Thursday, 3 September 2015

Pembangunan


Melalui proses yang mungkin jarang diperhatikan, sebuah kata terkadang menjadi mantra. Maknanya dipahami begitu saja sebagaimana biasa dan apa yang tersimpul di balik makna kata itu dalam kehidupan yang nyata dipandang benar dan wajar adanya.

Sesekali, mari kita cubit nalar kita sedikit agar ia tidak lelap di antara sihir kerutinan hidup yang terus menguasai kita.

Misalnya tentang kata “pembangunan.” Secara kebahasaan, kata “pembangunan” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti “proses, cara, perbuatan membangun.” Ia dipandang menggambarkan sesuatu yang baik—bahkan kadang harus dilakukan. Tapi apa jadinya jika kata “pembangunan” telah menjadi mantra?

Tadi siang, saat melintas di jalan menuju rumah saya di Desa Taro’an, Tlanakan, Pamekasan, saya melewati jalan yang sedang diperbaiki. Beberapa bulan lalu, jalan beraspal selepas kota Pamekasan menuju rumah saya ini penuh lubang. Persisnya, kerusakan parah ada di titik 3 kilometer menjelang rumah. Tapi sejak beberapa hari yang lalu jalan ini mulai diperbaiki. Ada beberapa kendaraan berat yang bekerja sepanjang hari. Truk-truk besar lalu-lalang mengangkut kerikil dan seperti pasir kasar yang digunakan untuk mempertinggi jalan.

Lebih dari itu, jalan yang sejak pertama kali saya lewati di akhir 2013 tak pernah diperbaiki itu tampaknya juga akan diperlebar, termasuk juga di sebelum jalan yang aspalnya rusak berat. Tanda-tanda pelebaran itu tampak dari pohon-pohon yang ditebang di kanan kiri jalan. Batang-batang pohon rebah di atas tanah.

Inilah poin yang ingin saya bicarakan. Pengaspalan jalan, termasuk pelebaran jalan, tentu saja adalah contoh dari apa yang disebut “pembangunan.” Orang-orang, termasuk saya tentunya, akan menikmati jalan yang nantinya akan nyaman dan lebar ini. Namun demikian, jika pembangunan harus meminta tumbal berupa ditebangnya pepohonan yang di antaranya sudah cukup rindang itu maka ini sudah dianggap biasa dan wajar.

Memang betul, segala sesuatu bisa memuat risiko. Ini adalah risiko pembangunan, tepatnya pelebaran jalan. Pohon-pohon yang tumbang itu adalah harga yang harus dibayar untuk jalan yang nyaman dan lebar.

Namun jika “pembangunan” tidak kita inginkan sebagai serupa mantra, maka kita harus berpikir tentang risiko atau tumbal yang diakibatkannya. Artinya, pohon-pohon itu mestinya benar-benar kita pertimbangkan.

Sayang pepohonan itu tak bisa berbicara atau menggugat atas posisinya sebagai risiko pelebaran jalan. Jika pepohonan itu menjadi seperti Ent di trilogi The Lord of the Rings, mereka mungkin akan menunjukkan bahwa makna “pembangunan” bisa memberi sesuatu yang mungkin akan merugikan.


Read More..

Friday, 28 August 2015

Kosmopolitanisme Islam ala Gus Nadir

Judul Buku: Dari Hukum Makanan Tanpa Label Halal hingga Memilih Mazhab yang Cocok
Penulis: Prof. H. Nadirsyah Hosen, Ph.D.
Penerbit: Mizania, Jakarta
Cetakan: Pertama, Juni 2015
Tebal: xliv + 228 halaman


Ada anggapan bahwa hukum Islam itu kaku dan cukup sulit beradaptasi dengan perkembangan dunia. Melalui buku ini, Gus Nadir, panggilan akrab Prof. H. Nadirsyah Hosen, Ph.D., membuktikan bahwa anggapan itu keliru.

Buku ini sebagian besar berisi tanya-jawab tentang hukum Islam dengan mengambil latar situasi masa kini dan dunia global. Bertolak dari pengalaman tinggal di Australia selama 18 tahun, Gus Nadir mengangkat masalah-masalah sederhana di bidang hukum Islam yang biasa dialami sehari-hari di kehidupan modern, terutama di luar negeri.

Misalnya tentang hukum makanan tanpa label halal. Umat Islam yang pernah tinggal di luar negeri pasti akan merasakan masalah mencari makanan halal. Di Eropa, umat Islam biasanya akan berbelanja di toko-toko muslim Maroko atau Turki. Memang ada juga daging yang diberi label halal. Tapi bagaimana hukum daging tanpa label halal?

Dalam buku ini, Gus Nadir mengangkat kegelisahan seorang muslim Indonesia yang belajar di Australia tentang daging yang dibelinya di supermarket biasa dan tanpa label halal. Sebagian rekannya yang juga muslim jadi ragu untuk menikmati hidangan yang dibuatnya.

Atas situasi ini, Gus Nadir, yang memiliki 6 gelar akademik di bidang hukum dan hukum Islam, menjelaskan dengan cukup teperinci, termasuk dari sudut pandang beberapa mazhab hukum Islam. Misalnya, ada yang mewajibkan secara mutlak agar sembelihan itu dilakukan dengan menyebut nama Allah (basmalah). Namun begitu, Imam Syafi’ie memberi hukum sunnah. Yang dilarang adalah menyembelih dengan menyebut selain nama Allah karena itu seolah-olah berarti mempersembahkan sembelihan kepada selain Allah.

Ada lagi kisah yang agak lucu tapi bagi mereka yang pernah hidup di luar negeri pasti sudah terbiasa mengalaminya. Di luar negeri, selain di masjid, cukup sulit menemukan tempat berwudu seperti di Indonesia karena toilet yang ada berjenis toilet kering. Jadinya, jika berwujud di wastafel, seorang muslim harus mengangkat kakinya saat membasuh kaki. Selain terlihat geli, ini juga membuat lantai menjadi basah atau becek.

Gus Nadir menjelaskan bahwa dalam menerapkan syariat, Islam berprinsip untuk memudahkan pelaksanaan ajaran tertentu dalam situasi khusus seperti dalam kasus di atas. Untuk masalah ini, Gus Nadir merujukkannya pada contoh yang diberikan Rasulullah yang memperbolehkan mengusap khuff (sesuatu yang menutupi kaki sampai mata kaki baik berupa sepatu atau kaos kaki) saat berwudu. Nabi melakukan ini baik dalam status bermukin maupun saat di perjalanan. Tentu saja ada syarat dan ketentuan tertentu dan hal lain mengatur hal ini yang diuraikan dengan baik oleh Gus Nadir.

Selain masalah yang spesifik berkaitan dengan hukum Islam, Gus Nadir juga memaparkan tentang masalah keislaman secara umum, seperti ucapan selamat natal, mencari fatwa keagamaan (termasuk bertanya via Google), penghinaan terhadap Nabi Muhammad, dan sebagainya.

Gus Nadir juga mengangkat masalah Islam di Australia. Sebagaimana di masyarakat Barat Kristen pada umumnya, Islam kadang memang disalahpahami di Australia. Misalnya, pada tahun 2005, Menteri Pendidikan Australia, Brendan Nelson, menyarankan agar sekolah Islam di Australia mengadopsi Simpson values atau jika tidak they should “clear off”. Simpson values ini adalah nilai-nilai kepahlawanan yang merujuk pada legenda John Simpson Kirkpatrick (w. 1915).

