<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-9718171</id><updated>2012-01-30T06:32:56.435+07:00</updated><category term=':: In English ::'/><category term='Book Review: Philosophy'/><category term='Book Review: Gender Issues'/><category term='Daily Life'/><category term='Book Review: Short Stories'/><category term='Madura'/><category term='Book Review: Education'/><category term='Celestial Bodies'/><category term='Philosophy'/><category term='School Corner'/><category term='Book Review: Economy'/><category term='Literacy'/><category term='Movie'/><category term='Book Review: Social'/><category term='Book Review: Journalism'/><category term='Environmental Issues'/><category term='Book Review: Cultural Issues'/><category term='Diary'/><category term=':: Published ::'/><category term='Social-Politics'/><category term='Book Review: Novel'/><category term='Religious Issues'/><category term='European Adventures'/><category term='Gender Issues'/><category term='Book Review: Theology-Spirituality'/><category term='Journey'/><category term='Book Review: Religous'/><category term='Ethics'/><category term='Book Review: Drama'/><category term='Book Review: Politics'/><category term='Education'/><category term='Cultural Issues'/><category term='Book Review: NU-Gus Dur'/><title type='text'>Rindu Pulang</title><subtitle type='html'>sesobek catatan di antara perjalanan meraih yang kekal dan memaknai kesementaraan; semacam solilokui untuk saling mengingatkan, saling menguatkan, berbagi keresahan dan kegetiran, keindahan dan kebahagiaan, agar hidup menjadi cukup berharga untuk tidak begitu saja dilewatkan</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://rindupulang.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rindupulang.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>M Mushthafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14972221113444541130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_3KV1whPNznA/R6GvxNRKpvI/AAAAAAAAAAg/WtDlof24hV0/S220/My+Name+is+Musthov+for+Blog.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>316</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9718171.post-1304221937332011295</id><published>2012-01-17T13:19:00.001+07:00</published><updated>2012-01-17T13:54:20.300+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term=':: Published ::'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Literacy'/><title type='text'>YouTube University</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-LtXSMRaapes/TxUVIJ3Ps4I/AAAAAAAAA6U/XY1jRRcgT4s/s1600/youtube.jpg"&gt;&lt;img border="0" height="177" src="http://2.bp.blogspot.com/-LtXSMRaapes/TxUVIJ3Ps4I/AAAAAAAAA6U/XY1jRRcgT4s/s400/youtube.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Internet sudah cukup lama masuk di Indonesia dan pelan-pelan menjadi semakin populer sejak sekitar sepuluh tahun terakhir ini. Persoalannya, berapa banyak dan bagaimana masyarakat Indonesia memanfaatkan internet sebagai sebuah ruang belajar alternatif, terutama dalam menyiasati keterbatasan mutu lembaga pendidikan dan akses terhadap ilmu dan pengetahuan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat pertama kali mengenal internet di Yogyakarta tahun 1999, di antara hal menarik yang dilakukan dalam berinternet bagi saya dan para penggemar buku atau mahasiswa adalah berburu buku elektronik. Waktu itu buku-buku berhaluan kiri sedang populer, terutama di kalangan mahasiswa, dan internet memberi kesempatan yang luas untuk mengakses buku-buku semacam itu. Jika di dunia offline buku-buku kiri waktu itu cukup sulit didapat karena adanya pelarangan dari pemerintah, internet menjadi ruang yang lebih bebas untuk buku-buku yang diberangus tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks yang lebih luas, proyek digitalisasi buku yang kemudian dapat diakses lewat internet hingga kini terus berlangsung. Project Gutenberg, perpustakaan digital tertua yang didirikan oleh Michael S. Hart pada tahun 1971, hingga November 2011 menyatakan telah memiliki 38.000 koleksi, dan terus bertambah setiap pekan. Ini adalah salah satu contoh tentang bagaimana internet menyediakan ruang bagi akses yang lebih terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring dengan kecepatan perkembangan teknologi internet yang luar biasa dan sulit diterka, akses pengetahuan dan informasi di internet tersaji dengan cara yang semakin beragam dan menarik. Di antaranya saya temukan dalam salah satu situs yang sangat terkenal: YouTube.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situs tempat berbagi video yang didirikan pada Februari 2005 ini pada dasarnya mirip pasar swalayan. Aneka rupa video tersaji. Saya bisa menemukan video gol-gol indah para pesepakbola terkenal dunia, berita meninggalnya seorang ulama dari Madura, dokumentasi kegiatan lingkungan di sebuah SMA swasta di Madura, seekor anjing yang bisa melafalkan nama Obama, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik, situs yang kini setiap hari dikunjungi lebih dari satu miliar peselancar itu sejak akhir Maret 2009 lalu membuka sebuah saluran yang sangat menarik yang diberi nama YouTube EDU. Saluran ini dibuat untuk maksud menghimpun content pendidikan yang diunggah oleh civitas akademika di Amerika. Belakangan, kampus-kampus Eropa dan negara lain juga berkontribusi di saluran ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saluran ini semakin memperkaya pilihan bagi para pembelajar otodidak yang haus ilmu dan informasi. Saya dapat membayangkan, bagi masyarakat Indonesia atau warga negara dunia ketiga lainnya, menikmati ceramah ilmuwan-ilmuwan terkemuka melalui saluran ini akan serupa dengan harta karun bernilai tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah saya membaca esai reflektif Peter Singer tentang kemiskinan di Bangladesh di jurnal Philosophy and Public Affair (1972) yang merupakan bahan diskusi di kelas saya saat kuliah di Utrecht University bulan September 2009 lalu, saya betul-betul menikmati saat kemudian menyimak ceramah filsuf terkemuka ini di Macquarie University Australia pada Juli 2009 yang saya temukan di saluran baru YouTube ini. Ceramah sekitar 70 menit bertajuk “Climate Change, Eating Meat and Ending Poverty” ini tidak saja membantu saya untuk lebih memahami esai klasik di bidang etika terapan tersebut, tetapi juga berhasil mendorong saya untuk membaca buku terbaru Singer: The Life You Can Save: Acting Now to End World Poverty (2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal serupa berulang saat saya menemukan ceramah seorang filsuf, dan aktivis lingkungan India terkemuka: Vandana Shiva. Ceramah-ceramahnya yang kritis dan radikal yang cukup banyak di saluran YouTube ini sungguh menyemangati saya untuk segera menuntaskan membaca beberapa bukunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, berbagai disiplin keilmuan dan tema dapat kita temukan di saluran ini, mulai dari soal perdagangan karbon, bailout dalam konteks resesi ekonomi, game internet, diferensial dan kalkulus integral, dan yang lainnya. Banyak kampus terkemuka  yang membuka akun untuk berbagi video kuliah atau ceramah di saluran ini, seperti MIT, Harvard University, Cambridge University, dan yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena semakin terbukanya akses pendidikan ini dalam konteks internet tentu saja terjadi tak hanya melalui saluran YouTube ini. Newsweek edisi 9 November 2009 menyebutkan bahwa pada tahun 1999 Tübingen University di Jerman menjadi kampus pertama yang membuka akses file-file ceramah dan perkuliahannya melalui internet. Pada tahun 2002, MIT menyusul. Dilaporkan bahwa dari 1,2 juta pengunjung situs MIT tiap bulan, 45 persen di antaranya adalah para pembelajar otodidak yang mengakses ceramah-ceramah ilmiah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa arti semua ini bagi masyarakat Indonesia? Terbukanya akses content pendidikan melalui internet memang sebuah hal yang sangat menggembirakan. Tak perlu kuliah ke luar negeri jika hanya mau menyimak perkuliahan dari kampus terkemuka dunia atau presentasi orang-orang atau pemikir ternama. Akan tetapi ini tentu mengandaikan beberapa hal yang bisa jadi masalah, atau lebih tepatnya tantangan, bagi masyarakat Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara teknis, akses internet di Indonesia masih belum merata, dan kalaupun ada, kebanyakan masih belum bisa secara nyaman mengakses file video semacam di YouTube dengan lancar. Masalah teknis lainnya terkait dengan kemampuan bahasa, karena semua ceramah di YouTube EDU mensyaratkan penguasaan bahasa Inggris yang cukup baik untuk bisa menyerapnya secara optimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Content pendidikan berbahasa Indonesia, terutama dalam bentuk video, memang masih belum banyak dikembangkan. Belakangan ini, di YouTube ada channel TEDxJakarta yang merupakan program pengembangan dari situs TED yang berdiri sendiri dan telah cukup lama berbagi content video presentasi dengan narasumber terkemuka dan tema-tema aktual yang inspiratif. TED, yang berpusat di New York, telah mempublikasikan video-video ceramah atau presentasinya secara gratis sejak Juni 2006 dan hingga kini memuat lebih dari seribu video untuk berbagai tema.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran saluran TEDxJakarta ini sementara bisa mengatasi keterbatasan bahasa masyarakat Indonesia, karena TEDxJakarta memuat presentasi orang-orang Indonesia—dan dengan bahasa Indonesia. Di saluran tersebut, kita bisa mendengarkan kisah Anies Baswedan dengan program Indonesia Mengajar-nya, juga Ade Rai tentang masyarakat Indonesia yang sehat, atau juga Ridwan Kamil, arsitek dan desainer yang penuh inspirasi dan belakangan dikenal dengan gerakan Indonesia Berkebun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja content pendidikan di internet tak hanya berupa video. Akan tetapi, saya pikir kita akan sepakat bahwa media video akan lebih mudah diterima oleh masyarakat luas daripada, misalnya, buku atau bahan bacaan yang mengandaikan kemampuan mencerna yang lebih kompleks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan di Madura? Dalam pengamatan saya, masyarakat Madura mulai mengenal internet secara lebih luas sejak tahun 2007, saat Telkom mulai mengembangkan jaringan internet mereka ke wilayah kecamatan. Belakangan, penetrasi internet ke wilayah desa mulai semakin meluas. Tambahan lagi, beberapa kalangan di Madura juga mulai menggunakan provider telepon seluler untuk akses internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, seperti masyarakat Indonesia umumnya, tantangan yang paling besar sebenarnya terkait dengan mental. Sepertinya, sosok pembelajar mandiri yang haus akan ilmu dalam arti yang sebenarnya dan tak terikat dengan formalitas masih tak merata. Fenomena penjiplakan dan semacamnya, seperti juga soal ijazah atau sertifikat palsu, yang sampai sekarang masih saja muncul, dan mungkin saja juga terbantu dengan teknologi internet, jelas sangat bertolak belakang dengan semangat sosok pembelajar mandiri yang diandaikan dalam kasus ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, di Madura, momentum penetrasi internet bersamaan dengan booming-nya situs-situs jejaring sosial seperti Facebook. Akhirnya, cukup banyak orang di Madura yang pertama kali mengenal internet melalui Facebook. Ini juga terjadi di kalangan pelajar atau mahasiswa. Dengan demikian, pelajar dan mahasiswa jenis ini mengenal internet pertama kali sebagai tempat bersosialisasi, atau bahkan mungkin bernarsis-ria, dan bukan sebagai tempat untuk mengatasi keterbatasan perpustakaan di kampus atau sekolahnya—juga keterbatasan guru dan dosennya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika belakangan ini mulai muncul gerakan-gerakan bertajuk “internet sehat” maka menurut saya salah satunya harus berupa upaya untuk mendorong masyarakat memanfaatkan internet sebagai ruang belajar alternatif dalam konteks akses yang terbatas dan kualitas pendidikan yang perlu terus ditingkatkan. Umpama ada anak lulusan SMA dan sederajat yang tak bisa melanjutkan kuliah, kita bisa memberinya saluran alternatif. Mungkin dia bisa “kuliah” di semacam YouTube University, atau TED, dan sebagainya. Saya juga berpikir bahwa saluran-saluran semacam ini, terlepas dari kekurangannya sebagaimana kelemahan internet pada umumnya yang dinilai kurang mendalam dan mendangkalkan cara berpikir (Nicholas Carr, 2011), mungkin saja bisa membantu mendorong tumbuhnya sosok pembelajar mandiri. Artinya, memanfaatkan kelebihan internet sebagai batu loncatan untuk membentuk mental pembelajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pembelajar karbitan akan resah jika tak mendapatkan selembar ijazah setelah melalui proses pendidikannya. Tapi seorang pembelajar mandiri lulusan YouTube University, sebutlah demikian, tak sedikit pun risau bila tak punya sertifikat atau apa pun yang menyatakan bahwa ia telah mengikuti perkuliahan di sana. Siapa hendak bergabung?&lt;strike&gt;&lt;strike&gt;&lt;strike&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strike&gt;&lt;strike&gt;&lt;/strike&gt;&lt;/strike&gt;&lt;/strike&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Tulisan ini dimuat di &lt;a href="http://issuu.com/suluhmhsa/docs/suluh_mhsa_viii_kecil"&gt;Majalah Suluh MHSA, edisi VIII, Januari 2012&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9718171-1304221937332011295?l=rindupulang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rindupulang.blogspot.com/feeds/1304221937332011295/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9718171&amp;postID=1304221937332011295&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/1304221937332011295'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/1304221937332011295'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rindupulang.blogspot.com/2012/01/youtube-university.html' title='YouTube University'/><author><name>M Mushthafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14972221113444541130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_3KV1whPNznA/R6GvxNRKpvI/AAAAAAAAAAg/WtDlof24hV0/S220/My+Name+is+Musthov+for+Blog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-LtXSMRaapes/TxUVIJ3Ps4I/AAAAAAAAA6U/XY1jRRcgT4s/s72-c/youtube.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9718171.post-1423983883185958250</id><published>2011-08-16T22:45:00.008+07:00</published><updated>2012-01-18T11:58:17.842+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diary'/><title type='text'>Taman Rahasia</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-VrIX0Cglhsk/TkroVlMclsI/AAAAAAAAA40/SvjUzK0036k/s1600/Taman%2BRahasia%2BSkandinavia.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5641576940694181570" src="http://3.bp.blogspot.com/-VrIX0Cglhsk/TkroVlMclsI/AAAAAAAAA40/SvjUzK0036k/s400/Taman%2BRahasia%2BSkandinavia.jpg" style="cursor: hand; cursor: pointer; display: block; height: 400px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 299px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin bercerita kepadamu tentang taman rahasia di suatu tempat di Skandinavia. Taman rahasia itu hanya muncul sebentar di awal musim semi yang datang terlambat setelah salju turun berbulan-bulan. Namun ia melintas tak lama, sebelum musim panas kemudian mengubah senyum indahnya sehingga ia menyimpan kembali rahasianya rapat-rapat karena tak sanggup berhadapan langsung dengan terik matahari yang sebenarnya tak seberapa jika dibandingkan dengan terpaan panas negeri tropis seperti di negeri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taman rahasia itu terletak di dekat jalan setapak di puncak sebuah bukit. Dari sana, kau bisa menyaksikan &lt;i&gt;fjord&lt;/i&gt;, semacam teluk kecil yang beriak tak terlalu besar, lalu bukit-bukit yang pucuknya masih sedikit bersalju akan kelihatan menjadi latar di belakangnya. Sesekali kau akan dapat mendengar riuh burung berkicau yang berlompatan di dedahan pohon yang mulai merimbun. Atau juga camar di kejauhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Di sekitar taman itu, kau tak akan dapat melihat tukang kebun yang merawat rumput hijau, bunga-bunga putih, dan bunga-bunga kuning yang mulai merekah. Sebenarnya, para tukang kebun itulah yang membuat taman ini disebut rahasia, karena mereka itu yang menyimpan rahasia keindahan taman ini, yang juga membuat taman ini tak terlihat oleh mata telanjang, tapi mesti dipandang dengan hati yang bening, serupa cermin yang memantulkan keindahan alam negeri-negeri dongeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menjaga rahasia itu dari ancaman campur tangan manusia yang datang mencari keindahan bunga musim semi tapi tak cukup peduli akan nilai kesuciannya. Mereka menjaga rahasia itu di antara kesunyian yang berbicara saat orang-orang tak lagi tampak di sekitar taman rahasia itu. Mereka menjaga rahasia itu sampai akhirnya tiba saatnya seseorang yang mereka tunggu melintas dan menemukan taman rahasia itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, aku telah beberapa kali melintas di taman rahasia itu sambil tak jemu mengagumi keindahannya yang kadang memang tampak menyimpan misteri. Tapi sungguh sayang, aku baru menyadarinya saat ini, bahwa itu adalah taman rahasia Skandinavia, saat aku tak bisa lagi leluasa menceritakannya kepadamu, saat aku tak bisa lagi melihat jejak bunga-bunga putih bermekaran dan menyimak nyanyian burung di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin musim semi telah jauh. Malam telah larut. Aku berusaha merengkuh keindahan taman rahasia dalam jarak yang tak mungkin kutaklukkan. Taman rahasia melantunkan keindahannya dalam tembang pengantar tidur tentang nyanyian bumi dan ladang persemaian nasib manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan taman rahasia tetap di sana, menunggu si pelintas yang ditunggunya.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9718171-1423983883185958250?l=rindupulang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rindupulang.blogspot.com/feeds/1423983883185958250/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9718171&amp;postID=1423983883185958250&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/1423983883185958250'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/1423983883185958250'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rindupulang.blogspot.com/2011/08/taman-rahasia.html' title='Taman Rahasia'/><author><name>M Mushthafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14972221113444541130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_3KV1whPNznA/R6GvxNRKpvI/AAAAAAAAAAg/WtDlof24hV0/S220/My+Name+is+Musthov+for+Blog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-VrIX0Cglhsk/TkroVlMclsI/AAAAAAAAA40/SvjUzK0036k/s72-c/Taman%2BRahasia%2BSkandinavia.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9718171.post-5744603098580902536</id><published>2011-07-18T20:42:00.009+07:00</published><updated>2011-08-19T14:33:46.389+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Environmental Issues'/><title type='text'>ProFauna dan “the Passion of Individuals”</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-tSKdGWeAOGk/TiRBNLMk11I/AAAAAAAAA4k/HV6Ms87xF-k/s1600/ProFauna%2B2011%2B-%2BMalam%2Bpenutupan.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 259px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-tSKdGWeAOGk/TiRBNLMk11I/AAAAAAAAA4k/HV6Ms87xF-k/s400/ProFauna%2B2011%2B-%2BMalam%2Bpenutupan.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5630697128719603538" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sore itu, di antara sedikit rasa mengantuk, saya merasakan sunyi yang lain di tempat itu. Setelah sejak Jum’at malam hingga Ahad malam mengikuti ProFauna Conference 2011 dengan jadwal yang padat, Senin sore itu suasana &lt;a href="http://www.p-wec.com/"&gt;P-WEC&lt;/a&gt; (Petungsewu Wildlife Education Center) yang menjadi tempat acara menjadi lengang. Area yang rimbun dan hijau seluas 5 hektar itu telah ditinggalkan oleh hampir semua peserta konferensi yang berjumlah seratusan orang mulai Ahad malam. Yang tersisa hanya sekitar sepuluh peserta yang masih akan mengikuti kegiatan tambahan yang akan dimulai Senin malam dan Selasa, ditambah dengan pengurus &lt;a href="http://www.profauna.org/"&gt;ProFauna&lt;/a&gt; dan P-WEC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore itu, saya rebahan saja di kamar setelah datang dari kota Malang untuk mengikuti aksi kampanye perlindungan primata bersama suporter ProFauna yang lain. Dari dalam ruangan tempat menginap, bangunan yang terbuat dari kayu yang bersih dan asri, sore itu saya dapat mendengarkan suara burung-burung di sekitar kompleks yang tampak riuh dan riang. Sambil rebahan, dalam pikiran saya berkelebat kegiatan padat dua hari yang baru saja saya ikuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dua hari ini saya telah mendapatkan banyak hal baru dalam acara ini. Yang terpenting, saya mendapatkan banyak sekali data dan informasi baru tentang keberadaan, nasib, dan juga masa depan satwa liar serta habitatnya khususnya di Indonesia. Lebih dari itu, data dan informasi tersebut pada giliran berikutnya memperkaya dan memberikan perspektif baru bagi wawasan pengetahuan saya sebelumnya, terutama terkait dengan masalah-masalah lingkungan pada umumnya dan termasuk juga bagi latar minat akademik saya di bidang etika lingkungan atau etika terapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://rindupulang.blogspot.com/2011/06/suara-senja.html"&gt;Sore itu&lt;/a&gt;, saat rebahan, secara pribadi saya merasakan suatu momen jeda yang cukup istimewa. Beralih sejenak dari kegiatan kependidikan di sekolah di rumah saya, apa yang saya dapatkan dari konferensi ini selama dua hari penuh mendorong bagi munculnya sejumlah pertanyaan menarik dan mendasar. Di antaranya berupa pertanyaan: apa dan bagaimana yang bisa saya lakukan selanjutnya setelah mendapatkan data, informasi, dan pengetahuan selama konferensi ini?&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pertama kali mengenal ProFauna pada bulan Juni 2009 ketika &lt;a href="http://rindupulang.blogspot.com/2009/07/inspirasi-dari-kaliandra-dan-malang.html"&gt;diundang PMPTK Depdiknas dan British Council Jakarta&lt;/a&gt; yang mengadakan acara Training of Trainer Education for Sustainable Development di Malang. Salah satu sesi kegiatan itu diisi oleh Mas Rosek Nursahid, pendiri ProFauna, yang memaparkan kegiatannya di bidang konservasi satwa liar dan habitatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah terputus hampir dua tahun, di awal 2011 secara kebetulan saya mendapatkan informasi tentang ProFauna Conference 2011 yang akan dilaksanakan di bulan Juni 2011. Melihat rancangan materi konferensi, saya tertarik. Ketertarikan saya ini tumbuh terutama karena ketika studi Master Etika Terapan di Belanda dan Norwegia saya sempat mendapat matakuliah Etika Binatang di Utrecht. Karena disyaratkan harus terdaftar sebagai suporter ProFauna, maka di akhir Februari lalu saya langsung mendaftar sebagai suporter. Penantian antara saat mendaftar sebagai suporter dengan pelaksanaan konferensi, antara Februari ke Juni, bagi saya terasa tak lama. Tiba-tiba sudah masuk Juni, dan konferensi akan segera dimulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya agak terlambat tiba di konferensi yang dibuka pada Jum’at petang tanggal 3 Juni 2011 sehingga saya tidak mengikuti sesi pembukaan. Saya tiba di lokasi yang berjarak sekitar 10 km dari kota Malang itu sekitar pukul 21.30 WIB, dan setelah mendaftar ke panitia, saya langsung istirahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadwal konferensi selama dua hari, Sabtu dan Ahad, saya lihat sangat padat. Sabtu pagi hingga siang, dari jam 8 pagi hingga jam 12, kami mendapatkan empat materi, yakni tentang rehabilitasi orangutan, pendidikan konservasi alam, penyelamatan satwa di tengah letusan Gunung Merapi, dan investigasi perdagangan satwa liar di Jakarta. Yang menarik, jadwal yang padat ini berlangsung secara efektif. Materi yang disampaikan dapat dipaparkan secara ringkas, padat, kaya informasi, dan tetap interaktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini pelajaran pertama yang saya dapatkan di konferensi ini: mengelola waktu secara efektif dalam sebuah acara seperti konferensi ini penting. Tentu saja ini mengandaikan kemampuan narasumber dan juga peserta untuk mendukung efektivitas jadwal yang sudah dirancang. Narasumber mempersiapkan alur materi dengan baik, dan peserta mencerna serta memberi respons dengan fokus, tepat dan baik pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Materi konferensi yang lain tak jauh berbeda seperti yang di Sabtu pagi hingga siang. Ada tentang pelestarian burung nuri dan kakatua (burung paruh bengkok) di Maluku, juga tentang pelestarian penyu di Pantai Kuta. Ada pula materi yang bersifat wawasan, seperti tentang Islam dan perlindungan satwa, yang menghadirkan K.H. M. Azizi Chasbulloh, salah satu pengurus LBM NU Jawa Timur. Ada juga materi yang bersifat praktis-strategis: strategi kampanye perlindungan satwa liar dan hutan yang disampaikan oleh Mas Rosek, dan pengenalan membuat film tentang alam yang disampaikan oleh Joe Yaggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara bermacam materi dalam konferensi ini, saya sangat tertarik dengan paparan yang menuturkan pengalaman para suporter ProFauna di lapangan yang bergiat di bidang penyelamatan satwa. Rentang wilayahnya pun cukup beragam, mulai dari penyelamatan satwa dalam bencana letusan Gunung Merapi, hingga kegiatan yang mengandung unsur investigasi seperti tentang perdagangan satwa di Jakarta dan juga pelestarian burung paruh bengkok di Maluku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tema-tema paparan yang saya sebut terakhir ini nuansanya cukup berbeda dengan paparan tentang rehabilitasi orangutan yang disampaikan oleh &lt;a href="http://www.linkedin.com/profile/view?id=35743985&amp;amp;authType=NAME_SEARCH&amp;amp;authToken=9Rop&amp;amp;locale=en_US&amp;amp;srchid=e38f9a25-c619-4633-8f5a-d5ecf9e02d19-0&amp;amp;srchindex=15&amp;amp;srchtotal=24&amp;amp;goback=%2Efps_PBCK_*1_Ian_Singleton_*1_*1_*1_*1_*2_*1_Y_*1_*1_*1_false_2_R_true_CC%2CN%2CG%2CI%2CPC%2CED%2CL%2CFG%2CTE%2CFA%2CSE%2CP%2CCS%2CF%2CDR_*2_*2_*2_*2_*2_*2_*2_*2_*2_*2_*2_*2_*2_*2_*2_*2_*2_*2_*2_*2&amp;amp;pvs=ps&amp;amp;trk=pp_profile_name_link"&gt;Ian Singleton&lt;/a&gt;, meskipun sama-sama bertolak dari pengalaman di lapangan. Ian, yang selama presentasi fasih sekali berbahasa Indonesia hingga banyak menggunakan ungkapan-ungkapan bahasa percakapan terkini, memang secara profesional bekerja sebagai direktur konservasi di &lt;a href="http://www.paneco.org/"&gt;PanEco Foundation&lt;/a&gt;—sebuah lembaga berbasis di Swiss yang fokus di isu satwa liar. Sedang para suporter ProFauna yang terlibat dalam kegiatan lapangan penyelamatan satwa liar di Jakarta, Maluku, dan yang lainnya, sehari-hari sebenarnya bekerja di bermacam bidang. Keprihatinan dan semangat merekalah yang menyatukan sehingga mereka bisa bergandeng tangan dalam sebuah proyek kampanye penyelamatan satwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, di antara beberapa suporter ProFauna ada yang memiliki bekal keahlian dan keilmuan tertentu yang cukup memadai dan kemudian dibaktikan untuk semangat dan kepedulian mereka. Di antara suporter, cukup banyak yang berlatar keilmuan biologi, kedokteran hewan, dan juga kehutanan. Namun demikian, kesediaan mereka untuk meluangkan waktu, tenaga, dan bahkan biaya untuk melakukan sesuatu demi pelestarian satwa liar dan habitatnya menunjukkan bahwa mereka adalah sosok yang penuh semangat dan pengabdian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertemu dan berkumpul dengan sejumlah orang-orang seperti ini telah menyulut optimisme dan semangat saya sendiri. Di tengah berbagai persoalan bangsa yang beraneka rupa dan cukup pelik, masih ada sekian orang yang penuh semangat dan dedikasi, berbuat sesuatu untuk masa depan yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di sini saya jadi teringat kutipan menarik yang dilontarkan &lt;a href="http://www.goodreads.com/author/show/61107.Margaret_Mead"&gt;Margaret Mead&lt;/a&gt; (1901-1978), seorang antropolog Amerika, yang menyatakan: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Never depend upon institutions or government to solve any problem. All social movements are founded by, guided by, motivated and seen through by the passion of individuals.”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-eua3_bjMWpk/TiQ6gaThQuI/AAAAAAAAA4c/6NR80RZy5Bc/s1600/ProFauna%2B2011%2B-%2BPresentasi%2BMas%2BRosek.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 288px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-eua3_bjMWpk/TiQ6gaThQuI/AAAAAAAAA4c/6NR80RZy5Bc/s400/ProFauna%2B2011%2B-%2BPresentasi%2BMas%2BRosek.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5630689762611380962" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Di ProFauna Conference 2011 inilah, saya menemukan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“the passion of individuals”&lt;/span&gt; yang tampak sangat kuat itu. Dari situ saya dapat menangkap sebuah potensi besar yang ada di masyarakat kita: bahwa masih banyak orang-orang yang peduli pada masyarakat, bangsa, dan lingkungan sekitarnya. Tinggal bagaimana memberi wadah dan mengorganisasi potensi semacam ini. Pada titik inilah, saya acungkan jempol dan rasa kagum yang luar biasa untuk ProFauna, khususnya buat Mas Rosek Nursahid yang telah merintis, terus merawat, mengorganisasi, dan mendayagunakan salah satu bentuk nyata dari potensi tersebut. Kekaguman saya bertambah besar saat tahu jumlah suporter ProFauna yang kini sudah lebih setengah juta dan juga bagaimana mereka bahu-membahu secara swadaya untuk membiayai berbagai macam kegiatan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat dan inspirasi adalah oleh-oleh terbesar saya setelah mengikuti ProFauna Conference 2011 ini. Lebih dari itu, saya bangga telah bisa ikut serta dan menjadi bagian dari lembaga yang berdiri sejak tahun 1994 dan telah memiliki cabang di Inggris, Prancis, dan Australia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maju terus ProFauna Indonesia!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9718171-5744603098580902536?l=rindupulang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rindupulang.blogspot.com/feeds/5744603098580902536/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9718171&amp;postID=5744603098580902536&amp;isPopup=true' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/5744603098580902536'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/5744603098580902536'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rindupulang.blogspot.com/2011/07/profauna-dan-passion-of-individuals.html' title='ProFauna dan “the Passion of Individuals”'/><author><name>M Mushthafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14972221113444541130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_3KV1whPNznA/R6GvxNRKpvI/AAAAAAAAAAg/WtDlof24hV0/S220/My+Name+is+Musthov+for+Blog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-tSKdGWeAOGk/TiRBNLMk11I/AAAAAAAAA4k/HV6Ms87xF-k/s72-c/ProFauna%2B2011%2B-%2BMalam%2Bpenutupan.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9718171.post-7147255631708131166</id><published>2011-06-08T17:16:00.002+07:00</published><updated>2012-01-18T11:57:35.923+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diary'/><title type='text'>Suara Senja</title><content type='html'>Sore ini saya duduk sendiri di sini, di pinggiran desa yang sunyi dan dikelilingi hutan berjarak beberapa kilometer dari kota Malang. Di sini, jarang sekali saya mendengar bunyi mesin kendaraan sejak tiba Jum’at petang yang lalu. Sesekali di kejauhan saya mendengar lamat-lamat alunan pengeras suara memutar lagu-lagu atau ayat suci di malam hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore ini, di sekeliling, di antara rerimbunan pohon menjulang dan udara dingin, berbagai macam binatang berbunyi. Cicak, aneka serangga dan burung, dan di kejauhan ada juga suara lutung. Menyimaknya lebih dalam, saya membayangkan seolah-olah mereka itu adalah para pengisi suara dari sebuah film kolosal yang disutradarai oleh Sang Maha Pencipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore ini saya bersyukur telah sedikit menemukan waktu jeda. Meski bukan jeda dari segalanya, paling tidak saya berkesempatan untuk mendengarkan suara senja di sebuah tempat baru yang kadang terasa asing ini. Senja yang mendung dan berkabut memang bisa membawa sedikit murung. Tapi saya mencoba menangkap suara senja yang lain dari binatang-binatang liar yang ada di sekeliling saya saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Adakah mereka sekarang sedang menyuarakan keriangan? Adakah mereka tengah merayakan kebebasan? Ataukah mereka tengah menyampaikan rasa terima kasih mereka kepada beberapa manusia di sini yang terus saling bergandeng tangan memperjuangkan hak-hak para satwa liar? Atau mungkinkah saja mereka sedang menyuarakan protes-protes mereka atas kerakusan manusia yang telah menepikan nilai kehidupan mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara-suara mereka bergabung dengan suara alam lainnya di sini: desir angin, riak dedaunan, dan suara-suara lainnya. Semua tampak tengah membentuk harmoni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senja hari ini akan segera berakhir. Tapi saya yakin bahwa harmoni itu akan terus berlanjut ke malam, lalu ke dinihari, pagi, siang, dan tiba kembali di senja seperti sekarang ini. Selain Sang Waktu, siapa lagi yang bisa menghentikan harmoni mereka ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tahu bahwa waktu yang saya punya hanyalah setitik dari seluruh rangkaian putaran harmoni semesta ini. Sore ini, di detik-detik yang tersisa, saya berusaha menyerahkan waktu jeda saya untuk bergabung dalam harmoni alunan semesta. Saya mencoba menjadi bagian dari mereka. Di antara keheningan, saya mencoba bergabung dan merasakan indahnya harmoni suara senja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petungsewu, 6 Juni 2011&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9718171-7147255631708131166?l=rindupulang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rindupulang.blogspot.com/feeds/7147255631708131166/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9718171&amp;postID=7147255631708131166&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/7147255631708131166'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/7147255631708131166'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rindupulang.blogspot.com/2011/06/suara-senja.html' title='Suara Senja'/><author><name>M Mushthafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14972221113444541130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_3KV1whPNznA/R6GvxNRKpvI/AAAAAAAAAAg/WtDlof24hV0/S220/My+Name+is+Musthov+for+Blog.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9718171.post-7106073995956700472</id><published>2011-04-12T19:08:00.001+07:00</published><updated>2012-01-17T13:58:48.409+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='School Corner'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Literacy'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Education'/><title type='text'>Buku dan Pengalaman-Belajar Alternatif</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-ElafoSiKaaA/TaRqXaTuXcI/AAAAAAAAA3E/9huOdtANoxg/s1600/Tebal%252C%2Bsiapa%2Btakut%2B-%2BFoto%2Boleh%2BM.%2BMushthafa%2B-%2BPerpus%2BMadaris%2B3%2BAnnuqayah.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 274px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-ElafoSiKaaA/TaRqXaTuXcI/AAAAAAAAA3E/9huOdtANoxg/s400/Tebal%252C%2Bsiapa%2Btakut%2B-%2BFoto%2Boleh%2BM.%2BMushthafa%2B-%2BPerpus%2BMadaris%2B3%2BAnnuqayah.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5594713587532586434" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jika saya ditanya tentang kekuatan paling besar yang dimiliki sebuah buku, maka pikiran saya akan terarah pada keterpautan buku sebagai simbol dari pengetahuan, ilmu, dan belajar. Tentu semua orang akan sepakat bila saya mengatakan bahwa buku adalah semacam kotak besar yang memuat khazanah pengetahuan yang berharga. Namun, lebih dari itu, buku menurut saya dapat menyediakan sebuah pengalaman-belajar alternatif yang sangat kaya makna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran tentang “pengalaman-belajar alternatif” dalam kaitannya dengan buku muncul setelah dalam beberapa tahun terakhir saya bergelut secara langsung dengan dunia pendidikan formal, yakni mengajar di SMA 3 Annuqayah di pedalaman Madura, tepatnya di Guluk-Guluk, Sumenep, dan merefleksikan pergulatan saya dengan buku sejak masa-masa kecil di sekolah dahulu. Dari satu sisi, saya memahami sekolah sebagai tempat yang menyediakan ruang dan kesempatan bagi para muridnya untuk mendapatkan pengalaman-belajar melalui berbagai proses kependidikan yang berlangsung di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dari pengamatan selintas dan kesan yang saya rekam sejauh ini dari berbagai pembicaraan dengan rekan-rekan guru dari berbagai sekolah, saya menangkap bahwa sekolah menghadapi banyak tantangan untuk dapat memberi pengalaman-belajar yang bernilai dan kontekstual kepada para murid. Di antara tantangannya, sekolah kadang terjebak dan sulit bersiasat dalam kekakuan sistem yang digunakannya sehingga kurang memberi ruang pada kreativitas dan improvisasi yang mungkin dilakukan demi memperkaya bentuk dan muatan nilai aktivitas kependidikan sebagai sebuah pengalaman-belajar. Di daerah pedalaman seperti tempat saya mengajar, tantangannya bisa juga berupa keterbatasan sarana pembelajaran, keterbatasan kemampuan guru, dan setumpuk masalah lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, dalam konteks aneka persoalan yang dihadapi sekolah sebagai ruang pengalaman-belajar, saya kemudian berpikir bahwa buku—yang, sekali lagi, sejajar dengan simbol pengetahuan, ilmu, dan belajar—sebenarnya dapat menjadi pengalaman-belajar alternatif bagi murid-murid di sekolah. Sebagai ruang pengalaman-belajar alternatif, saya mencatat bahwa buku menyimpan sejumlah ciri kekuatan yang sungguh luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, sebagai ruang belajar, buku merangsang pembacanya untuk menjadi pembelajar-mandiri yang aktif. Membaca buku menuntut pengaktifan seluruh potensi dan kekuatan komprehensi si pembaca untuk dapat menyerap poin-poin gagasan yang disampaikan. Lebih jauh lagi, sejak awal, ketika seseorang memilih sebuah buku untuk dibaca, dia sebenarnya telah secara aktif memulai proses belajar. Mentalitas pembelajar-mandiri ini sekarang terasa sangat penting ketika kita dihadapkan dengan kenyataan bahwa kita hidup di zaman yang menyediakan berlimpah pengetahuan dan informasi dari berbagai sumber yang begitu banyak dan cukup mudah diakses. Buku-buku, koran, majalah, akses internet, saat ini relatif telah cukup tersebar, jauh berbeda dengan pengalaman saya ketika duduk di bangku SLTA sekitar 15 tahun yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pembelajar-mandiri, seorang pembaca buku juga dituntut memiliki karakter-karakter positif yang mendukung. Misalnya, dia harus menjadi sosok yang punya inisiatif. Aktivitas belajar yang dia lakukan dengan membaca buku digerakkan bukan terutama oleh orang lain, tapi atas dasar inisiatif yang tumbuh dari dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, seorang pembaca buku sebagai pembelajar-mandiri juga harus memiliki sifat tekun. Menamatkan sebuah buku memang sering kali mengharuskan si pembaca untuk kuat menekuri kalimat demi kalimat, paragraf demi paragraf, dan halaman demi halaman dari sebuah buku, mengikuti butir-butir gagasan pengarangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan yang kedua, sebagai ruang belajar, buku mampu menembus berbagai keterbatasan yang dimiliki oleh ruang belajar seperti di sekolah. Kurikulum, kebijakan pendidikan nasional, keterbatasan alokasi waktu, dan mungkin faktor-faktor teknis lainnya, menjadi tantangan yang bisa menghambat pemenuhan semangat keilmuan murid di sekolah. Sebaliknya, buku menyerahkan banyak faktor penentu ruang belajar kepada si pembaca, sehingga dia dapat lebih leluasa dalam memenuhi hasrat dan semangat keilmuan serta “keliaran” imajinasi dan kreativitasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pribadi merasakan kekuatan buku sebagai ruang pengalaman-belajar alternatif ini. Pendidikan dasar hingga menengah saya dijalani di lingkungan Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, yang ketika itu, yakni mulai pertengahan 1980-an hingga 1997, masih memiliki keterbatasan dalam sarana dan aktivitas kependidikan. Namun demikian, kecintaan saya pada buku memberi saya ruang dan pengalaman-belajar yang sungguh membentuk banyak hal yang positif. Meski dahulu akses informasi, dan termasuk juga buku, di Pesantren Annuqayah pada umumnya relatif terbatas, tapi saya merasa, paling tidak, telah cukup berhasil menanamkan semangat kecintaan pada buku sehingga ketika kemudian saya berkesempatan untuk melanjutkan kuliah ke Yogyakarta dan lalu ke Belanda dan Norwegia, semangat dan kecintaan saya pada buku menemukan ruang pemenuhan yang seperti tak terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat masa-masa saya di Yogyakarta, terutama di masa awal, saya betul-betul dapat merasakan betapa saya berusaha cukup keras untuk menempatkan buku sebagai surga bagi pemenuhan pengalaman-belajar alternatif dengan berbagai nilai dan kekuatan sebagaimana disebutkan di atas. Jika sebelumnya di kampung halaman di Madura saya cukup sulit mengakses buku, di Yogyakarta saya merasa cukup mudah menemukan buku bacaan yang cocok untuk memenuhi kehausan saya pada ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenikmatan dan manfaat yang saya rasakan selama bergelut dengan teks-teks buku itu pelan-pelan akhirnya membentuk karakter pribadi yang terus mencintai ilmu dan menghargai pengetahuan, sehingga terus bisa menyemangati dan mendorong saya untuk tak berhenti menjadi pembelajar-mandiri. Saat ini, kembali hidup dan bergiat di kampung halaman di Madura, saya tetap merawat semangat dan kecintaan saya pada buku, karena saya tahu dan bisa merasakan bahwa buku akan membalas cinta saya padanya dengan banyak hal yang sangat berharga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah. Kekuatan terbaik buku yang saya rasakan, singkatnya, adalah bahwa ia memberi saya butir hikmah berharga bahwa hidup itu adalah untuk belajar, tanpa batas usia, formalitas, ruang dan waktu. Dan dari buku-buku sejarah saya juga tahu, bahwa semangat seperti inilah yang menjadi mesin utama kemajuan peradaban.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9718171-7106073995956700472?l=rindupulang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rindupulang.blogspot.com/feeds/7106073995956700472/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9718171&amp;postID=7106073995956700472&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/7106073995956700472'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/7106073995956700472'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rindupulang.blogspot.com/2011/04/buku-dan-pengalaman-belajar-alternatif.html' title='Buku dan Pengalaman-Belajar Alternatif'/><author><name>M Mushthafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14972221113444541130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_3KV1whPNznA/R6GvxNRKpvI/AAAAAAAAAAg/WtDlof24hV0/S220/My+Name+is+Musthov+for+Blog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-ElafoSiKaaA/TaRqXaTuXcI/AAAAAAAAA3E/9huOdtANoxg/s72-c/Tebal%252C%2Bsiapa%2Btakut%2B-%2BFoto%2Boleh%2BM.%2BMushthafa%2B-%2BPerpus%2BMadaris%2B3%2BAnnuqayah.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9718171.post-103006037324093673</id><published>2011-03-31T22:35:00.016+07:00</published><updated>2011-08-22T04:58:27.134+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Environmental Issues'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ethics'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Social-Politics'/><title type='text'>Jam Bumi dan Keadilan Energi</title><content type='html'>Menjelang akhir pekan lalu, di berbagai media, saya menemukan banyak sekali kampanye untuk ikut serta dalam program Jam Bumi (&lt;i&gt;Earth Hour&lt;/i&gt;), yakni aksi memadamkan listrik pada hari Sabtu, 26 Maret 2011 pukul 20.30-21.30 waktu setempat. Aksi ini dimaksudkan untuk mengingatkan umat manusia tentang gaya hidup konsumtif, terutama dalam kaitannya dengan penggunaan energi, yang dalam taraf tertentu berdampak pada nasib dan keberlanjutan bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulit untuk dipungkiri bahwa saat ini manusia memang telah mengubah wajah bumi sedemikian rupa. Di Majalah &lt;i&gt;National Geographic Indonesia &lt;/i&gt;edisi Maret 2011, ada sebuah tulisan menarik yang menceritakan penelitian para ahli geologi dan stratigrafi tentang dampak aktivitas manusia di abad ini terhadap bumi. Seorang ahli kimia peraih Nobel dari Belanda, Paul Crutzen, menyebut era ini sebagai kala Antroposen untuk menggambarkan besarnya dampak aktivitas manusia di bumi. Memang, para ilmuwan masih sulit merumuskan bukti bebatuan yang akan menjadi rujukan geologis dari era ini, karena efek kala Antroposen lebih banyak bersifat tidak kasat mata, seperti perubahan komposisi atmosfer. Namun, melihat dampak besar yang terjadi saat ini, para ilmuwan itu memandang tak mustahil bahwa manusia bisa menyebabkan terjadinya “kemusnahan massal keenam”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dalam tulisan tersebut, digambarkan bahwa untuk mengukur dampak manusia terhadap bumi, kita bisa memasukkan tiga variabel: populasi, kemakmuran, dan teknologi. Nah, dalam kerangka ketiga variabel ini, saya pikir energi memiliki peran yang cukup penting. Dalam kemakmuran dan teknologi, jelas ada energi. Lebih jauh, dari berbagai sumber, kita dapat membaca betapa konsumsi energi kita luar biasa. Di tulisan yang saya sebut di atas juga digambarkan bagaimana perusahaan minyak bekerja mengebor tanpa henti untuk meratakan puncak pegunungan Appalachia untuk menambang batu bara, yang memasok separuh listrik Amerika Serikat. Juga ada foto hamparan ladang minyak South Belridge, California, yang ditemukan pada 1911 dan terus diekspolitasi dan menghasilkan 32 juta barel per tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam Bumi, yang dilakukan pada akhir pekan terakhir di bulan Maret, adalah semacam jeda sejenak untuk menekan nafsu konsumtif manusia. Ia diharapkan dapat menjadi pengingat atas kehausan energi yang diumbar oleh manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sangat sepakat dengan ide dasar Jam Bumi yang katanya dicetuskan di Australia pada Maret 2007 ini. Namun, mungkin karena saya dibesarkan dan tinggal di pelosok desa di pedalaman Madura yang cukup sering mengalami pemadaman listrik, ada gagasan-gagasan lain yang muncul dalam pikiran saya sejak pertama berhadapan dengan kampanye masif Jam Bumi tahun lalu. Ide-ide itu semakin ramai berbicara di pikiran saya menjelang akhir pekan yang lalu karena kebetulan tiga bulan terakhir saya mencoba mencatat jumlah pemadaman listrik yang terjadi di tempat tinggal saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/-EJbqo2HKl7Y/TZSj9pHTLEI/AAAAAAAAA2o/Ac0Q-m4Uyc4/s400/Iklan%2BPLN%2BKompas%2B12012011%2Bhlm%2B2.jpg" style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 332px;" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5590273316877446210" /&gt;Saya melakukan ini karena tergerak oleh iklan Perusahaan Listrik Negara (PLN) di beberapa koran nasional pada tanggal 12 Januari 2011 lalu yang di antaranya memaparkan data pemadaman listrik tahun 2010. Di situ disebutkan bahwa di wilayah Pamekasan, sepanjang 2010 terjadi 25 kali pemadaman. Saya pikir, Sumenep termasuk dalam data tersebut. Begitu melihat iklan itu, saya spontan mempertanyakan data yang ditampilkan PLN tersebut. Memang, dalam iklan itu tidak dijelaskan yang dimaksud pemadaman itu apa, berlangsung berapa lama, dan seterusnya. Tapi saya merasa bahwa di daerah saya, listrik begitu sering padam. Karena itu, sejak melihat iklan itu, saya mencoba mencatat pemadaman listrik yang terjadi di wilayah saya. Hasilnya: hingga 26 Maret lalu, listrik padam sudah terjadi 27 kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saya bertanya apa saya perlu ikut serta dalam aksi Jam Bumi jika di daerah saya listrik sudah sering kali padam, ini sama sekali bukan berarti saya tak setuju dengan poin yang mendasari Jam Bumi. Sekali lagi, saya sungguh sepakat dengan nilai-nilai yang mendasari kampanye Jam Bumi. Pertanyaan ini sebenarnya saya munculkan lebih untuk melihat persoalan konsumsi energi ini secara lebih utuh dan menyeluruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajakan untuk menghemat energi tentulah nilai yang positif. Akan tetapi, penting untuk dicatat bahwa upaya pembentukan gaya hidup hemat energi dengan seruan seperti itu berada dalam kategori &lt;i&gt;personal (environmental) ethic&lt;/i&gt;. Menurut saya, berbicara tentang energi, seperti juga isu lingkungan yang lain, kita tak boleh berhenti hanya pada tingkat personal semacam ini. Transformasi nilai yang semata bersifat personal tak akan punya kekuatan yang cukup kuat untuk bisa berdampak luas dalam bentuk perubahan sosial (Nordström, 2008: 133-134).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus ada upaya yang lebih luas ke arah kebijakan publik yang mendukung tak hanya pada upaya pembentukan gaya hidup hemat energi, tapi juga pada keadilan energi. Contoh keadilan energi yang paling mudah dicerna tergambar dalam data yang menunjukkan bahwa 23% energi global dikonsumsi Amerika Serikat yang penduduknya hanya 5% dari warga dunia (&lt;i&gt;National Geographic&lt;/i&gt;, Detak Bumi 2010).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gandi R. Setyadi, salah seorang kenalan saya saat di Trondheim, Norwegia, yang pernah memaparkan makalah tentang situasi energi di Indonesia dalam forum Persatuan Pelajar Indonesia Trondheim tahun lalu, menjelaskan bahwa di tahun 2008, 54% energi dikonsumsi oleh sektor industri, 32% oleh sektor transportasi, dan 14% oleh sektor rumah tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isu keadilan energi ini buat saya menjadi penting tak hanya karena listrik sering padam di wilayah saya, yang berada di wilayah pelosok atau kampung. Bukan hanya karena saya dan para tetangga saya—atau mereka yang kira-kira senasib—tampak mengonsumsi energi lebih sedikit dibanding mereka yang tinggal di Jakarta atau kota-kota besar dunia lainnya sehingga mestinya seruan dan aksi Jam Bumi harus diletakkan dalam proporsi yang lebih tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari itu, saya sering mendengar keluhan warga kepulauan Sumenep yang masih tak bisa menikmati keadilan energi di negeri ini, sedang wilayah mereka sebenarnya kaya migas dan telah dieksploitasi. Di Kangean, wilayah kepulauan Sumenep yang berada di arah timur Pulau Madura, misalnya, masyarakatnya masih kesulitan listrik, padahal sejak 1982 di blok migas Kangean telah beroperasi banyak perusahaan migas (&lt;a href="http://www.jatam.org/content/view/653/21/"&gt;Em Lukman Hakim&lt;/a&gt;, Harian &lt;i&gt;Surya&lt;/i&gt;, 24 Januari 2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara seruan aksi Jam Bumi tetap bernilai penting, di sisi yang lain, bagaimanapun, kita juga harus melihat fakta-fakta seperti ini, yang tiada lain menyiratkan adanya ketidakadilan energi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di sini saya semakin merasa bahwa upaya yang lebih sistematis, utuh, dan menyeluruh sangatlah penting. Sekali lagi, kebajikan personal tidaklah cukup. Harus ada kebijakan publik yang mendukung. Saya teringat salah satu bagian dalam buku &lt;i&gt;&lt;a href="http://rindupulang.blogspot.com/2009/07/jerat-liberalisasi-dan-kedaulatan.html"&gt;Di Bawah Bendera Asing&lt;/a&gt;&lt;/i&gt; (LP3ES, 2009) yang ditulis oleh teman kelas saya dulu di Filsafat UGM, M. Kholid Syeirazi. Saya kira saya perlu mengutip langsung bagian yang saya maksud itu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menyerukan penghematan energi merupakan perbuatan mulia, tetapi akan sia-sia jika dia merupakan &lt;i&gt;excuse &lt;/i&gt;dari kegagalan mengurus sektor energi. Menyerukan rakyat menghemat BBM, misalnya, tidak akan sinkron dengan kebijakan meliberalisasi industri otomotif yang membuat sektor ini tumbuh dua digit dalam beberapa tahun terakhir. Padahal, sumber energi di sektor ini nyaris belum terdiversifikasi, dengan ketergantungan pada BBM mencapai 99,9 persen (hlm. 257-258).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun penting pula untuk dicatat bahwa kealpaan atau kelalaian kita dan sejumlah pihak pada aspek keadilan energi ini tak juga berarti bahwa upaya membangun &lt;i&gt;personal ethic &lt;/i&gt;di bidang energi berupa langkah penghematan (personal) menjadi tak penting. Jika ada orang yang abai dengan aspek personal ini dengan dasar tuntutan pemenuhan keadilan energi, maka mungkin itu dapat dilihat sebagai bentuk sikap yang salah kaprah dan cari-cari alasan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulannya, dua aspek itu sama penting. Dan poin utama tulisan ini sebenarnya hanya sekadar ingin mengingatkan dan menegaskan dimensi yang lebih utuh untuk melengkapi gaya hidup hemat energi, yakni sisi keadilan energi yang musti diperjuangkan oleh semua pihak.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9718171-103006037324093673?l=rindupulang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rindupulang.blogspot.com/feeds/103006037324093673/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9718171&amp;postID=103006037324093673&amp;isPopup=true' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/103006037324093673'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/103006037324093673'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rindupulang.blogspot.com/2011/03/jam-bumi-dan-keadilan-energi.html' title='Jam Bumi dan Keadilan Energi'/><author><name>M Mushthafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14972221113444541130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_3KV1whPNznA/R6GvxNRKpvI/AAAAAAAAAAg/WtDlof24hV0/S220/My+Name+is+Musthov+for+Blog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-EJbqo2HKl7Y/TZSj9pHTLEI/AAAAAAAAA2o/Ac0Q-m4Uyc4/s72-c/Iklan%2BPLN%2BKompas%2B12012011%2Bhlm%2B2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9718171.post-8622392586389890728</id><published>2011-03-25T20:30:00.008+07:00</published><updated>2011-04-12T23:40:38.194+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='School Corner'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Education'/><title type='text'>Juara Sepanjang Masa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-2-ZVhcHLTms/TYybaQr7_JI/AAAAAAAAA2g/EJdE5Ti7zg4/s1600/Juara%2BSepanjang%2BMasa.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 347px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-2-ZVhcHLTms/TYybaQr7_JI/AAAAAAAAA2g/EJdE5Ti7zg4/s400/Juara%2BSepanjang%2BMasa.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5588012113118100626" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hampir tiga bulan yang lalu, di sebuah pertemuan dengan wali murid di sekolah tempat saya mengajar, ada sebuah pertanyaan menarik yang dilontarkan oleh seorang wali murid. Dia bertanya tentang prestasi murid di sekolah dalam ajang perlombaan baik di tingkat lokal, regional, maupun nasional. “Apa ada yang pernah menang olimpiade sains baik di tingkat regional atau nasional?” