Monday, 27 July 2015

Harga Gila


Dalam situasi apa Anda merasa tertipu saat berbelanja? Saya punya pengalaman buruk berbelanja yang baru terasa setelah saya tiba di rumah. Saat memeriksa struk belanja di rumah karena akan saya salin ke dalam catatan pengeluaran yang biasa saya tulis di komputer, saya tersadar bahwa ternyata harga yang saya bayarkan untuk barang tertentu ternyata sungguh gila!

Kok bisa ada harga gila? Harga gila yang saya maksud adalah harga yang tidak wajar, yakni jauh melebihi harga biasanya di tempat belanja yang berbeda. Kebetulan, barang yang saya beli tadi juga saya beli 10 hari sebelumnya di tempat yang berbeda. Saya sangat jengkel karena harganya jauh berbeda.

Bayangkan! Di toko tempat tadi pagi saya berbelanja, harga satuan barang A tercatat Rp 7.300,-. Padahal, di toko yang lain, 10 hari yang lalu saya membelinya dengan harga satuan Rp 5.000,-! Sementara itu, untuk barang B, tadi pagi saya membeli dengan harga satuan Rp 6.300,- sedangkan untuk barang yang sama 10 hari lalu saya membelinya dengan harga Rp 4.200,-!

Para pembaca yang budiman. Anda mungkin pernah mengalami hal serupa dan mungkin juga mengetahui bahwa ada toko tertentu yang memang menjual beberapa barang dengan harga yang lebih mahal. Tapi perbandingan beda harga yang saya temukan ini sungguh terlalu jauh: dua barang itu lebih mahal 46% dan 50%! Gambarannya, untuk barang B, di toko tempat tadi pagi saya berbelanja Anda akan mendapatkan 2 barang, sedangkan di tempat lain Anda bisa mendapatkan 3 barang!

Memangnya di mana tadi pagi saya berbelanja, dan di mana tempat belanja saya 10 hari sebelumnya? Tadi pagi saya berbelanja di toko ritel swalayan modern (waralaba nasional) dan 10 hari lalu saya berbelanja di toko swalayan lokal. Keduanya sama-sama berada di kota Pamekasan.

Saat tadi pagi masih gemas dengan fakta yang saya temukan, saya jadi teringat beberapa bulan lalu saat secara tak sengaja melihat label harga sebuah makanan ringan di ritel swalayan modern serupa yang harganya juga sungguh gila. Saya lihat harga satuannya Rp 2.400,- padahal di swalayan lainnya saya tahu bahwa harganya Rp 1.500,-! Lebih mahal 60%!



Saya pikir pembaca yang budiman juga punya pengalaman yang sama atau mirip di toko eceran yang saya maksud, yakni bahwa ada beberapa barang yang harganya sungguh gila!

Memang, yang namanya swalayan mengasumsikan bahwa pembeli sudah sadar dengan harga barang yang akan dia beli. Tapi, saat sedang terburu, pembeli mungkin tidak sempat memperhatikan label harga yang tercantum.

Secara pribadi, sebenarnya saya memang berusaha agar sebisa mungkin tidak berbelanja di toko eceran seperti tempat tadi pagi itu. Alasan utamanya mungkin bisa dibilang cukup ideologis: masuknya toko eceran swalayan modern ke pelosok beberapa tahun terakhir ini dinilai oleh banyak pihak sebagai serangan bagi pengusaha kecil di tingkat lokal. Ritel-ritel itu pelan-pelan dapat membunuh pengusaha lokal dan pasar tradisional. Padahal, pasar tradisional merupakan ruang publik yang bernilai penting secara sosial dan budaya—selain ekonomi.

Beberapa pihak memprotes kebijakan pemerintah lokal yang terkesan cukup longgar dalam memberi izin. Namun, bukankah keputusan berbelanja di mana dan apa itu pada akhirnya berada pada tingkat individu?

Demikianlah, pembaca yang budiman. Pengalaman tadi pagi tampaknya harus menjadi pengingat yang tegas buat saya atas niatan saya untuk sedapat mungkin tidak berbelanja di ritel modern (waralaba nasional) itu.

Itu yang sifatnya personal. Lalu bagaimana melihat pengalaman tadi dari sudut pandang sosial? Ada beberapa pertanyaan yang kemudian muncul. Misalnya, apakah tidak ada regulasi yang mengatur harga jual barang jika ternyata harga jualnya sungguh tidak wajar? Atau, jika mau mengeluh, kepada siapa masyarakat menyampaikannya?

Sekali lagi, pengalaman berbelanja tadi pagi ini mengajak saya untuk kembali merenung dan mengingat bahwa ada banyak aspek terkait dengan kegiatan konsumsi kita sehari-hari. Itu bisa sesuatu yang terkait dengan problem etis (seperti terkait isu keadilan lingkungan) atau bahkan mungkin juga ideologis dan politis. Pada akhirnya, pada tingkat individu, ini menegaskan pentingnya menjadi konsumen yang kritis dan bertanggung jawab.

Read More..

Sunday, 19 July 2015

Meneropong Realitas yang Timpang


Judul buku: Gelandangan di Kampung Sendiri: Pengaduan Orang-Orang Pinggiran
Penulis: Emha Ainun Nadjib
Penerbit: Bentang Pustaka, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, Maret 2015
Tebal: viii + 288 halaman
ISBN: 978-602-291-078-7


Kenyataan hidup sehari-hari sering tampil sebagai sesuatu yang biasa. Akibatnya, sering kali kepekaan kita tumpul dan tak bisa menangkap pesan hidup di balik sebuah peristiwa. Akhirnya hidup ini menjadi jalinan arus yang hambar sehingga dalam bahasa Sokrates menjadi hidup yang tak layak dijalani karena tanpa refleksi.

Esai-esai budayawan kondang Emha Ainun Nadjib yang terkumpul dalam buku ini mengajak pembaca untuk merefleksikan kenyataan hidup sehari-hari. Yang menarik, refleksi Emha terfokus pada kisah-kisah hidup orang-orang pinggiran. Di halaman persembahan buku ini, secara eksplisit Emha menyebut “orang-orang yang dianiaya,” “orang-orang yang ditindas,” “orang-orang yang dirampas kemerdekaannya,” dan “orang-orang yang dimiskinkan”.

Penyebutan Emha ini jelas merupakan sebentuk keberpihakan yang sifatnya cukup ideologis. Artinya, dalam meneropong kenyataan hidup yang timpang, Emha berada di pihak mereka yang terpinggirkan itu. Pihak yang terpinggirkan kerap tak memiliki saluran untuk menyatakan diri di ruang publik sehingga Emha kemudian seperti menjadi juru bicara untuk mereka.

Contohnya seperti kisah para pedagang di pasar yang diancam secara samar oleh seorang pejabat lantaran proses pembongkaran dan renovasi pasar. Emha menampilkan dialog orang-orang kecil yang resah dan merasa tak dihargai itu. Di sebuah bagian, Emha menulis bahwa mereka bukannya tidak setuju, tapi hanya ingin diajak berunding, diakui dan dihargai bahwa mereka juga adalah subjek utama pembangunan.

Esai-esai dalam buku ini memang ditulis pada paruh pertama dekade 1990-an, saat pemerintah Orde Baru nyaris sepenuhnya tak memberi ruang kritis dan ruang partisipasi masyarakat dalam proses politik dan pembangunan. Kisah pedagang pasar di atas cukup sering terjadi tapi tak ada media yang siap mengangkat isu ini secara terang-terangan.

Lebih dari sekadar menyajikan ironi pembangunan, Emha memberikan refleksi sederhana yang cukup tajam dan mendasar. Misalnya terkait kasus pembangunan Kedung Ombo, Jawa Tengah, yang mendapat penolakan dari warga namun akhirnya diresmikan pada tahun 1991. Seperti pedagang pasar, warga sebenarnya bukan hendak membangkang dan melawan program pembangunan yang dicanangkan pemerintah. Mereka hanya menuntut keadilan. Tapi, tulis Emha, apakah untuk menuntut keadilan warga akhirnya harus mendapat cap sebagai “melawan konstitusi”?