Gus Nadir, yang kini mengajar di Fakultas Hukum Monash University, Australia, menyesalkan kecurigaan dan miskomunikasi Barat yang bahkan terjadi di kalangan pejabat teras ini. Nelson, tulis Gus Nadir, rupanya tidak tahu tentang kisah kepahlawanan tokoh muslim seperti Shalahuddin al-Ayyubi yang legendaris yang mencerminkan nilai-nilai Islam yang tak jauh berbeda dengan Simpson values yang dimaksud. Yang terjadi, lanjut Gus Nadir, bukanlah the clash of civilization, tapi the clash of ignorance.

Dari kasus-kasus hukum Islam sehari-hari dan politik di Australia pada khususnya, Gus Nadir dengan penguasaannya yang mendalam atas khazanah Islam klasik dalam buku ini berhasil menunjukkan wajah kosmopolitanisme Islam: bahwa dalam hal hukum, syariat Islam itu tidaklah kaku dan dapat hidup dengan selaras di era modern. Selain itu, Islam juga membawa nilai-nilai agung yang sangat relevan dan kontekstual hingga kini.

Penyampaiannya yang bersifat populer, yakni bermodel naratif dan penuh dengan dialog, membuat buku yang ditulis oleh lulusan Pesantren Buntet Cirebon putra almarhum Prof. K.H. Ibrahim Hosen ini renyah dicerna. Meski demikian, dengan referensi yang kaya dan otoritatif, jelaslah bahwa buku ini bukan karya sembarangan dan tak boleh disepelekan.


Tulisan ini dimuat di Koran Madura, 28 Agustus 2015.

Read More..

Thursday, 27 August 2015

Senjata Orang-Orang Mukmin

Judul buku: Kitab Doa Tertua: Al-Ma’tsurat
Penulis: Abu Bakr al-Thurthusyi al-Andalusi
Penerbit: Zaman, Jakarta
Cetakan: Pertama, 2015
Tebal: 478 halaman


Bagi seorang yang beriman, doa menjadi kunci penting dalam mengarungi tantangan hidup. Doa tidak saja memberi jawaban atas masalah keduniawian tapi juga atas masalah keakhiratan.

Buku ini adalah kitab klasik karya seorang ulama terkemuka dari Andalusia (Spanyol), yakni Abu Bakr al-Thurthusyi al-Andalusi (w. 520 H.). Buku memberi uraian yang sangat lengkap tentang doa, meliputi pengertian, manfaat, tata cara atau panduan, dan contoh-contoh doa Nabi yang semuanya bersumber dari rujukan otoritatif.

Doa pada dasarnya menjadi bagian pokok dari agama sehingga bernilai sangat penting bagi pemeluknya. Seorang mukmin adalah hamba Allah yang membaktikan seluruh hidupnya sebagai ibadah atau penghambaan kepada Allah. Erat dengan status seorang mukmin sebagai hamba, doa menurut Abu Bakr bisa bermakna penyembahan atau juga penghambaan (‘ibadah). Selain itu, doa juga bisa bermakna permintaan tolong (isti‘anah), memohon dan meminta, atau juga berarti panggilan.

Doa menjadi penanda penghayatan seorang mukmin. Dalam surah al-A‘raf ayat 55, setelah memberi perintah untuk berdoa, di akhir ayat Allah menyebutkan bahwa Dia tidak menyukai orang yang melampaui batas. Al-Qurthubi kemudian menafsirkan bahwa yang dimaksud orang yang melampaui batas adalah orang yang enggan berdoa. Keengganan untuk berdoa dipandang identik dengan kesombongan atau bahkan sikap menentang.

Dalam pengertian memohon atau meminta, doa adalah sebentuk komunikasi manusia dengan Tuhan. Karena itu, agar lebih sempurna, ada tata cara tertentu yang mesti diperhatikan. Ada yang berkaitan dengan sikap batin. Misalnya, sebelum berdoa, seseorang harus merendahkan dan memasrahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Demikian pula, harus ada kebulatan tekad dan optimisme selain rasa khusyuk. Bahkan, teladan dari para nabi, rasul, wali, dan orang saleh mengajarkan bahwa sebelum berdoa, kita memulai dengan bertobat atas maksiat dan pelanggaran yang telah diperbuat.

Tata cara berdoa yang bersifat lahiriah misalnya sebaiknya kita berdoa dengan suara lirih atau pelan. Ini seperti yang dikisahkan al-Qur’an saat Nabi Zakariya berdoa agar mendapatkan keturunan. Selain itu, berdasarkan hadis, berdoa dilakukan sambil menengadahkan tangan.

Dalam melafalkan doa, telah lazim diketahui bahwa sebaiknya dimulai dengan memuji dan mengagungkan Tuhan, kemudian dilanjutkan dengan mengucapkan shalawat atas nabi-Nya. Sementara itu, terkait redaksi doa, dikatakan bahwa memohon dengan cara halus lebih baik daripada terang-terangan sebagaimana telah banyak dicontohkan oleh para nabi, seperti Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, dan yang lainnya.

Sebagian ulama berpendapat bahwa memuji kepada Tuhan itu lebih utama daripada sekadar berdoa. Ini yang misalnya dapat kita temukan dalam kisah Nabi Yunus yang ditelan ikan besar. Al-Qur’an surah al-Anbiya’ ayat 87 merekam apa yang dibaca Nabi Yunus. Dari bacaan itu, kita melihat bahwa yang dilakukan Nabi Yunus bukan memohon, tapi mengesakan dan menyucikan Tuhan serta mengakui kesalahannya.

Abu Bakr menulis bahwa Allah telah memuliakan umat Nabi Muhammad saw dengan diturunkannya surah al-Fatihah yang sangat istimewa. Surah ini menjadi contoh yang sangat baik tentang doa karena paruh awalnya memuat pujian dan pengagungan, dan separuh sisanya memuat doa.

Abu Bakr juga menguraikan tentang waktu-waktu yang mustajab untuk berdoa. Berdasarkan keterangan beberapa hadis, disebutkan bahwa di antara waktu yang mustajab adalah tengah malam, hari jum’at, antara azan dan iqamat, setelah shalat fardu, malam lailatul qadar, dan hari ‘Arafah.

Lebih dari separuh buku yang aslinya berjudul al-Du‘a’ al-Ma’tsur wa Adabuhu wa Ma Yajibu ‘ala al-Da‘i Ittiba‘uhu wa Ijtinabuhu ini memuat doa-doa yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw. Ada banyak contoh doa, mulai dari yang sifatnya umum seperti tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir, atau juga doa yang sifatnya spesifik atau terkait dengan hal tertentu. Ada doa ketika mendengar azan, masuk rumah, mendengar kokok ayam, ditimpa kesusahan, digigit binatang beracun, naik kendaraan, ketika terkejut, dan sebagainya.

Melimpah dan beranekanya contoh doa Nabi ini di satu sisi menegaskan makna spiritual doa bagi seorang mukmin. Ini memberi gambaran ideal bahwa kehidupan seorang mukmin harus selalu diliputi oleh kepasrahan dan kebergantungan pada Zat Yang Mahakuasa yang kemudian terekspresikan melalui doa.

Keunggulan buku ini tidak saja terletak pada sumber rujukannya yang otoritatif, tapi juga pada kelengkapan uraiannya tentang berbagai segi doa. Selain itu, dalam menguraikan doa-doa Nabi, juga dijelaskan latar peristiwa yang ada di balik doa-doa tersebut.


