Tuesday, 26 August 2014

Annuqayah dan Perjuangan Kebangsaan

Makam KH Abdullah Sajjad (bendera merah putih) dan K M Khazin Ilyas

Peran pesantren dalam perjuangan kebangsaan Indonesia sangatlah nyata. Namun, sumber-sumber yang menegaskan hal ini masih belum banyak tersiar secara luas melalui dokumen tertulis yang mudah diperoleh masyarakat umum. Akibatnya, orang-orang yang sangat terbatas akses informasinya atas dunia pesantren sering hanya menempatkan pesantren sebagai dunia-kecil yang berkutat pada bidang keagamaan murni.

Bahkan, saat belakangan media memberitakan aksi terorisme yang di antaranya melibatkan lulusan pesantren, citra pesantren dalam kaitannya dengan perjuangan kebangsaan jadi terbalik. Semangat yang diajarkan pesantren seolah tak sejalan dengan kehidupan kebangsaan yang di antaranya berupa pengayoman atas seluruh masyarakat Indonesia beragam.

Sejarah peran pesantren dalam perjuangan khususnya yang bersifat lokal dan masih tercerai-berai itu kiranya penting untuk digali, didokumentasikan, dan kemudian disiarkan agar sejarah perjuangan kebangsaan Indonesia menjadi lebih utuh.

Di Sumenep pada khususnya dan Madura pada umumnya, salah satu pesantren yang tak boleh dilewatkan dalam kaitannya dengan perjuangan kebangsaan ini adalah Pesantren Annuqayah yang dahulu lazim disebut Pesantren Lukguluk. Perjuangan kebangsaan Annuqayah yang didirikan pada tahun 1887 sebenarnya sudah dicatat dalam buku Satu Abad Annuqayah yang terbit terbatas pada tahun 2000 (yang menjadi bahan utama tulisan ini).

Nama salah satu kiai pesantren ini telah tercatat sebagai salah satu nama jalan di kota Sumenep. Beliau adalah KH Abdullah Sajjad. KH Abdullah Sajjad adalah putra pendiri Pesantren Annuqayah yang berasal dari Kudus, Kiai Muhammad Syarqawi (w. 1910). Pada masa Agresi Militer Belanda tahun 1947, beliau yang saat itu baru menjadi Kepala Desa Guluk-Guluk memimpin Barisan Sabilillah menghalau laju pasukan Belanda yang bergerak dari arah Surabaya ke Sumenep. Di lapangan, Sabilillah dipimpin oleh ponakannya, yakni Kiai M Khazin Ilyas (w. 1948), yang dengan sengit memimpin langsung pertempuran di Dusun Orai, Pamoroh, Pamekasan, bersama saudaranya, Kiai Moh Ashiem Ilyas (1997), dan juga sepupunya, Kiai Ja’far Husain (w. 1368 H).

Berkat pelawanan yang gigih, laju pasukan Belanda yang melewati jalur tengah yang menghubungkan Pamekasan-Sumenep ini tertahan sampai beberapa bulan. Singkat cerita, setelah melalui siasat dan tipu daya, pada hari Selasa, 3 Desember 1947, KH Abdullah Sajjad meninggal di tangan tentara Belanda di lapangan Kemisan, Guluk-Guluk, setelah sekitar empat bulan mengungsi ke pedalaman Desa Karduluk, Pragaan.

Keterlibatan kiai-kiai Annuqayah pada perjuangan kebangsaan saat itu juga dilakukan secara berjejaring dengan tokoh-tokoh nasional. Pada tahun 1942, Kiai Moh Ashiem Ilyas dan Kiai Moh Amir Ilyas (w. 1996) yang menempuh pendidikan di Tebuireng juga berlatih kemiliteran dengan pasukan Hizbullah dan sempat bertempur di Sidoarjo selama dua pekan.

Kiai M Khazin Ilyas pernah mengikuti pendidikan kemiliteran bersama pasukan Peta (Pembela Tanah Air) di Jawa Barat. Beliau juga menjabat sebagai wakil ketua Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI) pimpinan Bung Tomo yang untuk cabang Sumenep diketuai oleh Kiai Idris Jauhari (w. 2012), dari PP Al-Amien, Prenduan.*

Dari sumber-sumber lain yang masih berbentuk sejarah lisan, kita bisa meneguhkan bagaimana perjuangan Annuqayah dalam ikut merebut dan mempertahankan kemerdekaan ini sangatlah nyata. Saat ini, masih ada tokoh-tokoh yang juga bertempur langsung pada masa Agresi Belanda itu. KH Ahmad Basyir, misalnya, yang tak lain adalah putra KH Abdullah Sajjad dan sekarang menjadi Ketua Dewan Masyayikh Pesantren Annuqayah, pada tahun 1947 juga turut bertempur di lapangan.

Selain terlibat dalam pertempuran, jauh sebelum kemerdekaan RI, pada tahun 1933, Pesantren Lukguluk mendirikan lembaga pendidikan formal yang sudah menggunakan sistem berjenjang (kelas) bernama Madrasah Salafiyah Annuqayah. Inilah cikal bakal nama Annuqayah yang sekarang menjadi sebutan/nama pesantren ini. Madrasah yang saat itu terdiri dari 5 jenjang ini digagas oleh Kiai M Khazin setelah terilhami oleh madrasah formal di Pesantren Tebuireng, Jombang.

Yang menarik, KH Moh Mahfoudh Husainy, salah satu tokoh pendidikan di Annuqayah yang meninggal tahun 2009, pernah mengemukakan pandangan bahwa dibukanya lembaga pendidikan formal ini adalah bentuk perjuangan kebangsaan Annuqayah yang saat itu menilai bahwa keberhasilan perjuangan kebangsaan dicapai dengan gerakan pendidikan sebagaimana dicontohkan oleh Ki Hajar Dewantara melalui Taman Siswa dan juga Budi Utomo.

Pandangan Kiai Mahfoudh ini penting untuk digarisbawahi saat mencermati peran Annuqayah saat ini dalam melanjutkan semangat perjuangan kebangsaan melalui ikhtiar pendidikan pada khususnya dan pengabdian masyarakat pada umumnya. Dengan kerangka pikir seperti ini, tak heran jika upaya pendidikan Annuqayah sejak dahulu dapat kita lihat dengan jelas. Untuk hal ini, kiai-kiai Annuqayah tak ragu belajar dan merangkul hal-hal di luar pesantren dalam rangka pendidikan dan semangat kebangsaan.

Pada tahun 1945, tak lama setelah proklamasi, tercatat bahwa Kiai Ilyas Syarqawi (w. 1959) langsung menanggapi pencanangan Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dengan menggunakannya sebagai bahasa pengantar dalam pengajian kitab kuning di pesantren. Beberapa tahun setelah itu, Kiai Mahfoudh menggagas dimasukkannya pelajaran Bahasa Inggris ke dalam kurikulum Madrasah Salafiyah Annuqayah.

Berbagai catatan sejarah lokal yang memiliki semangat serupa dengan uraian singkat di atas, yakni tentang semangat perjuangan kebangsaan pesantren, sangat mungkin kita temukan di tempat lain. Bagaimanapun, tokoh agama di pesantren dari dulu hingga sekarang juga kerap berperan sebagai tokoh perubahan sosial yang di antaranya memperlihatkan etos kebangsaan yang luar biasa.

Upaya untuk menggali sejarah lokal seperti ini sangatlah penting untuk terus didorong oleh pihak-pihak yang berwenang di Madura, mulai dari pengurus publik (pemerintah), ilmuwan/akademisi, maupun orang pesantren sendiri. Catatan sejarah tersebut pasti akan sangat berharga untuk membangun cermin utuh identitas kebangsaan Indonesia yang akan menjadi modal besar dalam melangkah mengisi ruang kemerdekaan dan melanjutkan perjuangan para pahlawan bangsa.


Tulisan ini dimuat di Koran Madura, 25 Agustus 2014.

* Setelah tulisan ini tersiar, ada koreksi dari K. Muhammad Zamiel El-Muttaqien bahwa KH Idris Jauhari yang lahir pada tahun 1952 tampak tidak masuk akal jika menjadi ketua BPRI yang menurut catatan sejarah dibubarkan atau dilebur dengan TNI pada tahun 1947. Saya mengutip informasi ini dari buku Satu Abad Annuqayah yang diterbitkan PP Annuqayah pada tahun 2000. Saya menduga bahwa mungkin yang dimaksud adalah KH Djauhari Chotib (w. 1971), ayah KH Idris. Demikian koreksi dari saya. Mohon maaf.

Read More..

Friday, 22 August 2014

Buku Pembangkit Minat Baca


Saat membantu pengelolaan Perpustakaan Madaris III Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, pada tahun 2008-2009, saya sempat memunculkan istilah “buku pembangkit minat baca”. Istilah ini digunakan untuk menyebut buku-buku yang dianggap mampu menarik dan membangkitkan minat baca siswa khususnya yang sebelumnya masih belum cukup akrab dengan buku.

Sebagai perpustakaan sekolah yang berada di wilayah pedalaman Madura yang sebagian besar siswanya berlatar dari keluarga golongan masyarakat dengan kemampuan ekonomi menengah ke bawah, diperlukan upaya dan strategi khusus untuk memancing kegemaran siswa pada buku.

Saya berpandangan bahwa pemilihan buku koleksi perpustakaan menjadi kunci utama yang sangat penting untuk diperhatikan. Di tengah anggaran yang terbatas, perpustakaan harus cermat memilih buku. Pada titik inilah lalu muncul istilah “buku pembangkit minat baca”.

Yang dimaksud “buku pembangkit minat baca” adalah buku bermutu yang nyaman dicerna dan menyenangkan untuk dibaca bahkan oleh mereka yang masih tidak biasa atau malah fobia terhadap buku. Nah, pada waktu itu, saya berpikir bahwa yang masuk untuk kategori ini adalah buku yang bergaya tutur naratif sehingga nyaman dibaca dan mudah dicerna.

Dalam tulisan saya di tahun 2009, saya memberi contoh buku Muhammad karya Martin Lings (Serambi), Laskar Pelangi karya Andrea Hirata (Bentang), dan Ganti Hati karya Dahlan Iskan (JP Books). Sekali lagi, waktu itu saya terlalu fokus pada gaya penyajian bahasa untuk menilai apakah sebuah buku bisa disebut sebagai “buku pembangkit minat baca”. Saya tidak memberi perhatian yang cukup pada unsur “menyenangkan”.

Saya jadi berpikir ulang soal “buku pembangkit minat baca” ini setelah tulisan saya di blog ini yang memaparkan program “Tantangan Membaca 2.0” di SMA 3 Annuqayah dan juga disusul dengan daftar buku yang akan masuk dalam program tersebut ditanggapi banyak pihak. Salah satu butir komentar kritis yang saya terima, di antaranya oleh Ahmad Subhan dan Sekar Dinihari (keduanya pustakawan yang kebetulan saya kenal), atas program-program yang berusaha mendorong kegemaran membaca dan menulis di SMA 3 Annuqayah adalah bahwa berbagai program yang ada terkesan kurang menyentuh kelompok siswa yang kegemaran membaca dan kesukaannya pada buku masih lemah.

Dalam menanggapi salah satu posting saya di blog ini, Ahmad Subhan menulis: “Setelah membaca beberapa tulisan mengenai program tantangan membaca di blog ini dan Taman Karya Madaris, saya jadi menduga bahwa program ini baru memberi kesempatan bagi beberapa siswa yang sudah punya kebiasaan membaca dengan baik. Mungkin kebiasaan itu sudah terbangun pada mereka yang sedikit itu melalui berbagai cara yang bersifat individual. Program tantangan membaca membuka kesempatan bagi mereka yang ternyata menonjol ini untuk tampil.”

Sekar Dinihari, yang bersama suaminya yang seorang fotografer profesional pernah berkunjung dan berbagi ilmu di SMA 3 Annuqayah, menceritakan pengalaman pribadinya yang mengaku cenderung malas dengan buku tebal dan tak bergambar sama sekali. Baginya, membaca itu juga kudu menyenangkan sehingga dia mengaku selalu menekankan reading a book as an art dalam tiap diskusi tentang perpustakaan.

Komentar-komentar ini membuat saya diam sejenak dan berpikir ulang. Dari pengamatan selintas atas hasil pelaksanaan beberapa program yang berusaha mendorong kegemaran membaca di SMA 3 Annuqayah, saya jadi tersadar bahwa belakangan saya memang kurang fokus pada mereka yang memang masih jauh untuk dekat dengan buku. Memang, dari 11 siswa yang akhir tahun pelajaran 2013/2014 kemarin tuntas mengikuti program Tantangan Membaca, saya menemukan 4 di antaranya termasuk siswa yang tidak menonjol dalam kegiatan terkait buku dan kepenulisan, dan bahkan secara akademik di kelas tidaklah begitu menonjol. Ketuntasan 4 siswa ini bagi saya menjadi kabar gembira. Siswa yang di kelas tampak biasa-biasa saja ternyata bisa tuntas mengikuti program Tantangan Membaca, meskipun saat pemaparan hasil bacaannya secara lisan mereka memang masih tampak agak kesulitan.

