangan suku lain sehingga kemudian dijual sebagai budak di Mekah. Ia dibeli oleh keponakan Khadijah, istri Nabi, yang kemudian menghadiahkannya kepada bibinya. Khadijah lalu memberikan Zaid kepada suaminya. Muhammad, yang ketika itu masih belum menerima wahyu dari Allah swt., langsung memerdekakan Zaid.

Selang beberapa lama kemudian, orangtua Zaid berhasil mendapatkan informasi tentang keberadaan Zaid dan ia lalu mendatangi Nabi di Mekah. Orangtua Zaid bermaksud untuk menebus anaknya dari Nabi. Tapi Nabi justru menolak dan memberi tawaran lain. Nabi menawarkan agar Zaid diberi pilihan: apakah ia akan kembali ke kampungnya atau tetap bersama Nabi. Jika memang Zaid mau pulang bersama orangtuanya, Nabi tak perlu mendapatkan tebusan.

Ternyata Zaid memilih untuk tinggal bersama Nabi. Alasannya sederhana: Zaid merasa mendapatkan perlakuan dan perhatian yang luar biasa dari Nabi. Zaid merasakan secara langsung kelembutan dan keagungan pribadi Nabi.

Di antara teladan yang ditunjukkan Nabi adalah kemampuannya untuk tidak terikat pada pesona dunia dan tetap hidup sederhana. Dalam buku ini, banyak sekali sahabat Nabi yang digambarkan memiliki sifat zuhud dan wara’. Salman al-Farisi, misalnya, pada saat menjadi Gubernur Madain menunjukkan teladan kesederhanaan yang luar biasa. Meski ia di negeri asalnya, Persia, berasal dari keluarga terpandang dan berada, ia tak ragu untuk mendermakan gajinya sebagai pejabat kepada yang lebih membutuhkan dan memilih hidup seadanya.

Teladan serupa bernama ‘Abdurrahman ibn ‘Auf. Ia dikenal sebagai sahabat yang memiliki naluri bisnis yang hebat. Saat baru tiba di Madinah, ia hanya minta ditunjukkan pasar, lalu dari situ ia bisa sukses berniaga. Tapi ‘Abdurrahman ibn ‘Auf tidak menjadi budak dari hartanya. Ia dikenal sangat dermawan dan hidup zuhud, hingga konon orang akan kesulitan membedakan penampilannya saat ia sedang bersama pelayannya.

Sahabat Nabi lainnya yang cukup dikenal bernama Abu Dzar al-Ghifari. Ia berasal dari suku pembegal. Makanya Nabi heran saat ia mendatangi Nabi dan menyatakan hendak masuk Islam. Abu Dzar, yang tercatat memeluk Islam pada masa-masa awal, kemudian dikenal sebagai sahabat Nabi yang tegas dan tidak segan untuk menegur kaum muslim lainnya yang dianggap melenceng dari teladan Nabi. Dikisahkan, Abu Dzar pernah menegur Mu‘awiyah dan ‘Utsman ibn ‘Affan karena sebagai pejabat tampak mengabaikan nilai-nilai zuhud dan kesederhanaan.

Dibandingkan dengan buku-buku tentang sahabat Nabi yang lain, buku yang ditulis oleh cendekiawan-sosiolog Mesir ini memiliki kelebihan dari segi gaya tuturnya yang menyentuh. Buku yang berjudul asli Rijal Hawlarrasul ini seolah ingin menggugat emosi pembaca agar keagungan Nabi benar-benar terasa.

Di tengah krisis keteladanan yang mendera bangsa ini, kehadiran buku ini patut disambut dengan baik. Dengan menyelami kisah para sahabat Nabi dalam buku ini, diharapkan nilai-nilai kenabian dapat lebih mudah dipahami, dipraktikkan, dan disebarkan dalam kehidupan sehari-hari.

Tulisan ini dimuat di Harian Kabar Madura, 27 Januari 2015.

Read More..

Friday, 23 January 2015

Fenomenologi Stigma Terorisme Islam

Judul buku: Apa Jadinya Dunia Tanpa Islam?: Sebuah Narasi Sejarah Alternatif
Penulis: Graham E. Fuller
Penerbit: Mizan, Bandung
Cetakan: Pertama, November 2014
Tebal: 406 halaman


Saat Islam kerap dihubung-hubungkan dengan kekerasan dan terorisme, adakah jalan lain untuk menyangkalnya selain dari paparan normatif pandangan dunia Islam yang inklusif dan praktik toleran dalam sejarah Islam?

Buku ini mencoba memberi ulasan alternatif yang cukup menyeluruh tentang posisi Islam dalam isu-isu kekerasan dan terorisme dengan meletakkannya dalam terang sejarah peradaban dunia. Penulisnya, Graham E. Fuller, yang pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Intelijen Nasional di CIA, mencoba menawarkan eksperimen berpikir dengan skenario alternatif andai Islam tidak pernah ada.

Kesimpulan utamanya adalah bahwa faktor-faktor geopolitik yang lebih intens menjadi faktor pertentangan Barat dengan Timur yang sudah ada sebelum Islam. Dalam kerangka pertentangan yang terbentuk lebih awal dan lebih mendalam inilah, Islam dipergunakan sebagai bendera yang berperan sebagai pemersatu yang sangat efektif dalam tataran praktis.

Metode eksperimen berpikir yang digunakan Fuller terilhami dari salah satu metode kerja intelijen. Caranya, kita membayangkan sebuah peristiwa penting di masa depan dengan skenario agak teperinci tentang jalan peristiwa tersebut. Tujuannya untuk melihat kemungkinan kecil yang sebelumnya tak terpikirkan yang ternyata dapat mendorong terjadinya hal yang sangat penting itu.

Secara metodologis, perspektif ini mirip pendekatan fenomenologis. Pembaca diajak meletakkan Islam sebagai sebuah agama dan ideologi ke dalam tanda kurung, lalu berbagai konflik besar dalam sejarah dunia dilihat secara lebih sederhana. Dalam bahasa Fuller, buku ini mengajak pembaca untuk men-de-Islami-kan persepsi tentang konflik-konflik tersebut dan melihatnya sebagai masalah sosial dan politik manusiawi yang bersifat universal. Dalam bahasa fenomenologi, mengembalikan peristiwa-peristiwa itu ke dunia pra-reflektif atau Lebenswelt (dunia keseharian) sebelum dikerangkakan dalam bingkai ideologi.

Dengan cara pandang seperti ini, Fuller menemukan bahwa Timur Tengah tanpa Islam tetap akan berpotensi mencurigai Barat. Kekuatan pengganti Islam dalam berhadapan dengan Barat adalah Kristen Ortodoks Timur, yang dalam pikiran Fuller akan mendominasi kawasan Mediterania dan Timur Tengah andai tak ada Islam. Sikap anti-Barat Gereja Ortodoks Timur dinarasikan panjang lebar oleh Fuller yang lalu tampak mirip sekali dengan sikap umat Islam terhadap Barat.

Di antara uraiannya, Fuller mengutip potongan pidato Paus Urbanus II pada 1095 yang menjadi titik mula Perang Salib. Fuller menggarisbawahi bahwa dalam pidatonya, Paus Urbanus II tidak spesifik menyebut musuh mereka itu kaum muslim. Musuh dan penindas kaum Kristen adalah agama apa pun di luar agama Kristen. Terbukti, dalam Perang Salib kaum Barat juga menunjukkan sikap agresif pada kaum Gereja Ortodoks Timur bahkan juga pada kaum Yahudi.

Kristen Barat yang menjadi musuh Islam dalam Perang Salib digambarkan secara kontras dengan kaum Kristen Timur yang telah lama hidup berdampingan secara damai dengan umat Islam, termasuk juga dengan Yahudi. Bahkan Fuller mencatat bahwa kaum Yahudi pernah berperang membantu umat Islam menghadapi serbuan Tentara Salib. Hal ini menegaskan bahwa agama bukanlah faktor terpenting.

Saat ini, konfrontasi Barat dan Timur terus berlangsung. Di antara wakil Timur adalah Rusia. Rusia, seperti negara-negara Eropa Timur yang kerap masih dianggap sebagai dunia yang berbeda dengan Eropa Barat, dipandang sebagai pewaris ortodoksi Timur.

Menurut Fuller, adopsi negara Rusia pasca-Soviet atas Gereja Ortodoks lebih terkait dengan problem identitas nasional, mirip dengan penggunaan Islam sebagai identitas pemersatu di Timur Tengah untuk menghadapi Barat. Karena itu, tak heran jika beberapa tahun yang lalu Parlemen Rusia mengesahkan undang-undang yang membatasi kebebasan dakwah asing yang ditujukan pada Kristen Barat, bukan Islam.

Upaya Fuller untuk memarkir sementara ideologi agama, dalam hal ini Islam, dalam memahami konflik dan terorisme dan melihatnya secara fenomenologis dapat dipandang sebagai upaya untuk melucuti stigma terorisme Islam. Stigma ini telah menyesatkan pandangan banyak pihak dan membuat solusi yang tepat dan manjur atas peristiwa dan potensi konflik dan terorisme tak kunjung ditemukan.

Di bagian akhir, Fuller mengajukan beberapa langkah praktis yang harus dilakukan Barat, khususnya Amerika, atas dasar perspektif yang dikembangkan dalam buku ini. Misalnya, campur tangan militer Amerika di Dunia Islam harus dihentikan. Bagi Fuller, 700 pangkalan militer Amerika di luar negeri sangatlah provokatif dan menyumbang bagi terciptanya konflik dan terorisme.

Buku karya Fuller yang kini menjadi guru besar sejarah di Simon Fraser University, Kanada, ini adalah sebuah langkah introspeksi Barat yang patut diapresiasi untuk membuka jalan bagi pandangan berimbang demi masa depan dunia yang damai.


Versi yang sedikit berbeda dengan tulisan ini dimuat di Majalah Gatra, 22-28 Januari 2015.


Read More..

Thursday, 15 January 2015

Resep Kaum Sufi untuk Transformasi Diri

Judul buku: Psikologi Sufi untuk Transformasi Hati, Jiwa, dan Ruh
Penulis: Robert Frager, Ph.D.
Penerbit: Zaman, Jakarta
Cetakan: Pertama, 2014
Tebal: 372 halaman


Ritme kehidupan manusia modern melaju dengan kecepatan tinggi. Rutinitas sehari-hari nyaris tak memberi jeda untuk sejenak merenung dan mengevaluasi terkait hal-hal mendasar yang sifatnya substansial. Tak heran, manusia modern kerap dihinggapi keterasingan.

Buku yang ditulis oleh Robert Frager, seorang mursyid yang juga doktor psikologi dari Harvard University, ini memberikan uraian sistematis untuk membawa pembacanya pada refleksi ke sisi terdalam diri manusia. Untuk masuk ke wilayah tersebut, Frager yang juga dikenal dengan nama Syekh Ragip al-Jerrahi ini tidak menggunakan perspektif psikologi Barat. Ia menggunakan pendekatan tasawuf.

Menurut Frager, psikologi Barat memiliki sejumlah kelemahan untuk bisa menyelam ke kedalaman diri manusia. Di antaranya, psikologi Barat menempatkan kesadaran rasional sebagai puncak kesadaran manusia. Selain itu, dalam kerangka psikologi Barat, perasaan akan identitas yang ditandai dengan harga diri dan perasaan yang kuat akan jati diri ego sangatlah penting. Padahal, itu semua akan menjelma tabir yang menghalangi diri manusia dengan Tuhan, unsur terpenting dalam pandangan dunia tasawuf (hlm. 38-41).

Salah satu kelebihan buku ini adalah uraiannya yang sangat sistematis. Setelah secara umum menjelaskan sudut pandang tasawuf dan perbedaannya dengan psikologi Barat dalam melihat manusia, Frager secara tertata menguraikan tiga unsur mendasar manusia, yakni hati, diri (nafs), dan ruh.

Dalam menjelaskan tentang hati, Frager menggunakan uraian sufi terkemuka, al-Hakim al-Tirmidzi, tentang empat stasiun hati. Menurut al-Tirmidzi, manusia memiliki empat stasiun hati, yakni dada (shadr), hati (qalb), hati-lebih-dalam (fu’ad), dan lubuk-hati-terdalam (lubb). Tiap stasiun menggambarkan tingkat spiritualitas yang berbeda. Dada (shadr) merupakan titik mula cahaya Islam yang menjadi tempat pertempuran kekuatan positif dan negatif. Jika kekuatan positif menang, unsur ilahiah dalam hati yang merupakan pusat spiritual akan menyala dan berkembang sehingga orang itu naik tingkat menjadi seorang mukmin (hlm. 64-66).

Di sisi lain, ada nafs (diri) yang dalam tawasuf digambarkan secara bertingkat. Manusia memiliki tujuh tingkat nafs yang juga menunjukkan tingkat spiritualitas. Namun, berbeda dengan empat lapis hati, nafs di tingkat terendah hanya menyimpan potensi keburukan. Itulah nafsu tirani. Saat manusia dikuasai nafsu tirani, yang terpikir olehnya hanya kenikmatan duniawi. Nafsu tirani menempatkan manusia pada posisi budak kesenangan pribadi. Ia kecanduan pada pujian. Sebagaimana namanya, ia menyerang diri manusia secara berulang dan berusaha membentuk menjadi kebiasaan (hlm. 102-105).