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan ini saya duga muncul setelah belakangan masyarakat Madura, khususnya di wilayah Sumenep dan Pamekasan, cukup sering mendapat informasi di media massa tentang pelajar Madura yang menang di ajang bergengsi olimpiade sains internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Faktanya, murid-murid di sekolah tempat saya mengajar, SMA 3 Annuqayah, tak memiliki prestasi bergengsi seperti itu. Menurut catatan sekolah, murid SMA 3 Annuqayah kebanyakan “hanya” pernah menang di beberapa ajang lomba tingkat kabupaten. Memang, sekolah kami masih belum punya prioritas untuk membibit murid-murid di ajang lomba seperti itu. Kami menghadapi banyak keterbatasan. Pembelajaran sains, terutama yang mengarah pada prestasi akademik seperti ini, masih belum menjadi agenda pengembangan yang utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh ini, pikiran saya tentang prioritas pengembangan pendidikan di sekolah lebih banyak tertuju pada upaya untuk menciptakan satu model pendidikan yang kontekstual, yakni suatu model pendidikan yang betul-betul berupaya menghubungkan aktivitas pembelajaran dengan kebutuhan murid dan komunitas masyarakat. Setelah beberapa tahun bergelut di dunia pendidikan, saya merasa bahwa pendidikan di sekolah sering tidak cukup tersambung dengan kebutuhan anak didik dan masyarakat serta kurang mampu memancing daya kritis mereka membaca kenyataan hidup di sekitar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh yang sering saya kemukakan untuk gagasan ini terkait dengan bidang pertanian dan kesehatan. Saya kadang menyesalkan mengapa sekolah kurang menyentuh dan mengembangkan hal yang terkait dengan pertanian dan kesehatan dari apa yang selama ini sudah tumbuh dan berkembang di masyarakat. Padahal murid-murid di sekolah tempat saya mengajar hampir semua berlatar belakang keluarga petani dengan kemampuan ekonomi yang terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya cukup sering bertanya-tanya kenapa sekolah tidak berusaha memahami, menelaah lebih dekat, dan bahkan mungkin mencarikan jalan keluar bagi keluhan-keluhan dan kesulitan hidup yang dihadapi kaum petani. Tentang pengembangan pupuk, benih, pestisida, pemasaran hasil pertanian, dan sebagainya. Ini bukan berarti sekolah harus ikut-ikutan masuk ke wilayah politik atau kebijakan. Paling tidak ada upaya-upaya nyata untuk bisa ikut berempati dengan masalah-masalah sehari-hari yang dihadapi petani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin bahwa para petani sesungguhnya punya khazanah pengetahuan tentang bagaimana mengolah lahan dan produk pertanian mereka—demikian juga halnya di bidang kesehatan. Nah, yang saya sesalkan, di tengah ancaman hilangnya khazanah pengetahuan lokal gara-gara tergeser oleh gugus pengetahuan (modern) baru (di bagian ini, saya teringat Vandana Shiva yang menyinggung tentang penyingkiran pengetahuan lokal oleh ideologi developmentalisme), mengapa sekolah seperti diam saja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat saya, kepekaan untuk membaca masalah yang ada di masyarakat semacam ini perlu diutamakan untuk didorong di sekolah. Dengan kata lain, sesederhana apa pun pengetahuan yang mungkin dan berhasil diolah serta dicapai oleh murid dan komunitas sekolah pada umumnya, yang paling penting adalah bagaimana capaian itu bisa memberi manfaat kepada masyarakat dan komunitas. Paling tidak, jika belum ada hal yang berhasil dicapai, kegiatan pembelajaran oleh murid dan guru di sekolah diarahkan pada visi seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke soal ajang kompetisi seperti olimpiade sains internasional sebagaimana disebut di atas, saya kadang bertanya-tanya: di manakah mereka saat ini, pelajar-pelajar yang pernah menorehkan prestasi emas di olimpiade internasional itu? Apa yang sudah mereka berikan kepada komunitas tempat mereka dibesarkan? Apakah mereka bisa turut serta menjaga dan mengembangkan khazanah pengetahuan nenek moyang mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka menjawab pertanyaan si wali murid di atas tadi, saya katakan bahwa untuk saat ini, sekolah kami lebih memprioritaskan pada upaya penumbuhan semangat berbagi kepada masyarakat, semangat untuk memberikan hal sekecil apa pun pada masyarakat, yang kalau bisa tak hanya bersifat sesaat, tapi berkelanjutan. Jika ada murid punya kemampuan menjahit, mari kita dorong dia untuk dapat mengajarkan keterampilannya itu pada rekannya di sekolah. Jika ada yang bagus mengaji al-Qur’an, mari dorong dan beri dia kesempatan untuk mengajarkannya pada teman di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berpikir bahwa prestasi di lomba-lomba, jika hanya menjadi alat (entah untuk tujuan apa), kadang bisa melenakan. Bila sudah menang lomba ini itu, seakan semuanya selesai. Sampai di situ saja. Padahal pendidikan di sekolah bukan dirancang agar anak pintar menjawab soal-soal di ajang cerdas cermat atau saat menghadapi ujian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu cara pandang seperti ini bukan serta merta berarti bahwa menang di ajang lomba bertaraf internasional bukan menjadi impian kami. Forum semacam itu sangat baik  untuk memberi kesempatan murid-murid memiliki pengalaman dan interaksi yang lebih kaya—meski pengalaman yang kaya juga bisa didapat dari forum-forum lain di luar ajang lomba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah tempat saya mengajar masih memiliki banyak keterbatasan. Dengan dana yang terbatas, kami berupaya mengelola kegiatan pengembangan mutu pendidikan, termasuk yang secara langsung berkaitan dengan kegiatan ekstra-kurikuler, dengan penekanan visi pada pembentukan sistem pendidikan yang menekankan pada upaya menjawab tantangan dan kebutuhan kontekstual masyarakat yang berkesinambungan dan padu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kerangka ini, prestasi kependidikan pada akhirnya buat saya terutama bukanlah soal menang di lomba ini itu. Tapi lebih pada bagaimana murid-murid dibekali kepekaan, kemampuan, pengetahuan, dan pengalaman untuk membaca dan merespons persoalan di sekeliling mereka. Memang mungkin prestasi semacam ini tak cukup mudah terlihat secara langsung. Tak ada piala dan panggung megah yang membanggakan. Tapi saya pikir jenis prestasi yang semacam ini dapat lebih baik, setidaknya pada sisi nilai keberlanjutan dan manfaat bagi masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pikir, dengan visi semacam ini, saya ingin menjaga agar kegiatan pendidikan dapat tetap memihak pada kelompok-kelompok marginal yang rentan terhadap berbagai bentuk ancaman kehidupan global sekarang ini. Bagi saya, agenda visi semacam ini cukup menantang karena harus dinegosiasikan dalam sebuah sistem yang cukup rumit dan tak steril dari kepentingan banyak pihak. Akan tetapi, jika kami nanti berhasil membuat sedikit saja langkah maju dalam kerangka visi semacam ini, ya, sedikit saja, rasanya kami seakan telah menjadi juara sepanjang masa.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9718171-8622392586389890728?l=rindupulang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rindupulang.blogspot.com/feeds/8622392586389890728/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9718171&amp;postID=8622392586389890728&amp;isPopup=true' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/8622392586389890728'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/8622392586389890728'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rindupulang.blogspot.com/2011/03/juara-sepanjang-masa.html' title='Juara Sepanjang Masa'/><author><name>M Mushthafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14972221113444541130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_3KV1whPNznA/R6GvxNRKpvI/AAAAAAAAAAg/WtDlof24hV0/S220/My+Name+is+Musthov+for+Blog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-2-ZVhcHLTms/TYybaQr7_JI/AAAAAAAAA2g/EJdE5Ti7zg4/s72-c/Juara%2BSepanjang%2BMasa.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9718171.post-4362439638046836016</id><published>2011-03-02T19:30:00.004+07:00</published><updated>2011-03-03T05:31:05.078+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Daily Life'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Social-Politics'/><title type='text'>Bahasa Tubuh</title><content type='html'>Sekitar akhir 2009 yang lalu, saat saya masih di Utrecht, saya ingat pernah membaca sebuah &lt;a href="http://madeandi.wordpress.com/2010/12/28/tips-beasiswa-tes-ielts-dan-wawancara-ads/"&gt;tulisan&lt;/a&gt; di blog teman saya tentang kiat mengikuti tes wawancara untuk beasiswa luar negeri. Dalam tulisannya itu, ia menjelaskan tentang pentingnya mengelola bahasa tubuh yang baik selama wawancara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat tulisan teman saya ini setelah saya selesai mengikuti wawancara di Jakarta untuk seleksi program pertukaran pemuda ke Australia dan kemudian tepat keesokan harinya saya punya urusan pribadi di sebuah kantor pemerintahan di kawasan Senayan. Saya teringat tulisan teman saya tersebut gara-gara memperhatikan bahasa tubuh pejabat yang berhadapan dengan saya di Senayan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama beberapa menit—mungkin sampai belasan menit—si pejabat berhadapan dengan saya, saya tak ingat dia sempat menatap mata atau wajah saya—bahkan sepertinya juga orang sebelum saya. Dia berbicara sambil melihat atau membolak-balik berkas-berkas yang saya bawa, atau melihat ke arah layar komputer. Benar, bahkan saya sungguh tak ingat dia melirik ke saya atau antrean orang setelah saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Saya rasa saya tak perlu cerita detail tentang bagaimana bahasa tubuh si pejabat ini. Namun jika Anda kebetulan warga Sumenep, rasanya Anda tak akan cukup sulit untuk bisa punya pengalaman serupa dan menangkap poin cerita saya. Cukup datang ke kantor pemerintahan untuk sebuah urusan, maka peluang Anda untuk punya pengalaman seperti saya mungkin bisa di atas 50 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke tulisan teman saya itu, dia menulis bahwa soal &lt;i&gt;attitude &lt;/i&gt;atau sopan santun dalam wawancara sebenarnya adalah sesuatu yang &lt;i&gt;common sense&lt;/i&gt;, bisa ditangkap dengan pemahaman biasa. Pandangan mata, misalnya, bisa menunjukkan seberapa santun sikap seseorang terhadap lawan bicaranya. Jika dalam sebuah tes wawancara Anda berbicara tanpa pernah menatap mata lawan bicara Anda, tentu itu bukan sebuah sikap yang baik. Demikian pula, permainan air muka dan gerakan mata Anda ketika menyimak atau untuk menanggapi pembicaraan si pewawancara akan menunjukkan seberapa Anda memperhatikan dan berusaha masuk ke dalam tema perbincangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di sini saya pun juga teringat pada uraian &lt;a href="http://plato.stanford.edu/entries/foucault/"&gt;Michel Foucault&lt;/a&gt; (1926-1984) tentang lahirnya pola relasi baru antara dokter dan pasien di Eropa di akhir abad ke-18, sebagaimana ia paparkan dalam &lt;i&gt;The Birth of the Clinic&lt;/i&gt;. Akibat penemuan otopsi yang memungkinkan penyelidikan mendalam pada organ-organ interior tubuh manusia, lahirlah sistem katalogisasi ekspresi simptomik tubuh pasien di setiap rumah sakit. Sistem klasifikasi simptom ini menurut Foucault melahirkan cara pandang baru dunia medis untuk memahami pasien lebih sebagai fakta patologis (&lt;i&gt;a pathological fact&lt;/i&gt;). Nah, di titik ini, Foucault lalu menggambarkan struktur persepsi dokter yang baru ini dalam istilah “gaze” (“regard”, dalam bahasa Prancis), yang berarti “sorot mata” atau “tatapan”. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan munculnya cara pandang baru di luar kedudukan pasien sebagai subjek manusia yang harus disembuhkan, yakni dengan memberi porsi yang besar pada penyelidikan (“sorot mata klinis”) atas reaksi-reaksi patologis tubuh pasien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tahu apa jika Foucault hidup di zaman sekarang dia akan menyelidiki pola relasi antara pejabat publik di birokrasi dan masyarakat seperti dalam pengalaman saya di atas. Tapi saya merasa bahwa penelitian Foucault atas buku-buku kedokteran klinis yang ditulis antara tahun 1790 hingga 1820 (yang kemudian melahirkan buku &lt;i&gt;The Birth of the Clinic&lt;/i&gt;) dan termasuk juga penelitiannya tentang penjara dan semacamnya cukup sejalan dengan konteks yang sedang saya ceritakan di sini. Semuanya berada dalam kerangka disiplin, yang oleh &lt;a href="http://rindupulang.blogspot.com/2002/06/genealogi-rasisme-kelas-menengah-eropa.html"&gt;Seno Joko Suyono&lt;/a&gt; (2002) dipandang sebagai kata kunci Foucault dalam menjelaskan pembentukan diri-eksternal kelas menengah Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sorot mata baru dalam dunia medis di Eropa dinilai begitu penting oleh Foucault dalam membentuk tatanan masyarakat baru di Eropa, saya tidak tahu seberapa penting dan mendalam makna bahasa tubuh atau sorot mata pejabat publik seperti dalam kisah saya ini. Lebih jauh, apakah cara perlakuan seperti ini memang terjadi secara luas ataukah hanya di wilayah atau situasi tertentu? Juga, sejak kapan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan ini sendiri sebenarnya lahir setelah ada cerita senada yang saya dengar dari seorang teman beberapa hari yang lalu saat ia punya urusan di sebuah kantor pemerintahan di Sumenep. Teman saya itu bercerita tentang ucapan-ucapan dan bahasa tubuh seorang pejabat yang sama sekali tak simpatik. Saya sama sekali tak heran mendengar cerita teman saya itu, karena sesungguhnya saya sendiri &lt;a href="http://rindupulang.blogspot.com/2009/07/arogansi-mental-tak-mau-melayani.html"&gt;pernah mengalaminya&lt;/a&gt; saat mengurus prasyarat keberangkatan saya ke Eropa pertengahan 2009 lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas semua kisah semacam ini, saya kadang berpikir: jika masyarakat senantiasa atau sering sekali punya pengalaman buruk dalam berhubungan dengan pejabat publik, apakah itu tidak berarti bahwa negara diam-diam sedang berusaha tampil sebagai sosok yang menakutkan bagi para warganya? Tidakkah pengalaman semacam ini akan membentuk persepsi publik untuk melihat negara bukan sebagai bagian dari dirinya, bahkan sebagai sosok “penjajah” atau sosok yang korup, sehingga negara kemudian semata menjadi semacam formalitas yang hanya dibutuhkan untuk mengisi formulir data pribadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9718171-4362439638046836016?l=rindupulang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rindupulang.blogspot.com/feeds/4362439638046836016/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9718171&amp;postID=4362439638046836016&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/4362439638046836016'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/4362439638046836016'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rindupulang.blogspot.com/2011/03/bahasa-tubuh.html' title='Bahasa Tubuh'/><author><name>M Mushthafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14972221113444541130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_3KV1whPNznA/R6GvxNRKpvI/AAAAAAAAAAg/WtDlof24hV0/S220/My+Name+is+Musthov+for+Blog.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9718171.post-7917651490468767449</id><published>2010-11-17T17:02:00.008+07:00</published><updated>2011-11-28T17:49:28.609+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Daily Life'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Environmental Issues'/><title type='text'>Ironi Pengetahuan</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/TOOoq7BOEgI/AAAAAAAAA0s/TGGs6UJ0k5c/s1600/Aqua%2BArjuno.JPG"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5540457421946622466" src="http://3.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/TOOoq7BOEgI/AAAAAAAAA0s/TGGs6UJ0k5c/s400/Aqua%2BArjuno.JPG" style="cursor: hand; cursor: pointer; display: block; height: 214px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 400px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bila orang pada umumnya menyatakan bahwa pengetahuan itu memberi terang, saya kini punya pikiran lain. Ada kalanya pengetahuan tertentu justru menggelisahkan. Setidaknya, itulah yang saya alami pagi tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersilaturahmi di hari lebaran, di rumah seorang famili, tadi pagi saya disuguhi air minum dalam kemasan. Merknya Aqua. Saya tak punya masalah kesehatan dengan air minum dalam kemasan. Namun saya bermasalah dengan merk Aqua—gara-gara pengetahuan saya. Apalagi, air minum yang isi bersihnya 240 ml itu tepat dikeluarkan dari pabrik Aqua kedua di Pandaan yang telah beroperasi sejak 1984. Saat saya melirik ke labelnya, tampak jelas tertulis: “Mata Air Pandaan, Gunung Arjuno”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kegelisahan saya itu terjadi karena pengetahuan saya. Saat di Trondheim, Norwegia, bulan April lalu, saya sempat membaca sebuah berita di laman Media Indonesia Online (yang sekarang sudah tak bisa diakses, tapi masih terdokumentasi di &lt;a href="http://www.walhi.or.id/ruang-media/walhi-di-media/1191-aktivitas-perusahaan-air-minum-ancam-debit-air-tanah-di-gunung-arjuno?lang=in"&gt;laman Walhi&lt;/a&gt;) tentang aktivitas perusahaan Aqua yang mengancam debit air tanah di Gunung Arjuno. Dilaporkan bahwa PT Tirta Investama (Danone Aqua) setiap hari mengeksploitasi 1,5 juta liter air tanah di lereng Gunung Arjuno. Akibatnya, warga Pasuruan banyak yang mengeluh karena sumber mata air mereka banyak yang mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mencoba membayangkan angka 1,5 juta liter itu, dan saya lalu teringat pada air botol Aqua kemasan 1,5 liter. Jika air yang dieksploitasi setiap hari itu dikemas dengan botol ukuran 1,5 liter, maka itu akan sama dengan sejuta botol kemasan 1,5 liter! Imajinasi visual tentang sejuta botol yang berderet tiap hari, siap diangkut, didistribusikan, dan dijual itu, terasa mengganggu pikiran saya. Ke manakah mereka itu semua akan berakhir?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu setengah juta liter! Jika setiap orang rata-rata memakai air bersih sebanyak 150 liter per hari, maka air yang dieksploitasi Aqua setiap hari di Pasuruan itu cukup untuk jatah sepuluh ribu orang yang tinggal di Pasuruan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah sejenis pengetahuan yang menggelisahkan. Atau, dalam istilah &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Michael_Moore"&gt;Michael Moore&lt;/a&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;the awful truth&lt;/span&gt;. Dan pengetahuan ini kemudian menemukan momentumnya untuk menggelisahkan saya tadi pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, masalah terbesar yang saya hadapi dalam kasus ini bukan terletak pada aspek teoretis atau konseptual. Masalahnya ada pada tindakan, yakni bagaimana saya menyikapi dan merespons pengetahuan saya itu. Pengetahuan itu telah merepotkan saya, memaksa saya untuk berpikir kembali untuk menjulurkan tangan saya meraih satu-satunya pilihan air minum yang tersedia di tempat itu pagi tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lalu teringat pembahasan Franz Magnis-Suseno tentang kebebasan, yang kemudian menyadarkan saya bahwa pada saat semacam tadi pagi itulah saya sebenarnya dapat menegaskan bahwa saya memiliki kebebasan. Saya punya kebebasan karena saya memiliki pilihan—dengan berbagai konsekuensinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saya pun tahu, pilihan apa yang sebaiknya saya ambil pagi tadi. Ya, setidaknya pagi tadi—entah lain kali.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9718171-7917651490468767449?l=rindupulang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rindupulang.blogspot.com/feeds/7917651490468767449/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9718171&amp;postID=7917651490468767449&amp;isPopup=true' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/7917651490468767449'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/7917651490468767449'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rindupulang.blogspot.com/2010/11/ironi-pengetahuan.html' title='Ironi Pengetahuan'/><author><name>M Mushthafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14972221113444541130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_3KV1whPNznA/R6GvxNRKpvI/AAAAAAAAAAg/WtDlof24hV0/S220/My+Name+is+Musthov+for+Blog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/TOOoq7BOEgI/AAAAAAAAA0s/TGGs6UJ0k5c/s72-c/Aqua%2BArjuno.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9718171.post-793616853870895024</id><published>2010-11-16T19:28:00.005+07:00</published><updated>2011-08-19T14:39:48.318+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Literacy'/><title type='text'>Bagikan Pengalamanmu, Bagikan Kisah-Kisahmu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/TOJ5qP4c0qI/AAAAAAAAA0k/CCz8Da3o_IU/s1600/Warande%252C%2BZeist%252C%2BUtrecht%2BOkt%2B2009.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 288px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/TOJ5qP4c0qI/AAAAAAAAA0k/CCz8Da3o_IU/s400/Warande%252C%2BZeist%252C%2BUtrecht%2BOkt%2B2009.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5540124258343899810" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kini yang tersisa adalah penyesalan. Waktu jelas tak bisa terulang. Sekarang saya hanya bisa meratap mengapa dahulu saya tak rajin menuliskan semuanya—pengalaman penuh warna yang sebelumnya bahkan tak terbayangkan akan dapat saya lewati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Kamis dua pekan yang lalu, di kelas Jurnalistik, setelah beberapa pekan awal memberi bekal wawasan pengetahuan dan pengantar umum tentang jurnalisme, saya mencoba menanamkan semangat kepenulisan kepada murid-murid setingkat SLTA di siang itu. Saya memperkenalkan gagasan tentang jurnalisme warga (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;citizen journalism&lt;/span&gt;) kepada mereka dengan sebuah kerangka yang “agak politis”. Saya katakan bahwa media arus utama tak selalu sudi berbagi ruang untuk menuturkan hal-hal penting yang terkait dengan kepentingan masyarakat luas. Karena itu, kita sebagai warga masyarakat mestinya juga terlatih dan memiliki kemampuan untuk menuliskan hal-hal penting di sekitar kita. Bahkan hal yang personal pun terkadang dapat memiliki nilai penting yang lebih luas, yakni dapat menjangkau pada kepentingan masyarakat luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Saat berdiskusi tentang jurnalisme warga itu, pikiran saya sebenarnya tengah mendua. Jika yang keluar dari mulut saya adalah semacam upaya menyulut semangat murid-murid untuk menulis, benak saya saat itu dipenuhi dengan penyesalan. Pikiran saya melayang ke Belanda, tepat setahun yang lalu, saat saya mencoba mencatat &lt;a href="http://rindupulang.blogspot.com/2009/11/daun-daun-yang-berpulang.html"&gt;kisah daun-daun yang berjatuhan&lt;/a&gt; di musim gugur, lalu juga perjalanan kereta di suatu senja &lt;a href="http://rindupulang.blogspot.com/2009/11/di-sepanjang-titik-titik-perjalanan.html"&gt;dari Leiden ke Utrecht&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa sesal yang menyelimuti pikiran saya muncul saat saya menyadari betapa banyak pengalaman-pengalaman menarik lainnya yang tak sempat saya catat. Pengalaman di hari-hari pertama saat baru tiba di Belanda di tengah menjalankan ibadah puasa, misalnya, hanya sempat saya catat dengan cara yang terlalu kaku dan “kering”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiba di Utrecht awal September tahun lalu, saya memang langsung disambut dengan berbagai kesibukan, mulai dari perkuliahan dengan tugas-tugas yang langsung berjibun, urusan administrasi dengan Kantor Registrasi Kota dan kampus, termasuk juga pengenalan lingkungan untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Tambahan lagi, itu semua harus dilakukan bersama penyesuaian cuaca baru dan antisipasi yang kurang matang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kalau dipikir-pikir, mestinya semua situasi itu tak bisa menjadi alasan atas kelalaian saya melewatkan momen-momen yang tak tercatat itu. Justru sebaliknya: mestinya itu semua menjadi dorongan sehingga momen yang penuh warna itu dapat terekam dalam sebuah komposisi yang dapat dibaca di kemudian hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun saya patut juga bersyukur bahwa selama di Utrecht dalam waktu lima bulan, lebih sepuluh tulisan telah saya tulis. Mengingat kembali masa-masa itu setahun yang lalu, saya berpikir bahwa salah satu faktor yang membantu saya menjaga semangat kepenulisan saya waktu itu adalah &lt;a href="http://blogs.rnw.nl/pengalamanku/"&gt;Blog Pengalamanku&lt;/a&gt; yang dikelola oleh Radio Nederland Wereldomroep (RNW) yang memberi ruang bagi orang-orang Indonesia di Belanda untuk membagikan cerita dan pengalaman mereka. Bahkan saya berhasil mendapatkan tiga sovenir dari Blog Pengalamanku untuk tulisan-tulisan yang saya kirimkan—yakni iPod Nano yang kemudian menemani hari-hari saya bersepeda dan menikmati Belanda dan Eropa, hardisk eksternal 1 terra yang lalu dibuat untuk menyimpan file-file penting yang saya dapatkan di Eropa, dan E-Book Reader yang sungguh bermanfaat buat saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sekitar lima bulan kembali beraktivitas di kampung halaman, saya terkadang geregetan saat membaca tulisan-tulisan pengalaman teman-teman saya di Eropa, baik yang ditulis di blog pribadi maupun Blog Pengalamanku RNW. Sekali lagi, saya kini hanya bisa menyesal. Lebih dari itu, bahkan kesibukan-kesibukan di kampung halaman pun belakangan telah melumpuhkan semangat saya untuk terus menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang benar, waktu tak dapat dibeli. Momen dan kesempatan hanya datang satu kali. Karena itulah, selagi Anda sedang berada dalam sebuah ruang pengalaman yang unik, semisal pengalaman bertajuk “pengalaman-Eropa”, maka kesempatan semacam itu jangan disia-siakan. Tuliskan, bagikan!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9718171-793616853870895024?l=rindupulang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rindupulang.blogspot.com/feeds/793616853870895024/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9718171&amp;postID=793616853870895024&amp;isPopup=true' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/793616853870895024'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/793616853870895024'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rindupulang.blogspot.com/2010/11/bagikan-pengalamanmu-bagikan-kisah.html' title='Bagikan Pengalamanmu, Bagikan Kisah-Kisahmu'/><author><name>M Mushthafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14972221113444541130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_3KV1whPNznA/R6GvxNRKpvI/AAAAAAAAAAg/WtDlof24hV0/S220/My+Name+is+Musthov+for+Blog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/TOJ5qP4c0qI/AAAAAAAAA0k/CCz8Da3o_IU/s72-c/Warande%252C%2BZeist%252C%2BUtrecht%2BOkt%2B2009.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9718171.post-735249794512376228</id><published>2010-08-30T07:35:00.014+07:00</published><updated>2011-01-25T19:32:20.509+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ethics'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Education'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Social-Politics'/><title type='text'>Problem Etis dalam Pembiayaan Pendidikan</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;i&gt;Pemiskinan Negara, Kepentingan Publik, dan Otonomi Pendidikan Masyarakat&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam berbagai level kehidupan, pendidikan memainkan peran yang sangat strategis. Pendidikan memberi banyak peluang untuk meningkatkan mutu kehidupan. Dengan pendidikan yang baik, potensi kemanusiaan yang begitu kaya pada diri seseorang dapat terus dikembangkan. Pada tingkat sosial, pendidikan dapat mengantarkan seseorang pada pencapaian dan strata sosial yang lebih baik. Secara akumulatif, pendidikan dapat membuat suatu masyarakat lebih beradab. Dengan demikian, pendidikan, dalam pengertian yang luas, berperan sangat penting dalam proses transformasi individu dan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menyadari nilai strategis pendidikan tersebut, dalam konteks kehidupan bermasyarakat dan bernegara, muncul pertanyaan awal: siapakah yang memiliki kewajiban untuk membiayai pendidikan? Negara, masyarakat, atau kedua-duanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 31 ayat (1) menyebutkan bahwa “setiap warga negara berhak mendapat pendidikan”, dan ayat (3) menyebutkan bahwa “pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang”. Pasal ini dapat dilihat sebagai landasan normatif yang mewajibkan negara untuk memenuhi hak setiap warga negara agar bisa mendapatkan pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kewajiban negara untuk menyediakan dan memenuhi hak warga negara atas pendidikan dibangun di atas asumsi yang terkait erat dengan bagaimana kehidupan bermasyarakat terbentuk. Dalam teori kontrak sosial, dijelaskan bahwa masyarakat politis terbentuk berkat adanya kontrak atau konsensus nasional. Ada kesepakatan bersama tentang nilai-nilai yang menjadi landasan kehidupan bermasyarakat dan tujuan yang dihendak diraih. Kesepakatan ini juga terkait dengan sarana, proses, dan prosuder pelaksanaannya (Sugiharto &amp;amp; Rachmat W., 2000: 46-47). Dalam konteks Indonesia, hal ini tergambar dalam Pembukaan UUD 1945 dan UUD 1945.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, untuk memenuhi amanat “mencerdaskan kehidupan bangsa”, yang kemudian diturunkan ke dalam pasal 31 UUD 1945, negara, di antaranya, berkewajiban untuk membiayai pendidikan. Perlu dicatat di sini bahwa pembiayaan adalah salah satu bagian dari pengelolaan. Artinya, terkait pendidikan, negara secara umum berkewajiban menyelenggarakan pengelolaan pendidikan (termasuk dalam hal pembiayaan) untuk dapat memenuhi hak setiap warga negara. Ini adalah premis pertama yang dapat dirumuskan dalam diskusi kita ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di sini, jika disepakati bahwa pada tingkat tertentu negara memiliki kewajiban untuk membiayai pendidikan, muncul pertanyaan lainnya: bagaimana dan di manakah posisi masyarakat?  Apakah masyarakat juga punya kewajiban untuk berpartisipasi dalam pembiayaan pendidikan? Pertanyaan ini juga mengimplikasikan pertanyaan lain: jika kewajiban negara untuk membiayai pendidikan tidak bersifat penuh, mengapa pada tingkat tertentu partisipasi publik dalam pembiayaan pendidikan itu tetap harus ada dan diperlukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di balik uraian dan pertanyaan terakhir ini, problem etis yang mungkin muncul dapat ditelusuri dengan mempertanyakan: adakah dampak/problem etis yang dapat muncul ketika negara dalam batas tertentu memiliki kewajiban dan wewenang untuk membiayai dan mengelola pendidikan? Adakah dampak/problem etis ketika publik tidak berpartisipasi pada pembiayaan pendidikan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Problem etis ini pada dasarnya adalah persoalan lanjutan dari diskusi soal legitimasi etis penggunaan dan batas wewenang kekuasaan negara. Apakah “negara memiliki hak untuk mencampuri segala urusan masyarakat, untuk menentukan segala-galanya?” (Magnis-Suseno, 1994: 177).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aspek normatif dan problem etis yang muncul dari masalah pembiayaan pendidikan ini akan berusaha didiskusikan dalam tulisan ini. Diskusi akan juga banyak terfokus pada problem umum pendidikan di Indonesia, yang baik secara langsung atau tidak dipandang terkait erat dengan asumsi kewajiban dan wewenang negara untuk mengelola pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kewajiban Negara&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anies Baswedan, rektor Universitas Paramadina dan ketua Gerakan Indonesia Mengajar menyatakan bahwa dalam hal pemberantasan buta huruf, Indonesia memiliki prestasi yang cukup membanggakan. Saat republik ini berdiri, angka buta huruf mencapai 95 persen (&lt;a href="http://nasional.kompas.com/read/2010/08/05/19062486/Anies.Indonesia.Butuh.Gagasan.Baru"&gt;di sumber yang lain&lt;/a&gt; Anies menyebut 80 persen). Dan sekarang, angka itu turun menjadi 8 persen (&lt;a href="http://www.jawapos.com/halaman/index.php?act=detail&amp;amp;nid=147164"&gt;Baswedan, 2010&lt;/a&gt;). Bahkan, menurut Direktur Jenderal Pendidikan Nonformal dan Informal Departemen Pendidikan Nasional, Hamid Muhammad, total jumlah warga buta aksara 9,7 juta atau 5,97 persen dari jumlah penduduk Indonesia (&lt;i&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2009/04/28/08551648/64.Persen.Perempuan.Buta.Huruf"&gt;Kompas&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2009/04/28/08551648/64.Persen.Perempuan.Buta.Huruf"&gt;, 28/04/2009&lt;/a&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dari banyak segi yang lain, dunia pendidikan di Indonesia saat ini menghadapi banyak masalah. Di antara yang utama adalah soal akses. Menurut data Depdiknas, pada tahun pelajaran 2007/2008, 2,2 juta anak usia wajib belajar (7-15 tahun) tak menikmati pendidikan dasar sembilan tahun terutama karena faktor ekonomi dan kurangnya kesadaran orangtua. Untuk anak usia 16-18 tahun, ada 5,5 juta yang tak bersekolah. Sedangkan usia 19-24 tahun, 20,7 juta tak mengenyam bangku kuliah (&lt;i&gt;&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/2009/12/11/03472010/22.juta.anak.tak.sekolah"&gt;Kompas&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/2009/12/11/03472010/22.juta.anak.tak.sekolah"&gt;, 11/12/2009&lt;/a&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akses yang sulit ini menjadi semakin problematis ketika kesenjangan akses pendidikan ini dalam kasus tertentu didukung oleh kebijakan negara. Darmaningtyas, misalnya, menyorot kebijakan pengembangan rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) dan sekolah bertaraf internasional (SBI) yang justru mendorong terbentuknya kastanisasi sekolah. Keberadaan sekolah yang sebelumnya berlabel “unggulan” ini dilegitimasi dalam UU Sistem Pendidikan Nasional No 20/2003. Pasal 50 Ayat 3: ”Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan jadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional”. Masalahnya adalah: sekolah jenis ini mendapat gelontoran dana yang cukup besar dari pemerintah, dan pada saat yang sama diberi kebebasan untuk memungut dana tambahan dari murid. Pendidikan menjadi elitis, dan akses masyarakat miskin untuk jenis pendidikan semacam ini seperti menjadi mustahil (&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/06/02/0912354/Kasta.dan.ISO.di.Sekolah"&gt;Darmaningtyas, 2010&lt;/a&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika menurut UUD 1945 negara berkewajiban untuk memenuhi hak pendidikan warga negaranya, bagaimana kita menilai pemenuhan kewajiban tersebut? Apakah negara sudah dapat dikatakan berhasil menunaikan kewajibannya? Dalam buku&lt;i&gt; &lt;a href="http://rindupulang.blogspot.com/2008/11/pamflet-panjang-tragedi-pendidikan.html"&gt;Utang dan Korupsi Racun Pendidikan&lt;/a&gt;&lt;/i&gt; (2008), Darmaningtyas menyatakan bahwa negara belum dapat memenuhi kewajibannya tersebut. Tyas menyebut tiga faktor penyebabnya, yakni utang luar negeri, korupsi, dan inefisiensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warisan utang luar negeri yang menggunung telah berakibat pada berbagai sektor kepentingan publik. Pada tahun 2003, total utang Indonesia mencapai US$ 150 miliar. Jumlah ini melampaui produk domestik bruto (GDP) yang dihasilkan Indonesia. Pada 2004, total pembayaran bunga pinjaman memakan 92,67% total penerimaan negara, yakni sebesar US$ 7,9 miliar. Karena beban pembayaran utang begitu tinggi, maka dampak yang paling terasa oleh masyarakat saat ini adalah pengurangan subsidi untuk berbagai sektor, mulai dari pendidikan, kesehatan, perumahan, pertanian, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Korupsi terjadi di mana-mana, mulai dari lembaga pemerintah, BUMN, lembaga legislatif, bahkan juga dalam dunia pendidikan. Tyas menguraikan bahwa dana pinjaman untuk beasiswa dan Dana Bantuan Operasional (DBO) untuk membantu sektor pendidikan pada saat krisis ternyata juga banyak mengalami kebocoran dan salah sasaran. Temuan Tim Pengendali Program JPS yang diketuai Mar’ie Muhammad memaparkan bahwa salah sasaran program beasiswa SD-SMTA mencapai 60%. Pada saat yang sama pemerintah justru mengucurkan dana BLBI yang mencapai 144 triliun rupiah untuk para pengusaha yang hingga kini penyelesaiannya masih gelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, inefisiensi terjadi baik terkait dana pendidikan, dana negara, atau dana masyarakat. Karena tak efisien, dana yang memang terbatas itu jauh dari sasaran, bocor ke mana-mana, atau diterima oleh orang yang tidak tepat. Di antara contoh yang dikemukakan adalah pemborosan dana dalam pelaksanaan pilkada atau pemilu. Contoh lainnya yang cukup dekat dengan kita adalah kasus pembangunan gedung SMPN 2 Pasongsongan, Sumenep. Bangunan sekolah tersebut memiliki sembilan ruang kelas, satu ruang guru, satu ruang perpustakaan, dan satu ruang laboratorium. Padahal, ketika Tyas berkunjung ke sana tahun 2002, sekolah itu hanya memiliki 63 murid—artinya, hanya membutuhkan 3 ruang kelas. Di Madiun dibangun gedung senilai Rp 43 miliar untuk rintisan Sekolah Bertaraf Internasional yang akhirnya mangkrak dan tak digunakan, karena pejabatnya belum siap menjalankan program tersebut. Di sekolah, inefisiensi juga banyak ditemukan, mulai dari program &lt;i&gt;study tour&lt;/i&gt;, penyediaan seragam, buku LKS, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun secara umum dapat dikatakan bahwa pemenuhan kewajiban negara untuk menyediakan pendidikan bagi warga negara sejauh ini tampak problematis, di sisi yang lain kita juga melihat bahwa semenjak era reformasi dan era otonomi daerah peluang masyarakat dan lembaga pendidikan untuk memperoleh bantuan dana (pembiayaan) pendidikan dari pemerintah menjadi semakin lebar. Isu reformasi, demokratisasi, dan transparansi memaksa pemerintah untuk lebih terbuka mengelola dana yang dimilikinya, termasuk dana pendidikan. Berbagai jenis bantuan dan tunjangan untuk pendidikan semakin banyak. Hal ini terjadi juga karena didorong oleh amanat konstitusi untuk mengalokasikan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20 persen dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang cukup menarik untuk direnungkan adalah: apakah setelah negara, pada tingkat tertentu, memberi perhatian yang lebih pada sisi pembiayaan, hal itu kemudian diiringi dengan peningkatan mutu pendidikan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, penting juga dicatat bahwa hingga kini pun, masalah korupsi dan inefisiensi masih terus membelit dunia pendidikan kita. Tambahan lagi, meski faktanya berbagai jenis bantuan dana tampak semakin banyak diturunkan ke sekolah-sekolah, negara juga diam-diam mulai melepas tanggung jawabnya dari kewajiban untuk membiayai pendidikan. Ini di antaranya tampak dalam UU Nomor 9 Tahun 2009 tentang Badan Hukum Pendidikan—yang beberapa bulan lalu dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi (lebih jauh, baca dua tulisan Darmaningtyas di &lt;i&gt;&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/2010/04/07/03193757/implikasi.pembatalan.uu.bhp"&gt;Kompas&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/2010/04/07/03193757/implikasi.pembatalan.uu.bhp"&gt;, 7 April 2010&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/2010/05/03/0443515/Kanibalisasi.UU.BHP"&gt;3 Mei 2010&lt;/a&gt; tentang masalah ini, termasuk tentang ancamannya meski UU tersebut sudah dibatalkan MK).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Peran Serta Masyarakat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika negara tampak gagal dan bahkan mulai menghindar memenuhi kewajibannya untuk menyediakan pendidikan bagi warga negara, lalu bagaimanakah peran serta masyarakat dalam pendidikan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menteri Agama, Suryadharma Ali, pernah menyatakan bahwa dari 41 ribu madrasah yang ada di Indonesia, 92 persen di antaranya dibangun pihak swasta—hanya 8 persen yang dibangun oleh pemerintah. Di beberapa daerah, mayoritas madrasah didirikan oleh kiai dengan tujuan  mengabdi untuk kepentingan masyarakat (&lt;i&gt;&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/2010/05/15/05091991/92.persen.madrasah.dibangun.swasta"&gt;Kompas&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/2010/05/15/05091991/92.persen.madrasah.dibangun.swasta"&gt;, 15/5/2010&lt;/a&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterlibatan kiai atau pesantren dalam proses pendidikan di Indonesia sebenarnya memiliki akar historis yang panjang. Kita tahu bahwa cukup banyak pesantren di Indonesia yang berdiri sejak paruh kedua abad ke-19 yang lalu dan punya andil yang besar dalam proses pendidikan di masyarakat. Menurut Gus Dur, pesantren mula-mula berfungsi sebagai instrumen islamisasi, tapi kemudian beralih ke fungsi kemasyarakatan yang lebih luas, yakni dengan terlibat dalam proses transformasi kultural yang bersifat total. Ini tergambar dari kisah para kiai yang dengan sengaja mendirikan pesantren dengan sengaja di daerah-daerah “hitam” pinggiran kota (Wahid, 2001: 93).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai unit kultural, pesantren sering pula digambarkan berperan sebagai subkultur. Pesantren memiliki kelengkapan nilai, bangunan sosial, dan tujuan-tujuannya sendiri. Gus Dur menyebut tiga nilai utama di pesantren, yakni (1) cara memandang kehidupan secara keseluruhan sebagai ibadah; (2) kecintaan pada ilmu-ilmu agama yang tertanam begitu kuat; dan (3) ketulusan bekerja untuk tujuan bersama. Dalam konteks pendidikan, posisi pesantren sebagai subkultur pada tingkat tertentu menunjukkan adanya watak mandiri (otonomi) pesantren, baik menyangkut sistem dan struktur pendidikan (Wahid, 2001: 97-103).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Interaksi pesantren sebagai subkultur dengan institusi lain di luarnya, termasuk negara, sangat menarik untuk diamati. Saat ini, cukup banyak pesantren telah melakukan sejumlah kompromi utamanya dengan negara terkait dengan pengelolaan pendidikan. Masuknya sistem pendidikan formal ala negara, dengan berbagai konsekuensinya, pada satu sisi memperlihatkan lenturnya watak mandiri (atau otonomi) pesantren dalam mendefinisikan dan mengelola sistem pendidikan yang dimilikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika hal semacam ini digambarkan sebagai bentuk akomodasi pesantren atas aspirasi masyarakat agar pendidikan yang diikutinya di pesantren juga masuk dalam pengakuan formal negara, maka ini mungkin dapat dilihat sebagai—apa yang oleh Gus Dur disebut—contoh keterbatasan watak subkultur pesantren. Mungkin situasi ini dapat pula digambarkan sebagai keadaan ketika sebuah pesantren tak mampu melaksanakan tugas transformasi kulturalnya secara total, sehingga ia justru akan ditransformasikan oleh keadaan atau institusi lain di luarnya (Wahid, 2001: 102).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan pembiayaan pendidikan, saat ini sangat banyak lembaga pendidikan yang dikelola oleh masyarakat (swasta), termasuk juga pesantren, yang menikmati gelontoran dana dari pemerintah. Pertanyaan reflektif yang dapat diajukan adalah: seberapa jauh hal tersebut memengaruhi watak dan terutama nilai-nilai utama pendidikan yang sebelumnya menjadi pedoman lembaga tertentu yang dimiliki oleh masyarakat (seperti pesantren)?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada titik inilah soal partisipasi masyarakat menemukan poin pentingnya untuk didiskusikan lebih mendalam. Negara memang punya kewajiban untuk membiayai pendidikan (atau, secara umum, menyediakan pendidikan bagi setiap warga negara). Akan tetapi, kewajiban dan wewenang negara ini haruslah diberi batasan dan kerangka yang jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, perlu ditegaskan bahwa fungsi negara pada dasarnya bersifat subsider. Negara bukanlah tujuan dalam dirinya sendiri. Ia dibuat untuk mendukung upaya masyarakat memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya. Negara harus memberi ruang kepada masyarakat (dan anggota-anggotanya) untuk mengurus dirinya sendiri, termasuk dalam hal menentukan apa yang mereka butuhkan. Jika wewenang negara tidak dibatasi dan meliputi semua segi kehidupan masyarakat, maka itu disebut negara totaliter. Negara totaliter menyangkal asumsi bahwa ia hanya pelengkap usaha masyarakat dan bahwa masyarakat memiliki hak moral untuk mengurus dirinya masing-masing (Magnis-Suseno, 1994: 178-179).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara memang harus memenuhi kewajibannya membiayai pendidikan. Tapi masyarakat harus diberi otonomi dalam mendefinisikan pendidikan macam apa yang mereka butuhkan. Jika negara membiayai pendidikan, dan pada saat yang sama menggerogoti partisipasi masyarakat, dan kemudian mengharuskan pengelolaan pendidikan &lt;i&gt;sepenuhnya &lt;/i&gt;berada dalam kewenangannya, maka kepentingan publik bisa saja terancam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ancaman atas kepentingan publik ini menjadi semakin kuat jika kita menempatkan posisi negara yang dalam konteks globalisasi cenderung tunduk pada kepentingan lain, entah itu korporasi atau pemegang kapital, atau institusi lainnya yang pada tingkat tertentu mengisyaratkan lemahnya kedaulatan suatu negara. Dalam situasi seperti inilah, pendidikan bisa saja berbalik arah dan justru mendukung proses pemiskinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pendidikan dan Pemiskinan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana mungkin pendidikan dapat berkontribusi pada proses pemiskinan? Bukankah jika demikian yang terjadi berarti pendidikan telah jelas-jelas bertentangan dengan tujuan awalnya, yakni untuk meningkatkan martabat manusia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah pemiskinan merujuk pada adanya upaya aktif yang berakibat terjadinya keadaan atau status miskin pada individu atau kelompok masyarakat tertentu. Adapun kemiskinan itu sendiri pada dasarnya dapat dilihat sebagai pencederaan atas konsep keadilan sosial yang sejatinya juga menjadi bagian dari cita-cita atau tujuan berdirinya negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, dalam situasi tertentu, bisa saja negara mendukung bagi terlembaganya proses pemiskinan di masyarakat, termasuk melalui pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh mengenai institusi pendidikan, kritik Ivan Illich (2000) dalam bukunya yang sudah menjadi klasik, &lt;i&gt;&lt;a href="http://rindupulang.blogspot.com/2000/12/melucuti-hak-istimewa-sekolah.html"&gt;Deschooling Society&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;, amatlah relevan untuk dikemukakan di sini. Illich menegaskan adanya konspirasi antara kapitalisme dan sekolah yang didukung oleh kekuasaan hegemonik negara. Sekolah, seperti juga halnya negara, hanya menjadi pelayan para pemilik modal. Sekolah dalam lingkungan kapitalis sama sekali tidak mengembangkan kegiatan belajar atau mengajarkan keadilan, sebab sekolah lebih menekankan pengajaran menurut kurikulum yang telah dipaket demi memperoleh sertifikat. Sertifikat ini nantinya akan digunakan sebagai alat legitimasi bagi individu untuk memainkan perannya dalam pasar kerja yang tersedia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senada dengan Illich, Vandana Shiva juga menegaskan bagaimana institusi pendidikan mempromosikan pendekatan reduksionis yang menjadi paradigma sains modern. Reduksionisme, yang menjadi basis epistemologis paradigma pembangunan (developmentalisme), menampik berbagai pengetahuan lokal masyarakat sebagai suatu mode pengetahuan (Shiva, 1989: 14-26).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paradigma semacam inilah yang kemudian menjadi landasan kebijakan dan cara kerja banyak lembaga pendidikan di negeri ini, yang pada tingkat tertentu, tanpa terasa, telah juga merasuk ke lembaga pendidikan yang sebelumnya secara mandiri dikelola oleh masyarakat. Dengan iming-iming bantuan dana (pembiayaan) oleh negara, perlahan paradigma semacam ini semakin menguat dan menyingkirkan nilai-nilai lokal yang dimiliki lembaga pendidikan yang dikelola masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sinilah proses pemiskinan melalui pendidikan terjadi. Lebih parah lagi, pemiskinan melalui pendidikan bergerak mulai dari level kesadaran, yakni semenjak dalam &lt;i&gt;pikiran&lt;/i&gt;, melalui bagaimana masyarakat memandang apa itu yang disebut miskin. Bersamaan dengan paradigma pembangunan yang dianut negara, kemiskinan kemudian didefinisikan terkait dengan kepentingan kapitalisme. Orang-orang yang telah mencukupi kebutuhan dasarnya secara mandiri dipandang miskin, karena mereka tidak turut serta dalam ekonomi pasar, yakni tidak mengkonsumsi komoditi yang diproduk dan didistribusikan oleh pasar (Shiva, 1989: 10-12).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, tanpa disadari, masyarakat digiring untuk berpikir dalam kerangka komodifikasi. Kita dapat mengamati bagaimana produk-produk kebudayaan modern perlahan menyingkirkan berbagai khazanah lokal, mulai dari sektor pangan, sandang, dan papan. Padahal, produk kapitalisme yang bersifat monokultur sangat besar berkontribusi bagi pengurasan sumber daya alam dan mengancam keanekaragaman hayati (Aditjondro, 2003: 330-346).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, eksploitasi yang berlebihan yang sudah menubuh dengan semangat kapitalisme ini dan kemudian menimbulkan krisis ekologi saat ini tak mampu untuk dimunculkan dalam kesadaran masyarakat melalui pendidikan karena memang sekolah tidak didorong untuk kritis terhadap aktivitas ekonomi macam ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh, kita menyaksikan bagaimana berbagai disiplin ilmu yang diajarkan di sekolah banyak yang tidak lagi berupaya untuk merawat berbagai khazanah pengetahuan lokal yang ada di masyarakat. Ia justru membawa jenis pengetahuan “baru” (yang secara paradigmatik masuk dalam kategori sains reduksionis) yang senapas dengan kepentingan kapitalisme. Pada titik inilah kemandirian masyarakat terganggu, sehingga pada waktu yang sama proses pemiskinan pun berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ancaman pemiskinan ini menjadi cukup serius saat belakangan kita menyaksikan fenomena infiltrasi kekuasaan negara untuk masuk ke berbagai bentuk sistem pendidikan otonom yang dimiliki masyarakat. Misalnya, negara mulai masuk untuk ikut membiayai madrasah diniyah yang ada di pesantren. Yang patut dikhawatirkan, selain tergesernya salah satu nilai utama pesantren yakni nilai pengabdian, adalah tuntutan pengarahan dan penyeragaman dari negara sebagai kompensasi dari pembiayaan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kata Akhir&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idealnya, masyarakat mestinya memiliki daya tawar untuk mempertahankan model pendidikan yang selama ini dimilikinya. Mestinya model pendidikan yang ada harus dapat mendukung bagi pelestarian beragam pengetahuan lokal yang dimiliki setiap masyarakat (yang dalam konteks Indonesia sangatlah kaya dan plural). Tentu juga kita tak dapat melupakan kewajiban dasar negara untuk menyediakan pendidikan bagi setiap warga negara, termasuk memberi dukungan pembiayaan. Namun, sekali lagi, penting dicatat bahwa kewajiban negara ini bukan kemudian berarti bahwa negara dapat sewenang-wenang merampas hak otonomi masyarakat dalam mendefinisikan kebutuhan mereka akan pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini kita berhadapan dengan dua fakta yang cukup pahit. Pertama, negara seringkali tak punya kedaulatan yang cukup untuk menjaga kewajiban moralnya melindungi kepentingan masyarakat dan justru sering tunduk pada kepentingan eksternal (pemilik modal, aktor global). Kedua, masyarakat sendiri seperti tampak dapat ditundukkan oleh negara yang telah ditunggangi kepentingan eksternal tersebut dan gagal untuk mempertahankan suaranya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurang lebih, situasi semacam inilah yang menjadi pekerjaan rumah kita bersama yang menunggu untuk diselesaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size:small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size:small;"&gt;Daftar Bacaan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size:small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aditjondro, George Junus, 2003, &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size:small;"&gt;Korban-Korban Pembangunan: Tilikan terhadap Beberapa Kasus Perusakan Lingkungan di Tanah Air&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size:small;"&gt;, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baswedan, Anies, 2010, "Guru sebagai Garda Depan Indonesia", &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size:small;"&gt;Jawa Pos&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size:small;"&gt;, 26 Juli 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darmaningtyas, 2008, &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size:small;"&gt;Utang dan Korupsi Racun Pendidikan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size:small;"&gt;, Pustaka Yashiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darmaningtyas, 2010, "Kasta dan ISO di Sekolah", &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size:small;"&gt;Kompas&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size:small;"&gt;, 2 Juni 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Illich, Ivan, 2000, &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size:small;"&gt;Bebaskan Masyarakat dari Belenggu Sekolah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size:small;"&gt;, terj. A. Sonny Keraf, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Magnis-Suseno, Franz, 1994, &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size:small;"&gt;Etika Politik: Prinsip-Prinsip Moral Dasar Kenegaraan Modern,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size:small;"&gt; Cetakan IV, Jakarta: Gramedia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shiva, Vandana, 1989, &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size:small;"&gt;Staying Alive: Women, Ecology and Development&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size:small;"&gt;, London: Zed Books.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sugiharto, I. Bambang, dan Rachmat W., Agus, 2000, &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size:small;"&gt;Wajah Baru Etika dan Agama&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size:small;"&gt;, Yogyakarta: Kanisius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahid, Abdurrahman, 2001, &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size:small;"&gt;Menggerakkan Tradisi: Esai-Esai Pesantren&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size:small;"&gt;, Yogyakarta: LKiS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size:small;"&gt;Kompas&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size:small;"&gt;, 28 April 2009, "64 Persen Perempuan Buta Huruf".&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size:small;"&gt;Kompas&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size:small;"&gt;, 11 Desember 2009, "2,2 Juta Anak Tak Sekolah".&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size:small;"&gt;Kompas&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size:small;"&gt;, 15 Mei 2010, “92 Persen Madrasah Dibangun Swasta”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size:small;"&gt;Tulisan ini dibuat untuk bahan pengantar Seminar Pemiskinan dan Pendidikan, Dimensi Etis Pembiayaan Pendidikan: Antara Kewajiban Negara dan Partisipasi Publik, salah satu sesi dalam rangkaian kegiatan Sekolah Pengabdian Masyarakat (Angkatan Kelima) yang diselenggarakan oleh Biro Pengabdian Masyarakat Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, 15-29 Agustus 2010. Seminar diadakan pada hari Ahad, 29 Agustus 2010.