Tulisan ini dimuat di Kabar Madura, 27 Agustus 2015.

Read More..

Monday, 27 July 2015

Harga Gila


Dalam situasi apa Anda merasa tertipu saat berbelanja? Saya punya pengalaman buruk berbelanja yang baru terasa setelah saya tiba di rumah. Saat memeriksa struk belanja di rumah karena akan saya salin ke dalam catatan pengeluaran yang biasa saya tulis di komputer, saya tersadar bahwa ternyata harga yang saya bayarkan untuk barang tertentu ternyata sungguh gila!

Kok bisa ada harga gila? Harga gila yang saya maksud adalah harga yang tidak wajar, yakni jauh melebihi harga biasanya di tempat belanja yang berbeda. Kebetulan, barang yang saya beli tadi juga saya beli 10 hari sebelumnya di tempat yang berbeda. Saya sangat jengkel karena harganya jauh berbeda.

Bayangkan! Di toko tempat tadi pagi saya berbelanja, harga satuan barang A tercatat Rp 7.300,-. Padahal, di toko yang lain, 10 hari yang lalu saya membelinya dengan harga satuan Rp 5.000,-! Sementara itu, untuk barang B, tadi pagi saya membeli dengan harga satuan Rp 6.300,- sedangkan untuk barang yang sama 10 hari lalu saya membelinya dengan harga Rp 4.200,-!

Para pembaca yang budiman. Anda mungkin pernah mengalami hal serupa dan mungkin juga mengetahui bahwa ada toko tertentu yang memang menjual beberapa barang dengan harga yang lebih mahal. Tapi perbandingan beda harga yang saya temukan ini sungguh terlalu jauh: dua barang itu lebih mahal 46% dan 50%! Gambarannya, untuk barang B, di toko tempat tadi pagi saya berbelanja Anda akan mendapatkan 2 barang, sedangkan di tempat lain Anda bisa mendapatkan 3 barang!

Memangnya di mana tadi pagi saya berbelanja, dan di mana tempat belanja saya 10 hari sebelumnya? Tadi pagi saya berbelanja di toko ritel swalayan modern (waralaba nasional) dan 10 hari lalu saya berbelanja di toko swalayan lokal. Keduanya sama-sama berada di kota Pamekasan.

Saat tadi pagi masih gemas dengan fakta yang saya temukan, saya jadi teringat beberapa bulan lalu saat secara tak sengaja melihat label harga sebuah makanan ringan di ritel swalayan modern serupa yang harganya juga sungguh gila. Saya lihat harga satuannya Rp 2.400,- padahal di swalayan lainnya saya tahu bahwa harganya Rp 1.500,-! Lebih mahal 60%!



Saya pikir pembaca yang budiman juga punya pengalaman yang sama atau mirip di toko eceran yang saya maksud, yakni bahwa ada beberapa barang yang harganya sungguh gila!

Memang, yang namanya swalayan mengasumsikan bahwa pembeli sudah sadar dengan harga barang yang akan dia beli. Tapi, saat sedang terburu, pembeli mungkin tidak sempat memperhatikan label harga yang tercantum.

Secara pribadi, sebenarnya saya memang berusaha agar sebisa mungkin tidak berbelanja di toko eceran seperti tempat tadi pagi itu. Alasan utamanya mungkin bisa dibilang cukup ideologis: masuknya toko eceran swalayan modern ke pelosok beberapa tahun terakhir ini dinilai oleh banyak pihak sebagai serangan bagi pengusaha kecil di tingkat lokal. Ritel-ritel itu pelan-pelan dapat membunuh pengusaha lokal dan pasar tradisional. Padahal, pasar tradisional merupakan ruang publik yang bernilai penting secara sosial dan budaya—selain ekonomi.

Beberapa pihak memprotes kebijakan pemerintah lokal yang terkesan cukup longgar dalam memberi izin. Namun, bukankah keputusan berbelanja di mana dan apa itu pada akhirnya berada pada tingkat individu?

Demikianlah, pembaca yang budiman. Pengalaman tadi pagi tampaknya harus menjadi pengingat yang tegas buat saya atas niatan saya untuk sedapat mungkin tidak berbelanja di ritel modern (waralaba nasional) itu.

Itu yang sifatnya personal. Lalu bagaimana melihat pengalaman tadi dari sudut pandang sosial? Ada beberapa pertanyaan yang kemudian muncul. Misalnya, apakah tidak ada regulasi yang mengatur harga jual barang jika ternyata harga jualnya sungguh tidak wajar? Atau, jika mau mengeluh, kepada siapa masyarakat menyampaikannya?

Sekali lagi, pengalaman berbelanja tadi pagi ini mengajak saya untuk kembali merenung dan mengingat bahwa ada banyak aspek terkait dengan kegiatan konsumsi kita sehari-hari. Itu bisa sesuatu yang terkait dengan problem etis (seperti terkait isu keadilan lingkungan) atau bahkan mungkin juga ideologis dan politis. Pada akhirnya, pada tingkat individu, ini menegaskan pentingnya menjadi konsumen yang kritis dan bertanggung jawab.

Read More..

Sunday, 19 July 2015

Meneropong Realitas yang Timpang


Judul buku: Gelandangan di Kampung Sendiri: Pengaduan Orang-Orang Pinggiran
Penulis: Emha Ainun Nadjib
Penerbit: Bentang Pustaka, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, Maret 2015
Tebal: viii + 288 halaman
ISBN: 978-602-291-078-7


Kenyataan hidup sehari-hari sering tampil sebagai sesuatu yang biasa. Akibatnya, sering kali kepekaan kita tumpul dan tak bisa menangkap pesan hidup di balik sebuah peristiwa. Akhirnya hidup ini menjadi jalinan arus yang hambar sehingga dalam bahasa Sokrates menjadi hidup yang tak layak dijalani karena tanpa refleksi.

Esai-esai budayawan kondang Emha Ainun Nadjib yang terkumpul dalam buku ini mengajak pembaca untuk merefleksikan kenyataan hidup sehari-hari. Yang menarik, refleksi Emha terfokus pada kisah-kisah hidup orang-orang pinggiran. Di halaman persembahan buku ini, secara eksplisit Emha menyebut “orang-orang yang dianiaya,” “orang-orang yang ditindas,” “orang-orang yang dirampas kemerdekaannya,” dan “orang-orang yang dimiskinkan”.

Penyebutan Emha ini jelas merupakan sebentuk keberpihakan yang sifatnya cukup ideologis. Artinya, dalam meneropong kenyataan hidup yang timpang, Emha berada di pihak mereka yang terpinggirkan itu. Pihak yang terpinggirkan kerap tak memiliki saluran untuk menyatakan diri di ruang publik sehingga Emha kemudian seperti menjadi juru bicara untuk mereka.

Contohnya seperti kisah para pedagang di pasar yang diancam secara samar oleh seorang pejabat lantaran proses pembongkaran dan renovasi pasar. Emha menampilkan dialog orang-orang kecil yang resah dan merasa tak dihargai itu. Di sebuah bagian, Emha menulis bahwa mereka bukannya tidak setuju, tapi hanya ingin diajak berunding, diakui dan dihargai bahwa mereka juga adalah subjek utama pembangunan.

Esai-esai dalam buku ini memang ditulis pada paruh pertama dekade 1990-an, saat pemerintah Orde Baru nyaris sepenuhnya tak memberi ruang kritis dan ruang partisipasi masyarakat dalam proses politik dan pembangunan. Kisah pedagang pasar di atas cukup sering terjadi tapi tak ada media yang siap mengangkat isu ini secara terang-terangan.