Transformasi diri terjadi saat seseorang bisa mengubah kekuatan utama yang menguasai dirinya dari nafsu rendah ke yang lebih tinggi. Secara berurut, ketujuh nafs itu adalah nafs tirani, penuh penyesalan, terilhami, tenteram, rida, diridai, dan suci (hlm. 99).

Sementara itu, ruh manusia tidak berupa lapisan atau tingkatan. Ruh manusia dalam model kaum sufi digambarkan memiliki tujuh dimensi. Ketujuh dimensi ruh itu—yakni ruh mineral, ruh nabati, ruh hewani, ruh pribadi, ruh insani, ruh rahasia, ruh maharahasia—memiliki unsur positif dan negatif sekaligus. Yang perlu dilakukan adalah menyelaraskan atau menyeimbangkan ketujuh sisi ruh tersebut (hlm. 164-167).

Selanjutnya, Frager menerangkan cara untuk menghidupkan hati, menjinakkan nafsu, dan menyeimbangkan ruh. Amalan-amalan tasawuf pada dasarnya mengarah pada hal tersebut. Frager menguraikan enam amalan utama tasawuf, yakni berpuasa, mengasingkan diri, adab, pelayanan, mengingat Tuhan, dan mengingat mati (hlm. 233-267). Selain keenam amalan tersebut, Frager menekankan pentingnya guru yang berperan sebagai pembimbing spiritual (hlm. 294-295).

Selain sistematika yang runtut, kelebihan buku ini adalah cara penyajiannya yang penuh dengan kisah penguat untuk mengantar pembaca pada refleksi mendalam. Selain itu, di setiap akhir bab, Frager memberi arahan berupa latihan yang bersifat praktis terkait tema yang dibahas.


Versi yang lebih pendek dari tulisan ini dimuat di Koran Jakarta, 15 Januari 2015.


Read More..

Friday, 9 January 2015

Meneladani Kesejukan Beragama al-Syadzili


Judul buku: Syekh Abu al-Hasan al-Syadzili: Kisah Hidup Sang Wali dan Pesan-Pesan yang Menghidupkan Hati
Penulis: Makmun Gharib
Penerbit: Zaman, Jakarta
Cetakan: Pertama, 2014
Tebal: 240 halaman


Bagi umat Islam di Indonesia, tasawuf bukanlah hal yang asing. Sejumlah ahli sejarah mengatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia terutama melalui ajaran tasawuf yang dibawa oleh para saudagar muslim. Karena itu, tak heran hingga kini praktik tasawuf terlihat jelas dalam kehidupan keagamaan umat Islam Indonesia yang di antaranya berbentuk persekutuan sufi atau tarekat.

Buku yang ditulis oleh Makmun Gharib ini memaparkan kisah hidup dan pesan-pesan spiritual pendiri salah satu tarekat terkemuka, Tarekat Syadziliyah, yakni yang bernama Syekh Abu al-Hasan al-Syadzili. Tarekat Syadziliyah yang juga cukup populer di Indonesia ini dikenal sebagai tarekat yang memberi dorongan kuat bagi para pengikutnya untuk bekerja dan berusaha sehingga tarekat ini banyak diikuti oleh kalangan pengusaha dan pejabat.

Syekh Abu al-Hasan al-Syadzili lahir di Maroko pada 593 H. Ia memperoleh pendidikan agama yang kuat. Di masa kanak-kanak, ia menghapal al-Qur’an dan mendalami ilmu-ilmu agama. Pengembaraan intelektualnya berlanjut ke Irak, tempat ia belajar pada seorang sufi besar, Abu al-Fath al-Wasithi. Dari Irak, ia kembali ke negerinya dan menemukan pembimbing ruhaninya, Abdul Salam ibn Masyisy (hlm. 15-16).

Atas perintah gurunya ini, al-Syadzili lalu pindah ke Tunisia. Setelah dirasa cukup menempa diri di sana, al-Syadzili mulai menyebarkan ilmunya kepada masyarakat luas. Namun, saat ketenaran al-Syadzili mulai menguat, seorang hakim Tunisia bernama Abu al-Qasim al-Barra’ menaruh rasa dengki padanya. Mulailah ia menyebar fitnah tentang al-Syadzili, di antaranya bahwa ia adalah mata-mata dari Maroko yang akan menyebarkan paham syiah Dinasti Fathimiyyah (hlm. 19).

Namun, pada akhirnya, fitnah itu reda setelah al-Syadzili diuji secara terbuka oleh penguasa setempat. Malah akhirnya sultan justru bersimpati pada al-Syadzili.

Setelah tinggal beberapa lama di Tunisia, al-Syadzili kemudian menunaikan ibadah haji. Setelah naik haji, pengaruh al-Syadzili di Tunisia semakin kuat. Pengikutnya semakin banyak. Pada titik itulah al-Syadzili kemudian mendapatkan ilham berupa mimpi berjumpa Rasulullah yang memerintahkannya untuk pindah ke Mesir. Bersama seorang murid utamanya, Abu al-Abbas al-Mursi, ia pindah ke Mesir, tepatnya di Iskandaria. Di situlah kemudian tarekat dan dakwah al-Syadzili berkembang pesat. Kelak, dari Iskandaria, di antara muridnya kita mengenal nama Ibn ‘Athaillah al-Sakandari yang terkenal dengan kitab tasawufnya, al-Hikam (hlm. 26-28).

Tasawuf dan tarekat al-Syadzili tak jauh berbeda dengan tasawuf dan tarekat pada umumnya. Tasawuf al-Syadzili adalah tasawuf yang moderat. Al-Syadzili tak terjebak dalam ungkapan-ungkapan filosofis yang bisa membingungkan dan bahkan menyesatkan. Dalam posisinya yang moderat ini, al-Syadzili suka mengajarkan Ihya’ Ulumiddin-nya al-Ghazali, selain juga Qut al-Qulub karya Abu Thalib al-Makki dan al-Syifa’ karya al-Qadhi ‘Iyadh (hlm. 64-65).

Praktik Tarekat Syadziliyah bertumpu pada zikir. Selain itu, di antara prinsip yang dipegang adalah kepasrahan pada Allah swt. (hlm. 76-78). Namun demikian, bukan berarti al-Syadzili mengajarkan pandangan dan sikap negatif pada dunia. Dijelaskan bahwa al-Syadzili bekerja dan bercocok tanam untuk kebutuhan diri dan keluarganya. Ia juga suka mengenakan pakaian yang bagus dan menyukai kuda yang tegap dan kuat (hlm. 28-29, 51).

Terkait godaan harta dan dunia, yang terpenting bagi al-Syadzili adalah sikap batin. Di satu sisi diri tidak boleh tergantung kepada dunia, dan di sisi yang lain jangan sampai ketakterpenuhan kebutuhan hidup dapat memalingkan diri dari Allah swt.

Buku ini sarat dengan pesan-pesan agama yang sejuk karena pesan al-Syadzili bertumpu pada nilai moral Islam yang dapat menghidupkan hati. Ia tak terpaku pada formalitas ajaran agama yang kaku tapi berusaha menyelami semangat agama yang berpuncak pada akhlak.

Selain memaparkan kehidupan al-Syadzili dan ajaran Tarekat Syadziliyah, buku ini juga dilengkapi dengan wasiat praktis serta wirid dan doa (hlm. 162-214) yang bisa langsung dipraktikkan untuk menjalani kehidupan beragama berlandaskan tasawuf. Jadi, buku ini tak hanya memuat gagasan dan inspirasi sufistik, tapi juga memberi tuntunan praktis yang siap pakai.


Tulisan ini dimuat di Harian Kabar Madura, 9 Januari 2015.

Read More..

Sunday, 7 December 2014

Inspirasi al-Qur’an untuk Literasi


Al-Qur’an adalah kitab suci yang telah menjadi sumber inspirasi banyak orang di berbagai penjuru dunia. Inspirasi itu di antaranya mewujud dalam bentuk buku. Tak terbilang berapa buku yang sudah ditulis—baik oleh kaum muslim maupun nonmuslim—yang terilhami oleh al-Qur’an, mulai dari tafsir yang ditulis oleh ulama muslim klasik hingga kontemporer, buku bertema tertentu yang berperspektif al-Qur’an, hingga akhirnya al-Qur’an menjadi bidang keilmuan tersendiri sehingga kemudian melahirkan banyak karya tulis.

Di Indonesia kita punya Tafsir Al-Misbah karya M. Quraish Shihab, Tafsir al-Azhar karya Buya Hamka, Tafsir al-Ibriz karya KH Bisri Mustofa yang berbahasa Jawa, dan karya-karya yang lain. Kajian keilmuan tertentu berperspektif al-Qur’an di kalangan intelektual Indonesia juga sudah dikenal, seperti buku Al-Qur’an dan Lautan (Penerbit ‘Arasy, 2007) karya Agus S. Djamil.

Beberapa buku yang disebutkan di atas dan yang sejenisnya bisa dikelompokkan sebagai karya yang coraknya relatif akademis. Karena itu, karya-karya tersebut mungkin hanya dikenal di kalangan tertentu saja.

Namun, seiring dengan makin meluasnya minat masyarakat Indonesia pada wacana keislaman pada beberapa dekade terakhir, kita menemukan produk-produk perbukuan populer yang terinspirasi dari al-Qur’an. Mungkin yang paling banyak kita temukan paling tidak dalam 10 tahun terakhir adalah berupa pengemasan mushaf al-Qur’an dalam bentuk yang lebih menarik dengan berbagai pernik kreasinya.

Di toko-toko buku, kita menemukan al-Qur’an yang dicetak dengan pengemasan dan tata artistik dengan diberi nilai tambah tertentu. Ada al-Qur’an yang ayat-ayat di dalamnya diberi tanda tertentu terkait cara bacanya sesuai dengan Ilmu Tajwid. Ada pula yang selain memuat terjemahan versi Kementerian Agama RI juga mencantumkan terjemah per kata. Yang demikian ini dimaksudkan untuk mempermudah pembaca mendaras al-Qur’an secara benar dan membantu pembaca memahami makna literal al-Qur’an secara lebih teperinci.

Selain itu, pengembangan pengemasan al-Qur’an ini juga masuk pada minat-minat khusus. Salah satu edisi menyebut al-Qur’an yang diterbitkannya dengan istilah “edisi wanita” karena secara khusus juga memuat hal-hal yang berkaitan dengan perempuan, seperti kisah-kisah perempuan yang ada dalam al-Qur’an, ibadah tertentu terkait perempuan, dan semacamnya.

Ada juga al-Qur’an yang memberi tanda warna khusus pada ayat-ayat kauniah untuk menunjukkan keluasan cakupan al-Qur’an pada bidang sains. Ayat-ayat kauniah yang jumlahnya jauh lebih banyak dibanding ayat-ayat hukum itu diyakini merupakan isyarat al-Qur’an agar kita meneliti dan mengkaji isyarat-isyarat semesta dengan nalar.

Ada pula al-Qur’an yang disebut edisi “famy bi syauqin”. Edisi ini membagi seluruh surah al-Qur’an dalam tujuh bagian (yang lazim disebut “manzil”) yang dimaksudkan sebagai pedoman bagi mereka yang berkomitmen untuk mengkhatamkan membaca al-Qur’an selama sepekan.

Kreativitas penerbit dalam hal ini sudah menyentuh pada sisi teknologi. Penerbit Syaamil, misalnya, menerbitkan al-Qur’an yang selain memberi banyak nilai tambah dengan tafsir singkat, sebab turunnya ayat, doa terkait, dan sebagainya, juga melengkapinya dengan pena elektronik yang dapat bersuara atau melantunkan ayat al-Qur’an yang sedang ditunjuk.

Salah satu al-Qur’an yang terbit dikeluarkan oleh Penerbit Al-Mizan, Bandung berjudul al-Qur’an al-Karim: The Wisdom (Mei 2014). Selain memuat terjemahan versi Kementerian Agama RI dan terjemah per kata, al-Qur’an ini juga memuat 1420 artikel tafsir dan pengaya wawasan di setiap halamannya yang terpetakan dalam enam tema besar: akidah, akhlak, ibadah, muamalah, ilmu, dan kisah. Al-Qur’an yang penerbitannya melibatkan 17 kontributor artikel dan tebalnya mencapai 1236 halaman ini kemudian tampak seperti tafsir tematik terpilih yang penyajiannya bersifat populer. Rujukan yang digunakan meliputi kitab-kitab tafsir otoritatif, mulai dari tafsir klasik seperti al-Thabari hingga kontemporer seperti karya Wahbah Zuhaili.

Berbagai edisi pengemasan al-Qur’an dalam bentuk baru dan populer ini bisa dilihat sebagai kreativitas dan kejelian penerbit untuk melihat kebutuhan dan peluang pasar. Di media massa, khususnya televisi, kita dapat melihat bangkitnya minat keagamaan masyarakat muslim khususnya di kalangan kelas menengah perkotaan. Di industri mode, busana muslim juga mengalami peningkatan minat yang cukup luar biasa.