Perlawanan memang identik dengan orang-orang pinggiran, termasuk di antaranya kaum buruh. Masalahnya, pemerintah Orde Baru ketika itu kemudian terbiasa memberi stigma negatif kepada para buruh yang sering memprotes ketidakadilan yang dialaminya dengan menyebut mereka sebagai “komunis”. Padahal, tulis Emha, tak harus menjadi komunis untuk memprotes ketidakadilan.

Namun Emha tak hanya berhenti di sini. Emha mengajak pembaca untuk menelaah lebih mendalam. Jika isu buruh dalam konteks internasional memang cukup identik dengan komunis, Emha mengusik kita untuk melihat kenyatan kaum buruh di negara-negara komunis yang ketika itu justru ditindas penguasa. Malah kaum buruh di negara kapitalis cenderung berjaya.

Selain berangkat dari hasil pengamatan, Emha juga menulis esai-esainya berdasarkan pengaduan baik secara langsung maupun melalui surat. Pada tahun 1992 Emha misalnya pernah menerima surat dari seorang pendeta di Nusa Tenggara Timur yang menyampaikan keresahannya akibat proyek hutan tanaman industri yang menggusur hutan adat dan padang ternak warga dan jemaatnya. Mereka sudah mengadu kepada aparat, tapi hasilnya nihil dan tak memuaskan.

Emha juga menulis beberapa esai tentang kasus mutilasi di Probolinggo tahun 1992 yang membuat geger. Mbah Jiwo, seorang nenek, memutilasi cucunya sendiri. Badan cucunya itu diiris-iris menjadi 79 bagian. Sebagian kabarnya dijadikan bahan membuat rawon. Orang-orang terkejut, juga mengecam. Atas peristiwa ini, Emha mengemukakan refleksi menarik. Kalau orang-orang terkejut dengan sadisme Mbah Jiwo dan menganggap Mbah Jiwo sebagai orang yang tak normal, mengapa banyak masyarakat memandang biasa realitas yang sebenarnya juga tak biasa dan bahkan mungkin juga termasuk sadis?

Emha menyebut seorang ibu di pasar yang bekerja mulai tengah malam hingga esok sorenya hanya untuk seribu-dua ribu rupiah, sementara di sebuah kantor ada orang yang hanya duduk-duduk digaji ratusan juta rupiah. Apakah ini bukan sadisme dalam mekanisme perekonomian kita?

Di tengah berbagai fenomena ketimpangan sosial dan ketidakadilan itu, memang ada para pemuda yang tampak peduli misalnya dengan menggelar demonstrasi. Namun, atas fenomena seperti ini, Emha memberi catatan kritis. Emha khawatir mereka yang “hobi” demonstrasi itu “lebih berorientasi kepada keasyikan memprotes daripada pencarian jalan keluar”.

Meskipun esai-esai dalam buku ini ditulis lebih 20 tahun lalu tapi kekuatan refleksi dan relevansinya tetap cukup kuat. Esai-esai dalam buku ini tidak saja menghadirkan suara orang yang terpinggirkan, tapi juga memuat refleksi kritis terkait isu pembangunan dan kehidupan sosial pada umumnya.

Bukankah ketimpangan sosial yang menuntut perhatian pemerintah dan semua unsur masyarakat hingga ini masih menjadi masalah serius bagi bangsa ini? Bukankah masih banyak masyarakat kita yang menjadi gelandangan di kampung sendiri? Demikian juga masalah pembangunan kadang juga masih berbenturan dengan aspirasi masyarakat, seperti dalam kasus pembangunan semen di Rembang, Jawa Tengah.

Kekuatan esai-esai Emha ada pada sudut pandangnya yang kritis, reflektif, dan tak biasa sehingga dapat menghadirkan kenyataan hidup yang timpang dengan lebih menggugah. Perspektif Emha dalam esai-esainya menghidupkan kepekaan kemanusiaan kita yang mendasar sehingga juga menggiring kita untuk berbuat sesuatu demi mengatasi berbagai realitas timpang itu meski dengan cara yang sederhana.


Tulisan ini dimuat di Harian Jawa Pos, 19 Juli 2015.


Read More..

Wednesday, 8 July 2015

Menyoal Batas Barat dan Timur

Judul Buku: Antara Barat dan Timur: Batasan, Dominasi, Relasi, dan Globalisasi
Penulis: Al Makin, Ph.D.
Penerbit: Serambi, Jakarta
Cetakan: Pertama, Maret 2015
Tebal: xii + 258 halaman


Dalam konstelasi politik dunia, Barat dan Timur sering berhadapan dalam situasi yang cukup bersitegang atau bahkan berkonflik. Dalam dunia keilmuan, kita juga mengenal orientalisme, yakni bagaimana Barat menulis tentang Timur. Belakangan, muncul juga yang disebut oksidentalisme, yakni Timur menulis tentang Barat. Kedua bidang kajian ini sampai sekarang terus menjadi wilayah akademik yang berkembang di dunia intelektual.

Problem Barat dan Timur dalam kerangka ilmu orientalisme dan oksidentalisme inilah yang dikupas oleh buku ini. Buku yang tampaknya dirancang sebagai buku teks kuliah ini memberikan pemaparan relasi Barat dan Timur sejak era penjajahan hingga era globalisasi. Penulis buku ini, Al Makin, mengampu matakuliah orientalisme dan oksidentalisme di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sejak tahun 2000 (hlm. 3).

Al Makin memulai uraiannya dengan melacak awal mula ketertarikan Barat dalam mengkaji Timur yang dimulai pada era penjajahan. Dengan mengambil fokus pada pengalaman Indonesia, Al Makin memberikan kerangka uraiannya dengan sudut pandang yang khas Michel Foucault yang menempatkan pengetahuan dalam relasi kuasa. Menurut Al Makin, kekuasaan Belanda didukung oleh pengetahuan tentang masyarakat pribumi. Al Makin memberi contoh bagaimana pemahaman mendalam Snouck Hurgronje tentang Aceh dan juga pengetahuan Stamford Raffles tentang masyarakat Jawa dapat dimanfaatkan Belanda untuk kepentingan kekuasaan mereka (hlm. 20, 25).

Orientalisme mulai muncul setelah Barat bertemu Timur melalui penjajahan. Terlepas dari kepentingan kekuasaan, dalam mengkaji Timur para ilmuwan Barat memperlihatkan semangat dan dedikasi yang luar biasa. Kesungguhan ini tidak hanya tampak dalam keseriusan mereka mempelajari teks tapi juga dalam terjun ke lapangan dan meneliti kehidupan masyarakat Indonesia sehingga menghasilkan karya yang sering dikutip. Beberapa ilmuwan Barat yang bisa disebut antara lain Richard Bell, Clifford Geertz, dan William Liddle (hlm. 28-30).

Menyikapi berbagai hasil kajian ilmuwan Barat yang berada dalam lingkup orientalisme ini, masyarakat Timur menurut Al Makin banyak yang salah kaprah. Barat dipandang seolah berniat jahat dan mempelajari Islam untuk kepentingan menghancurkannya. Menurut Al Makin, persepsi semacam ini tidak terbukti secara ilmiah dan cenderung bersifat ideologis dan dibungkus dengan teori konspirasi (hlm. 61, 189).

Pada bagian berikutnya, Al Makin memaparkan pemikiran kaum orientalis mulai dari Ignaz Goldziher, Joseph Schacht, Montgomery Watt, hingga Benedict Anderson. Pada bagian ini Al Makin juga menggarisbawahi bahwa bagaimanapun kajian orientalisme ini telah berkontribusi bagi kajian keislaman (hlm. 131). Demikian juga, kajian kaum orientalis ini cukup beragam. Misalnya, buku Patricia Crone dan Michael Crook, Hagarism (1977), yang menguraikan sejarah Islam memperlihatkan sudut pandang Yahudi, Kristen, Yunani, dan Mesir, sehingga menyulut pro dan kontra. Atas karya ini, sejumlah intelektual Barat sendiri juga menilainya sebagai karya yang tidak cukup kuat argumennya (hlm. 138-144).