Lebih dari sekadar menyajikan ironi pembangunan, Emha memberikan refleksi sederhana yang cukup tajam dan mendasar. Misalnya terkait kasus pembangunan Kedung Ombo, Jawa Tengah, yang mendapat penolakan dari warga namun akhirnya diresmikan pada tahun 1991. Seperti pedagang pasar, warga sebenarnya bukan hendak membangkang dan melawan program pembangunan yang dicanangkan pemerintah. Mereka hanya menuntut keadilan. Tapi, tulis Emha, apakah untuk menuntut keadilan warga akhirnya harus mendapat cap sebagai “melawan konstitusi”?

Perlawanan memang identik dengan orang-orang pinggiran, termasuk di antaranya kaum buruh. Masalahnya, pemerintah Orde Baru ketika itu kemudian terbiasa memberi stigma negatif kepada para buruh yang sering memprotes ketidakadilan yang dialaminya dengan menyebut mereka sebagai “komunis”. Padahal, tulis Emha, tak harus menjadi komunis untuk memprotes ketidakadilan.

Namun Emha tak hanya berhenti di sini. Emha mengajak pembaca untuk menelaah lebih mendalam. Jika isu buruh dalam konteks internasional memang cukup identik dengan komunis, Emha mengusik kita untuk melihat kenyatan kaum buruh di negara-negara komunis yang ketika itu justru ditindas penguasa. Malah kaum buruh di negara kapitalis cenderung berjaya.

Selain berangkat dari hasil pengamatan, Emha juga menulis esai-esainya berdasarkan pengaduan baik secara langsung maupun melalui surat. Pada tahun 1992 Emha misalnya pernah menerima surat dari seorang pendeta di Nusa Tenggara Timur yang menyampaikan keresahannya akibat proyek hutan tanaman industri yang menggusur hutan adat dan padang ternak warga dan jemaatnya. Mereka sudah mengadu kepada aparat, tapi hasilnya nihil dan tak memuaskan.

Emha juga menulis beberapa esai tentang kasus mutilasi di Probolinggo tahun 1992 yang membuat geger. Mbah Jiwo, seorang nenek, memutilasi cucunya sendiri. Badan cucunya itu diiris-iris menjadi 79 bagian. Sebagian kabarnya dijadikan bahan membuat rawon. Orang-orang terkejut, juga mengecam. Atas peristiwa ini, Emha mengemukakan refleksi menarik. Kalau orang-orang terkejut dengan sadisme Mbah Jiwo dan menganggap Mbah Jiwo sebagai orang yang tak normal, mengapa banyak masyarakat memandang biasa realitas yang sebenarnya juga tak biasa dan bahkan mungkin juga termasuk sadis?

Emha menyebut seorang ibu di pasar yang bekerja mulai tengah malam hingga esok sorenya hanya untuk seribu-dua ribu rupiah, sementara di sebuah kantor ada orang yang hanya duduk-duduk digaji ratusan juta rupiah. Apakah ini bukan sadisme dalam mekanisme perekonomian kita?

Di tengah berbagai fenomena ketimpangan sosial dan ketidakadilan itu, memang ada para pemuda yang tampak peduli misalnya dengan menggelar demonstrasi. Namun, atas fenomena seperti ini, Emha memberi catatan kritis. Emha khawatir mereka yang “hobi” demonstrasi itu “lebih berorientasi kepada keasyikan memprotes daripada pencarian jalan keluar”.

Meskipun esai-esai dalam buku ini ditulis lebih 20 tahun lalu tapi kekuatan refleksi dan relevansinya tetap cukup kuat. Esai-esai dalam buku ini tidak saja menghadirkan suara orang yang terpinggirkan, tapi juga memuat refleksi kritis terkait isu pembangunan dan kehidupan sosial pada umumnya.

Bukankah ketimpangan sosial yang menuntut perhatian pemerintah dan semua unsur masyarakat hingga ini masih menjadi masalah serius bagi bangsa ini? Bukankah masih banyak masyarakat kita yang menjadi gelandangan di kampung sendiri? Demikian juga masalah pembangunan kadang juga masih berbenturan dengan aspirasi masyarakat, seperti dalam kasus pembangunan semen di Rembang, Jawa Tengah.

Kekuatan esai-esai Emha ada pada sudut pandangnya yang kritis, reflektif, dan tak biasa sehingga dapat menghadirkan kenyataan hidup yang timpang dengan lebih menggugah. Perspektif Emha dalam esai-esainya menghidupkan kepekaan kemanusiaan kita yang mendasar sehingga juga menggiring kita untuk berbuat sesuatu demi mengatasi berbagai realitas timpang itu meski dengan cara yang sederhana.


Tulisan ini dimuat di Harian Jawa Pos, 19 Juli 2015.


Read More..

Wednesday, 8 July 2015

Menyoal Batas Barat dan Timur

Judul Buku: Antara Barat dan Timur: Batasan, Dominasi, Relasi, dan Globalisasi
Penulis: Al Makin, Ph.D.
Penerbit: Serambi, Jakarta
Cetakan: Pertama, Maret 2015
Tebal: xii + 258 halaman


Dalam konstelasi politik dunia, Barat dan Timur sering berhadapan dalam situasi yang cukup bersitegang atau bahkan berkonflik. Dalam dunia keilmuan, kita juga mengenal orientalisme, yakni bagaimana Barat menulis tentang Timur. Belakangan, muncul juga yang disebut oksidentalisme, yakni Timur menulis tentang Barat. Kedua bidang kajian ini sampai sekarang terus menjadi wilayah akademik yang berkembang di dunia intelektual.

Problem Barat dan Timur dalam kerangka ilmu orientalisme dan oksidentalisme inilah yang dikupas oleh buku ini. Buku yang tampaknya dirancang sebagai buku teks kuliah ini memberikan pemaparan relasi Barat dan Timur sejak era penjajahan hingga era globalisasi. Penulis buku ini, Al Makin, mengampu matakuliah orientalisme dan oksidentalisme di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sejak tahun 2000 (hlm. 3).

Al Makin memulai uraiannya dengan melacak awal mula ketertarikan Barat dalam mengkaji Timur yang dimulai pada era penjajahan. Dengan mengambil fokus pada pengalaman Indonesia, Al Makin memberikan kerangka uraiannya dengan sudut pandang yang khas Michel Foucault yang menempatkan pengetahuan dalam relasi kuasa. Menurut Al Makin, kekuasaan Belanda didukung oleh pengetahuan tentang masyarakat pribumi. Al Makin memberi contoh bagaimana pemahaman mendalam Snouck Hurgronje tentang Aceh dan juga pengetahuan Stamford Raffles tentang masyarakat Jawa dapat dimanfaatkan Belanda untuk kepentingan kekuasaan mereka (hlm. 20, 25).

Orientalisme mulai muncul setelah Barat bertemu Timur melalui penjajahan. Terlepas dari kepentingan kekuasaan, dalam mengkaji Timur para ilmuwan Barat memperlihatkan semangat dan dedikasi yang luar biasa. Kesungguhan ini tidak hanya tampak dalam keseriusan mereka mempelajari teks tapi juga dalam terjun ke lapangan dan meneliti kehidupan masyarakat Indonesia sehingga menghasilkan karya yang sering dikutip. Beberapa ilmuwan Barat yang bisa disebut antara lain Richard Bell, Clifford Geertz, dan William Liddle (hlm. 28-30).