Seiring dengan inilah kreasi penerbit untuk mengemas al-Qur’an dengan sedemikian rupa juga muncul. Melihat semakin beragamnya kreasi penerbit dalam penerbitan al-Qur’an ini, kita dapat menilai bahwa berbagai versi al-Qur’an tersebut sangat laku di pasaran. Penerbit tampak tak ragu untuk mengeluarkan modal penerbitan yang cukup besar (tampak dari cetakannya yang rata-rata mewah) karena laba yang bisa diperoleh cukup menjanjikan.

Demikianlah, dalam bentuk yang lebih populer, kita belakangan ini menyaksikan bagaimana al-Qur’an menginspirasi dunia literasi. Sampai di titik ini, kita patut menggarisbawahi bahwa ayat al-Qur’an yang pertama diturunkan, yakni surah al-‘Alaq ayat 1-5, memang memuat semangat literasi yang kuat.

Berbagai versi al-Qur’an yang sifatnya kreatif itu memberi akses yang lebih mudah dan lebih luas pada masyarakat umum untuk dapat membaca, memahami, dan menggali pesan-pesan al-Qur’an sebagai pedoman hidup kaum muslim. Mereka yang awam di bidang ilmu keislaman dapat belajar al-Qur’an melalui produk populer ini. Tentu ini bisa menjadi kabar yang menggembirakan. Harapannya, semoga inspirasi al-Qur’an untuk literasi ini bisa memberi dampak yang lebih nyata bagi peningkatan mutu keberagamaan dan mutu kehidupan masyarakat.


Versi pendek tulisan ini dimuat di Harian Radar Surabaya, 7 Desember 2014.


Read More..

Wednesday, 3 December 2014

Ancaman Liberalisasi Pendidikan atas Kedaulatan Bangsa


Judul buku: Melawan Liberalisme Pendidikan
Penulis: Darmaningtyas, Edi Subkhan, Fahmi Panimbang
Penerbit: Penerbit Madani, Malang
Cetakan: Pertama, April 2014
Tebal: xxvi + 342 halaman


Dalam perbincangan publik, isu pendidikan sering kalah untuk mendapat perhatian masyarakat ketimbang isu politik praktis. Padahal, untuk membangun sendi utama kehidupan masyarakat yang bermutu dalam jangka panjang, pendidikan memiliki peran yang sangat penting.

Perhatian yang kurang dari masyarakat atas isu pendidikan ini terlihat saat pembahasan Rancangan Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (RUU BHP) mengemuka selama sekitar satu tahun pada 2007-2008. Tak banyak mahasiswa atau pihak kampus yang bersuara secara kritis atau turun jalan—tak seperti dalam menyoal isu BBM, misalnya. Padahal, kehadiran RUU BHP tersebut akan berdampak langsung pada mahasiswa dan kampus pada khususnya.

Buku ini membincang salah satu bentuk ancaman peningkatan mutu pendidikan di Indonesia, yakni yang berbentuk liberalisasi di sektor pendidikan. Liberalisasi yang dimaksud adalah kecenderungan negara untuk melepas tanggung jawabnya dalam memenuhi salah satu hak dasar warga negara, yakni pendidikan. Dalam bentuk yang konkret, liberalisasi pendidikan yang dibahas dalam buku ini mewujud berupa UU Badan Hukum Pendidikan.

Kemunculan UU BHP sebenarnya dimulai cukup lama, yakni sejak tahun 2003, namun mengemuka pada 2007-2008 hingga kemudian disahkan pada 17 Desember 2008. Kepada masyarakat luas, disampaikan bahwa UU ini diterbitkan terutama bertujuan untuk memperkuat otonomi kampus dan meningkatkan transparansi dan akuntibilitas pengelolaan perguruan tinggi.

Buku ini menyingkapkan dengan kritis berbagai segi problematis penerapan UU tersebut. Pada intinya, UU tersebut dipandang mengubah arah perguruan tinggi menjadi tak ubahnya seperti perusahaan (korporasi). Ini terlihat dari penekanannya yang besar pada aspek tata kelola agar lebih efisien dan produktif. Pendidikan bukan dipandang terutama sebagai kewajiban negara, tapi lebih sebagai bentuk jasa yang diperdagangkan.

Jadinya, hal-hal yang lebih substansial terkait arah dan kebijakan pendidikan nasional dalam hubungannya dengan tantangan kebangsaan kemudian menjadi kurang diutamakan. Pada gilirannya, masalah kemudahan akses masyarakat kurang mampu untuk mengenyam pendidikan tinggi, dukungan negara untuk pendidikan swasta, dan sebagainya, menjadi terabaikan. Buku ini menunjukkan dengan lugas bahwa ruh dan substansi UU BHP tersebut benar-benar mengarah pada liberalisasi, privatisasi, dan komersialisasi sektor pendidikan.

Menurut para penulis buku ini, membiarkan pendidikan nasional masuk dalam perangkap liberalisasi hanya akan menghancurkan masa depan bangsa Indonesia. Saat pendidikan mahal dan akses pendidikan tinggi hanya bisa diakses oleh mereka yang memiliki kemampuan ekonomi yang cukup, maka berarti kelak tak akan banyak warga Indonesia yang dapat berpartisipasi dalam mengelola kekayaan alam di Indonesia. Ketergantungan pada bangsa asing dalam hal pengelolaan sumber daya alam, seperti sekarang sudah terlihat, akan bisa menjadi penghambat bagi pemanfaatan kekayaan alam Indonesia demi kemakmuran, kesejahteraan, dan kedaulatan bangsa.

Selain itu, pendidikan mahal hanya akan mereproduksi kelas elite yang cenderung memiliki kepedulian yang kecil pada kepentingan masyarakat umum. Mereka akan cenderung lebih berpikir untuk mengembalikan biaya pendidikan mahal yang telah mereka keluarkan. Ini berarti bahwa pendidikan mahal hanya mereproduksi kemiskinan. Mereka yang miskin akan kesulitan untuk melakukan mobilitas vertikal.

Dalam contoh yang lebih spesifik, buku ini mengangkat problem pendidikan kedokteran di Indonesia. Sejak beberapa kampus berubah menjadi PT BHMN, biaya masuk ke Fakultas Kedokteran sangat mahal, berkisar antara Rp 50 juta hingga Rp 150 juta. Bahkan untuk jalur internasional bisa lebih tinggi. Mahalnya biaya pendidikan kedokteran ini menurut para penulis buku ini dapat mengubah karakter pendidikan yang akan menyiapkan tenaga-tenaga kemanusiaan itu. Tak heran, belakangan ini kita menemukan berita tentang kecenderungan komersial layanan kesehatan atau bahkan terjadinya malapraktik di bidang kesehatan. Secara kontras, buku ini mengungkap kebijakan pendidikan kedokteran di Iran dan India yang menempatkan Fakultas Kedokteran sebagai salah satu fakultas termurah sehingga dapat menyerap siswa-siswa terbaik tanpa melihat kemampuan ekonomi mereka.

Secara lebih teperinci, buku ini membahas berbagai dampak negatif liberalisasi pendidikan, seperti kesenjangan yang semakin lebar termasuk antara lembaga pendidikan negeri dan swasta, disorientasi pendidikan nasional yang kemudian mengabaikan visi pendidikan sebagai upaya pencerdasan maupun pemerdekaan, hilangnya idealisme dan integritas intelektual kalangan kampus, dan sebagainya.

Buku ini bukanlah kajian yang bersifat teoretis atas isu liberalisasi pendidikan. Buku ini sebenarnya merupakan dokumentasi para penulisnya yang merekam perlawanan mereka bersama rakyat Indonesia atas liberalisasi dan privatisasi pendidikan di Indonesia yang berbentuk terbitnya UU BHP No 9 Tahun 2009. Strategi perlawanan mereka berupa perang wacana di media publik dan yang terpenting berupa pengajuan uji materi UU BHP ke Mahkamah Konstitusi (MK). UU BHP dan Pasal 53 UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menjadi landasan terbitnya UU BHP digugat ke MK karena dipandang bertentangan dengan UUD 1945.

Setelah berproses sekian lama, pada 31 Maret 2010 hakim konstitusi di MK yang dipimpin oleh Prof. Dr. Mahfud MD akhirnya mengabulkan pembatalan UU BHP dan Pasal 53 UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Dokumentasi yang teperinci seperti termuat dalam buku ini—yang dilengkapi data lapangan dan kutipan dari berbagai media—sangatlah bernilai karena menurut para penulis buku ini ancaman liberalisasi di bidang pendidikan di Indonesia masih terbuka. Buku ini menengarai bahwa semangat liberalistik masih mungkin muncul sebagaimana dalam UU Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi yang sempat diajukan ke MK untuk diuji materi namun ditolak.

Selain itu, pengaturan lembaga pendidikan asing sebagaimana termuat dalam pasal 65 UU No. 20/2013 juga berpotensi mengganggu kepentingan pendidikan nasional. Belum lama ini, kontroversi kasus pencabulan di Jakarta International School (JIS) sempat memunculkan diskusi tentang sekolah internasional vis-a-vis arah pendidikan nasional. Sayangnya, diskusi tersebut tergusur oleh isu pemilu calon anggota legislatif dan pemilu presiden.

Dengan adanya catatan yang tersusun rapi seperti buku ini, diharapkan bangsa Indonesia tidak lupa bahwa pernah ada regulasi pendidikan yang bersifat liberalistik, tidak pro-rakyat, dan bahkan bertentangan dengan UUD 1945, yang sangat mengancam masa depan kehidupan bangsa. Dalam posisinya sebagai dokumen sejarah inilah buku ini tak hanya pantas dicerna oleh para praktisi dan pengambil kebijakan di bidang pendidikan, tapi juga oleh mereka yang peduli dengan masa depan bangsa dan mereka yang meyakini bahwa pendidikan nasional yang bermutu akan menjadi kunci kemajuan dan kebangkitan bangsa Indonesia.


Versi pendek tulisan ini dimuat di Koran Jakarta, 3 Desember 2014.

Read More..

Sunday, 16 November 2014

Menjawab Ironi Era Manusia


Judul buku: Dunia Anna: Sebuah Novel Filsafat Semesta
Penulis: Jostein Gaarder
Penerbit: Mizan, Bandung
Cetakan: Pertama, Oktober 2014
Tebal: 246 halaman


Paul Crutzen, seorang ahli kimia dari Belanda, menyebut zaman kita saat ini sebagai Era Manusia atau Antroposen. Istilah ini merujuk pada besarnya dampak kehadiran manusia pada bumi. Dampak tersebut terangkum dalam frasa yang cukup populer beberapa dekade terakhir ini: perubahan iklim.

Menurut Crutzen, Era Manusia dimulai sejak akhir abad ke-18. Sejak itu, kadar CO2 di atmosfer meningkat secara teratur. Akibatnya, terjadi banyak penurunan mutu lingkungan, seperti pencemaran yang semakin akut, keanekaragaman hayati yang terus tergerus, cuaca ekstrem yang semakin tak menentu, yang semuanya diikuti dengan sejumlah kejadian buruk bagi manusia dan makhluk hidup lainnya.

Isu lingkungan dan perubahan iklim ini rupanya juga menarik minat Jostein Gaarder, penulis asal Norwegia yang sebelumnya dikenal dengan novel filsafat berjudul Dunia Sophie. Selain Dunia Sophie, Gaarder juga menulis novel-novel yang bernuansa filsafat, seperti Misteri Soliter dan Gadis Jeruk.

Novel yang dalam terjemahan bahasa Indonesia berjudul Dunia Anna ini adalah karya terbaru Gaarder, yakni diterbitkan pada tahun 2013. Sebagaimana karya-karyanya yang lain, dalam novel ini Gaarder menggunakan tokoh utama perempuan berusia remaja—yang dalam novel ini bernama Anna—untuk menyampaikan gagasan-gagasan utamanya kepada pembaca.

Berlatar tahun 2012 di Norwegia, Anna yang berusia 16 tahun bersama kekasihnya yang bernama Jonas merasa gelisah dengan dampak perubahan iklim yang dia saksikan di Norwegia. Salju yang biasanya tebal di sekitar pergantian tahun tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Pada saat yang sama, orang-orang memperbincangkan beberapa ekor rusa kutub yang berkeliaran di perkebunan—sesuatu yang tak biasa.

Dengan beberapa tanda tersebut, Anna dan Jonas menunjukkan kepeduliannya pada masalah perubahan iklim. Namun, sesuai dengan karakter Gaarder, kepedulian mereka tidak difokuskan pada bentuk gerakan nyata di lapangan. Keduanya tidak bergerak pada level aksi advokasi. Gaarder lebih banyak menyajikan renungan mendalam yang tampil dalam dialog kedua remaja tersebut. Namun begitu, dialog keduanya tidak melulu berkutat dalam hal yang bersifat filosofis. Keduanya juga menggali strategi nyata apa yang bisa dilakukan untuk menanggulangi krisis lingkungan yang dihadapi umat manusia.

Yang menarik, Gaarder telah memiliki strategi yang tepat untuk memperkuat gagasannya tentang perubahan iklim. Novel yang diterjemahkan dari bahasa Norwegia ini menggunakan latar dua lapis. Selain dunia Anna dan Jonas yang berlatar tahun 2012, ada juga tokoh Nova yang hidup pada tahun 2082. Anna tidak lain adalah nenek buyut Nova, yang dalam novel ini juga merupakan gadis remaja.