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9718171-735249794512376228?l=rindupulang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rindupulang.blogspot.com/feeds/735249794512376228/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9718171&amp;postID=735249794512376228&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/735249794512376228'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/735249794512376228'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rindupulang.blogspot.com/2010/08/problem-etis-dalam-pembiayaan.html' title='Problem Etis dalam Pembiayaan Pendidikan'/><author><name>M Mushthafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14972221113444541130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_3KV1whPNznA/R6GvxNRKpvI/AAAAAAAAAAg/WtDlof24hV0/S220/My+Name+is+Musthov+for+Blog.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9718171.post-5749777208041924622</id><published>2010-07-21T13:07:00.011+07:00</published><updated>2010-08-30T07:59:36.668+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diary'/><title type='text'>Dunia Tak Akan Lagi Sama</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/TEaTplPTeGI/AAAAAAAAA0M/gksuAUFzidg/s1600/Moholt,+Trondheim,+090620100015.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 258px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/TEaTplPTeGI/AAAAAAAAA0M/gksuAUFzidg/s400/Moholt,+Trondheim,+090620100015.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5496242737832491106" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sekarang kau sudah tahu semuanya. Tak ada lagi misteri. Tak ada lagi tirai yang menutupi jawaban atas pertanyaan-pertanyaanmu. Kebisuan, kabar angin yang bertebaran, sangkaan yang mengecewakan, kiriman buku kecil di hari ulang tahun, surat-surat yang hanya berbalas kata-kata singkat, kunjungan terakhir di awal tahun, semua telah dibicarakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun begitu, kupikir, mungkin saja kau masih menyimpan pertanyaan tentang momentum titik penyingkapan ini: mengapa harus sekarang kau mendapatkan penjelasannya, setelah sekian lama kau terperangkap dalam ketidakmengertian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau sendiri tak terlalu banyak menjelaskan apa yang terjadi pada dirimu dalam rentang belasan tahun itu—setidaknya sejauh yang terkait dengan diriku. Aku sendiri tak mencoba mempertanyakannya. Aku tahu, jika memang ada hal penting, kau mungkin akan menyampaikannya padaku; kau akan mengurai satu persatu hal-hal yang mungkin saja masih kau simpan di situ, di bilik hatimu—entah kapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sebagaimana sering terjadi, isi kepalaku kini memuat pertanyaan-pertanyaan umum yang cenderung agak abstrak. Dalam konteks dan momentum yang lain, pertanyaan serupa pernah singgah sejenak. Tapi tak pernah kurasakan pertanyaan itu datang berulang-ulang menuntut penjelasan—seperti sekarang. Mungkin penjelasannya tak harus spesifik, dan bisa lebih bersifat umum pula, sebagaimana karakter pertanyaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah (dan bagaimanakah) setiap informasi tertentu yang kuterima mengubah cara pandangku atas dunia? Lebih khusus lagi, apakah (dan bagaimanakah) informasi tertentu tentang seseorang akan menggeser atau memutar haluan pandanganku atau memberiku cara pandang yang baru tentang seseorang itu? Seberapa jauh informasi tertentu (tentang seseorang) dapat menebarkan kebencian, rasa permusuhan, toleransi, permakluman, atau mungkin cinta? Seberapa penting informasi tertentu dibutuhkan untuk membuat sebuah keputusan? Apa ini ada kaitannya dengan yang pernah Sokrates nyatakan bahwa wawasan dan pengetahuan yang benar dapat menuntun pada tindakan yang benar? Jenis “wawasan dan pengetahuan yang benar” macam apa yang kiranya “dapat menuntun pada tindakan yang benar”?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktanya, aku menemukan hal yang tak sederhana—setidaknya sependek pengalaman dan pengamatanku. Pengetahuan dan informasi tertentu dapat menyeret seseorang pada keputusasaan, kekecewaan, penyesalan, kebencian, dan semacamnya. “Matilah terhadap segala yang kau tahu,” tulis Putu Wijaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat pikiran-pikiran ini berdatangan, tebersit bayangan andai suatu saat, atau mungkin dalam waktu dekat, kita bisa membicarakannya berdua, mereka-reka berbagai kemungkinan jawabannya tanpa harus terbebani dengan fakta-fakta lalu atau yang mungkin saja datang kemudian. Membicarakannya, kita mungkin tak harus mencoba mengantisipasi situasi spesifik yang akan terjadi. Tak harus gentar dengan itu. Fakta-fakta kita masukkan dalam kurung terlebih dahulu. Karena kenyataan memang terkadang begitu rumit—bahkan mungkin pahit. Mungkin karena kenyataan adalah semacam pertautan persona tak terhingga bersama nilai-nilai dan latar unik yang mereka bawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kau dan aku pelan-pelan mulai bersama-sama mengetahui semuanya, mari kita nikmati pembicaraan yang indah ini, tentang pertanyaan-pertanyaan di atas ini, sambil sesekali merayakan kegilaan kita bersama-sama. Dan kemudian, dunia tak akan lagi sama.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9718171-5749777208041924622?l=rindupulang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rindupulang.blogspot.com/feeds/5749777208041924622/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9718171&amp;postID=5749777208041924622&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/5749777208041924622'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/5749777208041924622'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rindupulang.blogspot.com/2010/07/dunia-tak-akan-lagi-sama.html' title='Dunia Tak Akan Lagi Sama'/><author><name>M Mushthafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14972221113444541130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_3KV1whPNznA/R6GvxNRKpvI/AAAAAAAAAAg/WtDlof24hV0/S220/My+Name+is+Musthov+for+Blog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/TEaTplPTeGI/AAAAAAAAA0M/gksuAUFzidg/s72-c/Moholt,+Trondheim,+090620100015.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9718171.post-2752338731112790366</id><published>2010-06-10T05:20:00.011+07:00</published><updated>2011-08-21T21:59:49.952+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diary'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='European Adventures'/><title type='text'>Perjalanan-dalam-Kegelapan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/TBCQYpqj2jI/AAAAAAAAA0E/gHz5FKnj8Rk/s1600/Theodor_Kittelsen,_Soria_Moria.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 288px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/TBCQYpqj2jI/AAAAAAAAA0E/gHz5FKnj8Rk/s400/Theodor_Kittelsen,_Soria_Moria.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5481039499685517874" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sudah beberapa hari berlalu, tapi syair itu kadang masih berkelebat di pikiran saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gagasan tentang perjalanan, masa depan yang gelap, kesendirian, dan keberpasrahan pada Kuasa Tuhan, buat saya sungguh menggetarkan. Adakah yang lebih menakutkan daripada ketidakpastian-dalam-kesendirian? Adakah yang lebih menakutkan selain perjalanan-dalam-kegelapan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah begitu lama saya terbiasa berpikir dengan kepastian sebagaimana ditanamkan dalam paradigma sains positivistik—&lt;span style="font-style: italic;"&gt;clear and distinct&lt;/span&gt;, dalam istilah &lt;a href="http://plato.stanford.edu/entries/descartes/"&gt;René Descartes&lt;/a&gt;—sehingga saya kadang terlupa dan seakan menampik fakta bahwa nyatanya pengetahuan saya memiliki batas yang tak pantas untuk terlalu dibanggakan. Apakah sebenarnya saya sedang berusaha mencari penghiburan dengan selalu berusaha percaya pada kepastian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kegelapan ini terasa mengurung saya dari ujung ke ujung. Sungguh saya merasa tak benar-benar tahu dengan pasti bagaimana semua ini bermula dan bagaimana akan berakhir—di mana, kapan, dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu mengapa puisi itu mempersandingkan kegelapan dan iman? Bukankah pada umumnya orang banyak menghubungkan iman dengan Pencerahan? &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Go out into the darkness and put your hand into the Hand of God,”&lt;/span&gt; kata puisi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, kegelapan adalah jalan yang senyatanya sedang saya tempuh. Dalam konteks ini, kegelapan mungkin adalah semacam simbol absurditas. Absurditas ini tampak dalam gagasan bahwa rasanya hidup terlalu pendek untuk saya untuk bisa merengkuh makna semua ini dengan purna—tujuan, keinginan, penyesalan, pemahaman, dan sebagainya. Di antara hasrat saya untuk mendapatkan kesempurnaan dan kepastian, saya berhadapan dengan fakta betapa rentang perjalanan-gelap saya hanyalah sepersekian sekon dari sejarah alam raya. Dengan kata lain, setetes air di antara samudera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kependekan, kegelapan, dan kesendirian itu, rasanya iman memberi saya  makna untuk sejengkal langkah yang mungkin sempat saya buat bersama semesta. Lebih dari itu, iman di perjalanan-dalam-kegelapan—bukan di jalan yang benderang—menantang saya untuk merespons makna dan implikasi kegelapan itu dengan baik. Justru karena saya bukanlah malaikat yang berjalan di atas rel dan rute yang pasti, saya tertantang untuk membuat rekam jejak yang indah—bukan hanya untuk saya, tapi jika mungkin bahkan untuk semesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, saat saya berada di salah satu halte perjalanan ini, saya pun mereka-reka dan mencoba menyiapkan bekal untuk perjalanan berikutnya. Saya tidak tahu pasti apakah saat ini sedang pagi, siang, sore, atau sudah malam. Buat saya, perjalanan-dalam-kegelapan juga berarti bahwa saya bisa saja tertipu oleh petunjuk “waktu objektif”—ah, saya jadi teringat &lt;a href="http://plato.stanford.edu/entries/bergson/"&gt;Henri Bergson&lt;/a&gt;. Seperti di kota tempat saya tinggal sekarang, Trondheim, Norwegia, tak mudah untuk membuat patokan waktu dari gelap dan terang, paling tidak untuk seorang yang berasal dari negeri tropis. Karena itu, perjalanan-dalam-kegelapan juga menuntut saya untuk memperlakukan setiap detik dengan harga yang pantas—pantas untuk sebuah absurditas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menunggu waktu untuk meninggalkan halte ini, di antara berkemas, saya mencoba mengingat apakah saya masih punya lilin yang tersisa di ransel saya. Semoga lilin saya masih cukup untuk sisa perjalanan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Terima kasih untuk Bang Mauritz Panggabean yang telah menginspirasi tulisan ini dan mempertemukan saya dengan syair &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Minnie_Louise_Haskins"&gt;Minnie Louise Haskins&lt;/a&gt; (1875-1957), &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/The_Gate_of_the_Year"&gt;“The Gate of the Year”&lt;/a&gt;, dan lukisan Theodor Severin Kittelsen (1857-1914), "Soria Moria". Gambar diambil dari &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Theodor_Severin_Kittelsen"&gt;Wikipedia&lt;/a&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9718171-2752338731112790366?l=rindupulang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rindupulang.blogspot.com/feeds/2752338731112790366/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9718171&amp;postID=2752338731112790366&amp;isPopup=true' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/2752338731112790366'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/2752338731112790366'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rindupulang.blogspot.com/2010/06/perjalanan-dalam-kegelapan.html' title='Perjalanan-dalam-Kegelapan'/><author><name>M Mushthafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14972221113444541130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_3KV1whPNznA/R6GvxNRKpvI/AAAAAAAAAAg/WtDlof24hV0/S220/My+Name+is+Musthov+for+Blog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/TBCQYpqj2jI/AAAAAAAAA0E/gHz5FKnj8Rk/s72-c/Theodor_Kittelsen,_Soria_Moria.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9718171.post-3890075419029644929</id><published>2010-05-23T08:30:00.006+07:00</published><updated>2011-07-25T18:36:32.905+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term=':: Published ::'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Journey'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='European Adventures'/><title type='text'>Menikmati Tarian Aurora di Langit Trondheim</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/S_hTYvOx6JI/AAAAAAAAAzc/cx7oWddvrrA/s1600/Koran+Tempo+23+Mei+2010.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 263px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/S_hTYvOx6JI/AAAAAAAAAzc/cx7oWddvrrA/s400/Koran+Tempo+23+Mei+2010.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5474217031529261202" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Jika kau ditanya tentang kota di Eropa yang pada akhir April salju masih turun di sana, Trondheim adalah salah satunya. Ia terletak hampir 500 kilometer ke arah utara dari ibu kota Norwegia, Oslo. Kota yang didirikan oleh Raja Norwegia Olav Tryggvason pada 997 ini memang memiliki pesona alam yang khas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Letaknya yang mendekati lingkar Kutub Utara membuat kota ini akan sangat unik di puncak musim dingin dan musim panas. Memasuki Mei, saya sempat terpaku mengamati jadwal salat bulanan yang saya dapatkan dari Masjid Komunitas Muslim Trondheim. Betapa tidak, di akhir Mei, matahari terbit pada pukul 03.26 dan baru akan tenggelam pada pukul 23.07.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari tetangga kamar yang asli orang Norwegia, saya menjadi tahu bahwa di sekitar pertengahan Juni-Juli, rentang waktu dari matahari terbenam hingga terbit tak sampai empat jam, sehingga bisa dibilang ketika itu Trondheim nyaris tak punya malam. Saya jadi teringat potongan syair lagu kelompok musik asal Swedia, Roxette, berjudul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;June Afternoon&lt;/span&gt;. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"It's a bright June afternoon, it never gets dark. Wah-wah! Here comes the sun".&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Saya sulit membayangkan bagaimana umat Islam berpuasa pada bulan Juni atau Juli di sini. Tak hanya soal ibadah, saya pun merasa agak kesulitan mengikuti irama perubahan waktu yang menjadikan siang merentang semakin panjang. Merasa lebih nyaman belajar (membaca dan menulis) di saat malam, kini saya agak kerepotan mengatur jadwal kerja ketika hari terasa tak kunjung petang. Padahal, di sepanjang Mei, saya mesti berkejaran dengan tenggat akhir penulisan tesis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a onblur="try  {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/S_hPIinWifI/AAAAAAAAAzU/k8mIwXCRmso/s1600/Typical+wooden+houses+in+Trondheim.JPG"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 300px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/S_hPIinWifI/AAAAAAAAAzU/k8mIwXCRmso/s400/Typical+wooden+houses+in+Trondheim.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5474212355218246130" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;Sebaliknya, di puncak musim dingin, antara akhir Desember dan awal Januari, siang hanya berlangsung sekitar empat jam. Cuaca pun bisa menjadi sangat ekstrem. Beberapa hari di akhir Februari yang lalu, saya sempat mengalami suhu 20-24 derajat Celsius di bawah nol!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah suhu ekstrem dan guyuran salju, saya tetap memberanikan diri berjalan kaki dari asrama mahasiswa Moholt Studentby ke kampus Universitas Sains dan Teknologi Norwegia atau Norges Teknisk-Naturvitenskapelige Universitet (NTNU) Dragvoll. Jarak 2,2 kilometer terasa lebih jauh. Di samping karena mendaki, guyuran dan tumpukan salju di jalan terasa cukup memperlambat dan membuat berat langkah-langkah kaki saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun saya tahu bahwa mungkin saya akan cukup kesulitan untuk punya pengalaman seperti ini lagi. Sebab, menurut kabar di koran lokal Trondheim, cuaca hari itu memang terbilang ekstrem, dan menurut catatan hanya terpecahkan oleh cuaca pada 52 tahun yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain demi menghemat biaya hidup yang relatif lebih mahal dibanding negara Eropa lainnya, berjalan kaki ke kampus Dragvoll memang menyenangkan. Mendaki jalanan yang menanjak, saya mendapatkan pemandangan Kota Trondheim yang seolah menyerupai negeri dongeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat mulai mendekati Dragvoll, saya dapat menyaksikan lanskap Kota Trondheim dari ketinggian. Menara Tyholt di area kampus Departemen Teknologi Kelautan NTNU tampak menjulang. Di menara setinggi 124 meter itu, saya pernah menikmati pemandangan Kota Trondheim yang masih bertabur salju di sebuah restoran yang bergerak memutar di puncak menara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/S_hMpI8b6dI/AAAAAAAAAy0/efDHCFtiXkw/s1600/A+view+from+Tyholt+Tower+1.JPG"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/S_hMpI8b6dI/AAAAAAAAAy0/efDHCFtiXkw/s400/A+view+from+Tyholt+Tower+1.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5474209616728156626" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dari atas bukit menuju Dragvoll, di seberang kota yang penduduknya hanya sekitar 170 ribu jiwa ini, tampak teluk kecil dan perbukitan bertutup salju menjadi batas akhir pandangan mata saya. Tapi yang paling menarik perhatian saya adalah sisi yang berseberangan dengan hamparan Kota Trondheim itu, yakni bukit-bukit yang hampir sepanjang lerengnya dipenuhi dengan rumah kayu berwarna-warni. Ada yang merah, kuning, hijau, biru, putih, abu-abu, dan berbagai nuansa warna indah yang agak sulit saya gambarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balkon dan gazebo kecil di beberapa rumah tampak benar-benar memikat. Salah satu di antaranya tampak sebuah bangunan besar yang membentuk seperti tangga berundak mengikuti kontur bukit. Memang bukitnya tak setinggi dan securam Minas Tirith, tapi cukup untuk mengingatkan saya pada kota rekaan J.R.R. Tolkiens dalam trilogi terakhir &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Lord of the Rings&lt;/span&gt;, yang tergambar begitu eksotik di versi filmnya, itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat menyusuri jalan ke Dragvoll, sering kali saya terpesona ketika mendapati langit benar-benar cerah dan biru serta sisa-sisa salju masih tampak di atap-atap rumah dan sisi bukit yang terjal itu. Lalu langkah-langkah sepatu saya di atas salju melahirkan bunyi yang khas. Mendekati kampus Dragvoll, lereng yang dipenuhi rumah kayu berganti dengan hutan kecil yang mengelilingi salah satu sisi kampus. Sungguh pemandangan yang benar-benar indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/S_hM_ecuCVI/AAAAAAAAAzE/3DY5iZGyAmg/s1600/Minas+Tirith+1.JPG"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/S_hM_ecuCVI/AAAAAAAAAzE/3DY5iZGyAmg/s400/Minas+Tirith+1.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5474210000457828690" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Moholt atau Dragvoll mungkin bisa dibilang sudah mendekati pinggiran Kota Trondheim. Sementara itu, pusat kota Trondheim sendiri yang tak begitu luas terbilang cukup unik. Ia berada di sebuah "pulau kecil" yang terbentuk oleh liukan mulut Sungai Nidelva yang berjumpa dengan Trondheimsfjorden—teluk kecil Trondheim yang berada di sisi utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana pusat kota pada umumnya, di sana ada beberapa pusat belanja, toko-toko, dan kantor pemerintah. Sebuah pusat belanja, Trondheim Torg, berada tepat di pusat kota. Trondheim Torg terasa tampak sangat sederhana untuk ukuran kota terbesar ketiga di Norwegia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/S_hMKfzCRPI/AAAAAAAAAyk/ax_LdTsdb4w/s1600/Nidaros.JPG"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 300px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/S_hMKfzCRPI/AAAAAAAAAyk/ax_LdTsdb4w/s400/Nidaros.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5474209090286798066" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hal paling menarik di pusat kota tentu saja adalah Katedral Nidaros. Ia merupakan landmark kota yang pernah menjadi ibu kota Norwegia hingga 1217 ini. Katedral yang mulai dibangun pada 1070 ini hingga sekarang menjadi monumen bangunan Gothic terpenting di Norwegia dan menjadi tujuan utama para peziarah sejak Abad Pertengahan untuk Eropa wilayah utara. Peran pentingnya terlihat dari fakta bahwa raja Norwegia dinobatkan di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesona alam dan jejak sejarah menyatu dalam kota yang menjadi pusat pendidikan dan riset teknologi di Norwegia ini. Masih di kawasan pusat kota, setiap pulang Jumatan, saya sering sulit menahan godaan untuk menikmati pemandangan rumah-rumah kayu yang di antaranya berasal dari abad ke-18. Rumah kayu tipikal Skandinavia yang berwarna-warni itu berderet rapi di tepi Sungai Nidelva yang meliuk, tepatnya di dekat kawasan Kota Lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di situ pula ada jembatan tua yang pertama dibangun menjelang akhir abad ke-17. Berdiri di tengah jembatan, saya menatap ke arah liukan sungai dengan airnya yang bersih dan tenang, sementara di kejauhan tampak gedung tua kampus NTNU Gløshaugen berdiri di atas ketinggian bukit. Sungguh akan sempurna jika mendung tak sedang menutupi angkasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/S_hMbtRqb3I/AAAAAAAAAys/ziB8_B2RmDg/s1600/Old+Town+Bridge+1.JPG"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/S_hMbtRqb3I/AAAAAAAAAys/ziB8_B2RmDg/s400/Old+Town+Bridge+1.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5474209385962696562" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tak jauh dari jembatan itu, terdapat Sykkelheisen Trampe, lift untuk sepeda yang merupakan satu-satunya di dunia. Lift yang dibangun pada 1993 itu panjangnya 130 meter, tepat berada di perempatan kawasan Kota Lama. Sayang, saat terakhir saya ke sana, lift itu tampak belum dioperasikan—mungkin karena tumpukan salju belum benar-benar bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari itu semua, pengalaman paling menarik selama tinggal di Trondheim sejak awal Februari lalu adalah saat saya menyaksikan aurora. Sebelumnya, saya tak menyangka bahwa di Negeri Viking ini saya akan dapat menyaksikan salah satu fenomena alam yang hanya ada di beberapa tempat di belahan bumi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aurora Borealis, cahaya langit di dekat wilayah lingkar Kutub Utara yang terlihat di malam hari, saya saksikan di pekan kedua April lalu. Begitu mengetahui akan ada aurora dari laman ramalan cuaca yang biasa saya lihat, menjelang tengah malam saya bersiap di puncak salah satu bukit di kawasan kompleks asrama Moholt. Bersama puluhan mahasiswa lain yang ternyata sudah berada di sana lengkap dengan kamera mereka, saya begadang menikmati tarian aurora di langit utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari atas bukit itu, aurora kadang tampak melintang seumpama selendang yang dikibarkan di atas bangunan kompleks mahasiswa Moholt Studentby. Jauh di belakang, tampak bukit yang bercahaya oleh lampu-lampu kota. Warna kehijauan bertaburan di langit di balik pohon yang tampak masih meranggas. Titik-titik bintang kecil bersinar keputihan di kejauhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cahaya kehijau-hijauan itu berpendar di langit. Kadang ia membentang panjang dari timur ke barat, berkelebat, lalu mengental, meremang, menebal, dan menipis. Di saat yang lain, ia tampak menumpuk di langit utara dalam area yang cukup melebar, lalu sesekali mementaskan tarian lembut sebelum akhirnya menghilang ditelan langit cerah bertabur bintang. Dari sudut yang berbeda, kadang cahaya kehijauan itu membentuk seperti tanduk Viking yang menggantung di langit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/S_hMyw-960I/AAAAAAAAAy8/YuRnSGMz9TA/s1600/Aurora+Borealis+-+Trondheim+110410+2307+15s+ISO-100+DMC+FS5+by+musthov.JPG"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 236px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/S_hMyw-960I/AAAAAAAAAy8/YuRnSGMz9TA/s400/Aurora+Borealis+-+Trondheim+110410+2307+15s+ISO-100+DMC+FS5+by+musthov.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5474209782095014722" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Saya tahu, teman-teman saya, mahasiswa Indonesia, yang berada di negara Eropa lainnya mungkin akan merasa iri melihat foto dan catatan saya menyaksikan aurora, karena aurora hanya ada di langit utara. Tapi saya juga perlu memberi tahu bahwa tinggal di Trondheim menuntut ketahanan mental.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun, kota yang topografinya berbukit dan beriklim maritim ini bisa dibilang cukup terpencil. Ya, Norwegia, seperti juga Swedia, adalah negeri yang sunyi. Di dua negara Skandinavia ini, wilayah yang dimanfaatkan tak lebih dari 4 persen. Selebihnya hanya lahan kosong, hutan, danau, dan semacamnya. Setelah Oslo, kota besar terdekat dari Trondheim adalah Bergen, yang berjarak sekitar 650 kilometer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesunyian mungkin akan terasa semakin menjadi-jadi saat musim dingin begitu panjang, dan salju masih tetap saja turun bahkan hingga awal bulan Mei. Rumput tak kunjung menghijau, pepohonan masih kerontang, dan langit cukup sering berwajah muram. Saya kadang menjadi agak heran, mengapa St. Olav dahulu menamai kota ini Trondheim, yang berarti "rumah yang nyaman ditinggali"?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bertanya-tanya, jika awal Mei salju masih turun, seperti saat saya menulis catatan ini, lalu kapan saya akan menikmati daun dan bunga-bunga yang bersemi? Semoga Juni. Ya, mungkin Juni, bersama Judas Priest yang akan mengentak dan meramaikan Kota Trondheim dalam ajang festival musik rock tahunan (Trondheim Rock) di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memandangi butiran salju yang turun pagi ini, saya pun berharap semoga salju yang saya saksikan di pekan pertama bulan Mei ini tak akan menjadi salju terakhir dalam pengalaman hidup saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tulisan ini dimuat di &lt;a href="http://korantempo.com/korantempo/koran/2010/05/23/Perjalanan/index.html"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Koran Tempo&lt;/span&gt;, 23 Mei 2010&lt;/a&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9718171-3890075419029644929?l=rindupulang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rindupulang.blogspot.com/feeds/3890075419029644929/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9718171&amp;postID=3890075419029644929&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/3890075419029644929'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/3890075419029644929'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rindupulang.blogspot.com/2010/05/menikmati-tarian-aurora-di-langit.html' title='Menikmati Tarian Aurora di Langit Trondheim'/><author><name>M Mushthafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14972221113444541130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_3KV1whPNznA/R6GvxNRKpvI/AAAAAAAAAAg/WtDlof24hV0/S220/My+Name+is+Musthov+for+Blog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/S_hTYvOx6JI/AAAAAAAAAzc/cx7oWddvrrA/s72-c/Koran+Tempo+23+Mei+2010.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9718171.post-8620002890042648044</id><published>2010-05-13T19:13:00.008+07:00</published><updated>2010-05-31T17:18:28.570+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diary'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Literacy'/><title type='text'>Keajaiban Menulis</title><content type='html'>“Saat menuliskan sesuatu, kadang tak disangka kita kemudian dibawa pada suatu titik kesimpulan atau titik pemikiran yang tak diduga sebelumnya,” kata May Thorseth, dosen pembimbing saya Selasa kemarin, saat mendiskusikan sebagian naskah awal tesis saya di kampus Dragvoll NTNU Trondheim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembicaraan ini muncul saat kami mendiskusikan tulisan awal saya yang memuat kerangka umum dan alur proyek tesis saya. Dia mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis yang memungkinkan saya untuk dapat melihat arah dan peta yang lebih jelas dari penelitian saya. Kemudian akhirnya ia menyarankan agar saya segera menuliskan dan masuk ke poin pembahasan utama. “Dalam proses menulis, kadang kita menemukan dan memahami satu poin gagasan yang terasa baru dan mencerahkan. That’s the magic of writing,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tersenyum mendengar kalimat itu. Saya cukup dapat merasakan apa yang ia sebut sebagai “keajaiban menulis” itu. Benar. Saya merasa bahwa proses menulis, perlahan, dapat membentuk cara berpikir seseorang. Tidak saja dalam pengertian cara seseorang bernalar atau menyusun alur dan logika, tetapi mungkin juga memengaruhi cara seseorang memandang suatu hal atau persoalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dalam rentang proses yang lebih panjang, menulis sangat mungkin membentuk identitas dan karakter seseorang. Menulis membantu memperkaya dan mengolah berbagai nuansa pengalaman dalam sudut pandang subjektif tertentu, sehingga dengan begitu ia bisa juga dilihat sebagai sebuah proses interaksi-reflektif antara pengalaman dan penafsiran. Hal atau pengalaman yang sederhana mungkin bisa terlewatkan begitu saja. Akan tetapi, dengan tingkat kepekaan tertentu yang sudah cukup terasah, hal sederhana itu bisa saja melahirkan refleksi dan poin gagasan yang mungkin cukup menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat pengalaman yang ditafsirkan itu semakin kompleks dan beragam, matriks kemungkinan gagasan yang akan dihasilkan bisa menjadi semakin luas. Pada titik itulah proses menulis kemudian seperti menjadi proses memilah lorong-lorong menuju alur kesimpulan (sementara) yang terasa lebih dapat diterima secara subjektif sesuai dengan stok pengetahuan dan sudut pandang si penulis. Kompleksitas matriks kemungkinan itu dipilah, dicoba untuk ditata, disederhanakan, dan akhirnya disimpulkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam proses lanjutan, saat sebuah tulisan telah rampung dan diakhiri oleh si penulis dan dilepas ke publik, ia akan terus berkembang biak sendiri lepas dari otoritas (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;authority&lt;/span&gt;, “kepengarangan”) si penulis. &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Death_of_the_Author"&gt;Kematian pengarang&lt;/a&gt;, sebagaimana dikabarkan oleh Roland Barthes, tentu saja bukanlah kabar buruk yang harus disesali, karena bagaimanapun teks pada akhirnya adalah juga tindakan yang memiliki hak otonominya sendiri. Sekecil apa pun, apa yang telah kita tulis pada akhirnya akan menjadi bagian dari Buku Semesta—dan ada kehadiran kita di sana, meski tak bisa purna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun begitu, meski sudah lepas dari kuasa pengarang, kehadiran teks otonom tersebut ke wilayah publik telah membuka peluang pintu dialog bagi gagasan yang sebelumnya hanya sunyi sendiri dalam benak si penulis. Kesunyian sebuah gagasan yang hanya semarak dalam benak seseorang akhirnya dirayakan secara publik melalui tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ide tentang tulisan ini menyergap saya semalam sebelum tidur, saya pun sempat bertanya-tanya: akan seperti apakah jadinya ide tersebut saat dituliskan dan bagaimana ia akan berakhir—dalam prosesnya maupun ketika sudah menjadi teks otonom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang saya tahu bahwa tulisan ini sendiri (bersama ide yang muncul tadi malam itu) mungkin adalah bagian dari pencarian saya tentang makna aktivitas kepenulisan saya selama ini. Ini mungkin bagian dari cara saya merayakan jalan sunyi seorang penulis, dengan berusaha mengusir kabar kesunyian itu dengan sebuah pesta bertajuk “keajaiban menulis”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah yang mau bergabung bersama saya dalam pesta ini?&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9718171-8620002890042648044?l=rindupulang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rindupulang.blogspot.com/feeds/8620002890042648044/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9718171&amp;postID=8620002890042648044&amp;isPopup=true' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/8620002890042648044'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/8620002890042648044'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rindupulang.blogspot.com/2010/05/keajaiban-menulis.html' title='Keajaiban Menulis'/><author><name>M Mushthafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14972221113444541130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_3KV1whPNznA/R6GvxNRKpvI/AAAAAAAAAAg/WtDlof24hV0/S220/My+Name+is+Musthov+for+Blog.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9718171.post-5139591093099839875</id><published>2010-05-09T12:30:00.011+07:00</published><updated>2010-12-14T13:03:06.163+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term=':: Published ::'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Education'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Social-Politics'/><title type='text'>Plagiarisme dan Komunitas Akademik yang Sekarat</title><content type='html'>Saat berdiskusi tentang penulisan tesis di program saya dengan pembimbing dan teman sekelas, ada satu gagasan yang menarik buat saya dan mengingatkan saya pada kasus plagiarisme di Indonesia. Dijelaskan bahwa salah satu tujuan penting menulis tesis atau karya akademik lain adalah mematangkan diri dan berproses menyatu dalam komunitas akademik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berpikir bahwa bisa jadi fenomena plagiarisme dan hal serupa (ijazah atau sertifikat palsu dan semacamnya) terjadi karena sebenarnya komunitas akademik di negeri kita sedang sekarat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunitas akademik pada dasarnya merupakan tempat untuk berbagi pengetahuan ilmiah. Perkembangan ilmu itu sendiri terjadi dalam serangkaian proses dialogis dari berbagai ruang dan waktu yang berbeda dan terutama berlangsung melalui media tulisan. Tulisan yang bisa disebut karya ilmiah itu muncul beriringan, saling dukung, saling kritik, menggali, menguatkan, mempertanyakan, menyempurnakan, menindaklanjuti, dan seterusnya sehingga membentuk suatu akumulasi capaian pengetahuan dan ilmu tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Seseorang yang sedang menulis karya ilmiah sebenarnya sedang berusaha berkomunikasi dengan komunitas ilmiah lebih luas. Dengan media tulisan dan dukungan teknologi yang semakin canggih, proses diskursif itu berlangsung secara cukup kaya dan intens, melintasi berbagai tempat dan disiplin ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, jika yang terjadi adalah plagiarisme, tentu saja proses komunikasi itu menjadi bermasalah. Salah satu masalah mendasar yang selama ini sudah cukup banyak disorot adalah problem etis. Kejujuran, tanggung jawab, penghormatan kepada orang lain jelas-jelas ternoda dalam kasus plagiarisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari sekadar problem etis, plagiarisme di negeri kita, bagi saya, terutama juga merupakan pertanda bahwa komunitas akademik kita sebenarnya tengah sekarat. Sebagian komunikasi ilmiah yang terjadi di antara orang-orang yang berada di titik-titik komunitas ilmiah itu mungkin bersifat semu. Disebut semu karena aktivitas utama komunitas akademik, yakni pemelajaran, sulit ditemukan di situ. Yang ada mungkin hanyalah semacam formalitas yang kering, dangkal, dan bersifat instrumental.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam komunitas akademik yang sekarat, sebagian orang berkarya cenderung tidak didorong semangat belajar, hasrat untuk menggali, dan maksud untuk berbagi. Mereka relatif hanya digerakkan dorongan periferal, seperti untuk kenaikan pangkat dan jabatan, prestise, materi, dan semacamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa karya (kebanyakan?) dalam jurnal-jurnal ilmiah di tanah air mungkin tak jauh dari motif semacam itu. Mereka tak mencerminkan dialog dan interaksi akademik yang hidup, tapi berada dalam konteks ''dalam rangka'' yang tak substantif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekaratnya semangat komunitas akademik tersebut bisa dikembalikan pada problem moral sebagaimana orang membaca kasus plagiarisme. Meski demikian, problem moral itu mungkin juga berakar pada kondisi objektif yang terbentuk sedemikian rupa dalam sebuah proses historis yang bisa jadi relatif panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita berasumsi bahwa komunitas akademik ini mulai tumbuh, terutama melalui institusi perguruan tinggi (kampus) dan atau lembaga serupa, dapat dikatakan bahwa Orde Baru menjadi titik awal yang cukup penting dicermati. Penelitian Daniel Dhakidae (2003) menunjukkan bahwa pada masa Orde Baru sulit sekali ditemukan kelompok ''cendekiawan bebas'' karena mereka berhadapan dengan aparat ideologis dan represif negara yang kuat dan totaliter. Organisasi profesional kaum cendekiawan kehilangan otonominya dan hanya menjadi alat legitimasi kekuasaan negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situasi semacam itulah yang terjadi dalam kurun waktu cukup panjang dan melalui proses rekayasa sosial-politik-kebudayaan canggih, yang pada gilirannya menyuburkan mental instrumental pada insan-insan komunitas ilmiah atau cendekiawan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini Orde Reformasi relatif menyediakan ruang yang lebih bebas bagi kaum cendekiawan untuk menghidupkan kembali kredo akademiknya, termasuk dukungan objektif berupa kebijakan pemerintah dalam mengalokasikan anggaran pendidikan dan penelitian. Meski demikian, godaan kekuasaan dan pragmatisme (mentalitas menerabas, dalam istilah Koentjaraningrat) masih terus membayang dan hadir dalam beragam rupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, plagiarisme sebenarnya tak hanya memberi kita pekerjaan rumah yang sederhana. Tidak sekadar menghentikan praktik yang tak menghormati karya dan kreativitas orang lain. Lebih dari itu, plagiarisme mendorong kita untuk segera membenahi komunitas akademik kita yang sekarat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dinamika komunitas akademik, kredo dalam berkreasi harus terus diteguhkan. Saat ini, sepertinya tak mudah menjadi sosok ilmuwan atau akademisi ideal di tengah iklim yang tak sehat, kecuali mereka tergerak oleh panggilan visi pribadi yang kuat dan bermental tangguh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di titik itulah tugas kita bersama untuk menyediakan ruang yang lebih baik bagi perbaikan lingkungan ilmiah (akademik) menjadi semakin mengemuka. Tujuan akhirnya, kaum cendekiawan dan para ilmuwan itu bisa terpanggil untuk konsisten melakukan berbagai hal demi perbaikan peradaban dan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tulisan ini dimuat di &lt;a href="http://jawapos.com/mingguan/index.php?act=detail&amp;amp;nid=132850"&gt;Harian &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jawa Pos&lt;/span&gt;, 9 Mei 2010&lt;/a&gt;. Bisa juga dibaca di &lt;a href="http://edukasi.kompasiana.com/2010/05/09/plagiarisme-dan-komunitas-akademik-yang-sekarat/"&gt;Blog Kompasiana&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9718171-5139591093099839875?l=rindupulang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rindupulang.blogspot.com/feeds/5139591093099839875/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9718171&amp;postID=5139591093099839875&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/5139591093099839875'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/5139591093099839875'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rindupulang.blogspot.com/2010/05/plagiarisme-dan-komunitas-akademik-yang.html' title='Plagiarisme dan Komunitas Akademik yang Sekarat'/><author><name>M Mushthafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14972221113444541130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_3KV1whPNznA/R6GvxNRKpvI/AAAAAAAAAAg/WtDlof24hV0/S220/My+Name+is+Musthov+for+Blog.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9718171.post-2446945918232709608</id><published>2010-05-04T16:31:00.028+07:00</published><updated>2011-02-01T19:32:26.063+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='School Corner'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Environmental Issues'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Education'/><title type='text'>Kegiatan Peduli Lingkungan di Sekolah dan Pendidikan yang Lebih Membumi</title><content type='html'>Semangat dan inspirasi kadang menunggu momen tertentu untuk muncul. Seringkali ia datang secara kebetulan. Kita tak pernah menyangka sebelumnya, bahwa hal yang tak kita rencanakan akan cukup berpengaruh mengarahkan jalur hidup kita berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah. Sepulang mengikuti acara &lt;a href="http://rindupulang.blogspot.com/2008/04/sepekan-di-kaliandra.html"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Environmental Teachers’ International Convention (ETIC)&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; akhir Maret 2008 di Kaliandra, Pasuruan, tiba di rumah saya mencoba mencari salah satu arsip artikel saya yang ditulis sekitar 13 tahun sebelumnya saat saya duduk di bangku sekolah menengah atas. Tulisan yang akhirnya saya temukan baik dalam bentuk tulisan tangan maupun versi yang sudah dicetak dengan ketikan komputer itu berjudul &lt;a href="http://rindupulang.blogspot.com/1995/07/manusia-dan-krisis-lingkungan.html"&gt;“Manusia dan Krisis Lingkungan: Perspektif Ekologi &lt;/a&gt;&lt;a href="http://rindupulang.blogspot.com/1995/07/manusia-dan-krisis-lingkungan.html"&gt;Islami”&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mencari tulisan itu karena saya ingin mencoba merekonstruksi pikiran macam apa yang ada di kepala saya waktu itu. Pulang dari ETIC 2008 yang digelar sekitar sepekan di pedalaman Pasuruan, kepala saya dipenuhi dengan pertanyaan dan pikiran tentang nasib dan masa depan bumi. Jika saya dulu memang pernah menulis sebuah esai sepanjang 10 ribu karakter (1.600 kata) tentang isu lingkungan, mengapa tulisan itu sepertinya hanya berhenti di sana, sebagai tulisan (atau gagasan) saja, dan seperti tak memiliki cerita lanjutan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/S9_xKSbGjoI/AAAAAAAAAxg/2kFYbelEvR4/s1600/DSCN4837.JPG"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 254px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/S9_xKSbGjoI/AAAAAAAAAxg/2kFYbelEvR4/s400/DSCN4837.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5467353631697571458" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;ETIC 2008, forum para penggiat pendidikan lingkungan, buat saya terasa sebagai titik mula untuk terjun lebih dalam ke isu lingkungan. Membaca tulisan saya tahun 1995 itu, saya jadi tahu bahwa saat itu saya mungkin berpikir terlalu normatif. Tentu saya sadar bahwa saat itu saya dan lingkungan belajar saya punya banyak keterbatasan. Kemudian, di ETIC 2008 mata saya terbuka untuk sejumlah fakta dan data aktual terkait isu lingkungan. Fakta-fakta itu menggugah dan kemudian terasa sangat berkaitan dengan aspek-aspek normatif yang sempat saya tulis dahulu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Meramu Tiga Matra&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di situ, saya berkesimpulan bahwa wawasan normatif saja sangat tidak cukup (pikiran tentang hal ini kemudian terus berkembang hingga saya masuk ke diskusi yang lebih mendalam soal berbagai pemikiran di bidang etika lingkungan). Kita butuh fakta-fakta inspiratif yang sederhana dan dekat dengan keseharian kita untuk bisa mematri, membumikan, dan menjangkarkan sebuah dimensi normatif tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, dua matra itu, aspek normatif dan fakta inspiratif, tak bisa berdiri sendiri. Keduanya butuh wadah yang menggerakkan dialektika matra normatif dan faktual ke dalam wujud gerakan atau aksi nyata di lapangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulang kembali ke sekolah dari ETIC 2008, saya pun mencoba meramu ketiga matra tersebut dalam aktivitas pendidikan lingkungan di sekolah tempat saya mengajar, &lt;a href="http://wikimapia.org/#lat=-7.0624198&amp;amp;lon=113.6754459&amp;amp;z=18&amp;amp;l=0&amp;amp;m=b"&gt;SMA 3 Annuqayah&lt;/a&gt;, Guluk-Guluk, Sumenep. Isu lingkungan bagi komunitas tempat saya mengajar sebenarnya tidaklah terlalu asing. Sekitar dua tahun sebelumnya di situ sudah terbentuk komunitas pecinta lingkungan di sekolah dengan nama Duta Lingkungan yang dirintis oleh salah seorang guru SMA 3 Annuqayah, Muhammad-Affan. Lebih jauh, sebenarnya komunitas Pondok Pesantren Annuqayah, yang merupakan komunitas besar kami, sudah lama sekali bersentuhan dan bergiat di isu lingkungan. Pada tahun 1981 Annuqayah mendapatkan penghargaan Kalpataru dari pemerintah untuk kategori penyelamat lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterlibatan Annuqayah di isu lingkungan dipelopori oleh Biro Pengabdian Masyarakat Pondok Pesantren Annuqayah (BPM-PPA) yang wilayah garapannya lebih banyak ke masyarakat di sekitar pesantren. Sebagai guru, saya pun mencoba fokus menekuni isu lingkungan di komunitas sekolah tempat saya mengajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramuan ketiga matra yang saya simpulkan itu kemudian pertama kali mewujud dalam bentuk &lt;a href="http://madaris3annuqayah.blogspot.com/2008/04/menjadi-pemulung-di-hari-bumi.html"&gt;aksi memulung sampah plastik&lt;/a&gt; pada peringatan Hari Bumi 2008. Aksi ini sebenarnya dilakukan tanpa persiapan yang matang tapi ternyata melahirkan tindak lanjut yang begitu panjang. Aksi ini disepakati setelah ada salah seorang murid di sekolah saya yang mencoba membuat tas pensil dari sampah plastik. Katanya, ia tergerak oleh salah satu kisah saya sepulang dari ETIC 2008. Memang, di kelas saya sempat bercerita tentang seorang ibu dari Jakarta yang sempat hadir dan berbagi di ETIC 2008. Ibu itu membuat tas dan kerajinan dari sampah plastik. Nah, si murid saya itu, dengan tanpa mesin jahit, ternyata berhasil membuat tas pensil sederhana dari sampah plastik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a onblur="try   {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/S9_xb1vdgrI/AAAAAAAAAxo/MSMf8Z30pCY/s1600/Aksi+PSG+22+April.JPG"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 281px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/S9_xb1vdgrI/AAAAAAAAAxo/MSMf8Z30pCY/s400/Aksi+PSG+22+April.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5467353933235978930" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Teman-temannya di sekolah pun tergerak dan tertarik untuk menseriusi hal ini, sehingga akhirnya diputuskanlah untuk menggelar aksi memulung di Hari Bumi 2008. Ada 52 murid yang mengikuti aksi ini yang direkrut secara sukarela melalui pengumuman yang ditempel di majalah dinding sekolah. Di pengumuman itu, saya mencantumkan fakta dan informasi seputar bahaya plastik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pemulung Sampah Gaul&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindak lanjut aksi ini kemudian mewujud lebih solid dalam bentuk komunitas yang oleh murid-murid dinamakan Pemulung Sampah Gaul (PSG). Setelah aksi memulung itu, komunitas ini tidak hanya sekadar mengolah sampah-sampah plastik yang didapat dari beberapa tempat pembuangan akhir (TPA) di lingkungan Annuqayah yang menampung sekitar enam ribu santri dan siswa. Mereka juga berupaya mendorong tersebarnya pengetahuan, informasi, dan sikap peduli terhadap lingkungan yang bersih dan sehat, terutama menyangkut sampah plastik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski hanya baru bergerak di tingkat lokal, yakni di lingkungan sekolah kami sendiri, kreativitas anak-anak PSG ini mendapat perhatian dan apresiasi dari berbagai pihak, sehingga beritanya sempat dimuat di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;a href="http://madaris3annuqayah.blogspot.com/2008/06/ketika-siswi-sma-3-annuqayah-guluk.html"&gt;Radar Madura&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;(13-14 Juni 2008) dan disiarkan di stasiun televisi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;a href="http://madaris3annuqayah.blogspot.com/2008/06/madura-channel-meliput-kegiatan-psg.html"&gt;Madura Channel&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;(10 Juni 2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk lebih memperluas wilayah sosialisasi, PSG hadir di salah satu stand dalam ajang Haflatul Imtihan Madrasah Annuqayah 2008, yakni kegiatan perayaan akhir tahun pelajaran yang diisi dengan berbagai kegiatan lomba dan semacamnya. Pada kegiatan ini, PSG hadir memamerkan hasil kerajinan dari sampah, melakukan sosialisasi bahaya sampah plastik, memunguti sampah plastik di lokasi pameran, dan presentasi proses kretif mengolah sampah menjadi karya kerajinan. Pada acara yang digelar mulai 3-6 Juli 2008 tersebut, dari buku tamu tercatat ada lebih dari 800 pengunjung yang ikut meramaikan stand PSG.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara stand-stand yang lain berusaha memanjakan hasrat konsumtif santri dan siswa, stand PSG justru memasarkan kesadaran untuk lebih peduli dengan alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak itu, aktivitas PSG semakin populer sehingga sempat diundang ke sekolah dan komunitas lain di lingkungan Sumenep. Pada tanggal 30 Juli 2008 PSG melakukan &lt;a href="http://madaris3annuqayah.blogspot.com/2008/07/psg-sosialisasi-sampah-di-bakeyong.html"&gt;presentasi di MTs Ainul Falah&lt;/a&gt; Bakeyong, Guluk-Guluk, Sumenep, yang mendapatkan respons sangat meriah. Tanggal 21 November 2008 utusan PSG presentasi di forum Fatayat NU Pragaan Sumenep yang kemudian menarik perhatian dan tindak lanjut cukup serius. 13 Februari 2009, anak PSG juga presentasi di komunitas ibu-ibu di Guluk-Guluk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/S9_0lW7mWFI/AAAAAAAAAyQ/HQtAS5eNx_c/s1600/PSG+-+Bakeyong+Juli+2009.JPG"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 278px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/S9_0lW7mWFI/AAAAAAAAAyQ/HQtAS5eNx_c/s400/PSG+-+Bakeyong+Juli+2009.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5467357395298965586" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sehari-hari, komunitas PSG di lingkungan sekolah berupaya menyebarkan informasi dan sikap peduli terhadap bahaya sampah plastik. Memang, idealnya langkah yang paling diutamakan adalah mengurangi (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;reduce&lt;/span&gt;) sampah. Namun disadari bahwa itu mungkin masih terlalu berat untuk masyarakat yang masih relatif buta informasi dan kurang peka atas persoalan sampah dan hal yang terkait dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah, target utama aktivitas PSG adalah penyebaran informasi. Dengan kata lain, aspek faktual yang sederhana dan inspiratif yang diharapkan dapat menggerakkan perubahan—sekecil apa pun. Produk PSG berupa tas dan kerajinan yang lain hanyalah media. Selain untuk menarik perhatian, juga untuk mengingatkan dan menguatkan aspek informatif dan inspiratif terkait sampah plastik. Memang, beberapa orang kadang tampak salah paham memandang aktivitas PSG—melihatnya sebagai aktivitas keterampilan, padahal inti utamanya adalah mengajak orang untuk lebih peka dan peduli lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tersebarnya informasi tentang bahaya sampah plastik diharapkan dapat mengubah perilaku seseorang. Misalnya, belajar untuk memilah sampah plastik, kertas, dan organik. Karena di sekolah kami sebelumnya tak ada upaya pemilahan sampah, maka PSG kemudian membagikan kardus bekas khusus untuk tempat sampah plastik di kelas-kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami juga cukup senang saat kemudian ada dua toko di dekat sekolah kami yang mulai memisah sampah-sampah plastik mereka dan kemudian diserahkan kepada PSG untuk dimanfaatkan sebagai bahan dasar kerajinan dari sampah plastik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua kegiatan PSG ketika itu terutama hanya bermodalkan semangat. Sekolah kami terbilang miskin dan tak punya banyak anggaran untuk mendukung semua kegiatan murid. Tapi murid-murid kami tradisikan untuk berbuat maksimal dengan apa yang kami miliki. Untuk kegiatan PSG, misalnya, ketika itu kami hanya bisa memanfaatkan mesin jahit pinjaman. Alat-alat pendukung untuk mengolah sampah plastik itu pun kami dapat secara swadaya. PSG juga mendapatkan dana dari penjualan hasil kerajinan, baik tas dan semacamnya, yang dibuat oleh murid-murid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun akhirnya ada pihak yang membantu kami menghadapi keterbatasan ini. Di bulan Januari 2009, &lt;a href="http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&amp;amp;rid=56569"&gt;Said Abdullah Institute&lt;/a&gt; di Sumenep memberikan bantuan dana untuk komunitas PSG. Sebagian dana itu kemudian digunakan untuk membeli dua mesin jahit serta peralatan lainnya dan merehab sebuah bangunan gudang di pojok sekolah untuk menjadi bengkel dan markas PSG. Selebihnya, dana kami simpan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SCC dan Dua Adik PSG&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir tahun 2008, saya mendapat informasi tentang sebuah ajang lomba yang digelar oleh &lt;a href="http://www.britishcouncil.org/indonesia-society-school-climate-challenge?mtklink=indonesia-society-school-climate-challenge-link.htm"&gt;British Council Indonesia&lt;/a&gt; bernama &lt;a href="http://schoolclimatechallenge.wordpress.com/"&gt;School Climate Challenge (SCC) Competition&lt;/a&gt;. Lomba ini bertujuan untuk mendorong murid dan guru sekolah menengah terlibat dalam proyek peduli lingkungan. Setelah berembuk dengan beberapa guru dan elemen penggiat lingkungan lainnya di sekolah, di akhir Februari 2009 kami mendaftarkan tiga tim untuk ajang lomba tingkat nasional ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga tim itu masing-masing adalah &lt;a href="http://madaris3annuqayah.blogspot.com/search/label/Tim%20Pupuk%20Organik%20SCC"&gt;Tim Pupuk Organik&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://madaris3annuqayah.blogspot.com/search/label/Tim%20Gula%20Merah%20SCC"&gt;Tim Gula Merah&lt;/a&gt;, dan &lt;a href="http://madaris3annuqayah.blogspot.com/search/label/Tim%20Sampah%20Plastik%20SCC"&gt;Tim Sampah Plastik&lt;/a&gt;. Dua tim yang pertama masing-masing terdiri dari dua guru pendamping dan 3 siswa, sedang Tim Sampah Plastik, karena relatif sudah eksis dan berkegiatan, hanya menempatkan saya sendiri sebagai guru pendamping ditambah dengan empat orang murid. Saya sendiri juga didaulat sebagai koordinator guru pendamping untuk ketiga proyek tersebut. Sebagai bentuk langkah kaderisasi, masing-masing tim juga didukung oleh sejumlah murid yang juga bertanggung jawab dalam pelaksanaan program kerja proyek yang dilaksanakan sepanjang Maret hingga Mei 2009. Ketiga proyek ini menggunakan kas dana PSG dan sama sekali tak mengambil dana sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sangat senang karena setidaknya ada empat guru lainnya yang mulai intens masuk bergiat ke isu pendidikan lingkungan dalam dua proyek SCC yang lain tersebut. Lebih dari itu, isu yang ditekuni mulai meluas, tak hanya sampah plastik, tapi juga pupuk organik dan gula merah atau pangan lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/S9_yERyCdpI/AAAAAAAAAxw/XfxWTlF8hes/s1600/organic+fertilizer.JPG"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/S9_yERyCdpI/AAAAAAAAAxw/XfxWTlF8hes/s400/organic+fertilizer.