Menyikapi berbagai hasil kajian ilmuwan Barat yang berada dalam lingkup orientalisme ini, masyarakat Timur menurut Al Makin banyak yang salah kaprah. Barat dipandang seolah berniat jahat dan mempelajari Islam untuk kepentingan menghancurkannya. Menurut Al Makin, persepsi semacam ini tidak terbukti secara ilmiah dan cenderung bersifat ideologis dan dibungkus dengan teori konspirasi (hlm. 61, 189).

Pada bagian berikutnya, Al Makin memaparkan pemikiran kaum orientalis mulai dari Ignaz Goldziher, Joseph Schacht, Montgomery Watt, hingga Benedict Anderson. Pada bagian ini Al Makin juga menggarisbawahi bahwa bagaimanapun kajian orientalisme ini telah berkontribusi bagi kajian keislaman (hlm. 131). Demikian juga, kajian kaum orientalis ini cukup beragam. Misalnya, buku Patricia Crone dan Michael Crook, Hagarism (1977), yang menguraikan sejarah Islam memperlihatkan sudut pandang Yahudi, Kristen, Yunani, dan Mesir, sehingga menyulut pro dan kontra. Atas karya ini, sejumlah intelektual Barat sendiri juga menilainya sebagai karya yang tidak cukup kuat argumennya (hlm. 138-144).

Setelah mengulas orientalisme, pemikiran Timur tentang Barat (oksidentalisme) kemudian dipaparkan melalui sudut pandang beberapa tokoh, seperti Hassan Hanafi, Mukti Ali, dan Burhanuddin Daya. Hassan Hanafi merintis sudut pandang dekonstruktif atas mitos Barat yang dipandang merepresentasikan seluruh umat manusia (hlm. 195).

Pada bagian akhir, buku ini mencoba merefleksikan situasi terkini saat batas-batas Barat dan Timur lebur akibat menguatnya globalisasi. Al Makin menyebut hadirnya teknologi internet sebagai faktor yang meleburkan batas-batas Barat dan Timur ini (hlm. 216-218).

Selain sebagai buku teks kuliah, buku ini dapat menjadi bahan refleksi kita bersama dalam melihat identitas ketimuran (dan keislaman) kita. Buku ini mengantarkan kita pada wawasan bahwa saat ini Barat memang dominan, sebagaimana halnya Timur pada masa keemasan Islam pernah juga berjaya di bidang sains. Dengan proses globalisasi, yang lebih penting saat ini adalah proses untuk saling membuka diri, saling belajar, dan saling berkontribusi bagi kemajuan peradaban dunia (global).

Selain kelemahan teknis seperti kalimat-kalimat yang tersusun kurang lengkap dan kadang agak rumit, buku ini memang sedikit terkesan mengagung-agungkan Barat dan relatif kurang memberi kritik tajam terhadap Barat, khususnya tentang eurosentrisme yang masih tampak kental dalam penulisan sejarah seperti yang ditunjukkan oleh Tamim Ansary dalam buku Destiny Disrupted: A History of the World through Islamic Eyes (2009).

Di sisi lain, saat mengulas leburnya batas Barat dan Timur, Al Makin masih lebih banyak mengulas fakta-fakta yang mungkin terkesan dangkal tentang hal ini dan tidak masuk ke soal tatanan sosial, politik, dan budaya global yang juga memperlihatkan dominasi Barat yang masih cukup kuat. Akibat globalisasi, batas Barat dan Timur mungkin memang lebur. Tapi tatanan politik global saat ini masih dalam dominasi Barat.

Al Makin kadang juga kurang cermat mengemukakan argumennya, seperti saat menilai Hassan Hanafi terlalu ambisius dalam melihat Eropa dengan mengemukakan argumen bahwa banyak ilmuwan Barat yang mencoba melihat Barat dari kacamata Timur. Contohnya, kata Al Makin, Carole Hillenbrand yang menulis tentang Perang Salib dari sudut pandang Islam. Padahal, jika kita lihat, kritik Hassan Hanafi dikemukakan dalam karyanya yang terbit tahun 1991 sedang karya Hillenbrand terbit tahun 1999.

Terlepas dari beberapa titik lemah tersebut, kehadiran buku ini patut diapresiasi karena bisa menjadi pengingat untuk merawat ruang dialog peradaban Barat dan Timur.


Tulisan ini dimuat di Harian Kabar Madura, 8 Juli 2015.


Read More..

Thursday, 2 July 2015

Tafakur sebagai Kunci Kebajikan


Judul Buku: Tafakur Sesaat Lebih Baik daripada Ibadah Setahun
Penulis: Al-Ghazali
Penerjemah: K.H. R. Abdullah bin Nuh
Penerbit: Noura (Mizan), Jakarta
Cetakan: Pertama, April 2015
Tebal: x + 158 halaman


Kehidupan zaman sekarang cenderung menggiring orang untuk hidup terombang-ambing tanpa pegangan. Akibatnya, kita menyaksikan orang relatif cukup mudah terseret oleh sebuah pandangan atau tindakan yang dapat merugikan. Situasinya mungkin mirip seperti perahu yang tanpa kemudi di tengah samudera dan ombak yang menggila.

Bagi yang kental dengan sudut pandang religius, tentulah agama diyakini sebagai pedoman untuk menjalani kehidupan. Namun demikian, terkadang agama dibenturkan dengan akal. Seolah agama tidak menerima fungsi akal sebagai potensi yang dimiliki manusia untuk digunakan sebagai perangkat dalam menjalani kehidupan.

Judul buku ini, yang diambil dari hadis Nabi Muhammad saw, menegaskan bahwa Islam sangatlah menghargai kegiatan berpikir (tafakur). Buku ini merupakan petikan bab dari mahakarya Imam al-Ghazali, Ihya’ Ulumiddin, tepatnya diambil dari bab tafakkur yang ada di juz keempat.

Dalam membahas masalah ini, al-Ghazali menguraikannya dalam beberapa sub-pembahasan, di antaranya tentang keutamaan tafakur, hakikat dan buah tafakur, objek pembahasan tafakur, dan metode menafakuri ciptaan Tuhan.

Keutamaan tafakur dipaparkan al-Ghazali di bagian pembuka dengan mengutip hadis-hadis Nabi atau kutipan dari para sahabat atau ulama terkemuka. Kesimpulan yang dapat diambil pada bagian ini adalah bahwa Islam sangat menghargai ilmu atau pengetahuan, dan kunci penting ilmu adalah tafakur. Bahkan, beberapa kutipan, seperti juga judul buku, menempatkan keutamaan tafakur di atas ibadah. Hal ini dapat dimengerti karena ibadah yang tidak dilandasi ilmu dan renungan mendalam dapat keliru dan hambar dalam pelaksanaannya.

Saat menjelaskan hasil tafakur, dijelaskan bahwa kegiatan ini memiliki tujuan akhir pada sikap batin dan amal kebajikan. Karena itulah, dapat dikatakan bahwa tafakur adalah kunci kebajikan. Secara sederhana, al-Ghazali menerangkan bahwa tafakur menghasilkan ilmu atau pengetahuan, dan ilmu atau pengetahuan dapat mengubah keadaan hati, lalu berubahlah perilaku anggota badan.