Kisah berlapis yang memang menjadi ciri khas Gaarder dalam karya-karyanya yang lain tampak sangat cocok untuk memperkuat problem perubahan iklim. Bagaimanapun, isu perubahan iklim menjadi semakin penting jika dipikirkan dalam kerangka lintas-generasi. Kepedulian terhadap lingkungan tidak lain adalah kepedulian atas umat manusia generasi mendatang. Dalam bahasa Gaarder, isu krisis iklim bukanlah konflik antar bangsa. “Yang saling berhadapan dalam konflik ini ialah generasi-generasi,” tulis Gaarder.

Pada tahun 2082, Nova digambarkan mewarisi sebuah dunia yang sekarat. Banyak sekali jenis flora dan fauna yang sudah musnah dari bumi. Yang ada hanya rekaman gambar atau video aneka makhluk yang tersimpan dalam sekumpulan arsip digital. Ada juga kebun binatang internasional versi “virtual” di Den Haag yang binatang-binatangnya tidak terdiri dari darah dan daging tapi tercipta dari sinar laser. Kebun binatang ini dibuat sebagai pengingat bagi umat manusia tentang pemusnahan besar-besaran akibat ulah mereka.

Dunia Anna dan dunia Nova disajikan saling bergantian dalam novel ini. Kedua dunia yang berlatar tahun berbeda dan berjarak 70 tahun ini silih berganti saling memperkuat ironi Era Manusia: bahwa kehadiran manusia memang benar-benar berdampak luar biasa pada bumi dan makhluk hidup yang ada di dalamnya.

Pesan yang mengemuka dengan sangat kuat dalam novel ini adalah soal tanggung jawab manusia untuk bersikap bijak dalam menggunakan sumber daya bumi. Gaarder tampak ingin memberi peringatan tentang ironi Era Manusia. Manusia yang sering disebut sebagai makhluk cerdas atau bijak (homo sapiens) nyatanya terbukti berbuat yang sesuka hati pada alam dan lingkungan sehingga memberi dampak buruk. Jika demikian, di manakah wawasan etis yang dimiliki manusia?

Dengan kerangka imajiner-futuristik yang dibangun dalam alur cerita novel ini, Gaarder menunjukkan bahwa apa yang kita lakukan saat ini, dalam bentuk sesederhana dan sekecil apa pun, dapat membentuk wajah bumi di masa depan yang bisa saja di luar bayangan kita. Melalui imajinasi Anna, Gaarder membuat pengakuan bahwa kita adalah generasi yang egois dan brutal yang semena-mena mengeksploitasi alam dan mengabaikan nasib generasi mendatang.

Pesan Gaarder ini tak disampaikan hanya melalui renungan para tokoh utamanya yang bercorak filosofis atau reflektif. Melalui Anna dan Nova, Gaarder juga mengungkap data-data faktual yang dapat menggugah kepedulian kita atas isu-isu lingkungan. Misalnya, tentang jumlah CO2 yang telah dilepaskan manusia di atmosfer selama sepuluh tahun terakhir, atau juga perbandingan dampak lingkungan dari sebuah perjalanan udara dari Oslo ke New York pulang-pergi.

Melalui novel ini, Gaarder mengajak umat manusia untuk berani “menjadi lebih besar daripada diri sendiri”. Secara sederhana, ajakan Gaarder ini berarti seruan untuk melepas egoisme yang sempit. Gaarder, yang pada tahun 1997 bersama istrinya menginisiasi penghargaan internasional bernama Sophie Prize bagi mereka yang peduli lingkungan, menegaskan bahwa “aku adalah bagian dari—aku juga mengambil bagian dalam—sesuatu yang lebih besar dan lebih berkuasa ketimbang diriku.”

Dengan cara ini, sekali lagi Gaarder menekankan pentingnya kepedulian dan tanggung jawab sesama manusia terutama dalam kerangka lintas-generasi. Yang penting digarisbawahi, Gaarder tampaknya juga berharap adanya kerja sama yang kuat antarbangsa di dunia untuk mengatasi krisis iklim. Dalam novel ini, digambarkan bahwa Nova menjalin hubungan dengan seorang pemuda Arab yang menjadi pengungsi iklim di Norwegia. Demikian pula, dalam salah satu dialog Anna dengan psikiaternya, tersirat ajakan untuk tidak berprasangka buruk pada orang-orang Arab.

Untuk poin yang terakhir ini, Gaarder cukup mewakili pandangan terbuka masyarakat Norwegia yang menjadi kebijakan politik pemerintah saat ini untuk menerima kaum imigran dari berbagai wilayah, termasuk imigran muslim dari Asia dan Afrika. Sikap Gaarder ini bukan tanpa alasan. Pandangan terbuka semacam ini penting dikembangkan karena bagaimanapun problem krisis iklim bukanlah masalah yang dihadapi kelompok masyarakat tertentu, tapi merupakan masalah umat manusia secara keseluruhan.

Penggunaan tokoh remaja dalam novel ini menjadi sangat kuat relevansinya karena kaum muda dapat memainkan peran yang sangat penting untuk mengubah wajah dunia menjadi lebih hijau dan lestari.


Tulisan ini dimuat di Harian Jawa Pos, 16 November 2014.

Read More..

Thursday, 16 October 2014

Kepekaan pada Alam sebagai Landasan Keimanan

Sinergi Nilai-Nilai Kenabian dan Upaya untuk Membentuk Kepedulian Lingkungan



Pendahuluan

Isu lingkungan hidup dalam beberapa dekade terakhir ini mengemuka sebagai salah satu isu penting dunia. Persoalan ini mendapatkan perhatian yang cukup besar dari berbagai pihak terutama karena dua alasan. Pertama, krisis lingkungan mengancam keberlangsungan hidup seluruh manusia dan makhluk hidup di bumi karena krisis ini langsung terkait dengan hal-hal yang berhubungan dengan kebutuhan hidup mendasar manusia dan makhluk hidup pada umumnya, seperti air, udara, makanan, dan sebagainya.

Kedua, krisis lingkungan merupakan persoalan global sehingga isu ini bisa disebut sebagai masalah bersama penduduk dunia. Krisis lingkungan ini juga meneguhkan kondisi sosiologis dunia saat ini yang disebut berada dalam era globalisasi. Dalam salah satu bukunya, Peter Singer (2004: 19-20) memberi ilustrasi bahwa seseorang yang menyemprotkan deodoran ke ketiaknya di apartemennya di New York bisa saja menyumbang bagi meninggalnya warga Punta Arenas di Chili akibat kanker kulit. Demikian pula, karbon diaoksida yang dikeluarkan oleh mobil seseorang di sebuah tempat di dunia secara berantai dapat menjadi salah satu penyebab banjir mematikan di Bangladesh.

Dampak global krisis lingkungan yang mengemuka dalam dua hingga tiga dekade terakhir dituangkan dalam risalah ilmiah dan populer, termasuk juga dalam berbagai film dokumenter. Laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) pada tahun 2001 memperlihatkan adanya tanda-tanda pemanasan yang jelas dalam satu abad terakhir. Menurut laporan ini, dekade 1990-an adalah dekade terpanas, dan 1998 adalah tahun terpanas. Permukaan laut juga dilaporkan naik antara 10 hingga 20 centimeter dalam satu abad terakhir. Sejak tahun 1960-an, salju dan tutup es berkurang sekitar 10 persen, dan gletser juga menyusut kecuali di dekat kutub (Singer, 2004: 15-16).

Gambaran ilmiah krisis lingkungan yang lebih bersifat populer, singkat, namun menyeluruh diterbitkan oleh National Geographic pada 2008 dalam dua edisi khusus bertajuk “Detak Bumi” dan “Perubahan Iklim”. Dua edisi spesial ini melaporkan perubahan iklim (climate change) dan kecenderungan global sumber daya bumi yang mengancam kualitas hidup manusia. Meski dituturkan dengan bahasa yang datar, secara tersirat diskusi semacam ini bagaimanapun akan menyentuh aspek keadilan sosial (social justice). Misalnya ketika dipaparkan bahwa 2 orang terkaya di dunia memiliki lebih banyak uang dibandingkan dengan total PDB 45 negara termiskin.

Data kuantitatif dan ilustrasi visual yang cukup menarik tersaji dalam film dokumenter berjudul “Home” (2009) arahan sutradara Yann Arthur-Bertrand. Film yang mengambil gambar di puluhan negara di dunia ini menelusuri jejak manusia pada bumi yang mewujud dalam bentuk krisis lingkungan. Dalam film ini, di antaranya dituturkan bahwa setiap tahun, 13 juta hektar hutan menghilang. Spesies punah dalam ritme 1.000 kali lebih cepat daripada kepunahan alaminya. Di seluruh dunia, satu dari sepuluh sungai besar sudah tidak lagi mengalir ke laut selama beberapa bulan dalam setahun. Sementara itu, 40% tanah subur mengalami kerusakan jangka panjang. Sejak 1950, penangkapan ikan telah meningkat lima kali lipat dari 18 juta menjadi 100 juta metrik ton per tahunnya. Kebanyakan ikan besar telah dipancing hingga punah karena mereka tak diberi kesempatan untuk bereproduksi.

Bagaimana dengan Indonesia? Laporan Kementerian Lingkungan Hidup pada tahun 2007 menyatakan bahwa Indonesia kehilangan 24 pulau kecil dalam periode 2005-2007 sebagai dampak dari perubahan iklim (Muhammad, 2008). Laporan UNDP pada tahun 2007 memaparkan bahwa pada akhir 1990-an, Indonesia kehilangan area hutannya seluas 1,6 juta hektar per tahun. Laporan Majalah Tempo tahun 2007 menyatakan bahwa pada tahun 2003, laju penggundulan hutan ini meningkat menjadi 3 juta hektar per tahun. Institut Pertanian Bogor melaporkan bahwa pada periode 1992-2000, setiap daerah di Indonesia kehilangan sekitar 300 ribu ton produksi per tahun (UNDP, 2007: 4-8).

Ancaman terhadap pertanian juga meningkat di antaranya akibat siklus musim yang tidak teratur. Pada periode Januari hingga Juli 2010, banjir telah mengakibatkan sawah seluas 66.909 hektar mengalami gagal panen (Kompas, 2/9/2010). Akibat pengaruh perubahan iklim pula, pada musim tanam (MT) I dan MT II 2010, produktivitas panen per hektar lahan padi di Banyumas dan sekitarnya hanya 3-4 ton gabah atau turun antara 40 persen dan 50 persen dibandingkan dengan rata-rata biasanya (Kompas, 14/9/2010).

Keberlanjutan sumber daya air juga mengancam Indonesia. Kecukupan air untuk berbagai keperluan penduduk di Pulau Jawa pada tahun 2025 diperkirakan hanya mencapai 320 meter kubik per kapita per tahun. Jumlah ini hanya separuh dari yang dibutuhkan sehingga akan terjadi tingkat kerawanan yang sangat parah (Kompas, 3/12/2009).

Situasi seperti yang tergambar di atas menjadi tantangan tersendiri bagi manusia. Selain isu keadilan sosial, nilai yang mengemuka adalah soal keberlangsungan manusia dan makhluk hidup lainnya di alam semesta. Menghadapi masalah dan tantangan ini, berbagai upaya telah ditempuh baik yang berupa usaha-usaha politis yang sifatnya nasional maupun global, juga pendidikan lingkungan yang dilakukan oleh lembaga formal maupun komunitas.

Selain itu, di bidang kajian ilmiah, upaya serupa juga dilakukan. Penggalian nilai dan norma keagamaan maupun kebijaksanaan lokal dilakukan untuk menopang dan membangkitkan kepedulian masyarakat luas dalam menghadapi tantangan global ini.

Tulisan pendek ini akan berupaya menggali sejarah kehidupan Nabi Muhammad saw dan memeras nilai-nilai yang terkait dengan kepedulian lingkungan. Tulisan ini mengasumsikan bahwa Nabi Muhammad adalah sosok teladan umat Islam yang menjadi salah satu rujukan utama nilai dan norma Islam. Keteladanan Nabi Muhammad juga terdapat dalam cara pandang dan cara bersikap terhadap lingkungan hidup. Diriwayatkan bahwa Nabi tidak pernah merusak sumber alam dan tanaman, bahkan dalam situasi peperangan. Dalam sejarah, hanya sekali Nabi merusak tanaman yakni saat mengepung benteng Bani Nadir. Sikap Nabi yang sangat tidak lazim ini dilakukan karena memang menghadapi situasi yang tidak biasa, sehingga untuk itu Allah pun perlu menegaskan izinnya terkait kasus ini dalam surah al-Hasyr [59] ayat 5. Lebih jauh, menurut M. Quraish Shihab, sebenarnya Nabi sekadar menebang pohon kurma yang dijadikan perlindungan oleh Bani Nadir (Shihab, 2011: 679-684).

Pertanyaan yang hendak dijawab oleh tulisan ini adalah apa saja bangunan mendasar yang dimiliki sosok Nabi Muhammad saw sehingga dirinya memiliki kepedulian yang besar untuk menjaga alam? Bagaimana jika kerangka dasar tersebut disinergikan dengan pendekatan yang dilakukan dalam ilmu lingkungan, khususnya pendidikan lingkungan sebagai sebuah bidang yang belakangan ini berkembang untuk merespons persoalan krisis lingkungan?