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5467354627957749394" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Lebih tiga bulan intens mengerjakan dan mendampingi proyek SCC ini, saya berusaha mensinergikan tiga matra yang ada dalam benak saya itu: aspek normatif, sisi faktual, dan gerakan yang terorganisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada aspek normatif, saya mencoba memberi sentuhan pendekatan filsafat moral dalam semua proyek dan kegiatan tersebut. Latar belakang pendidikan sarjana saya sebagai lulusan dari jurusan filsafat menjadi modal tersendiri. Apalagi saya memang meminati bidang etika (filsafat moral) dan mencoba merintis pengenalan wacana filsafat moral di lingkungan Pesantren Annuqayah pada umumnya. Pada sesi penguatan kapasitas, saya mencoba mengajak murid-murid untuk berpikir sedikit radikal menghadapi persoalan lingkungan. Memang, bidang etika lingkungan buat saya terbilang baru, karena di Indonesia sendiri bidang ini terbilang belum cukup populer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sisi faktual, saya mengajak murid-murid untuk menghimpun data dan fakta terkait dengan masing-masing proyeknya, terutama dari internet, untuk dibuat semacam kliping digital. Kliping ini saya harapkan akan menjadi bahan penguatan kapasitas para anggota komunitas penggiat lingkungan lainnya di sekolah. Sekali lagi, sisi faktual ini dicari yang sederhana dan inspiratif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya diajak menekuri buku atau laman-laman di internet, murid-murid juga diajak untuk belajar peka membaca fakta di sekitar mereka. Beberapa kali murid diajak untuk riset lapangan, misalnya ke komunitas petani gula merah, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui proyek SCC, pada level gerakan murid-murid mulai diajak untuk berjejaring dengan komunitas dan sekolah yang lain di wilayah Sumenep, seperti Madrasah Aliyah Nasy’atul Muta’allimin Gapura, Madrasah Aliyah Sumber Payung Ganding, dan sebagainya. Beberapa sekolah tampak antusias dengan kegiatan kami dan ada pula yang kemudian ikut membentuk komunitas peduli lingkungan di sekolahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/S9_yf_CFMcI/AAAAAAAAAx4/36mLvDQAwK0/s1600/sampah+gapura1.JPG"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 293px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/S9_yf_CFMcI/AAAAAAAAAx4/36mLvDQAwK0/s400/sampah+gapura1.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5467355103961100738" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Gerakan penyebaran informasi dan kesadaran yang dilakukan oleh ketiga proyek SCC ini juga sempat mendapat dukungan dari sebuah radio lokal, Ganding FM, saat kami diberi kesempatan gratis untuk on-air dan berbagi pengalaman terkait proyek kami. Selain itu, stasiun televisi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Madura Channel &lt;/span&gt;juga mengundang saya untuk tampil secara langsung dalam dialog memperingati Hari Bumi 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat menutup rangkaian ketiga proyek SCC tepat di penghujung Mei 2009 dan ketiga tim proyek SCC mempresentasikan kegiatan mereka selama tiga bulan di hadapan para undangan yang terdiri dari siswa, masyarakat, dan instansi terkait, pelan-pelan saya dapat menangkap betapa murid-murid—juga guru—yang bergiat di proyek ini tidak saja dilatih untuk mengembangkan potensi kreativitas, kepemimpinan, jiwa wirausaha sosial, dialektika aksi-refleksi, dan menyebar kepedulian terhadap lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pendidikan yang Membumi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks pendidikan lingkungan, proyek SCC yang kemudian berkembang sebagai tiga bidang garapan komunitas lingkungan di SMA 3 Annuqayah juga adalah ikhtiar untuk membumikan proses pendidikan dalam kehidupan aktual sehari-hari di sekitar kita. Ada satu kutipan sangat menarik yang saya dapatkan dari Dewi Lestari, atau yang populer disebut Dee, penulis dan penyanyi yang juga memiliki minat yang besar terhadap isu lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di &lt;a href="http://dee-idea.blogspot.com/2007/07/harta-karun-untuk-semua-hari-ini.html"&gt;blog&lt;/a&gt; yang menjadi salah satu favorit saya itu, Dee mengutarakan bahwa kita tidak dididik untuk tahu—atau mau tahu—tentang dari mana benda-benda yang kita konsumsi berasal, berapa banyak sumber daya alam yang digunakan untuk memproduksi itu semua, dan ke mana semua itu akan berakhir riwayatnya—kertas, tisu, bungkus permen, puntung rokok, komputer, pakaian, dan sebagainya. Pelajaran Biologi, misalnya, mungkin sebagian relatif gagal karena tidak membuat murid bertanya mengapa petani cukup sering mengalami kekurangan pupuk, atau mengapa sumber air bersih di sekitar mereka sudah tak lagi jernih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/S9_zpS5TPzI/AAAAAAAAAyI/mEMvSLYWtZs/s1600/Presentasi+Proyek+SCC+31+Mei+2009.JPG"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 269px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/S9_zpS5TPzI/AAAAAAAAAyI/mEMvSLYWtZs/s400/Presentasi+Proyek+SCC+31+Mei+2009.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5467356363423432498" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Menguatkan pendidikan lingkungan di sekolah dari sudut pandang ini sebenarnya juga berarti membawa kurikulum sekolah ke arah yang lebih kontekstual , membumi, dan mengakar dengan keadaan dan kebutuhan masyarakat tempat murid itu berasal. Di tengah iklim pendidikan formal yang terkesan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;textbook &lt;/span&gt;dan kaku, sungguh kegiatan peduli lingkungan dengan impian akan jaringannya yang kuat akan tampak sebagai sesuatu yang sangat menarik untuk terus ditekuni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya, bergiat di aktivitas pendidikan lingkungan akan memiliki banyak nilai lebih yang juga akan sangat relevan dengan peningkatan mutu pendidikan serta pembentukan generasi muda yang lebih berkarakter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang paling memuaskan buat saya setelah mengerjakan dan mendampingi 3 proyek SCC itu adalah lahirnya kader-kader baru serta bidang baru di komunitas peduli lingkungan di sekolah kami. Saya senang bahwa paling tidak ada guru yang juga tertarik untuk mendampingi murid di kegiatan lingkungan di sekolah. Salah satu di antaranya adalah guru Biologi, Pak Mahmudi, yang sebenarnya tak memiliki latar belakang pendidikan formal di bidang itu, tapi karena cukup bersemangat dan belajar secara otodidak ia dipercaya memegang materi itu di sekolah. Yang lebih menggembirakan, proyek yang didampinginya, yakni proyek pupuk organik berbahan dasar limbah pertanian, berhasil masuk sebagai peringkat kelima dalam ajang lomba SCC yang diikuti oleh hampir 200 proyek dari berbagai sekolah di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prestasi ini tentu menjadi kebanggaan tersendiri tidak hanya untuk dia, tapi juga buat saya dan seluruh civitas kependidikan di sekolah kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/S9_yv5XTQGI/AAAAAAAAAyA/4tif6rWNxBk/s1600/tas+plastik+daur+ulang.JPG"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 276px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/S9_yv5XTQGI/AAAAAAAAAyA/4tif6rWNxBk/s400/tas+plastik+daur+ulang.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5467355377317396578" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Karena kebetulan di lingkungan Pondok Pesantren Annuqayah saya juga mendampingi beberapa komunitas kepenulisan dan aktif mendorong terciptanya iklim jurnalisme warga, saya juga mendorong anak-anak yang terlibat di kegiatan proyek SCC dan PSG untuk mendokumentasikan kegiatan mereka dalam bentuk tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping untuk melatih menuturkan pengalaman dan gagasan melalui media tulisan, menuliskan catatan pengalaman dalam kegiatan lingkungan ini bagi saya tidak saja berarti mereka membagikan pengalaman mereka yang cukup kaya itu. Saya harap dengan hal ini mereka juga bisa berbagi kepedulian dengan orang dan komunitas lain yang lebih luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasilnya, puluhan tulisan sudah dihasilkan oleh murid-murid yang tergabung di komunitas peduli lingkungan ini. Semuanya dipublikasikan di &lt;a href="http://madaris3annuqayah.blogspot.com/"&gt;blog sekolah&lt;/a&gt;. Kebetulan saya sendiri yang menggawangi blog tersebut—kebetulan juga saya di sekolah mengajar pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mengembangkan Kerangka Etis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah SCC rampung di bulan Juni 2009, saya sebenarnya ingin sekali mengusahakan agar tulisan-tulisan para murid itu dapat tersaji lebih utuh dan lebih baik dalam bentuk semacam buku berisi kisah sukses bergiat di aktivitas peduli lingkungan di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya saya belum bisa merealisasikan gagasan ini. Untuk sementara waktu, saya tak bisa secara langsung bersama murid-murid dan rekan-rekan guru SMA 3 Annuqayah, karena di awal September 2009 saya melanjutkan studi saya ke Eropa. Alhamdulillah, di awal Mei 2009 saya mendapat kabar gembira bahwa aplikasi saya untuk program &lt;a href="http://rindupulang.blogspot.com/2009/08/welcome-to-applied-ethics-masters.html"&gt;Erasmus Mundus Masters Course in Applied Ethics&lt;/a&gt; diterima. Saya mendapat kesempatan untuk mendalami bidang etika terapan di dua kampus di Eropa, yakni Utrecht University, Belanda, dan NTNU Trondheim, Norwegia, selama dua semester.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilihan saya untuk melanjutkan studi sebenarnya didorong oleh minat dan keterlibatan saya pada isu lingkungan, sehingga kemudian tertarik untuk secara khusus mendalaminya. Karena saya lihat di Indonesia masih belum ada kampus yang secara khusus mengarah ke sana, saya mencoba mengajukan aplikasi ke program yang disponsori oleh Uni Eropa tersebut, dan alhamdulillah diterima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum berangkat ke Eropa, pertengahan Juni 2009 saya sempat diundang British Council Indonesia yang bekerja sama dengan PMPTK Depdiknas untuk mengikuti &lt;a href="http://rindupulang.blogspot.com/2009/07/inspirasi-dari-kaliandra-dan-malang.html"&gt;lokakarya penyusunan modul pembelajaran&lt;/a&gt; yang berusaha mengintegrasikan berbagai disiplin pelajaran di sekolah dengan perspektif pendidikan lingkungan. Acara yang diadakan di Malang pada 15-19 Juni ini bagi saya memberi banyak inspirasi untuk pengembangan isu pendidikan lingkungan di sekolah tempat saya mengajar, khususnya mengenai langkah teknis untuk memasukkan isu pendidikan lingkungan ke dalam kurikulum secara lebih tertata. Namun saya tidak bisa menindaklanjuti agenda spesifik ini karena saya harus menyiapkan banyak hal sebelum keberangkatan saya ke Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama studi di Eropa, saya tetap menyempatkan diri berkomunikasi dengan murid-murid yang bergiat di komunitas peduli lingkungan di sekolah. &lt;a href="http://madaris3annuqayah.blogspot.com/2009/10/anggota-baru-menyerbu-psg-adakan.html"&gt;Kaderisasi dan konsolidasi&lt;/a&gt; menjadi salah satu target penting, karena dalam banyak kasus suatu komunitas kemudian macet karena masalah kader—poin ini sebenarnya juga menjadi salah satu bagian yang sedang saya pikirkan secara lebih mendalam. Dalam beberapa kesempatan, saya bahkan sempat ikut rapat online dengan mereka menggunakan video conference Skype.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya senang sekali mendapat kabar bahwa mereka masih terus bergiat, termasuk memenuhi undangan &lt;a href="http://madaris3annuqayah.blogspot.com/2010/02/nurul-islah-kamu-di-mana.html"&gt;sekolah&lt;/a&gt; atau &lt;a href="http://madaris3annuqayah.blogspot.com/2010/02/tim-psg-madaris-3-annuqayah-hadapi.html"&gt;komunitas lain&lt;/a&gt; di Sumenep untuk berbagi pengalaman dan presentasi. Di bulan Oktober 2009, misalnya, mereka sempat hadir mewakili Kecamatan Guluk-Guluk dalam Pameran Pembangunan di Kabupaten Sumenep, dan tampil dengan memamerkan aktivitas dan visi hijau mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabar terakhir, mereka tengah menyiapkan diri untuk presentasi di forum "24th Conference of the Caretakers of the Environment International" yang akan diselenggarakan di Malang awal Juli nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini saya tengah menyusun tugas akhir (tesis) untuk program saya. Saya menulis tentang kerangka etis pendidikan lingkungan untuk konteks Indonesia. Penelusuran sementara saya menyimpulkan bahwa persoalan pendidikan lingkungan di Indonesia memiliki nuansa yang begitu luas. Konteks Indonesia sebagai negara berkembang membuat pendidikan lingkungan memiliki kaitan yang sangat erat dengan isu pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan. Pada titik ini, pendidikan lingkungan menurut saya kemudian juga mesti menyentuh isu kemiskinan, keadilan, dan semacamnya, yang dalam konteks Indonesia memiliki kaitan erat dengan isu lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya senang karena selama menempuh studi di Eropa saya bisa melakukan semacam refleksi baik atas kegiatan peduli lingkungan di sekolah tempat saya mengajar pada khususnya dan Indonesia pada umumnya serta refleksi untuk lebih membumikan dan menyediakan kerangka normatif— dalam hal ini berbagai pemikiran dalam bidang etika lingkungan atau etika pada umumnya—yang kokoh untuk gerakan dan proyek pendidikan lingkungan. Kerangka etis yang bersifat aksiologis maupun strategis ini menurut saya akan bermakna penting jika kita melihat bahwa pendidikan lingkungan pada dasarnya adalah bagian dari pendidikan moral—pendidikan moral untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab untuk merawat kehidupan, alam semesta, dan generasi masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja saya sepenuhnya sadar bahwa kerangka etis ini terutama terkait dengan salah satu matra, yakni aspek normatif. Tantangannya, saya tetap harus bisa meramu dan mengintegrasikannya dengan kedua aspek lainnya, yakni sisi faktual dan aspek gerakan, dan juga menerjemahkannya dalam bentuk yang lebih konkret dan aplikatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk tantangan ini, sungguh saya sudah merasa tak sabar menunggu saat pulang pertengahan Juni nanti. Ide-ide di kepala rasanya sudah berletupan dan menunggu untuk diwujudkan. Semoga saya, murid-murid dan rekan guru di sekolah saya, serta kita semua, diberi kekuatan untuk dapat mewariskan bumi dan peradaban yang lebih baik bagi generasi mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tulisan ini terpilih sebagai &lt;a href="http://blog.kompasiana.com/2010/05/20/guru-sma-itu-raih-juara-pertama-nokia-green-ambassador-tahap-iii/"&gt;Juara Pertama Nokia Green Ambassador Tahap Ketiga 2010&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9718171-2446945918232709608?l=rindupulang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rindupulang.blogspot.com/feeds/2446945918232709608/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9718171&amp;postID=2446945918232709608&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/2446945918232709608'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/2446945918232709608'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rindupulang.blogspot.com/2010/05/kegiatan-peduli-lingkungan-di-sekolah.html' title='Kegiatan Peduli Lingkungan di Sekolah dan Pendidikan yang Lebih Membumi'/><author><name>M Mushthafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14972221113444541130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_3KV1whPNznA/R6GvxNRKpvI/AAAAAAAAAAg/WtDlof24hV0/S220/My+Name+is+Musthov+for+Blog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/S9_xKSbGjoI/AAAAAAAAAxg/2kFYbelEvR4/s72-c/DSCN4837.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9718171.post-795443589121986951</id><published>2010-05-01T04:10:00.021+07:00</published><updated>2010-05-23T19:46:44.329+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Madura'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Social-Politics'/><title type='text'>Kisah Para Abdi yang Lelap dalam Mimpi</title><content type='html'>Konon, Orde Reformasi yang dimulai sejak tumbangnya kekuasaan Soeharto menandai permulaan era baru demokrasi di Indonesia. Orde Reformasi adalah saat ketika rakyat punya kesempatan untuk berbicara dan mengekspresikan aspirasinya. Lebih dari itu, Orde Reformasi menjanjikan perbaikan nasib rakyat dari berbagai hal yang mengungkung dan menyengsarakan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di daerah, reformasi ditandai dengan munculnya wajah-wajah baru di elite kekuasaan, baik di pemerintahan maupun badan legislatif. Di daerah saya, Sumenep, atau Madura pada umumnya, hal serupa juga terjadi. Jabatan bupati bahkan dipegang oleh kalangan kiai. Banyak anggota badan legislatif yang juga berlatar belakang santri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah lebih 10 tahun bendera reformasi dikibarkan dengan penuh suka cita, perubahan apakah yang dapat terlihat di daerah saya? Yang cukup tampak adalah bahwa jalan-jalan pelosok yang dulu berbatu dan berdebu kini telah beraspal—meski kualitasnya kadang seperti murahan, lekas rusak dalam hitungan beberapa pekan. Juga, ada subsidi pendidikan untuk siswa tingkat menengah atas—meski terkesan kurang diiringi dengan rencana strategis yang matang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Namun, jika berbicara soal pelayanan publik, saya rasa daerah saya masih berada jauh di belakang garis periode reformasi alias mengecewakan. Saya berani mengatakan demikian meski saya mendapat informasi bahwa Pemerintah Kabupaten Sumenep tahun ini menerima piagam penghargaan pelayanan publik Citra Bhakti Abdi Negara (CBAN) dari Kementerian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara. Menurut &lt;a href="http://www.sumenep.go.id/"&gt;laman Pemerintah Kabupaten Sumenep&lt;/a&gt;, penghargaan ini diberikan karena Pemkab “dinilai mempunyai komitmen kuat untuk meningkatkan pelayanan publik, dengan melahirkan berbagai kebijakan perbaikan di bidang pelayanan publik”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a onblur="try  {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/S_b87Hkt2qI/AAAAAAAAAyc/9OfE26mHBVU/s1600/prestasi-pelayanan-publik-sumenep+omong+kosong.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 238px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/S_b87Hkt2qI/AAAAAAAAAyc/9OfE26mHBVU/s400/prestasi-pelayanan-publik-sumenep+omong+kosong.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5473840489690946210" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;Banyak pengalaman dan cerita di sekitar saya yang menegaskan buruknya pelayanan publik di Sumenep. Hampir setahun yang lalu, saya mengalami sendiri bagaimana ribetnya mengurus salinan akta kelahiran di Kantor Kependudukan dan Catatan Sipil Sumenep. Pekan ini, saya kembali mendapat informasi yang semakin menguatkan pendapat saya bahwa dalam hal pelayanan publik, daerah saya sepertinya belum beranjak dari era kegelapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui status Facebook seorang kawan, saya mendapat kabar bahwa ada seorang mahasiswa di Sumenep yang dijemput oleh dua orang ke rumahnya untuk menghadap Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Sumenep. Masalahnya, si mahasiswa menulis &lt;a href="http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&amp;amp;nid=129098"&gt;surat pembaca di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jawa Pos&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; tentang pungutan liar pembuatan KTP. Kabarnya, saat dipanggil menghadap, si mahasiswa diancam tidak akan pernah mendapat KTP selamanya kecuali ia meralat surat pembacanya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a onblur="try  {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/S9tIiKIZkzI/AAAAAAAAAxA/s7htJPlsmKQ/s1600/KTP+Sumenep.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 296px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/S9tIiKIZkzI/AAAAAAAAAxA/s7htJPlsmKQ/s400/KTP+Sumenep.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5466042324416566066" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saya nyaris tak percaya mendengar kabar ini. Cara pejabat Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil menanggapi surat pembaca itu sungguh tak elok sama sekali. Pungutan liar, atau apa pun namanya, dalam pembuatan KTP di Sumenep sudah jamak diketahui masyarakat. Menurut Perda No 9/2007, biaya pembuatan KTP di Sumenep Rp 6.000,-, tapi di lapangan hampir bisa dipastikan biayanya lebih besar berlipat-lipat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dialami si mahasiswa buat saya sungguh sangat berlebihan. Memanggilnya ke kantor dan memberinya ancaman? Wah, ini jelas bukan hal yang mestinya dilakukan seorang abdi rakyat. Bukannya melayani dan mawas diri, malah mengancam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama setelah saya mendapat kabar ini, datang lagi kabar senada tetapi dari kantor instansi yang berbeda. Kali ini dari Dinas Pendidikan. Satu di antaranya mengabarkan tentang nasib salah seorang murid di sekolah tempat saya mengajar yang tengah meminta surat keterangan ke Dinas Pendidikan sebagai bagian dari persyaratan diterimanya ia di Institut Teknologi Bandung. Katanya, murid saya itu dimintai uang oleh salah satu staf di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabar lainnya, masih dari sumber yang sama, menuturkan bahwa teman saya yang memberi kabar ini sudah tiga hari bolak-balik ke Dinas Pendidikan untuk semacam surat rekomendasi atau surat keterangan atas kegiatannya yang berkaitan dengan pemberdayaan masyarakat. Saya tidak terlalu mengerti konteks dan kronologinya. Tapi dia menceritakan tentang bagaimana ia dilempar ke sana kemari sehingga harus datang berkali-kali tanpa kejelasan yang pasti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sungguh tak mengerti dengan ini semua. Seperti yang saya rasakan tahun lalu, saya hanya bisa merasa kasihan kepada mereka. Para pejabat dan staf di kantor pemerintahan itu rasanya sungguh berada di tempat dan waktu yang salah. Jika tak mau melayani, jangan sekali-kali melamar jadi pegawai negeri. Mungkin mereka merasa bahwa mereka masih hidup di era Orde Baru, saat pemerintah bisa berbuat semena-mena dan rakyat hanyalah hamba yang mesti diam di hadapan penguasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira begitulah adanya. Mereka masih lelap dalam mimpi, bahwa mereka adalah penguasa, bukan abdi masyarakat. Bahwa mereka aman dalam kekuasaan negara yang menggurita dan bebas berbuat apa saja—termasuk mengancam orang yang mengusik kenyamanan mereka. Saya pikir, kita, rakyat atau masyarakat Sumenep, perlu membangunkan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, saya ingin sekali mendengar kabar bahwa tokoh-tokoh masyarakat dan kalangan santri yang kini duduk di jajaran elite pemerintahan atau badan legislatif itu juga turut peduli untuk memperjuangkan perbaikan pelayanan publik di Sumenep. Mungkin memang tidak mudah melakukan perubahan dalam soal ini—apa juga karena sudah mengandung semacam unsur “mafia”? Tapi reformasi sudah lebih 10 tahun, dan belum terlihat perubahan yang berarti. Menyadari hal ini, kadang saya pesimis dan merasa bahwa sepertinya saya tak cukup tepat untuk berharap pada para elite itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kepada siapa saya bisa berharap? Oke, mungkin saya tak boleh terlalu apatis dengan para elite itu. Dalam kasus tertentu, memang terkadang ada di antara elite yang bisa membantu. Tapi yang saya harapkan adalah perubahan yang mendasar dan menyentuh hal-hal yang substansial, bukan hanya bantuan penyelesaian dalam kasus tertentu. Ya, mari kita mencoba sedikit berbaik sangka, bahwa di antara para elite itu masih ada yang bisa mendukung langkah perbaikan semacam ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun begitu, yang paling penting, untuk bisa ke sana, saya kira kitalah, para rakyat bawah, yang harus kompak dan konsisten bergerak bersama-sama—jangan terus menunggu para elite itu untuk berbuat sesuatu. Di tingkat paling awal, saya kira kita harus bisa memanfaatkan peluang yang diberikan oleh teknologi informasi saat ini, yakni internet, untuk bisa saling berbagi pengalaman dan pikiran guna memperbaiki semua ini. Ya, semacam langkah konsolidasi dan merintis upaya keterbukaan informasi, saat laman-laman instansi pemerintah daerah yang mungkin berbiaya tinggi itu tak cukup mampu memenuhi kebutuhan dan tuntutan transparansi, saat para elite kekuasaan daerah di dunia maya kadang hanya bermonolog, asyik dengan dunianya sendiri, dan kurang membuka diri dan peka atas permasalahan nyata yang dialami rakyat sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika pengalaman si mahasiswa yang diancam dan pengalaman murid saya yang dimintai uang itu dibagi bersama di ruang maya ini, mungkin kisah-kisah serupa akan bermunculan datang dari para korban dari tempat, waktu, dan instansi yang bermacam-macam. Lalu pikiran dan langkah ke arah perbaikan mungkin juga akan datang dan dapat disusun dengan lebih baik. Dan, itu semua saya pikir akan dapat menjadi suatu kekuatan besar yang tidak saja akan menjadi ironi bagi sederet penghargaan (formal) atau trofi yang didapat instansi-instansi itu, tetapi mungkin juga bisa mampu memberi efek kejut untuk membangunkan mereka yang tengah lelap dalam mimpi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, mungkin semacam memercikkan air ke wajah mereka yang tidur lelap atau pura-pura tidur. Agar mereka benar-benar mau bangun, lalu bersama-sama kita ajak shalat, mengaji, dan bertaubat. Bukankah konon kiamat sudah dekat—bisa jadi 2012?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Baca juga:&lt;br /&gt;&gt;&gt; &lt;a href="http://rindupulang.blogspot.com/2009/07/arogansi-mental-tak-mau-melayani.html"&gt;Arogansi, Mental-Tak-Mau-Melayani, ataukah Hidup-Salah-Zaman?&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&gt;&gt; &lt;a href="http://rindupulang.blogspot.com/2009/11/orang-miskin-dilarang-sakit.html"&gt;Orang Miskin Dilarang Sakit&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9718171-795443589121986951?l=rindupulang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rindupulang.blogspot.com/feeds/795443589121986951/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9718171&amp;postID=795443589121986951&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/795443589121986951'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/795443589121986951'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rindupulang.blogspot.com/2010/04/kisah-para-abdi-yang-lelap-dalam-mimpi.html' title='Kisah Para Abdi yang Lelap dalam Mimpi'/><author><name>M Mushthafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14972221113444541130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_3KV1whPNznA/R6GvxNRKpvI/AAAAAAAAAAg/WtDlof24hV0/S220/My+Name+is+Musthov+for+Blog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/S_b87Hkt2qI/AAAAAAAAAyc/9OfE26mHBVU/s72-c/prestasi-pelayanan-publik-sumenep+omong+kosong.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9718171.post-1237978251326075415</id><published>2010-04-25T04:56:00.014+07:00</published><updated>2011-03-03T20:20:38.033+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diary'/><title type='text'>Tentang Takdir Sebuah Titik dan Seseorang dari Kegelapan Masa Depan</title><content type='html'>Hidup adalah jejaring. Kita adalah titik yang terhubung dengan titik-titik yang lain. Takdir kita adalah bahwa kita tak bisa sepenuhnya mengucilkan kehadiran kita di luar jangkauan titik-titik yang lain. Kita didefinisikan dan mendefinsikan hal-hal dalam kaitannya dengan hal-hal yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini saya berpikir tentang takdir sebuah titik yang terlempar ke bumi yang takdirnya terperangkap di antara jejaring takdir yang lain. Sebagaimana yang lain, ia terlahir dengan faktisitas yang tak bisa ia tolak. Ia pun lalu mengembara, kemudian terus berkembang dan menjadi matang sehingga akhirnya tampak cukup kemilau. Mungkin di luar ia terlihat tak amat istimewa, tapi di dalam ia seperti menyimpan cahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kini ia rupanya tengah berada dalam situasi yang tak terlalu menguntungkan. Ya, karena hidup adalah jejaring. Takdir satu titik bertemu dengan takdir titik yang lain, juga yang lain, terus yang lain lagi, ditambah yang lainnya lagi, sampai akhirnya mengikat membentuk tali yang menjerat tanpa ia kehendaki. Memang, di antara simpul tali itu ada yang tak begitu kuat karena hanya dibangun di atas praduga dan rekaan belaka&lt;span class="fullpost"&gt;—bukan fakta&lt;/span&gt;. Namun begitu, ini cukup mampu untuk membuat rangkaian titik-titik itu bertambah kusut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pertanyaan yang kemudian datang mengganggu pikiran saya adalah: takdir titik manakah yang kira-kira akan dapat mengeluarkannya dari jejaring takdir himpunan titik-titik itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang dari kegelapan masa depan mencoba menakar perannya bahwa ia akan menjadi elemen baru dari himpunan titik yang rumit itu. Namun ia pun ragu bahwa ia akan mampu masuk ke situ sebagai pengurai bagi belitan titik yang melilit pelik itu. Ia sadar bahwa ia pun tak lebih dari sebuah titik yang juga tak bisa lepas dari jejaringnya sendiri. Ia, seseorang dari kegelapan masa depan di balik kaca yang buram, tahu bahwa jika ia memilih terlibat ke situ, mungkin itu akan menjadi semacam “bunuh diri” yang tak hanya akan melibatkan dirinya, tapi juga titik lain dalam jejaringnya—atau bahkan titik lain yang tak pernah ia duga sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Seseorang dari kegelapan masa depan itu mungkin pengecut. Atau peragu. Atau entah,” pikir saya yang gagal untuk membuat kesimpulan yang tegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tahu, bagaimanapun, seseorang dari kegelapan masa depan mungkin akan datang untuknya. Namun saya tak pernah tahu siapa dia sesungguhnya—kecuali waktu telah menyingkapkan tirai gaibnya. Seperti juga halnya saya tak pernah tahu takdir apa pula yang akan membawanya—ke arah mana, dan bagaimana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di sini saya masih tetap saja penasaran, dan pertanyaan itu masih menempel di benak saya: takdir titik manakah yang kira-kira akan dapat mengeluarkannya dari jejaring takdir himpunan titik-titik itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berpikir, saat takdirnya—dan juga masa depannya—nyata-nyata tak bisa ia definisikan berdasarkan pencapaiannya yang cukup kemilau , dan juga akan sangat ditentukan oleh takdir titik yang lain dalam jejaringnya, apakah saya boleh mengatakan bahwa hidup ini terlalu absurd dan tidak adil—paling tidak untuknya? Ia telah melewati perjalanan panjang dan hari-hari melelahkan yang telah menempanya sedemikian rupa. Tapi di persimpangan yang cukup menentukan, ia terjebak dalam jerat takdir titik yang lain, dalam jejak-jejak titik yang lain yang mengarah pada alur hidup yang dirangkainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengamati situasi semacam ini, saya kadang suka memaknainya sebagai bentuk nyata dari hidup yang absurd. Hidup yang tak mudah dijelaskan dan tampak tak menyediakan makna apa-apa. Tapi saya tahu bahwa jauh dari itu semua, situasi semacam ini buat saya sebenarnya justru semakin menegaskan bahwa hidup memang adalah jejaring. Kita tak bisa hanya berpikir untuk memuluskan jalan takdir titik tertentu saja—mungkin milik kita sendiri—karena ada banyak titik yang lain yang juga akan terkait dengannya. Membatasi untuk hanya berpikir tentang atau pada satu titik saja adalah sebentuk kealpaan akan takdir semesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari itu, saya pun berpikir bahwa itu juga menjadi isyarat yang kuat betapa kita tak bisa menguasai masa depan—atau lainnya—secara penuh. Sebab lukisan masa depan tak hanya ditentukan oleh garis yang kita guratkan, tapi juga digoreskan oleh pelukis yang lain dengan karakter dan gradasi warna sesuai dengan seleranya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang tengah malam, saya masih tak bisa lepas dari pertanyaan saya ini yang terlontar di sebuah perbincangan siang tadi setelah mungkin sebelumnya menunggu momentum cukup lama untuk dirumuskan. Namun, saat perlahan saya mencoba menuliskan butir-butir pikiran saya dalam catatan ini, terlintaslah dalam benak saya bahwa jangan-jangan ini semua hanya semacam kerusuhan dalam pikiran saya saja—pantulan dari keruwetan pikiran saya sendiri. Artinya, titik yang saya bicarakan dari tadi, yang digambarkan tengah berada dalam kerumitan, sebenarnya tak pernah seperti itu—atau mungkin tak &lt;span style="font-style: italic;"&gt;merasa &lt;/span&gt;seperti itu. Ia baik-baik saja, atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;merasa&lt;/span&gt; baik-baik saja, menjemput hari-hari mendatang dengan senyum di bibirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, sepanjang terkait titik yang saya pikirkan itu, saya mengembalikan semuanya pada Rencana Semesta. Karena saya sebenarnya tak tahu apa-apa tentangnya—juga yang lainnya. Selebihnya, saya kembali pada kesimpulan saya, bahwa hidup ini adalah jejaring, dan saya tak bisa mengendalikan semua jejaring itu menurut kehendak dan keinginan saya. Namun saya yakin, dalam segala keterbatasan, ada hal-hal berguna yang bisa kita lakukan untuk membuat semuanya menjadi lebih baik—sekecil apa pun itu bentuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan terkait:&lt;br /&gt;&gt;&gt; &lt;a href="http://rindupulang.blogspot.com/2006/03/membincang-takdir.html"&gt;Membincang Takdir&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9718171-1237978251326075415?l=rindupulang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rindupulang.blogspot.com/feeds/1237978251326075415/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9718171&amp;postID=1237978251326075415&amp;isPopup=true' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/1237978251326075415'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/1237978251326075415'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rindupulang.blogspot.com/2010/04/tentang-takdir-sebuah-titik-dan.html' title='Tentang Takdir Sebuah Titik dan Seseorang dari Kegelapan Masa Depan'/><author><name>M Mushthafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14972221113444541130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_3KV1whPNznA/R6GvxNRKpvI/AAAAAAAAAAg/WtDlof24hV0/S220/My+Name+is+Musthov+for+Blog.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9718171.post-7224190457305945763</id><published>2010-04-12T19:39:00.017+07:00</published><updated>2011-08-30T11:28:43.576+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Celestial Bodies'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='European Adventures'/><title type='text'>Tarian Aurora di Langit Utara</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/S8MWMgf8PZI/AAAAAAAAAww/_-HiJPVLw_I/s1600/Aurora+Borealis+-+Trondheim+120410+0048+30s+ISO-100+DMC-FS5+by+musthov.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 324px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/S8MWMgf8PZI/AAAAAAAAAww/_-HiJPVLw_I/s400/Aurora+Borealis+-+Trondheim+120410+0048+30s+ISO-100+DMC-FS5+by+musthov.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5459231577441320338" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sungguh saya tak menduga sebelumnya bahwa di negeri Viking ini saya akan punya kesempatan untuk menyaksikan salah satu keindahan alam yang hanya dapat disaksikan di belahan bumi tertentu saja. Setelah sempat gagal sebelumnya, akhirnya tadi malam saya berhasil menikmati keindahan langit utara yang menampilkan aurora.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aurora adalah cahaya di langit dekat wilayah kutub yang hadir di malam hari. Cahaya ini muncul sebagai akibat dari interaksi antara medan magnetik bumi dengan partikel bermuatan yang dipancarkan matahari. Aurora di langit utara disebut Aurora Borealis. Saya cukup kesulitan dan tak paham membaca penjelasan ilmiahnya yang cukup terperinci di &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Aurora_%28astronomy%29"&gt;Wikipedia&lt;/a&gt;. Mungkin saya harus membacanya berulang-ulang dengan lebih cermat untuk bisa menangkap penjelasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Yang pasti, tadi malam saya tak perlu benar-benar harus mengerti penjelasan ilmiah tentang apa itu aurora untuk bisa mengagumi dan menikmati keindahannya. Cahaya kehijau-hijauan itu berpendar di langit. Kadang ia membentang panjang dari timur ke barat, berkelebat, lalu mengental, meremang, menebal, dan menipis. Di saat yang lain, ia tampak menumpuk di langit utara dalam area yang cukup melebar, lalu sesekali mementaskan tarian lembut sebelum akhirnya menghilang ditelan langit cerah bertabur bintang. Dari sudut yang berbeda, kadang cahaya kehijauan itu membentuk seperti tanduk Viking yang menggantung di langit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/S8MXq19Q7WI/AAAAAAAAAw4/djswgKD8E5Y/s1600/Aurora+Borealis+-+Trondheim+120410+0101+30s+ISO-100+DMC-FS5+by+musthov.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 234px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/S8MXq19Q7WI/AAAAAAAAAw4/djswgKD8E5Y/s400/Aurora+Borealis+-+Trondheim+120410+0101+30s+ISO-100+DMC-FS5+by+musthov.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5459233198109158754" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Saya menyaksikan aurora tadi malam dari puncak bukit kecil di komplek asrama mahasiswa Moholt, Trondheim. Jaraknya hanya sekitar 150 meter dari apartemen saya. Selasa jelang tengah malam hingga Rabu dini hari yang lalu, hampir dua jam saya di sana menunggu aurora, namun mendung tebal telah menyembunyikannya. Untungnya, tadi malam aurora berhasil hadir dengan sempurna, sejak mendekati tengah malam hingga menyongsong fajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara puluhan mahasiswa dari berbagai negara yang ramai-ramai berkumpul di bukit kecil untuk menyaksikan keindahan aurora itu, saya mencoba merekam gambar aurora dengan kamera saku saya dari berbagai sudut. Sayangnya, di puncak bukit kecil yang juga menjadi tempat parkir mobil itu ada satu lampu di tengah yang agak mengganggu untuk dapat menyaksikan pemandangan langit malam dengan lebih sempurna. Namun demikian, dengan mengambil sudut pandang yang tepat, sedikit teknik, dan tentu saja kesabaran, saya dapat mengabadikan beberapa gambar aurora dengan cukup memuaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/S8MV1xRhgCI/AAAAAAAAAwo/BbkRxeNBu6A/s1600/Aurora+Borealis+-+Trondheim+110410+2207+15s+ISO-100+DMC+FS5+by+musthov.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 236px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/S8MV1xRhgCI/AAAAAAAAAwo/BbkRxeNBu6A/s400/Aurora+Borealis+-+Trondheim+110410+2207+15s+ISO-100+DMC+FS5+by+musthov.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5459231186807259170" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Dari atas bukit itu, aurora kadang tampak melintang seumpama selendang yang dikibarkan di atas bangunan komplek mahasiswa Moholt Studentby. Jauh di belakang, tampak bukit yang bercahaya oleh lampu-lampu kota. Saya juga sempat mengambil gambar aurora dari balik pohon yang masih belum berdaun. Warna kehijauan bertaburan di langit di balik pohon yang tampak meranggas itu. Titik-titik bintang kecil bersinar keputihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarian cahaya indah di langit utara—apakah saya masih akan punya kesempatan untuk kembali menyaksikannya? Mengingat kembali pemandangan langit tadi malam itu, saya masih merasa takjub dan bertanya-tanya: seberapa dalam sebenarnya rahasia semesta telah berhasil kita singkapkan? Aurora, bagaimanapun, hanyalah bagian kecil dari mukjizat bumi, planet kecil di antara bintang-bintang terserak dan benda langit di angkasa yang tak terhingga hitungannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai aurora, pesan apakah yang hendak kau bawa untuk kami di sini?&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9718171-7224190457305945763?l=rindupulang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rindupulang.blogspot.com/feeds/7224190457305945763/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9718171&amp;postID=7224190457305945763&amp;isPopup=true' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/7224190457305945763'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/7224190457305945763'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rindupulang.blogspot.com/2010/04/tarian-aurora-di-langit-utara.html' title='Tarian Aurora di Langit Utara'/><author><name>M Mushthafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14972221113444541130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_3KV1whPNznA/R6GvxNRKpvI/AAAAAAAAAAg/WtDlof24hV0/S220/My+Name+is+Musthov+for+Blog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/S8MWMgf8PZI/AAAAAAAAAww/_-HiJPVLw_I/s72-c/Aurora+Borealis+-+Trondheim+120410+0048+30s+ISO-100+DMC-FS5+by+musthov.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9718171.post-2754383069996708960</id><published>2010-04-02T00:36:00.008+07:00</published><updated>2010-06-09T15:48:10.167+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diary'/><title type='text'>Ayah, Apa Kau Masih Bisa Memimpin Pembacaan Shalawat di Perayaan Maulid Tahun ini?</title><content type='html'>Andai kau sedang berada di rantau, momen apakah yang akan membuatmu paling mudah untuk teringat pada ayah atau ibumu? Saya menduga kuat bahwa salah satu jawaban favorit adalah saat sakit. Bila kebetulan terbaring sakit di rantau, kita akan tersadar bahwa kita sedang benar-benar sendiri dan jauh dari keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuh bulan di Eropa, alhamdulillah bisa dibilang saya belum pernah benar-benar sakit. Pernah juga sih, dua kali kurang enak badan agak serius. Yang pertama gara-gara kelelahan sepulang dari Jerman, dan yang kedua pas awal-awal baru tiba di Belanda—mungkin karena masih penyesuaian dengan cuaca dan sibuk mengurus ini itu. Masing-masing, sekitar dua hingga tiga hari saya tak banyak beraktivitas dan hanya beristirahat di kamar saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, bukan sakit yang mengingatkan saya pada orang rumah. Selama di Eropa, bulan Maulid-lah yang telah benar-benar mengingatkan saya pada ayah. Dalam rindu, saya bertanya-tanya: apakah ayah masih bisa memimpin pembacaan shalawat di perayaan Maulid tahun ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Di sepanjang bulan Maulid, bahkan kadang juga sebelum dan sesudahnya, di Madura pada khususnya biasanya ramai dengan perayaan Maulid. Orang-orang maupun lembaga banyak yang ikut memperingati kelahiran Baginda Nabi Muhammad saw. Bisa dikatakan hampir tiap hari. Dalam perayaan Maulid, shalawat, diba’ dan barzanji dilantunkan bersama-sama dengan dipandu oleh salah seorang yang hadir. Sering kali juga diiringi dengan tabuhan rebana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah saya bisa dibilang biasa memandu atau memimpin pembacaan shalawat di acara-acara perayaan Maulid di daerah saya. (Sebenarnya, shalawat juga biasa dibacakan dalam acara pernikahan dan ritus lainnya.) Memang, ayah memiliki suara yang merdu. Beberapa orang mengatakan bahwa jika membaca al-Qur’an, suara ayah mirip dengan Syeikh Ali bin Abdurrahman al-Hudzaifi, imam Masjid Nabawi, Madinah, yang terkenal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perayaan Maulid, ayah biasanya membacakan diba’ dan barzanji atau bacaan shalawat dengan irama lagu yang konvensional. Saya tidak tahu apakah penggambaran saya ini benar. Yang jelas, pilihan irama lagunya bisa dibilang relatif sudah lazim didengar dan mudah diikuti oleh jama’ah yang hadir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri memang lebih suka seperti itu. Dengan pilihan shalawat yang kurang akrab didengar, saya kadang merasa kurang bisa menyatu dengan suasana religius yang berusaha dibangun dalam sebuah perayaan Maulid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski pilihan irama lagunya biasa, saya harus katakan bahwa saat ayah membacakan diba’, barzanji, atau shalawat, saya dapat merasakan keindahan dan ketulusannya dalam memberikan pujian dan penghormatan kepada Baginda Rasul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, tujuh bulan berpisah dengan keluarga di rumah, dipisahkan jarak sebelas ribu kilometer, saya bertanya-tanya: apakah ayah masih bisa melantunkan diba’, barzanji, dan shalawat di perayaan Maulid tahun ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak akhir 2007, yakni sejak &lt;span style="font-style: italic;"&gt;stroke &lt;/span&gt;(ringan) menyerangnya, saraf motorik ayah terganggu. Ini menyebabkan ayah menjadi agak kesulitan mengolah suaranya. Ayah juga mengatakan bahwa nafasnya menjadi tidak cukup panjang lagi. Sejak saat itu, terkadang ayah menolak memimpin pembacaan diba’ atau barzanji di acara perayaan Maulid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaupun ayah bersedia, saya dapat merasakan betapa ayah sudah tak bisa fasih membaca diba’ atau barzanji seperti dulu, sebelum stroke menyerangnya. Saya masih ingat, di suatu siang di awal 2007 saya sempat mengikuti sebuah acara Maulid di rumah salah satu famili, dan ayah memimpin pembacaan diba’ di acara itu. Saya masih bisa merasakan kekuatan lantunan suaranya. Bacaan diba’, barzanji, dan shalawat ayah buat saya terasa cukup mampu untuk menghadirkan Baginda Rasul di antara kekhidmatan jama’ah yang hadir di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, saya dapat merasakan betapa kadang ayah tampak kesulitan untuk melafalkan bait-bait syair yang berisi pujian kepada Nabi Muhammad itu. Bahkan kadang ketika membaca ayat al-Qur’an saat shalat berjama’ah, ayah juga kesulitan dan tak sefasih sebelumnya. Kadang ayah tampak cukup emosional dan tak sabar saat ia mengalami kesulitan semacam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, bulan Maulid telah lewat. Tapi mungkin saja masih ada orang yang merayakan Maulid Nabi di sekitar rumah saya. Dan, sampai sekarang pun, pikiran itu masih terus membayangi saya: apakah ayah masih bisa memimpin pembacaan shalawat dalam perayaan Maulid tahun ini—juga tahun-tahun mendatang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah, saya rindu bacaan shalawatmu. Ayah, saya berdoa untukmu, dan semoga syafa’at Nabi selalu tercurah untukmu. Ayah, maafkan saya, anakmu yang tak tahu berbakti ini.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9718171-2754383069996708960?l=rindupulang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rindupulang.blogspot.com/feeds/2754383069996708960/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9718171&amp;postID=2754383069996708960&amp;isPopup=true' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/2754383069996708960'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/2754383069996708960'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rindupulang.blogspot.com/2010/04/apa-ayah-masih-bisa-memimpin-pembacaan.html' title='Ayah, Apa Kau Masih Bisa Memimpin Pembacaan Shalawat di Perayaan Maulid Tahun ini?'/><author><name>M Mushthafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14972221113444541130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_3KV1whPNznA/R6GvxNRKpvI/AAAAAAAAAAg/WtDlof24hV0/S220/My+Name+is+Musthov+for+Blog.jpg'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9718171.post-4730607258813583984</id><published>2010-03-28T04:51:00.020+07:00</published><updated>2011-03-26T19:30:03.575+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diary'/><title type='text'>Sebuah Cerita Akhir Pekan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/S65-GTPGSJI/AAAAAAAAAwg/9RfiYiAT4R8/s1600/MA+27032010.JPG"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 273px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/S65-GTPGSJI/AAAAAAAAAwg/9RfiYiAT4R8/s400/MA+27032010.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5453434845500164242" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hari ini gerimis turun hampir seharian. Sesekali salju yang agak keras turun, mirip butiran es yang amat kecil. Saya merasakannya saat keluar membeli jeruk ke tempat belanja di sudut komplek asrama. Butir-butir es itu jatuh menerpa jaket dan terdengar seumpama alat musik perkusi. Saat saya melintas di atas tumpukan salju yang agak mengeras atau yang becek, suaranya menjadi nyaris tak terdengar tergantikan oleh suara gesekan sepatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini langit mendung berwarna kelabu. Tak ada matahari. Jendela kamar basah diterpa rintik yang tertiup angin. Jelang petang, saat lampu-lampu rumah yang berderet di bebukitan mulai dinyalakan di kejauhan, kabut turun memotong jarak pandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam datang semakin terlambat. Menghadap jendela yang agak buram, saya menunggu bulan yang akan muncul dari balik gedung di seberang kamar. Tapi langit memang kelam tertutup awan—dan bulan bersembunyi di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tirai jendela saya biarkan terbuka, berharap akan menemukan bulan menggantung di angkasa memancarkan cahaya saat orang memadamkan lampu-lampu mereka selama sejam. Langit tetap berselimut awan yang gelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 20.30, lampu kamar saya padamkan. Saya buka jendela kamar pelan-pelan. Dingin seketika masuk menyerbu. Rumah-rumah di bebukitan itu masih bercahaya. Di bawah, pohon yang kerontang tampak suram di antara penerangan lampu yang berwarna kekuningan. Salju masih menutupi tanah di bawahnya. Suasana begitu lengang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam terus berjingkat, seperti pencuri yang tak ingin diketahui keberadaannya. Apakah saya memang punya harta yang cukup berharga untuk dicuri? Entahlah. Akhir pekan ini, saya merasa begitu tua dan lelah. Tua dan malam. Sedang meja saya masih berantakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Moholt, Trondheim, 27/03/2010 22.48&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9718171-4730607258813583984?l=rindupulang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rindupulang.blogspot.com/feeds/4730607258813583984/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9718171&amp;postID=4730607258813583984&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/4730607258813583984'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/4730607258813583984'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rindupulang.blogspot.com/2010/03/cerita-akhir-pekan.html' title='Sebuah Cerita Akhir Pekan'/><author><name>M Mushthafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14972221113444541130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_3KV1whPNznA/R6GvxNRKpvI/AAAAAAAAAAg/WtDlof24hV0/S220/My+Name+is+Musthov+for+Blog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/S65-GTPGSJI/AAAAAAAAAwg/9RfiYiAT4R8/s72-c/MA+27032010.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9718171.post-1271015083967086699</id><published>2010-03-27T18:10:00.024+07:00</published><updated>2011-03-02T20:40:04.981+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Environmental Issues'/><title type='text'>Perkenalan yang Terlambat</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.vhrmedia.com/2010/lari.php?.ke=http://network.vhrmedia.com/&amp;amp;.d=869" target="_blank" title="Beatblog - Writing Contest"&gt;&lt;img src="http://www.vhrmedia.com/2010/resize.php?image=/2010/ngadimin/form/kakafile/PotretKomik/banner/beatblog_WritingContest.jpg&amp;amp;new_width=220" style="border:none" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;“Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali,” demikian sebuah ungkapan bijak mengatakan. Kalimat ini terlintas di pikiran saya saat baru beberapa menit menonton film dokumenter berjudul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Addicted to Plastic&lt;/span&gt; (2009). Di bagian pembuka film itu, ada gambaran singkat betapa kehidupan kita mulai dari kamar tidur hingga berbagai kegiatan yang lain telah dikepung habis-habisan oleh plastik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya merasa terlambat berkenalan dengan informasi penting perihal plastik—dengan berbagai masalahnya. Meski saat duduk di bangku Madrasah Aliyah pernah tertarik pada isu lingkungan dan sempat menulis sebuah &lt;a href="http://rindupulang.blogspot.com/1995/07/manusia-dan-krisis-lingkungan.html"&gt;artikel tentang lingkungan&lt;/a&gt;, saya merasa cukup terlambat untuk mendapatkan “pencerahan” yang pada gilirannya berlabuh pada sikap yang konsisten, lebih konkret, dan lebih luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/S63rg8PM_GI/AAAAAAAAAwY/gSs8Z4DMcUA/s320/sampah+plastik.JPG" style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 229px; height: 320px;" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5453273674973772898" border="0" /&gt;Saat mengikuti acara &lt;a href="http://rindupulang.blogspot.com/2008/04/sepekan-di-kaliandra.html"&gt;Environmental Teachers’ International Convention (ETIC)&lt;/a&gt; 24-29 Maret 2008 yang lalu di Kaliandra, Pasuruan, momentum “pencerahan” itu pun datang. Forum yang kaya inspirasi itu mendorong saya untuk kemudian menemukan berbagai informasi mendasar yang cukup revolusioner buat saya berkaitan dengan isu lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Plastik adalah yang paling awal. Hasil penelusuran saya di internet memberi saya banyak informasi yang cukup mengejutkan. Buat saya yang hidup dan dibesarkan di kampung di pedalaman Madura, saya baru sadar bahwa plastik sebenarnya adalah sejenis makhluk yang hadir secara diam-diam di sekitar saya, sampai akhirnya saya tersadar ketika mereka telah memberi ancaman nyata yang mewujud dalam tumpukan sampah yang nyaris tak dapat terurai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air minum dalam kemasan plastik adalah contoh yang cukup mudah dilihat. Saya tidak tahu kapan persisnya orang-orang di kampung saya dan yang lainnya menjadi begitu terpikat dengan produk ini. Air dalam kemasan sudah menjadi bagian hidup sehari-hari masyarakat di sekitar saya. Di sekolah, kantor-kantor pemerintah, bahkan saat bertamu ke tetangga pun, saya biasanya akan disuguhi air dalam kemasan plastik. Semakin hari jenisnya pun semakin beragam—tak hanya air minum biasa, tapi juga teh, dan sebagainya. Sulit saya bayangkan sebelumnya: bahkan saya bisa mendapatkannya setelah ikut tahlilan di tetangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kantong kresek adalah wujud lain dari plastik yang paling populer. Dari pusat perbelanjaan di kota-kota hingga pasar tradisional di desa, hampir semua menggunakan kantong kresek atau berbahan plastik. Mungkin karena proses kedatangannya yang cukup samar, orang-orang kebanyakan sulit bersikap kritis untuk mempertanyakan muasal dan nasib akhir dari kantong kresek yang diterima setiap kali mereka berbelanja ini. Mereka tak sadar bahwa usia kantong-kantong kresek itu akan jauh lebih panjang dari rata-rata usia kita. Tak hanya itu, mereka juga tak sadar akan harga yang harus dibayar untuk itu semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketaksadaran ini sering kali saya temukan saat saya berbelanja. Juli 2009, saat berkunjung ke Yogyakarta, saya sempat mampir ke sebuah toko buku dan membeli dua buah buku tipis. Saya membayar Rp 24.800,- untuk dua buku tersebut. Kebetulan saya tak membawa tas ransel. Akan tetapi, karena merasa kedua buku itu dapat saya pegang dengan nyaman, saya menolak kantong kresek yang diberikan oleh pelayan toko itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si pelayan tampak keheranan dan setengah memaksa saya untuk menerima kantong kresek itu. “Mbak, saya tak mau menambah jumlah sampah,” kata saya, singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi dia tetap memaksa. “Gapapa Mas, ini. Nanti kalau sudah di luar, buang saja ke tempat sampah kalau memang tak mau,” katanya dengan nada dan ekspresi yang tak nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tambah heran dan jadi bertanya-tanya dalam hati, apakah dia memaksa karena alasan promosi, yakni karena di kantong kresek itu ada nama toko buku ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mbak, tanpa kantong kresek, saya bisa membawa dua buku saya dengan nyaman.  