Pengaruh filsafat Yunani dapat dilihat saat al-Ghazali menjelaskan pengertian tafakur. Menurut al-Ghazali, tafakur berarti “menghadirkan dua makrifat (pengetahuan) dalam hati agar timbul makrifat ketiga. Dari pengertian ini, kita dapat memahami bahwa tafakur dalam pemahaman al-Ghazali identik dengan penyimpulan dalam silogisme. Bahkan, contoh yang dikemukakan al-Ghazali pun adalah bentuk silogisme.

Al-Ghazali menempatkan tafakur sambil juga menunjukkan bahaya taklid (ikut-ikutan). Taklid hanya akan menghasilkan dasar yang sangat lemah dan rentan. Namun demikian, di sisi yang lain tafakur dalam kerangka pandang al-Ghazali diliputi oleh nuansa keimanan yang sangat kental. Kegiatan berpikir bukanlah kegiatan yang berdiri sendiri dan terlepas dari nilai agama dan ketuhanan.

Kerangka keimanan terlihat jelas dalam uraian al-Ghazali yang panjang lebar dalam membahas objek tafakur dan bagaimana aktivitas tafakur itu dilakukan. Menurut al-Ghazali, tafakur itu bisa terkait dengan mu‘amalah dan juga mukasyafah. Yang pertama menjelaskan bagaimana tafakur tentang interaksi dengan manusia dan Tuhan, sedang yang kedua khusus tentang menafakuri kebesaran Allah.

Secara sederhana, al-Ghazali menjelaskan bahwa tafakur tentang mu‘amalah meliputi empat pokok hal: perintah (taat), larangan atau maksiat, hal yang mencelakakan, dan hal yang menyelamatkan. Bagi mereka yang sudah cukup akrab dengan buku-buku al-Ghazali, keempat hal ini memang telah menjadi kerangka umum al-Ghazali dalam menjelaskan hal yang terkait dengan keagamaan, seperti yang digunakan dalam kitab Ihya’ Ulumiddin dan Bidayatul Hidayah.

Dari seluruh uraian al-Ghazali tentang tafakur dalam hal mu‘amalah, dapat disimpulkan bahwa kegiatan tafakur berada dalam kerangka reflektif dan spiritual. Meski pada sub-pembahasan awal al-Ghazali memberi pengertian tafakur yang identik dengan penalaran logis, tapi tafakur dalam kerangka al-Ghazai berdiri sebagai jalan memperbaiki batin.

Terkait mukasyafah, al-Ghazali berdasar pada hadis Nabi yang melarang untuk berpikir tentang zat Allah. Menurut al-Ghazali, akal manusia tak akan mampu menangkap dahsyatnya kebesaran Allah. Untuk itu, kebesaran Allah ditangkap bukan melalui zat-Nya, tapi melalui ciptaan-Nya. Karena itu, dalam uraian ini, al-Ghazali memberi contoh tafakur tentang diri manusia, fenomena langit, barang tambang, dan sebagainya.

Buku yang diterjemahkan oleh K.H. R. Abdullah bin Nuh (pendiri Pesantren Al-Ihya’ dan sekolah al-Ghazali Bogor) ini sebenarnya tidak hanya memuat bab tafakkur dari kitab Ihya’. Buku ini juga memuat terjemahan karya autobiografis al-Ghazali, al-Munqidz min al-Dhalal.

Al-Munqidz dapat dipandang sebagai catatan reflektif al-Ghazali atas pengembaraan intelektual dan spiritual yang telah dilakoninya. Ini sekaligus dapat menjadi contoh bagaimana kegiatan tafakur mengambil objek yang paling dekat: diri kita sendiri.

Buku ini bernilai penting untuk menegaskan semangat Islam melawan sikap taklid dengan mendorong umatnya untuk secara aktif melakukan kegiatan berpikir. Tak hanya di situ, al-Ghazali menunjukkan bahwa kegiatan berpikir harus berada dalam kerangka keimanan. Dua hal inilah yang akan terus penting untuk diingat dan ditegaskan saat kegiatan berpikir manusia semakin intens dan bisa melahirkan ekses negatif yang tak diinginkan.


Tulisan ini dimuat di Harian Kabar Madura, 2 Juli 2015.

Read More..

Sunday, 24 May 2015

Kuburan Peradaban di Balik Ijazah Palsu


Sekitar 10 tahun silam, kasus ijazah palsu terungkap di media. Institut Manajemen Global Indonesia (IMGI) yang memiliki 53 cabang di seluruh Indonesia dilaporkan telah mencetak sekitar sembilan ribu lulusan dengan berbagai gelar, mulai dari PhD, MBA, MSc, bahkan profesor, yang ternyata palsu.

Beberapa hari ini, kasus serupa kembali terungkap. Menristek Dikti, Muhammad Nasir, mendatangi dua kampus di Bekasi dan Jakarta yang diduga kuat menjual ijazah. Di sebuah kampus di Bekasi, dari jumlah lulusan yang mencapai tiga ribu orang, pihak kampus tidak bisa memberikan data identitas para alumninya. Sedang di sebuah kampus di Jakarta yang disidak, ditemukan ijazah yang mencatut nama seorang pejabat di Ditjen Dikti. Sampai kapan kasus ini akan terus muncul di kehidupan kita?

Ada beberapa hal mendasar yang sangat meresahkan dari kasus ijazah palsu ini. Selain memperlihatkan wajah masyarakat kita yang sakit karena gila gelar dan gila hormat, kasus ijazah palsu ini merupakan ancaman serius bagi masa depan peradaban bangsa.

Ancaman serius di balik kasus ijazah palsu ini akan menjadi jelas jika kita menyadari bahwa para pemegang ijazah palsu itu bisa saja kemudian menempati posisi strategis dalam tatanan masyarakat kita: entah menjadi pengurus publik (pejabat), pengajar atau pendidik, atau pelaku bisnis. Bila nyatanya bukti kompetensi mereka yang direpresentasikan dengan ijazah ternyata palsu maka jelaslah dampak turunannya.

Pengurus publik menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan bidangnya. Selain visi, kepekaan, dan komitmen, kompetensi yang juga bersifat teknis-operasional juga dibutuhkan dalam menerjemahkan visi dan menjalankan program kerja. Itulah yang di antaranya dibuktikan dengan ijazah.

Ditemukannya kasus ijazah palsu ini menjadi mengkhawatirkan: jangan-jangan beberapa pengurus publik yang menempati posisi strategis juga termasuk konsumen ijazah palsu ini. Sebagai ukuran kompetensi, ijazah palsu bisa juga berarti kompetensi palsu. Pertanyaannya, apa yang bisa diharapkan dari pengurus publik yang ternyata kompetensinya palsu?

Yang juga sangat mengkhawatirkan adalah jika konsumen ijazah palsu ini kemudian berperan sebagai pengajar atau pendidik di sekolah atau perguruan tinggi. Saat kesejahteraan profesi di dunia pendidikan berkat kebijakan sertifikasi guru menjadi semakin baik, banyak orang tertarik untuk terjun di bidang ini. Kasus ijazah palsu ini seharusnya membuat kita jadi benar-benar khawatir: jangan-jangan pengajar atau pendidik di lingkungan kita juga terkait dengan ijazah palsu ini.

Layanan publik dan dunia pendidikan merupakan salah satu ukuran mendasar dalam menakar mutu kehidupan suatu masyarakat dan bangsa. Layanan publik yang tak bermutu akan membuat mutu peradaban masyarakat mandek. Perubahan peradaban ke arah yang lebih baik akan berjalan timpang.