Setelah mengulas orientalisme, pemikiran Timur tentang Barat (oksidentalisme) kemudian dipaparkan melalui sudut pandang beberapa tokoh, seperti Hassan Hanafi, Mukti Ali, dan Burhanuddin Daya. Hassan Hanafi merintis sudut pandang dekonstruktif atas mitos Barat yang dipandang merepresentasikan seluruh umat manusia (hlm. 195).

Pada bagian akhir, buku ini mencoba merefleksikan situasi terkini saat batas-batas Barat dan Timur lebur akibat menguatnya globalisasi. Al Makin menyebut hadirnya teknologi internet sebagai faktor yang meleburkan batas-batas Barat dan Timur ini (hlm. 216-218).

Selain sebagai buku teks kuliah, buku ini dapat menjadi bahan refleksi kita bersama dalam melihat identitas ketimuran (dan keislaman) kita. Buku ini mengantarkan kita pada wawasan bahwa saat ini Barat memang dominan, sebagaimana halnya Timur pada masa keemasan Islam pernah juga berjaya di bidang sains. Dengan proses globalisasi, yang lebih penting saat ini adalah proses untuk saling membuka diri, saling belajar, dan saling berkontribusi bagi kemajuan peradaban dunia (global).

Selain kelemahan teknis seperti kalimat-kalimat yang tersusun kurang lengkap dan kadang agak rumit, buku ini memang sedikit terkesan mengagung-agungkan Barat dan relatif kurang memberi kritik tajam terhadap Barat, khususnya tentang eurosentrisme yang masih tampak kental dalam penulisan sejarah seperti yang ditunjukkan oleh Tamim Ansary dalam buku Destiny Disrupted: A History of the World through Islamic Eyes (2009).

Di sisi lain, saat mengulas leburnya batas Barat dan Timur, Al Makin masih lebih banyak mengulas fakta-fakta yang mungkin terkesan dangkal tentang hal ini dan tidak masuk ke soal tatanan sosial, politik, dan budaya global yang juga memperlihatkan dominasi Barat yang masih cukup kuat. Akibat globalisasi, batas Barat dan Timur mungkin memang lebur. Tapi tatanan politik global saat ini masih dalam dominasi Barat.

Al Makin kadang juga kurang cermat mengemukakan argumennya, seperti saat menilai Hassan Hanafi terlalu ambisius dalam melihat Eropa dengan mengemukakan argumen bahwa banyak ilmuwan Barat yang mencoba melihat Barat dari kacamata Timur. Contohnya, kata Al Makin, Carole Hillenbrand yang menulis tentang Perang Salib dari sudut pandang Islam. Padahal, jika kita lihat, kritik Hassan Hanafi dikemukakan dalam karyanya yang terbit tahun 1991 sedang karya Hillenbrand terbit tahun 1999.

Terlepas dari beberapa titik lemah tersebut, kehadiran buku ini patut diapresiasi karena bisa menjadi pengingat untuk merawat ruang dialog peradaban Barat dan Timur.


Tulisan ini dimuat di Harian Kabar Madura, 8 Juli 2015.


Read More..

Thursday, 2 July 2015

Tafakur sebagai Kunci Kebajikan


Judul Buku: Tafakur Sesaat Lebih Baik daripada Ibadah Setahun
Penulis: Al-Ghazali
Penerjemah: K.H. R. Abdullah bin Nuh
Penerbit: Noura (Mizan), Jakarta
Cetakan: Pertama, April 2015
Tebal: x + 158 halaman


Kehidupan zaman sekarang cenderung menggiring orang untuk hidup terombang-ambing tanpa pegangan. Akibatnya, kita menyaksikan orang relatif cukup mudah terseret oleh sebuah pandangan atau tindakan yang dapat merugikan. Situasinya mungkin mirip seperti perahu yang tanpa kemudi di tengah samudera dan ombak yang menggila.

Bagi yang kental dengan sudut pandang religius, tentulah agama diyakini sebagai pedoman untuk menjalani kehidupan. Namun demikian, terkadang agama dibenturkan dengan akal. Seolah agama tidak menerima fungsi akal sebagai potensi yang dimiliki manusia untuk digunakan sebagai perangkat dalam menjalani kehidupan.

Judul buku ini, yang diambil dari hadis Nabi Muhammad saw, menegaskan bahwa Islam sangatlah menghargai kegiatan berpikir (tafakur). Buku ini merupakan petikan bab dari mahakarya Imam al-Ghazali, Ihya’ Ulumiddin, tepatnya diambil dari bab tafakkur yang ada di juz keempat.

Dalam membahas masalah ini, al-Ghazali menguraikannya dalam beberapa sub-pembahasan, di antaranya tentang keutamaan tafakur, hakikat dan buah tafakur, objek pembahasan tafakur, dan metode menafakuri ciptaan Tuhan.

Keutamaan tafakur dipaparkan al-Ghazali di bagian pembuka dengan mengutip hadis-hadis Nabi atau kutipan dari para sahabat atau ulama terkemuka. Kesimpulan yang dapat diambil pada bagian ini adalah bahwa Islam sangat menghargai ilmu atau pengetahuan, dan kunci penting ilmu adalah tafakur. Bahkan, beberapa kutipan, seperti juga judul buku, menempatkan keutamaan tafakur di atas ibadah. Hal ini dapat dimengerti karena ibadah yang tidak dilandasi ilmu dan renungan mendalam dapat keliru dan hambar dalam pelaksanaannya.

Saat menjelaskan hasil tafakur, dijelaskan bahwa kegiatan ini memiliki tujuan akhir pada sikap batin dan amal kebajikan. Karena itulah, dapat dikatakan bahwa tafakur adalah kunci kebajikan. Secara sederhana, al-Ghazali menerangkan bahwa tafakur menghasilkan ilmu atau pengetahuan, dan ilmu atau pengetahuan dapat mengubah keadaan hati, lalu berubahlah perilaku anggota badan.

Pengaruh filsafat Yunani dapat dilihat saat al-Ghazali menjelaskan pengertian tafakur. Menurut al-Ghazali, tafakur berarti “menghadirkan dua makrifat (pengetahuan) dalam hati agar timbul makrifat ketiga. Dari pengertian ini, kita dapat memahami bahwa tafakur dalam pemahaman al-Ghazali identik dengan penyimpulan dalam silogisme. Bahkan, contoh yang dikemukakan al-Ghazali pun adalah bentuk silogisme.

Al-Ghazali menempatkan tafakur sambil juga menunjukkan bahaya taklid (ikut-ikutan). Taklid hanya akan menghasilkan dasar yang sangat lemah dan rentan. Namun demikian, di sisi yang lain tafakur dalam kerangka pandang al-Ghazali diliputi oleh nuansa keimanan yang sangat kental. Kegiatan berpikir bukanlah kegiatan yang berdiri sendiri dan terlepas dari nilai agama dan ketuhanan.

Kerangka keimanan terlihat jelas dalam uraian al-Ghazali yang panjang lebar dalam membahas objek tafakur dan bagaimana aktivitas tafakur itu dilakukan. Menurut al-Ghazali, tafakur itu bisa terkait dengan mu‘amalah dan juga mukasyafah. Yang pertama menjelaskan bagaimana tafakur tentang interaksi dengan manusia dan Tuhan, sedang yang kedua khusus tentang menafakuri kebesaran Allah.

Secara sederhana, al-Ghazali menjelaskan bahwa tafakur tentang mu‘amalah meliputi empat pokok hal: perintah (taat), larangan atau maksiat, hal yang mencelakakan, dan hal yang menyelamatkan. Bagi mereka yang sudah cukup akrab dengan buku-buku al-Ghazali, keempat hal ini memang telah menjadi kerangka umum al-Ghazali dalam menjelaskan hal yang terkait dengan keagamaan, seperti yang digunakan dalam kitab Ihya’ Ulumiddin dan Bidayatul Hidayah.