Krisis Lingkungan: Krisis Spiritualitas

Sebelum menjawab pertanyaan utama tersebut, penting untuk terlebih dahulu melihat akar masalah yang menjadi penyebab terjadinya krisis lingkungan yang dihadapi umat manusia saat ini.

Dari beberapa rujukan, disebutkan bahwa penyebab krisis lingkungan ini terkait dengan aktivitas manusia. Krisis lingkungan bukan disebabkan oleh sesuatu yang bersifat alamiah. Secara lebih khusus, aktivitas manusia yang dimaksud adalah aktivitas ekonomi manusia (Speth, 2008: 6; Singer, 2004: 16).

James Gustave Speth, seorang tokoh lingkungan Amerika, dalam bukunya yang berjudul The Bridge at the Edge of the World (2008) secara lebih khusus menyebut kapitalisme modern sebagai faktor kunci penyebab krisis lingkungan. Dengan melihat berbagai perubahan penting pada periode tahun 1750-2000, terlihat betapa aktivitas ekonomi manusia memang mendorong bagi banyak hal: konsentrasi karbon dioksida yang meningkat, penipisan lapisan ozon, naiknya suhu rata-rata di belahan utara bumi, meningkatnya frekuensi bencana banjir, eksploitasi ekosistem laut yang semakin meningkat, keanekaragaman hayati yang semakin terancam, dan sebagainya. Berbagai fenomena ini berjalan seiring dengan meningkatnya investasi asing, meningkatnya penggunaan air, kertas, pupuk, dan kendaraan bermotor.

Dalam uraian Speth, kapitalisme modern di antaranya didukung oleh masyarakat konsumsi. Konsumsi menjadi penting untuk memastikan salah satu landasan penting kapitalisme, yakni pertumbuhan ekonomi. Mengutip Daniel Bell, Speth menyebut pertumbuhan ekonomi sebagai “agama sekular masyarakat industri yang bergerak maju” (Speth, 2008: 47-58, 147-148).

Penekanan pada konsumsi inilah yang membuat kapitalisme menghasilkan dampak yang tak terkira. Masyarakat konsumtif terbentuk sedemikian rupa sehingga menyebabkan terputusnya kesadaran manusia akan keterikatannya dengan alam. Manusia, karena dikejar hasrat konsumsi, melupakan nilai kesinambungan atau kelestarian (sustainability).

Secara ekonomi-politik, orang-orang dalam berbagai status sosial dan profesi kemudian diperlakukan dan dipandang berdasarkan kemampuan konsumsi mereka pada produk-produk kapitalisme. Oleh karena itu, orang-orang atau kelompok masyarakat yang tidak terlibat dalam arus produksi-konsumsi kapitalisme dipandang tak memiliki nilai (Leonard, 2008). Dari sudut pandang kapitalisme, orang-orang yang sudah merasa tercukupi kebutuhannya akan dipandang “miskin” hanya karena mereka tidak masuk dalam jejaring ekonomi pasar (Shiva, 1989: 10-12).

Secara perseorangan, kapitalisme menyerang psikologi manusia dengan mempersalahkan mereka jika mereka tidak ikut serta dalam arus ekonomi (terutama konsumsi) kapitalisme ini. Dengan cara ini, masyarakat modern dipaksa untuk menyesuaikan diri dengan ritme hidup yang dikehendaki kapitalisme seperti yang tergambar dalam kutipan berikut:

So we are in this ridiculous situation where we go to work, maybe two jobs even, and we come home and we’re exhausted so we plop down on our new couch and watch TV and the commercials tell us “YOU SUCK” so gotta go to the mall to buy something to feel better, then we gotta go to work more to pay for the stuff we just bought so we come home and we’re more tired so you sit down and watch more TV and it tells you to go to the mall again and we’re on this crazy work-watch-spend treadmill... (Leonard, 2008).

Jadi, kita berada dalam situasi yang menggelikan ini: kita pergi bekerja, bahkan mungkin dengan dua pekerjaan, dan kita pulang dan kelelahan sehingga kita menjatuhkan diri di sofa baru kita sambil menonton televisi dan iklan yang memberi tahu kita “KAMU MEMALUKAN” jadi pergilah ke mall untuk membeli sesuatu agar lebih baik, kemudian kita bekerja lebih keras lagi untuk membeli barang yang baru kita beli dan kemudian kita pulang dan lebih kelelahan lagi sehingga kamu duduk dan menonton televisi lagi dan televisi kemudian menyuruhmu untuk pergi ke mall lagi dan kita lalu berada dalam lingkaran kerja-nonton-belanja yang membosankan ini...

Melalui ritme hidup seperti dalam kutipan di atas, ideologi konsumsi pada akhirnya mengubah cara pandang seseorang dalam mendefinisikan dirinya dan memahami hubungan dirinya dengan alam. Nilai diri manusia kemudian banyak ditentukan oleh benda-benda yang dikonsumsi. Inilah yang kemudian mewujud dalam cara pandang materialisme. Pada gilirannya, setelah tenggelam pada perilaku konsumsi yang berlebihan, pelan-pelan hubungan manusia dengan alam diputus. Dalam ideologi konsumsi, manusia dan berbagai bentuk kekayaan alam kemudian direduksi menjadi unit-unit produksi (Abdul-Matin, 2010: 22, 30).

Kapitalisme modern dan ideologi konsumsi inilah yang menjadi akar penyebab eksploitasi sumber daya alam yang merusak ketahanan lingkungan dan mengancam keberlangsungan hidup manusia yang lestari. Dari gambaran di atas, tampaklah bahwa kapitalisme dan ideologi konsumsi dapat dilihat sebagai gambaran krisis spiritualitas manusia dan mengalihkan kebutuhan kerohaniannya pada benda. Manusia tak berhenti untuk memuaskan dirinya dengan benda-benda konsumsi. Tepatlah kiranya pernyataan terkenal Mahatma Gandhi bahwa dunia tidak akan cukup untuk melayani keserakahan manusia.

Inilah potret masyarakat modern yang dalam ilustrasi Seyyed Hossein Nasr disebut telah kehilangan visi keilahiannya dalam menghadapi realitas hidup. Visi tersebut menjadi tumpul ketika manusia memuja ilmu dan teknologi sehingga integritas kemanusiaannya tereduksi dan kemudian ia terperangkap ke dalam sistem yang tidak manusiawi. Krisis spiritual dalam pandangan Nasr digambarkan saat manusia memiliki cara pandang yang terbatas dan tereduksi atas realitas berupa pudar dan hilangnya dimensi spiritual. Alam kehilangan dimensi sucinya dan benar-benar menjadi sesuatu yang banal (Nasr, 1988: 17-50).

Dengan melihat krisis lingkungan sebagai sesuatu yang berakar dari krisis spiritual inilah maka upaya untuk melihat kembali sejarah kehidupan Nabi Muhammad saw. menjadi sangat relevan untuk dilakukan. Bagaimanapun, sejarah kehidupan Nabi adalah sumber ajaran dan inspirasi kaum muslim pada khususnya yang sarat dengan nilai-nilai mendasar agama, termasuk juga unsur spiritualitas dalam melihat alam. Bagian berikut akan menelaah secara singkat bagaimana sisi spiritualitas Nabi dibangun secara beriringan dengan kepekaan dan penghargaan pada alam.


Kepekaan pada Alam dan Dasar Keimanan: Padang Pasir dan Ayat Kawniyyah

Pendekatan spiritual untuk mengatasi tantangan krisis lingkungan telah banyak diupayakan, termasuk yang menggunakan sudut pandang Islam. Ibrahim Abdul-Matin (2010: 5), muslim Amerika yang juga aktivis lingkungan, misalnya mengutip prinsip-prinsip dasar agama hijau (green deen) yang disarikan dari ajaran-ajaran Islam. Menurut sumber yang dikutipnya itu, ada enam prinsip dasar agama hijau menurut Islam, yakni: (1) memahami kesatuan Tuhan dan ciptaan-Nya; (2) melihat tanda-tanda (ayat) Tuhan di mana saja; (3) menjadi penjaga (khalifah) di bumi; (4) menjaga kepercayaan Tuhan (amanah); (5) berjuang menegakkan keadilan (‘adl); dan (6) menjalani kehidupan yang seimbang dengan alam.

Terkait isu lingkungan, Nurcholish Madjid menghubungkan konsep manusia sebagai khalifah dengan konsep taskhir yang sama-sama bersumber dari pemaparan al-Qur’an. Dalam kerangka taskhir (lihat, surah al-Jatsiyah [45] ayat 13), nilai segala sesuatu di alam semesta berada lebih rendah daripada manusia. Namun, dalam memanfaatkan alam, manusia sebagai duta Tuhan memiliki tugas untuk menjaga dan menggunakannya secara bertanggung jawab (Madjid, 1992: 294-302).

Kajian ini berusaha untuk menelaah secara lebih dekat sejarah kehidupan Nabi Muhammad saw. pada khususnya dan teks suci Islam yakni al-Qur’an pada umumnya yang memperlihatkan bagaimana Nabi dan Islam memiliki pandangan dan sikap yang bercorak ramah lingkungan. Dengan cara ini, diharapkan dapat diperoleh temuan yang sifatnya lebih memperlihatkan proses pembentukan nilai ramah lingkungan pada diri Nabi dan Islam.

Periode formatif yang bernilai penting pada pembentukan karakter peduli lingkungan terdapat pada masa kanak-kanak Nabi Muhammad. Kesimpulan ini secara sekilas diulas oleh Tariq Ramadan (2007) dalam bukunya yang merupakan sejarah singkat Nabi Muhammad yang bercorak reflektif.

Sebagaimana diketahui bersama, tak lama setelah Nabi dilahirkan di kota Mekah, Nabi kemudian diasuh oleh Halimah al-Sa‘diyah di pedalaman Arabia selama empat tahun. Pengasuhan ini sebenarnya mengikuti tradisi masyarakat Arab perkotaan pada waktu itu, termasuk Mekah. Keluarga besar Arab perkotaan menitipkan anak-anak mereka untuk disusui oleh suku pengembara agar anak-anak mereka dapat menghirup udara segar padang pasir dan menyerap kemampuan berbahasa yang fasih dan puitis yang masih bertahan di sana. Apalagi, menurut sebuah riwayat, Mekah saat kelahiran Nabi diserang wabah penyakit yang menyebabkan tingginya angka kematian bayi (Lings, 2009: 34-35).

Bagaimanapun, kehidupan di padang pasir sangatlah berbeda dengan kehidupan kota Mekah yang menjadi salah satu kota dagang penting di Semenanjung Arabia. Kehidupan suku pengembara di padang pasir memberikan pengalaman langsung kepada Nabi untuk hidup secara alamiah dan dekat dengan alam. Pengalaman yang bersifat langsung inilah yang menurut Tariq Ramadan membentuk dasar keimanan pada diri Nabi dengan dasar kedekatan pada alam. Keimanan sebagai hubungan personal dengan Tuhan terbentuk melalui perenungan yang tidak bersifat formalistik, tapi bersifat langsung.

Thus, God decided to expose His Prophet, from his earliest childhood, to the natural lessons of creation, conceived as a school where the mind gradually apprehends signs and meaning. Far removed from the formalism and soulless religious rituals, this sort of education, in and through its closeness to nature, fosters a relationship to the divine based on contemplation and depth that will later make it possible, in a second phase of spiritual education, to understanding the meaning, form, and objectives of religious rituals. Cut off from nature in our towns and cities, we nowadays seem to have forgotten the meaning of this message... (Ramadan, 2007: 13-14).

Jadi, Tuhan memutuskan untuk memberi pengalaman kepada Nabi sejak usia dini berupa pelajaran dari alam tentang penciptaan, mirip dengan sebuah sekolah yang di dalamnya pikiran menangkap dan memahami tanda dan makna. Jauh dari bentuk formalisme ritual keagamaan yang tak bermakna, pendidikan semacam ini, dalam dan melalui kedekatannya pada alam, mengembangkan sebuah hubungan dengan Tuhan didasarkan atas perenungan mendalam yang pada tahap pendidikan spiritual berikutnya akan memungkinkan untuk memahami makna, bentuk, dan tujuan ritual keagamaan. Karena kehidupan perkotaan kita saat ini menyebabkan kita terputus dari alam, kita sekarang sungguh telah melupakan pesan ini...

Secara khusus, kehidupan padang pasir dalam konteks kehidupan bangsa Arab memiliki makna lebih jauh yang cukup beragam. Selain soal khazanah bahasa suku pengembara, padang pasir dan kehidupan mengembara sebenarnya cukup terkait dengan landasan keimanan yang kemudian dibangun oleh Islam.