Melihat hasil program Tantangan Membaca akhir tahun pelajaran lalu, saya malah tampak lebih tergoda untuk fokus dan mengembangkan program Tantangan Membaca ini, terbukti dengan munculnya gagasan program “Tantangan Membaca 2.0”. Namun, sekali lagi, komentar-komentar kritis dari beberapa rekan telah membuat saya berpikir ulang untuk kembali ke tujuan dasar program yang berusaha mendorong kegemaran membaca di SMA 3 Annuqayah. Kami tidak boleh hanya fokus memfasilitasi siswa yang sudah punya kebiasaan membaca dan kecintaan pada buku. Kami harus lebih memperhatikan mereka yang masih belum akrab dengan buku dan kegiatan membaca.

Untuk itu, saya jadi berpikir untuk menghidupkan kembali program “Perpustakaan Masuk Kelas” yang sempat terhenti karena persediaan naskah yang terbatas. Program yang mulai diperkenalkan di SMA 3 Annuqayah pada bulan Februari 2012 ini saat dievaluasi pelaksanaannya empat bulan kemudian ternyata menunjukkan antusiasme siswa secara umum untuk mulai akrab dengan bacaan bermutu. Keunggulan program ini terutama karena naskah yang disajikan benar-benar dipilih dengan cermat dan disuguhkan lengkap dengan kamus mini sehingga nyaman dan mudah dicerna. Panjang tulisan yang relatif pendek juga membuat siswa relatif tidak berat untuk mencerna bacaan yang disajikan.

Selain program “Perpustakaan Masuk Kelas” itu, untuk persiapan program Wajib Baca dan program Tantangan Membaca pada tahun pelajaran 2014/2015 ini, saya berusaha untuk menghimpun daftar “buku pembangkit minat baca” untuk segera dikoleksi oleh SMA 3 Annuqayah. Untuk menyusun daftar ini, saya sekarang mencoba ingin memberi penekanan pada unsur “menyenangkan”. Saya tak ingin mengulangi keteledoran saya yang kurang memperhatikan unsur ini.

Karena itu, saya berusaha mendaftar buku-buku yang penuh ilustrasi/gambar yang mengangkat tema-tema menarik dan penting sesuai dengan visi SMA 3 Annuqayah. Asumsinya, pembaca pemula, yakni mereka yang belum akrab dengan buku, akan lebih mudah terpikat pada buku yang tidak kering dan bertabur ilustrasi. Apalagi gambarnya kemudian tersaji warna-warni.

Di bawah ini adalah daftar sementara buku yang berhasil saya temukan yang akan dipertimbangkan untuk dikoleksi. Saya menyusun tulisan ini dan menyiarkan daftar sementara buku yang akan dikoleksi dengan harapan akan mendapatkan dukungan pembaca baik dalam bentuk usulan daftar buku selain yang sudah disebut di sini atau siapa tahu ada yang sudi mendatang beberapa buku yang ada di daftar berikut untuk SMA 3 Annuqayah.

Berikut daftar sementara yang berhasil saya himpun:

Qur’anku Sahabatku 1-4, Afif Muhammad, DAR! Mizan.
Kisah Nyata 25 Nabi dan Rasul, M. Faizi, Indonesia Tera.
Karung Mutiara al-Ghazali, Hermawan & Jitet Koestana, KPG.
Biografi Imam Syafi’i, Tariq Suwaidan, Zaman.
Biografi Imam Malik, Tariq Suwaidan, Zaman.
Biografi Imam Abu Hanifah, Tariq Suwaidan, Zaman.
Biografi Imam Ahmad ibn Hanbal, Tariq Suwaidan, Zaman.
Seri Walisongo, Arman Arroisi, Rosda.
Gus Dur van Jombang, Heru Prasetia & Edi Jatmiko, Bentang Pustaka.
Soekarno, Tim Majalah Tempo, KPG.
Hatta, Tim Majalah Tempo, KPG.
Wahid Hasyim, Tim Majalah Tempo, Jakarta: KPG.
Wiji Thukul, Tim Majalah Tempo, Jakarta: KPG.
Munir: Novel Grafis, Sulaiman Said, KPG.
Palestina: Duka Orang-Orang Terusir 1-2, Joe Sacco, DAR! Mizan.
Nafsu Perang, Joel Andreas, Profetik.
Komik Riwayat Peradaban 1-3, Larry Gonick, KPG.
Mendeteksi Bias Berita, Heri Winarko, KLIK.
Quantum Learner, Bobbi DePorter, Kaifa.
Quantum Thinker, Bobbi DePorter, Kaifa.
Quantum Reader, Bobbi DePorter, Kaifa.
Quantum Writer, Bobbi DePorter, Kaifa.
Quantum Note-Taker, Bobbi DePorter, Kaifa.
Quantum Memorizer, Bobbi DePorter, Kaifa.
The Naked Traveler, Trinity, C Publishing.


Baca juga:
>> Tantangan Membaca 2.0
>> Perpustakaan Masuk Kelas


Read More..

Thursday, 7 August 2014

Buku untuk Literasi di Sekolah


Program literasi di SMA 3 Annuqayah semakin diperkuat mulai tahun pelajaran 2013/2014 lalu. Sekolah merancang sejumlah program khusus yang beberapa di antaranya memperkuat program yang sudah terlaksana sebelumnya.

Ada satu program baru yang dicanangkan tahun lalu, yakni program wajib baca buku. Rencananya, sekolah akan mewajibkan semua siswa untuk membaca sejumlah buku dalam waktu satu tahun pelajaran. Adapun buku yang bisa dibaca untuk program ini sudah dipilih dan disediakan secara khusus oleh sekolah di tiap kelas (dalam program Perpus-dalam-Kelas).

Karena ternyata proses pemilihan buku dan pengadaannya cukup memakan waktu, akhirnya program ini tidak terlaksana. Namun begitu, 3 bulan sebelum tahun pelajaran 2013/2014 berakhir, SMA 3 Annuqayah telah membeli 22 judul buku terpilih yang semua berjumlah 218 eksemplar. Selain itu, sekolah juga membeli Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi terbaru sebanyak 9 eksemplar yang disebar ke tiap kelas. Sekolah juga menerbitkan Kisah Terpilih: Antologi Cerita Pendek yang merupakan proyek penerbitan cerpen-cerpen karya cerpenis terkemuka Indonesia lintas-dekade. Kisah Terpilih dicetak terbatas sebanyak 55 eksemplar dan disebar ke tiap kelas.

Meski program wajib baca tidak terlaksana, di akhir tahun pelajaran 2013/2014 lalu, SMA 3 Annuqayah sempat melaksanakan kegiatan “Tantangan Membaca”. Dalam waktu 30 hari antara 10 Mei hingga 10 Juni 2014, siswa SMA 3 Annuqayah ditantang untuk membaca paling sedikitnya 5 buku terpilih di antara 22 judul buku yang tersedia. Berikut ini daftar judul bukunya:

Buku Pilihan Program Wajib Baca dan Tantangan Membaca:
Annuqayah: Gerak Transformasi Sosial di Madura, Bisri Effendy, Jakarta: P3M.
Rahasia Perempuan Madura, A. Dardiri Zubairi, Surabaya: Andhap Asor.
Bilik-Bilik Cinta Muhammad, Nizar Abazhah, Jakarta: Zaman.
Perempuan, M. Quraish Shihab, Jakarta: Lentera Hati.
Wahid Hasyim, Tim Majalah Tempo, Jakarta: KPG.
Wiji Thukul, Tim Majalah Tempo, Jakarta: KPG.
Emak, Daoed Joesoef, Jakarta: Kompas.
Ganti Hati, Dahlan Iskan, Jakarta: Elex Media.
Alamku Tak Seramah Dulu, Aditya Dipta (ed.), Jakarta: YOI.
Greendeen, Ibrahim Abdul-Matin, Jakarta: Zaman.
Lumbung Pangan, Hira Jhamtani, Yogyakarta: Insist Press.
Terapi Berpikir Positif, Ibrahim Elfiky, Jakarta: Zaman.
Bekisar Merah, Ahmad Tohari, Jakarta: Gramedia.
Jalan Tak Ada Ujung, Mochtar Lubis, Jakarta: YOI.
Pertemuan Dua Hati, Nh. Dini, Jakarta: Gramedia.
Sang Alkemis, Paulo Coelho, Jakarta: Gramedia.
Lukisan Kaligrafi, A. Mustofa Bisri, Jakarta: Kompas.
Totto-chan, Tetsuko Kuroyanagi, Jakarta: Gramedia.
Sheila, Torey Hayden, Bandung: Qanita.
Rabiah al-Adawiyah, Makmun Gharib, Jakarta: Zaman.
Keajaiban Istighfar, Qamaruddin SF, Jakarta: Zaman.
Usir Galau dengan Internet Sehat, Donny Bu, Yogyakarta: Andi Offset.


Alhamdulillah, meski dilaksanakan secara cukup mendadak dan waktunya juga di sela-sela pelaksanaan ujian semester, ada 11 siswa yang berhasil menuntaskan program “Tantangan Membaca” ini (termasuk menuliskan rangkuman/ulasan buku yang dibacanya), dan 8 di antaranya mempresentasikan satu buku hasil bacaannya secara lisan di sebuah forum yang difasilitasi sekolah.

Program “Tantangan Membaca” ini sebenarnya bukan hal baru di lingkungan sekolah. Kami mendengar program ini dari Satria Dharma, Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI) yang juga pegiat literasi, saat menjadi narasumber di SMA 3 Annuqayah beberapa bulan lalu dalam sebuah seminar literasi. Namun, kami memilih secara khusus daftar buku yang dimasukkan untuk program ini. Mirip dengan pengembangan program silent reading yang sudah dilaksanakan di banyak sekolah di Indonesia dengan cara memilih bacaan yang dikutip dari buku tertentu untuk program silent reading yang di SMA 3 Annuqayah disebut program Perpus-Masuk-Kelas. Dengan memilih buku yang bisa dibaca dan disebar ke tiap kelas, diharapkan siswa dapat diarahkan untuk membaca buku-buku tertentu yang sesuai dengan visi sekolah dan relatif bermutu.

Pemilihan buku yang tepat menurut saya menjadi salah satu kunci penting dalam mendorong minat baca. Karena itu, selain kesesuaian dengan visi sekolah dan mutu yang terjamin, kami berusaha untuk memilih buku yang secara relatif enak dibaca dan mudah dicerna. Demi membantu kemudahan siswa, sekolah menyediakan Kamus Besar Bahasa Indonesia di tiap kelas.

Selain wawasan perbukuan yang luas, tantangan dalam memilih buku untuk program ini adalah kesesuaian dengan kemampuan membaca siswa. Meski siswa di SMA 3 Annuqayah rata-rata memiliki pengalaman membaca buku yang sangat minim, kadang saya memberanikan diri untuk memasukkan buku yang mungkin relatif berat. Sebagai penjajakan, kami mengujicobakan ke beberapa siswa dengan secara proaktif meminjamkan buku tersebut untuk dibaca. Misalnya, saya pernah meminjamkan buku Dari Puncak Bagdad karya Tamim Ansary untuk dibaca siswa kelas XI SMA 3 Annuqayah. Juga novel Mushashi karya Eiji Yoshikawa. Alhamdulillah, ternyata dibaca tuntas.

Tantangan lainnya berupa ketersediaan buku. Tak jarang kami harus memfotokopi buku yang kami pilih karena buku tersebut sudah tidak dicetak oleh penerbit.

Tentu saja, dalam hal memilih buku, masukan dari berbagai pihak sangatlah membantu kami. Tak hanya rekan-rekan pencinta buku yang memberi masukan, bahkan AS Laksana turut mengapresiasi program ini dan sempat berdiskusi soal pilihan beberapa buku yang saya daftar. Lebih jauh, AS Laksana sempat menyebut program literasi di SMA 3 Annuqayah ini dalam sebuah esainya di rubrik Ruang Putih Jawa Pos edisi 29 Desember 2013.

Dalam program “Tantangan Membaca” yang dilaksanakan akhir tahun pelajaran 2013/2014 lalu, memang terlihat bahwa ada buku yang tampaknya belum atau jarang dicoba untuk dibaca siswa. Ini merupakan tantangan bagi kami sebagai penyelenggara untuk memikirkan bagaimana caranya agar buku tersebut bisa diminati.