Dari seluruh uraian al-Ghazali tentang tafakur dalam hal mu‘amalah, dapat disimpulkan bahwa kegiatan tafakur berada dalam kerangka reflektif dan spiritual. Meski pada sub-pembahasan awal al-Ghazali memberi pengertian tafakur yang identik dengan penalaran logis, tapi tafakur dalam kerangka al-Ghazai berdiri sebagai jalan memperbaiki batin.

Terkait mukasyafah, al-Ghazali berdasar pada hadis Nabi yang melarang untuk berpikir tentang zat Allah. Menurut al-Ghazali, akal manusia tak akan mampu menangkap dahsyatnya kebesaran Allah. Untuk itu, kebesaran Allah ditangkap bukan melalui zat-Nya, tapi melalui ciptaan-Nya. Karena itu, dalam uraian ini, al-Ghazali memberi contoh tafakur tentang diri manusia, fenomena langit, barang tambang, dan sebagainya.

Buku yang diterjemahkan oleh K.H. R. Abdullah bin Nuh (pendiri Pesantren Al-Ihya’ dan sekolah al-Ghazali Bogor) ini sebenarnya tidak hanya memuat bab tafakkur dari kitab Ihya’. Buku ini juga memuat terjemahan karya autobiografis al-Ghazali, al-Munqidz min al-Dhalal.

Al-Munqidz dapat dipandang sebagai catatan reflektif al-Ghazali atas pengembaraan intelektual dan spiritual yang telah dilakoninya. Ini sekaligus dapat menjadi contoh bagaimana kegiatan tafakur mengambil objek yang paling dekat: diri kita sendiri.

Buku ini bernilai penting untuk menegaskan semangat Islam melawan sikap taklid dengan mendorong umatnya untuk secara aktif melakukan kegiatan berpikir. Tak hanya di situ, al-Ghazali menunjukkan bahwa kegiatan berpikir harus berada dalam kerangka keimanan. Dua hal inilah yang akan terus penting untuk diingat dan ditegaskan saat kegiatan berpikir manusia semakin intens dan bisa melahirkan ekses negatif yang tak diinginkan.


Tulisan ini dimuat di Harian Kabar Madura, 2 Juli 2015.

Read More..

Sunday, 24 May 2015

Kuburan Peradaban di Balik Ijazah Palsu


Sekitar 10 tahun silam, kasus ijazah palsu terungkap di media. Institut Manajemen Global Indonesia (IMGI) yang memiliki 53 cabang di seluruh Indonesia dilaporkan telah mencetak sekitar sembilan ribu lulusan dengan berbagai gelar, mulai dari PhD, MBA, MSc, bahkan profesor, yang ternyata palsu.

Beberapa hari ini, kasus serupa kembali terungkap. Menristek Dikti, Muhammad Nasir, mendatangi dua kampus di Bekasi dan Jakarta yang diduga kuat menjual ijazah. Di sebuah kampus di Bekasi, dari jumlah lulusan yang mencapai tiga ribu orang, pihak kampus tidak bisa memberikan data identitas para alumninya. Sedang di sebuah kampus di Jakarta yang disidak, ditemukan ijazah yang mencatut nama seorang pejabat di Ditjen Dikti. Sampai kapan kasus ini akan terus muncul di kehidupan kita?

Ada beberapa hal mendasar yang sangat meresahkan dari kasus ijazah palsu ini. Selain memperlihatkan wajah masyarakat kita yang sakit karena gila gelar dan gila hormat, kasus ijazah palsu ini merupakan ancaman serius bagi masa depan peradaban bangsa.

Ancaman serius di balik kasus ijazah palsu ini akan menjadi jelas jika kita menyadari bahwa para pemegang ijazah palsu itu bisa saja kemudian menempati posisi strategis dalam tatanan masyarakat kita: entah menjadi pengurus publik (pejabat), pengajar atau pendidik, atau pelaku bisnis. Bila nyatanya bukti kompetensi mereka yang direpresentasikan dengan ijazah ternyata palsu maka jelaslah dampak turunannya.

Pengurus publik menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan bidangnya. Selain visi, kepekaan, dan komitmen, kompetensi yang juga bersifat teknis-operasional juga dibutuhkan dalam menerjemahkan visi dan menjalankan program kerja. Itulah yang di antaranya dibuktikan dengan ijazah.

Ditemukannya kasus ijazah palsu ini menjadi mengkhawatirkan: jangan-jangan beberapa pengurus publik yang menempati posisi strategis juga termasuk konsumen ijazah palsu ini. Sebagai ukuran kompetensi, ijazah palsu bisa juga berarti kompetensi palsu. Pertanyaannya, apa yang bisa diharapkan dari pengurus publik yang ternyata kompetensinya palsu?

Yang juga sangat mengkhawatirkan adalah jika konsumen ijazah palsu ini kemudian berperan sebagai pengajar atau pendidik di sekolah atau perguruan tinggi. Saat kesejahteraan profesi di dunia pendidikan berkat kebijakan sertifikasi guru menjadi semakin baik, banyak orang tertarik untuk terjun di bidang ini. Kasus ijazah palsu ini seharusnya membuat kita jadi benar-benar khawatir: jangan-jangan pengajar atau pendidik di lingkungan kita juga terkait dengan ijazah palsu ini.

Layanan publik dan dunia pendidikan merupakan salah satu ukuran mendasar dalam menakar mutu kehidupan suatu masyarakat dan bangsa. Layanan publik yang tak bermutu akan membuat mutu peradaban masyarakat mandek. Perubahan peradaban ke arah yang lebih baik akan berjalan timpang.

Demikian juga, dunia pendidikan sebagai medan penyiapan generasi masa depan bangsa akan sangat memprihatinkan manakala para pendidiknya ternyata berbekal ijazah palsu. Generasi seperti apa yang akan dihasilkan dari sistem pendidikan yang para pengelola, pengajar dan pendidiknya berijazah palsu?

Coba perhatikan bagaimana negara yang memiliki tingkat pendidikan terbaik di dunia, yakni Finlandia, mengelola pendidikan tinggi di bidang kependidikan. Kunci keberhasilan pendidikan di Finlandia di antaranya terletak pada tingginya persaingan para calon pendidik yang akan masuk di pendidikan tinggi yang menjadi salah satu indikasi keseriusan mereka dalam mengelola program studi keguruan. Leena Krokfoss, Wakil Dekan Fakultas Keguruan University of Helsinki dalam film dokumenter The Finland Phenomenon (2011) menyebutkan bahwa dari 1600 pendaftar di jurusan keguruan, hanya 10% yang diambil.

Penggunaan ijazah palsu dalam kaitannya dengan pengurus publik, tenaga pendidik, dan sebagainya memang masih berupa dugaan dan belum ada data teperinci. Namun, melihat jumlah yang ditemukan Menristek Dikti saat sidak beberapa hari lalu dan data-data serupa dalam 10 tahun terakhir, kita patut khawatir bahwa dugaan tersebut memang nyata.

Saat persaingan dunia global semakin nyata, tak ada toleransi untuk kasus ijazah palsu. Membiarkan kasus ijazah palsu ini tak tertangani secara tegas dan menyeluruh sama halnya dengan menyiapkan kuburan peradaban bangsa.

Pengurus publik dan masyarakat harus kompak untuk mengakhiri tragedi ini. Mentalitas pragmatis yang di antaranya berada di balik fenomena ini harus diputus dengan kebijakan tegas dan pengawasan yang ketat. Langkah mendasar yang menjadi tugas bersama adalah mengingatkan seluruh elemen bangsa ini bahwa ijazah palsu adalah benih awal hancurnya peradaban.

Konsumen potensial harus terus diingatkan ihwal kepalsuan nilai ijazah palsu dan kontribusi mereka pada penghancuran masa depan bangsa. Selain itu, harus ada langkah-langkah objektif di tingkat kebijakan untuk memastikan bahwa ijazah palsu tidak akan lolos bila digunakan untuk posisi-posisi yang terkait dengan hajat hidup orang banyak.


Tulisan ini dimuat di Harian Jawa Pos, 24 Mei 2015.


Read More..