Jadi tak perlu. Lagi pula, sampah plastik itu butuh puluhan atau bahkan ratusan tahun untuk dapat terurai di tanah,” jawab saya sambil bergegas meninggalkannya yang tampak masih menunjukkan rasa jengkelnya atas penolakan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bukan pengalaman pertama saya berhadapan dengan pelayan toko yang keheranan saat ada pembeli menolak diberi kantong kresek. Sebenarnya, di penghujung 2008, di toko buku yang sama, saya juga mengalami kejadian serupa—dengan pelayan yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, pengalaman seperti ini jelas menunjukkan lemahnya pengetahuan dasar mereka tentang bahaya sampah plastik sehingga mereka tidak merasa sedang dikepung oleh bahaya sampah plastik. Akhirnya, peluang besar untuk menyampah dengan kantong kresek menjadi biasa. Sebaliknya, menolak kantong kresek tampak sebagai sikap yang aneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya, jika memang berniat untuk berbelanja, saya akan membawa kantong kain atau tas ransel dari rumah. Saat di rumah, saya cukup sering membawa &lt;a href="http://madaris3annuqayah.blogspot.com/2009/06/sampah-sampah-plastik-itu-tak-terbuang.html"&gt;tas plastik daur ulang&lt;/a&gt; karya murid-murid SMA 3 Annuqayah jika memang berniat mau berbelanja. Sering kali tas plastik daur ulang ini menjadi perhatian orang, termasuk pelayan toko. Pada saat itulah saya sering mendapat kesempatan untuk sekadar berbagi info mendasar tentang bahaya sampah plastik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/S63rOIb0KpI/AAAAAAAAAwQ/JitaWrhsJ0Y/s1600/tas+plastik+daur+ulang.JPG"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 276px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/S63rOIb0KpI/AAAAAAAAAwQ/JitaWrhsJ0Y/s400/tas+plastik+daur+ulang.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5453273351830383250" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Berbagi pengetahuan, berbagi pengalaman, dan berbagi kesadaran. Itulah yang juga saya lakukan bersama murid-murid SMA 3 Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, sejak April 2008. Sepulang dari ETIC di Pasuruan, bersama murid-murid saya mencoba menyebarkan informasi tentang bahaya sampah plastik. Sejauh ini, kami menggunakan media hasil kreasi daur ulang sampah plastik sebagai penarik perhatian atau sebagai pintu masuk ke perbincangan yang lebih luas dan mendalam. Dari satu sekolah ke sekolah yang lain, juga dari satu komunitas ke komunitas yang lain, kami mencoba mengajak mereka untuk mencermati perubahan di sekitar, khususnya bagaimana sampah plastik telah pelan-pelan semakin mengancam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di sini saya berkesimpulan bahwa sering kali kita butuh informasi dan pengetahuan untuk bisa mengubah perilaku tertentu. Tentu tak semua jenis informasi dan pengetahuan bisa memberi pengaruh perubahan. Mungkin kita juga harus pintar mengolahnya, meraciknya dengan “bahan” yang lain, agar informasi dan pengetahuan itu bisa menginspirasi untuk perubahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ini bukanlah hal yang mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain informasi dan pengetahuan, saya percaya bahwa dukungan sistem itu perlu, seperti bahwa kantong kresek itu tak dibagikan secara gratis di pusat perbelanjaan, seperti juga kenyamanan &lt;a href="http://rindupulang.blogspot.com/2009/10/bersepeda-di-belanda.html"&gt;bersepeda di Belanda&lt;/a&gt;, dan semacamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, setelah tujuh bulan tinggal di Eropa, saya menjadi semakin percaya bahwa pengetahuan dan dukungan sistem saja mungkin tak akan cukup. Di Belanda dan Norwegia, misalnya, meski kantong kresek di pusat perbelanjaan ada harganya (EUR 0,22 di Belanda dan NOK 0,70 di Norwegia), saya kadang masih melihat orang belanja tak membawa kantong sendiri dari rumah sehingga harus beli kantong kresek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain dari itu, teman flat saya yang orang Eropa ternyata juga tak terbiasa memilah jenis sampah, meski di komplek asrama mahasiswa di sini tong sampah dibuat terpisah dan para mahasiswa diingatkan untuk memilah sampah. Saat teman-teman di Milis Keluarga Trondheim, milis warga Indonesia di Trondheim, Norwegia, membahas tentang Earth Hour, ada yang kritis mempertanyakan mengapa lampu di kampus NTNU Trondheim sering menyala di malam hari meski mungkin ruangannya sedang tak digunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia pun, saya juga pernah mengalami paradoks serupa saat mengikuti sebuah acara yang diselenggarakan oleh lembaga yang menaruh minat besar pada pendidikan lingkungan. Sajian makan siangnya menggunakan kemasan styrofoam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, sikap konsisten itu tak mudah dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman menyaksikan paradoks semacam itu, baik di tanah air maupun di Eropa, menjadi hiburan tersendiri buat saya. Perkenalan saya yang terlambat dengan pengetahuan dan informasi yang revolusioner dalam kaitannya dengan gaya hidup ramah lingkungan tak membuat saya minder dan surut untuk mendorong diri saya sendiri agar bisa lebih konsisten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari itu, ada hal penting yang selalu saya garis bawahi, yakni bahwa dukungan pengetahuan dan informasi, sistem, dan mungkin perangkat teknologi ramah lingkungan, semuanya adalah faktor eksternal. Perubahan, bagaimanapun, selalu akan kembali ke diri kita sendiri—bukan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Moholt, Trondheim, 27/03/2010 12.10&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Baca juga:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://rindupulang.blogspot.com/2009/06/against-plastic-rubbish.html"&gt;Against Plastic Rubbish&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9718171-1271015083967086699?l=rindupulang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rindupulang.blogspot.com/feeds/1271015083967086699/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9718171&amp;postID=1271015083967086699&amp;isPopup=true' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/1271015083967086699'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/1271015083967086699'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rindupulang.blogspot.com/2010/03/perkenalan-yang-terlambat.html' title='Perkenalan yang Terlambat'/><author><name>M Mushthafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14972221113444541130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_3KV1whPNznA/R6GvxNRKpvI/AAAAAAAAAAg/WtDlof24hV0/S220/My+Name+is+Musthov+for+Blog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/S63rg8PM_GI/AAAAAAAAAwY/gSs8Z4DMcUA/s72-c/sampah+plastik.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9718171.post-6944470066458748147</id><published>2010-03-06T21:24:00.010+07:00</published><updated>2010-05-18T04:04:49.594+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='European Adventures'/><title type='text'>Serasa di Minas Tirith</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/S5JmLx2CqEI/AAAAAAAAAvo/Qs9ZJHzFIRY/s1600-h/Minas+Tirith.JPG"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 218px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/S5JmLx2CqEI/AAAAAAAAAvo/Qs9ZJHzFIRY/s400/Minas+Tirith.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5445527251988949058" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sebulan di Trondheim, 500 kilometer arah utara ibukota Norwegia, Oslo, saya kadang membayangkan seolah sedang tinggal di Minas Tirith, ibukota kerajaan Gondor. Paling tidak, itu yang cukup sering saya rasakan setiap kali berjalan mendaki atau turun bukit menuju atau dari kampus Dragvoll NTNU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sepanjang jalan setapak yang masih tertimbun salju tebal, tak begitu jauh, tampak pemandangan rumah-rumah warna-warni yang menutupi sisi bukit. Rumah-rumah itu warna-warni karena kebanyakan terbuat dari kayu dan dicat merah, kuning, hijau, biru, putih, dan nuansa warna indah yang agak sulit saya gambarkan. Satu di antaranya membentuk seperti tangga berundak mengikuti kontur bukit. Memang bukitnya tak setinggi dan securam Minas Tirith, tapi cukup untuk mengingatkan saya pada kota imajiner rekaan Tolkiens dalam trilogi terakhir &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Lord of the Rings&lt;/span&gt; yang tergambar begitu eksotik di versi filmnya yang legendaris itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Saat saya melewatinya di hari yang sangat cerah, pemandangannya benar-benar indah. Langit biru yang begitu bersih benar-benar seakan ruang kosong yang aneh tapi memukau. Sisa-sisa salju  yang menutupi sebagian atap rumah dan sedikit sisi bukit yang kosong membuat pemandangannya seperti negeri fantasi—ya, seperti Bumi-Tengah. Sisi bukit yang kosong itu tampak seperti cadas terjal yang tak begitu rata, sehingga salju yang memutih membentuk lukisan yang juga indah. Di halaman salah satu rumah yang berada dekat kaki bukit, tampak beberapa gazebo kecil dihampari salju di sekelilingnya yang tampak kontras dengan ukuran rumah yang begitu besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisi bukit itu terkesan sangat indah di mata saya juga karena saya telah melihatnya dalam suasana yang berbeda. Tepat sebulan yang lalu, saat baru mulai kuliah, saya pernah menikmati pemandangan bukit ini di pagi buta, satu jam sebelum matahari terbit. Waktu itu, kuliah saya masuk pukul 08.15, sedang matahari terbit pukul 08.26. Lampu-lampu temaram dan suasana yang masih gelap memberi kesan dan detail pemandangan yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kesempatan lain, saya menikmati pemandangan bukit itu saat saya pulang dari kampus dan salju sedang turun cukup lebat. Memang, pandangan mata jadi agak terbatas. Tapi rumah-rumah di lereng bukit itu tetap terlihat meski samar di antara warna putih yang dominan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, pandangan saya tak selalu mengarah pada sisi bukit di jalan setapak menuju kampus itu. Karena tepat di seberang arah bukit, terhamparlah lanskap kota Trondheim yang begitu indah, lengkap dengan selat dan bebukitan lain di batas akhir pandangan saya. Tyholt Tower di area kampus Teknologi Kelautan NTNU tampak menjulang, selain menara Nidaros Cathedral yang terkenal karena menjadi tempat penobatan raja-raja Norwegia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemandangan berbukit di Trondheim memang menarik karena kota kecil yang berpenduduk sekitar 170 ribu jiwa ini berada di dekat laut (selat) serta merupakan pertemuan Sungai Nidelva dan Trondheimsfjorden. Salah satu hal yang menarik saya temukan saat saya mencoba mengelili “pulau” kecil yang menjadi pusat kota Trondheim. Dikelilingi oleh Sungai Nidelva, dari situ pandangan saya dibatasi oleh bukit-bukit di kejauhan yang mengelilingi pusat kota Trondheim. Rumah-rumah kayu di tepi Sungai Nidelva pun tak kalah eksotiknya dengan rumah-rumah yang menutupi sebagian bukit-bukit itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/S5Jl6-y3bGI/AAAAAAAAAvg/yPxEBZeLjSQ/s1600-h/Nidelva.JPG"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 258px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/S5Jl6-y3bGI/AAAAAAAAAvg/yPxEBZeLjSQ/s400/Nidelva.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5445526963407514722" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Memang, sampai saat ini saya belum cukup jauh menjelajahi kota yang merupakan bekas ibukota Norwegia ini. Tapi saya sudah cukup bisa merasakan nuansa fantasi yang cukup kuat di sini. Setidaknya demikianlah dari sudut pandang saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, serasa di Minas Tirith. Tapi saya tak bertemu Gandalf, Frodo, atau Aragorn. Pun, jangan harap saya nanti pulang akan membawa Cincin buatan Sauron. Saya bukan pahlawan—atau apa pun semacam itu. Saya berharap nanti pulang dari kota ini bukannya membawa fantasi. Saya ingin membawa sesuatu yang lebih nyata, yang mungkin akan cukup berharga untuk dibagi untuk semua.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9718171-6944470066458748147?l=rindupulang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rindupulang.blogspot.com/feeds/6944470066458748147/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9718171&amp;postID=6944470066458748147&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/6944470066458748147'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/6944470066458748147'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rindupulang.blogspot.com/2010/03/serasa-di-minas-tirith.html' title='Serasa di Minas Tirith'/><author><name>M Mushthafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14972221113444541130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_3KV1whPNznA/R6GvxNRKpvI/AAAAAAAAAAg/WtDlof24hV0/S220/My+Name+is+Musthov+for+Blog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/S5JmLx2CqEI/AAAAAAAAAvo/Qs9ZJHzFIRY/s72-c/Minas+Tirith.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9718171.post-3972086054050491819</id><published>2010-02-14T15:23:00.019+07:00</published><updated>2010-12-14T13:02:29.155+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term=':: Published ::'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Journey'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='European Adventures'/><title type='text'>Mengunjungi Rumah Anne Frank</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/S3e3KtPL3FI/AAAAAAAAAvQ/s3xPqSCjEPU/s1600-h/ticket.JPG"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 136px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/S3e3KtPL3FI/AAAAAAAAAvQ/s3xPqSCjEPU/s400/ticket.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5438016469643025490" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Dari luar, tak tampak sesuatu yang istimewa pada rumah itu. Di tepi sebuah kanal, berjarak sekitar 1,5 km dari Amsterdam Centraal Station, rumah yang berdiri kokoh itu tampak biasa saja, seperti rumah-rumah lain di sebelahnya. Namun, di siang hari, di pintu masuk rumah itu akan sering tampak orang-orang berbaris panjang membentuk antrean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah itu tak lain adalah “&lt;a href="http://www.annefrank.org/"&gt;Anne Frank House&lt;/a&gt;”, sebuah museum yang mendokumentasikan kisah persembunyian Anne Frank dari kejaran rezim Hitler Jerman di era Perang Dunia Kedua. Gadis yang bernama lengkap Annelies Frank itu adalah satu dari jutaan korban pembantaian atas orang-orang Yahudi oleh Hitler.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis kelahiran Frankfurt 12 Juni 1929 ini pada tahun 1933 bersama keluarganya mengungsi ke Belanda, saat Hitler memulai kekuasaannya yang anti-Yahudi di Jerman. Namun, pada bulan Mei 1940, tentara Jerman berhasil menduduki Belanda. Perburuan Yahudi pun juga terjadi di Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Terhitung sejak 6 Juli 1942, keluarga Anne Frank bersembunyi di rumah yang kini telah dijadikan museum itu. Lebih dua tahun mereka bersembunyi di tempat itu, sampai akhirnya di bulan Agustus 1944 tentara Nazi berhasil menemukan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kisah Anne Frank dapat tersiar ke seluruh penjuru dunia? Selama di persembunyian, Anne Frank menuliskan catatan-catatan hariannya dan akhirnya diterbitkan pertama kali pada tahun 1947. Saat ini, buku harian yang berjudul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Diary of a Young Girl&lt;/span&gt; itu telah diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa dunia, termasuk bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/S3e2_GIvdzI/AAAAAAAAAvI/xZPBwkHyQW4/s1600-h/Anne+Frank+House.JPG"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 280px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/S3e2_GIvdzI/AAAAAAAAAvI/xZPBwkHyQW4/s400/Anne+Frank+House.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5438016270168454962" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Saat berkunjung ke museum ini, saya berusaha menangkap dari dekat suasana tempat yang menjadi latar penulisan salah satu autobiografi atau catatan harian yang paling menarik untuk dibaca itu. Rumah itu sendiri ditata sedemikian rupa sehingga tetap menyerupai kondisi aslinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika berhasil menangkap mereka yang bersembunyi di rumah itu, tentara Jerman juga mengangkut semua furnitur. Akan tetapi, untuk dapat mengetahui gambaran lengkap kondisi rumah sebelum dikosongkan, di salah satu kamar terdapat miniatur rumah yang memberi gambaran detail setiap kamar-kamarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, di beberapa kamar terdapat semacam layar televisi yang menampilkan video-video pendek berkaitan dengan sejarah Anne Frank, termasuk video Otto Frank, ayah Anne Frank yang selamat dari eksekusi tentara Jerman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, salah satu bagian paling penting dalam rumah ini adalah Secret Annex, sebutan untuk tempat persembunyian keluarga Anne Frank. Kamar yang menjadi persembunyian itu tampak begitu muram dengan pencahayaan yang terbatas. Toilet dan alat memasak yang cukup sederhana dibiarkan sebagaimana adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di salah satu sisi dinding, ada garis-garis pendek menandai perkembangan tinggi badan Anne Frank dan saudarinya, Margot. Dekat jendela, tampak sebuah iklan untuk Opekta, perusahaan Otto Frank, yang selama pendudukan tak dikelola secara langsung olehnya.  Ada pula beberapa edisi majalah hiburan tergeletak di meja di ruangan yang lain, yang dahulu disuplai oleh pegawai Victor Kugler dan rekan-rekannya, yang mengamankan keluarga Anne Frank di rumah itu dan membantu mengelola perusahaan Otto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup yang muram dan sangat mendambakan kebebasan memang sempat tergambar dalam catatan harian Anne Frank. Bukalah catatan harian tanggal 24 Desember 1943, saat Anne Frank menulis: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“I long to ride a bike, dance, whistle, look at the world, feel young and know that I’m free.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama dalam persembunyian di Secret Annex, mereka harus menggunakan toilet dan bak cuci seminimal mungkin. Suara pun harus benar-benar dijaga—karena nyawa adalah taruhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya, hidup dalam persembunyian sekian lama karena nyawa yang terancam memang merupakan sebuah tragedi dan tekanan psikologis yang tak mudah dilewati. Hari-hari tak hanya dilalui dengan membosankan, tapi penuh waspada dan kecemasan. Apalagi untuk anak gadis belia seusia Anne Frank saat itu, yang mestinya melewati masa-masa indahnya dengan hari-hari penuh kebebasan. Namun, Anne Frank mengaku dengan tegas bahwa menulis dapat memberinya jalan pembebasan dalam mengatasi segala dukanya itu.&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“When I write I can shake off all my cares. My sorrow disappears, my spirits are revived!” &lt;/span&gt;tulisnya pada 5 April 1944. Menulis kemudian ternyata memang benar-benar menjadi satu-satunya jalan bagi Anne Frank untuk menyapa dunia yang sulit untuk dijangkaunya saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah Anne Frank yang beralamat di &lt;a href="http://wikimapia.org/#lat=52.375257&amp;amp;lon=4.884249&amp;amp;z=19&amp;amp;l=0&amp;amp;m=b&amp;amp;v=8"&gt;Prinsengracht 263, Amsterdam&lt;/a&gt; itu mulai dibuka untuk masyarakat umum sejak 1960, 50 tahun yang lalu. Otto Frank sendiri yang secara aktif terlibat mengusahakan agar Secret Annex itu dapat diakses oleh publik sebagai sebuah museum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/S3e81gsbmbI/AAAAAAAAAvY/_uowXReyhb0/s1600-h/P1020844.JPG"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 128px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/S3e81gsbmbI/AAAAAAAAAvY/_uowXReyhb0/s400/P1020844.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5438022702568544690" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Museum ini bukanlah museum biasa. Siapapun yang menyusuri ruang-ruang kecilnya yang penuh dengan sejarah pasti akan dengan cukup mudah terlibat secara emosional ke dalam situasi yang ingin digambarkannya. Sebagaimana disadari oleh Otto Frank, museum ini dapat menjadi tempat berbagi nilai-nilai kemanusiaan, hak asasi manusia, kesadaran akan ancaman prasangka, diskriminasi, dan kekerasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meninggalkan Rumah Anne Frank, kesan mendalam tetap tertanam dalam ingatan. Saat ini, prasangka dan diskriminasi masih terus saja menghantui pergaulan masyarakat dunia. Kelompok masyarakat tertentu di berbagai belahan dunia masih sering dilekati dengan atribut-atribut tertentu yang secara sosial merugikan dan cenderung diskriminatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya, mempromosikan cara pandang yang sederhana untuk melihat orang lain memang tidak mudah. Proses dan dinamika sosial yang kompleks kadang mendorong seseorang untuk memperlakukan orang lain tidak&lt;span style="font-style: italic;"&gt; sebagai manusia&lt;/span&gt;, tapi sebagai seseorang-dengan-atribut-tertentu—dengan berbagai konsekuensinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa pekan setelah mengunjungi Rumah Anne Frank, saya membayangkan, andai orang-orang yang telah pernah berkunjung ke rumah itu bisa menangkap kesadaran etis dalam memandang manusia yang lain, alangkah damainya dunia ini. Seandainya bukan seandainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Zeist, Utrecht, 5 Januari 2010.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini dimuat di Harian &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.jawapos.co.id/mingguan/index.php?act=detail&amp;amp;nid=117133"&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;Jawa Pos&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a href="http://www.jawapos.co.id/mingguan/index.php?act=detail&amp;amp;nid=117133"&gt;, 14 Februari 2010&lt;/a&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9718171-3972086054050491819?l=rindupulang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rindupulang.blogspot.com/feeds/3972086054050491819/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9718171&amp;postID=3972086054050491819&amp;isPopup=true' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/3972086054050491819'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/3972086054050491819'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rindupulang.blogspot.com/2010/02/mengunjungi-rumah-anne-frank.html' title='Mengunjungi Rumah Anne Frank'/><author><name>M Mushthafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14972221113444541130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_3KV1whPNznA/R6GvxNRKpvI/AAAAAAAAAAg/WtDlof24hV0/S220/My+Name+is+Musthov+for+Blog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/S3e3KtPL3FI/AAAAAAAAAvQ/s3xPqSCjEPU/s72-c/ticket.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9718171.post-4016010412344816438</id><published>2010-01-15T04:12:00.011+07:00</published><updated>2010-05-22T08:24:21.461+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diary'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='European Adventures'/><title type='text'>A Lonely Biker</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/S0-I8fsvoZI/AAAAAAAAAvA/6HTb_4yaU1U/s1600-h/A+lonely+biker.JPG"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/S0-I8fsvoZI/AAAAAAAAAvA/6HTb_4yaU1U/s400/A+lonely+biker.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5426706648887435666" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“Ceritakanlah padaku tentang warna putih,” katanya di suatu senja. Lalu aku pun bercerita tentang salju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore itu, dari balkon apartemen yang masih dipenuhi salju, aku melihat seorang penyepeda keluar dari komplek Warande, Zeist, yang menampung sekitar seribu penghuni itu. Duduk di atas sadel, mengayuh pedal di jalanan yang licin dikelilingi pemandangan putih yang menghampar, di antara pohon-pohon menjulang yang juga memutih, aku seperti menangkap nuansa kesunyian yang hadir diam-diam. Ia tampak bersembunyi dalam tas kotak di belakang sadel sepedanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia datang bersama butir-butir lembut yang telah mengurung benua ini di bawah titik nol. Dengan kepolosannya, ia telah menjungkalkan si penyepeda ke ngarai sunyi yang seperti tak bertepi. Kepada yang lain, ia telah memaksa mereka untuk memarkir sepedanya dalam gudang-gudang bawah tanah lebih lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sore itu tak ada sinar matahari. Butir-butir salju yang menghampar itu tak sedang berkilauan diterpa cahaya keperakan. Si penyepeda bergerak perlahan di jalanan kecil yang saljunya sama sekali tak disingkirkan. Ia tampak bersabar. Bunyi roda sepedanya yang berputar melewati butir-butir salju yang lembut itu sesekali diiringi oleh kicau burung di kejauhan. Tiupan angin yang tak sedang amat kencang kadang menjatuhkan salju di pepohonan. Beberapa tampak menerpa jaketnya yang berwarna hitam. Wahai penyepeda, apa yang tengah kau jemput di luar sana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari atas balkon, aku menyaksikan titik hitam itu bergerak perlahan di antara pemandangan putih yang tampak polos dan seperti berasal dari negeri kayangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putih salju, apa pun makna keberadaanmu, apa pun atribut yang kau antarkan kepadaku, aku tahu, bahwa suatu saat kau akan luluh, mencair, lalu menghilang, entah ke mana, untuk kemudian kembali di suatu masa.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9718171-4016010412344816438?l=rindupulang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rindupulang.blogspot.com/feeds/4016010412344816438/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9718171&amp;postID=4016010412344816438&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/4016010412344816438'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/4016010412344816438'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rindupulang.blogspot.com/2010/01/lonely-biker.html' title='A Lonely Biker'/><author><name>M Mushthafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14972221113444541130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_3KV1whPNznA/R6GvxNRKpvI/AAAAAAAAAAg/WtDlof24hV0/S220/My+Name+is+Musthov+for+Blog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/S0-I8fsvoZI/AAAAAAAAAvA/6HTb_4yaU1U/s72-c/A+lonely+biker.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9718171.post-655460451981540816</id><published>2010-01-04T19:20:00.010+07:00</published><updated>2010-05-22T08:25:41.257+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='European Adventures'/><title type='text'>Badai Salju dan Pengalaman Terburuk di Belanda</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/S0Hex9r_0NI/AAAAAAAAAu4/8ZNAgpU-dZk/s1600-h/Memutih+-+Menuju+Utrecht+CS.JPG"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/S0Hex9r_0NI/AAAAAAAAAu4/8ZNAgpU-dZk/s400/Memutih+-+Menuju+Utrecht+CS.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5422860376284844242" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Musim dingin di Belanda adalah pengalaman pertama saya melihat salju secara langsung. Menyaksikan butir-butir salju berjatuhan di balkon dan lanskap yang memutih sejauh mata memandang, semua sungguh tampak begitu indah. Dua hari pertama salju turun, saya berusaha menikmati pemandangan di mana-mana. Saya ke Amsterdam, keliling pusat kota Utrecht, dan bersepeda di sekitar Zeist.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, salju sebenarnya juga menyimpan cerita buruk. Dan saya juga telah benar-benar mengalaminya—di saat yang sungguh tepat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian itu terjadi satu hari setelah badai salju yang melanda Belanda. Minggu, 20 Desember, salju turun sepanjang hari sehingga ketebalan salju di balkon saya hampir mencapai 30 cm! Menurut berita di situs &lt;a href="http://www.rnw.nl/id/bahasa-indonesia/article/salju-runyamkan-eropa"&gt;Radio Nederland&lt;/a&gt;, badai salju yang turun di beberapa negara Eropa ini memang telah memakan cukup banyak korban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Saya juga menjadi korban keesokan harinya, saat saya hendak berangkat liburan ke Frankfurt dengan menggunakan bus Eurolines dari Utrecht CS. Menurut jadwal dan tiket yang saya pegang, bus Eurolines ke Frankfurt akan berangkat pukul 09.45 dari Utrecht CS. Jadi, pukul 8.30 saya sudah menuju Utrecht CS dan tiba di halte bus Eurolines di Jaarbeursplein pada pukul 09.00.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Halte bus Eurolines satu komplek dengan halte bus-bus antarkota lain di sisi barat Utrecht CS itu. Kabar buruknya: tak ada tempat duduk untuk orang-orang yang menunggu di ruang terbuka itu. Jalanan, pohon-pohon yang meranggas, sepeda yang diparkir cukup lama, semua memutih akibat badai salju kemarin. Putih dan tebal. Butir-butir salju di pepohonan itu sesekali tertiup angin dan jatuh ke bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berdiri saja di halte Eurolines bersama beberapa orang yang juga sedang menunggu bus. Tas punggung saya tak dilepas. Tak lama setelah saya di situ, 4 mahasiswa Indonesia dari Deventer juga tiba di halte tersebut. Mereka mau berlibur ke Paris dan juga menggunakan Eurolines.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu berjalan melambat saat menunggu. Tak terasa waktu menunjukkan pukul 10 pas. Saya menunggu dengan agak cemas, karena udara dingin di situ seperti sudah sulit ditahan. Yang paling terasa adalah kaki dan tangan—agak kaku, seperti mau membeku. Karena itu, sesekali saya pindah ke tempat lain yang tak bersalju, agar sepatu tak bersentuhan langsung dengan salju tebal itu. Tapi tetap saja. Karena dingin telah menyebar ke mana-mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat pukul sebelas tampak ada bus Eurolines masuk ke area Jaarbeurs, saya berharap ini adalah bus ke Jerman. Ternyata itu bus ke Paris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelang pukul 12, saya sudah tak tahan dengan dingin dan penantian yang serba tak jelas itu. Saya heran, mengapa tak ada kabar dari Eurolines. Saya sudah mencoba menelepon nomor kantor Eurolines di Amsterdam, tapi saya harus antre panjang di jalur telepon itu sehingga saya akhiri saja. Akhirnya saya pun masuk ke komplek Utrecht CS. Mungkin bisa sedikit menghangatkan badan, pikir saya, dan sekalian untuk ke toilet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dari toilet, saya duduk-duduk di ruang tunggu Utrecht CS, tepatnya di dekat Blue Screen, papan jadwal kereta. Sambil menikmati segelas kopi, saya kembali mencoba menghubungi kantor Eurolines. Akhirnya, meski berada di antrean ketujuh belas, saya menunggu. Setelah menunggu sekitar 15 menit dengan agak gelisah karena khawatir pulsa terkuras habis, akhirnya saya tersambung dengan operator.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ini dia kabar buruknya: setelah diperiksa, si petugas mengabarkan bahwa bus Eurolines ke Frankfurt baru saja meninggalkan Utrecht! Saya pun menerangkan bahwa saya telah menunggu di halte selama hampir 3 jam, dan tak ada kabar apa pun, sampai akhirnya saya memutuskan untuk masuk ke Utrecht CS karena sudah tak kuat menahan udara dingin. Si petugas menjelaskan bahwa hari itu semua jadwal bus menjadi kacau karena badai salju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya tetap saja heran: apa gunanya saya memberi nomor telepon saya di formulir pemesanan tiket jika dalam situasi darurat seperti ini saya sama sekali tak mendapat kabar! Memang sih, tiket Eurolines itu hitungannya bisa relatif murah. Tapi kan itu bukan alasan untuk membuat penumpang terlantar kedinginan. Satu-satunya jalan keluar adalah menunggu bus berikutnya. Dan itu, paling cepat, pukul tiga sore. Saya harus bersabar dan bertahan di tengah cuaca dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, pukul empat kurang seperempat saya sudah berada di dalam bus Eurolines ke Frankfurt. Gara-gara badai salju, saya sudah terhukum kedinginan di Utrecht CS menunggu bus. Sungguh ini adalah pengalaman terburuk saya selama di Belanda.&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&gt;&gt; Beri rating untuk tulisan ini di &lt;/span&gt;&lt;a href="http://blogs.rnw.nl/pengalamanku/2010/01/05/badai-salju-dan-pengalaman-terburuk-di-belanda/"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Blog Radio Nederland Wereldomroep&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9718171-655460451981540816?l=rindupulang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rindupulang.blogspot.com/feeds/655460451981540816/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9718171&amp;postID=655460451981540816&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/655460451981540816'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/655460451981540816'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rindupulang.blogspot.com/2010/01/badai-salju-dan-pengalaman-terburuk-di.html' title='Badai Salju dan Pengalaman Terburuk di Belanda'/><author><name>M Mushthafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14972221113444541130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_3KV1whPNznA/R6GvxNRKpvI/AAAAAAAAAAg/WtDlof24hV0/S220/My+Name+is+Musthov+for+Blog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/S0Hex9r_0NI/AAAAAAAAAu4/8ZNAgpU-dZk/s72-c/Memutih+-+Menuju+Utrecht+CS.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9718171.post-8942102443331049775</id><published>2010-01-02T04:53:00.014+07:00</published><updated>2011-05-08T17:22:52.459+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Journey'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='European Adventures'/><title type='text'>Gelandangan Semalam</title><content type='html'>Saat kereta yang kami tumpangi dari Kassel dalam perjalanan sekitar 8 jam dari Berlin tiba di halte Frankfurt West pada pukul 00.55 Senin (28/12) dini hari, saya dan Mas Suratno sudah merasa lega. Sebentar lagi kami akan segera tiba di rumah, di Eschborn, dua halte dari situ, dan benar-benar akan dapat istirahat setelah dua hari mengunjungi Leipzig dan Berlin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nanti kita masak mi dan telur saja, baru tidur,” kata Mas Suratno. Bayangan mi dan telur yang masih hangat untuk melawan suhu udara musim dingin di bawah nol derajat sudah terlintas di benak saya. Namun, ketika melihat papan informasi di halte Frankfurt West, saya langsung merasa lemas. Ternyata kereta terakhir ke Eschborn, kotamadya di barat laut Frankfurt tempat Mas Suratno tinggal, sudah lewat sekitar 5 menit sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau begitu, alternatifnya, kita akan bermalam atau melewatkan malam ini di Hauptbahnhof (Hbf) Frankfurt,” kata Mas Suratno. Waduuuuh. Jadi tertunda nih istirahatnya, pikir saya. Memang, Hbf Frankfurt, atau stasiun pusat Frankfurt, memang besar dan luas. Tapi saya tidak yakin akan cukup nyaman menunggu sambil beristirahat di situ hingga kereta pertama ke Eschborn berangkat pukul 04.59. Untungnya, kami masih dapat menumpang kereta terakhir ke Hbf Frankfurt, pukul 01.10.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tiba di Hbf Frankfurt, kami sepakat untuk mencari warung yang masih buka untuk menunggu kereta pagi. Beruntung, McD masih buka. Ternyata di McD banyak sekali orang-orang yang sepertinya juga sedang menunggu kereta atau kemalaman seperti kami. Tak jauh dari tempat kami duduk, ada 6 muda-mudi berbahasa Spanyol dengan tas-tas besar mereka. Di meja di depan saya, seorang berkulit hitam tidur dengan menundukkan kepalanya ke lengannya yang disilangkan di meja di depannya. Sisa makanan yang dipesannya baru saja diambil oleh petugas kebersihan McD. Seorang tua yang baru saja masuk mulai menyantap pesanannya di samping saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu terasa berjalan lambat, sampai akhirnya tepat pada pukul 2 dini hari seorang pegawai McD yang tampak rapi dan mengenakan dasi menghampiri meja muda-mudi Spanyol yang tampak asyik sekali berbincang itu. Saya dapat mendengar kata-kata pegawai itu dengan jelas: “Kami akan segera tutup, mohon maaf,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum setengah jam kami di situ, kami pun terpaksa keluar. Kami tak punya pilihan: kami pun berencana kembali masuk ke Hbf Frankfurt dan berharap menemukan tempat nyaman di dalam untuk menunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sungguh sial nasib kami. Beberapa meter dari pintu masuk, kami sudah dapat melihat orang-orang yang hendak masuk tampak diperiksa oleh petugas keamanan. Saat mendekat, kami ditanya oleh petugas keamanan itu: hendak ke mana? Mas Suratno spontan menjawab: Darmstadt—sebuah kota di pinggiran Frankfurt. Si petugas langsung tak mengizinkan kami masuk. “Kereta pertama ke Darmstadt baru beroperasi nanti jam 5,” jawabnya singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata petugas keamanan hanya mengizinkan masuk untuk mereka yang hendak segera berangkat. Petugas itu memeriksa tiket—mereka tak bisa ditipu. Kami, bersama beberapa orang lainnya yang juga tak bisa masuk, akhirnya ngeloyor pergi begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas kami tak punya tujuan. Tak ada kenalan di sekitar Hbf Frankfurt. Akhirnya, spontan saja, kami berjalan di sekitar bangunan Hbf yang besar, sambil berharap menemukan tempat yang nyaman untuk berlindung dari udara dingin. Saat di salah satu sisi bangunan Hbf kami menyaksikan ada orang berkerumun di semacam halte bus, kami pun mencoba mendekat dan berbaur dengan mereka. Ternyata mereka adalah rombongan yang sedang menunggu bus untuk perjalanan ke luar kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agak lama di situ dan merasa kedinginan, kami coba lagi untuk berjalan. Di sebuah jalan masuk ke halte kereta bawah tanah, kami jadi terpikir untuk berlindung di situ. Tapi ternyata pintu masuk halte ditutup, dan kami hanya bisa nongkrong tepat di pintu masuk bawah tanah selama beberapa saat. Namun begitu, tetap saja kami kedinginan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, jelang pukul tiga dini hari, kami pun berhasil menemukan penyelamat kami. Di salah satu sisi bangunan Hbf, kami menemukan sebuah ruangan yang tampak seperti kafe. Dari jendela, kami dapat melihat beberapa orang duduk-duduk di dalam. Kami pun memberanikan diri untuk mengetuk pintu. Setelah menjelaskan bahwa kami ketinggalan kereta terakhir ke Eschborn, petugas yang membukakan pintu langsung mempersilakan kami masuk ke dalam dan duduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/Sz5zRVMB6WI/AAAAAAAAAuw/rFVLhkC5D28/s200/Bahnhofsmission.jpg" style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 136px; height: 200px;" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5421897742983227746" border="0" /&gt;Kami duduk di meja bundar dekat jendela di sudut ruangan. Tak jauh dari kami, 6 muda-mudi Spanyol yang tadi kami jumpai di McD tampak sudah agak lama di situ, asyik berbincang. Di sudut lainnya, beberapa orang yang tampak tua terlihat tidur dengan cara mereka masing-masing. Seorang di antaranya mengorok cukup keras—yang kadang mengundang senyum muda-mudi Spanyol itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ternyata kami menemukan tempat yang tepat,” kata saya pada petugas yang sangat ramah dan berseragam biru itu setelah ia menjelaskan tempat tersebut. Menurut si petugas, tempat itu adalah semacam organisasi kemanusiaan, namanya &lt;a href="http://www.bahnhofsmission.de/"&gt;Bahnhofs Mission&lt;/a&gt;, yang membantu orang-orang seperti kami, dan sebagainya. Bahnhofs Mission, sesuai dengan namanya, berbasis di stasiun-stasiun kereta api di Jerman, dan memberi bantuan bahkan untuk hal-hal kecil, seperti membantu menemukan jadwal kereta, kaum difabel, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski hanya duduk-duduk dan mengobrol, kami sungguh lega karena paling tidak kami selamat tak membeku kedinginan di luar. Kami di situ sekitar 90 menit. Setengah jam sebelum jadwal kereta pertama ke Eschborn, kami pun pamit dan melangkah masuk ke Hbf Frankfurt. Stasiun masih belum begitu ramai. Dengan rasa kantuk dan lelah yang seperti tak tertanggungkan, kami melangkah pasti, membayangkan tempat istirahat kami di Eschborn yang hangat.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9718171-8942102443331049775?l=rindupulang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rindupulang.blogspot.com/feeds/8942102443331049775/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9718171&amp;postID=8942102443331049775&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/8942102443331049775'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/8942102443331049775'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rindupulang.blogspot.com/2010/01/gelandangan-semalam.html' title='Gelandangan Semalam'/><author><name>M Mushthafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14972221113444541130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_3KV1whPNznA/R6GvxNRKpvI/AAAAAAAAAAg/WtDlof24hV0/S220/My+Name+is+Musthov+for+Blog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/Sz5zRVMB6WI/AAAAAAAAAuw/rFVLhkC5D28/s72-c/Bahnhofsmission.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9718171.post-6617247810966755446</id><published>2009-12-25T19:01:00.008+07:00</published><updated>2010-05-25T03:42:24.936+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='European Adventures'/><title type='text'>“Kalian Ini Adalah Para Elite...”</title><content type='html'>&lt;i&gt;“Kalian ini adalah para elite. Kalian punya kesempatan belajar di luar negeri. Kira-kira bagaimana jika Indonesia kelak dipimpin oleh kalian? Apakah bisa lebih baik, bisa lebih bersih?”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurang lebih, begitulah kalimat-kalimat yang sempat terlontar dari Ibu Tatiana malam itu di pesta ulang tahun salah seorang rekan mahasiswa Indonesia di Utrecht. Kehadiran Bu Tati, yang telah cukup lama tinggal di Zeist dan punya cukup banyak pengalaman internasional, memang terasa cukup mengubah suasana—tak seperti lazimnya acara kumpul-kumpul mahasiswa Indonesia di Utrecht pada umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bu Tati menanyai satu per satu rekan-rekan mahasiswa Indonesia yang malam itu datang ke Warande 190: apa program studi yang ditekuni di Utrecht, apa saja aktivitas di Indonesia, dan sebagainya. Jadilah kami seperti harus presentasi singkat tentang diri kami masing-masing. Bu Tati tak segan untuk menggali lebih dalam. Salah seorang di antara kami ada yang kemudian presentasi tentang tesis yang dikerjakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pembicaraan kami sebenarnya cukup lepas. Bu Tati, yang juga bisa berbahasa Prancis dan Spanyol, juga banyak berbagi cerita dan pengalaman hidupnya di Belanda. Di bagian ini, tampak sikap kritis Bu Tati dalam melihat realitas sosial. “Bagi kalian, yang relatif tak begitu lama tinggal di Belanda, mungkin akan melihat bahwa hidup di sini enak. Sebenarnya, tantangan hidup dan masalah sosial di sini juga banyak,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah kesejahteraan masyarakat, prasangka kepada etnis atau kelompok tertentu, menurut Bu Tati tak sepenuhnya selesai di negeri Kincir Angin ini. Jangan dikira bahwa di negara maju dan liberal seperti Belanda tak ada diskriminasi. Tentang hal ini, Bu Tati menuturkan beberapa pengalaman kecil yang relevan. Hmmm... rupanya tajam juga cara pandang Bu Tati ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, kami tak sekadar berkumpul untuk merayakan dan mensyukuri ulang tahun rekan kami. Secara tidak langsung, ada sedikit peringatan dari Bu Tati tentang hidup yang sedang kami jalani di sini—juga tentang hari depan. Ya, benar, kami mungkin memang bisa disebut sebagai para elite sosial. Kami menikmati kesempatan untuk merantau dan belajar di sini, di tempat yang disebut sebagai “negara maju”—sebuah kesempatan yang mungkin hanya bisa diimpikan oleh orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang bisa kami bawa pulang dari sini? Apa yang akan kami kerjakan nanti? Pertanyaan semacam ini sejatinya menuntut banyak hal dari kami: bahwa kami harus punya proyek masa depan, proyek peradaban, sesuai dengan minat dan kepedulian kami, di komunitas masing-masing. Apakah harapan ini terlampau berlebihan, atau memang wajar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa pekan setelah obrolan di malam itu, kata-kata Bu Tati masih cukup sering terngiang di ingatan saya: “Kalian ini adalah para elite...”&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9718171-6617247810966755446?l=rindupulang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rindupulang.blogspot.com/feeds/6617247810966755446/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9718171&amp;postID=6617247810966755446&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/6617247810966755446'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/6617247810966755446'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rindupulang.blogspot.com/2009/12/kalian-ini-adalah-para-elite.html' title='“Kalian Ini Adalah Para Elite...”'/><author><name>M Mushthafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14972221113444541130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_3KV1whPNznA/R6GvxNRKpvI/AAAAAAAAAAg/WtDlof24hV0/S220/My+Name+is+Musthov+for+Blog.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9718171.post-2794094008145926945</id><published>2009-12-21T12:57:00.003+07:00</published><updated>2010-04-01T00:35:12.974+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Daily Life'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='European Adventures'/><title type='text'>Bertemu Sinterklaas</title><content type='html'>Memasuki bulan November yang lalu, teman-teman di kelas mulai berbicara tentang Sinterklaas. Saya, yang cukup awam dalam soal ini, mencoba bertanya kepada salah satu teman kelas. Dia menjelaskan secara cukup baik tentang perayaan Sinterklaas di Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinterklaas merujuk pada seorang uskup dari Myra, Turki, yang baik hati, suka menolong orang miskin dan juga dikenal sebagai pelindung anak-anak. Di Belanda, perayaan Sinterklaas dilaksanakan setiap tanggal 5 Desember. Di hari itu, Sinterklaas bersama Piet Hitam (Zwarte Piet) yang menemaninya membagikan hadiah untuk anak-anak. Sedangkan anak yang nakal akan dibawa pergi ke Spanyol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, pikir saya, di mata anak-anak bayangan tentang hadiah sangatlah menyenangkan, dan hukuman dibawa ke Spanyol akan cukup menakutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Teman saya itu kemudian menuturkan bahwa Sinterklaas bersama rombongannya akan hadir secara bergiliran di kota-kota besar di Belanda setiap akhir pekan. Sayangnya, saat rombongan Sinterklaas berkunjung ke Utrecht pada 14 November yang lalu, saya sedang bepergian ke Amsterdam untuk suatu keperluan, sehingga tak bisa melihat langsung rombongan Sinterklaas yang katanya tiba melewati kanal Utrecht.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penasaran dengan Sinterklaas, menjelang 5 Desember saya mencoba keliling bersepeda di sekitar Zeist. Akhirnya, pada hari Jum’at sore, 4 Desember, saya berhasil melihat Sinterklaas bersama beberapa Piet Hitam yang sedang dikerumuni anak-anak di sebuah pusat perbelanjaan. Saat itu, saya menyaksikan beberapa anak yang sepertinya tampak sangat senang bermain di sekitar Sinterklaas yang membagikan hadiah-hadiah berupa makanan ringan. Ibu mereka, yang sebagian tampak mengawasi dari kejauhan, kadang terlihat geleng-geleng kepala menyaksikan tingkah anak-anak mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/Sy6P_E5jo6I/AAAAAAAAAug/Q1mtzrjKuyE/s400/Sinterklaas+di+Zeist.JPG" style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 284px;" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5417425715582968738" border="0" /&gt;Saya mencoba membaca pikiran anak-anak yang tampak girang dan tertawa-tawa riang itu. Saya membayangkan, mereka sedang mendapatkan suatu pelajaran moral untuk berbuat baik pada sesama. Beberapa waktu yang lalu, saat berkumpul dengan komunitas masyarakat Indonesia di sebuah acara informal, salah seorang di antara mereka yang sudah tinggal di sini (Utrecht) menyatakan bahwa pelajaran moral Sinterklaas tidaklah terlalu berhubungan dengan agama—ya, saya cukup bisa memakluminya; bukankah Belanda memang negara yang tergolong sekuler?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan memandang perayaan Sinterklaas yang tak lagi terlalu mengacu pada aspek religius, saya jadi maklum saat menyaksikan seorang anak dari seorang ibu yang kelihatannya muslim bermain dengan Sinterklaas di supermarket di Jum’at sore itu. Sepertinya Sinterklaas di sini telah menjadi semacam simbol moral universal tentang dorongan untuk berbuat baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menjadi semakin yakin akan hal ini saat mencoba mencari informasi lebih jauh di internet, dan menyadari kenyataan bahwa Sinterklaas sendiri pada dasarnya adalah seorang Katolik—meskipun ia oleh Vatikan dicoret dari daftar orang-orang suci. Bagaimana bisa orang terhormat dari Katolik dirayakan di sebuah negara yang mayoritas Protestan seperti Belanda? Jawabannya jelas: Sinterklaas telah melampaui sekat formalitas (sekte) agama, dan mungkin sudah cukup menyatu dengan gerak hidup kebudayaan masyarakatnya yang memiliki bermacam keyakinan. Memang, dari situasi semacam ini, simbol agama menjadi tak terlalu kelihatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat 5 Desember berkeliling di sekitar Zeist, saya kembali berjumpa dengan Sinterklaas di pusat kota. Piet Hitam berkeliaran di sepanjang jalan di situ. Dari kejauhan, tampak di antara mereka sedang memberi bungkusan hadiah untuk seorang anak yang sedang berjalan dengan digandeng oleh ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hati saya bertanya: mengapa mereka tak memberi hadiah untuk saya? Hmmm.... mungkin karena saya bukan anak-anak lagi—semoga bukan karena saya termasuk “anak nakal”.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9718171-2794094008145926945?l=rindupulang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rindupulang.blogspot.com/feeds/2794094008145926945/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9718171&amp;postID=2794094008145926945&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/2794094008145926945'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/2794094008145926945'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rindupulang.blogspot.com/2009/12/bertemu-sinterklaas.html' title='Bertemu Sinterklaas'/><author><name>M Mushthafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14972221113444541130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_3KV1whPNznA/R6GvxNRKpvI/AAAAAAAAAAg/WtDlof24hV0/S220/My+Name+is+Musthov+for+Blog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/Sy6P_E5jo6I/AAAAAAAAAug/Q1mtzrjKuyE/s72-c/Sinterklaas+di+Zeist.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9718171.post-514039141528541178</id><published>2009-12-20T18:26:00.002+07:00</published><updated>2010-04-01T00:36:31.895+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term=':: Published ::'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Book Review: Novel'/><title type='text'>Cinta dan Pencarian Diri</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/SyVBAwImokI/AAAAAAAAAuY/9YFWJWrvUjs/s1600-h/Perahu+Kertas.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5414805608159683138" style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; width: 154px; cursor: pointer; height: 200px;" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/SyVBAwImokI/AAAAAAAAAuY/9YFWJWrvUjs/s200/Perahu+Kertas.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Judul buku: Perahu Kertas&lt;br /&gt;Penulis: Dee&lt;br /&gt;Penerbit: Bentang Pustaka, Yogyakarta&lt;br /&gt;Cetakan: Pertama, Agustus 2009&lt;br /&gt;Tebal: xii + 444 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya-karya Dewi Lestari, atau yang populer dengan nama pena Dee, memang telah banyak mengangkat tema cinta, mulai dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Supernova &lt;/span&gt;(3 seri), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Filosofi Kopi&lt;/span&gt;, hingga &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Rectoverso&lt;/span&gt;. Demikian pula, novel terbarunya ini, yang berjudul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Perahu Kertas&lt;/span&gt;, masih mengangkat tema cinta. Bedanya, novel ini bergenre populer dan menggunakan tokoh remaja yang berproses hingga menemukan kematangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena bergenre populer, maka pembaca setia karya-karya Dee ketika baru memulai membaca novel ini mungkin akan sedikit merasakan hal yang agak berbeda dibandingkan saat menikmati karya Dee sebelumnya yang cenderung “serius”. Bisa dikatakan bahwa novel ini secara gaya penyajian dan alur mirip dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;chicklit &lt;/span&gt;atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;teenlit&lt;/span&gt;. Akan tetapi, lambat laun, pembaca akan merasakan ruh Dee dalam novel yang ditulis selama 55 hari kerja ini—tulisan yang reflektif, dan, dalam batas-batas tertentu, bagi yang cukup akrab dengan tulisan-tulisan Dee selain karya fiksinya yang dapat ditemukan di weblognya, cukup menggambarkan “pandangan-dunia” Dee tentang hidup, cinta, dan takdir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hebatnya, Dee bisa membungkus ide-ide yang sangat filosofis dan serius macam itu melalui tokoh-tokoh remaja novel ini. Dengan dua tokoh utama bernama Kugy dan Keenan, tokoh-tokoh remaja lainnya dalam novel ini tampil dalam rentang empat tahun, dimulai saat Kugy dan Keenan memulai masa perkuliahannya di Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kugy adalah seorang gadis mungil yang aneh, cuek, pengkhayal, berantakan, dan bercita-cita menjadi juru dongeng dan penulis cerita. Keenan adalah seorang remaja cerdas, artistik, dan bermimpi menjadi pelukis. Keduanya dipertemukan secara kebetulan oleh Eko dan Noni, saat Eko menjemput Keenan, sepupunya, di stasiun Bandung. Noni, pacar Eko, adalah sahabat karib Kugy sejak kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkenalan Kugy dan Keenan di awal masa kuliah mereka ternyata pelan-pelan melahirkan perasaan saling mengagumi dan saling menyukai. Namun, situasinya menjadi rumit dengan fakta bahwa Kugy masih menjalin hubungan dengan Ojos, dan di sisi yang lain, Noni dan Eko tengah berupaya mencomblangkan Keenan dengan seorang famili Noni bernama Wanda. Dari titik inilah, ketegangan kisah cinta Kugy dan Keenan yang sebenarnya dimulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari sekadar kisah cinta biasa, kisah Kugy dan Keenan juga menyimpan kisah pergulatan panjang pencarian diri yang otentik. Gagasan ini, jika disederhanakan dan diungkapkan dengan bahasa populer kalangan remaja, akan serupa dengan upaya untuk “menjadi diri sendiri”. Tentang bagaimana Kugy dan Keenan merawat impian-impian, kata hati, pilihan hidup, dan cita-cita mereka, berhadapan dengan kompleks realitas hidup di lingkungannya masing-masing yang tak sederhana, dilematis, dan kadang tampak pahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenan, misalnya, digambarkan terpaksa kuliah di jurusan manajemen, sementara sejatinya dia ingin menyerahkan hidupnya di dunia kesenian. Ia harus mengikuti kehendak orang tuanya, sampai akhirnya di satu titik perjalanan kisah ini Keenan mengambil sebuah keputusan yang sangat berani: berhenti kuliah, berkomitmen mandiri secara ekonomi, dan total hidup dengan melukis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keteguhan Keenan dengan keputusannya ini tak bisa dilepaskan dari cerita-cerita inspiratif yang ditulis Kugy, terutama saat Kugy tengah tertekan dan kalut akibat proyek percomblangan Noni dan Eko, dan menuliskan pengalamannya dengan anak-anak miskin di pinggiran Bandung dalam kisah Jenderal Pilik dan Pasukan Alit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Titik penting novel ini terjadi saat Keenan memutuskan untuk menghilang dan tinggal di Ubud bersama Pak Wayan, sahabat lama ibunya, dan memulai merajut mimpinya menjadi pelukis. Di titik itu pula, pembaca akan merasakan bahwa jalinan perasaan Kugy dan Keenan terancam putus. Apalagi saat jalinan cerita ini menuturkan bahwa di Ubud Keenan terpikat dengan Luhde Laksmi, ponakan Pak Wayan, sementara Kugy, yang baru lulus kuliah dan kemudian bekerja di sebuah biro iklan di Jakarta, menjalin hubungan dengan bosnya di kantor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bagian seperempat terakhir novel, pembaca akan menemukan bagian-bagian yang sangat menentukan bagi penyelesaian konflik dan keseluruhan alur kisah novel yang sebenarnya sudah lebih dulu dilansir dalam versi digital (WAP) pada April 2008. Di bagian ini, pembaca akan menemukan “Dee yang sebenarnya”, yang menghadirkan renungan-renungan hidup yang mendalam dengan juru bicara tokoh-tokoh novel yang usianya kebanyakan masih belia. Memang, pembaca tidak akan terlalu dibebani dengan metafor-metafor berat dan refleksi filosofis yang cukup serius, seperti dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh&lt;/span&gt;. Namun begitu, hal ini tidak mengurangi kualitas dan kedalaman refleksi Dee.