Demikian juga, dunia pendidikan sebagai medan penyiapan generasi masa depan bangsa akan sangat memprihatinkan manakala para pendidiknya ternyata berbekal ijazah palsu. Generasi seperti apa yang akan dihasilkan dari sistem pendidikan yang para pengelola, pengajar dan pendidiknya berijazah palsu?

Coba perhatikan bagaimana negara yang memiliki tingkat pendidikan terbaik di dunia, yakni Finlandia, mengelola pendidikan tinggi di bidang kependidikan. Kunci keberhasilan pendidikan di Finlandia di antaranya terletak pada tingginya persaingan para calon pendidik yang akan masuk di pendidikan tinggi yang menjadi salah satu indikasi keseriusan mereka dalam mengelola program studi keguruan. Leena Krokfoss, Wakil Dekan Fakultas Keguruan University of Helsinki dalam film dokumenter The Finland Phenomenon (2011) menyebutkan bahwa dari 1600 pendaftar di jurusan keguruan, hanya 10% yang diambil.

Penggunaan ijazah palsu dalam kaitannya dengan pengurus publik, tenaga pendidik, dan sebagainya memang masih berupa dugaan dan belum ada data teperinci. Namun, melihat jumlah yang ditemukan Menristek Dikti saat sidak beberapa hari lalu dan data-data serupa dalam 10 tahun terakhir, kita patut khawatir bahwa dugaan tersebut memang nyata.

Saat persaingan dunia global semakin nyata, tak ada toleransi untuk kasus ijazah palsu. Membiarkan kasus ijazah palsu ini tak tertangani secara tegas dan menyeluruh sama halnya dengan menyiapkan kuburan peradaban bangsa.

Pengurus publik dan masyarakat harus kompak untuk mengakhiri tragedi ini. Mentalitas pragmatis yang di antaranya berada di balik fenomena ini harus diputus dengan kebijakan tegas dan pengawasan yang ketat. Langkah mendasar yang menjadi tugas bersama adalah mengingatkan seluruh elemen bangsa ini bahwa ijazah palsu adalah benih awal hancurnya peradaban.

Konsumen potensial harus terus diingatkan ihwal kepalsuan nilai ijazah palsu dan kontribusi mereka pada penghancuran masa depan bangsa. Selain itu, harus ada langkah-langkah objektif di tingkat kebijakan untuk memastikan bahwa ijazah palsu tidak akan lolos bila digunakan untuk posisi-posisi yang terkait dengan hajat hidup orang banyak.


Tulisan ini dimuat di Harian Jawa Pos, 24 Mei 2015.


Read More..

Friday, 22 May 2015

Pesona Mulia Sang “Anak Asuh Wahyu”


Judul buku: ‘Ali ibn Abi Thalib: Khalifah Nabi Tercinta
Penulis: Khalid Muhammad Khalid
Penerbit: Mizania, Bandung
Cetakan: Pertama, Desember 2014
Tebal: 196 halaman


Di kalangan umat Islam, sosok ‘Ali ibn Abi Thalib tidak saja menempati posisi penting, tapi juga cukup kontroversial. Disebut penting karena ia adalah sepupu sekaligus menantu Nabi Muhammad saw. Selain itu, ia juga tercatat sebagai anak yang masuk Islam pertama kali. Namun begitu, ia juga cukup kontroversial karena diposisikan sebagai panutan atau imam kelompok syi’ah, golongan yang posisinya selalu menimbulkan perdebatan.

Posisi sulit ‘Ali ibn Abi Thalib menjadi nyata karena ia diangkat sebagai khalifah pada situasi yang genting, saat umat Islam mulai terseret dalam konflik politik yang menceraiberaikan persatuan dan persaudaraan yang telah dibangun mulai dakwah Nabi di Mekah.

Buku ini tidak memaparkan runtutan peristiwa di seputar kehidupan ‘Ali ibn Abi Thalib. Mengikuti alur kronologis kehidupan ‘Ali yang tidak disajikan secara kaku, Khalid Muhammad Khalid berusaha menampilkan “kemuliaan dan kemanusiaan yang tersirat di balik setiap rangkaian peristiwa” (hlm. 9) dalam alur kehidupan ‘Ali.

Buku ini dibagi ke dalam lima bab. Bab yang pertama berusaha menampilkan sosok ayah dan kakek ‘Ali—yang tak lain adalah juga paman dan kakek Nabi Muhammad saw—yakni Abu Thalib dan ‘Abdul Muththalib. Keduanya adalah tokoh terkemuka masyarakat Mekah yang disegani. Setelah menggambarkan beberapa fragmen kehidupan kedua sosok tersebut, Khalid menyimpulkan bahwa ‘Ali mewarisi sifat-sifat mulia dari keduanya, yakni berupa “sifat pantang menyerah, keteguhan dalam memegang pendirian, dan kekuatan dalam akidahnya” (hlm. 32).

Tak berhenti hanya pada kesimpulan ini, Khalid kemudian menguatkan: apalagi ‘Ali mendapat kesempatan untuk berada serumah dan bahkan dididik langsung oleh Nabi Muhammad saw. Maka tentunya karakter yang kemudian mendapatkan landasan keimanan Agama Tauhid tentu akan lebih kuat lagi.

Inilah yang diuraikan Khalid pada bab kedua. Khalid menyebut ‘Ali dengan julukan “Anak Asuh Wahyu”. Hal ini tak lain karena sejak usia 6 tahun ‘Ali sudah tinggal bersama Nabi, dan pada usia 10 tahun telah memeluk agama Islam sehingga ia dikenang sebagai orang yang pertama kali masuk Islam dari golongan anak-anak. Pada tahun-tahun pertama turunnya wahyu, ‘Ali selalu berada di dekat Nabi sehingga hal itu membentuk loyalitasnya secara total terhadap al-Qur’an.

Bab ketiga buku ini berjudul “Seorang Pahlawan dan Kesatria”. Bagian ini menggambarkan sosok ‘Ali yang memiliki semangat juang yang tinggi. ‘Ali digambarkan memiliki karakter prajurit sejati, pahlawan, dan kesatria yang luhur. Di antara kisah yang diangkat pada bab ini berasal dari peristiwa Perang Uhud. Pada waktu itu, ‘Ali memenangi duel bersama Abu Sa’ad ibn Abi Thalhah, salah seorang dari kaum musyrik. Namun, ‘Ali urung menghabisi Abu Sa’ad karena setelah terhempas ke tanah, tiba-tiba pakaian Abu Sa’ad tersingkap dan auratnya kelihatan. ‘Ali tak mau melihat aurat orang lain. Ia memejamkan matanya dan berpaling, lalu kembali ke pasukannya.

Dalam peristiwa Perang Unta, ‘Ali menegur keras dua orang pembesar kaum Anshar yang melemparkan cacian dan makian pada Muawiyah. ‘Ali melarang mereka mencela dan melaknat dan menyarankan agar lebih baik mendoakan pada kebaikan (hlm. 69).

Bagian terpanjang dalam buku ini adalah bab keempat. Bab ini menggambarkan periode kehidupan ‘Ali saat ia diangkat sebagai khalifah. Poin mendasar yang ditekankan adalah rasa akan tanggung jawab atas jabatan yang diemban. Sebagaimana banyak diulas oleh penulis sejarah Islam yang lain, Khalid dalam buku ini menegaskan keikhlasan dan sifat amanah empat khalifah Islam yang pertama (atau khulafaurrasyidin) serta kebersihan hati mereka dari ambisi pribadi dan hasrat atas kekuasaan. Kalaupun ada perselisihan atau perbedaan pandangan mereka dalam hal mengelola pemerintahan, itu bukan karena dorongan hal yang sifatnya duniawi (hlm. 100).