Sebagai pengembangan dari program “Tantangan Membaca”, beberapa waktu lalu saya menggagas untuk mengembangkan program ini dalam sebuah program dengan nama “Tantangan Membaca 2.0”. Dalam versi baru, program ini menantang siswa untuk membaca sejumlah buku terpilih dalam satu tema tertentu. Diharapkan, pengalaman membaca secara terfokus seperti ini akan memberi pengalaman baru yang berbeda, mendorong semangat belajar siswa, dan mengarahkan siswa untuk menekuni bidang kajian tertentu.

Sejauh ini, ada 10 tema yang sudah terpilih, yakni: al-Qur’an, sejarah kehidupan Nabi Muhammad saw., akhlak/tasawuf, pesantren, Madura, sejarah/tokoh, lingkungan hidup, jurnalistik, sastra Indonesia, dan sastra dunia.

Saat ini kami sedang menyusun daftar buku terpilih untuk kesepuluh tema ini. Saya memang tidak yakin bahwa semua buku yang ada dalam daftar ini dapat kami beli semua tahun ini, karena untuk soal pengadaan kami harus menyesuaikan dengan keterbatasan dana sekolah yang sejauh ini hanya mengandalkan pada dana BOS. Meski tidak terbeli semuanya tahun ini, saya pikir pekerjaan mendaftar buku ini akan bermanfaat. Paling tidak sebagai daftar keinginan. Pemilihan daftar ini saya pikir juga akan sangat berguna jika ada sekolah lain yang juga melaksanakan program literasi dan butuh rekomendasi daftar buku pilihan.

Saya berbagi daftar buku terpilih ini juga dengan maksud untuk mendapatkan dukungan dari para pembaca. Dukungan dapat berupa masukan atau usul tentang buku yang cocok untuk dimasukkan ke dalam daftar buku terpilih sesuai tema. Juga bisa terkait dengan pengadaan. Siapa tahu ada yang sudi membantu mencarikan di toko buku (tentu jika bisa dengan harga yang murah). Atau malah ada penerbit peduli literasi yang mau memberi potongan khusus untuk kami. (Alhamdulillah, dalam 2 tahun terakhir, Penerbit Serambi dan Zaman di Jakarta memberi kami diskon khusus setiap kali kami membeli buku-buku mereka). Atau ada yang mau menyumbang satu atau dua judul buku yang masuk di daftar ini. Atau ada yang mau membantu mencarikan bukunya untuk difotokopi jika ternyata buku tersebut sudah tidak tersedia lagi di toko buku.

Tentu saja, saya juga masih akan terus menghimpun daftar buku selain untuk kesepuluh tema ini. Namun, sementara, saya dahulukan untuk menyusun daftar buku untuk kesepuluh tema ini, dan nanti dalam pengadaannya saya mungkin harus kompromi dengan membelanjakan dana yang ada dengan fokus pada tema tertentu karena mungkin sulit untuk membeli semua buku dari sepuluh tema ini dalam waktu satu tahun pelajaran ini. Berikut ini daftar sementara buku terpilih untuk kesepuluh tema tersebut:

Tema al-Qur’an:
Tema Pokok al-Qur’an, Fazlur Rahman, Pustaka.
Mukjizat al-Qur’an, M. Quraish Shihab, Mizan.
Membumikan al-Qur’an, M. Quraish Shihab, Mizan.
Detik-Detik Penulisan Wahyu, Fathi Fawzi ‘Abdul Mu’thi, Zaman.
Al-Lubab (Al-Fatihah dan Juz ‘Amma), M. Quraish Shihab, Lentera Hati.
Wanita-Wanita al-Qur’an, Fathi Fawzi ‘Abdul Mu’thi, Zaman.
Al-Qur’an dan Lautan, Agus S. Djamil, Arasy.

Tema Sejarah Nabi Muhammad:
Muhammad, Martin Lings, Serambi.
Khadijah: The True Love Story of Muhammad, Abdul Mun’im Muhammad, Penerbit Pena.
Sayidah Aminah, ‘Aisyah Abdurrahman binti Syathi’, Lentera.
Pribadi Muhammad, Nizar Abazhah, Zaman.
Bilik-Bilik Cinta Muhammad, Nizar Abazhah, Zaman.
Ketika Nabi di Kota, Nizar Abazhah, Zaman.
Muhammad: Rasul Zaman Kita, Tariq Ramadan, Serambi.
Dan Muhammad adalah Utusan Allah, Annemarie Schimmel, Mizan.

Tema Akhlak/Tasawuf:
Buku Saku Olah Jiwa, al-Hakim al-Tirmidzi, Zaman.
Al-Hikam, Ibnu Athaillah, Zaman.
Nashaihul Ibad, Syekh Nawawi al-Bantani, Pustaka Turos.
Obrolan Sufi, Robert Frager, Zaman.
Pencerah Matahati, Muzaffer Ozak, Serambi.
Rabiah al-Adawiyah, Makmun Gharib, Zaman.
Jalan Cinta Rumi, Nigel Watts, Gramedia.
Keajaiban Istighfar, Qamaruddin SF, Zaman.
Tobat itu Nikmat, Asy’ari Khatib, Zaman.
Jiwaku Adalah Wanita, Annemarie Schimmel, Mizan.
Perjalanan Menuju Keabadian, M. Quraish Shihab, Lentera Hati.
Tafsir Kebahagiaan, Jalaluddin Rakhmat, Serambi.
Dengarkan Hatimu Berbisik, Muhammad Kuswandi, Zaman.

Tema Pesantren:
Annuqayah: Gerak Transformasi Sosial di Madura, Bisri Effendy, P3M.
Guruku Orang-Orang Pesantren, Saifuddin Zuhri, LKiS.
Berangkat dari Pesantren, Saifuddin Zuhri, LKiS.
Wahid Hasyim, Tim Majalah Tempo, KPG.
Kiai Nyentrik Membela Pemerintah, Abdurrahman Wahid, LKiS.
Tradisi Pesantren, Zamakhsyari Dhofier, LP3ES.
Pembaruan Pesantren, Abd. A’la, LKiS.
Bilik-Bilik Pesantren, Nurcholish Madjid, Paramadina.

Tema Madura:
Sejarah Madura: Selayang Pandang, Abdurrahman.
Madura dalam Empat Zaman, Hubb de Jong, Gramedia.
Madura 1850-1940: Perubahan Sosial dalam Masyarakat Agraris, Kuntowijoyo, MataBangsa.
Carok, A. Latief Wiyata, LKiS.
Manusia Madura, Mien A. Rifai, Pilar Media.
Rahasia Perempuan Madura, A. Dardiri Zubairi, Andhap Asor.

Tema Sejarah/Tokoh:
Atlas Walisongo, Agus Sunyoto, Pustaka IIMaN.
Kesadaran Nasional: Dari Kolonialisme sampai Kemerdekaan, Slamet Muljana, LKiS.
1000 Tahun Nusantara, Tim Kompas, Kompas.
Soekarno, Tim Tempo, KPG.
Hatta, Tim Tempo, KPG.
Dari Puncak Bagdad: Sejarah Dunia versi Islam, Tamim Ansary, Zaman.
100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia, Michael Hart, Noura Books.
100 Muslim Paling Berpengaruh Sepanjang Masa, Muhammad Majlum Khan, Noura Books.

Tema Lingkungan Hidup:
Alamku Tak Seramah Dulu, Aditya Dipta (ed.), YOI.
Greendeen, Ibrahim Abdul-Matin, Zaman.
Lumbung Pangan, Hira Jhamtani, Insist Press.
Dari Ladang Sampai Kabinet: Menggugat Nasib Petani, JA Noertjahyo, Kompas.
Paradigma Baru Pembangunan Pertanian, Loekman Soetrisno, Kanisius.

Tema Jurnalistik:
Catatan-Catatan Jurnalisme Dasar, Luwi Ishwara, Kompas.
Seandainya Saya Wartawan Tempo, Bambang Bujono & Toriq Hadad, ISAI.
Kalimat Jurnalistik, AM Dewabrata, Kompas.
Cerita di Balik Dapur Tempo, Tim Majalah Tempo, KPG.
Jurnalisme Investigasi, Dandhy Dwi Laksono, Kaifa.
Jurnalisme Sastra, Andreas Harsono (ed.), KPG.
Citizen Journalism, Pepih Nugraha, Kompas.
Blur, Bill Kovach, Dewan Pers.

Tema Sastra Indonesia:
Arus Balik, Pramoedya Ananta Toer, Hasta Mitra.
Ronggeng Dukuh Paruk, Ahmad Tohari, Gramedia.
Dilarang Mencintai Bunga-Bunga, Kuntowijoyo, Pustaka Firdaus.
Orang-Orang Bloomington, Budi Darma, Sinar Harapan.
Seribu Kunang-Kunang di Manhattan, Umar Kayam, Grafiti.
Jalan Tak Ada Ujung, Mochtar Lubis, YOI.
Lukisan Kaligrafi, A. Mustofa Bisri, Kompas.
Saksi Mata, Seno Gumira Ajidarma, Bentang Pustaka.
Tarian Bumi, Oka Rusmini, Tera.
Blok, Putu Wijaya, Pustaka Firdaus.
Murjangkung, AS Laksana, GagasMedia.
Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh, Dee, Bentang Pustaka.

Tema Sastra Dunia:
Pangeran Kecil, Antoine de Saint-Exupery, Gramedia.
Sampar, Albert Camus, Pustaka Jaya.
Musashi, Eiji Yoshikawa, Gramedia.
Lorong Midaq, Naguib Mahfouz, YOI.
Dr. Zhivago, Boris Pasternak, Narasi.
Ibunda, Maxim Gorky, Kalyanamitra.
Lelaki Tua dan Laut, Ernest Hemingway, Serambi.
To Kill a Mockingbird, Harper Lee, Qanita.
100 Tahun Kesunyian, Gabriel Garcia Marques, Bentang Pustaka.
In Cold Blood, Truman Capote, Bentang Pustaka.
Sang Alkemis, Paulo Coelho, Gramedia.
Kisah Pi, Yann Martel, Gramedia.


Baca juga:
>> Tantangan Membaca 2.0
>> Penerbit Peduli Literasi
>> Perpustakaan Masuk Kelas
>> Kerangka Acuan Program Literasi SMA 3 Annuqayah 2013/2014



Read More..

Tuesday, 5 August 2014

Tantangan Membaca 2.0


Sejak bertugas sebagai kepala sekolah di SMA 3 Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, mulai bulan Agustus 2010, saya berusaha memperkuat visi sekolah di bidang literasi (membaca dan menulis). Beberapa program untuk mendorong siswa gemar membaca dan menulis telah dirancang dan dilaksanakan. Di antaranya program Perpus-Masuk-Kelas, Perpustakaan-dalam-Kelas, bimbingan menulis berita atau menjadi pewarta warga untuk blog sekolah, dan sebagainya.

Pada akhir tahun pelajaran 2013/2014 lalu, kami sempat meluncurkan program baru yang bernama “Tantangan Membaca”. Dalam rentang waktu antara 10 Mei 2014 sampai dengan 10 Juni 2014, siswa SMA 3 Annuqayah ditantang untuk membaca minimal 5 buku terpilih dari 22 judul yang tersedia di perpustakaan dalam kelas masing-masing. Siswa membuktikan ketuntasan membacanya dengan menulis ulasan/rangkuman buku yang dibaca sedikitnya satu halaman kuarto.

Siswa yang berhasil memenuhi tantangan ini dan menuliskan ulasan/rangkuman buku yang dibacanya kemudian mendapatkan sertifikat dari sekolah. Lebih dari itu, siswa yang memaparkan hasil bacaannya dalam forum terbatas yang difasilitasi sekolah kemudian mendapatkan penghargaan tambahan berupa buku bacaan.

Meski pemberitahuan program ini cukup mendadak dan waktu pelaksanaannya cukup terbatas dan bahkan 10 hari di antaranya merupakan hari pelaksanaan ujian semester, ternyata ada 11 orang siswa yang berhasil menuntaskan program ini (jumlah siswa kelas X, XI, dan XII SMA 3 Annuqayah di bulan Mei 2014 adalah 198 siswa). Delapan siswa di antaranya memaparkan hasil bacaannya dalam forum terbatas setelah pelaksanaan ujian semester. Selain kesebelas siswa tersebut, saya mendapatkan laporan bahwa sebenarnya cukup banyak siswa lainnya yang juga turut membaca beberapa buku namun mereka kesulitan menulis ulasan atau rangkumannya. Karena itu, mereka tidak mendaftarkan diri kepada ketua kelas masing-masing sebagai siswa yang telah menyelesaikan program “Tantangan Membaca” ini.