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu kelebihan novel ini adalah efek adiktif yang dimilikinya. Dee sendiri menjelaskan bahwa novel ini juga memang mencoba mengambil semangat komik dan cerita bersambung, yang pada dasarnya berupaya menjaga rasa penasaran pembaca. Membaca &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Perahu Kertas&lt;/span&gt;, pembaca seperti akan dilayarkan ke suatu kisah yang cukup menguras emosi dan cukup bernuansa eksistensial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah melimpahnya genre novel-novel populer remaja bertema cinta di pasar perbukuan, novel ini dapat dikatakan sebagai sebuah terobosan baru untuk berbagi kisah yang memikat dan inspiratif yang sarat nilai-nilai renungan mendalam, jauh dari dangkal. Tak hanya soal cinta, tapi juga renungan soal relasi etis antarmanusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Parung (Bogor), 31 Agustus 2009&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tulisan ini dimuat di Harian &lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;a href="http://jawapos.com/mingguan/index.php?act=detail&amp;amp;nid=106435"&gt;Jawa Pos&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://jawapos.com/mingguan/index.php?act=detail&amp;amp;nid=106435"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;, 20 Desember 2009&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9718171-514039141528541178?l=rindupulang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rindupulang.blogspot.com/feeds/514039141528541178/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9718171&amp;postID=514039141528541178&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/514039141528541178'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/514039141528541178'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rindupulang.blogspot.com/2009/12/cinta-dan-pencarian-diri-otentik.html' title='Cinta dan Pencarian Diri'/><author><name>M Mushthafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14972221113444541130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_3KV1whPNznA/R6GvxNRKpvI/AAAAAAAAAAg/WtDlof24hV0/S220/My+Name+is+Musthov+for+Blog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/SyVBAwImokI/AAAAAAAAAuY/9YFWJWrvUjs/s72-c/Perahu+Kertas.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9718171.post-6283688406075093758</id><published>2009-11-23T17:46:00.010+07:00</published><updated>2010-06-10T05:25:54.731+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diary'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Journey'/><title type='text'>Di Sepanjang Titik-Titik Perjalanan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/Swpom4-AKaI/AAAAAAAAAtc/TWp1dSKA1fQ/s1600/Leiden-Utrecht.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 207px; height: 117px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/Swpom4-AKaI/AAAAAAAAAtc/TWp1dSKA1fQ/s200/Leiden-Utrecht.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407249319948462498" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Kereta ini sebentar lagi akan segera melaju ke arah timur bergerak menjauh dari titik matahari tenggelam. Angin musim dingin bertiup sedikit kencang. Tak ada cahaya keperakan. Langit mendung. Tak ada biru. Hanya kelabu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari atas kereta yang berada di ketinggian, aku dapat menyaksikan orang-orang lalu-lalang. Beberapa di antara mereka tampak berlari ke arah bus yang terparkir rapi. Begitulah. Stasiun memang selalu ramai. Tapi aku tak tahu, seberapa banyak jumlah penjemput dan pengantar di stasiun ini. Apakah tradisi menjemput dan mengantar juga lazim di negeri ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama seorang teman, hampir sepanjang hari aku menjelajahi kota ini, menyusuri lorong-lorong dan sudut-sudutnya yang menyimpan banyak hal dari masa lalu. Kincir angin di tepi kanal, rumah seorang pelukis ternama dengan patung anak kecil di halamannya, perpustakaan yang menyimpan buku-buku dan manuskrip dari abad-abad silam, benteng tua, dan juga museum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dan sekarang, sore ini, aku duduk di atas kereta yang akan segera bergerak ke arah timur. Aku akan melanjutkan perjalanan. Di antara keramaian, sambil menikmati lagu-lagu bernuansa Renaisans, pikiranku tertegun pada gagasan tentang perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai kapan sebenarnya aku akan berada di perjalanan? Empat puluh satu menit perjalanan kereta yang akan kutempuh tak lama lagi hanyalah setitik kecil dari langkah-langkah kaki lainnya yang mungkin nyaris tak berhingga. Di manakah ujungnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara deru kereta yang mulai melaju, aku membayangkan bahwa ini adalah sebuah perjalanan dalam perjalanan. Aku telah meninggalkan satu titik perhentian dalam titik perhentian yang jauh lebih besar. Di antara himpunan titik-titik itulah, sekarang aku tengah berusaha membuat gambar—dengan warna-warninya, bersama lika-likunya.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9718171-6283688406075093758?l=rindupulang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rindupulang.blogspot.com/feeds/6283688406075093758/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9718171&amp;postID=6283688406075093758&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/6283688406075093758'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/6283688406075093758'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rindupulang.blogspot.com/2009/11/di-sepanjang-titik-titik-perjalanan.html' title='Di Sepanjang Titik-Titik Perjalanan'/><author><name>M Mushthafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14972221113444541130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_3KV1whPNznA/R6GvxNRKpvI/AAAAAAAAAAg/WtDlof24hV0/S220/My+Name+is+Musthov+for+Blog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/Swpom4-AKaI/AAAAAAAAAtc/TWp1dSKA1fQ/s72-c/Leiden-Utrecht.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9718171.post-5210320348354181364</id><published>2009-11-23T03:20:00.024+07:00</published><updated>2011-04-27T22:46:37.986+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Daily Life'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Madura'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Social-Politics'/><title type='text'>Orang Miskin Dilarang Sakit</title><content type='html'>Minggu, 15 November. Sore itu saya mendapat kabar duka dari Madura. Widadah (sehari-hari dipanggil Wiwid), yang pernah menjadi murid terbaik saya di SMA 3 Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep, dikabarkan meninggal dunia oleh sepupu saya. (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Allahummaghfir laha warham-ha waj‘al  jannata ma'wa-ha&lt;/span&gt;).  Dia meninggal di ICU RSUD Sumenep, setelah sehari sebelumnya melahirkan dua anak pertamanya (kembar). Saat menerima kabar itu, saya tak terlalu banyak bertanya tentang kronologi dan sebab-musababnya. Saya hanya tertegun. Lama. Sungguh, saya terkejut sekali mendengar berita duka ini. Saya membayangkan dua putra kembarnya, keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya baru kemarin, saat saya memberikan buku &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Muhammad &lt;/span&gt;karya Martin Lings untuknya, setelah dia dinobatkan sebagai siswa teladan di pertengahan 2008 lalu di sekolah. Saya mencoba mengingat-ingat, kapan terakhir kali saya berjumpa dengan dia. Sayangnya, ingatan saya tak cukup kuat. Setelah lulus dari SMA 3 Annuqayah, dia menikah, dan sependek ingatan saya, saya tak pernah bertemu dengannya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memang tak berusaha mencari informasi lebih jauh tentang meninggalnya Wiwid. Akan tetapi, secara kebetulan, saya menemukan berita tentang itu. Seorang teman di Facebook yang juga seorang anggota DPRD Sumenep menuliskan dua posting di dindingnya yang berkaitan dengan hal itu. Saya kutip lengkap dan persis sebagaimana berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;sekali lg pelayanan RSUD Smnp m'dapat sorotan negatif dari masyarakat, pelayanan t'hadap pasien ASKESKIN krg m'dapatkan pelayanan standart minimal, t'buti pasien operasi melahirkan "Widadah" asal desa Poreh Kec. Lenteng Smp saat ini sedang tergolek kritis di ruang ICU krn t'indikasi adanya infeksi pasca operasi yg diakibatkan t&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;elatnya penangan dari petugas di sana. (15 November 2009, 9.43 WIB)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;sampai info ini ditulis blm ada 1 dokterpun yg menangani pasien tsb, walau sy telah telpon lgsg k Kep. RSUD "dr. Kifli Mahmud" (15 November 2009, 9.44 WIB)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/SwmlaEqenHI/AAAAAAAAAtM/8jcMBdZnPCw/s1600/Captured+from+Facebook.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 362px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/SwmlaEqenHI/AAAAAAAAAtM/8jcMBdZnPCw/s400/Captured+from+Facebook.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407034694982081650" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Membaca dua posting itu dua hari yang lalu, saya agak terkejut, bercampur sedih, dan juga jengkel. Pikiran saya jadi ke mana-mana. Sempat terlintas di benak saya: seharusnya ada sesuatu yang bisa dilakukan oleh pihak rumah sakit untuk menyelamatkan Wiwid. Tapi, hal yang terjadi tidaklah menurut aturan yang semestinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika benar dugaan dalam posting teman saya itu, bahwa infeksi pasca operasi itu diakibatkan telatnya penanganan petugas rumah sakit, sungguh, ini adalah kali kesekian saya mendapat kabar tentang masyarakat kecil di Sumenep yang kurang mendapatkan perhatian dalam hal pelayanan kesehatan. Memang, kerap saya dengar bahwa pasien dengan Asuransi Kesehatan Masyarakat Miskin (Askeskin) mendapat perlakuan berbeda di rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mestinya para petugas kesehatan itu mengerti bahwa kesehatan bukanlah hal yang sepele. Ia bisa berkaitan langsung dengan hak hidup seseorang. Hak untuk mendapat akses kesehatan yang baik adalah hak setiap warga negara. Dan negara berkewajiban untuk memenuhinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya karena seseorang menggunakan Askeskin, yang itu berarti dia tidak mampu membayar dengan penuh dan dibantu oleh negara, para petugas malah menganaktirikannya. Sungguh logika dan juga kepekaan mereka telah tumpul. Mestinya, orang yang tak mampu itu mendapat perhatian lebih, bukannya diabaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika benar bahwa penyebab meninggalnya Wiwid adalah karena telatnya penanganan petugas (dan ini tentu saja masih harus diverifikasi secara jujur dan objektif—sebentar, apakah dalam hal ini saya bersikap cukup wajar dan masuk akal untuk mengharapkan objektivitas?), maka jelas para petugas yang mestinya bertanggung jawab telah melakukan hal yang salah—paling tidak secara moral. Mereka telah lalai dalam tanggung jawabnya. Membiarkan orang meninggal karena layanan kesehatan yang tidak maksimal adalah sesuatu yang tidak baik atau salah secara moral. Jika seseorang mampu mencegah terjadinya hal yang buruk secara kesehatan tanpa harus mengorbankan hal penting pada dirinya (apalagi itu adalah kewajibannya), maka jika orang itu tak melakukannya, berarti ia telah melakukan suatu kesalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak mendapat sumber informasi yang lain mengenai hal ini. Meski begitu, saya cukup mudah untuk meyakini bahwa pelayanan rumah sakit di negeri kita memang masih sungguh jauh dari standar. Saya banyak mendengar cerita-cerita semacam ini dari beberapa kawan. Di koran dan media massa lainnya, kita juga sering mendapat informasi serupa, tentang buruknya layanan kesehatan, dan, lebih jauh lagi, tentang kecenderungan memperlakukan orang sakit sebagai barang dagangan—bukan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat rehat di kelas kuliah saya yang sedang berdiskusi soal etika biomedis (layanan kesehatan) beberapa pekan yang lalu, saya bilang kepada teman kelas saya yang seorang dokter dari Slovenia bahwa buat saya diskusi semacam ini saat ini masih terasa cukup mewah. Standar pelayanan kesehatan di negeri saya masih jauh dari memadai. Sementara itu, di belahan dunia yang lain, orang sudah lama berbicara dan mempraktikkan kewajiban untuk tidak menularkan penyakit kepada orang lain (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;obligatory precautions&lt;/span&gt;), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;informed consent&lt;/span&gt;, dan semacamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga jadi teringat &lt;a href="http://plato.stanford.edu/entries/foucault/"&gt;Michel Foucault&lt;/a&gt; (1926-1984), filsuf Prancis yang menulis buku &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Birth of the Clinic &lt;/span&gt;(1963), yang bertutur tentang relasi kuasa yang bekerja di rumah sakit melalui tatapan medis (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;medical gaze, regard&lt;/span&gt;) para dokter yang bekerja dengan paradigma kontrol dalam kerangka &lt;span style="font-style: italic;"&gt;panopticon&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/SwmjTkVYq2I/AAAAAAAAAtE/NuaMLO4NTAw/s320/Orang+Miskin+Dilarang+Sakit.jpg" style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 174px; height: 248px;" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407032384201206626" border="0" /&gt;Saya juga jadi teringat judul sebuah buku yang cukup menarik: &lt;a href="http://www.resistbook.or.id/index.php?page=book&amp;amp;cat=44&amp;amp;id=193&amp;amp;lang=id"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Orang Miskin Dilarang Sakit&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Ya, orang miskin jangan sampai sakit, karena mereka tak akan mendapatkan pelayanan yang baik di negeri ini. Buku ini tidak saja menunjukkan banyak hal tentang carut-marut wajah layanan kesehatan di negeri kita. Lebih dari itu, cobalah Anda ketikkan judul buku ini di mesin pencari Google, dan Anda akan mendapatkan tulisan-tulisan dan laporan faktual bernada serupa dari berbagai sumber.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat itu semua, saya benar-benar takut untuk sakit. Sungguh. Bukan apa-apa. Karena saya memang termasuk orang miskin.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9718171-5210320348354181364?l=rindupulang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rindupulang.blogspot.com/feeds/5210320348354181364/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9718171&amp;postID=5210320348354181364&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/5210320348354181364'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/5210320348354181364'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rindupulang.blogspot.com/2009/11/orang-miskin-dilarang-sakit.html' title='Orang Miskin Dilarang Sakit'/><author><name>M Mushthafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14972221113444541130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_3KV1whPNznA/R6GvxNRKpvI/AAAAAAAAAAg/WtDlof24hV0/S220/My+Name+is+Musthov+for+Blog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/SwmlaEqenHI/AAAAAAAAAtM/8jcMBdZnPCw/s72-c/Captured+from+Facebook.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9718171.post-4429540292559962936</id><published>2009-11-11T01:19:00.013+07:00</published><updated>2011-09-25T18:37:25.100+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diary'/><title type='text'>Daun-Daun yang Berpulang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/Svmw91YCN4I/AAAAAAAAAs8/7CSsUbvRxOQ/s1600-h/Autumn+to+Winter.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 232px; height: 324px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/Svmw91YCN4I/AAAAAAAAAs8/7CSsUbvRxOQ/s320/Autumn+to+Winter.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5402543804354017154" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Daun-daun itu jatuh ke tanah bersama hembusan angin dingin di bawah bentangan langit yang kelabu. Daun-daun itu terbang, luruh perlahan, sehingga dahan-dahan pepohonan pun jadi kerontang. Daun-daun itu, yang beberapa bulan sebelumnya cerah menghijau, beberapa pekan terakhir berubah warna. Mereka berganti kemerah-merahan, kuning, cokelat, dan akhirnya tak mampu lagi menggantung dan bertahan. Pegangan mereka lunglai, dan satu persatu gugur berserakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Waktu telah merontokkan kekuatan mereka dan membawanya ke musim ini. Sang Musim telah mengantarkan daun-daun itu pada takdir purba yang telah tercatat bersama semesta. Di hamparan tanah yang mulai sering basah karena embun dan rintik hujan, mereka sama sekali tampak tak resah. Sesekali ditiup angin yang agak kencang, di sana mereka menunggu lebur untuk pulang ke rumah asal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Musim, perlahan tapi pasti, juga tengah mengusir burung-burung ke selatan, menceraikan persaudaraan tulus mereka dengan rimbun daun-daun di tanah ini. Kicaunya mulai jarang terdengar. Tataplah langit, dan kau akan menyaksikan burung-burung yang tampak mulai bergegas menemukan tempat yang lebih nyaman ke arah selatan, berkelana mencari pohon dan dedaunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Burung-burung itu terbang ke selatan menjemput harapan. Tapi aku tak tahu apakah mereka akan kembali ke tempat ini dengan cerita tentang langit biru yang teduh dan daun-daun yang menghijau. Mungkin mereka justru akan menemukan asap hitam yang terus mengepul dari hutan-hutan. Mungkin saja rumah singgah mereka di sana, di selatan, sudah tak lagi nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini, saat ini, daun-daun sedang berpulang. Pohon-pohon pun mulai kesepian. Sayang sekali, aku tak akan berada di tempat ini saat mereka datang kembali. Padahal, sepertinya mereka akan menghidangkan kisah-kisah dari tanah leluhur yang penuh kebijaksanaan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9718171-4429540292559962936?l=rindupulang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rindupulang.blogspot.com/feeds/4429540292559962936/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9718171&amp;postID=4429540292559962936&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/4429540292559962936'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/4429540292559962936'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rindupulang.blogspot.com/2009/11/daun-daun-yang-berpulang.html' title='Daun-Daun yang Berpulang'/><author><name>M Mushthafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14972221113444541130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_3KV1whPNznA/R6GvxNRKpvI/AAAAAAAAAAg/WtDlof24hV0/S220/My+Name+is+Musthov+for+Blog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/Svmw91YCN4I/AAAAAAAAAs8/7CSsUbvRxOQ/s72-c/Autumn+to+Winter.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9718171.post-634720765505064133</id><published>2009-11-09T14:45:00.010+07:00</published><updated>2011-12-03T08:57:54.898+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='European Adventures'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Education'/><title type='text'>Belajar tentang Belajar: Dua Bulan di Utrecht University</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/SvfNmJ5I6mI/AAAAAAAAAsk/DSVzuuw-WIw/s1600-h/P1000405.JPG"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5402012333428501090" src="http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/SvfNmJ5I6mI/AAAAAAAAAsk/DSVzuuw-WIw/s320/P1000405.JPG" style="cursor: pointer; float: right; height: 291px; margin: 0pt 0pt 10px 10px; width: 217px;" /&gt;&lt;/a&gt;Setelah dua bulan menjalani studi di program Master of Applied Ethics Utrecht University, saya mencatat beberapa hal menarik terkait dengan sistem pendidikan tinggi di sini yang dalam banyak hal cukup memberi inspirasi. Sebelumnya, jauh sebelum saya berangkat ke Eropa dan mengetahui bahwa sepanjang satu semester di Utrecht University saya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;hanya &lt;/span&gt;akan mengikuti empat mata kuliah, saya merasa cukup senang karena berpikir bahwa beban studi (akademik) saya tidak akan terlalu banyak. Itu berarti saya akan cukup punya waktu untuk berkegiatan di luar aktivitas akademik, termasuk jalan-jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi ternyata saya keliru. Empat mata kuliah yang untuk satu semester dibagi dalam dua blok itu (satu blok ada dua mata kuliah) ternyata menyita banyak waktu saya. Setelah menuntaskan blok pertama dan selesai mengikuti dua mata kuliah utama, saya jadi tahu bahwa ternyata tugas-tugas kuliah begitu banyak, seperti juga halnya bahan-bahan bacaan yang mesti tuntas dilahap sebelum masuk kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas-tugas itu telah terjadwal dengan rapi sepanjang 9 pekan di blok pertama. Begitu juga bahan bacaan. Sebenarnya, saya sudah menerima informasi tentang satu mata kuliah menyangkut gambaran umum, tujuan, alur, referensi, dan tugas-tugas, tepat 20 hari sebelum perkuliahan dimulai—saat itu saya masih berada di Madura. Dosen pengampu salah satu mata kuliah itu mengirimkannya via email ke seluruh mahasiswa, lengkap dengan peta tempat kuliah, toko buku, dan info pendukung lainnya.&lt;br /&gt;Inilah catatan pertama saya: perkuliahan di sini dirancang dengan sangat matang. Dosen menyiapkan semuanya dengan sangat baik dan terencana. Dan mereka sangat disiplin dengan rencana tersebut, sehingga aktivitas perkuliahan dapat berjalan dengan sangat baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dari sisi mahasiswa, perkuliahan di sini menuntut kerja keras dan kemandirian. Jika tak membaca bahan bacaan atau artikel yang diwajibkan untuk satu pertemuan tertentu, jangan harap kita bisa benar-benar paham dengan apa yang sedang dibicarakan di kelas. Kelas di sini bukan dirancang untuk menambah stok pengetahuan baru. Kelas adalah ruang untuk mendiskusikan artikel relevan yang sudah ditentukan sebelumnya dalam daftar referensi, dan dosen menjadi pengarah dan mitra yang menawarkan alur dan alternatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, pada tataran ide, hal semacam ini mungkin bukan sesuatu yang baru. Dahulu, di dunia pendidikan Indonesia ada istilah CBSA, atau Cara Belajar Siswa Aktif. Sayangnya, hal semacam ini, bahkan di tingkat perguruan tinggi pun, baru lebih sebagai teori saja. Di tingkat praktik, sulit sekali kita menemukan sistem belajar semacam ini. Karena itu, menjalani suatu proses belajar yang benar-benar menuntut sikap aktif seperti ini buat saya adalah sesuatu yang baru, menarik, dan menantang.&lt;br /&gt;Inilah catatan kedua saya: sistem kuliah di sini, paling tidak dari pengalaman saya dua bulan ini, memberi ruang dan bahkan menuntut sikap aktif dari mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan jumlah mata kuliah yang relatif sedikit dalam satu semester, saya juga mencatat bahwa tradisi akademik di sini adalah memberi kesempatan yang cukup leluasa untuk menggali suatu tema hingga cukup mendalam. Dengan kata lain: terfokus. Mata kuliahnya saja sudah cukup spesifik. Dalam blok pertama, misalnya, saya mengikuti dua kuliah dengan nama Ethical Theory and Moral Practice dan satu lagi Human Dignity and Human Rights. Hasilnya tentu saja lebih jelas, memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang tema tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah saya telusuri, ternyata hal semacam ini tidak hanya berlaku di tingkat program magister. Salah seorang teman sekelas saya yang orang Belanda kebetulan berlatar belakang pendidikan S1 jurusan filsafat. Menurut dia, kuliah di S1 di sini juga demikian adanya: satu semester terdiri dari empat mata kuliah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya beruntung telah belajar bersama teman-teman kelas yang berjumlah sekitar 20 orang dengan latar yang sangat beragam. Mereka berasal dari berbagai negara: Belanda, Amerika, Kanada, Italia, Serbia, Slovenia, Afrika Selatan, Bangladesh, dan Cina. Karena jurusan saya terbilang interdisipliner, latar belakang studi mereka juga beragam, tak hanya filsafat. Ada yang kedokteran, hukum, turisme, ekonomi, dan politik. Dengan aneka latar itu, di kelas kami dapat berbagi banyak hal berdasarkan perspektif masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari segi usia, mereka sangat beragam. Beberapa masih berumur 23 tahun, belum lama menyelesaikan studi S1. Tapi ada juga yang sudah berkepala lima—mungkin seusia dengan sang dosen. Yang menarik, mereka yang sudah cukup lanjut itu mengikuti program ini bukan semata untuk meraih gelar, tapi tampak karena benar-benar haus akan ilmu dan pengalaman akademik. Salah seorang di antara mereka, yang kebetulan pernah satu kelompok dalam dua tugas mata kuliah bersama saya, adalah seorang perempuan yang sudah punya cucu dan telah bekerja sebagai dosen di NHTV Breda University. Dia meminati studi turisme dan merasa perlu belajar tentang aspek etis dalam turisme sehingga dia mengikuti program ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/SvhaAkSXZuI/AAAAAAAAAs0/Pp2qTrt9yBQ/s1600-h/Applied+Ethics+Dinner.JPG"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5402166718818117346" src="http://4.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/SvhaAkSXZuI/AAAAAAAAAs0/Pp2qTrt9yBQ/s400/Applied+Ethics+Dinner.JPG" style="cursor: pointer; display: block; height: 261px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 400px;" /&gt;&lt;/a&gt;Demikianlah. Sejak sebelum berangkat, saya memang telah mencatat bahwa saya belajar di Eropa tidak hanya sekadar untuk menuntut ilmu khusus sesuai dengan jurusan saya. Saya juga ingin sekali belajar tentang bagaimana sistem perkuliahan di Eropa berlangsung. Dan, selama dua bulan di sini, saya sudah belajar banyak hal tentang itu. Mungkin apa yang saya tangkap ini memang masih belum cukup menjadi gambaran yang utuh tentang sistem pendidikan di sini. Akan tetapi, semuanya tampak inspiratif. Beberapa di antaranya ingin sekali saya coba nanti di Indonesia, meski tak musti dilakukan di sistem pendidikan formal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin, dalam rentang sisa waktu saya di sini, saya masih akan belajar banyak hal tentang semua itu—semoga bisa lebih luas, mendalam, dan substantif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&amp;gt;&amp;gt; Beri rating untuk tulisan ini di &lt;a href="http://blogs.rnw.nl/pengalamanku/2009/11/11/belajar-tentang-belajar-dua-bulan-di-utrecht-university/"&gt;Blog Radio Nederland Wereldomroep.&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9718171-634720765505064133?l=rindupulang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rindupulang.blogspot.com/feeds/634720765505064133/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9718171&amp;postID=634720765505064133&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/634720765505064133'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/634720765505064133'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rindupulang.blogspot.com/2009/11/belajar-tentang-belajar-dua-bulan-di.html' title='Belajar tentang Belajar: Dua Bulan di Utrecht University'/><author><name>M Mushthafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14972221113444541130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_3KV1whPNznA/R6GvxNRKpvI/AAAAAAAAAAg/WtDlof24hV0/S220/My+Name+is+Musthov+for+Blog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/SvfNmJ5I6mI/AAAAAAAAAsk/DSVzuuw-WIw/s72-c/P1000405.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9718171.post-6309925677705815489</id><published>2009-10-24T16:12:00.022+07:00</published><updated>2010-05-13T13:26:44.269+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Daily Life'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='European Adventures'/><title type='text'>Bersepeda di Belanda</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/SuLIxWzw1XI/AAAAAAAAAr0/zVdUWESNrgI/s1600-h/Bersepeda+di+Belanda.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 280px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/SuLIxWzw1XI/AAAAAAAAAr0/zVdUWESNrgI/s400/Bersepeda+di+Belanda.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5396096053805110642" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sungguh saya merasa sangat beruntung berkesempatan untuk bersepeda di negeri Kincir Angin ini. Tak seperti saat di Jogja, saya dan para pengguna sepeda yang lain di sini mendapatkan banyak keistimewaan dan kenyamanan dalam mengayuh kereta angin dan menyusuri berbagai sudut negeri Belanda. Ada jalur khusus sepeda lengkap dengan rambu-rambunya. Tempat parkir sepeda dapat ditemukan dengan mudah di mana-mana. Beberapa peta yang saya dapatkan, dari kampus dan dari pengelola apartemen, juga mencantumkan jalur khusus sepeda dengan tanda tertentu. Lebih dari itu, di jalanan, sepeda dianakemaskan oleh aturan lalu-lintas: di banyak tempat dengan tanda khusus, kendaraan bermotor wajib mendahulukan atau memberi kesempatan bagi pengguna sepeda untuk melintas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah, tak heran jika 85 persen orang Belanda memiliki paling tidak satu sepeda. Tiap tahun, 1,3 juta sepeda baru terjual di negeri yang juga terkenal dengan bunga tulip dan berpenduduk sekitar 16 juta orang ini. Setiap berangkat ke kampus di pagi hari dengan bersepeda, sepanjang jalan saya akan mengayuh bersama para pengguna sepeda yang lain. Ada yang sudah berusia cukup lanjut, dan bahkan ada juga yang tampak berusia masih setingkat anak Sekolah Dasar. Mereka mengayuh sepeda dengan cepat dan tangkas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kekaguman saya semakin bertambah saat menyadari bahwa ternyata sepeda di sini sangat fungsional. Sejauh saya berkeliling di sekitar kawasan kota Utrecht dan Zeist dalam hampir dua bulan ini, saya menemukan berbagai desain sepeda sesuai dengan fungsi dan kebutuhan masing-masing. Tak hanya keranjang belanja di depan kemudi sepeda atau tempat duduk balita yang sempat saya lihat, ada juga semacam kereta kecil yang kadang disambungkan di bagian belakang sepeda, atau bahkan di depan. Kereta kecil di belakang sepeda kadang untuk bayi, lengkap dengan penutup di bagian atasnya, sehingga si bayi dapat dengan aman dan nyaman berbaring di sana. Saya juga pernah menjumpai kereta yang isinya seekor anjing duduk manis di dalamnya. Bisa Anda bayangkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/SuLK1DFBK1I/AAAAAAAAAr8/AxB24BbOU2k/s1600-h/21102009%28001%29.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 164px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/SuLK1DFBK1I/AAAAAAAAAr8/AxB24BbOU2k/s200/21102009%28001%29.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5396098316251507538" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Tak jarang, mereka yang hendak bepergian ke luar kota juga membawa sepeda lipat mereka. Jika tak punya sepeda lipat dan hanya punya sepeda biasa, sepeda diparkir di stasiun. Karena itu, di stasiun Utrecht, misalnya, saya melihat banyak sekali sepeda yang diparkir—pasti ribuan, atau mungkin puluhan ribu. Teman apartemen saya yang asli orang Belanda mengatakan bahwa dia cukup sering kesulitan menemukan tempat parkir untuk sepedanya di stasiun Utrecht.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minat orang Belanda untuk bersepeda juga tergambar dari sebuah website bernama &lt;a href="http://holland.cyclingaroundtheworld.nl/"&gt;“Cycling in the Netherlands”&lt;/a&gt; yang dikelola oleh dua orang Belanda bernama Anja de Graaf dan Paul van Roekel yang mengaku sudah lebih 30 tahun bersepeda keliling Belanda dan dunia. Laman ini menyediakan banyak informasi penting seputar bersepeda. Saya senang dengan kenyataan bahwa ada orang yang mau berbagi informasi seperti ini, untuk hal yang, mungkin bagi beberapa orang, tampak sepele—padahal bisa memberi banyak manfaat dan bisa jadi inspiratif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski begitu, satu hal yang cukup menjadi hambatan dalam bersepeda bagi saya yang berasal dari negeri tropis adalah soal cuaca. Di hari kedua saya di Belanda, saya diajak rekan saya yang baik, Mas Waldi, bersepeda dari apartemen saya di Warande, Zeist, ke kampus Uithof Utrecht University. Dengan menggunakan sepeda pinjaman, saya bersepeda bersama Mas Waldi. Saat itu  menjelang pukul 10 pagi. Dengan mengenakan kaos, kemeja, dan switer, sepanjang perjalanan yang beberapa di antaranya melintasi kawasan sepi yang penuh dengan pepohonan besar, saya merasakan angin yang menerpa tubuh saya menelusup di antara 3 rangkap pakaian saya itu. Sungguh, angin dingin itu terasa menusuk. Walhasil, saya sering tercecer beberapa meter di belakang Mas Waldi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gara-gara cuaca, kecepatan rata-rata bersepeda saya yang saya ukur selama lebih 5 tahun bersepeda di Jogja, yakni sekitar 20km/jam, menjadi sedikit menurun. Karena itu, setelah saya punya sepeda sendiri, yang, sekali lagi, saya dapatkan atas kebaikan dan pertolongan Mas Waldi, saya pun membeli perangkat-perangkat penangkal dingin: sarung tangan, topi dan jaket penahan dingin yang berbahan parasut seperti jas hujan. Sekarang, setiap kali bersepeda, hampir dipastikan saya mengenakan semua senjata penahan dingin itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, setelah ketakjuban saya dengan fakta-fakta mendasar tentang sepeda di Belanda terasa mulai berkurang, mungkin karena sudah agak terbiasa, tiba-tiba terbersit satu pertanyaan lain di benak saya. Jika kenyamanan bersepeda di sini dapat dirasakan oleh semua pengguna sepeda, termasuk saya yang nota bene seorang pendatang, pertanyaannya: bagaimana kenyamanan ini pada mulanya dibentuk? Apakah ini hasil dari suatu kebijakan yang tertata tentang sistem transportasi publik, atau semata tumbuh dari bawah, dari hobi orang-orang Belanda dalam bersepeda? Apakah ini juga didorong oleh semacam nilai kepedulian atau ramah lingkungan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan saya ini muncul atas dasar sebuah kecemburuan, mungkin juga mimpi, bagaimana agar ada satu kota atau satu daerah saja di Indonesia yang orang-orangnya populer menggunakan sepeda. Dengan kata lain, ramah lingkungan. Saya jadi teringat sebuah artikel di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;National Geographic&lt;/span&gt; yang menyebutkan sekilas tentang sebuah kota di Jerman, Freiburg, yang sepertiga penduduknya menggunakan mode transportasi ramah lingkungan, tanpa bahan bakar minyak. Saya jadi teringat komunitas Bike-to-Work di Indonesia. Saya jadi teringat sepeda saya di rumah—siapa yang kini menggunakannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, sebagaimana setiap peradaban memiliki sisi kelamnya masing-masing, saya juga menemukan sisi gelap “peradaban sepeda” di sini, yakni: maling sepeda. Saya mendengar cerita tentang sepeda yang hilang. Saya juga diperingatkan untuk benar-benar menjaga sepeda saya, paling tidak dengan menguncinya dan mencari tempat yang terasa aman untuk diparkir. Beberapa kali saya mendapati sepeda yang “dimutilasi”: ban depan dan atau ban belakangnya hilang dicolong orang—pemandangan serupa saya temukan di kota Paris, tepatnya di dekat Louvre. Saya juga pernah mendengar langsung umpatan seorang gadis tetangga apartemen di pagi buta saat ia tak menemukan sepedanya di tempat  parkir di halaman—mestinya dia menyimpan sepedanya di gudang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/SuLMCkHzGdI/AAAAAAAAAsE/wMCvDte3zWU/s1600-h/Sepeda+Korban+Mutilasi.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 276px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/SuLMCkHzGdI/AAAAAAAAAsE/wMCvDte3zWU/s400/Sepeda+Korban+Mutilasi.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5396099647971465682" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Begitulah sekilas cerita sepeda di negeri Belanda. Terlepas dari sisi gelapnya ini, pengalaman bersepeda di Belanda buat saya telah cukup menghadirkan satu wujud lain dari pencapaian peradaban yang terasa menarik dan patut untuk digali, diamati, dan mungkin juga dijadikan teladan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Mau menikmati video yang saya rekam sambil bersepeda di pinggiran Zeist, Belanda? Klik &lt;a href="http://www.youtube.com/watch?v=UXJf6FLCFkM"&gt;di sini&lt;/a&gt;. Atau &lt;a href="http://www.youtube.com/watch?v=V22H8xNJocM"&gt;di sini&lt;/a&gt;.  Beri rating untuk tulisan ini di &lt;a href="http://blogs.rnw.nl/pengalamanku/2009/10/28/bersepeda-di-belanda/"&gt;Blog Radio Nederland Wereldomroep&lt;/a&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9718171-6309925677705815489?l=rindupulang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rindupulang.blogspot.com/feeds/6309925677705815489/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9718171&amp;postID=6309925677705815489&amp;isPopup=true' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/6309925677705815489'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/6309925677705815489'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rindupulang.blogspot.com/2009/10/bersepeda-di-belanda.html' title='Bersepeda di Belanda'/><author><name>M Mushthafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14972221113444541130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_3KV1whPNznA/R6GvxNRKpvI/AAAAAAAAAAg/WtDlof24hV0/S220/My+Name+is+Musthov+for+Blog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/SuLIxWzw1XI/AAAAAAAAAr0/zVdUWESNrgI/s72-c/Bersepeda+di+Belanda.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9718171.post-4334831881723084157</id><published>2009-10-16T22:44:00.024+07:00</published><updated>2010-05-15T04:06:33.778+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diary'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Journey'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='European Adventures'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cultural Issues'/><title type='text'>Labirin Metro Kota Paris</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Deux vitres nous séparaient lorsque nos yeux se sont croisés. Dans le métro comme foudroyées, nous nous sommes regardées, choquées... Nous avions la même robe!”&lt;/span&gt;              *  Magali V. – Paris&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ada seseorang yang pertama kali berkunjung ke Paris, maka rekan-rekannya yang lain yang masih belum mendapat kesempatan serupa pasti akan memintanya untuk bercerita tentang situs-situs wisata terkemuka: Eiffel, Louvre, Notre-Dame, dan yang lainnya. Bila tidak dengan cerita, rekan-rekannya itu akan meminta untuk melihat foto-foto yang sempat diabadikan oleh temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghabiskan akhir pekan selama tiga hari di Paris seminggu yang lalu, saya tak cukup punya kesan mendalam tentang simbol-simbol utama Kota Cahaya itu. Mungkin karena saya hanya sekadar—katakanlah—melintas di tempat-tempat terkenal yang telah menyedot banyak turis dunia itu. Mungkin sebenarnya saya kurang bisa menikmatinya, dan musti kembali lagi ke sana untuk bisa lebih dalam menyelaminya dengan intensitas yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Karena itu, saya tak akan bercerita tentang bermacam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;landmark &lt;/span&gt;kota Paris itu. Biarlah kali ini saya berdiri di pinggiran saja, dan akan menuturkan sedikit cerita tentang labirin metro kota Paris. Ya, benar, metro. Mungkin pilihan ini juga terkait dengan kedatangan saya di Paris pada Jum'at subuh yang lalu. Saya tiba di Paris melalui Terminal Bus Internasional Gallieni, dan langsung menyusuri metro kota Paris menuju KBRI Paris di Cortambert 47.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu pagi masih begitu dingin dan irama kehidupan metro yang sebenarnya masih belum terasa. Menjelang pukul 7 pagi, saat matahari masih sejam kemudian baru akan terbit, lorong-lorong metro memang masih cukup lengang. Orang-orang mungkin masih bermalas-malasan di balik selimut tebal mereka dan menunggu matahari keluar dari peraduannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah pengalaman pertama saya menggunakan jalur transportasi kereta bawah tanah, yang sebelumnya hanya saya saksikan di film-film. Begitu masuk ke lorong metro, saya langsung terkesan dengan lorong-lorongnya yang mirip labirin: berkelok, dan bercabang-cabang. Saya semakin terkesan saat singgah di beberapa stasiun metro lainnya yang memiliki lebih banyak lorong, seperti République dan Châtelet Les Halles.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/StiWm2UmhUI/AAAAAAAAArc/yFoI0QumWZ4/s1600-h/P1010068.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 287px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/StiWm2UmhUI/AAAAAAAAArc/yFoI0QumWZ4/s400/P1010068.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5393226147937289538" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Desain stasiun-stasiun metro kota Paris tidaklah seragam. Lorong-lorongnya kadang bermotif bata yang disusun seperti tembok biasa; ada yang berwarna putih, merah, kuning keemasan, dan lain-lain. Ada pula yang bermotif keramik persegi empat dengan warna yang juga berbeda-beda. Tepat di tempat tunggu stasiun, yang dindingnya melengkung sehingga tampak seperti goa besar, kursi-kursinya pun dibuat tidak seragam, baik bentuk maupun warnanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinding-dinding lorong metro Paris tak dibiarkan kosong begitu saja. Di kanan kiri lorong, saya menyaksikan bermacam iklan yang dibingkai dengan sangat artistik. Isinya pun juga aneka macam, mulai dari iklan produk, iklan wisata, pertunjukan teater, konser atau pameran, atau iklan layanan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memperhatikan poster-poster iklan dan lalu-lalang orang di sepanjang labirin dan kereta metro kota Paris, saya dapat menangkap nuansa seni dan keragaman budaya kehidupan dan warga kota Paris. Dari kehidupan bawah tanah kota metropolitan yang dihuni oleh sekitar 12 juta orang ini, terbayang arus perjumpaan yang mungkin sangat intens di antara beragam kebudayaan dunia. Dengan cara yang cukup sederhana, lorong-lorong metro kota Paris seolah menceritakannya kepada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metro kota Paris adalah metro tersibuk kedua di kawasan Eropa setelah Moskwa. Konon, setiap hari ia melayani 4,5 juta penumpang di sepanjang 214 km rel yang dimilikinya. Saat tahu bahwa dari keenam belas jalur yang ada beberapa di antaranya sudah berusia lebih dari satu abad, terbayang betapa peradaban kota Paris dalam bidang transportasi telah dibangun sejak lama. Paris telah menyediakan basis material yang cukup baik untuk melayani pergerakan orang-orang yang hidup di dalamnya untuk mengerjakan proyek peradabannya masing-masing—untuk menyusun batu bata kecil peradabannya sehingga perlahan membentuk bangunan yang mapan dan kemudian diwariskan pada generasi berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat pengamen dengan harmonika di salah satu stasiun yang saya sudah lupa di mana tepatnya. Saya juga teringat seorang pengemis tua yang duduk di lantai lorong metro di atas hamparan koran yang ia gelar. Saya teringat grafiti warna-warni yang berkelebat di antara lorong kereta yang gelap—saya bertanya-tanya: bagaimana grafiti-grafiti ini dibuat? Saya teringat poster besar yang memuat gambar para pemain sepak bola tim nasional Perancis yang beberapa di antaranya berkulit hitam. Saya teringat rombongan pemuda kulit hitam yang menyanyi sepanjang lorong metro merayakan kemenangan telak Perancis atas Kepulauan Faroe, yang memberi peluang bagi Perancis untuk berlaga di Piala Dunia Afrika Selatan tahun depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga teringat pembicaraan-pembicaraan saya dengan beberapa teman saat menyusuri lorong-lorong metro kota Paris. Saya teringat teriakan pemuda-pemudi yang berlarian di antara kereta yang akan segera berangkat. Saya teringat poster besar bermotif seperti kaligrafi khat kufi yang saya jumpai di beberapa stasiun. Saya teringat kata-kata bijak dalam bahasa Perancis yang memuat pesan sangat multikultural di  République.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/StiXVU8qHRI/AAAAAAAAArs/hlcagqlK0V0/s1600-h/P1000751.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 266px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/StiXVU8qHRI/AAAAAAAAArs/hlcagqlK0V0/s400/P1000751.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5393226946432343314" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Rasanya, labirin metro kota Paris memang cukup layak juga untuk menjadi tempat wisata peradaban di antara &lt;span style="font-style: italic;"&gt;landmark &lt;/span&gt;ternama lainnya. Jika kita menghidupkan sedikit saja kepekaan kita untuk melihat lebih dalam kehidupan lorong-lorong metro dengan lebih cermat, mungkin saja kita akan menemukan salah satu ruh peradaban yang menggerakkan kehidupan kota Paris yang masyhur itu.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Baca juga:&lt;br /&gt;&gt;&gt; &lt;a href="http://rindupulang.blogspot.com/2009/08/di-jalanan-kota-jakarta.html"&gt;Di Jalanan Kota Jakarta&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9718171-4334831881723084157?l=rindupulang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rindupulang.blogspot.com/feeds/4334831881723084157/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9718171&amp;postID=4334831881723084157&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/4334831881723084157'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/4334831881723084157'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rindupulang.blogspot.com/2009/10/labirin-metro-kota-paris.html' title='Labirin Metro Kota Paris'/><author><name>M Mushthafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14972221113444541130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_3KV1whPNznA/R6GvxNRKpvI/AAAAAAAAAAg/WtDlof24hV0/S220/My+Name+is+Musthov+for+Blog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/StiWm2UmhUI/AAAAAAAAArc/yFoI0QumWZ4/s72-c/P1010068.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9718171.post-5820492022927326365</id><published>2009-10-16T02:34:00.002+07:00</published><updated>2010-04-05T22:24:44.760+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Social-Politics'/><title type='text'>Era Tragedi dan Pelajaran Empati</title><content type='html'>Beberapa tahun terakhir, negeri ini cukup sering diterpa bencana alam. Kali ini, gempa dahsyat terjadi di Sumatera. Ratusan korban meninggal, bangunan dan rumah tinggal roboh. Kerugian tak hanya material, karena efek psiko-sosial dari setiap bencana alam juga terus membayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Berbagai tragedi bencana (alam) yang susul-menyusul belakangan ini, mulai dari tsunami Aceh, banjir bandang dan longsor di sana-sini, gempa dahsyat di Yogyakarta, muntahan lumpur panas di Sidoarjo, dan yang terakhir, gempa di kawasan Sumatera, dalam tataran subjektif-spekulatif, mungkin dapat dibaca sebagai sebuah pelajaran bagi bangsa ini untuk bisa lebih penuh memahami dan menghayati pelajaran empati. Sering kali, di luar konteks bencana, rasa kemanusiaan beberapa elemen bangsa ini seperti tumpul berhadapan dengan kondisi sosial masyarakat yang mengenaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Contoh yang paling mudah terkait dengan cara para pemimpin negeri ini menyikapi dan menyelesaikan kasus korban Lapindo. Lebih tiga tahun berlalu. Namun, masih banyak warga yang terlantar dan tidak jelas nasibnya. Argumen formal-prosedural yang kaku menempatkan kewajiban moral di luar prioritas dan pertimbangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;     Sementara itu, di sisi yang lain, cukup sering pula uang negera ini dihambur-hamburkan justru untuk mereka yang hidup lebih dari cukup, atau untuk seremoni yang tak substantif dan tak berhubungan langsung dengan kepedulian terhadap rakyat kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Gagalnya pelajaran empati di era tragedi semacam ini pada level yang paling mendasar seharusnya dapat menggugah bangsa ini untuk kembali mempertanyakan makna kebangsaan yang telah lama dibangun bersama. Begitu sering diungkapkan bahwa sebuah bangsa dibangun dari imajinasi kolektif warga-warganya, dari sejumlah pengalaman masa lalu hingga terpatri dalam terang aktualitas masa kini. Sebuah bangsa yang baik akan mampu menghadirkan imajinasi konstruktif dalam kerangka upaya bersama mewujudkan kehidupan masyarakat yang lebih baik dan lebih beradab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Mengapa era tragedi ini hingga sekarang masih belum sepenuhnya bisa memberikan hikmah pelajaran empati untuk seluruh elemen bangsa ini? Mengapa yang mengemuka masih egoisme yang seperti menafikan kehadiran saudara setanah air? Mengapa para pemimpin negeri ini masih belum kunjung selalu memiliki kepekaan dan kepedulian yang cukup atas berbagai penderitaan yang dialami bangsa ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Semenjak era Orde Baru, kesewenangan penguasa telah mengikis dan menggerogoti perspektif kepedulian, rasa empati, dan rasa kebersamaan bangsa ini, hingga ke level yang cukup kritis. Nasionalisme hanya menjadi slogan, tak pernah berbekas dalam kenyataan. Jadilah, (aparat) negara tak mampu menjaga rasa kebangsaan para warganya, dan hanya menyemai benih disintegrasi. Kemudian era reformasi seperti memberi harapan baru untuk memulihkan luka berbagai elemen bangsa yang sebelumnya terinjak hak-haknya. Tapi penghayatan rasa empati yang sesungguhnya di era reformasi pun ternyata masih sering tak menemukan ruang perwujudannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Sekarang, marilah kita sedikit berspekulasi tentang episode tragedi yang kembali dirasakan bangsa ini. Tidakkah ini mungkin merupakan sebuah pelajaran buat seluruh elemen bangsa ini untuk menyalakan kembali imajinasi kolektif-konstruktif mereka, tentang komunitas bangsa yang betul-betul membutuhkan kebersamaan untuk menyelamatkannya dari puing kehancuran? Bila berbagai upaya berupa rekayasa sosial-politik selama era reformasi ini tak kunjung memperlihatkan hasil yang jelas untuk merekatkan kembali kebersamaan, membangkitkan empati tentang derita banyak warganya, dan betul-betul menggugah para elite untuk tak hanya berpesta dalam kuasa serta mempersembahkan yang terbaik untuk bangsanya, apakah tidak mungkin belakangan “alam” kemudian turun tangan untuk memberikan pelajarannya yang terakhir tentang empati, kepedulian, dan kebersamaan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Mungkin dengan pembacaan subjektif-spekulatif semacam ini berbagai kisah sedih bencana alam yang menimpa bangsa ini dapat menjadi lebih bermakna bagi kelanjutan kehidupan masyarakat bangsa ini. Tentu saja perspektif pemaknaan seperti ini tidak boleh hanya berhenti pada level romantik saja, tetapi jelas harus dijangkarkan pada level objektif, dengan kerja-kerja konkret untuk terus menerjemahkan makna kebangsaan, kebersamaan, ketulusan, dan empati, dalam sebuah komunitas bangsa yang tak kunjung bisa keluar dari multibencana yang menamparnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Pada sisi yang lain, bangsa Indonesia juga dikenal sebagai bangsa yang religius. Islam, sebagai agama yang mayoritas dipeluk masyarakat Indonesia juga tak luput mengajarkan pelajaran empati semacam ini. Sesungguhnya, salah satu nilai moral puasa Ramadan, yang baru saja kita tunaikan, adalah pelajaran empati, selain pengendalian dan penyucian diri. Dalam berpuasa, umat Islam diajak untuk berempati dengan rasa lapar dan dahaga yang sehari-hari dirasakan oleh kaum papa. Ibadah puasa mendorong solidaritas manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Bangsa Indonesia tak boleh selalu kehilangan momentum untuk menumbuhkan kesadaran solidaritas sosial semacam ini. Tak diragukan lagi, solidaritas dan empati saat ini amat dibutuhkan untuk menjadi nilai dasar bagi upaya bangsa ini keluar dari krisis multidimensi yang tak kunjung berhenti mendera.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9718171-5820492022927326365?l=rindupulang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rindupulang.blogspot.com/feeds/5820492022927326365/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9718171&amp;postID=5820492022927326365&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/5820492022927326365'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/5820492022927326365'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rindupulang.blogspot.com/2009/10/era-tragedi-dan-pelajaran-empati.html' title='Era Tragedi dan Pelajaran Empati'/><author><name>M Mushthafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14972221113444541130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_3KV1whPNznA/R6GvxNRKpvI/AAAAAAAAAAg/WtDlof24hV0/S220/My+Name+is+Musthov+for+Blog.