Selain praktik zuhud atau hidup sederhana yang dicontohkan oleh ‘Ali, ‘Ali menekankan visi kepemimpinannya untuk menyatukan umat Islam yang saat itu terpecah belah secara politik. Selain itu, ‘Ali juga mereformasi santunan dana dari Baitul Mal dengan mengembalikannya seperti kebijakan Abu Bakar, yakni dalam menentukan besarannya tak mempertimbangkan siapa yang lebih dulu masuk Islam.

Yang menarik dicatat, meski tampak berusaha netral, di beberapa bagian kita dapat menemukan bagian yang tampak memperlihatkan keberpihakan penulis pada ‘Ali dengan memposisikan Muawiyah serta pada pendukung dan kerabatnya pada posisi yang terkesan kurang baik. Namun begitu, di beberapa bagian yang seperti itu, buku ini kemudian merujukkan sejumlah catatan kaki yang di antaranya mementahkan validitas dasar pandangan penulis—di antaranya banyak bersumber dari penilaian ahli hadits Al-Albani.

Terlepas dari sisi kontroversial tersebut, buku ini menarik untuk dibaca karena bagaimanapun sosok ‘Ali ibn Abi Thalib memiliki posisi yang penting dalam Islam karena kedekatannya dalam banyak hal dengan Nabi Muhammad saw. Hanya memang mungkin untuk hal-hal yang sifatnya kontroversial, pembaca perlu memperkaya dengan rujukan yang lain sebagai penyeimbang.


Tulisan ini dimuat di Harian Kabar Madura, 21 Mei 2015.

Read More..

Tuesday, 19 May 2015

Mutiara Pencerahan di Balik Kisah Jenaka

Judul buku: Tiada Sufi Tanpa Humor
Penulis: Imam Jamal Rahman
Penerbit: Serambi, Jakarta
Cetakan: Pertama, Maret 2015
Tebal: viii + 240 halaman


Masyarakat modern dengan kehidupan yang bernuansa materialistis sering digambarkan mengalami kehampaan makna hidup. Spiritualitas dalam diri mereka mati dan terabaikan. Tasawuf tampil sebagai jalan untuk menghidupkan unsur mendalam pada diri manusia.

Buku ini mengambil sudut pandang yang unik dalam mengajukan tasawuf sebagai langkah reflektif menuju penyucian diri. Buku ini mengemukakan humor sebagai hal yang merupakan dasar kesamaan di antara berbagai aliran sufi yang ada. Menurut penulis buku ini, secara umum kaum sufi sering tertawa. Pada saat yang sama, banyak hikmah-hikmah tasawuf dituturkan melalui tokoh Nasruddin Hoja atau Sang Mullah yang digambarkan sebagai orang bahlul (hlm. 3-5).

Imam Jamal Rahman, penulis buku ini, percaya bahwa campuran antara kejenakaan dan kebahlulan dapat menerbitkan kebijaksanaan. Untuk itu, penulis menghimpun kisah-kisah jenaka yang populer di dunia tasawuf dan kemudian disusun secara tematis dalam buku ini. Ada 48 bab singkat yang terangkum dalam 9 tema besar. Di antaranya tentang kondisi manusia yang fana, perubahan dalam kesadaran, latihan spiritual, dan aktif dalam dunia. Meski sebagian besar kisah-kisahnya fiktif, namun nilai inspiratifnya tak dapat disepelekan.

Saat mengangkat tema tentang cara mengubah diri dalam kerangka spiritualitas, penulis menekankan bahwa spiritualitas adalah pengalaman langsung. Penulis mengangkat kisah seorang anak dokter yang mendapat tugas untuk membersihkan jamban di pondokan sufinya. Karena tahu bahwa jamban penuh dengan penyakit, sang ayah mengirimkan 12 budak Ethiopia untuk menggantikan tugas anaknya. Pada titik ini sang guru sufi memberi pertanyaan retoris: “Jika anakmu terkena radang empedu, apa kau akan memberikan obatnya pada seorang budak Ethiopia?” (hlm. 38-40).

Kisah ini menyinggung orang yang ingin mengubah dirinya tapi hanya berhenti di tingkat pemahaman yang bersifat formal. Padahal, inti perubahan ada pada diri, tepatnya pada pengalaman diri terjun pada jalan perubahan tersebut.

Di tingkat pemahaman pun, bahkan ada orang yang enggan menerima informasi atau pengetahuan yang dirasa akan merugikan bagi dirinya, tapi di saat yang lain dia dengan senang hati akan menerima informasi serupa bila dirasa akan menguntungkan. Inilah yang disebut dengan kebenaran selektif.

Alkisah seorang tetangga Mullah ragu untuk meminjamkan pancinya pada Mullah. Namun setelah dipinjamkan dan kemudian dikembalikan, Mullah memberi dua panci. Mullah bilang, panci itu hamil dan melahirkan saat dipinjamnya. Beberapa bulan kemudian, saat kembali meminjam panci, ternyata Mullah tidak mengembalikan panci itu. Katanya, pancinya meninggal saat proses melahirkan. Si tetangga protes bahwa itu tidak mungkin. Tapi Mullah mempertanyakan mengapa dulu si tetangga percaya bahwa pancinya bisa hamil (hlm. 79).

Perubahan diri sering membutuhkan keteguhan dan kesungguhan. Saat seseorang mengalami perasaan negatif, ego yang terluka perlu berusaha keras untuk keluar dari situasinya. Tapi kadang orang enggan untuk bertahan dalam situasi yang tidak mengenakkan dalam proses perubahan diri. Ini tecermin dalam kisah yang diangkat oleh Rumi tentang seorang pria yang ingin punya tato singa di bahunya. Saat jarum ditusukkan, si pria melolong kesakitan dan bertanya bagian singa mana yang sedang dikerjakan. Saat dijawab bahwa itu adalah bagian ekor, si pria bilang bahwa singanya tak usah ekor saja. Demikian seterusnya hingga akhirnya tato gagal dibuat (hlm. 144-145).

Meski kisah-kisah jenaka dan reflektif dalam buku ini sumbernya beragam dan tidak faktual, di setiap bab penulis buku ini menyajikan kutipan hikmah dari al-Qur’an, hadis, atau aforisme tokoh-tokoh sufi terkemuka terkait tema yang sedang diangkat. Sumber hadisnya diambil dari kitab hadis yang otoritatif. Selain itu, penulis juga memberi panduan praktis bagaimana untuk melatih hal yang terkait tema yang diangkat.

Saat mengangkat tema syukur, misalnya, penulis di antaranya memandu dengan latihan agar kita secara rutin membuat ritual bersyukur sebelum tidur. Kita diajak menghitung kenikmatan apa saja yang sudah diterima dalam satu hari. Melakukan hal ini, menurut guru sufi, sama dengan menciptakan bulu dan sayap pada burung rohani kita untuk terbang menjumpai Tuhan (hlm. 123).

Jika berbicara tentang perubahan diri, pendidikan karakter, atau bahkan revolusi mental, buku ini sangat tepat untuk dinikmati dan dijadikan bahan pengaya dan penuntun menuju perubahan sejati yang nyata.


Versi yang lebih pendek dari tulisan ini dimuat di Koran Jakarta, 19 Mei 2015.

Read More..