Setelah menyiapkan dan memantau langsung pelaksanaan program ini, mulai dari tahap pemilihan buku bacaan yang kemudian disebar di tiap kelas hingga pelaksanaan pemaparan hasil bacaan oleh siswa, saya mencatat beberapa hal sebagai evaluasi.

Pertama, secara umum, kebanyakan siswa—untuk tidak mengatakan semuanya—belum memiliki kebiasaan membaca buku yang baik. Karena itu, perlu ada bimbingan khusus tentang bagaimana cara mencerna buku yang baik (dan cepat). Demikian pula, siswa perlu dibekali keterampilan yang sifatnya praktis dan lepas (bahkan sifatnya bisa personal) tentang bagaimana mengulas sebuah buku. Untuk kedua hal ini, sekolah harus memprogram pelatihan mencerna buku (digesting) dan meresensi buku untuk semua siswa.

Kedua, siswa perlu belajar cara memaparkan gagasan secara lisan dengan baik agar gagasan yang disampaikan lebih mudah dipahami pendengar. Untuk masalah ini, sekolah perlu memberi materi semacam pelatihan tentang teknik presentasi. Ketiga, perlu ada layanan yang siap membimbing siswa bila saat membaca buku ada kesulitan atau hal yang ingin ditanyakan. Keempat, perlu adanya dukungan yang lebih kuat dari guru dan wali kelas untuk mendorong agar siswa mau mengikuti program ini.

Terlepas dari berbagai kekurangan yang ditemukan di lapangan, saya sangat tertarik untuk terus mendukung dan mengembangkan program ini. Selain penambahan koleksi buku terpilih untuk dimasukkan dalam program ini yang kemudian disebar di tiap kelas, saya berpikir untuk mengarahkan program ini agar siswa membaca buku secara lebih terfokus.

Maka mulai tahun pelajaran 2014/2015 ini, saya terpikir untuk menyiapkan dan meluncurkan program “Tantangan Membaca 2.0”. Sambil tetap mempertahankan model yang lama, kecuali soal jumlah buku dan waktu yang diberikan, dalam versi baru, program ini akan menantang siswa untuk membaca sejumlah buku dalam kategori tema yang sama. Misalnya, “Tantangan Membaca” untuk buku-buku bertema sejarah kehidupan Nabi Muhammad saw. Saya akan memilih sejumlah buku dalam tema ini yang mencakup aneka pembahasan yang kira-kira mewakili berbagai segi kehidupan Nabi untuk kemudian ditawarkan kepada siswa yang berminat. Untuk tema ini, misalnya, sementara yang sudah terbayang dalam benak saya antara lain buku Muhammad karya Martin Lings, Pribadi Muhammad karya Nizar Abazhah, Bilik-Bilik Cinta Muhammad karya Nizar Abazhah, Khadijah: The True Love Story of Muhammad karya Abdul Mun’im Muhammad, Ketika Nabi di Kota karya Nizar Abazhah, Muhammad: Rasul Zaman Kita karya Tariq Ramadan, Dan Muhammad adalah Utusan Allah karya Annemarie Schimmel.

Tema apa saja yang akan ditawarkan? Sesuai dengan semangat program literasi di SMA 3 Annuqayah, tema yang ditawarkan adalah terutama tema-tema yang menjadi visi pengembangan strategis SMA 3 Annuqayah dan dengan mempertimbangkan ketersediaan buku bermutu dalam tema serumpun yang kira-kira bisa dicerna siswa setingkat SMA/MA. Hingga saat ini, yang terbayang dalam benak saya adalah tema al-Qur’an, sejarah kehidupan Nabi Muhammad, akhlak/tasawuf, kepesantrenan dan Islam Nusantara, lingkungan hidup, Madura, jurnalisme, tokoh/sejarah, dan sastra.

Sekarang, saya sedang berusaha menyusun daftar buku terpilih untuk beberapa tema ini. Seperti halnya saat memilih daftar buku terpilih yang dibeli tahun pelajaran lalu yang menghabiskan dana lebih dari 10 juta rupiah, pekerjaan memilih buku yang bagus dan bisa dicerna siswa setingkat SMA/MA ini bukan perkara mudah.

Saya berpikir bahwa dengan membaca buku secara terfokus, pengalaman membaca siswa pasti akan memberi manfaat yang lebih baik. Saya berpikir bahwa bisa jadi himpunan informasi yang dikumpulkan siswa dari sejumlah buku dalam satu tema itu nantinya akan memunculkan pertanyaan-pertanyaan atau gugus gagasan yang membuka penjelajahan lebih lanjut. “Tantangan Membaca 2.0” menurut saya mungkin bisa menjadi pemicu bagi lahirnya para pembelajar mandiri yang punya semangat meneliti. Agar lebih efektif, saya pikir dalam proses mencerna buku-buku yang masuk dalam daftar, siswa perlu mendapatkan bimbingan khusus, misalnya tentang sebaiknya buku apa yang pertama kali dibaca, dan sebagainya.

Gagasan tentang “Tantangan Membaca 2.0” ini muncul bulan Ramadan lalu. Dengan menuliskan gagasan itu di sini, saya berharap ada masukan dari siapa saja yang sekiranya dapat membantu segera terwujudnya program ini atau semakin baiknya program ini.

Semoga Allah meridai.


Baca juga:
>> Menyemarakkan Semangat Membaca dan Menulis di Sekolah
>> Kerangka Acuan Program Pengembangan Literasi SMA 3 Annuqayah Tahun Pelajaran 2013/2014


Read More..

Wednesday, 23 July 2014

Ijtihad Pilpres


Semalam, selepas KPU resmi mengumumkan hasil pemilihan presiden (pilpres), saat menyaksikan keriuhan linimasa media sosial, terlintas pikiran soal “ijtihad pilpres”. Meski istilah “ijtihad” di sini tidak merujuk pada istilah ilmu hukum Islam (fiqh) dalam pengertian yang ketat, saya berpikir cukup pas rasanya untuk mengutip salah satu norma Islam tentang ijtihad ini dan membincangnya dalam konteks pilpres. Dalam konteks ini, yang saya maksud dengan ijtihad pilpres adalah upaya sungguh-sungguh untuk menentukan pilihan dalam pilpres yang tahun ini cukup memanas.

Dalam norma ijtihad, dengan berdasar pada hadis Nabi, dinyatakan bahwa ijtihad yang benar akan dibalas dengan dua pahala oleh Allah swt. Sedangkan ijtihad yang salah maka akan dibalas dengan satu pahala. Pertanyaannya: apakah ijtihad itu dianggap benar atau salah berdasarkan hasil akhirnya atau berdasarkan prosesnya? Bagaimana jika pertanyaan ini dibawa ke konteks pilpres 2014?

Dalam keterbatasan ilmu saya, saya berpandangan bahwa pahala ijtihad di sini lebih terkait dengan proses ijtihad, bukan hasil akhirnya. Dalam pandangan awam saya, Allah itu memberi dua pahala bukan karena pilihan seseorang untuk calon nomor satu atau dua itulah yang benar. Demikian juga, Allah memberi satu pahala bukan karena pilihan seseorang untuk nomor satu atau dua itu keliru.

Penghargaan berupa pahala menurut saya diberikan lebih dengan pertimbangan proses ijtihad, yakni seberapa bersungguh-sungguh, jujur, dan tulus seseorang menelaah dan kemudian membuat keputusan atau pilihannya. Yang juga tak kalah penting sebagai bagian dari proses adalah bagaimana orang itu menunjukkan sikapnya terhadap pilihan orang lain yang berbeda baik dalam proses pilpres maupun setelah hasil resmi dinyatakan oleh KPU.

Memang, ukuran kesungguhan, kejujuran, dan ketulusan mungkin akan cukup subjektif. Pengertiannya bisa kurang terikat dan masih membutuhkan tanda-tanda (indikator) yang lebih konkret. Namun, penjelasan sederhana mungkin bisa dibuat sekadarnya di sini. Dalam istilah fiqh, kesungguhan kadang digambarkan dengan istilah badzl al-juhd. Istilah ini berarti mengerahkan segenap upaya yang mungkin dilakukan dengan penuh kesungguhan. Kejujuran mungkin bisa berarti keterbukaan untuk memperhatikan dan menunjukkan kecenderungan sikap kita yang sebenarnya setelah menelaah berbagai hal yang dipandang penting sebagai bahan pertimbangan sebelum membuat keputusan. Ketulusan mungkin berarti bahwa pilihan kita dibuat tanpa ada kepentingan pribadi yang sifatnya dangkal—seperti kepentingan duniawi—dan benar-benar demi mencapai hal yang sifatnya dipandang ideal.

Mengacu pada patokan di atas, dalam membuat pilihan yang terkait dengan persoalan publik, yang tak kalah penting juga adalah sikap menahan diri (self-restraint). Seseorang harus menjaga sikap rendah hati dalam dirinya bahwa meskipun pilihannya sudah dibuat berdasar kesungguhan, kejujuran, dan ketulusan, penentu akhir hasil ijtihad adalah Allah. Allah-lah yang Maha Mengetahui tentang segala hal. Dalam Islam, ini diungkapkan dengan kalimat: WalLâhu a‘lam bishshawâb. Allahlah yang lebih tahu tentang pilihan yang terbaik. Cara pandang ini menunjukkan kesadaran akan keterbatasan peran kita sebagai manusia dalam membuat pilihan sehingga dalam bentuk konkret akan mewujud dalam sikap rendah hati dan menghargai orang lain. Menghargai orang lain bisa dicontohkan berupa sikap tidak mengolok-olok pilihan orang lain.

Jadi, terkait pilpres 2014, rasanya sangatlah tidak pantas jika kita memperlihatkan klaim-klaim kebenaran yang mungkin sebenarnya sudah melampaui batas wewenang kita. Mereka yang memilih nomor dua misalnya tidak boleh lantas merasa jemawa karena pilihannya menang dan merasa bahwa pilihan temannya yang memilih nomor satu tidak lebih baik dari pilihannya.

Sekali lagi, satu pahala atau dua pahala menurut saya bukan karena hasil akhir, tapi lebih pada proses. Melihat beberapa informasi yang disampaikan beberapa rekan di media sosial sebelum coblosan, tampaknya di kedua kubu sama-sama ada potensi yang misalnya dapat mencederai prinsip ketulusan dalam memilih. Meski saya tidak mengalami dan menyaksikan sendiri, saya mendengar dari sumber yang tepercaya tentang adanya bingkisan atau apa pun yang statusnya serupa yang beredar di masyarakat yang dapat memengaruhi keputusan pemilih. Saya percaya bahwa secara manusiawi hal-hal seperti itu mungkin memang dapat memengaruhi ketulusan seseorang dalam memilih. (Untuk soal ini, saya bertanya-tanya adakah hasil penelaahan hukum Islam yang menyatakan bahwa hal semacam itu [money politics dalam pengertian yang luas] hukumnya haram? Jika memang haram, apa saja bentuk konkretnya?).

Maka jika mempertimbangkan proses dalam memilih, apa yang terjadi di lapangan, dan beberapa hal di atas, saya pikir di kedua kelompok pendukung akan ada mereka yang mendapatkan dua pahala dan ada pula mereka yang memperoleh satu pahala. Siapa pun di kedua kubu yang memilih dengan tulus dan disertai upaya yang sungguh-sungguh sesuai dengan apa yang diyakininya menurut saya insya Allah akan mendapatkan dua pahala.

Karena itu, jika kita menempatkan pilpres dan kegiatan politik sebagai bagian dari ibadah yang diharapkan dapat memberi pahala buat bekal kita di akhirat, maka selayaknya kita terus menjaga dan memperhatikan prinsip-prinsip dan nilai dasar sebagaimana disebut di atas. Apa pun pilihannya, baik menurut KPU diputuskan sebagai pihak pemenang atau yang kalah, jika kita memang tulus ingin mengabdi kepada bangsa dan masyarakat dan dari situ kita berharap mendapatkan pahala dan rida Allah, maka rasanya tak ada alasan yang kuat untuk melecehkan orang lain dan atau untuk berdiam diri tak berbuat kebajikan yang nyata di hari-hari mendatang untuk kemaslahatan orang banyak. Tak melecehkan orang lain ini saya pikir tak bisa ditawar. Sedang urusan berbuat kebajikan yang nyata tentu terkait dengan kemampuan, status, dan profesi kita masing-masing dalam kehidupan bermasyarakat.