Friday, 22 May 2015

Pesona Mulia Sang “Anak Asuh Wahyu”


Judul buku: ‘Ali ibn Abi Thalib: Khalifah Nabi Tercinta
Penulis: Khalid Muhammad Khalid
Penerbit: Mizania, Bandung
Cetakan: Pertama, Desember 2014
Tebal: 196 halaman


Di kalangan umat Islam, sosok ‘Ali ibn Abi Thalib tidak saja menempati posisi penting, tapi juga cukup kontroversial. Disebut penting karena ia adalah sepupu sekaligus menantu Nabi Muhammad saw. Selain itu, ia juga tercatat sebagai anak yang masuk Islam pertama kali. Namun begitu, ia juga cukup kontroversial karena diposisikan sebagai panutan atau imam kelompok syi’ah, golongan yang posisinya selalu menimbulkan perdebatan.

Posisi sulit ‘Ali ibn Abi Thalib menjadi nyata karena ia diangkat sebagai khalifah pada situasi yang genting, saat umat Islam mulai terseret dalam konflik politik yang menceraiberaikan persatuan dan persaudaraan yang telah dibangun mulai dakwah Nabi di Mekah.

Buku ini tidak memaparkan runtutan peristiwa di seputar kehidupan ‘Ali ibn Abi Thalib. Mengikuti alur kronologis kehidupan ‘Ali yang tidak disajikan secara kaku, Khalid Muhammad Khalid berusaha menampilkan “kemuliaan dan kemanusiaan yang tersirat di balik setiap rangkaian peristiwa” (hlm. 9) dalam alur kehidupan ‘Ali.

Buku ini dibagi ke dalam lima bab. Bab yang pertama berusaha menampilkan sosok ayah dan kakek ‘Ali—yang tak lain adalah juga paman dan kakek Nabi Muhammad saw—yakni Abu Thalib dan ‘Abdul Muththalib. Keduanya adalah tokoh terkemuka masyarakat Mekah yang disegani. Setelah menggambarkan beberapa fragmen kehidupan kedua sosok tersebut, Khalid menyimpulkan bahwa ‘Ali mewarisi sifat-sifat mulia dari keduanya, yakni berupa “sifat pantang menyerah, keteguhan dalam memegang pendirian, dan kekuatan dalam akidahnya” (hlm. 32).

Tak berhenti hanya pada kesimpulan ini, Khalid kemudian menguatkan: apalagi ‘Ali mendapat kesempatan untuk berada serumah dan bahkan dididik langsung oleh Nabi Muhammad saw. Maka tentunya karakter yang kemudian mendapatkan landasan keimanan Agama Tauhid tentu akan lebih kuat lagi.

Inilah yang diuraikan Khalid pada bab kedua. Khalid menyebut ‘Ali dengan julukan “Anak Asuh Wahyu”. Hal ini tak lain karena sejak usia 6 tahun ‘Ali sudah tinggal bersama Nabi, dan pada usia 10 tahun telah memeluk agama Islam sehingga ia dikenang sebagai orang yang pertama kali masuk Islam dari golongan anak-anak. Pada tahun-tahun pertama turunnya wahyu, ‘Ali selalu berada di dekat Nabi sehingga hal itu membentuk loyalitasnya secara total terhadap al-Qur’an.

Bab ketiga buku ini berjudul “Seorang Pahlawan dan Kesatria”. Bagian ini menggambarkan sosok ‘Ali yang memiliki semangat juang yang tinggi. ‘Ali digambarkan memiliki karakter prajurit sejati, pahlawan, dan kesatria yang luhur. Di antara kisah yang diangkat pada bab ini berasal dari peristiwa Perang Uhud. Pada waktu itu, ‘Ali memenangi duel bersama Abu Sa’ad ibn Abi Thalhah, salah seorang dari kaum musyrik. Namun, ‘Ali urung menghabisi Abu Sa’ad karena setelah terhempas ke tanah, tiba-tiba pakaian Abu Sa’ad tersingkap dan auratnya kelihatan. ‘Ali tak mau melihat aurat orang lain. Ia memejamkan matanya dan berpaling, lalu kembali ke pasukannya.

Dalam peristiwa Perang Unta, ‘Ali menegur keras dua orang pembesar kaum Anshar yang melemparkan cacian dan makian pada Muawiyah. ‘Ali melarang mereka mencela dan melaknat dan menyarankan agar lebih baik mendoakan pada kebaikan (hlm. 69).

Bagian terpanjang dalam buku ini adalah bab keempat. Bab ini menggambarkan periode kehidupan ‘Ali saat ia diangkat sebagai khalifah. Poin mendasar yang ditekankan adalah rasa akan tanggung jawab atas jabatan yang diemban. Sebagaimana banyak diulas oleh penulis sejarah Islam yang lain, Khalid dalam buku ini menegaskan keikhlasan dan sifat amanah empat khalifah Islam yang pertama (atau khulafaurrasyidin) serta kebersihan hati mereka dari ambisi pribadi dan hasrat atas kekuasaan. Kalaupun ada perselisihan atau perbedaan pandangan mereka dalam hal mengelola pemerintahan, itu bukan karena dorongan hal yang sifatnya duniawi (hlm. 100).

Selain praktik zuhud atau hidup sederhana yang dicontohkan oleh ‘Ali, ‘Ali menekankan visi kepemimpinannya untuk menyatukan umat Islam yang saat itu terpecah belah secara politik. Selain itu, ‘Ali juga mereformasi santunan dana dari Baitul Mal dengan mengembalikannya seperti kebijakan Abu Bakar, yakni dalam menentukan besarannya tak mempertimbangkan siapa yang lebih dulu masuk Islam.

Yang menarik dicatat, meski tampak berusaha netral, di beberapa bagian kita dapat menemukan bagian yang tampak memperlihatkan keberpihakan penulis pada ‘Ali dengan memposisikan Muawiyah serta pada pendukung dan kerabatnya pada posisi yang terkesan kurang baik. Namun begitu, di beberapa bagian yang seperti itu, buku ini kemudian merujukkan sejumlah catatan kaki yang di antaranya mementahkan validitas dasar pandangan penulis—di antaranya banyak bersumber dari penilaian ahli hadits Al-Albani.

Terlepas dari sisi kontroversial tersebut, buku ini menarik untuk dibaca karena bagaimanapun sosok ‘Ali ibn Abi Thalib memiliki posisi yang penting dalam Islam karena kedekatannya dalam banyak hal dengan Nabi Muhammad saw. Hanya memang mungkin untuk hal-hal yang sifatnya kontroversial, pembaca perlu memperkaya dengan rujukan yang lain sebagai penyeimbang.


Tulisan ini dimuat di Harian Kabar Madura, 21 Mei 2015.

Read More..

Tuesday, 19 May 2015

Mutiara Pencerahan di Balik Kisah Jenaka

Judul buku: Tiada Sufi Tanpa Humor
Penulis: Imam Jamal Rahman
Penerbit: Serambi, Jakarta
Cetakan: Pertama, Maret 2015
Tebal: viii + 240 halaman


Masyarakat modern dengan kehidupan yang bernuansa materialistis sering digambarkan mengalami kehampaan makna hidup. Spiritualitas dalam diri mereka mati dan terabaikan. Tasawuf tampil sebagai jalan untuk menghidupkan unsur mendalam pada diri manusia.

Buku ini mengambil sudut pandang yang unik dalam mengajukan tasawuf sebagai langkah reflektif menuju penyucian diri. Buku ini mengemukakan humor sebagai hal yang merupakan dasar kesamaan di antara berbagai aliran sufi yang ada. Menurut penulis buku ini, secara umum kaum sufi sering tertawa. Pada saat yang sama, banyak hikmah-hikmah tasawuf dituturkan melalui tokoh Nasruddin Hoja atau Sang Mullah yang digambarkan sebagai orang bahlul (hlm. 3-5).