Menurut Martin Lings, kehidupan mengembara identik dengan kebebasan. Keduanya tak bisa dipisahkan. Penduduk kota yang hidup menetap digambarkan sebagai tahanan. Mereka “menjadi bulan-bulanan waktu”. Kehidupan yang rutin dan statis di perkotaan ini diperhadapkan secara kontras dengan kehidupan mengembara yang bebas. Kebebasan dalam mengembara ini kemudian tampaknya identik dengan ladang subur bagi imajinasi sastrawi yang bagi masyarakat Arab dipandang berharga (Lings, 2009: 34-35). Sementara itu, menurut Tariq Ramadan, selain pengalaman akan kebebasan, padang pasir memberi pengalaman kefanaan, kerapuhan, dan kehinaan (Ramadan, 2007: 12). Pengalaman tentang kefanaan ini menjadi penting untuk digarisbawahi karena menurut Toshihiko Izutsu, bangunan etik yang ditawarkan oleh Islam di antaranya adalah pandangan tentang kesementaraan kehidupan dunia. Menurut Izutsu, masyarakat Arab jahiliah tidak memiliki imajinasi tentang kehidupan lain di masa yang akan datang sehingga mereka tidak punya gagasan tentang akhirat (Izutsu, 1993: 53-64).

Untuk menunjukkan pentingnya nilai-nilai yang dapat muncul dari kehidupan padang pasir ini, Tariq Ramadan kemudian mengutip sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ ، أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ

Artinya: “Hiduplah di dunia seakan-akan kau orang asing atau pengembara.”

Ibn Hajar al-Asqalani (Vol. 12, 2004: 197-198) menyebutkan bahwa hadis ini mengajarkan sikap zuhd di dunia dan agar kita memenuhi kebutuhan hidup secukupnya saja. Seorang pengembara, tulis al-Asqalani, tidak butuh pada bekal yang melebihi dari keperluan untuk tiba di tempat yang dituju di perhentian berikutnya. Al-Ghazali mendefinisikan zuhd secara sederhana sebagai “mengalihkan kesenangan (raghbah) pada sesuatu yang lebih baik”. Pada zuhd, sikap berpaling dari kesenangan duniawi dilakukan meski yang bersangkutan memiliki kemampuan untuk meraihnya (al-Ghazali, Vol. 4, tt: 211-212).

Dalam konteks kehidupan kontemporer yang dipenuhi dengan ideologi konsumsi, sikap zuhd menjadi salah satu hal yang penting dikemukakan. Keterjebakan manusia modern pada materialisme di satu sisi terjadi karena kealpaannya pada kesementaraan kehidupan duniawi akibat beragam bentuk godaan yang kian hari semakin gencar.

Kehidupan gurun juga menawarkan bentang pemandangan cakrawala tanpa batas yang mengundang pengamatan indera manusia. Secara khusus, dalam kehidupan gurun, benda-benda langit akan hadir dengan lebih jelas bagi pandangan mata manusia. Pemandangan langit di malam hari yang sunyi dan minim polusi cahaya di tengah gurun pada tingkat tertentu mampu menguatkan nuansa makna dan rasa yang begitu kaya dari suasana gurun.

Dalam sebuah riwayat, dikisahkan bahwa saat di malam hari Muhammad kecil tampak merasa gelisah, Halimah membawanya keluar kemah. Menurut Halimah, Muhammad kecil biasanya akan tenang setelah ia memandang bintang-bintang di langit sehingga lalu matanya tertutup dan tidur nyenyak (Shihab, 2011: 227).

Kekuatan pemandangan langit yang terbuka sebagaimana di gurun sebenarnya ditegaskan dalam banyak ayat di dalam al-Qur’an, di antaranya dalam surah Alu ‘Imran [3] ayat 190-191.

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لِّأُوْلِي الألْبَابِ - الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىَ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذا بَاطِلاً سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Artinya: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah Kami dari siksa neraka.”

Al-Razi menjelaskan bahwa kandungan ayat ini sebenarnya mirip dengan surah al-Baqarah [2] ayat 164. Keduanya sama-sama menjelaskan tanda-tanda keagungan Allah dalam berbagai bentuk fenomena alam. Bedanya, dalam surah al-Baqarah ada 8 fenomena alam yang disebut, sedangkan dalam ayat ini tersisa tiga hal (langit, bumi, malam dan siang). Dalam pandangan al-Razi, tiga hal yang disebut dalam ayat ini berkaitan dengan fenomena langit/angkasa yang sifatnya lebih mengagumkan dibandingkan dengan fenomena alam yang disebut dalam surah al-Baqarah yang sifatnya fenomena daratan (al-ardliyyah). Hati manusia, menurut al-Razi, lebih mudah merasakan keagungan Allah melalui fenomena langit (Al-Razi, Vol. 9, 2004: 109-110).

Ayat ini dan rangkaian ayat berikutnya yang merupakan penutup surah Alu ‘Imran dan merupakan ayat yang diturunkan di Madinah memiliki nilai istimewa yang perlu dibahas lebih jauh di sini. Ayat tersebut diturunkan di malam hari dan menurut penuturan ‘Aisyah r.a. dalam sebuah hadis telah membuat Nabi menangis sepanjang malam. Akhirnya, saat subuh tiba, Bilal bertanya mengapa Nabi menangis sedang Allah telah mengampuni semua dosanya. Nabi menjawab: “Wahai Bilal, tidakkah aku ingin menjadi hamba yang bersyukur? Mengapa aku tidak menangis sedang malam ini Allah telah menurunkan ayat ini (surah Alu ‘Imran ayat 190-200). Sungguh celaka orang yang membaca ayat ini tapi tidak memikirkannya!” (al-Razi, Vol. 9, 2004: 109).

Memikirkan fenomena alam raya dipandang dapat mengantarkan pada tingkat keimanan (tawhid) yang mendalam. Al-Razi menjelaskan bahwa manusia tidak mungkin berpikir tentang Sang Maha Pencipta yakni Allah swt. Hal ini sudah ditegaskan dalam salah satu hadis Nabi yang berbunyi: “Berpikirlah tentang makhluk dan jangan kalian berpikir tentang Sang Pencipta.” Namun dengan sebuah ilustrasi yang sangat teperinci, al-Razi menunjukkan bahwa berpikir tentang ciptaan Allah akan dapat mengantarkan kita pada karakter sempurna dari Sang Pencipta. Tak harus dari hal yang besar, bahkan dengan memikirkan secara panjang dan mendalam selembar daun yang terdapat di sebuah pohon maka pada akhirnya orang yang berpikir itu akan menemukan keagungan Allah (al-Razi, Vol. 9, 2004: 111-112).

Keutamaan berpikir (tafakkur)—yang dalam ayat di atas disebut setelah kata kerja “berdzikir”—telah ditegaskan oleh banyak ulama. Dalam kitab tafsirnya, al-Qurthubi mengutip pendapat Ibn al-‘Arabi yang mengatakan bahwa bagi kaum sufi, kegiatan berpikir (tafakkur) ini lebih utama daripada berdzikir. Alasannya, berpikir dapat mengantarkan seseorang pada tingkat makrifat (al-Qurthubi, Vol. 2, 2007: 652).

Dalam memahami ayat di atas, para mufassir juga berusaha membandingkannya dengan ayat serupa di surah al-Baqarah [2] ayat 164. Dalam surah al-Baqarah, ayat-ayat kawniyyah disebutkan menjadi tanda bagi “qawm ya‘qilun”, sedang dalam surah Alu ‘Imran digunakan istilah “ulul albab”. M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa ayat 190 surah Alu ‘Imran ini statusnya merupakan tingkat lanjut dibandingkan surah al-Baqarah [2] ayat 164. Selain dikuranginya penyebutan ayat-ayat kawniyyah, istilah “ulul albab” menurut Quraish Shihab berarti “orang-orang yang memiliki akal murni, yang tidak diselubungi oleh “kulit”, yakni kabut ide, yang dapat melahirkan kerancuan dalam berpikir”. “Ulul albab” adalah mereka yang telah mencapai kemurnian akal sehingga dengan merenungkan atau memikirkan fenomena alam raya maka ia akan dapat menemukan bukti yang sangat jelas tentang keesaan dan kekuasaan Allah swt (Shihab, Vol. 2, 2009: 370-371). Al-Razi menjelaskan perbedaan ‘aql dan lubb dalam menjelaskan ayat ini. Menurut al-Razi, ‘aql adalah bagian luar (zhahir) sehingga ‘aql merupakan tahapan awal sedangkan lubb adalah tingkatan ‘aql yang sudah sempurna (al-Razi, Vol. 9, 2004: 110).

Perenungan yang mendalam atas berbagai fenomena alam raya dilakukan dengan kegiatan berpikir (tafakkur). Menurut al-Ghazali, kegiatan berpikir merupakan titik mula kebajikan. Berpikir dapat menghasilkan pengetahuan baru—sesuatu yang tidak diperoleh dengan berdzikir—yang dari pengetahuan baru itu hati seseorang dapat berubah sehingga pada gilirannya kemudian mendorong pada perubahan perilaku. Berikut ini kutipan lengkap pandangan al-Ghazali (Vol. 4, t.t.: 413) tersebut:

وأما ثمرة الفكر فهى العلوم والأحوال والأعمال ولكن ثمرته الخاصة العلم لا غير نعم إذا حصل العلم في القلب تغير حال القلب وإذا تغير حال القلب تغيرت أعمال الجوارح فالعمل تابع الحال والحال تابع العلم والعلم تابع الفكر فالفكر إذن هو المبدأ والمفتاح للخيرات كلها

Buah dari kegiatan berpikir adalah ilmu, keadaan, dan amal. Akan tetapi, buah yang khas adalah berupa ilmu, tidak lainnya. Ya, benar, jika ilmu telah diperoleh dalam hati seseorang, maka keadaan hati akan berubah. Jika keadaan hati telah berubah, maka perbuatan anggota badan akan berubah juga. Karena itu, amal mengikuti keadaan, dan keadaan mengikuti ilmu, dan ilmu mengikuti pikiran. Jika begitu, maka berpikir adalah permulaan dan kunci semua kebaikan.

Keterbukaan alam semesta untuk menjadi landasan keimanan yang kuat bagi seorang muslim yang berpikir (bertafakkur) juga tidak lepas dengan petunjuk-petunjuk tekstual lain yang disampaikan melalui kitab suci al-Qur’an. Dalam surah al-Fatihah, Allah menyebut diri-Nya dengan istilah “rabb al-‘alamin” yang biasa diterjemahkan “Tuhan semesta alam”. M. Quraish Shihab menerjemahkan dengan “Tuhan Pemelihara seluruh alam.” Secara kebahasaan, “rabb” bermakna pemilik atau tuan. Selain itu, “rabb” juga berarti memelihara, mendidik, mengasuh. Al-Qurthubi mengatakan bahwa dalam artian yang pertama maka kata ini merupakan sifat dari dzat (shifat dzat) Allah swt. Sedangkan dalam arti yang kedua, kata ini merupakan sifat perbuatan (shifat fi‘l) Allah (al-Qurthubi, Vol. 1, 2007: 138-139).

Dengan kerangka makna menurut pengertian yang kedua, maka Allah swt. memelihara alam semesta ini dengan segala kemahabesaran dan kemahasucian-Nya. Dalam konteks ini, maka status manusia sebagai khalifah (wakil, duta) Allah di bumi menjadi relevan dalam kaitannya dengan nilai-nilai yang mendukung pelestarian lingkungan sebagaimana disebut oleh Ibrahim Abdul-Matin di atas. Tugas dan tanggung jawab pengasuhan dan pelestarian alam raya juga diserahkan Allah kepada manusia.

Dari uraian singkat ini, tampaklah bahwa pengalaman hidup Nabi di masa kanak-kanak di padang pasir pedalaman Arabia bersama suku pengembara Bani Sa‘d telah berhasil membentuk dasar-dasar kepekaan Nabi dalam membaca ayat-ayat kawniyyah Allah swt. Kepekaan yang dimiliki Nabi dalam menerima pesan alam juga diperoleh atas anugerah Allah berupa kelapangan pintu pemahaman dan anugerah ketenangan. M. Quraish Shihab menafsirkan kata “syaraha” dalam surah al-Syarh [94] dalam pengertian nonmaterial seperti ini (bukan dalam pengertian material, yakni “membelah dada”, sebagaimana lazim dijelaskan dalam penggalan sejarah kehidupan Nabi saat diasuh Halimah), serupa dengan doa yang dipanjatkan Nabi Musa as dalam surah Thaha [20] ayat 25-27 yang di antaranya memohon kelapangan dada setelah memohon tambahan ilmu dan pemahaman (Shihab, 2011: 236-237).

Dari sudut pandang yang lain maka ini bisa berarti bahwa diperlukan adanya kesiapan mental yang baik untuk dapat menerima pesan alam yang bersifat spiritual sebagaimana yang diperoleh Nabi Muhammad saw. Ini bisa meliputi sikap terbuka dalam menerima berbagai kemungkinan pesan yang disampaikan alam dan sikap rendah hati disertai keyakinan bahwa alam semesta juga memiliki status yang sama dengan manusia, yakni sama-sama makhluk Allah, sebagaimana difirmankan Allah dalam surah al-An‘am [6] ayat 38. Menurut M. Quraish Shihab, ayat ini menyatakan keserupaan binatang dan burung dengan manusia dalam hal tuntutan perlakuan yang sama dan wajar (Shihab, Vol. 3, 2009: 413).