Saya sepakat dengan rekan saya, Rika Iffati Farihah, yang pada 7 Juni 2014 menulis di dinding Facebook-nya bahwa pilpres ini bukanlah segalanya. Yang jauh lebih penting bagi kita sebagai warga negara adalah ikut serta dalam proses-proses memberdayakan dan membangun mutu kehidupan masyarakat yang lebih baik sesuai dengan kapasitas kita masing-masing. Memang meraih kekuasaan politik itu penting. Akan tetapi, jika saya hanya senantiasa memikirkan kekuasaan politik dan mengabaikan kerja-kerja konkret berupa pemberdayaan yang sifatnya partisipatif di masyarakat, maka tampaknya saya patut mempertanyakan ketulusan saya dalam urusan berpolitik ini.

Semoga kita semua bisa lebih jernih dalam melihat masalah-masalah kebangsaan dan masalah umat sehingga pikiran dan sikap kita tidak terkotori oleh nafsu dan ego kita yang jahat.

Wal-‘iyâdzu bilLâh. WalLâhu a‘lam bishshawâb.


Keterangan:
Tulisan ini sebagian terilhami dan menggunakan istilah dalam uraian Khaled M. Abou El Fadl tentang syarat-syarat pelimpahan wewenang pengambilan keputusan hukum kepada para ahli hukum sebagaimana dipaparkan dalam buku Speaking in God’s Name: Islamic Law, Authority, and Women (Oneworld, 2001) yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Penerbit Serambi dengan judul Atas Nama Tuhan: Dari Fikih Otoriter ke Fikih Otoritatif (2004) yang saya terlibat sebagai editor dalam penerjemahan buku ini.


Baca juga:
>> Keruwetan Berbiaya Mahal



Read More..

Saturday, 5 July 2014

Merawat Silsilah Keimanan


Saat beberapa pekan lalu berada di tengah puluhan bahkan mungkin ratusan peziarah di makam Maulana Malik Ibrahim di kota Gresik, saya bertanya-tanya: apa yang membuat orang-orang ini beramai-ramai datang ke tempat ini? Apa sebenarnya yang menjadi penarik atau magnet di tempat ini sebagaimana di makam-makam Wali Songo lainnya?

Meski dibesarkan di lingkungan pesantren, saya baru tersadar bahwa ternyata lingkungan terkecil saya, yakni keluarga dan perkampungan Pesantren Annuqayah di Guluk-Guluk, Sumenep, rasanya tidak memiliki tradisi ziarah yang sangat kuat. Tak ada rombongan ziarah yang sifatnya rutin dan diikuti oleh jumlah yang besar ke makam Wali Songo setiap tahunnya.

Saya mendengar kisah orang-orang yang berziarah ke makam Wali Songo atau makam para wali dan ulama lainnya dengan latar nazar tertentu. (Dalam tradisi Islam, nazar berarti janji untuk berbuat sesuatu (dalam hal ini: berziarah) saat maksud seseorang terkabul.) Ada pula orang yang berziarah lantaran sedang menghadapi satu masalah berat yang ingin diselesaikan atau memiliki hajat tertentu yang ingin diwujudkan.

Tentu saja saya tak bisa menebak isi kepala orang-orang yang saya lihat saat itu. Para peziarah itu, yang di antaranya saya lihat mengenakan pakaian seragam, masing-masing menyimpan maksud kedatangannya ke tempat itu dalam dirinya masing-masing. Saya sendiri saat itu sebenarnya berada di tempat itu selama beberapa waktu secara kebetulan.

Namun, saat saya sadar bahwa saya ada di makam Maulana Malik Ibrahim, saya jadi terpikir sesuatu. Saya teringat buku-buku sejarah Wali Songo dan buku sejarah masuknya Islam di Indonesia, seperti yang ditulis Agus Sunyoto dan Azyumardi Azra. Ingatan saya menyebutkan bahwa Maulana Malik Ibrahim yang inskripsi makamnya bertuliskan angka tahun 882 H/1419 M dianggap sebagai penyebar Islam tertua di tanah Jawa. Dalam buku Atlas Wali Songo (2012), Agus Sunyoto mengutip pendapat beberapa sejarawan yang menegaskan hal ini.

Tepat dalam statusnya sebagai penyebar Islam tertua di tanah Jawa itulah pikiran saya mengatakan bahwa nilai penting ziarah ke makam Maulana Malik Ibrahim ini mungkin adalah untuk merawat dan menyegarkan jalinan silsilah keimanan saya. Jika Maulana Malik Ibrahim adalah penyebar Islam tertua di tanah Jawa maka tentu saja keyakinan keagamaan yang saya miliki dan ajaran keagamaan yang saya anut saat ini bersumber dari peranannya itu. Keimanan saya pastilah tersambung dengan kepercayaan yang serupa dengan Maulana Malik Ibrahim itu.

Saya jadi terpikir bahwa di setiap tempat, dengan skala yang sempit hingga luas, pastilah ada tokoh kunci yang menjadi pelopor dakwah Islam sehingga ajaran agama Islam menjadi hidup dan berkembang di sana. Dan dalam hal ini, Maulana Malik Ibrahim berada dalam konteks tempat dengan skala yang luas.

Menurut saya, sangat pantas kiranya kita memberi penghormatan dan berupaya merawat silsilah keimanan kita dengan cara yang secara subjektif cocok untuk diri kita masing-masing. Bagi saya, berziarah ke Maulana Malik Ibrahim dan atau para pelopor dakwah Islam lainnya, seperti untuk wilayah Madura kita mengenal Kiai Kholil Bangkalan, dapat menjadi upaya reflektif dan spiritual untuk merawat dan menyegarkan bangunan keimanan diri saya.

Yang pertama mungkin semacam rasa syukur dan penghormatan, karena mereka, para ulama dan pendakwah itu, telah menjadi perantara bagi sampainya keimanan dan ajaran Islam pada diri saya. Selain itu, kadar ketokohan, spiritualitas, serta kecintaan dan kedekatan mereka dengan Allah swt pada tingkat tertentu nilainya sangatlah istimewa, sehingga menjadi faktor penting yang membuat umat Islam tertentu seperti saya yang dibesarkan dalam tradisi pesantren bertawasul (tawassul) melalui para wali tersebut.

Kerangka seperti ini tampaknya penting untuk digarisbawahi untuk memberi nilai lebih pada kegiatan ziarah yang selama ini sering dilakukan oleh umat Islam Indonesia pada khususnya. Ziarah ke para wali atau ulama jika bisa jangan hanya dilakukan lantaran adanya keperluan yang sifatnya “pragmatis” saja, tapi juga diletakkan sebagai upaya untuk menelusuri jalinan keimanan kita dan merefleksikannya secara subjektif dalam diri kita masing-masing. Dengan demikian kita berharap agar bangunan keimanan kita dapat terus terawat dan dapat tersambung ke sumber pokok keimanan kita, yakni Allah swt.

Hanya Allah-lah yang dapat memberi pertolongan untuk kita. Wallahu a‘lam.

Read More..

Sunday, 22 June 2014

Pertanggungjawaban Pribadi


Dan sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu Kami ciptakan pada mulanya, dan kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia) apa yang telah Kami karuniakan kepadamu; dan Kami tiada melihat besertamu pemberi syafa'at yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu Tuhan di antara kamu. Sungguh telah terputuslah (pertalian) antara kamu dan telah lenyap daripada kamu apa yang dahulu kamu anggap (sebagai sekutu Allah) - (Q., s. al-An‘am/6: 94)



Manusia adalah makhluk individu dan juga makhluk sosial. Dalam menjalani kehidupannya, manusia seringkali membina kemitraan dengan orang lain, baik itu individu, kelompok, lembaga, dan sebagainya. Kemitraan yang dijalin manusia dengan orang lain dilakukan dengan harapan agar dapat membantunya menemukan kehidupan yang lebih baik.

Untuk tujuan ini, bentuk kemitraan yang dilakukan manusia bisa juga berupa agama yang di antara ajarannya mendorong kecintaan pada Tuhan dan berbuat baik kepada sesama. Di sisi lain, terkadang manusia juga percaya bahwa harta benda dapat menolongnya mengantar pada kehidupan yang bahagia.

Di manakah sebenarnya kita mesti meletakkan berbagai bentuk jalinan kemitraan yang kita bangun selama hidup di dunia? Apa maknanya semua itu jika pada akhirnya kita dipisahkan dari dunia ini oleh kematian?

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, dituturkan bahwa Nabi menjelaskan bahwa yang menyertai mayat ke alam akhirat itu hanya amalnya. Keluarga dan hartanya akan tetap di dunia. Catatan amal selama di dunia itulah yang akan menjadi perhitungan kelak di akhirat.

Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Nabi menjelaskan bahwa amal manusia di dunia itu semuanya terputus bila ia sudah meninggal. Namun ada tiga amal yang masih akan menambah catatan amal kebaikannya meski ia sudah meninggal: sedekah jariah, ilmu yang diambil manfaatnya, dan anak saleh yang mendoakan orangtuanya.

Hadis ini kurang lebih memberikan penegasan untuk ayat 94 surat al-An‘am ini. Ayat ini menerangkan bahwa kelak manusia itu akan kembali kepada Allah (di hari kiamat) sebagai pribadi. Artinya, segala amal pada masa hidup seseorang akan dipertanggungjawabkan secara pribadi di hadapan Allah. Semua jalinan kemitraan, entah itu hubungan keluarga, keanggotaan sebuah organisasi, jabatan, dan harta benda, tak akan ada gunanya lagi di akhirat nanti. Suami atau istri, anak dan sanak keluarga yang lain, guru dan pembimbing spiritual, dan yang lainnya, tidak akan bisa membantu kita di akhirat nanti. Hanya amal kebaikan kita saja yang akan bisa mewujudkan kebahagiaan kita di akhirat.

Lebih jauh, al-Razi menulis bahwa ayat ini di antaranya menegaskan bahwa pada hakikatnya manusia itu bergerak dari alam yang sifatnya jasmani menuju alam rohani. Dari dunia menuju akhirat, pada akhirnya hanya amal kebajikanlah yang akan berharga—tidak lainnya. Karena itu, hal yang bersifat fisik-jasmani sejatinya hanya akan bernilai sejauh ia bisa membuahkan bekal kebajikan yang dapat dibawa ke akhirat nanti. Sungguh merugi jika hal-hal yang bersifat fisik-jasmani itu oleh manusia selama berada di dunia tidak dimanfaatkan untuk menghimpun bekal ke akhirat.

Mengingat akan wujud pertanggungjawaban pribadi di akhirat nanti sebagaimana digambarkan ayat ini, kita diingatkan untuk tidak tertipu dengan pesona kehidupan dunia. Bahwa berbagai macam hal yang tampak dapat melindungi kita saat ini dan membuat nyaman kehidupan kita sekarang ini bisa jadi kelak sama sekali tak ada nilainya.


Daftar Pustaka

Abu Zakariyya Muhyiddin bin Syaraf Annawawi, Riyadlus Shalihin, Alharamayn, t.t., 2005.

Fakhruddin Muhammad bin ‘Umar bin al-Husayn al-Razi, al-Tafsîr al-Kabîr (Mafâtîhul Ghayb), Dârul Kutub al-‘Ilmiyyah, Beirut, 2004.

Wahbah al-Zuhayli, al-Tafsîr al-Munîr fî al-‘Aqîdah wa al-Syarî‘ah wa al-Manhaj, Dârul Fikr, Damaskus, 2009.


Esai ini dikutip dari buku Al-Qur'an al-Karim: The Wisdom (Penerbit Al-Mizan, Bandung, Mei 2014). Tentang proses kreatif penulisan esai ini, silakan baca tulisan ini.


Read More..

Wednesday, 28 May 2014

Rasa Iba dan Perilaku Nista


Setiap manusia normal pasti memiliki sisi perasaan yang bisa membuatnya gembira, marah, sedih, haru, dan sebagainya. Mendapatkan sesuatu yang menyenangkan, kita bisa gembira. Menyaksikan kesewenangan, kita bisa marah. Tertimpa musibah, kita bisa sedih. Menemukan ketulusan, kita bisa terharu.

Tak ada yang salah jika seorang manusia memiliki perasaan-perasaan itu. Yang penting takarannya tepat dan situasinya memang wajar, tidak dibuat-buat. Jika berlebihan atau tidak ditempatkan secara pas, perasaan-perasaan itu bisa saja menggiring kita untuk berbuat sesuatu yang tercela dan nista.

Kemarahan mungkin bisa membuat kita bertindak di luar batas hak dan wewenang kita. Kesedihan berlebihan mungkin bisa membuat kita putus harapan. Kegembiraan atau rasa haru mungkin juga bisa membuat kita lupa diri sehingga berbuat seenaknya, seperti mengambil hak orang lain, dan semacamnya.