Imam Jamal Rahman, penulis buku ini, percaya bahwa campuran antara kejenakaan dan kebahlulan dapat menerbitkan kebijaksanaan. Untuk itu, penulis menghimpun kisah-kisah jenaka yang populer di dunia tasawuf dan kemudian disusun secara tematis dalam buku ini. Ada 48 bab singkat yang terangkum dalam 9 tema besar. Di antaranya tentang kondisi manusia yang fana, perubahan dalam kesadaran, latihan spiritual, dan aktif dalam dunia. Meski sebagian besar kisah-kisahnya fiktif, namun nilai inspiratifnya tak dapat disepelekan.

Saat mengangkat tema tentang cara mengubah diri dalam kerangka spiritualitas, penulis menekankan bahwa spiritualitas adalah pengalaman langsung. Penulis mengangkat kisah seorang anak dokter yang mendapat tugas untuk membersihkan jamban di pondokan sufinya. Karena tahu bahwa jamban penuh dengan penyakit, sang ayah mengirimkan 12 budak Ethiopia untuk menggantikan tugas anaknya. Pada titik ini sang guru sufi memberi pertanyaan retoris: “Jika anakmu terkena radang empedu, apa kau akan memberikan obatnya pada seorang budak Ethiopia?” (hlm. 38-40).

Kisah ini menyinggung orang yang ingin mengubah dirinya tapi hanya berhenti di tingkat pemahaman yang bersifat formal. Padahal, inti perubahan ada pada diri, tepatnya pada pengalaman diri terjun pada jalan perubahan tersebut.

Di tingkat pemahaman pun, bahkan ada orang yang enggan menerima informasi atau pengetahuan yang dirasa akan merugikan bagi dirinya, tapi di saat yang lain dia dengan senang hati akan menerima informasi serupa bila dirasa akan menguntungkan. Inilah yang disebut dengan kebenaran selektif.

Alkisah seorang tetangga Mullah ragu untuk meminjamkan pancinya pada Mullah. Namun setelah dipinjamkan dan kemudian dikembalikan, Mullah memberi dua panci. Mullah bilang, panci itu hamil dan melahirkan saat dipinjamnya. Beberapa bulan kemudian, saat kembali meminjam panci, ternyata Mullah tidak mengembalikan panci itu. Katanya, pancinya meninggal saat proses melahirkan. Si tetangga protes bahwa itu tidak mungkin. Tapi Mullah mempertanyakan mengapa dulu si tetangga percaya bahwa pancinya bisa hamil (hlm. 79).

Perubahan diri sering membutuhkan keteguhan dan kesungguhan. Saat seseorang mengalami perasaan negatif, ego yang terluka perlu berusaha keras untuk keluar dari situasinya. Tapi kadang orang enggan untuk bertahan dalam situasi yang tidak mengenakkan dalam proses perubahan diri. Ini tecermin dalam kisah yang diangkat oleh Rumi tentang seorang pria yang ingin punya tato singa di bahunya. Saat jarum ditusukkan, si pria melolong kesakitan dan bertanya bagian singa mana yang sedang dikerjakan. Saat dijawab bahwa itu adalah bagian ekor, si pria bilang bahwa singanya tak usah ekor saja. Demikian seterusnya hingga akhirnya tato gagal dibuat (hlm. 144-145).

Meski kisah-kisah jenaka dan reflektif dalam buku ini sumbernya beragam dan tidak faktual, di setiap bab penulis buku ini menyajikan kutipan hikmah dari al-Qur’an, hadis, atau aforisme tokoh-tokoh sufi terkemuka terkait tema yang sedang diangkat. Sumber hadisnya diambil dari kitab hadis yang otoritatif. Selain itu, penulis juga memberi panduan praktis bagaimana untuk melatih hal yang terkait tema yang diangkat.

Saat mengangkat tema syukur, misalnya, penulis di antaranya memandu dengan latihan agar kita secara rutin membuat ritual bersyukur sebelum tidur. Kita diajak menghitung kenikmatan apa saja yang sudah diterima dalam satu hari. Melakukan hal ini, menurut guru sufi, sama dengan menciptakan bulu dan sayap pada burung rohani kita untuk terbang menjumpai Tuhan (hlm. 123).

Jika berbicara tentang perubahan diri, pendidikan karakter, atau bahkan revolusi mental, buku ini sangat tepat untuk dinikmati dan dijadikan bahan pengaya dan penuntun menuju perubahan sejati yang nyata.


Versi yang lebih pendek dari tulisan ini dimuat di Koran Jakarta, 19 Mei 2015.

Read More..

Sunday, 26 April 2015

Chomsky Menelanjangi Amerika


Judul buku: How the World Works
Penulis: Noam Chomsky
Penerbit: Bentang Pustaka, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, Februari 2015
Tebal: xii + 444 halaman


Kalau ditanya tentang siapa sekarang penguasa dunia, orang akan mudah menjawab: Amerika. Supremasi Amerika atas negara-negara lain begitu mudah dibaca. Negara yang penduduknya hanya 5% dari total populasi dunia itu mengonsumsi 40% sumber daya bumi. Selain itu, saat ini Amerika punya 700 pangkalan militer di luar negeri.

Meski buku buah gagasan Noam Chomsky ini dari segi judulnya tampak bermaksud untuk membahas tatanan-kerja dunia saat ini, sesuatu yang mungkin terkesan bersifat umum, tak pelak Chomsky nyatanya sedang fokus menelanjangi Amerika. Profesor linguistik dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) ini menyatakan bahwa Amerika “muncul dari Perang Dunia II sebagai kekuasaan global pertama dalam sejarah.” Sejak itulah, Amerika merancang sejumlah kebijakan politik luar negeri pada khususnya yang dimaksudkan untuk mempertahankan supremasinya itu.

Chomsky mengungkap dokumen racikan George Kennan, kepala staf perencanaan Departemen Luar Negeri Amerika yang memegang kendali hingga tahun 1950. Di situ disebutkan dengan jelas bahwa Amerika menaruh perhatian yang besar untuk mempertahankan pola hubungan yang menguntungkan mereka, yakni disparitas yang membuat mereka menguasai sekitar separoh kekayaan dunia. Untuk tujuan itu, Amerika tak segan menyebut ide-ide tentang demokrasi dan hak asasi manusia sebagai penghambat.

Strategi dan contoh diungkap Chomsky dalam buku ini dengan terang benderang. Amerika, jelas Chomsky, telah menyiapkan desain setelah Perang Dunia II yang memetakan negara-negara di seluruh dunia untuk mendukung supremasinya. Jerman dan Jepang, misalnya, yang telah berperan penting dalam Perang Dunia II, akan bekerja di bawah pengawasan Amerika. Sementara itu, negara dunia ketiga akan menjadi sumber utama bahan mentah dan sekaligus pasar.

Ancaman utama tatanan dunia baru di bawah pimpinan Amerika adalah nasionalisme. Pemerintahan nasional bekerja untuk memenuhi dan meningkatkan mutu kehidupan warganya sehingga dapat bertentangan dengan kepentingan investasi Amerika. Di antara strategi dasar Amerika untuk mengatasi hal ini adalah aliansi dengan militer dalam negeri. Atau juga dengan jaringan mafia. Jika tidak berhasil, kekuatan militer Amerika tak segan untuk langsung masuk ke dalam.

Ini dapat kita saksikan pada kasus intervensi Amerika dalam Perang Vietnam. Dari kasus ini pula, kita bisa melihat bahwa dalam kerangka pandang Amerika, tak ada wilayah yang dapat disepelekan. Poin utamanya bukan seberapa besar kekuatan perlawanan itu, tapi jangan sampai penolakan terhadap fungsi penyuplai dan fungsi pasar ala Amerika dapat menginspirasi bangsa-bangsa lain untuk melakukan gerakan perlawanan serupa.

Salah satu perhatian utama Chomsky, yang juga menulis karya berjudul Manufacturing Consent (1988), atas tatanan dunia baru Amerika ini berkaitan dengan masalah propaganda. Istilah ini menggambarkan bagaimana kesadaran masyarakat dirancang, diarahkan, dan dikendalikan sedemikian rupa sehingga dapat tunduk dan takluk menurut kehendak si perancang.