Dengan landasan yang demikian, maka tidak sulit bagi kita untuk memahami dan menemukan pandangan dan sikap Nabi yang ramah lingkungan baik yang bersifat langsung maupun tidak langsung. Misalnya, sikap Nabi yang peduli terhadap kesejahteraan binatang (animal welfare). Nabi pernah menegaskan tentang pahala bagi orang yang memberi minum untuk hewan yang sedang kehausan. Nabi juga memberi tuntunan agar dalam menyembelih hewan harus dengan proses yang tidak menyakiti. Demikian pula, Nabi mengajarkan agar kaum muslim mau berbagi air dan tidak berlebihan dalam menggunakan air, bahkan saat berwudu.

Ada pula sikap ramah lingkungan Nabi yang merupakan tafsiran dan kontekstualisasi dari pemikir masa kini. Ibrahim Abdul-Matin (2010: xxii) misalnya menafsir hadis yang menyatakan bahwa Nabi menyarankan kita untuk mengambil hidangan yang terdekat saat makan dalam pengertian bahwa Nabi mendorong kita untuk mengutamakan makanan dari sumber-sumber lokal.


Nilai-Nilai Kenabian dan Pendidikan Lingkungan

Sampai di sini dapat disimpulkan bahwa kepedulian Nabi pada pelestarian alam dan lingkungan berada dalam kerangka spiritual (keimanan). Prinsip-prinsip dasarnya kurang lebih sama dengan yang disampaikan Ibrahim Abdul-Matin tentang agama hijau di atas. Kerangka spiritual tersebut di antaranya terbentuk melalui pengalaman langsung Nabi terutama pada masa kanak-kanak saat tinggal bersama suku pengembara di padang pasir. Pengalaman langsung tersebut diolah dengan anugerah kemampuan tafakkur yang berlandaskan pada keterbukaan dan kebersihan akal dan hati Nabi sehingga dari situlah kerangka spiritual tersebut terbentuk.

Dalam konteks upaya menjawab persoalan krisis lingkungan saat ini, kerangka spiritual dan nilai-nilai kenabian di atas penting untuk dicoba disinergikan dengan pendekatan salah satu bidang pembahasan khusus ilmu lingkungan, yakni pendidikan lingkungan. Menurut Nordström, ada tiga tujuan utama pendidikan lingkungan. Pertama, membentuk dan membangkitkan akhlak lingkungan yang bersifat perseorangan. Kedua, mengembangkan pemahaman dan keterampilan untuk menangani isu lingkungan. Ketiga, memfasilitasi pemberdayaan dan kewargaan yang aktif. Di balik ketiga tujuan ini, terkandung sejumlah nilai yang diperjuangkan, seperti keanekaragaman, keadilan, dan rasa hormat pada alam dan makluk hidup (Nordström, 2008: 133-137).

Dari sudut pandang ini, tampaklah bahwa kerangka spiritual yang disimpulkan dari uraian di bagian sebelumnya berada dalam konteks tujuan pendidikan lingkungan yang pertama, yakni membentuk dan membangkitkan akhlak lingkungan yang bersifat perseorangan. Jika kita melihat upaya-upaya di lapangan, yakni di Indonesia, untuk menuju pada tujuan ini maka kita akan menemukan banyak contoh yang bisa dikemukakan. Namun demikian, yang berbeda dari nilai kenabian yang dibahas sebelumnya adalah bangunan yang bersifat spiritual dan radikal dalam menempatkan alam raya dan makhluk hidup.

Pendekatan spiritual yang dikemukakan di sini menjadi penting karena ia menyentuh aspek terdalam pada diri manusia, yakni hati dan kerangka berpikir, yang pada gilirannya akan menjadi dasar bagi setiap pengambilan keputusan dan cara bersikap. Nilai-nilai kenabian tersebut di atas berusaha kembali pada akar krisis lingkungan, yakni krisis spiritual yang dialami oleh individu (yang membentuk masyarakat) manusia modern.

Dilihat dari proses penanaman nilai pada diri Nabi sebagaimana diulas singkat di atas, tampaknya proses tersebut kurang lebih serupa dengan apa yang disebut oleh Vaquette saat membahas tentang ekopedagogi sebagai “pendidikan penginderaan”. Menurut Vaquette, manusia modern mengalami kegagalan untuk berkomunikasi dengan alam karena indera mereka telah menyusut dan tumpul. Akibatnya, jarak manusia modern dengan alam pelan-pelan semakin jauh. Keduanya tidak lagi merasa sebagai satu kesatuan semesta. Untuk itu, menurut Vaquette, pendidikan alam dan lingkungan dilakukan dengan cara merangsang dan mengaktifkan indera. Dalam pendidikan penginderaan, diasumsikan dua arah komunikasi antara manusia dan alam. Pertama-tama, manusia dilatih untuk dapat menerima secara aktif berbagai informasi dan sapaan alam. Dengan dasar penangkapan dan penerimaan aktif itulah, maka manusia akan dapat mengekspresikan sikap yang ramah terhadap alam (Vaquette, 2001: 11-14).

Dengan menghidupkan kepekaan komunikasi dengan alam yang dibalut dalam kerangka keimanan, diharapkan kebajikan-kebajikan moral yang dapat menjadi dasar bagi cara pandang dan sikap ramah lingkungan pelan-pelan terbentuk sebagaimana yang kita temukan dalam pribadi Nabi Muhammad saw.

Namun demikian, pada tahap yang lebih lanjut, pembentukan moral yang sifatnya perseorangan ini tentu saja mesti dipikirkan bagaimana agar dapat terorganisasi dalam sebuah upaya yang menyeluruh dan sistematis, karena tantangan yang dihadapi saat ini sudah jauh berbeda daripada abad-abad sebelumnya. Percepatan arus informasi dan komunikasi bagaimanapun pada satu sisi juga telah mempercepat berbagai proses perubahan sosial, termasuk juga pengrusakan lingkungan yang dilakukan oleh manusia.


Penutup

Sejarah kehidupan Nabi Muhammad saw. merupakan sumber inspirasi yang penting untuk terus digali. Sebagai rujukan moral, sosok Nabi menjadi teladan bagi seorang muslim untuk semua aspek kehidupannya. Berbagai tantangan baru yang dihadapi umat manusia saat ini sangat mungkin untuk didiskusikan dalam kerangka nilai-nilai kenabian sebagaimana dicoba dalam tulisan ini.

Nilai-nilai kenabian yang berusaha dibahas dan diintegrasikan dengan pendekatan disiplin pendidikan lingkungan pada uraian di atas masih berada dalam kerangka perseorangan meski juga bisa diperluas dalam wilayah sosial. Mengikuti uraian Speth (2008: 62), pertumbuhan yang tidak lestari yang merupakan ungkapan lain bagi krisis lingkungan di antaranya memang melibatkan manusia atau masyarakat yang mengusung kerangka moral destruktif, seperti konsumerisme. Meski begitu, ulasan di atas masih belum memasukkan dua unsur penting lainnya yang disebut Speth, yakni perusahaan modern dan pemerintah. Ke depan, penelitian ke arah tersebut menjadi tantangan tersendiri, termasuk juga untuk mendialogkannya dengan sirah Nabi Muhammad.

Wallahu a‘lam.



Daftar Pustaka

Abdul-Matin, Ibrahim. 2010. Green Deen: What Islam Teaches about Protecting the Planet. San Francisco: Berrett-Koehler Publisher Inc.

al-Ghazali, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad. t.t.. Ihyâ’ ‘Ulûm al-Dîn. Beirut: Dar al-Fikr.

Ibn Hajar al-‘Asqalânî, Ahmad ibn ‘Alî. 2004. Fath al-Bârî Syarh Shahîh al-Bukhârî. Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Izutsu, Toshihiko. 1993. Konsep-Konsep Etika Religius dalam Qur’an. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Muhammad, Chalid. 2008. “Ecological Disasters and Indonesia's Future Threats”, The Jakarta Post (Daily Newspaper), 22 December 2008. Diakses dari http://www.thejakartapost.com/news/2008/12/22/ecological-disasters-and-indonesia039s-future-threats.html pada 5 Maret 2010.

Leonard, Annie. 2008. “Story of Stuff: Referenced and Annotated Script”. Diakses dari http://www.storyofstuff.com pada 18 Januari 2010.

Lings, Martin. 2009. Muhammad: Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik. Jakarta: Serambi.

Madjid, Nurcholish. 1992. Islam Doktrin dan Peradaban. Jakarta: Paramadina.

Nasr, Seyyed Hossein. 1988. Man and Nature: The Spiritual Crisis in Modern Man. London: Unwin Paperback.

Nordström, Hanna Kaisa. 2008. “Environmental Education and Multicultural Education – Tool Close to Be Separate?”. International Research in Geographical and Environmental Education 17: 2, hlm. 131-145.

al-Qurthubi, Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad al-Anshari. 2007. al-Jâmi‘ li-Ahkâmil Qur’ân. Kairo: Dârul Hadits.

Ramadan, Tariq. 2007. The Meaning of the Life of Muhammad. London: Allen Lane (Penguin Books).

al-Razi, Fakhruddin Muhammad bin ‘Umar bin al-Husayn. 2004. al-Tafsîr al-Kabîr (Mafâtîhul Ghayb). Beirut: Dârul Kutub al-‘Ilmiyyah.

Shihab, M. Quraish. 2009. Tafsir al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an. Jakarta: Lentera Hati.

Shihab, M. Quraish. 2011. Membaca Sirah Nabi Muhammad saw dalam Sorotan al-Qur’an dan Hadits-Hadits Shahih. Jakarta: Lentera Hati.

Singer, Peter. 2004. One World: The Ethics of Globalization. New Haven & London: Yale University Press.

Shiva, Vandana. 1989. Staying Alive: Women, Ecology and Development. London: Zed Books.

Speth, James Gustave. 2008. The Bridge at the Edge of the World: Capitalism, the Environment, and Crossing from Crisis to Sustainability. New Haven & London: Yale University Press.

UNDP. 2007. “The Other Half of Climate Change: Why Indonesia Must Adapt to Protect its Poorest People”. Jakarta: UNDP Indonesia. Diakses dari http://www.undp.or.id/pubs/ pada 14 Mei 2010.

Vaquette, Philippe. 2001. Belajar Mencintai Alam: 43 Permainan yang Menggugah Penginderaan pada Alam untuk Anak-Anak Usia 5 sampai 12 Tahun. Penyadur: D.M. Wirawati Suharno. Jakarta: Penerbit Djambatan.


Tulisan ini merupakan makalah yang disampaikan dalam International Conference on Islamic Civilization dengan tema "Reinventing Prophetic Ways of Life for Human Advancement" pada tanggal 29-30 Agustus 2014 yang diadakan oleh Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Foto di atas adalah dokumentasi panitia dengan sedikit penyuntingan.

Read More..

Monday, 1 September 2014

Plagiasi Bikin Sulit Tidur


Tadi malam saya dibuat tak bisa cepat lelap. Padahal, saya sudah cukup lelah. Sekitar petang, saya baru tiba dari Malang mengikuti International Conference on Islamic Civilization yang diadakan oleh Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang mulai hari Jum’at lalu.

Mengapa saya sulit tidur? Karena saya menemukan salah satu tulisan saya yang bisa dibaca di blog saya ini disalin-tempel dalam sebuah buku yang baru saya beli Ahad siang kemarin di Malang. Buku itu berjudul Psikologi Tasawuf karya Drs. Tamami HAG. M.Ag. terbitan Pustaka Setia, Bandung (2011). Di buku itu, tulisan saya sepanjang sekitar 600 kata yang disalin-tempel hanya dirujukkan ke Koran Tempo edisi 4 Januari 2004, yakni media dan tanggal pemuatan tulisan saya. Tanda perujukan diletakkan di paragraf terakhir dari seluruh bagian yang disalin-tempel.

Saya memeriksa tulisan saya di blog. Saya juga memeriksa arsip kliping tulisan yang disusun saat saya masih berstatus sebagai mahasiswa Fakultas Filsafat UGM itu. Saya bandingkan dengan buku yang baru saya beli itu. Memang salin-tempelnya tidak 100%. Tapi mungkin bisa dibilang 99% tidak jauh berbeda.

Ada bermacam perasaan yang membuat saya terus kepikiran. Saya kecewa. Saya sedih. Saya juga marah. Kekecewaan, kesedihan, dan kemarahan saya buka semata karena tulisan saya disalin-tempel tanpa menyebut nama saya, tapi lebih karena buku ini rupanya ditulis sebagai buku teks kuliah yang jika digoogling tampaknya sudah banyak digunakan mahasiswa dalam menyusun makalah. Saya berpikir, bagaimana mungkin karya yang dibuat dengan cara tak menghargai karya orang lain ini digunakan oleh para pelajar calon generasi penerus bangsa? Saya membayangkan betapa mental plagiasi di balik buku ini punya potensi merusak yang luas.

Tapi mungkin ada orang yang akan bertanya: “Bukankah si penulis sudah mencantumkan rujukan ke koran yang merupakan sumber tulisan saya?” Oke, benar. Tapi jika kutipannya persis, bukankah dalam kaidah penulisan ilmiah cara penulisannya harus berbeda? Serupa dengan cara orang membuat kalimat langsung dan kalimat tidak langsung yang cara penulisannya juga mesti berbeda.