Setan mungkin memang begitu cerdik menguntit kita di antara berbagai perasaan yang mungkin mendatangi kita secara wajar. Pada saat itu, setan mungkin mendorong kita dan membumbui perasaan kita dengan seribu satu resep yang kemudian bisa membuat kita tidak tepat dalam menyikapi perasaan manusiawi tersebut.

Terkait hal ini, saya punya pengalaman pribadi saat saya merasa begitu haru dan iba. Bukan pada siapa-siapa, tapi pada ibu saya.

Saat itu baru saja lebaran Iduladha tahun 2010. Ibu saya ingin mengunjungi salah satu adik saya yang mondok di Pondok Pesantren Darul Falah, Bangsri, Jepara. Mumpung liburan, ibu dan saya tidak punya tugas mengajar atau kesibukan khusus lainnya. Maka tepat pada malam hari di hari lebaran, dengan menggunakan angkutan umum, saya bersama ibu saya berangkat menuju Bangsri, Jepara.

Singkat cerita, setelah dari siang hingga sore berjumpa dengan adik saya, sowan ke kiai, melihat-lihat pondok, dan sebagainya, pada sore sekitar pukul 16.15 WIB kami berdua hendak pulang ke Madura.

Ibu dan adik saya di PP Darul Falah, Bangsri, Jepara

Kami menunggu angkutan umum menuju kota Jepara dari Bangsri. Cukup lama kami menunggu, angkutan umum rata-rata penuh sesak. Rupanya ini memang jam-jam terakhir angkutan umum menuju kota Jepara dan memang angkutannya terbatas. Akhirnya kami pun menemukan angkutan yang sebenarnya sudah cukup sesak. Saya bersama ibu naik ke angkutan dengan agak berdesakan. Untung kami bisa menemukan tempat duduk. Ternyata keadaan angkutan umum pedesaan di Jepara tak jauh berbeda dengan angkutan umum di kampung saya.

Tak sampai setengah jam, kami tiba di kota Jepara. Sekali lagi, kami cukup kesulitan menemukan angkutan ke Kudus. Para penumpang tampak memenuhi bus tanggung menuju Kudus sampai terlihat sebagian berdiri berdesakan. Cukup lama menunggu bersama beberapa orang yang tampaknya juga hendak ke Kudus, saya coba bertanya. Ternyata memang demikian angkutan ke Kudus jelang petang, selalu ramai dan sesak.

Daripada tak menemukan angkutan, akhirnya kami putuskan untuk ikut salah satu bus yang sudah penuh. Naik ke atas bus, saya dan ibu saya sudah tak menemukan tempat duduk lagi. Kami harus rela untuk berdiri berdesakan.

Saat itulah, di tengah perjalanan ke Kudus, saya sesekali menatap ibu saya yang berdiri sambil berpegangan di antara para penumpang. Saya merasa begitu haru dan iba. Ibu saya, yang usianya saat itu sudah hampir 60 tahun, tak memperlihatkan ekspresi yang kusut. Ibu tampak biasa saja. Sementara saya merasa gelisah menyaksikan ibu harus berdiri berdesakan di angkutan umum sore itu.

Jarak sekitar 30 km ke kota Kudus terasa lama. Pikiran saya melayang-layang memikirkan ibu yang masih tak kunjung menemukan tempat duduk. Orang-orang mungkin sama-sama kecapekan sehingga tak siap untuk berbagi tempat duduk. Saya berusaha untuk mengerti. Tapi ini ibu saya, ibu yang saya saksikan tiap hari ketulusannya dalam membesarkan anak-anaknya, ibu yang saya tahu juga begitu penuh perhatian kepada murid-muridnya di kelas dan di pondok, ibu yang saya tahu sangat peduli dengan para tetangga dan tamu-tamu yang berkunjung ke rumah.

Saya teringat ibu saya saat dia dulu menyiapkan daging abon untuk putrinya yang sedang belajar di Jombang. Dia menyiapkan sendiri di dapur, lalu tiba-tiba saat itu tangannya kecipratan minyak goreng yang sedang panas di atas penggorengan. Saya teringat ibu saya saat malam-malam mencucikan pakaian putra-putrinya di rumah dan rela menunda waktu istirahatnya setelah seharian penuh—ya, seharian penuh—ke sana kemari dengan berbagai hal. Saya teringat ibu saya yang kadang memanggil seorang tetangga yang kebetulan melintas di sebelah timur rumah saat ibu punya sesuatu yang bisa dibagi untuknya.

Pikiran saya terhenti berkelana saat sadar bahwa jalanan sudah cukup gelap. Cahaya lampu mulai menerangi jalanan dan bangunan-bangunan di kiri kanan.

Pada akhirnya, sekitar maghrib, kami tiba di Terminal Jetak yang merupakan terminal kedua di kota Kudus dan menjadi penghubung utama ke Jepara. Terminal tipe C itu sudah terlihat gelap. Bus yang kami tumpangi menurunkan penumpang di luar terminal.

Sadar dengan suasana terminal yang kelihatan lengang, pikiran saya jadi gelisah. Masih adakah angkutan kota ke Terminal Kudus untuk melanjutkan perjalanan ke Surabaya? Kami bertanya kepada orang di situ, dan katanya kadang masih ada. Kami pun menunggu. Cukup lama, yang ditunggu tak datang jua. Akhirnya kami pun putuskan untuk menunggu sambil berjalan ke arah kota.

Kami berjalan dengan pelan sambil sesekali melihat siapa tahu ada angkutan melintas. Kadang kami melihat ada angkutan kota yang mendekat, tapi ternyata ia sudah tak hendak ke Terminal Kudus. Sopirnya sudah mau pulang ke rumah.

Cukup lama juga kami berjalan. Saya mulai merasa agak gerah. Saya lihat ibu saya. Ibu tampak biasa saja. Saya berpikir untuk mencari sekadar tempat duduk di pinggir jalan untuk beristirahat sejenak. Tapi kebetulan di sekitar saya tak melihat tempat yang bisa menjadi tempat istirahat.

Akhirnya, setelah cukup lama, kami menemukan angkutan kota yang bisa mengantar kami. Bukan ke Terminal Kudus, tapi kata si sopir, kami bisa menunggu bus ke Surabaya di situ. Alhamdulillah.

Selama di angkutan itu, pikiran saya kembali pada bayangan ibu tadi sore yang berdiri di angkutan dan juga ibu yang berjalan cukup jauh sampai menemukan angkutan ini. Saya seperti menyesal, mengapa saya tidak mengusahakan untuk menyewa mobil untuk perjalanan ke Jepara ini. Ya, keluarga kami memang tidak punya kendaraan pribadi, termasuk sepeda motor. Tapi saya pikir kami bisa menyewa mobil untuk perjalanan ini. Namun saya sadar bahwa menyewa mobil dari Sumenep ke Jepara tidaklah murah, paling tidak untuk ukuran kantong keluarga kami.

Andai kami membawa mobil sewaan ke Jepara, tentu ibu tidak harus berdiri berdesakan dari Jepara ke Kudus dan tidak harus berjalan kaki cukup lama saat petang ketika mencari angkutan yang dapat mengantar kami ke Terminal Kudus.

Saya membayangkan, pengalaman seperti tadi, perasaan iba menyaksikan ibu yang tampak “menderita”, saya jadi terpikir: mungkin pengalaman-pengalaman seperti ini bisa mengubah seseorang berpikir untuk melakukan sesuatu yang tidak semestinya. Andai saya kemudian, di waktu-waktu berikutnya, punya kekuasaan, atau punya pintu menuju kekuasaan, bisa jadi rasa iba saya pada ibu saya itu dapat menggiring saya untuk menyalahgunakan kekuasaan saya guna mengobati kekecewaan dan mungkin rasa bersalah saya karena telah membiarkan ibu saya punya pengalaman kurang nyaman seperti itu. Saya bisa saja berbuat sesuatu yang nista.

Saat itu saya jadi terpikir mungkin beberapa orang yang menyalahgunakan kekuasaannya dengan melakukan tindakan korupsi ada yang di antaranya berangkat dari motif kompensasi atas derita atau rasa iba yang ia temui, termasuk iba atas diri sendiri atau orang-orang terdekat yang dicintainya. Untuk situasi seperti inilah maka mungkin muncul istilah nepotisme.

Perasaan iba itu lalu mungkin mengubah diri seseorang untuk melupakan nilai-nilai moral atau bentuk-bentuk ukuran kepatutan sosial lainnya. Tepat pada titik inilah mungkin terletak situasi yang membahayakan kita saat tenggelam dalam perasaan di luar takaran yang wajar. Rasa iba, sebagaimana perasaan lainnya, dapat melelapkan akal sehat sehingga mungkin saja kita berbuat sesuatu yang “tidak masuk akal” dengan melanggar norma-norma sosial.

Kembali pada rasa haru dan iba saya atas pengalaman bersama ibu tersebut, saya percaya bahwa bagaimanapun, ketulusan ibu saya juga menjadi salah satu kunci penting untuk tetap menjaga saya dari perasaan yang berlebihan. Ketulusan ibu saya untuk mengunjungi salah seorang adik saya di pondok di Jepara dan kerelaannya untuk dengan cara apa pun bisa memenuhi keinginannya itu menurut saya insya Allah turut menularkan semangat dan energi positif untuk saya sehingga—alhamdulillah—saya masih bisa terjaga dari sisi buruk perasaan yang melebihi takaran.

Sampai di sini, saya berdoa semoga Allah senantiasa menjaga ibu saya dan keluarga saya pada khususnya untuk senantiasa terhindar dari perasaan yang berlebihan sehingga dapat membuat kami lepas dari nilai-nilai dan norma yang kami yakini. Lebih khusus lagi, semoga Allah senantiasa menjaga ibu saya dan memberi rahmat dan keselamatan di dunia dan akhirat. Karena dari ibu saya, kami senantiasa belajar banyak hal tentang hidup yang mulia. Amien.


Baca juga:
>> Dunia Ayah Kian Menyempit

Read More..

Monday, 26 May 2014

Saat Kacamata Pengetahuan Mengubah Dunia


Pernahkah Anda merasakan situasi saat pengetahuan atau informasi tertentu menempatkan Anda di posisi yang berbeda di dunia? Bagaimana sebenarnya pengetahuan atau informasi mengubah cara pandang Anda dalam melihat dunia?

Bayangkanlah tiga sosok manusia yang tengah mengunjungi sebuah kebun binatang atau, sebagai contoh agar lebih jelas, Taman Safari Prigen, Pasuruan. Tiga sosok itu adalah anak kecil, seorang dewasa biasa, dan satu lagi seorang dewasa yang pernah berkenalan dengan ide tentang animal welfare (kesejahteraan binatang).

Seorang anak kecil yang baru pertama kali melihat aneka binatang liar di Taman Safari tentu saja akan merasa sangat heran dan mungkin juga merasa riang. Dari dalam kendaraan, ia dapat menyaksikan binatang-binatang yang sebelumnya mungkin hanya ia kenal melalui gambar atau cerita gurunya. Binatang-binatang itu tak pernah ia jumpai di lingkungan tinggalnya sehingga pertama-tama ia mungkin akan merasa takjub. Mungkin ada banyak pertanyaan yang ia lontarkan, mulai dari nama, habitat, makanan, atau hal teperinci lainnya, yang bisa membuat orang dewasa yang menemaninya merasa terganggu dan mungkin sedikit kesal.

Seorang anak kecil mungkin akan menilai aneka satwa itu sebagai sesuatu yang eksotis: istimewa dan aneh. Saat ia berkesempatan melihat hewan-hewan itu secara lebih dekat, bisa jadi rasa takjub dan riangnya semakin bertambah. Sebagian rasa penasarannya mungkin terjawab. Namun keheranannya bisa bertambah saat ia menyaksikan beberapa hewan menampilkan pertunjukan sirkus di hadapan para pengunjung.

Ia menyaksikan beberapa ekor gajah menampilkan sepenggal kisah mereka di hutan, dikejar pemburu liar, menyelamatkan dan membela diri, terluka, ditolong polisi hutan, dan seterusnya. Gajah-gajah itu tampak begitu pintar dan terlatih, bisa memahami pikiran dan ucapan manusia, mampu mengikuti alur cerita sedemikian rupa, dan secara sangat baik memperagakan beberapa atraksi dengan amat mahir. Di akhir bagian, gajah-gajah itu dengan tenang melayani para penonton yang hendak foto bersama.

Di lain tempat, beberapa ekor lumba-lumba ia lihat berdansa penuh gaya, mengejar bola yang dilempar si pelatih ke udara, atau melompati lingkaran yang digantung di ketinggian. Mereka tampak begitu pintar. Mereka tampak begitu riang saat mendapatkan tepuk riuh para penonton.