Untuk kepentingan propaganda ini, dibuatlah pemaknaan-pemaknaan baru atas konsep-konsep kunci yang penting, seperti istilah globalisasi ekonomi, demokrasi, komunisme, terorisme, proses perdamaian, dan sebagainya. Globalisasi ekonomi misalnya adalah penghalusan istilah untuk menggambarkan ekspor pekerjaan ke wilayah-wilayah dengan tingkat penindasan tinggi dan sistem pengupahan yang rendah.

Istilah komunisme dan terorisme dirancang dan dilekatkan pada kelompok-kelompok yang mengganggu misi kapitalisme Amerika dan perusahaan-perusahaan transnasional. Gerakan berbasis rakyat akan digiring ke dalam stigma negatif komunisme. Lalu, ketika komunisme Soviet mulai melemah, istilah terorisme internasional mulai diperkenalkan. Melalui propaganda, istilah “terorisme” dirancang untuk merujuk pada aksi politik kaum oposisi/marginal di luar mainstream politik dunia yang menentang kebijakan dan kepentingan politik Amerika bersama korporasi yang berada di belakangnya.

Gagasan-gagasan Chomsky dalam buku ini yang sebagian besar tersaji dalam bentuk wawancara memang kebanyakan berasal dari dekade 1990-an. Namun, jika pembaca mencermati gagasan dan contoh yang dipaparkan dengan baik, kita akan menemukan bahwa analisis Chomsky masih sangat aktual. Analisisnya bahkan mungkin jauh lebih mendalam daripada ulasan pengamat politik saat ini.

Walhasil, uraian bernas Chomsky dalam buku ini membawa kabar buruk bagi kita bahwa tatanan dunia saat ini tidaklah setara dan jauh dari prinsip keadilan. Demokrasi dan nilai kemanusiaan lebih sering tampil sebagai retorika.

Tapi Chomsky tak berhenti di situ. Ia juga mengulas bagaimana perubahan dimungkinkan. Dalam hal ini, Chomsky mengritik kaum elite yang cenderung suka mencari jawaban ajaib atas krisis demokrasi yang dihadapi. Bagi Chomsky, tak ada jawaban ajaib yang bersifat instan. Jawabannya harus diperoleh secara spesifik di lapangan dengan landasan dedikasi yang penuh oleh mereka yang mau terlibat. Kecenderungan terkini, orang-orang dijauhkan dari keinginan untuk terlibat pada proses-proses perubahan yang memang menuntut militansi tinggi. Tambahan lagi, orang-orang dilupakan untuk merevitalisasi sumber daya kultural yang dimiliki.

Selain itu, Chomsky juga mengritik gerakan-gerakan perubahan yang sifatnya sporadis dan tak memiliki agenda jangka panjang yang jelas setelah reformasi terjadi. Bagian ini tampak sangat relevan dengan kondisi kekinian Indonesia. Tujuh belas tahun reformasi, masyarakat Indonesia tampak masih terombang-ambing dan tak menemukan arah.

Dalam arus perubahan politik di Indonesia yang kian intensif, buku ini penting dibaca karena sekaligus memberi kerangka pandang situasi global secara tajam (yakni supremasi Amerika dan hegemoni korporasi) dan juga dapat memberi inspirasi untuk hal-hal yang lebih spesifik dalam proses perubahan Indonesia menuju ke tatanan yang lebih baik.

Tulisan ini dimuat di Harian Jawa Pos, 26 April 2015.


Read More..

Thursday, 9 April 2015

Pesan Moral Nabi dalam Ilustrasi

Judul buku: 40 Sabda Nabi 40 Ilustrasi
Penulis: Hasan Aycin
Penerbit: Zaman, Jakarta
Cetakan: Pertama, 2015
Tebal: 86 halaman


Pikiran manusia bekerja secara visual. Menghadapi deretan abjad yang berbaris, pikiran akan mengubah huruf-huruf tersebut menjadi gambar. Karena itu, dalam ilmu pendidikan mutakhir, ilustrasi mendapatkan tempat yang istimewa untuk membantu anak-anak agar lebih mudah menyerap butir-butir pengetahuan. Ilustrasi tidak sekadar dilihat sebagai pelengkap teks yang menarasikan sesuatu. Ilustrasi diperlakukan sebagai salah satu kunci penting tertanamnya pemahaman pada diri seseorang.

Buku tipis ini memuat 40 hadis nabi terpilih yang masing-masing dilengkapi dengan ilustrasi. Di satu sisi, buku ini melanjutkan tradisi baik para ulama untuk menghimpun 40 hadis terpilih dalam satu buku. Dalam khazanah klasik, kita mengenal kitab al-‘Arba‘in al-Nawawiyyah karya Imam Nawawi (ulama abad ke-7 H) yang memuat 40 hadis pilihan yang hingga kini terus dibaca oleh umat Islam di berbagai penjuru dunia.

Dari segi tema, hadis-hadis yang terhimpun dalam buku ini mengangkat tema dorongan untuk meningkatkan kesalehan kepada Allah dan anjuran untuk meningkatkan hubungan baik dengan sesama makhluk. Dengan kata lain, bisa disebut buku ini memuat pesan-pesan moral dalam bergaul dengan Sang Khalik (hablunminallah) sekaligus juga dengan makhluk (hablunminannas).

Dua tema besar tersebut tentu saja merupakan tema abadi dalam narasi keagamaan maupun kemanusiaan sehingga tampak jelas nilai aktual dan relevansi pesan-pesan hadis yang termuat dalam buku ini. Hadis yang keenam belas dalam buku yang disusun oleh Hasan Aycin ini, misalnya, menuturkan pesan yang sangat tepat dalam konteks era informasi saat ini. Hadis tersebut dalam bahasa Indonesia diterjemahkan: “Cukuplah berdosa seseorang jika ia menceritakan apa saja yang didengarnya (kepada orang lain).”

Hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud ini mengingatkan kita untuk berhati-hati dalam menyebarkan informasi. Orang yang langsung meneruskan informasi yang dia terima bisa saja akan tercatat sebagai orang yang berbuat dosa. Hadis ini menegaskan pentingnya konfirmasi dan verifikasi informasi, baik dari segi isi maupun pembawa berita. Saat banjir informasi begitu mudah tersebar secara viral melalui media internet, seseorang kadang tak sadar bahwa membagi informasi yang belum diperiksa kebenarannya akan mengantarkannya pada status sebagai “penjaja dusta”.

Ilustrasi yang melengkapi hadis ini juga menarik. Tampak sosok orang setengah badan menghadap ke kiri, kepalanya terlihat plontos, bajunya cukup rapi. Lalu di telinganya ada puluhan panah kecil yang masuk yang kemudian diteruskan keluar ke mulutnya yang sedikit menganga.


Akhlak bergaul dengan orang lain juga menjadi tema yang ditampilkan dalam beberapa hadis pilihan di buku ini—selain dari hadis di atas. Ada hadis yang mengingatkan agar kita berhati-hati dengan prasangka. Ada pula hadis yang menegaskan bahwa seorang muslim wajib menjaga lisannya agar jangan sampai menyakiti orang lain. Demikian juga, ada hadis yang mengingatkan bahwa lebih baik diam jika apa yang terlontar dari mulut kita bukanlah kata-kata yang baik atau menebar kebaikan.

Dorongan untuk berperilaku sopan juga dituturkan dalam beberapa hadis dalam buku ini. Ada hadis yang menyatakan bahwa memperlihatkan wajah yang berseri di hadapan orang lain juga akan dihitung sebagai sedekah. Juga ada hadis yang mengingatkan kita untuk juga menghormati orang lain, bahkan kepada anak kecil.

Akhlak yang berkaitan dengan kehidupan sosial dan kemasyarakatan juga dapat kita temukan dalam buku ini. Ada hadis yang menyatakan bahwa seseorang yang baik adalah yang makan dari hasil kerja tangannya. Ilustrasi untuk hadis ini menggambarkan lukisan abstrak seperti pohon dengan akar dan ranting yang bentuk pokoknya seperti tangan dengan jari-jari yang mengembang. Dari tiap jemari itu muncul ranting-ranting kecil yang ditumbuhi daun. Ilustrasi ini seperti hendak menegaskan nilai keberkahan dari hasil jerih payah seseorang.