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9718171.post-6417215212863987220</id><published>2009-10-06T02:17:00.010+07:00</published><updated>2011-05-26T21:21:10.469+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diary'/><title type='text'>Gempa itu Tak Datang di Malam Hari</title><content type='html'>Sebenarnya, di hari itu, Sabtu, 26 Mei 2006, saya bangun cukup awal, sebelum fajar tiba. Namun, setelah salat Subuh, saya memilih untuk tidur lagi. Maunya saya bersepeda keluar. Tapi, karena hari itu saya punya banyak agenda, saya memutuskan untuk tidur saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mulai berbaring sekitar pukul lima. Tak sampai satu jam kemudian, tanpa saya bayangkan sebelumnya, saya dibangunkan oleh goncangan keras di lantai kamar saya. Seketika saya terbangun. Saya merasakan getaran keras dan suara yang mirip dengan deru kereta api yang melintas cepat. Masih dalam keadaan setengah sadar, di tengah penerangan kamar yang minim, ditambah lagi tak berkacamata sehingga pandangan saya agak kabur, dengan spontan saya berusaha keluar dari kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berusaha membuka pintu kamar secepatnya. Namun saya kesulitan. Goncangan yang masih tak berhenti itu membuat saya sulit menguasai keseimbangan. Di belakang saya, rak buku setinggi 180 cm tampak bergoyang dan mau roboh. Di dekat pintu, air mineral dalam galon berkapasitas 19 liter terdengar beriak. Setelah berusaha keras, akhirnya saya berhasil keluar dari kamar saya. Beruntung, kamar saya paling dekat ke pintu keluar rumah. Begitu keluar, saya langsung keluar, berlari ke jalan depan rumah.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ternyata saya agak terlambat keluar. Begitu tiba di luar, orang-orang sudah tampak banyak berdiri dalam suasana yang masih penuh tanda tanya. Belum lama saya berdiri di pinggir jalan, dari arah gang tepat di barat rumah, seekor anjing putih yang cukup besar berlari cepat ke arah saya dan hampir saja menabrak saya. Saya pikir anjing itu juga panik dengan goncangan keras itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Goncangan masih sedikit terasa, sampai akhirnya pun mereda. Orang-orang pun saling bertanya tentang apa yang tengah terjadi. Beberapa tampak berusaha melihat lebih jelas ke arah utara, ke arah Gunung Merapi. Apakah Gunung Merapi meletus? Tapi tak ada yang tampak istimewa dari arah utara. Tak ada kepulan. Gunung Merapi, di pagi yang mulai terang itu, tampak menjulang biasa, tanpa tanda-tanda yang cukup berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang pun kemudian tak ragu untuk menyimpulkan bahwa goncangan keras yang baru saja terjadi itu adalah gempa. Ya, gempa bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu merasa agak aman, saya mencoba kembali ke kamar untuk mengambil kacamata dan telepon seluler. Masuk ke kamar, saya mendapatkan kamar saya sudah berantakan. Rak buku di sisi barat kamar roboh ke arah timur. Buku-buku bertebaran. Galon air mineral juga tergeletak di lantai. Untung airnya sedang tidak penuh, sehingga air yang tumpah tidak seberapa. Saya segera mengambil kacamata, telepon seluler, dan dompet, dan kemudian segera kembali ke luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar, orang-orang terus mencoba mencari informasi tentang kejadian di pagi itu. Namun, ternyata telepon seluler pun sulit digunakan. Listrik juga padam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berkumpul dengan teman-teman saya di kos seberang tempat saya. Adik saya juga di situ. Katanya, dia tak bisa keluar kamar sampai goncangan berakhir karena dia tak berhasil membuka kunci pintu kamarnya. Beruntung bahwa dinding dan atap kamarnya tak roboh. Ya, kami beruntung. Di perkampungan kami, Papringan, tak ada bangunan roboh. Hanya ada tembok rumah yang sebagian roboh, tepat di perempatan masuk ke jalan ke arah tempat saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa teman mengajak untuk melihat-lihat keadaan di sekitar Papringan. Mereka berencana ke Sapen. Saya pun mencoba menyusul mereka dengan naik sepeda. Namun, saya tak melanjutkan rencana saya begitu melihat lalu-lintas di Jalan Adisucipto yang tampak begitu kacau. Orang-orang seperti terlihat panik. Pada saat itulah saya berpikir bahwa gempa yang baru saja terjadi ini bisa jadi lebih parah dari yang saya bayangkan. Saya pun kembali ke kos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata apa yang saya bayangkan itu memang benar. Beberapa saat kemudian, informasi yang lebih utuh berhasil didapatkan dari radio. Gempa telah terjadi. Gempa tektonik itu berkekuatan  5,9 skala Richter, terjadi pada pukul 05.55 WIB selama 57 detik. Episentrum gempa terletak di dekat pantai selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersamaan dengan gempa susulan yang terjadi pada pukul 08.15 WIB, kepanikan bertambah karena isu tsunami menyebar di antara orang-orang yang masih kebingungan. Tentu, kata “tsunami” terdengar begitu menakutkan. Gambar-gambar tragedi Tsunami Aceh yang cukup untuk membuat orang-orang cemas masih belum hilang dari ingatan. Salah seorang teman yang pagi itu ikut berkumpul di tempat saya langsung meninggalkan saya dan teman-teman, bergegas membawa motornya tanpa mengajak saya atau teman-teman lainnya—bahkan dia lupa tak memakai alas kakinya. Begitulah. Orang-orang panik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin siang, saya semakin tahu bahwa gempa kali ini telah memakan banyak korban dan telah membuat Jogja menjadi tak lagi “berhati nyaman”. Makanan, air bersih, listrik, jelas akan menjadi masalah. Saat itu uang tunai di dompet saya cuma sekitar 25 ribu rupiah. ATM jelas tak bisa digunakan. Beruntung, tak lama setelah gempa, saya dengan adik saya sempat makan di warung sebelah yang buka sebentar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyadari situasi ini, saya pun, bersama adik dan beberapa teman, memutuskan untuk pulang. Sebenarnya, sejak tengah hari, banyak mahasiswa dan orang-orang yang memutuskan untuk meninggalkan Jogja. Rupanya, pemberitaan di televisi yang memperlihatkan dahsyatnya gempa dan korban jiwa serta bangunan yang diruntuhkannya telah membuat keluarga mereka masing-masing di luar Jogja cemas, sehingga meminta mereka untuk pulang saja. Begitu pula yang terjadi dengan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan uang terbatas, saya pun meninggalkan Jogja sekitar pukul lima sore. Dengan uang tunai terbatas, saya naik bis sampai Solo, untuk kemudian mencari uang tunai di ATM, dan melanjutkan perjalanan ke Madura. Sepanjang perjalanan, orang-orang bercerita tentang gempa Jogja. Mereka bercerita tentang korban jiwa dan kerusakan yang terjadi di mana-mana. Sepanjang perjalanan Jogja-Solo, saya dapat menyaksikan bangunan-bangunan yang hancur, rusak, atau miring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat dikatakan bahwa saya tak mengalami kerugian material dari bencana alam ini. Meski begitu, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gempa_bumi_Yogyakarta_2006"&gt;gempa Jogja&lt;/a&gt; adalah satu pengalaman eksistensial yang memberi banyak hal buat saya. Saya berbincang dengan beberapa teman saya yang penduduk asli Jogja. Buat beberapa di antara mereka, gempa Jogja telah memaksa mereka untuk memulai segalanya dari awal. Tak hanya soal aspek duniawi—mereka pun akhirnya dipaksa untuk berefleksi, tentang banyak hal. Salah seorang di antaranya, yang seorang penulis dan pengamat pendidikan, mengatakan bahwa bencana ini telah menegaskan bahwa harta benda yang dikumpulkan bertahun-tahun bisa saja hilang seketika; dan yang sangat berguna ketika itu adalah para sahabat. Sungguh, ini pelajaran tentang kefanaan yang benar-benar nyata, tapi sering kali dilupakan—apakah itu berarti sebentuk pengingkaran diam-diam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kembali lagi ke Jogja tepat sepekan setelah musibah yang menewaskan lebih enam ribu korban jiwa itu terjadi. Saya bermaksud untuk membawa pulang buku-buku saya. Beruntung sekali, kamar kos saya tak roboh, karena setelah gempa terjadi, malam harinya hujan deras turun mengguyur Jogja. Salah seorang teman saya yang kamar kosnya roboh harus merelakan buku-bukunya hancur oleh hujan bercampur puing-puing bangunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hari saya di Jogja, sebelum akhirnya pulang kembali ke Madura. Hari-hari itu saya tengah berusaha keras fokus untuk menyelesaikan tugas akhir saya yang baru saja dimulai. Dan saya berpikir bahwa situasi Jogja tak lagi kondusif untuk tugas yang harus segera saya tuntaskan itu. Dua hari di Jogja, saya sempat berkeliling melihat-lihat suasana. Ternyata, hari itu adalah hari pertama kota Jogja kembali beraktivitas, setelah selama seminggu sebelumnya dicekam sunyi akibat gempa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa bulan setelah gempa Jogja, saya masih mendengar banyak cerita kemanusiaan yang mengundang empati, tentang bagaimana masyarakat korban gempa berusaha bangkit menyusun kehidupan baru mereka di antara harapan yang tersisa. Cerita yang agak detail saya dapatkan dari salah seorang teman kuliah saya yang akhirnya menunda urusan akademiknya dan berfokus mengorganisasi warga kampungnya untuk membangun kembali kehidupan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenangan tentang kejadian gempa Jogja ini serta merta muncul kembali ke benak saya beberapa hari yang lalu saat mendengar kabar bahwa gempa dahsyat terjadi meluluhlantakkan Sumatera Barat. Gempa yang terjadi pada hari Rabu, 30 September 2009 pukul 17.16 WIB itu berkekuatan 7,6 skala Richter. Dari berita yang berhasil saya ikuti, saya dapat dengan mudah menyimpulkan bahwa bencana ini lebih parah daripada gempa Jogja. Korban jiwa mungkin bisa mencapai ribuan. Kekuatan gempa yang lebih besar mengakibatkan kisah-kisah tragis para korban akan terasa lebih mengiris hati. Orang-orang yang meninggal dalam reruntuhan bangunan. Dusun-dusun yang menjadi kuburan massal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti gempa Jogja, malam hari setelah gempa, hujan juga turun di sana. Saya dapat membayangkan suasana mencekam yang terjadi selama hujan turun. Bencana dahsyat baru saja terjadi. Tanpa penerangan. Suara hujan, yang mungkin bercampur guntur diiringi halilintar. Saya tak dapat membayangkan andaikan gempa itu datang di malam hari. Mungkin akan benar-benar serupa kiamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini, saya berjarak belasan ribu kilometer dengan mereka yang tengah dirundung duka. Dengan keterbatasan yang saya punya, saya berusaha menjangkau mereka, merasakan penderitaan mereka. Saya merasa saya punya keterbatasan untuk menunaikan kewajiban saya terhadap saudara-saudara saya yang tengah ditimpa musibah ini. Dari jauh, saya berdoa untuk mereka.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9718171-6417215212863987220?l=rindupulang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rindupulang.blogspot.com/feeds/6417215212863987220/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9718171&amp;postID=6417215212863987220&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/6417215212863987220'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/6417215212863987220'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rindupulang.blogspot.com/2009/10/gempa-itu-tak-datang-di-malam-hari.html' title='Gempa itu Tak Datang di Malam Hari'/><author><name>M Mushthafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14972221113444541130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_3KV1whPNznA/R6GvxNRKpvI/AAAAAAAAAAg/WtDlof24hV0/S220/My+Name+is+Musthov+for+Blog.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9718171.post-3301437224329873231</id><published>2009-09-27T12:49:00.007+07:00</published><updated>2010-12-14T13:05:48.332+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term=':: Published ::'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Book Review: Education'/><title type='text'>Radikalisasi Peran Guru</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/Sr7_CrrQ6aI/AAAAAAAAArU/-5ZXKSkxErg/s1600-h/Pendidik+Karakter.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 156px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/Sr7_CrrQ6aI/AAAAAAAAArU/-5ZXKSkxErg/s200/Pendidik+Karakter.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5386022625930701218" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Judul buku: Pendidik Karakter di Zaman Keblinger: Mengembangkan Visi Guru sebagai Pelaku Perubahan dan Pendidik Karakter&lt;br /&gt;Penulis: Doni Koesoema A&lt;br /&gt;Penerbit: Grasindo&lt;br /&gt;Cetakan: I, 2009&lt;br /&gt;Tebal: xvi + 216 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat sendi bangunan peradaban bangsa terancam berantakan, banyak orang berharap pendidikan dapat menjadi penyelamat. Guru kemudian menjadi aktor kunci untuk menjadi pelaksana misi penyiapan generasi bangsa yang tangguh. Lalu, bagaimana jika guru itu sendiri justru menjadi sumber masalah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku yang ditulis praktisi dan pemerhati pendidikan ini memberi peta persoalan dan tawaran solusi cukup radikal untuk menguatkan kembali peran dan posisi guru. Tentu saja dalam konteks pembangunan peradaban masyarakat yang tengah terbelit dalam krisis yang kompleks dan akut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doni Koesoema, penulis buku ini, berupaya mengembangkan dan meradikalkan visi dan peran guru sebagai pelaku perubahan dan pendidik karakter. Hal tersebut perlu, terutama kala profesi keguruan cenderung mudah terjebak dalam perangkap konflik kepentingan, ekonomi, dan kelompok politik tertentu yang dangkal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Menurut penulis buku ini, guru bisa memainkan peran memperbarui tatanan sosial masyarakat. Caranya dengan memperkaya dan memperkokoh kepribadian siswa serta menanamkan kesadaran kritis. Fungsi transformatif pendidikan dimulai dengan pembentukan dan pendidikan karakter. Proses pengembangan karakter di sekolah dilakukan menyeluruh (integral) antara diskursus dengan praktik dan antara kegiatan kurikuler (akademis) dengan pergaulan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Zaman ”keblinger”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Berhadapan dengan kutub ideal ini, penulis mencatat sekarang ini kita hidup pada zaman keblinger, sebuah zaman saat dunia lari tunggang langgang dan menciptakan situasi yang membuat guru kehilangan orientasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otonomi dan kebebasan untuk merumuskan jati diri sebagai guru menjadi sulit sekali untuk dijaga. Sebuah ilustrasi yang sangat bagus digambarkan dalam buku ini. Jangankan untuk menghambat terorisme global, untuk melawan ujian nasional yang merenggut otonomi guru saja mereka tidak mampu. Jangankan berurusan dengan perusahaan multinasional, untuk mengurus uang Bantuan Operasional Sekolah (BOS) saja tidak becus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam situasi seperti ini, guru sering tidak sadar dengan peran dan visi strategis dan radikal yang mesti mereka miliki. Bagaimana bisa menjadi pelaku perubahan jika untuk mengubah dirinya saja guru masih kesulitan. Ketika sekolah atau otoritas negara berupaya meningkatkan mutu guru melalui sejumlah kegiatan, seperti pelatihan, lokakarya, seminar, atau semacamnya, ternyata semua itu tidak cukup memberi dampak positif. Bahkan, untuk sebuah perubahan mendasar yang menyangkut kemampuan pedagogis maupun penguasaan bahan ajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu menurut penulis buku ini terjadi karena tak ada kerangka kerja jangka panjang yang melatarinya sehingga perubahan radikal yang diharapkan tak kunjung dicapai. Untuk itulah, Doni kemudian merumuskan tujuh strategi untuk membumikan gagasannya yang hendak meradikalkan visi dan peran guru sebagai pelaku perubahan dan pendidik karakter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketujuh strategi itu adalah menjernihkan visi sebagai guru, menumbuhkan semangat peneliti dalam diri guru, membiasakan umpan balik dari para pemangku kepentingan, menumbuhkan kejujuran akademis, mempraktikkan pembelajaran kolaboratif, mengembangkan sekolah sebagai komunitas belajar profesional, dan menumbuhkan kultur demokratis di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketujuh strategi tersebut memang tidak bersifat teknis karena hal yang ingin dicapai adalah perubahan paradigma. Meski demikian, di beberapa bagian terdapat uraian yang cukup praktis. Misalnya, tentang pentingnya penjernihan visi sebagai guru. Di situ dipaparkan visi yang berfungsi sebagai orientasi dan landasan yang memotivasi guru bertindak, beraktivitas, dan mengembangkan diri. Dia juga menegaskan, visi seseorang sebagai guru juga dapat dilihat dari bagaimana dia memahami tujuan pendidikan, pengajaran, siswa, pengetahuan, dan masyarakat. Dengan kata lain, visi sangat berkaitan dengan sejumlah asumsi dasar yang akan sangat berpengaruh terhadap praktik pendidikan dan pembelajaran di kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Visi guru sebagai pendidik dengan pemahaman seperti ini dipertajam dengan studi kasus pemberitaan di media. Di antaranya tentang aktivitas Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo yang menyatakan kebijakan pendidikan menengah akan diarahkan pada meningkatnya proporsi sekolah menengah kejuruan dibandingkan dengan sekolah menengah atas. Penulis kemudian mengajukan sejumlah pertanyaan reflektif dan menguraikan berbagai implikasi arah kebijakan tersebut dengan cukup panjang lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tidak sederhana&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja upaya mengubah paradigma dan visi mendasar dari profesi keguruan tidaklah sederhana. Bagian awal buku ini menguraikan kompleksitas persoalan yang dihadapi guru di lapangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada zaman keblinger, misalnya, mistifikasi profesi guru terjadi ketika muncul euforia berlebihan oleh komunitas dalam mengidealkan berfungsinya peranan guru. Di sisi yang lain, beban kerja dan rutinitas di sekolah semakin menyulitkan guru mengembangkan dan mengubah diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat menguraikan strategi kedua mengenai menumbuhkan semangat peneliti dalam diri guru, penulis tampak sedang berefleksi dengan apa yang tengah dia lakukan selama lebih dari sepuluh tahun terakhir. Dalam kadar tertentu, buku ini sebenarnya semacam refleksi diri setelah terlibat langsung dalam pengelolaan pendidikan di beberapa sekolah. Lebih jauh lagi ketika kemudian ia mendalami pedagogi di Universitas Salesian Roma, Italia, dan Boston College Lynch School of Education, Boston, Amerika Serikat. Dengan kata lain, penulis telah mempraktikkan sekaligus menegaskan dengan memosisikan diri sebagai peneliti, ia tak hanya terlibat dalam praksis peningkatan mutu pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, penulis buku ini juga dapat berbagi makna personal yang berkembang selama ia menjalani dan menghayati aktivitas keguruan dan kependidikan, baik dalam dirinya maupun dengan komunitas (guru) yang lebih luas. Ia mengonstruksi pengalamannya melalui kerja-kerja dokumentasi, pengamatan, analisis, dan refleksi. Selanjutnya ia menciptakan gugus pengetahuan dan ilmu ”baru”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini sangat cocok dibaca para guru, pengelola lembaga pendidikan, dan mereka yang peduli terhadap masa depan bangsa ini. Paparan buku ini memberikan peta dan agenda persoalan bersifat mendasar untuk lebih memperkuat peran dan visi guru dalam pembangunan peradaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari sekadar berbagi makna dan kepedulian, buku ini juga mencatat sejumlah pekerjaan rumah bersama yang bersifat pragmatis maupun praktis, meski pada sisi lain lebih menekankan pada pendekatan dan perspektif yang bersifat individual dalam upaya menjaga makna substantif profesi keguruan yang mulia pada kerangka kerja peradaban.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini dimuat di &lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/09/27/03122440/radikalisasi.peran.guru"&gt;Harian &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kompas&lt;/span&gt;, 27 September 2009&lt;/a&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9718171-3301437224329873231?l=rindupulang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rindupulang.blogspot.com/feeds/3301437224329873231/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9718171&amp;postID=3301437224329873231&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/3301437224329873231'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/3301437224329873231'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rindupulang.blogspot.com/2009/09/radikalisasi-peran-guru.html' title='Radikalisasi Peran Guru'/><author><name>M Mushthafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14972221113444541130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_3KV1whPNznA/R6GvxNRKpvI/AAAAAAAAAAg/WtDlof24hV0/S220/My+Name+is+Musthov+for+Blog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/Sr7_CrrQ6aI/AAAAAAAAArU/-5ZXKSkxErg/s72-c/Pendidik+Karakter.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9718171.post-2761068575902391227</id><published>2009-09-26T22:22:00.007+07:00</published><updated>2010-04-06T15:16:13.297+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diary'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Religious Issues'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='European Adventures'/><title type='text'>Mencari Masjid</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/Sr6CRfCUHYI/AAAAAAAAArM/4ZXllbTbY2s/s1600-h/Moskee+bord+Zeist.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 188px; height: 151px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/Sr6CRfCUHYI/AAAAAAAAArM/4ZXllbTbY2s/s200/Moskee+bord+Zeist.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5385885441282284930" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sejujurnya, saya bukan termasuk orang yang “benar-benar terpaut hatinya dengan masjid”. Saya merasa masih jauh untuk disebut sebagai seorang muslim yang baik. Selama ini, mungkin saya agak kecewa dengan masjid yang belum dapat menjadi tempat berbagi masalah-masalah keagamaan dan sosial dalam arti yang luas—tidak hanya tempat ritual. Dan saya sendiri mungkin masih terlalu picik untuk memulai berbuat sesuatu demi mengatasi kekecewaan saya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun begitu, setelah lebih dua pekan hidup di negeri asing, ada rasa rindu untuk menemukan masjid, tempat kaum muslim berkumpul, meski masih hanya sekadar untuk memenuhi kewajiban (ritual) keagamaan. Saya merindukan deretan jamaah yang berbaris rapi, suara adzan, juga lantunan suara imam yang berwibawa dan menyentuh emosi. Lebih dari itu, saya merindukan bangunan yang berbentuk masjid—bukan masjid dalam pengertian sederhana, yakni tempat bersujud, yang itu bisa di mana saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat menjelang pelaksanaan shalat Idulfitri kemarin, saya sempat berharap bahwa itu akan berlebaran di tempat yang “benar-benar masjid”. Ternyata tidak. Shalat 'Ied kemarin dilaksanakan di sebuah sekolah muslim di tengah kota Utrecht.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pada hari Kamis kemarin, saya pun berketetapan bahwa untuk shalat Jum'at pekan ini, saya harus menemukan masjid. Sudah dua kali shalat Jum'at saya lewatkan—di antaranya karena saya sedang kurang sehat hingga tak berpuasa. Saya pun berusaha memastikan tempat sebuah masjid yang alamatnya saya ketahui dari seorang gadis berjilbab asal Maroko yang saya tanya di bus pada hari Kamis sebelumnya. Pencarian saya sebelumnya tak berhasil, sampai akhirnya Kamis kemarin saya menemukan alamat website masjid tersebut. Dari situlah, dengan bantuan Wikimapia, akhirnya saya dapat memastikan &lt;a href="http://wikimapia.org/#lat=52.0824368&amp;amp;lon=5.219332&amp;amp;z=19&amp;amp;l=0&amp;amp;m=b"&gt;lokasi masjid&lt;/a&gt; dan rute ke arah masjid itu dari apartemen saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masjid itu bernama &lt;a href="http://www.moskeezeist.nl/"&gt;al-Muttaqien&lt;/a&gt;, berjarak 2,5 km dari apartemen saya. Tempatnya di daerah De Clomp, pinggiran barat kota Zeist. Masjid itu dibangun pada tahun 1993, dan, ini yang cukup menggembirakan saya, bangunannya memang benar-benar berbentuk masjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tiba di masjid itu pada pukul 13.30, saat orang-orang mulai berdatangan untuk shalat Jum'at. Saya sama sekali tak kesulitan menemukan masjid itu. Menara kecilnya terlihat jelas di dekat rerimbunan pohon di salah satu sudut bangunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu memasuki bangunan tersebut, saya langsung meletakkan tas dan berwudu. Saat saya masuk ke dalam ruang utama masjid, adzan sedang dikumandangkan. Suasana begitu hening dan khidmat. Saya pun mengambil posisi di tempat yang masih kosong. Memandang berkeliling, tampak beberapa tiang dan lengkungan seperti masjid pada umumnya. Ada rak al-Qur'an di dinding bagian depan. Jendela-jendelanya yang tertutup kaca juga bermotif arsitektur masjid. Lantainya dihampari karpet berwarna hijau dan merah. Orang-orang yang hadir kebanyakan berwajah Arab. Beberapa di antara mereka mengenakan pakaian panjang (gamis). Tak hanya orang tua, saya juga melihat beberapa anak belia di antara jamaah shalat Jum'at.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/Sr54g-kYMNI/AAAAAAAAArE/XY-DZ69onO4/s1600-h/Al-Muttaqien,+Zeist.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/Sr54g-kYMNI/AAAAAAAAArE/XY-DZ69onO4/s400/Al-Muttaqien,+Zeist.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5385874712328417490" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Saya melewatkan shalat Jum'at di masjid itu dengan perasaan puas. Kerinduan saya terobati: pada masjid, adzan, khotbah Jum'at, dan jamaah kaum muslim yang hadir di situ—meski tak satu pun saya kenal. Khotbah disampaikan dalam bahasa Arab yang dilantunkan dengan sangat fasih. Khotib berdiri di podium yang anggun. Jamaah menyimak pesan-pesan keagamaan yang dituturkan dengan baik, ringkas, padat, dan bermakna. Dengan pengeras suara yang sepertinya hanya terdengar di dalam ruangan, khotib mengingatkan jamaah untuk terus menjaga hikmah Ramadan, agar terus menjaga semangat untuk memperbaiki kualitas keimanan dan ketakwaan. Dia mengatakan bahwa salah satu tanda puasa dan ibadah kita diterima adalah manakala kita dapat melanjutkannya dengan bentuk kebaikan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir khotbah, sang khotib mengumumkan bahwa di akhir pekan, jamaah diminta untuk kerja bakti membersihkan masjid. Wah, sepertinya komunitas muslim di sini sudah cukup kompak merawat masjid ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang agak kurang mengenakkan buat saya adalah ketika usai shalat, sebagian jamaah langsung bubar keluar. Memang, mereka keluar masjid dengan tertib, melewati satu-satunya pintu keluar satu persatu. Akan tetapi, kenyataan bahwa mereka tak berdzikir dan berdoa membuat saya bertanya-tanya keheranan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berdzikir sejenak dan berdoa. Di sekitar saya tampak beberapa orang masih berdzikir dan berdoa. Ada yang shalat sunnah. Ada pula yang mengobrol. Tak lama kemudian, saya pun keluar. Di luar masih mendung—sejak pagi nyaris tiada henti. Saat saya hendak membuka kunci sepeda saya di tempat parkir, seseorang berjarak dua meter dari tempat saya memanggil. Ouw, ternyata ada orang Indonesia juga di sini. Kami pun berkenalan. Namanya Wangsa Tirta Ismaya. Dia sudah tiga kali shalat Jum'at di sini, meski dia tinggal di pusat kota Utrecht. Kebetulan kampusnya di Uithof—sama seperti saya. Dia bilang, Jum'atan di sini enak, daripada di masjid orang Turki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berbincang cukup lama, dan terus berlanjut ke sebuah supermarket yang berada tak jauh dari masjid itu. Akhirnya, saya pun pulang ke apartemen, setelah berbelanja beberapa kebutuhan sehari-hari di situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan pulang, saya merasa lega dan puas. Saya sudah menemukan masjid. Saya sudah menemukan tempat saudara-saudara saya, kaum muslim, berkumpul setiap Jum'at. Saat mengayuh sepeda di jalanan sambil melawan angin yang terasa dingin, diam-diam terbersit harapan bahwa masjid ini dapat mengantarkan saya pada kualitas keagamaan yang lebih baik. Saya berdoa untuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berjanji, Jum'at mendatang, saya akan datang lebih awal. Insya Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&gt;&gt; Beri rating untuk tulisan ini di &lt;a href="http://blogs.rnw.nl/pengalamanku/2009/10/21/mencari-masjid/"&gt;Blog Radio Nederland Wereldomroep&lt;/a&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9718171-2761068575902391227?l=rindupulang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rindupulang.blogspot.com/feeds/2761068575902391227/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9718171&amp;postID=2761068575902391227&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/2761068575902391227'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/2761068575902391227'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rindupulang.blogspot.com/2009/09/mencari-masjid.html' title='Mencari Masjid'/><author><name>M Mushthafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14972221113444541130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_3KV1whPNznA/R6GvxNRKpvI/AAAAAAAAAAg/WtDlof24hV0/S220/My+Name+is+Musthov+for+Blog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/Sr6CRfCUHYI/AAAAAAAAArM/4ZXllbTbY2s/s72-c/Moskee+bord+Zeist.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9718171.post-931974174286030384</id><published>2009-09-25T21:48:00.001+07:00</published><updated>2010-04-01T00:12:19.604+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diary'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='European Adventures'/><title type='text'>Berlebaran di Rantau</title><content type='html'>Ini adalah pengalaman saya yang pertama: berlebaran di rantau. Tak tanggung-tanggung, lebaran kali ini, saya berjarak hampir 12 ribu kilometer dari rumah saya, dari keluarga saya, dari tempat saya dibesarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, apakah ada bedanya? Bagaimana rasanya? Ruang yang memisahkan mulanya memang terasa biasa, seperti tak berbeda. Saat bangun di waktu Subuh di hari lebaran, saya seperti di rumah saja. Dari kamar saya yang berukuran 4 x 3,5 meter, perbedaan itu belum begitu terasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, begitu saya melangkah keluar, berangkat menuju “masjid” tempat kaum muslim Indonesia akan melangsungkan Shalat 'Ied, satu persatu perbedaan itu semakin terasa. Saya keluar dari aparteman sekitar pukul 7.20. Tiba di luar, saya menemukan jalanan yang diselimuti kabut tebal, yang membuat pandangan menjadi terbatas. Udara pagi juga menyengat dingin. Saya agak bergegas berjalan ke halte, mengejar bus pertama yang menuju Central. Jalanan masih sangat sepi. Mungkin karena hari Minggu.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tak ada suara petasan atau gema takbir bersahutan. Tak ada orang lalu-lalang dengan pakaian-pakaian terbaik mereka. Kabut menambah sepi yang dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang perjalanan, di beberapa halte yang kebanyakan masih sangat sepi, saya menjumpai beberapa orang yang sepertinya juga tengah berangkat menuju masjid untuk berlebaran—orang-orang berwajah Arab atau Afrika. Sempat terpikir: apakah mereka juga tengah berada di perantauan, atau justru sudah lama berumah tinggal di negeri ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sulit untuk menemukan “masjid” tempat kaum muslim Indonesia akan melaksanakan Shalat 'Ied. Alamatnya di Marnixlaan 362, Utrecht, di komplek Sekolah Aboe Daoed. Shalat digelar di ruang aula sekolah. Saat saya tiba, beberapa orang sudah tampak di dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat takbir mulai dibacakan oleh salah seorang panitia, perasaan saya mulai tersentuh. Meski tampak terdengar tak begitu fasih dan kadang terkesan agak tertatih, gema takbir di hari itu tampak berbeda. Saya tidak tahu bagaimana menggambarkannya secara persis. Makna kebesaran Allah dan keagungan-Nya seperti muncul menyelinap begitu saja, bercampur aduk dengan kerinduan akan lantunan takbir serupa di kampung halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seusai shalat dan khotbah, acaranya salam-salaman dan makan-makan. Kaum muslim Indonesia yang hadir saat itu mungkin hampir berjumlah 100 orang. Cukup ramai. Di hari itu, mereka adalah keluarga saya—meski hampir semuanya tak saya kenal, bahkan namanya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara usai menjelang pukul 12 siang. Setelah membantu membereskan tempat acara sebentar, saya pun pulang ke apartemen. Ya, saya langsung pulang. Tak ada acara lain. Tak ada acara silaturahim keliling ke famili. Di aparteman, saya langsung kembali ke keseharian saya di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlebaran di rantau membuat saya mulai mengerti makna hari lebaran di kampung halaman. Saya mulai memaklumi, mengapa di Indonesia setiap tahun orang-orang berbondong-bondong mudik ke kampung halaman mereka di hari lebaran—bahkan dengan layanan dan situasi transportasi yang penuh tantangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang menyimpan kerinduan akan kampung halaman—dan kebersamaan. Orang-orang ingin menjenguk masa lalu mereka, meski sekadar serupa kenangan. Dan mereka yang tengah di rantau tak mungkin mendapatkan semua itu. Mereka hanya bisa berdoa dari kejauhan.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9718171-931974174286030384?l=rindupulang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rindupulang.blogspot.com/feeds/931974174286030384/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9718171&amp;postID=931974174286030384&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/931974174286030384'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/931974174286030384'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rindupulang.blogspot.com/2009/09/berlebaran-di-rantau.html' title='Berlebaran di Rantau'/><author><name>M Mushthafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14972221113444541130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_3KV1whPNznA/R6GvxNRKpvI/AAAAAAAAAAg/WtDlof24hV0/S220/My+Name+is+Musthov+for+Blog.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9718171.post-6294193569595478865</id><published>2009-09-15T19:20:00.007+07:00</published><updated>2011-05-14T11:52:56.662+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diary'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='European Adventures'/><title type='text'>Dari Pinggiran Kota Kecil Dekat Utrecht</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/SrUEIBUyBkI/AAAAAAAAAqk/YKVvldsT3rg/s1600-h/A+view+from+the+top+of+Warande.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 246px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/SrUEIBUyBkI/AAAAAAAAAqk/YKVvldsT3rg/s400/A+view+from+the+top+of+Warande.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5383213465432360514" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sebelum tiba di Belanda, saya tidak tahu bahwa saya tidak akan tinggal di kota Utrecht. Maklum, saya memang masih belum mengerti peta lokasi dan detail tempat yang akan saya tinggali. Saya mendapat kepastian akomodasi saya tepat satu minggu sebelum keberangkatan saya. Karena mencari akomodasi di Belanda cukup sulit, maka saat penyedia akomodasi memberi penawaran kamar buat saya, saya tak berpikir panjang untuk menerimanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://wikimapia.org/#lat=52.0971074&amp;amp;lon=5.2191603&amp;amp;z=17&amp;amp;l=0&amp;amp;m=b&amp;amp;v=8"&gt;Warande&lt;/a&gt;, itu nama komplek dua bangunan berbentuk L yang terletak di pinggiran kota Zeist yang kini saya tinggali. &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Zeist"&gt;Zeist&lt;/a&gt; adalah sebuah kotamadya yang berada di arah timur kota Utrecht. Karena berada di wilayah pinggiran, suasana Warande relatif sepi. Apalagi ia dikelilingi oleh rerimbunan pohon-pohon menjulang serupa cemara yang tingginya bisa melebihi kamar saya yang berada di lantai empat. Lebih sepekan tinggal di Warande, saya merasakan suasana yang sunyi. Jarang sekali ada “keramaian” di sekitar sini. Suara-suara kendaraan dari jalan utama yang berjarak sekitar 250 meter pun tidak terdengar cukup keras dari sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jarak Warande dengan Kampus Uithof sekitar 5 kilometer. Jika menggunakan sepeda ontel, ini ditempuh sekitar 20 menit. Jika dengan bus, tentu bisa lebih cepat. Ada beberapa halte bus di sekitar Warande yang bisa mengantar saya ke kampus, pusat kota Utrecht, atau tempat yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, komplek pertokoan Vollenhove, yang oleh website &lt;a href="http://www.shortstaysolutions.nl/cm/I_am_a_tenant_-_Accommodations/Warande.html"&gt;SSH&lt;/a&gt; (pengelola komplek ini) disebut “big shopping center”, dapat dicapai dalam hitungan beberapa menit. Di sana ada beberapa supermarket, toko buah, toko pakaian, toko obat, dan sebagainya. Setelah beberapa kali ke komplek itu, saya jadi agak heran mengapa tempat itu mereka sebut “big”, karena bangunannya hanya seperti ruko biasa, dan para pengunjungnya pun tidaklah ramai—biasa-biasa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ketinggian lantai empat di kamar saya, setiap hari saya menikmati sajian ujung-ujung pohon yang menari diterpa angin musim gugur yang mulai tiba. Biasanya, di pagi hari, saat matahari mulai terbit, saya membuka pintu ke arah balkon agar udara segar masuk ke kamar. Kebetulan, kamar saya agak menghadap ke timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemandangan menarik di balkon pagi hari selalu saya dapatkan jika langit sedang tidak begitu mendung. Setiap pagi, saya dapat menyaksikan langit yang seperti dilukis oleh jejak asap pesawat terbang yang menuju atau lepas landas dari Bandara Schipol, Amsterdam—bandara tersibuk kelima di Eropa. Garis-garis putih yang tampak lembut saling menyilang di angkasa, berlatar langit biru yang sebagian menyala merah keperakan. Sungguh, ini pemandangan indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, saya tidak berani berlama-lama membuka pintu ke arah balkon itu. Apalagi duduk-duduk agak lama. Udara dingin sudah terasa sangat menusuk buat saya yang berasal dari negeri tropis dan baru pertama kali tinggal di negeri berempat musim seperti di sini. Jika sebelum tiba ke sini saya cukup terobsesi dengan balkon, membayangkan bisa duduk-duduk santai sambil menikmati pemandangan dari ketinggian, saya baru sadar bahwa itu tidak berlaku jika kita tidak cukup siap berhadapan satu lawan satu dengan udara dingin yang bisa mencapai 11 derajat celcius—atau bahkan lebih rendah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak sore kemarin, gerimis sesekali datang. Beberapa bagian di lantai balkon tampak tergenang air bersama dedaunan yang kecokelatan. Hingga siang ini, gerimis kadang masih turun. Saya di kamar saja, tak bisa ke mana-mana. Lagipula, semalaman saya mengerjakan tugas kuliah dan baru selesai pagi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerimis mengolah kesunyian Warande mencipta suasana yang tampak absurd buat saya. Saya tak mencium bau tanah, seperti saat hujan pertama turun di rumah. Gerimis hanya menebalkan kesunyian—tak lebih. Saya tidak tahu, apakah orang-orang yang sudah cukup lama tinggal di komplek ini memang sudah terbiasa dengan suasana semacam ini. Atau, barangkali, saya saja yang merasakan kesunyian di Warande.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak mau berpikir terlalu lama tentang ini. Tapi, rasa gentar tiba-tiba tampak berkelebat mendatangi saya, saat ingat bahwa sebentar lagi musim dingin akan tiba. Saya tidak punya cukup senjata untuk mengantisipasi serangan salju dan suhu di sekitar nol derajat—dan kesunyian yang akan menyertainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pinggiran kota kecil dekat Utrecht di suatu siang yang dingin, sekali lagi saya tersadar bahwa saya kini tengah memulai satu perjalanan baru untuk rentang waktu 10 bulan ke depan. Perjalanan yang harus dilalui dengan penuh perjuangan dan kerja keras. Saya datang ke sini bukan untuk berlibur. Saya ke sini untuk menimba ilmu, pengetahuan, pengalaman, dan banyak hal lainnya. Saya telah menyimpan banyak harapan dan keinginan tepat saat saya meninggalkan kampung halaman jelang akhir Agustus kemarin. Dan saya butuh kesungguhan, optimisme, keteguhan, dan kekuatan untuk melaluinya dengan baik dan penuh makna. Saya berdoa untuk itu semua. Amien.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9718171-6294193569595478865?l=rindupulang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rindupulang.blogspot.com/feeds/6294193569595478865/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9718171&amp;postID=6294193569595478865&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/6294193569595478865'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/6294193569595478865'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rindupulang.blogspot.com/2009/09/dari-pinggiran-kota-kecil-dekat-utrecht.html' title='Dari Pinggiran Kota Kecil Dekat Utrecht'/><author><name>M Mushthafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14972221113444541130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_3KV1whPNznA/R6GvxNRKpvI/AAAAAAAAAAg/WtDlof24hV0/S220/My+Name+is+Musthov+for+Blog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/SrUEIBUyBkI/AAAAAAAAAqk/YKVvldsT3rg/s72-c/A+view+from+the+top+of+Warande.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9718171.post-5315499530180376004</id><published>2009-09-11T13:03:00.005+07:00</published><updated>2011-01-05T12:43:41.175+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='European Adventures'/><title type='text'>Akhirnya, Saya Tiba di Belanda</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/SqnrLPzopWI/AAAAAAAAAqU/5e-bOXCt7jw/s1600-h/Cengkareng+5+Sept+2009.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/SqnrLPzopWI/AAAAAAAAAqU/5e-bOXCt7jw/s200/Cengkareng+5+Sept+2009.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5380089808324961634" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Tanpa begitu terasa, ini sudah masuk hari keenam saya tiba di Utrecht, Belanda. Perjalanan Jakarta-Amsterdam selama 16 jam pada Sabtu hingga Ahad kemarin cukup lancar—alhamdulillah. Mulanya saya sempat agak nervous, meski tepat di hari keberangkatan saya sudah bisa merasa tenang. Apalagi, ada keluarga sepupu dan bibi di Jakarta yang ikut mengantar ke Cengkareng—karena di tempat mereka pula saya tinggal selama di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan Jakarta-Amsterdam, seperti yang sempat saya duga, saya bertemu dengan beberapa orang Indonesia yang hendak ke Belanda. Ada yang tujuan studi, menjemput istri, dan ada yang cuma short course. Sekali lagi, saya bersyukur karena tiba di Schipol saya dijemput oleh seorang teman yang sudah setahun tinggal di Belanda. Kebetulan dia tinggal di Utrecht, tepatnya di dekat Central Station. Jadi, begitu tiba di Utrecht, kami mampir terlebih dahulu di kontrakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/SqnrR0aCW2I/AAAAAAAAAqc/Y1RJoS1xHfg/s1600-h/Schipol+6+Sept+2009.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 128px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/SqnrR0aCW2I/AAAAAAAAAqc/Y1RJoS1xHfg/s200/Schipol+6+Sept+2009.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5380089921228921698" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pesawat saya mendarat di Schipol tepat pukul 6.55 waktu setempat. Meski pada saat yang sama matahari sudah mulai tampak, saya langsung disergap udara dingin, yang menurut petugas pesawat mencapai 16 derajat celcius. Saat tiba di Utrecht, sekitar pukul 8 lewat beberapa menit, udara dingin semakin terasa saat angin bertiup. “Anginnya dingin menusuk,” kata saya. Switer yang saya gunakan tak berdaya menahan udara dingin. Sepertinya udara dingin menyelusup di antara sela-sela switer saya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak lama di kontrakan Mbak Salamah Agung, teman saya itu, karena saya langsung diajak ke sebuah Pameran Buku di daerah situ yang kebetulan adalah hari terakhir. Menjelang jam 10, kami berangkat ke sana, dan kembali sekitar pukul dua belas. Saya membeli tiga buku tebal—semua 16,45 Euro. Dari pameran, saya langsung menuju Warande, Zeist, tempat kontrakan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, karena belum mengambil kunci di kampus, saya masih menumpang di tempat seorang kenalan dari Kupang, yang kebetulan juga tinggal di komplek yang sama dan sudah satu minggu di sana. Saya sendiri baru mendapatkan kunci saya hari Senin siang, setelah dibantu seorang kenalan baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak hal yang ingin saya bagi di hari-hari pertama di sini. Akan tetapi, saya ternyata masih harus berurusan dengan banyak hal. Saya menyebutnya “survival matters”. Saya masih sedang berusaha membuka akun bank di sini untuk pencairan beasiswa, mendapatkan sepeda sehingga dapat lebih berhemat dan menikmati perjalanan dan suasana, menyesuaikan dengan makanan dan cuaca (termasuk bagaimana saya berpuasa), juga menyesuaikan dengan iklim perkuliahan yang sudah dimulai sejak Senin kemarin, dan berurusan dengan birokrasi Belanda terkait izin tinggal dan registrasi warga asing. Saya kira semuanya adalah hal-hal menarik yang bisa menjadi cerita tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berharap dapat segera mendapatkan waktu yang cukup tenang dan leluasa untuk menuliskan itu semua.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9718171-5315499530180376004?l=rindupulang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rindupulang.blogspot.com/feeds/5315499530180376004/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9718171&amp;postID=5315499530180376004&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/5315499530180376004'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/5315499530180376004'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rindupulang.blogspot.com/2009/09/akhirnya-saya-tiba-di-belanda.html' title='Akhirnya, Saya Tiba di Belanda'/><author><name>M Mushthafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14972221113444541130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_3KV1whPNznA/R6GvxNRKpvI/AAAAAAAAAAg/WtDlof24hV0/S220/My+Name+is+Musthov+for+Blog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/SqnrLPzopWI/AAAAAAAAAqU/5e-bOXCt7jw/s72-c/Cengkareng+5+Sept+2009.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9718171.post-3316833620356358493</id><published>2009-09-02T09:05:00.006+07:00</published><updated>2011-08-25T21:39:51.771+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diary'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='European Adventures'/><title type='text'>Menyongsong Belanda dan Norwegia</title><content type='html'>Keberangkatan saya untuk studi di Eropa sudah tinggal beberapa hari lagi. Akhir pekan ini, saya sudah akan meninggalkan Jakarta menuju Amsterdam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat sebelum saya meninggalkan rumah di Madura, sempat terbersit di kepala saya tentang dua negara yang akan menjadi tempat studi saya: Belanda dan Norwegia. Muncul pertanyaan: mengapa saya ternyata ditakdirkan akan belajar di dua negara Eropa itu? Mengapa bukan di negara yang lain? Mungkin ini termasuk pertanyaan bodoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun begitu, secara tak sengaja pikiran saya terus menyusur ke belakang, ke masa-masa yang cukup lampau, sampai akhirnya saya pun menemukan sedikit jawaban yang bisa saja dilihat sebagai suatu kebetulan. Saya teringat pada sebuah buku saya berjudul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Negeri Belanda: Selayang Pandang&lt;/span&gt;. Buku ini sebenarnya sudah terlupakan. Ia tak terdata dalam daftar koleksi buku saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/Sp4w7JhdyHI/AAAAAAAAAqE/UXCwET0mJ5w/s1600-h/Negeri+Belanda+Selayang+Pandang.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 150px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/Sp4w7JhdyHI/AAAAAAAAAqE/UXCwET0mJ5w/s200/Negeri+Belanda+Selayang+Pandang.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5376788797853649010" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sebelum bertolak ke Jakarta, saya mencoba mencari buku ini, dan, alhamdulillah, akhirnya ditemukan di tumpukan buku-buku lama saya. Saya beruntung bahwa ternyata saya mencatat tanggal penerimaan buku itu, yakni 27 Juli 1993. Itu berarti enam belas tahun yang lalu. Jika tak salah, itu saat saya mau naik ke kelas tiga Tsanawiyah (setingkat SMP).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Saya menerima buku itu secara gratis dari Kedutaan Besar Belanda bersama beberapa buku lain yang tak berhasil saya temukan di rumah. Seingat saya, ada kamus kecil bahasa Belanda, peta Belanda, dan beberapa buku lain. Saya masih ingat, saya mengirimkan kartu pos ke Kedutaan Besar Belanda di Jakarta untuk meminta buku bacaan. Entah seperti apa bahasa yang saya gunakan di kartu pos itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1993 buat saya adalah semacam tahun peralihan, ketika saya mulai berani mencoba membaca buku-buku ilmiah (nonfiksi). Sebelumnya, bacaan saya hanya sebatas buku fiksi, terutama cerita silat legendaris Wiro Sableng yang mulai saya kenal sejak tahun 1988. Minat saya untuk mulai membaca tulisan nonfiksi bisa dikata juga didorong dari perkenalan saya dengan surat kabar dan hobi saya mengkliping. Di tahun 1992, koran sore &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Surabaya Post&lt;/span&gt; masuk ke kampung saya, setelah jauh sebelumnya&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Jawa Pos&lt;/span&gt; sudah bisa dibaca—entah sejak kapan tepatnya. Kemudian di tahun 1993, saat mulai terbit, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Republika &lt;/span&gt;juga masuk, meski dengan kedatangan yang terlambat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Negeri Belanda: Selayang Pandang&lt;/span&gt; mungkin adalah buku gratis pertama yang saya dapatkan. Menyusul berikutnya, saya juga mendapatkan kiriman buku gratis dari Kedutaan Republik Islam Iran, Radio NHK Jepang, Deutsch Welle, dan yang lainnya, termasuk juga kiriman gratis buku &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya&lt;/span&gt; dari Cendana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi berpikir bahwa mungkin Belanda paling tidak secara relatif juga sedikit menandai mulai meluasnya minat bacaan dan kepenulisan saya. Jika sebelumnya saya hanya menulis untuk majalah dinding sekolah dan catatan harian, di pertengahan Tsanawiyah saya mulai berani mencoba menulis surat (“mempublikasikan” tulisan [?]) untuk minta buku gratis ke kedutaan-kedutaan atau badan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan Norwegia? Terus terang, mula-mula saya tak begitu menyangka bahwa rute studi saya—selain Belanda—adalah Norwegia. Konsorsium MAE (Master of Applied Ethics), program studi saya, selain kedua negara itu juga termasuk Swedia. Dan saya menduga bahwa saya akan ditempatkan di Belanda dan Swedia. Namun, saat surat pelulusan dari Konsorsium MAE dan Uni Eropa saya terima, ternyata rute studi saya adalah Belanda dan Norwegia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itulah seketika saya lalu teringat pada salah satu penulis favorit saya: Jostein Gaarder. Saya jadi berpikir, mungkin garis keputusan ini juga ada kaitannya dengan sosok yang mulai saya kenal sejak awal 1997 ini, saat saya hampir lulus dari Madrasah Aliyah (setingkat SMA). Mungkin ini adalah jalan yang akan memungkinkan saya untuk bertemu langsung dengan penulis yang produktif menghasilkan novel-novel filsafat dan tinggal di Oslo ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/Sp4xoswnqzI/AAAAAAAAAqM/0-ZO-K3BJyM/s1600-h/Dunia+Sophie.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 150px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/Sp4xoswnqzI/AAAAAAAAAqM/0-ZO-K3BJyM/s200/Dunia+Sophie.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5376789580406565682" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Gaarder buat saya adalah sosok yang kuat pengaruhnya, terutama untuk memantapkan tekad saya mempelajari filsafat sebagai sebuah disiplin ilmu. Sebenarnya, perkenalan saya dengan filsafat dimulai lebih awal, tepat satu tahun sebelum saya membaca novel Jostein Gaarder yang ternama, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dunia Sophie&lt;/span&gt; (Mizan, Desember 1996). Di paruh kedua 1996, saya telah membaca beberapa buku filsafat yang relatif berat, seperti &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nietzsche &lt;/span&gt;(LKiS, Mei 1996) karya St. Sunardi, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Postmodernisme &lt;/span&gt;(Kanisius, 1996) karya I. Bambang Sugiharto, dan yang lainnya. Akan tetapi, baru setelah saya amat terpikat saat membaca &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dunia Sophie&lt;/span&gt;, yakni awal 1997, saya merasa mantap untuk mendalami filsafat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, Gaarder, yang menulis novelnya dalam bahasa Norwegia, bisa dibilang adalah sosok yang mengantarkan saya ke Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada Yogyakarta di pertengahan tahun 1997, dan selanjutnya membukakan samudera pemikiran yang begitu luas dari dunia filsafat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan begitu, saya merasa bahwa mungkin kini saya tengah menyongsong undangan Gaarder untuk sebuah jamuan di taman filsafat di dekat rumahnya. Saya mengharapkan sebuah jamuan musim semi yang indah, di bawah naungan langit utara dengan bintang-bintangnya yang memikat. Saya juga berharap nanti dapat membawa pulang oleh-oleh cerita pengalaman dari sana—pengalaman yang tampaknya terlalu berharga untuk dilewatkan tak tercatatkan begitu saja.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9718171-3316833620356358493?l=rindupulang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rindupulang.blogspot.com/feeds/3316833620356358493/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9718171&amp;postID=3316833620356358493&amp;isPopup=true' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/3316833620356358493'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/3316833620356358493'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rindupulang.blogspot.com/2009/09/menyongsong-belanda-dan-norwegia.html' title='Menyongsong Belanda dan Norwegia'/><author><name>M Mushthafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14972221113444541130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_3KV1whPNznA/R6GvxNRKpvI/AAAAAAAAAAg/WtDlof24hV0/S220/My+Name+is+Musthov+for+Blog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/Sp4w7JhdyHI/AAAAAAAAAqE/UXCwET0mJ5w/s72-c/Negeri+Belanda+Selayang+Pandang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9718171.post-2542313277348180758</id><published>2009-09-01T08:38:00.005+07:00</published><updated>2011-09-30T18:54:50.090+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Philosophy'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='European Adventures'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ethics'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term=':: In English ::'/><title type='text'>An Orientation to Applied Ethics</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/Sp4u9VZkRbI/AAAAAAAAAp8/oJ643iK_Du8/s1600-h/Perspectives+on+Applied+Ethics.