Di mata seorang dewasa pada umumnya, Taman Safari dan berbagai pertunjukan satwa itu nilainya mungkin tidak seheboh tanggapan anak kecil yang pikirannya masih sederhana. Mungkin orang-orang dewasa itu akan membawa pengetahuan umum mereka saat mereka berjumpa dengan berbagai satwa itu. Mereka yang memiliki pengetahuan cukup baik di bidang biologi mungkin akan berusaha mencocokkan pengetahuan yang ia punya dengan apa yang ia saksikan. Mereka yang hanya punya pengetahuan umum mungkin hanya akan berpikir tentang tempat asal satwa-satwa itu dan bagaimana mereka bisa bertahan hidup di habitat baru mereka ini. Mereka mungkin membayangkan betapa sibuknya pengurus Taman Safari ini memberi makan satwa-satwa itu setiap hari. Apalagi satwa-satwa itu berjenis karnivora. Bagaimana pula cara para penjaga merawat kesehatan mereka?

Namun mungkin dunia akan tampak berbeda saat pengetahuan memberi kita kacamata yang akan memberi warna baru pada apa yang ada di hadapan kita.

Mungkin memang benar. Pada pandangan pertama, kita semua mungkin akan merasa takjub dengan pemandangan aneka satwa itu. Namun, berikutnya, pengetahuan kita tentang dunia satwa akan menjadi kacamata yang akan memberi warna tertentu dalam melihat lebih jauh satwa-satwa itu.

Mereka yang sudah pernah bertemu dengan gagasan tentang animal welfare (kesejahteraan binatang) mungkin akan melihat satwa-satwa itu dari sudut pandang yang berbeda. Secara sederhana, animal welfare adalah keadaan satwa yang sehat, nyaman, aman, dan sejahtera. Tiga tahun lalu, saya pernah mengikuti pemaparan Drh. Wita Wahyu, salah seorang anggota dewan penasihat ProFauna, tentang animal welfare ini. Menurut Drh. Wita, setidaknya ada lima hal yang harus diperhatikan untuk menjamin terpenuhinya animal welfare ini, yaitu bahwa satwa itu bebas dari rasa lapar dan haus, bebas dari rasa tidak nyaman, bebas dari rasa sakit, bebas mengekspresikan perilaku normal, dan bebas dari rasa tertekan.

Satwa liar dipandang punya hak untuk mendapatkan animal welfare. Manusia akan dianggap bersalah jika mengabaikan hak satwa liar ini.

Untuk contoh yang lebih konkret, kita bisa mengambil dari film The Cove. Film dokumenter tahun 2009 ini menuturkan perjalanan Rick O’Barry, seorang aktivis pembebas lumba-lumba, bersama rekan-rekannya dalam merekam penangkapan dan pembantaian lumba-lumba yang rutin dilakukan di sebuah teluk kecil di Taiji, Jepang. O’Barry, yang merupakan mantan pelatih lumba-lumba di serial televisi pertama yang menampilkan lumba-lumba, melalui film dokumenter yang mendapatkan penghargaan Academy Award 2010 sebagai film dokumenter terbaik ini membuka mata kita betapa lumba-lumba sirkus seperti di Taman Safari atau di tempat lainnya tak mendapatkan kenyamanan atau bisa kita sebut tersiksa.

Dalam The Cove, digambarkan bahwa di alam liar lumba-lumba bisa menempuh jarak sekitar 40 mil dalam sehari. Ia makhluk yang suka berkelana di tengah luas samudera. Bayangkanlah bagaimana rasanya saat ia dikurung dalam kolam yang luasnya tak seberapa.

Ric O’Barry juga menuturkan bahwa lumba-lumba itu makhluk akustik yang sangat peka dengan suara. Telinga adalah indra penting mereka. Di awal-awal industri hiburan lumba-lumba, kata O’Barry, banyak lumba-lumba yang tidak bisa bertahan lama di kolam karena sistem penyaringan suara yang buruk dan membuat lumba-lumba itu tertekan (stres) dan mati.

Bagaimana teknologi kolam lumba-lumba saat ini khususnya terkait dengan pengelolaan suara? Saya tidak tahu pasti. Yang jelas bisa kita lihat, seperti di Taman Safari, adalah soal ukuran kolam yang terbatas. Selain itu, saya juga teringat pemaparan O’Barry yang menjelaskan bahwa dalam industri hiburan lumba-lumba, digunakan obat-obatan tertentu untuk mengurangi tingkat stres lumba-lumba saat tampil menghibur.

Dalam The Cove digambarkan bahwa Taiji adalah penyedia terbesar lumba-lumba yang disalurkan ke tempat-tempat hiburan di dunia. Seekor lumba-lumba untuk sirkus bisa dihargai hingga 150.000 dolar Amerika. Di Taiji, lumba-lumba yang tidak cocok untuk sirkus diambil dagingnya. Diperkirakan, sekitar 23 ribu lumba-lumba ditangkap di Jepang setiap tahun.

Poster film The Cove dan foto Rick O'Barry. Sumber gambar: Wikipedia

Jadi, penampilan lumba-lumba sirkus yang kelihatan riang gembira itu tampaknya sungguh menipu. Apalagi para penonton yang hanya bisa melihat dari sisi luaran dan tidak mendapatkan informasi tentang lumba-lumba sirkus sebagaimana dalam film The Cove tersebut. Karena itu, di mata seorang dewasa yang sudah pernah menonton film The Cove, penampilan lumba-lumba di Taman Safari mungkin akan membuat ia sedih. Ia dapat memperkirakan penderitaan lumba-lumba yang tengah dipaksa menghibur ratusan penonton itu.

Apakah hewan-hewan sirkus semuanya menghadapi penderitaan seperti lumba-lumba itu? Saya tidak tahu pasti. Tapi konon hewan-hewan sirkus itu pada umumnya mula-mula dilatih dengan memadukan siksaan dan sistem reward and punishment. Ia dibuat paham dengan perintah tertentu yang dalam proses latihannya ia bisa disiksa bila tidak mengikuti perintah yang diinginkan dan akan diberi upah (dalam bentuk makanan) jika mau tunduk pada perintah.

Demikianlah. Pengetahuan tertentu kadang dapat memberi kita kacamata baru sehingga dunia akan tampak begitu berbeda dari biasanya. Memang kadang kacamatanya justru membuat kita gelisah, seperti dalam kasus lumba-lumba di atas. Kita tidak jadi terhibur menyaksikan lumba-lumba di Taman Safari, tapi mungkin jadi berpikir lebih jauh dan mungkin juga berempati. Ini mungkin termasuk jenis pengetahuan yang menggelisahkan—the awful truth, dalam istilah Michael Moore.

Jika dunia sudah tampak berbeda bagi seseorang yang punya pengetahuan, lalu bagaimana cerita selanjutnya? Apakah pengetahuan yang telah memberi kacamata berbeda itu dapat memberikan perubahan yang lebih nyata? Jika yang diharapkan adalah perubahan yang lebih nyata, dari manakah ia mestinya bermula? Bagaimana caranya? Hal apakah yang paling penting untuk mewujudkan dan memulai perubahan yang nyata ini?

Sampai di sini, alhamdulillah, saya diingatkan kembali dengan pertanyaan-pertanyaan mendasar yang menalikan pengetahuan dengan dunia dan perubahan nyata.

Wallahualam.

Baca juga:
>> Ironi Pengetahuan


Read More..

Saturday, 17 May 2014

Keruwetan Berbiaya Mahal


Sebelumnya saya memohon maaf kepada para pembaca karena apa yang akan saya tulis ini bukanlah berangkat dari fakta dalam pengertian yang ketat. Saya tidak mengetahui atau menemukan sendiri sebagian besar fakta yang saya sebut dalam tulisan ini. Jadi, saya mungkin seperti bersandar pada dinding informasi yang tidak kuat, karena dinding itu hanya dibangun dari batu bata informasi yang bukan dari tangan pertama. Saya menulis ini di antaranya dengan harapan untuk mendapatkan ketegasan tentang dasar fakta yang saya asumsikan dari para pembaca sekalian.

Saya akan menulis tentang “keruwetan” yang terjadi setelah pemilihan calon anggota badan legislatif—selanjutnya saya singkat “pileg”—yang berlangsung bulan lalu, tepatnya hari Rabu, 9 April 2014. Saya kesulitan untuk menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan titik fokus hal yang akan saya tuturkan, sehingga saya akhirnya hanya bisa menggunakan kata “keruwetan”.

“Keruwetan” yang saya maksudkan adalah hal-hal buruk yang mungkin bisa disebut ekses dari pelaksanaan pileg tersebut. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, “ekses” berarti “hal (peristiwa) yang melampaui batas”. Mungkin ada beberapa atau bahkan banyak hal buruk yang merupakan sesuatu yang berada di seberang tujuan pelaksanaan pileg itu sendiri. Tapi saya hanya akan mencatat beberapa yang saya anggap cukup penting dan terlintas dalam pikiran saya.

Keruwetan pertama, pileg telah menghancurkan ikatan-ikatan sosial yang ada dalam kehidupan masyarakat kita. Banyak orang mengatakan bahwa pileg kali ini sama halnya dengan pemilihan kepala desa (pilkades). Sebagaimana dalam pilkades, seolah-olah sudah tak ada lagi partai—mungkin juga ideologi. Yang ada adalah orang-orang yang maju—katanya—sebagai calon wakil rakyat. Dalam situasi seperti ini, para calon anggota badan legislatif berupaya keras untuk mencapai tujuannya, yakni duduk sebagai wakil rakyat, tanpa harus memperhatikan calon yang lain yang juga berasal dari partai yang sama (yang idealnya mengusung satu napas perjuangan yang sama).

Karena itu, tak heran, setelah coblosan, perseteruan soal hasil penghitungan suara tidak hanya melibatkan partai politik yang berbeda. Tidak sedikit perselisihan terjadi di antara sesama calon yang berasal dari bendera partai yang sama. Perselisihan di sini dalam bentuk konkretnya secara ekstrem berupa pengambilan (atau pencurian) suara. Di sebuah media dalam jaringan, saya membaca perselisihan macam ini yang terjadi di antara beberapa calon dari satu partai untuk tingkat DPR RI dari wilayah Jawa Timur.

Sebenarnya perseteruan macam ini juga bisa terjadi sebelum hari pemilihan. Bentuknya bisa berupa kampanye hitam—dengan tingkat yang berbeda-beda—di antara sesama calon yang bahkan bisa jadi berasal dari satu partai. Saya membaca hal semacam ini di media-media sosial untuk calon-calon yang sifatnya lokal, regional, juga nasional. Perseteruan memang tidak mesti melibatkan calon itu sendiri, tapi terjadi pada tim-tim sukses si calon.

Dalam lingkup yang lebih kecil, di satu desa misalnya, nuansa perseteruan ala pilkades dapat saya rasakan. Dalam kehidupan masyarakat desa, hubungan kekerabatan, faktor tetangga, dan jalinan sosial yang lain bisa menjadi pertimbangan penting. Di desa saya, saya mendengar ada sebuah keluarga membagi suaranya untuk DPRD tingkat kabupaten untuk beberapa calon dengan mempertimbangkan jalinan dan irisan sosial yang ada dalam keluarga mereka dengan beberapa calon.

Dengan model pilkades, biasanya hubungan calon dan pendukung atau mereka yang tidak mendukung akan berlanjut setelah pemilihan. Mereka yang sebelumnya tidak mendukung calon yang terpilih biasanya akan mendapatkan tempat di pinggiran. Situasi ini bisa bertahan beberapa lama—bisa hingga beberapa tahun.

Bahkan, saat pileg kemarin, saya mendengar ada calon yang menyebar uang dan menandai dan menghitung secara teperinci perkiraan dan perolehan suaranya di tiap tempat pemungutan suara (TPS) berdasarkan amplop yang telah disebar sebelumnya. Cara ini katanya diiringi dengan semacam ancaman: bahwa jika ternyata ada selisih suara antara amplop dan hasil di TPS, maka si calon tidak akan bertanggung jawab atas situasi keamanan di wilayah itu.

Beberapa contoh yang saya kemukakan ini menurut saya menunjukkan adanya pertanda terlepasnya ikatan-ikatan sosial dalam kehidupan masyarakat kita. Saya menangkap ada benih-benih penyekatan dalam ruang sosial di antara calon yang saling bersaing itu yang dampaknya bisa cukup mahal dan fatal. Dalam bentuk yang sederhana dan berskala kecil, mungkin sekali muncul kerenggangan antara dua orang atau lebih akibat perbedaan dukungan politik. Dalam bentuk yang lebih rumit, ini bisa meluas pada konflik di antara kelompok-kelompok di masyarakat.