Dorongan untuk hidup mandiri secara ekonomi ini juga ada dalam hadis yang lain yang menegaskan bahwa “tangan di atas itu lebih baik daripada tangan di bawah.”

Sedangkan tentang peribadatan kepada Allah, buku ini menyebutkan hadis tentang keutamaan shalat yang tepat waktu yang disebutkan sebagai amal yang paling disukai Allah. Nabi juga menegaskan bahwa shalat adalah mikrajnya orang mukmin. Dalam shalat, seorang mukmin berjumpa dengan Tuhan. Di situlah keintiman spiritualitas seseorang dirajut.

Hadis-hadis yang pendek dan sederhana yang termuat dalam buku ini dipilih dari sumber-sumber terkemuka, seperti dari riwayat-riwayat Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, Imam Tirmidzi, Imam Nasai, dan sebagainya. Selain muatan pesan yang mudah ditangkap karena dukungan ilustrasi yang tak kalah menarik, tiap hadis dalam buku ini juga diterjemahkan dalam bahasa Inggris sehingga bisa menjadi bahan pembelajaran tersendiri bagi pelajar.

Melalui himpunan hadis-hadis dalam buku ini, pesan-pesan moral Nabi Muhammad saw yang agung terpancar kembali untuk para pembaca di abad yang semakin membutuhkan bimbingan spiritual-keagamaan ini.


Tulisan ini dimuat di Harian Kabar Madura, 9 April 2015.

Read More..

Tuesday, 27 January 2015

Pantulan Cahaya dari Pribadi Agung

Judul buku: 60 Orang Besar di Sekitar Rasulullah saw: Serial Kisah Rasul dan Para Sahabat
Penulis: Khalid Muhammad Khalid
Penerbit: Mizania, Bandung
Cetakan: Pertama, September 2014
Tebal: 778 halaman


Sosok Nabi Muhammad saw. merupakan pribadi yang sangat dikagumi oleh banyak pihak. Michael H. Hart, seorang ilmuwan Amerika, dalam bukunya yang legendaris berjudul The 100 menempatkan Nabi Muhammad di urutan pertama sebagai tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah. Menurut Hart, sebagai nabi pembawa agama Islam, Muhammad telah memberi warna yang sangat penting pada perkembangan sejarah dunia.

Di kalangan umat Islam, penghormatan terhadap Nabi Muhammad tentu saja lebih jelas terlihat. Kaum muslim meyakini bahwa beliau adalah teladan kebajikan (uswah hasanah) yang mencerminkan inti ajaran Islam. Karena itu, seruan untuk meneladani kepribadian dan perilaku Nabi Muhammad selalu muncul di komunitas muslim.

Dalam kerangka keteladanan pribadi agung Nabi Muhammad saw itulah buku ini menunjukkan nilai pentingnya. Buku ini sebenarnya memuat 60 kisah para sahabat Nabi. Tapi, dengan mempelajari kehidupan para sahabat Nabi tersebut, pembaca buku ini secara tidak langsung dapat memperoleh pantulan cahaya dari pribadi agung Nabi Muhammad.

Bagaimanapun, para sahabat Nabi itu—terlepas dari segala kekurangannya sebagai manusia biasa—memiliki akses pertama untuk mendapatkan bimbingan dari Nabi Muhammad sehingga kepribadian mereka lebih mudah untuk menghayati nilai-nilai Islam. Di sisi lain, para sahabat Nabi secara umum memiliki tingkat ketulusan yang mendalam dalam keputusannya memilih keyakinan Islam karena pilihan tersebut di awal perkembangan Islam secara umum bukanlah pilihan yang populer dan nyaman secara politis.

Enam puluh sosok sahabat Nabi yang dikisahkan dalam buku ini memiliki sisi menarik yang beragam, termasuk juga dalam statusnya sebagai pantulan cahaya pribadi agung Nabi. Di antara mereka, misalnya, ada Zaid ibn Haritsah, yang darinya kita bisa membayangkan keagungan pribadi Nabi Muhammad saw.

Zaid yang berasal dari Bani Ma‘n suatu ketika tertawan dalam serangan suku lain sehingga kemudian dijual sebagai budak di Mekah. Ia dibeli oleh keponakan Khadijah, istri Nabi, yang kemudian menghadiahkannya kepada bibinya. Khadijah lalu memberikan Zaid kepada suaminya. Muhammad, yang ketika itu masih belum menerima wahyu dari Allah swt., langsung memerdekakan Zaid.

Selang beberapa lama kemudian, orangtua Zaid berhasil mendapatkan informasi tentang keberadaan Zaid dan ia lalu mendatangi Nabi di Mekah. Orangtua Zaid bermaksud untuk menebus anaknya dari Nabi. Tapi Nabi justru menolak dan memberi tawaran lain. Nabi menawarkan agar Zaid diberi pilihan: apakah ia akan kembali ke kampungnya atau tetap bersama Nabi. Jika memang Zaid mau pulang bersama orangtuanya, Nabi tak perlu mendapatkan tebusan.

Ternyata Zaid memilih untuk tinggal bersama Nabi. Alasannya sederhana: Zaid merasa mendapatkan perlakuan dan perhatian yang luar biasa dari Nabi. Zaid merasakan secara langsung kelembutan dan keagungan pribadi Nabi.

Di antara teladan yang ditunjukkan Nabi adalah kemampuannya untuk tidak terikat pada pesona dunia dan tetap hidup sederhana. Dalam buku ini, banyak sekali sahabat Nabi yang digambarkan memiliki sifat zuhud dan wara’. Salman al-Farisi, misalnya, pada saat menjadi Gubernur Madain menunjukkan teladan kesederhanaan yang luar biasa. Meski ia di negeri asalnya, Persia, berasal dari keluarga terpandang dan berada, ia tak ragu untuk mendermakan gajinya sebagai pejabat kepada yang lebih membutuhkan dan memilih hidup seadanya.

Teladan serupa bernama ‘Abdurrahman ibn ‘Auf. Ia dikenal sebagai sahabat yang memiliki naluri bisnis yang hebat. Saat baru tiba di Madinah, ia hanya minta ditunjukkan pasar, lalu dari situ ia bisa sukses berniaga. Tapi ‘Abdurrahman ibn ‘Auf tidak menjadi budak dari hartanya. Ia dikenal sangat dermawan dan hidup zuhud, hingga konon orang akan kesulitan membedakan penampilannya saat ia sedang bersama pelayannya.

Sahabat Nabi lainnya yang cukup dikenal bernama Abu Dzar al-Ghifari. Ia berasal dari suku pembegal. Makanya Nabi heran saat ia mendatangi Nabi dan menyatakan hendak masuk Islam. Abu Dzar, yang tercatat memeluk Islam pada masa-masa awal, kemudian dikenal sebagai sahabat Nabi yang tegas dan tidak segan untuk menegur kaum muslim lainnya yang dianggap melenceng dari teladan Nabi. Dikisahkan, Abu Dzar pernah menegur Mu‘awiyah dan ‘Utsman ibn ‘Affan karena sebagai pejabat tampak mengabaikan nilai-nilai zuhud dan kesederhanaan.

Dibandingkan dengan buku-buku tentang sahabat Nabi yang lain, buku yang ditulis oleh cendekiawan-sosiolog Mesir ini memiliki kelebihan dari segi gaya tuturnya yang menyentuh. Buku yang berjudul asli Rijal Hawlarrasul ini seolah ingin menggugat emosi pembaca agar keagungan Nabi benar-benar terasa.

Di tengah krisis keteladanan yang mendera bangsa ini, kehadiran buku ini patut disambut dengan baik. Dengan menyelami kisah para sahabat Nabi dalam buku ini, diharapkan nilai-nilai kenabian dapat lebih mudah dipahami, dipraktikkan, dan disebarkan dalam kehidupan sehari-hari.

Tulisan ini dimuat di Harian Kabar Madura, 27 Januari 2015.

Read More..