Lagipula, si penulis hanya menyebut nama koran dan tanggal. Padahal di koran tersebut, judul tulisan dan penulisnya jelas ada. Tapi mengapa tidak dicantumkan, termasuk tidak dipasang di daftar pustaka? Di beberapa bagian, penulis buku mengubah kalimat dalam tulisan saya. Ada yang disesuaikan, karena tulisan saya itu merupakan resensi buku karya Lynn Wilcox, Ilmu Jiwa Berjumpa Tasawuf (Serambi, 2003). Tapi, ada bagian yang tak disesuaikan sehingga pembaca mungkin akan sedikit bingung.

Apakah ini termasuk plagiasi? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “plagiat” dimaknai “pengambilan karangan (pendapat dsb) orang lain dan menjadikannya seolah-olah karangan (pendapat dsb) sendiri”. Saya pikir, salin-tempel yang kalimat-kalimatnya 99% persis dan rujukannya dibuat tidak jelas seperti ini termasuk dalam kelompok plagiasi atau penjiplakan.

Agar jelas, silakan pembaca bandingkan secara lebih cermat isi buku yang salin-tempel dengan tulisan saya yang dimaksud.


Saya dengan mudah menemukan kasus salin-tempel ini karena judul subbab yang seluruh isinya bersumber dari tulisan saya tidak diubah dari judul yang saya buat. Judulnya persis sama dengan judul tulisan saya di Koran Tempo edisi 4 Januari 2004 itu. Judulnya khas koran dan sebenarnya kurang cocok untuk judul subbab di buku teks.

Melihat judul-judul subbab yang lain, saya jadi curiga bahwa di bagian yang lain itu saya bisa menemukan kasus salin-tempel serupa. Tadi pagi, saya coba memeriksa subbab sebelum dan sesudah bagian yang salin-tempel dari tulisan saya. Hasilnya, ternyata sama: si penulis buku melakukan salin-tempel dari sumber di internet dengan perujukan yang tidak jelas.

Pemeriksaan saya tadi pagi menemukan 7 tautan di internet yang disalin-tempel, termasuk tulisan saya. Di buku itu, 7 tautan tersebut menjelma menjadi 71 halaman (dalam 2 bab). Di antara yang disalin-tempel adalah tulisan Ihsan Maulana dan Martin van Bruinessen. Dalam kasus tulisan Ihsan Maulana, si penulis buku tak menyebut nama Ihsan Maulana atau rujukan tautan blog yang dikutip. Tulisan Ihsan Maulana yang disiarkan di blog pribadinya pada bulan Februari 2008 disalin-tempel dalam 15 halaman di buku itu. Rujukan-rujukan yang digunakan Ihsan Maulana langsung saja dirujuk oleh si penulis buku sehingga pembaca buku akan menduga bahwa pengarang buku merujuk pada buku-buku tersebut. Padahal, kalimat-kalimat dan rujukannya ya mengambil dari tulisan Ihsan Maulana.


Untuk tulisan Martin van Bruinessen, nama profesor dari Utrecht University yang juga peneliti tasawuf dan juga peneliti pesantren ini disebut di bagian awal tulisan yang merupakan salin-tempel dan di buku menjadi 6 halaman itu. Selanjutnya, si penulis buku mencantumkan rujukan-rujukan yang digunakan Martin van Bruinessen seolah-olah si penulis mengakses sendiri bahan rujukan tersebut. Padahal, kalimat-kalimat di buku bisa dibilang persis dengan tulisan Martin yang bisa diakses di laman Utrecht University itu.


Bagaimana dengan bab yang lain?

Cukuplah rasanya 7 tautan dan 71 halaman itu untuk membuat saya benar-benar kecewa, sedih, dan marah. Bukan karena ini terkait tulisan saya, tulisan Ihsan Maulana yang lulusan PP Bata-Bata Pamekasan atau tulisan Martin van Bruinessen yang merupakan profesor di kampus yang adalah almamater saya. Saya kecewa, sedih, dan marah karena perilaku kotor ini dilakukan oleh seorang pendidik di kampus agama, dan karyanya digunakan oleh ribuan atau lebih mahasiswa.

Seorang rekan mengatakan bahwa plagiasi seperti ini akan terus ada sepanjang masa. Tapi tentu saja tidak berarti kita harus diam saja. Pemaparan pengalaman saya melalui tulisan ini setidaknya diharapkan dapat menjadi peringatan bagi saya dan kita semua bahwa ada pekerjaan rumah yang penting diperhatikan di dunia pendidikan kita.

Terakhir, bagi yang kebetulan punya buku tersebut dan tertarik untuk memeriksa bagian salin-tempel yang saya maksud, silakan buka bab kedua dan bab ketiga buku tersebut, lalu bandingkan dengan rangkaian tautan di bawah ini:
Tautan 1
Tautan 2
Tautan 3
Tautan 4
Tautan 5
Tautan 6
Tautan 7


Baca juga:
>> Plagiarisme dan Komunitas Akademik yang Sekarat
>> Vampir Kebudayaan dan Sisi Hitam Dunia Kepenulisan


Read More..

Tuesday, 26 August 2014

Annuqayah dan Perjuangan Kebangsaan

Makam KH Abdullah Sajjad (bendera merah putih) dan K M Khazin Ilyas

Peran pesantren dalam perjuangan kebangsaan Indonesia sangatlah nyata. Namun, sumber-sumber yang menegaskan hal ini masih belum banyak tersiar secara luas melalui dokumen tertulis yang mudah diperoleh masyarakat umum. Akibatnya, orang-orang yang sangat terbatas akses informasinya atas dunia pesantren sering hanya menempatkan pesantren sebagai dunia-kecil yang berkutat pada bidang keagamaan murni.

Bahkan, saat belakangan media memberitakan aksi terorisme yang di antaranya melibatkan lulusan pesantren, citra pesantren dalam kaitannya dengan perjuangan kebangsaan jadi terbalik. Semangat yang diajarkan pesantren seolah tak sejalan dengan kehidupan kebangsaan yang di antaranya berupa pengayoman atas seluruh masyarakat Indonesia beragam.

Sejarah peran pesantren dalam perjuangan khususnya yang bersifat lokal dan masih tercerai-berai itu kiranya penting untuk digali, didokumentasikan, dan kemudian disiarkan agar sejarah perjuangan kebangsaan Indonesia menjadi lebih utuh.

Di Sumenep pada khususnya dan Madura pada umumnya, salah satu pesantren yang tak boleh dilewatkan dalam kaitannya dengan perjuangan kebangsaan ini adalah Pesantren Annuqayah yang dahulu lazim disebut Pesantren Lukguluk. Perjuangan kebangsaan Annuqayah yang didirikan pada tahun 1887 sebenarnya sudah dicatat dalam buku Satu Abad Annuqayah yang terbit terbatas pada tahun 2000 (yang menjadi bahan utama tulisan ini).

Nama salah satu kiai pesantren ini telah tercatat sebagai salah satu nama jalan di kota Sumenep. Beliau adalah KH Abdullah Sajjad. KH Abdullah Sajjad adalah putra pendiri Pesantren Annuqayah yang berasal dari Kudus, Kiai Muhammad Syarqawi (w. 1910). Pada masa Agresi Militer Belanda tahun 1947, beliau yang saat itu baru menjadi Kepala Desa Guluk-Guluk memimpin Barisan Sabilillah menghalau laju pasukan Belanda yang bergerak dari arah Surabaya ke Sumenep. Di lapangan, Sabilillah dipimpin oleh ponakannya, yakni Kiai M Khazin Ilyas (w. 1948), yang dengan sengit memimpin langsung pertempuran di Dusun Orai, Pamoroh, Pamekasan, bersama saudaranya, Kiai Moh Ashiem Ilyas (1997), dan juga sepupunya, Kiai Ja’far Husain (w. 1368 H).

Berkat pelawanan yang gigih, laju pasukan Belanda yang melewati jalur tengah yang menghubungkan Pamekasan-Sumenep ini tertahan sampai beberapa bulan. Singkat cerita, setelah melalui siasat dan tipu daya, pada hari Selasa, 3 Desember 1947, KH Abdullah Sajjad meninggal di tangan tentara Belanda di lapangan Kemisan, Guluk-Guluk, setelah sekitar empat bulan mengungsi ke pedalaman Desa Karduluk, Pragaan.

Keterlibatan kiai-kiai Annuqayah pada perjuangan kebangsaan saat itu juga dilakukan secara berjejaring dengan tokoh-tokoh nasional. Pada tahun 1942, Kiai Moh Ashiem Ilyas dan Kiai Moh Amir Ilyas (w. 1996) yang menempuh pendidikan di Tebuireng juga berlatih kemiliteran dengan pasukan Hizbullah dan sempat bertempur di Sidoarjo selama dua pekan.

Kiai M Khazin Ilyas pernah mengikuti pendidikan kemiliteran bersama pasukan Peta (Pembela Tanah Air) di Jawa Barat. Beliau juga menjabat sebagai wakil ketua Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI) pimpinan Bung Tomo yang untuk cabang Sumenep diketuai oleh Kiai Idris Jauhari (w. 2012), dari PP Al-Amien, Prenduan.*

Dari sumber-sumber lain yang masih berbentuk sejarah lisan, kita bisa meneguhkan bagaimana perjuangan Annuqayah dalam ikut merebut dan mempertahankan kemerdekaan ini sangatlah nyata. Saat ini, masih ada tokoh-tokoh yang juga bertempur langsung pada masa Agresi Belanda itu. KH Ahmad Basyir, misalnya, yang tak lain adalah putra KH Abdullah Sajjad dan sekarang menjadi Ketua Dewan Masyayikh Pesantren Annuqayah, pada tahun 1947 juga turut bertempur di lapangan.

Selain terlibat dalam pertempuran, jauh sebelum kemerdekaan RI, pada tahun 1933, Pesantren Lukguluk mendirikan lembaga pendidikan formal yang sudah menggunakan sistem berjenjang (kelas) bernama Madrasah Salafiyah Annuqayah. Inilah cikal bakal nama Annuqayah yang sekarang menjadi sebutan/nama pesantren ini. Madrasah yang saat itu terdiri dari 5 jenjang ini digagas oleh Kiai M Khazin setelah terilhami oleh madrasah formal di Pesantren Tebuireng, Jombang.

Yang menarik, KH Moh Mahfoudh Husainy, salah satu tokoh pendidikan di Annuqayah yang meninggal tahun 2009, pernah mengemukakan pandangan bahwa dibukanya lembaga pendidikan formal ini adalah bentuk perjuangan kebangsaan Annuqayah yang saat itu menilai bahwa keberhasilan perjuangan kebangsaan dicapai dengan gerakan pendidikan sebagaimana dicontohkan oleh Ki Hajar Dewantara melalui Taman Siswa dan juga Budi Utomo.

Pandangan Kiai Mahfoudh ini penting untuk digarisbawahi saat mencermati peran Annuqayah saat ini dalam melanjutkan semangat perjuangan kebangsaan melalui ikhtiar pendidikan pada khususnya dan pengabdian masyarakat pada umumnya. Dengan kerangka pikir seperti ini, tak heran jika upaya pendidikan Annuqayah sejak dahulu dapat kita lihat dengan jelas. Untuk hal ini, kiai-kiai Annuqayah tak ragu belajar dan merangkul hal-hal di luar pesantren dalam rangka pendidikan dan semangat kebangsaan.

Pada tahun 1945, tak lama setelah proklamasi, tercatat bahwa Kiai Ilyas Syarqawi (w. 1959) langsung menanggapi pencanangan Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dengan menggunakannya sebagai bahasa pengantar dalam pengajian kitab kuning di pesantren. Beberapa tahun setelah itu, Kiai Mahfoudh menggagas dimasukkannya pelajaran Bahasa Inggris ke dalam kurikulum Madrasah Salafiyah Annuqayah.

Berbagai catatan sejarah lokal yang memiliki semangat serupa dengan uraian singkat di atas, yakni tentang semangat perjuangan kebangsaan pesantren, sangat mungkin kita temukan di tempat lain. Bagaimanapun, tokoh agama di pesantren dari dulu hingga sekarang juga kerap berperan sebagai tokoh perubahan sosial yang di antaranya memperlihatkan etos kebangsaan yang luar biasa.

Upaya untuk menggali sejarah lokal seperti ini sangatlah penting untuk terus didorong oleh pihak-pihak yang berwenang di Madura, mulai dari pengurus publik (pemerintah), ilmuwan/akademisi, maupun orang pesantren sendiri. Catatan sejarah tersebut pasti akan sangat berharga untuk membangun cermin utuh identitas kebangsaan Indonesia yang akan menjadi modal besar dalam melangkah mengisi ruang kemerdekaan dan melanjutkan perjuangan para pahlawan bangsa.


Tulisan ini dimuat di Koran Madura, 25 Agustus 2014.

* Setelah tulisan ini tersiar, ada koreksi dari K. Muhammad Zamiel El-Muttaqien bahwa KH Idris Jauhari yang lahir pada tahun 1952 tampak tidak masuk akal jika menjadi ketua BPRI yang menurut catatan sejarah dibubarkan atau dilebur dengan TNI pada tahun 1947. Saya mengutip informasi ini dari buku Satu Abad Annuqayah yang diterbitkan PP Annuqayah pada tahun 2000. Saya menduga bahwa mungkin yang dimaksud adalah KH Djauhari Chotib (w. 1971), ayah KH Idris. Demikian koreksi dari saya. Mohon maaf.

Read More..