Menurut saya, skala kerenggangan dan konfliknya di antaranya ditentukan oleh kedalaman (intensitas) keterlibatan seseorang dengan calon yang didukungnya, kematangan seseorang dalam melihat perbedaan, dan kerangka politik yang dimiliki si calon yang ditanamkan kepada tim atau pendukungnya. Jika berbagai faktor kunci ini berada dalam kutub negatif, maka mungkin tingkat kerenggangan yang akan dihasilkan bisa cukup ekstrem. Apalagi hal itu terjadi pada tokoh kunci dalam masyarakat yang bisa memengaruhi orang lain.

Hancurnya ikatan-ikatan sosial dalam kehidupan masyarakat kita dari satu sisi berarti hilangnya modal sosial kita sebagai komunitas atau masyarakat. Kehidupan sosial kita tidak akan berjalan dengan baik jika salah satu tali yang mengikat berbagai orang dalam rumpun kehidupan masyarakat lucut. Program-program pembangunan atau semacamnya akan menghadapi kendala yang cukup berarti jika ikatan-ikatan itu telah tercerai berai. Apalagi jika disusul oleh lucutnya tali yang lain. Jika ikatan-ikatan sosial itu lepas, maka itu berarti ancaman bagi kehidupan kita sebagai sebuah bangsa.

Selanjutnya, keruwetan kedua, dengan adanya politik uang yang luar biasa, pileg kali ini cenderung semakin mengarahkan putusnya ikatan suci dunia politik sebagai ranah pengabdian dan menggantinya dengan tujuan yang sifatnya duniawi. Dunia politik lalu cenderung ditampilkan sebagai panggung perebutan kekuasaan.

Para elite politik (partai) cenderung mempertontonkan perilaku, pernyataan, dan juga perseteruan yang menempatkan politik sebagai hal sangat material dan duniawi kepada masyarakat luas. Ini adalah bentuk “sekolah” atau pendidikan yang sangat manjur karena wujudnya langsung berupa contoh, bukan sekadar kata-kata. Bahkan kata-kata bisa berseberangan dengan teladan yang ditampilkan.

Jika ada slogan-slogan ideal yang mungkin kadang dikutip dari teks suci dalam panggung kehidupan politik kita, khususnya dalam kaitannya dengan suasana pileg yang lalu, masyarakat masih kesulitan untuk melihat keterkaitan ungkapan-ungkapan ideal itu dengan praktik politik yang tampak di depan mata. Masyarakat masih cukup sulit untuk menemukan teladan dalam kehidupan politik yang menunjukkan kemanjuran teks-teks suci itu sebagai pengarah laku politik mereka.

Lunturnya misi suci politik dalam kehidupan masyarakat tidak saja menjadi contoh pendidikan politik yang bersifat negatif. Ia juga menenggelamkan salah satu harapan kekuatan sosial yang dapat mengusung perubahan secara sistematis dalam kehidupan bermasyarakat. Politik sebagai proses tawar-menawar terkait tata kelola kehidupan bersama menjadi surut dalam tujuan jangka pendek yang dangkal dan duniawi.

Jika dicermati lebih jauh, dua sisi keruwetan yang saya gambarkan di sini ternyata berbiaya mahal. Banyak orang mengatakan bahwa pileg kali ini tampaknya memang telah semakin ramai dengan politik uang. Bisik-bisik di masyarakat di sekitar saya menunjukkan hal tersebut. Untuk calon anggota badan legislatif di tingkat kabupaten, saya mendengar beberapa calon mengeluarkan dana ratusan juta rupiah. Bahkan tidak sedikit yang di atas satu miliar!

Saya mencoba membayangkan, dari ratusan calon anggota badan legislatif di Sumenep, berapa miliar uang yang bertaburan dalam beberapa bulan di sekitar pileg tahun ini? Demikian juga, berapa dana yang masyarakat keluarkan untuk kepentingan pileg? Kemudian, apa yang mereka dan masyarakat akan dapatkan dari jumlah yang begitu besar itu, setidaknya dalam lima tahun ke depan?

Di media saya membaca berita tentang calon yang gagal yang kemudian berakhir dengan kondisi kejiwaan yang tertekan (stres). Ada pula yang tersiar berusaha menarik kembali uang atau sumbangan yang sebelumnya ia keluarkan. Pada tingkat perseorangan pun, ternyata keruwetan kadang ternyata harus bermodal mahal.

Membaca berbagai keruwetan setelah pileg di atas, masih layakkah kita menaruh harapan? Di kabupaten saya, melihat daftar anggota badan legislatif yang terpilih, saya bersyukur masih bisa melihat beberapa nama yang tampaknya masih bisa diberi harapan. Saya sadar bahwa memang tak ada orang yang sempurna. Tapi saya pikir ada beberapa orang yang insya Allah bisa berbuat sesuatu di sana.

Namun kadang pikiran saya masih terbentur lagi dengan gagasan tentang “dunia dewan” yang tampaknya memiliki aturan (“struktur”) tersendiri. Sebagai sebuah dunia yang secara relatif dapat berdiri sendiri, ia bisa memiliki kekuatan pengubah atau bahkan pengendali pada kehendak dan idealisme seseorang. Untuk mereka yang tadi saya sebut layak diberi harapan, saya bertanya-tanya apakah mereka dapat selamat dari ekses buruk struktur “dunia dewan” tersebut sehingga dengan segala keterbatasannya dunia ideal mereka dapat terus dibawa dan diperjuangkan di sana?

Dari jauh, saya mencoba merawat harapan yang rasanya cukup berat ini. Semoga Allah memberi kekuatan bagi mereka yang punya niat baik untuk berjuang demi kehidupan masyarakat yang lebih baik.


Baca juga:
>> Money Politics Around Us
>> For Whom the People (don't) Hope


Read More..

Saturday, 10 May 2014

Dunia Ayah Kian Menyempit


Sekitar hampir setahun setengah ini, dunia ayah saya kian hari tampaknya semakin menyempit. Hari-harinya hampir sepenuhnya hanya dihabiskan dengan berbaring di kamar. Ayah tak bisa ke mana-mana. Untuk duduk saja ayah sudah mesti dibantu. Ia sudah tak kuasa berjalan tanpa dibantu kursi roda. Bahkan, untuk berdiri tegak pun, ia sudah sangat kesulitan meski dibopong.

Dunia ayah saya benar-benar telah semakin menyempit. Beberapa bulan terakhir, kata-katanya sudah sangat sulit dimengerti, bahkan oleh kami yang sehari-hari hidup bersama dengannya. Dengan wajah yang tampak begitu lelah dan kusut, terkadang ayah berteriak seperti memanggil-manggil orang. Namun kami tidak tahu pasti apa maksudnya.

Dengan pelafalan yang nyaris tak jelas, kami hanya bisa menerka makna yang ada di balik suara ayah yang lebih sering seperti gumaman itu. Kadang kami menangkap rasa pasrah, atau perasaan yang kosong, saat makna di balik lafal-lafalnya itu gagal ditangkap atau dijawab sekenanya. Kadang pula kami menangkap rasa serupa geram. Pada saat seperti itu, saya membayangkan mungkin ayah saya merasa tengah berada di perbatasan dunia. Ayah berusaha berpegang dan bertahan agar tetap berada di satu dunia bersama kami.

Bahasa memang bisa menyatukan dan memisahkan, seperti kisah Iskandar Dzulqarnain yang direkam al-Qur'an, saat ia tiba di antara dua gunung dan penduduknya menggunakan bahasa yang nyaris tak bisa dipahami. Itulah mungkin gambaran tentang batas dunia—dunia kita yang dibatasi bahasa.

Jika dikatakan bahwa makna kata-kata itu sifatnya manasuka, maka kini saya semakin paham betapa kata-kata atau bahasa tidak lebih hanya soal kesepakatan. Manusia belajar berbahasa dan merekam kata-kata dengan menyimpan makna yang sifatnya manasuka itu dalam ingatannya. Lalu bagaimanakah jika kata-kata yang dilontarkan pun dilafalkan dengan tidak jelas dan nyaris seperti manasuka?

Namun begitu, saya percaya bahwa di balik pelafalan yang terganggu, dunia ide ayah saya masih hidup meski mungkin tak semeriah saat ia masih sehat. Dunia ide ayah saya tampaknya masih mampu menangkap suasana bahagia, sedih, dan semacamnya, atau bahkan merekam nama-nama baru yang masuk ke dalam dunianya yang makin menyempit itu.

Saat saya membawa dan memperkenalkan istri saya untuk pertama kalinya ke hadapannya, ayah saya menunjukkan ketersambungannya dengan ungkapan haru dan sesenggukan tertahan. Pernah suatu hari saat saya hanya pulang sendiri ke rumah tanpa istri saya, saya mencoba menguji ingatan ayah saya tentang nama istri saya. Ternyata ayah saya bisa mengingat dan menyebutnya dengan baik.

Tapi bagaimanapun, dunia ayah saya memang kian menyempit. Mungkin kini ayah hanya menyimpan sejumlah gagasan dalam jumlah yang amat sedikit—yang mungkin tak lain hanya berkaitan dengan hal-hal mendasar terkait kebutuhan manusia untuk bertahan hidup ditambah dengan perbendaharaan yang berisi orang-orang terdekatnya.

Menyaksikan dunia ayah saya yang menyempit itu, kadang saya teringat pada saat ayah saya untuk pertama kalinya menyeberang Jembatan Suramadu di pertengahan Juni 2010 saat bersama kerabat yang lain menjemput kedatangan saya dari Eropa. Surabaya—itulah jarak terjauh yang ditempuhnya setelah pada akhir 2007 ayah diserang stroke ringan.

Apakah yang ayah rasakan saat itu, empat tahun yang lalu, saat kami bersama-sama berkumpul dengan lengkap untuk sebentuk rasa syukur atas tuntasnya studi dan kedatangan saya? Saya juga teringat Mei 2007, saat ayah menghadiri wisuda saya di Yogyakarta bersama kerabat-kerabat dekat. Saya melihat foto wisuda saya, menatap ekspresi bahagia ayah di antara istri dan anak-anaknya. Ya Allah, lama saya tak melihat raut wajah ayah yang seperti itu.

Kini, dalam dunianya yang semakin menyempit itu, ayah hampir pasti akan memanggil-manggil kami jika di kamarnya ayah hanya sendiri dan sedang terjaga. Ayah memang tak perlu apa-apa, hanya ingin ada salah satu dari kami di sana. Apakah dunia yang kian menyempit itu telah menghadirkan rasa cemas untuknya?

Ayah saya memang termasuk orang yang suka "kepikiran" saat anak-anaknya pergi ke tempat jauh. Saat untuk pertama kalinya saya berangkat kuliah ke Yogyakarta pada tahun 1997, kami dapat menangkap kecemasannya. Begitu juga saat adik-adik saya melanjutkan studi ke luar kota selang beberapa tahun kemudian.

Dunia ayah kian hari tampak kian menyempit. Beberapa pekan terakhir, saya menyaksikan betapa sulitnya ayah untuk bergerak atau ke kamar mandi meski sudah dibantu. Ya Allah, kadang saya merasa tidak tega saat menangkap ketakberdayaan dan rasa sakitnya saat ayah dibantu berjalan.

Kini, dalam dunianya yang semakin menyempit, saat saya berada di kamar mendampinginya, saya sering bertanya-tanya apakah ayah masih menyimpan gagasan tentang doa dan harapan. Saat pikiran dan dunianya semakin tergerus oleh penyakit dan usia, apakah ayah masih terpikir untuk mendoakan kami, putra-putrinya, seperti dahulu dilakukannya?

Beberapa bulan lalu pernah ada orang yang bertamu untuk meminta doa berkah dari ayah. Saya yang menemuinya di ruang tamu. Saat saya menyampaikan maksud kedatangan si tamu kepada ayah yang terbaring di kamar, ayah tampak masih tersambung. Saya memandu ayah untuk berdoa sesuai dengan maksud kedatangan si tamu, dan ayah terdengar membacakan doa.

Menyaksikan hal ini, saya merasakannya sebagai bagian dari setitik harapan. Menghadapi kehidupan baru dan merasakan beratnya tantangan hidup ke depan, saya tentu sangat berharap dari doa dan perkenan orangtua. Saya percaya bahwa doa mereka akan menjadi kekuatan berharga buat saya. Semoga Allah senantiasa memberkahi kedua orangtua saya. Amien.

Baca juga:
>> Ayah, Apa Kau Masih Bisa Memimpin Pembacaan Shalawat di Perayaan Maulid Tahun Ini?

Read More..