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 149px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/Sp4u9VZkRbI/AAAAAAAAAp8/oJ643iK_Du8/s200/Perspectives+on+Applied+Ethics.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5376786636378228146" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Erasmus Mundus Masters Course in Applied Ethics would begin on September 1st with Introduction Days in Linköping University, Sweden. Unfortunately, I will miss this Introduction Days. But the MAE Consortium have sent a book for me, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Perspectives on Applied Ethics&lt;/span&gt; (Göran Collste, ed.). I received the book on Monday, July 5th. They want me to have read the book before I arrive in Europe. The book contains seven articles about applied ethics written by professors and lecturers of this program and would be a preliminary papers on the Introduction Days that will be held before the Masters Course begin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Those articles explore various themes on applied ethics, reflecting the wide scope of applied ethics and its place in the discourse of philosophy. From the first page, I can feel that this book is a kind of academic book. But the most important thing, this book really gave me a thought-provoking warming up before the course is kicked off. This book inducted me to the interesting discussion on applied ethics.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The first essay, written by Bo Petersson (Professor of Philosophy, Linköping University), invited me to a deep and radical reflection about the ethics. Professor Petersson examined his reflection with critical reviews and analysis on the essay of Paul van Tongeren, “On the Beginning of Ethics” (in G. De Stexhe &amp;amp; J. Verstraeten (eds.), 2000, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Matter of Breath, Foundations for Professional Ethics&lt;/span&gt;, Leuven: Peeters). In fact, I couldn't read the original and complete version of this essay—I don't have access to the book. But it's not a problem. I could still follow the clear explanations.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;The essay of van Tongeren itself actually is an analysis of Book I of Plato's &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Republic &lt;/span&gt;about the birth of ethics. And Petersson emphasized and analyzed van Tongeren's with some critical reflections. I got, at least, three important points from this chapter. First, about the birth of ethics. Reflecting on Plato's text, Petersson underlined that there was a moment when ethics was born. By ethics, it means ethical reflection both meaning reflection &lt;span style="font-style: italic;"&gt;within &lt;/span&gt;ethics and reflection &lt;span style="font-style: italic;"&gt;about &lt;/span&gt;ethics (meta-ethics). There is such situation when ethical reflection doesn't needed. Van Tongeren mentioned about archaic period, it's about period before 600 BC, when society and the rules were static and they were not questioned.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In the classical period, from 600 BC to 300 BC, the static society breaks up. Through wars and expanding trade, people became aware of other cultures and other habits and systems of evaluation. On this intense interaction of people, the meaning of the moral concepts were questioned, and this inquiry constitutes the beginning of ethics. The breaking up event of this socio-cultural situation might be started in the level of individual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I have two important questions on this point: first, is there such a group of people right now living in a social conditions when people had a fixed place within a society and they don't need ethical reflection? Second, what is the feature of fundamental changes in society that make the ethical reflections being important?&lt;br /&gt;The second point of this article is about the threat to ethics. Relativism and traditionalism threaten ethical reflections with different strategies. Both relativism and traditionalism render ethical inquiries as an activity (inquire, ask) meaningless. Relativism believes that there are no true and definitive answers to meta-ethical questions, and traditionalism believes that the authorities know the answers to meta-ethical questions and we also know them through the authorities. So, the threat of ethics is such situation that make the reflections useless.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Just like my second question on the first point, we also could explore this second point criticizing  the situation when the ethical reflections are necessary.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The last point of this article is about the deep meaning of ethics itself. If our inquiry leads us to an answer which we have all reasons to believe to be true, that would mean the end of our inquiry. Is the ethics, as an activity, would be ended on this point? I think that this point, once again, examine our understanding of ethics and ethical reflection. In my mind, maybe this is an entry point to applied ethics. Ethics, and ethical reflection, have strong relation to the practices in our every day life. There will be an intense interaction between moral concepts and our understanding to factual life. On this point, I feel that Professor Petersson have invited us to the real field of challenging applied ethics.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The second article by Professor Göran Collste (Linköping University), the MAE Programme Coordinator, carried on the access to applied ethics by giving us clear and brief description about applied and professional ethics. Three point was emphasized concerning the rise of applied ethics: wide spread of secularization characterized by moral autonomy of individual, new moral problems facing the society due to new technical possibilities, and philosophical response to a new social situation. Professor Collste wrote that applied ethics appeared when ethics itself was in decline—that was in the 1960. Applied ethics as the art of reflecting in moral dilemmas and moral problems indicate a turn from descriptive ethics to normative ethics. I remembered, Kees Bertens mentioned applied ethics as a contemporary development of normative ethics in his book, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Etika &lt;/span&gt;(Gramedia, Jakarta, 2002).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Professor Collste asserted that applied ethics not just the application of ethics to special arenas of human activity. It implies interplay between theory and practice, between experience and reflection and between intuitions and principles. To describe this in detailed explanation, Professor Collste tried to discuss about early born babies, so called neonates, using applied ethics framework, particularly reflective equilibrium of John Rawls' theory as a method. In this example, Professor Collste clarified how this method works: structuring argumentation in applied ethics, for decision making, or for justification.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Second part of the article explained about the professional ethics, a moral reflection in work that has its basis in the practice of a profession. Professional ethics contains two parts: the common goal of the profession, and rules for behaviour. It function is as a guide to the professionals facing difficult moral decision and as a reference for those professionals who want to act fairly.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I found something interesting on this part of the article, especially concerning my recent activities as a teacher in a rural school religious communities. The complex of crisis haunted in my contemporary social condition of my country has also seen as a failure of system of education. Educational institution have failed to response the challenge of the age so we only have the leader with egoistic and narrow vision, people has a minimum solidarity toward poor people, and so on. Teacher, as a key actor on educational institution, has a weak and peripheral vision on his profession. It seems that the guide for their activities now is not a clear vision of their noble profession.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I anxiously reflect this point based on my experiences. If the ethics itself always be connected with concrete moral dilemmas, now I feel that the moral dilemmas could be not only as “concrete” or explicit one. The significance of professional ethics might be clear in the long term and broader context.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Third article, “Ethical Pluralism” by May Thorseth (NTNU), seems to give additional  explanation about threat to ethics as Professor Petersson explained, focusing on relativism. Thorseth made clear why relativism epistemologically and morally problematic. As we know, moral relativism recognized that we get a plurality of different standard of justice. Moral claims are true only relative to some standard of framework. So, moral relativism has the lack of common standards for judging between different cultures. Hence, moral relativism allow for the rise of two opposite views of the same action.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If we back to the explanation of Professor Petersson, we underline that this situation make the ethics as activity has no significance.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I think the key problem of moral relativism concerns with different moral values and judgments in different society and culture. Thorseth then discussed how we considered the differences. Thorseth differentiated moral relativism and value pluralism. Value pluralism is the root of ethical pluralism as a third alternative between relativism and absolutism—another threat of ethics. Value pluralism recognizes the differences, respects other moral values, but still makes an appeal to some moral claims. Value pluralism leaves open the possibility to interfere another moral system when it is in fact not good. In this context, tolerance and respect was put on positive meaning. Abstaining from substantive judgment could be a kind of moral relativism.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The next chapter written by Marcel Verweij (Utrecht University), “Moral Principles and Justification in Applied Ethics”. In this article, Verweij explored the roles of principles in moral theory in applied ethics. The important conclusion in this article is: that it is a misunderstanding of moral principles and ethical theory to see principles as devices designed for answering moral problems. There must be a great effort to do to achieve moral judgments—not only by basing a principle upon a particular moral case.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moral principles are to much general or abstract to provide practical guidance in decision making. In addition, a different principle could point to another directions of moral stand. Verweij tried to place the moral principles in a proportional role. Moreover, Verweij implied that applied ethics and ethical reflection will be a challenging and complex enterprise. The main feature of philosophical way of thinking should be invited to help us to achieve better result. So, it is obvious that in applied ethics, interpretation and critical thinking also have a great importance to be maintained.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If the first four chapters of this book give a general and rather theoretical perspectives on applied ethics, the last three chapters focused on particular concern of applied ethics. The article of Professor Frans W.A. Brom (Wageningen University) highlights the interplay of concrete legislation and public morality based on the case of animal protection legislation in the Netherlands. Professor Brom put forward the expressive-communicative function of legislation, that constitutes an audience in society. Individuals in society become an audience because they share a certain language. The legal framework pre-structures the moral discussion and moral deliberation.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Professor Anders Nordgren (Linköping University) wrote about the interdependence of ethics and science. One important idea explored here is about moral responsibility of scientist, and Nordgren put forward three aspects of this: responsibility “of”, “to”, and “for”. Who is responsible in science? To whom and to what are scientists responsible? For what are scientists responsible? Nordgren also asserted that scientists responsible for the application of the science as well.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The last chapter, written by Rune Nydal (NTNU), is about the social contract between science and society. The discussion on this chapter focuses on the interaction between epistemic aspect and ethical-political aspect on the development of science. Philosophical discourse, mainly on applied ethics, had tried to clarify the conditions for true scientific activity on the one hand and true political activity on the other hand. Nydal asserted that education has an important role to enforce and adjust the ideals of this social contract.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reading this book with an in-depth approach will give the reader an orientation to applied ethics as a new developing discipline in philosophy. Our runaway world affected the relation and interaction of people, and it aroused new question on various problem of ethics—not only about relation between people, but also with animal and nature.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9718171-2542313277348180758?l=rindupulang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rindupulang.blogspot.com/feeds/2542313277348180758/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9718171&amp;postID=2542313277348180758&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/2542313277348180758'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/2542313277348180758'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rindupulang.blogspot.com/2009/09/orientation-to-applied-ethics.html' title='An Orientation to Applied Ethics'/><author><name>M Mushthafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14972221113444541130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_3KV1whPNznA/R6GvxNRKpvI/AAAAAAAAAAg/WtDlof24hV0/S220/My+Name+is+Musthov+for+Blog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/Sp4u9VZkRbI/AAAAAAAAAp8/oJ643iK_Du8/s72-c/Perspectives+on+Applied+Ethics.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9718171.post-2499749953664892405</id><published>2009-08-31T09:15:00.003+07:00</published><updated>2010-04-07T22:15:14.341+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Philosophy'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gender Issues'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ethics'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term=':: In English ::'/><title type='text'>The Existence of Woman in the Family: Ethical Perspective of Simone de Beauvoir</title><content type='html'>&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/SofjpGFys7I/AAAAAAAAApo/UwKErWr3kKo/s200/Simone+de+Beauvoir.jpg" style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 158px; height: 200px;" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5370511375811654578" border="0" /&gt;My thesis at Faculty of Philosophy Gadjah Mada University Yogyakarta Indonesia is a library research deals with “The Existence of Woman in the Family: Ethical Perspective of Simone de Beauvoir” (2007). Its background is based on the concern about the oppression to woman in the family. Woman is treated without humanity, has no freedom to transcend; and all of this perceived as natural and usual. Meanwhile, philosophy has not much concern and interest to examine this problem, which has important ethics implications.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This research is devoted to trace the answer of the following questions: How Simone de Beauvoir criticizes the problem of woman’s existence in the family from ethical and philosophical perspective? What are the relevance and the contextual meaning of her critics? This research concentrates particularly on two important works of Beauvoir, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Second Sex&lt;/span&gt; and &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Ethics of Ambiguity&lt;/span&gt;. This research stand on feminism as a theoretical frame—or more specifically, woman perspective. This means that the problems which explored viewed from the standpoint and main purpose to make the interest and voices of woman to be clear and evident. This theoretical perspective assumes that all human being, in the level of individual and society, man and woman, have the same moral obligation that is to create together an unconstrained space in order to make all individual get their dignity as human being.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This research concludes two important things. First, patriarchal civilization had violated the ethical meaning of the family as a medium to combine two independent existences, so that woman cannot bring the true meaning of her freedom, her existence, and her transcendence into reality. Man and the most member of community considered woman only in term of reproductive function. They simplified woman only as a body. As a result, woman trapped in the immanence, and she tends to hide in the comfort of “protection” of man and let her transcendence thrown away by her bad faith (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;mauvaise foi&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Beauvoir give an ethical frame should be nourished in the family, namely partnership relation based on friendship and generosity, to encourage the realization of freedom of individual. Based on the ethics of ambiguity, Beauvoir argued that we must also consider the other as the extension of our endeavour to generate our freedom—this is the difference between Beauvoir and Sartre, while Sartre recognized relation with the other as inherently conflictual. The partnership should be provided to promote and restore the ethical meaning of the family and to flourish the manifestation of woman’s freedom in the family. To put it simply, we must bring the ethical meaning of the family back by wiping the patriarchal paradigm and attitude in society with constant actions. Actually, in my opinion, this effort will be strategic if it begins from the realm of family itself. But, of course, this will be a challenging situation to manage the ambiguity between man and woman in the family.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The second conclusion relates to the contextual meaning of Beauvoir’s ethical perspectives. In the contemporary situation, ethical critics and ethical frame of Beauvoir about the existence of woman in the family find its important and contextual meaning in the context of globalization, capitalism, and consumerism. After more than fifty years from the publication of &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Second Sex&lt;/span&gt;, we can assert that the condition of woman is generally better. Many women have good position in public area and our society. Many women in the family also achieve financial independence, so they have spacious and broader opportunity to engender the meaning of freedom and transcendence.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But global order of the new world creates a new challenge to the woman’s freedom. Globalization, capitalism, and consumerism, have decreased the positive values endorsed by feminism, and women face a serious problem again concerning her freedom. If patriarchal culture had defined the body of woman in the frame of function of reproduction, then now we find that the body of woman has to fight for the myth of beauty. The meaning of freedom tends to be superficial, in a sense that it reduces the core meaning of freedom, that freedom must be a project of transcendence and doesn’t mean submission to the logic of capitalism. This situation is also a new threat for the essential meaning of freedom and the ethical meaning of the family. In this context, the ethical perspectives of Beauvoir have its vital significance.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9718171-2499749953664892405?l=rindupulang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rindupulang.blogspot.com/feeds/2499749953664892405/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9718171&amp;postID=2499749953664892405&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/2499749953664892405'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/2499749953664892405'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rindupulang.blogspot.com/2009/08/existence-of-woman-in-family-ethical.html' title='The Existence of Woman in the Family: Ethical Perspective of Simone de Beauvoir'/><author><name>M Mushthafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14972221113444541130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_3KV1whPNznA/R6GvxNRKpvI/AAAAAAAAAAg/WtDlof24hV0/S220/My+Name+is+Musthov+for+Blog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/SofjpGFys7I/AAAAAAAAApo/UwKErWr3kKo/s72-c/Simone+de+Beauvoir.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9718171.post-7608144804522333477</id><published>2009-08-26T16:30:00.008+07:00</published><updated>2011-05-24T21:16:51.214+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Daily Life'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diary'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Journey'/><title type='text'>Di Jalanan Kota Jakarta</title><content type='html'>Ahad pagi (23/8) kemarin, saya kembali tiba di Jakarta setelah hampir di sepanjang Juli lalu saya tinggal dan keliling Jakarta untuk persiapan studi ke Eropa. Dan kini saya kembali untuk persiapan terakhir sebelum saya berangkat meninggalkan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat bus yang saya tumpangi dari Madura mulai memasuki tol Cikampek, aroma Jakarta sudah mulai tercium. Akan tetapi, jalanan tampak tak sepadat biasanya—sangat tidak menggambarkan citra Jakarta. Sopir bus yang saya tumpangi juga agak heran dengan jalanan yang cukup lengang. Si kondektur mencoba menjawab, bahwa selain karena hari Ahad, mungkin juga karena awal puasa, sehingga orang-orang agak malas keluar rumah. Walhasil, bus bergerak dengan cukup cepat dan tiba lebih awal di pool Lebak Bulus. Begitu juga saat saya naik angkutan kota ke tempat sepupu saya di Pisangan, Ciputat, kendaraan melaju tanpa hambatan yang berarti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sebuah kota metropolitan, Jakarta menghadapi masalah transportasi yang tidak mudah. Konon, jumlah rasio daya tampung jalan dan jumlah kendaraan yang lalu-lalang di Jakarta tidak seimbang, sehingga terciptalah kemacetan. Bagi mereka yang sudah lama tinggal di Jakarta, mereka akan betul-betul mengerti hal ini dengan baik. Lebih dari itu, mereka pun akan terbiasa. Lain halnya dengan mereka yang ke Jakarta hanya sewaktu-waktu, untuk kepentingan jangka pendek tertentu. Setiap kali ke Jakarta, jalanan bagi mereka mungkin akan menjelma serupa tempat hukuman yang cukup mengesalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Apakah situasi yang demikian akan berpengaruh pada pola relasi manusia yang sehari-hari tinggal dan berkembang biak di sana? Saya jadi teringat celetukan teman saya saat dia mengemudikan mobilnya di jalanan Jakarta di ujung senja saat menuju rumah tinggalnya di selatan Jakarta sebulan yang lalu. “Jakarta sudah tak layak ditinggali,” katanya dengan nada kesal. Sampai sebegitukah jalanan, sehingga ia bisa menjadikan sebuah kota tak cukup manusiawi untuk dihuni?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sempat terpikir, orang-orang Jakarta mungkin telah dirampok usia hidupnya oleh jalanan—sama juga dengan kenyataan bahwa gemerlap lampu Jakarta telah mengusir bintang-bintang. Orang-orang yang sehari-hari memiliki aktivitas rutin di Jakarta, katakanlah, orang kantoran, pasti akan secara rutin pula berhadapan dengan kemacetan di jalanan Jakarta. Mereka mungkin saja mencoba bersiasat dengan mengatur jam berangkat dan jam pulang, mencoba rute jalan tikus yang kadang penuh polisi tidur, atau mengganti mode transportasi. Akan tetapi, jalanan tetap sulit memberi kenyamanan. Seperti tak ada pilihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah tuntutan hidup yang terus seperti tak masuk akal, jalanan Jakarta menambah beban tekanan bagi orang-orang yang mencoba setia (atau mungkin terpaksa) menyusurinya. Namun begitu, kesetiaan mereka kadang justru dibalas dengan kutukan. Kutukan yang memaksa mereka untuk mengubah cara pandang mereka terhadap orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cobalah satu dua kali Anda mencoba naik Kopaja. Perhatikan cara sopir membawa kendaraan yang menjadi jaminan bagi keberlangsungan asap dapur dan kehidupan keluarganya. Beberapa kali saya mendengar langsung teriakan keras sopir Kopaja atau angkot lainnya ke kendaraan yang disalipnya dengan semena-mena di tengah kemacetan dan bunyi klakson yang terdengar frustrasi: “Setoran Bang!” Kata-kata ini terdengar seperti permohonan—atau mungkin juga ratapan. Tapi seperti juga ada nuansa kekerasan jalanan yang tersimpan diam-diam di balik ungkapan dan tekanan yang terus membayanginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota, dengan jalanan yang mengantar para penduduknya beraktivitas dan mencari nafkah, saat ini terus tertantang untuk merawat wajah keberadabannya. Hampir separuh penduduk dunia sekarang tinggal di perkotaan, dan di beberapa negara, kota benar-benar memiliki daya magnet yang menyedot para penduduk di pedesaan dan segenap warisan kebudayaan mereka untuk dilumat di kehidupan kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi teringat bahwa bahasa Arab untuk kata “kota” (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;hadlar, madinah&lt;/span&gt;) memiliki kedekatan atau bahkan masih satu rumpun dengan ungkapan yang menggambarkan “peradaban”. Mungkin dalam bentangan sejarah panjang kehidupan manusia kota memang telah menjadi penggerak kebudayaan dan pendorong terbentuknya keberadaban. Akan tetapi, jika jalanan kini telah cenderung mengkhianati persaudaraan dan makna keterhubungan akar kebahasaan itu, maka tentunya, sekali lagi, ini akan menjadi satu tantangan bagi umat manusia yang patut direnungkan bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran-pikiran saya ini, yang mulai berletupan di akhir Juli lalu, seperti kemudian dirangkum oleh sebuah stiker yang terpampang di sebuah bus kota jurusan Ciputat-Gajah Mada yang saya tumpangi di hari Rabu, 29 Juli 2009, saat saya akan menghadiri Predeparture Briefing Erasmus Mundus Scholarship Programme Uni Eropa di Le Meridien. Di pagi yang masih menyisakan dingin itu, saya berdiri berdesakan di dekat pintu belakang bus. Di tengah perjalanan, tanpa sengaja pandangan saya tertuju pada sebuah stiker yang pinggirannya sudah robek tapi menuliskan kalimat yang sangat reflektif dan menggugah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/SpUCRNttYAI/AAAAAAAAAp0/wir5BdaA6cw/s1600-h/29072009.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 244px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/SpUCRNttYAI/AAAAAAAAAp0/wir5BdaA6cw/s400/29072009.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5374204225098964994" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9718171-7608144804522333477?l=rindupulang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rindupulang.blogspot.com/feeds/7608144804522333477/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9718171&amp;postID=7608144804522333477&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/7608144804522333477'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/7608144804522333477'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rindupulang.blogspot.com/2009/08/di-jalanan-kota-jakarta.html' title='Di Jalanan Kota Jakarta'/><author><name>M Mushthafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14972221113444541130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_3KV1whPNznA/R6GvxNRKpvI/AAAAAAAAAAg/WtDlof24hV0/S220/My+Name+is+Musthov+for+Blog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/SpUCRNttYAI/AAAAAAAAAp0/wir5BdaA6cw/s72-c/29072009.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9718171.post-7424484350264749289</id><published>2009-08-15T15:14:00.009+07:00</published><updated>2010-04-06T21:34:16.521+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='European Adventures'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term=':: In English ::'/><title type='text'>Welcome to Erasmus Mundus Masters Course in Applied Ethics</title><content type='html'>My interest to apply Erasmus Mundus Masters Course in Applied Ethics based on my reflection after I had graduated from Faculty of Philosophy Gadjah Mada University Yogyakarta and involved with some projects in Annuqayah (Islamic boarding) in Sumenep, East Java, Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I tried to develop a program, let's say, Course of Ethics to introduce and promote the students with a little bit radical-philosophical insight concerning socio-cultural phenomena in their interaction with other people from different culture in this cosmopolitan and globalized world. I do believe that socio-cultural challenges in our time are so complex, and we need better solutions and strategies to prepare our new generation facing the future. I suppose that strengthening their moral perspective could be an entry point to build their character.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besides promoting basic concepts of ethics, I also involved in applied ethics projects in a community in the school where I teach. This community particularly consists of students from high school level that have an environmental awareness. Main activities of this community intended to promote and foster the environmental values in the school community and society. Actually, for Annuqayah in general, environmental issues are not a new concern, because in 1981 Annuqayah had achieved “Kalpataru” award from the Ministry of Environmental Affairs of Republic of Indonesia. So, my focus to encourage and keep the green values in existence based on philosophical and ethical approaches aimed to support and sustain those values with new persuasive methods.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;After two years I have been engaging with these projects, it seems to me that I need to enhance and pursue advanced studies in applied ethics. By applying for &lt;a href="http://www.maeappliedethics.eu/?l=en"&gt;Erasmus Mundus Masters Course in Applied Ethics&lt;/a&gt; offered by the MAE Consortium, sponsored by European Commission, I do hope to strengthen theories and discourses on applied ethics. After browsing through the MAE Consortium homepage, I found that syllabus offered by the course is very fascinating.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Because of the scarcity of authorities and references of applied ethics in Indonesia, I do believe that the program will give a significant contribution not only for my projects but also for my institution and my country. In addition, I am sure by joining this program I can learn much from various resources provided in the three partner institutions of ethics (the MAE Consortium). It would also be a valuable opportunity to meet and discuss with multi-disciplinary professors, fellow scholars, and students around the world when I involved as fellow of this program.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/SoZvqUTCFRI/AAAAAAAAApg/DAkG0YyyAXs/s320/MAE+2009.jpg" style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 239px; height: 320px;" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5370102378479621394" border="0" /&gt;I sent my application to the MAE Consortium in the first week of January 2009. Information about the admission result came to me by email from the Consortium on the 1st April. The MAE Consortium by its selection committee has decided to nominate me for an Erasmus Mundus Scholarship.  But the final decision about the scholarship was in the European Commission. On the afternoon of 1st May 2009, I had a surprising email congratulating for my success obtaining this Erasmus Mundus scholarship. Thanks God!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9718171-7424484350264749289?l=rindupulang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rindupulang.blogspot.com/feeds/7424484350264749289/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9718171&amp;postID=7424484350264749289&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/7424484350264749289'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/7424484350264749289'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rindupulang.blogspot.com/2009/08/welcome-to-applied-ethics-masters.html' title='Welcome to Erasmus Mundus Masters Course in Applied Ethics'/><author><name>M Mushthafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14972221113444541130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_3KV1whPNznA/R6GvxNRKpvI/AAAAAAAAAAg/WtDlof24hV0/S220/My+Name+is+Musthov+for+Blog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/SoZvqUTCFRI/AAAAAAAAApg/DAkG0YyyAXs/s72-c/MAE+2009.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9718171.post-8633006658788364900</id><published>2009-08-10T21:00:00.017+07:00</published><updated>2011-08-30T11:21:51.304+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Daily Life'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diary'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term=':: In English ::'/><title type='text'>The Spirit of Ting Ting Jahe</title><content type='html'>For a long time, I didn’t eat this candy: Ting Ting Jahe. Actually, about a year ago, I eat this candy when I acrossed Madura strait by ferry. But the candy was not the original Ting Ting Jahe—it was not my childhood candy. I saved the piece of paper wrapping around the candy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/SoArEOm_c4I/AAAAAAAAApY/9573kf9ERzc/s320/Ting+Ting+Jahe.jpg" style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 181px;" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368338107466740610" /&gt;I never had a dream to meet and eat this memorable candy again that morning. It was in Malang, in an environmental education workshop held by British Council, when Ibu &lt;a href="http://www.facebook.com/stien.matakupan"&gt;Stien Matakupan&lt;/a&gt; brought this candy and offered me. Along with Pak Suryo Wardhoyo, I enjoyed eating this candy that morning. What a nice surprise!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Enjoying that candy, I had a little discussion with Ibu Stien and Pak Suryo about this candy. I showed them the wrapping of another Ting Ting Jahe saved on my wallet, and I tried to compare it with the “original” one.&lt;br /&gt;&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/SoAqv4D62BI/AAAAAAAAApQ/6-9bMhMyJv8/s320/TingTing+Jahe+-+Original.jpg" style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 290px; height: 320px;" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368337757816674322" /&gt;The original Ting Ting Jahe has a register at the National Agency of Drug and Food Control Republic of Indonesia. In the package, it is written: “FOR INDONESIAN MARKET ONLY”. From this text, I believe  that this candy is an export commodity. I had found the real answer when I browsed internet yesterday, and I found this candy sold in &lt;a href="http://www.amazon.com/Ting-Jahe-Ginger-Candy-2-0/dp/B000FEUDTO/ref=pd_sim_gro_6"&gt;Amazon.com&lt;/a&gt;. Yes, it is &lt;i&gt;this &lt;/i&gt;Ting Ting Jahe, produced by PT Sindu Amritha Pasuruan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;From &lt;a href="http://kisahbelanja.blogspot.com/2007/08/permen-jahe-kisah-panjang-kembang-gula.html"&gt;another source&lt;/a&gt;, I got one more important information about this candy. According to John Joseph Stockdale, an English traveler, on his book, &lt;i&gt;Island of Java&lt;/i&gt;, it is mentioned that on 1778 the Dutchman sent this candy to Europe—about five thousand kilogram! European people like this candy so much.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Most important thing of this candy is about four different languages written on its package: Indonesian, Arabic, Javanese, and Dutch. For me, this mean that this candy is a kind of symbol of a peaceful multicultural heritage of our long-historical interaction between various ethnic groups in Nusantara. It seems to be a product of our local wisdom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I am so impressed with the fact that this herbal candy could survive until now. I hope our people could give good appreciation for this bonbon—and maybe the spirit of its history and survival.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9718171-8633006658788364900?l=rindupulang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rindupulang.blogspot.com/feeds/8633006658788364900/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9718171&amp;postID=8633006658788364900&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/8633006658788364900'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/8633006658788364900'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rindupulang.blogspot.com/2009/08/spirit-of-ting-ting-jahe.html' title='The Spirit of Ting Ting Jahe'/><author><name>M Mushthafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14972221113444541130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_3KV1whPNznA/R6GvxNRKpvI/AAAAAAAAAAg/WtDlof24hV0/S220/My+Name+is+Musthov+for+Blog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/SoArEOm_c4I/AAAAAAAAApY/9573kf9ERzc/s72-c/Ting+Ting+Jahe.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9718171.post-2154838742136462855</id><published>2009-08-06T03:37:00.001+07:00</published><updated>2010-04-01T00:26:48.184+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='European Adventures'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Book Review: Novel'/><title type='text'>Panduan Belajar dan Tinggal di Belanda</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/Snj_icKf1jI/AAAAAAAAApI/537XeKUOdUI/s1600-h/Negeri+van+Oranje.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 130px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/Snj_icKf1jI/AAAAAAAAApI/537XeKUOdUI/s200/Negeri+van+Oranje.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5366319923152803378" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Judul buku: Negeri van Oranje&lt;br /&gt;Penulis: Wahyuningrat, Adept Widiarsa, Nisa Riyadi, Rizki Pandu Permana&lt;br /&gt;Penerbit: Bentang Pustaka, Yogyakarta&lt;br /&gt;Cetakan: Pertama, April 2009&lt;br /&gt;Tebal: viii + 478 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya membeli buku ini di pertengahan April lalu, saat sedang ada acara ke Surabaya. Saat itu pas dua pekan setelah saya menerima surat elektronik dari Linköping University (koordinator &lt;a href="http://www.maeappliedethics.eu/?l=en"&gt;Konsorsium MAE&lt;/a&gt;), mengabarkan bahwa saya dinominasikan sebagai penerima beasiswa Erasmus Mundus dari Komisi Eropa di program Master of Applied Ethics (MAE). Saya berpikir, jika saya lulus, mungkin saja Konsorsium akan menempatkan saya di Utrecht University (salah satu kampus anggota Konsorsium MAE), dan karena itu buku ini mungkin akan cukup berguna buat saya. Maka saya pun membeli buku ini di Togamas Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku yang ditulis oleh empat orang Indonesia yang pernah belajar di negeri Belanda ini dimasukkan dalam kategori novel. Buat saya kategori ini sebenarnya agak “meragukan”, karena di dalamnya juga disajikan beberapa selingan kiat/tip berkaitan dengan alur cerita yang sedang dituturkan—dan itu tampak aneh dalam buku yang disebut sebagai novel. Saat cerita agak fokus ke soal transportasi, misalnya, ada boks tiga halaman berisi kiat seputar sepeda di Belanda. Karena itu, setelah menuntaskan novel ini, saya merasa bahwa sejatinya buku ini adalah buku panduan perjalanan (dalam pengertian yang sangat luas), tapi kemudian diberi alur sedemikian rupa sehingga berbentuk cerita/novel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, tampak sekali bahwa alur yang disajikan dibuat sedemikian rupa hingga dapat menampung berbagai segi penting berkaitan dengan kehidupan di Belanda. Ada bagian yang mengangkat masalah makanan dan masak-memasak, bersosialisasi, kerja sambilan, internet, acara budaya, sukses di kampus, birokrasi di Belanda, mencari akomodasi, traveling atau berlibur, dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Novel ini mengisahkan persahabatan lima orang Indonesia yang belajar di Belanda. Mereka tinggal di kota yang berbeda di Belanda dan bertemu secara kebetulan di Amersfort, salah satu kota di provinsi Utrecht. Diawali dengan pertemuan tak disengaja itu, kisah novel ini mengalir menuturkan pengalaman dan suka-duka persahabatan mereka. Karena mengklaim sebagai novel, selain memuat berbagai segi kehidupan di negeri Kincir Angin tersebut, buku ini berusaha menampilkan ketegangan (konflik) cerita yang sebenarnya cukup populer, yakni konflik percintaan di tengah kehidupan rantau Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sebuah cerita, novel ini cukup enak dicerna. Aliran kisah tersaji dengan cukup lincah dan kocak. Situasi  yang menggambarkan kejutan budaya juga tampak kelihatan di beberapa bagian novel ini. Kelima tokoh yang menjadi juru bicara novel ini juga memiliki latar belakang yang beragam, sehingga menambah kekayaan nuansa alur cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini sangat cocok buat mereka yang mau belajar di Belanda. Buku ini kaya informasi tentang bagaimana kiat dan tip belajar di Belanda. Andaikan para penulisnya berbagi tip tentang bagaimana agar bisa mendapatkan beasiswa belajar ke sana, sepertinya calon pembaca dan pembeli buku ini bisa semakin luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada bagian di novel ini yang mencoba memberikan diskusi yang tampak cukup substantif, yakni tentang bagaimana para pelajar yang pernah mengenyam pendidikan di Eropa berkiprah untuk masa depan dan kemajuan tanah air. Menurut saya, jika diskusi tentang tema-tema semacam ini bisa digali lebih mendalam dan luas, novel ini tidak hanya akan memberikan informasi buat para pelajar dan yang akan belajar di Eropa, tetapi juga mungkin bisa menumbuhkan refleksi yang lebih mendalam di tengah konteks kehidupan sosial budaya tanah air belakangan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, kesempatan menempuh studi di Eropa—atau di gugus peradaban lainnya—memberi peluang untuk mengecap secara langsung dialog peradaban yang dapat melahirkan inspirasi dan semangat baru. Kemungkinan peluang kultural semacam inilah yang menurut saya cukup menarik untuk terus dimanfaatkan untuk dapat mengimbangi proses perkembangan dunia global yang semakin bergerak cepat ini.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9718171-2154838742136462855?l=rindupulang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rindupulang.blogspot.com/feeds/2154838742136462855/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9718171&amp;postID=2154838742136462855&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/2154838742136462855'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/2154838742136462855'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rindupulang.blogspot.com/2009/08/panduan-belajar-dan-tinggal-di-belanda.html' title='Panduan Belajar dan Tinggal di Belanda'/><author><name>M Mushthafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14972221113444541130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_3KV1whPNznA/R6GvxNRKpvI/AAAAAAAAAAg/WtDlof24hV0/S220/My+Name+is+Musthov+for+Blog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/Snj_icKf1jI/AAAAAAAAApI/537XeKUOdUI/s72-c/Negeri+van+Oranje.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9718171.post-8476139068958234457</id><published>2009-08-04T21:01:00.010+07:00</published><updated>2010-04-01T18:02:38.823+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Daily Life'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='European Adventures'/><title type='text'>Keliling Dunia (di) Jakarta (3-Habis)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/Sng_trk5eaI/AAAAAAAAAoo/wuRhHkrHoMw/s1600-h/EM+Meridien+01.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 245px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/Sng_trk5eaI/AAAAAAAAAoo/wuRhHkrHoMw/s400/EM+Meridien+01.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5366109010036095394" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pekan terakhir di Jakarta, saya menyelesaikan urusan legalisasi akta kelahiran untuk Belanda. Di hari Senin (27/7), saya mengambil terjemahan kutipan akta kelahiran saya di Manggarai. Senin itu saya berangkat dari Ciputat, karena saya bermalam di kontrakan sepupu saya, Ubaidillah. Dari Manggarai, saya kembali ke Kuningan, ke Kedutaan Belanda, untuk melegalisasi terjemahan kutipan akta kelahiran. Prosesnya cukup lancar. Setelah itu, saya kemudian melanjutkan ke Gambir, untuk memesan tiket kereta ke Jogja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah semua berjalan lancar. Dari Gambir, saya mampir INFID sebentar di Mampang, untuk kemudian terus pulang ke Parung. Saya tiba di Parung lebih awal dari biasanya. Jika tak salah, saya tiba sekitar pukul empat sore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat sedang mengaji seusai salat Maghrib, saya mendapat kabar dari rumah bahwa embah putri saya meninggal dunia. Memang, saat di jalan menuju Parung, saya mendapat kabar dari adik saya di rumah bahwa embah putri sedang kritis di ICU RSUD Sumenep. Begitu mendapat kabar itu, saya pun segera mengatur ulang jadwal saya untuk bisa lebih cepat pulang. Keputusannya: saya akan meninggalkan Jakarta 3 hari lebih awal dari jadwal semula, yakni langsung setelah acara Pre-Departure Briefing Uni Eropa hari Rabu 29 Juli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Maka, pada keesokan harinya, setelah mengambil dokumen yang dilegalisasi di Kedutaan Belanda, saya langsung kembali ke Gambir untuk mengubah jadwal kereta saya ke Jogja. Alhamdulillah saya tidak mendapat masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Gambir, saya langsung menuju Ciputat, ke Ubaidillah. Sekitar jelang Asar, saya mengunjungi seorang rekan ayah saya di komplek Taman Kedaung Ciputat. Saya pun bermalam di sana. Sebelum malam tiba, saya mengambil barang-barang saya di Parung, sambil berpamitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam harinya, saya diajak oleh H Husein, teman ayah saya itu, ke pertemuan alumni Jerman. Sebenarnya saya sudah agak kecapekan. Tapi saya berpikir ini acara menarik. Kami tiba di tempat acara yang dilangsungkan di Pertamina Learning Center sekitar pukul tujuh petang. Beberapa orang sudah tampak datang lebih awal. Pertemuan tampak sangat akrab. Saya bisa maklum, karena forum semacam ini juga sama dengan forum kangen-kangenan (nostalgia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara malam itu ternyata semacam rapat evaluasi pengurus Perhimpunan Alumni Jerman (PAJ). Saya menikmati betul perbincangan dan diskusi yang kritis dan hangat di malam itu. Saya juga bisa merasakan jejak-jejak Jerman dalam lalu-lintas pikiran dan diskusi di malam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara paling akhir saya di Jakarta adalah menghadiri Pre-Departure Briefing Erasmus Mundus Scholarship Programme di Hotel Le Meridien pada hari Rabu 29 Juli. Saya berangkat pukul 07.30 WIB. Sempat sedikit cemas karena agak lama menunggu bus dari Ciputat, akhirnya saya tiba di tempat acara pukul 08.50 WIB. Masuk ke tempat acara, saya sempat agak gugup sebentar karena ternyata semua rekan penerima beasiswa Erasmus Mundus yang datang di acara ini tertib mengikuti pesan yang ditulis di undangan: berpakaian batik. Kebetulan kemeja batik saya dan beberapa pakaian yang lain dan beberapa buku ditinggal di Parung untuk dibawa bibi saya ke Madura (karena tas saya kelebihan muatan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski salah kostum, saya akhirnya bisa santai-santai saja mengikuti acara menarik ini. Alhamdulillah, begitu masuk ke ruangan, saya langsung menemukan rekan ngobrol yang asyik. Namanya Diding Sakri. Kebetulan sekali, saya sudah pernah mendengar nama ini, diperkenalkan oleh seorang mantan teman kos saya saat di Jogja dulu yang kebetulan punya kegiatan bersama Mas Diding ini. Diding Sakri akan belajar tentang&lt;i&gt; local development&lt;/i&gt; di Italia dan Jerman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berusaha mencari seorang kenalan yang lain, yang kebetulan satu fakultas dengan saya di Utrecht. Sayangnya, Agnes Theodora Gurning, teman yang ternyata banyak kenal dengan beberapa kawan aktivis di Filsafat UGM, belum tiba di tempat dan masih terjebak macet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul sembilan lewat beberapa menit, acara pembukaan dimulai. Pada acara pembukaan ini, ada satu mata acara yang cukup mengganggu saya, yakni saat sambutan dari perwakilan dari Dirjen Dikti Departemen Pendidikan Nasional RI. Pejabat yang mestinya menyampaikan sambutan tidak datang. Yang cukup mengganggu  saya adalah: sudah sambutannya dibacakan dan berbahasa Indonesia, si pejabat langsung keluar dari tempat acara langsung setelah membacakan sambutannya yang tak berkelas itu. Saya hanya bisa geleng-geleng kepala. Kata Mas Diding, ini tipikal pejabat Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang acara di hari itu, nuansa Eropa sudah cukup terasa. Di acara pembukaan dan sesi pertama, pejabat Uni Eropa dan beberapa dari bagian pendidikan negara-negara Eropa (Prancis, Inggris, Belanda, Jerman) hadir dan memberikan presentasi tentang belajar dan tinggal di Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/SnhANXtU_zI/AAAAAAAAAow/VNJoQ23nA3Q/s200/The+Jakarta+Post.jpg" style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 133px;" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5366109554458558258" border="0" /&gt;Selepas makan siang, giliran beberapa alumni penerima beasiswa Erasmus Mundus yang berbagi cerita dan pengalaman mereka. Pada saat sesi-sesi ini berlangsung, saya sedikit agak membandingkan dengan pertemuan alumni Jerman. Di pertemuan alumni Jerman, nuansa Jerman sangat kental—bahkan terkesan mereka begitu mengagumi hal-hal yang berbau Jerman. Di forum Uni Eropa, tak tampak hal semacam ini. Maklum, karena dalam program Erasmus Mundus Scholarship ini, semua belajar dan tinggal di paling sedikit dua negara Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman yang dibagikan jelas sangat membantu saya untuk dapat mempersiapkan segala sesuatunya sebelum tinggal dan belajar di Eropa nanti. Satu sesi khusus membicarakan tentang kejutan budaya (&lt;i&gt;cultural shock&lt;/i&gt;) dan berbagai tip praktis lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir acara, ada sesi khusus untuk mereka yang pertama kali terbang ke luar negeri. Saya berusaha menyimak dengan seksama. Dan kesan yang saya tangkap, penerbangan internasional rasanya cukup ribet karena mensyaratkan beberapa hal khusus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara di hari itu akhirnya ditutup menjelang pukul lima sore. Saya pun langsung melanjutkan perjalanan ke Stasiun Gambir bersama keriuhan orang-orang yang bergegas kembali ke tempat tinggal mereka setelah seharian bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabu malam itu, saya pun meninggalkan Jakarta, setelah hampir tiga pekan keliling ke sana kemari untuk urusan persiapan studi saya. Tepat pukul 20.45 WIB, kereta ke Jogja bergerak perlahan meninggalkan jejak suara di kegelapan Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Foto diambil dari &lt;/span&gt;&lt;a href="http://portaltiga.com/metro/?f=3466"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Portaltiga&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt; dan &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.thejakartapost.com/news/2009/08/03/erasmus-mundus-scholarships.html-0"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;The Jakarta Post&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt; online. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Tulisan terkait:&lt;br /&gt;&gt;&gt; &lt;a href="http://rindupulang.blogspot.com/2009/07/keliling-dunia-di-jakarta-1.html"&gt;Keliling Dunia (di) Jakarta (1)&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&gt;&gt; &lt;a href="http://rindupulang.blogspot.com/2009/07/keliling-dunia-di-jakarta-2.html"&gt;Keliling Dunia (di) Jakarta (2)&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9718171-8476139068958234457?l=rindupulang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rindupulang.blogspot.com/feeds/8476139068958234457/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9718171&amp;postID=8476139068958234457&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/8476139068958234457'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/8476139068958234457'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rindupulang.blogspot.com/2009/08/keliling-dunia-di-jakarta-3-habis.html' title='Keliling Dunia (di) Jakarta (3-Habis)'/><author><name>M Mushthafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14972221113444541130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_3KV1whPNznA/R6GvxNRKpvI/AAAAAAAAAAg/WtDlof24hV0/S220/My+Name+is+Musthov+for+Blog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/Sng_trk5eaI/AAAAAAAAAoo/wuRhHkrHoMw/s72-c/EM+Meridien+01.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9718171.post-5372777778284098684</id><published>2009-07-28T04:01:00.009+07:00</published><updated>2011-08-18T15:32:54.116+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term=':: Published ::'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Book Review: Politics'/><title type='text'>Jerat Liberalisasi dan Kedaulatan Energi</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/SmwN455dSmI/AAAAAAAAAoY/6TXUpXMVpWU/s1600-h/Di+Bawah+Bendera+Asing.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 152px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/SmwN455dSmI/AAAAAAAAAoY/6TXUpXMVpWU/s200/Di+Bawah+Bendera+Asing.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5362676527557069410" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Judul buku : Di Bawah Bendera Asing: Liberalisasi Industri Migas di Indonesia&lt;br /&gt;Penulis  : M Kholid Syeirazi&lt;br /&gt;Pengantar : K Tunggul Sirait&lt;br /&gt;Penerbit : Pustaka LP3ES, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan : Pertama, Juli 2009&lt;br /&gt;Tebal  : xxi + 328 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam suasana pemilu dan pilpres 2009 yang lalu, diskusi tentang neoliberalisme ekonomi sempat ramai dibicarakan di berbagai media. Sayangnya, masalah tersebut cenderung berkembang sebagai isu politik sesaat dalam konteks yang cukup pragmatis, sehingga substansi masalahnya kurang tersentuh. Salah satu indikasinya, saat ini masalah tersebut kembali redup tergantikan isu lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku yang ditulis oleh M Kholid Syeirazi ini mencoba mengupas satu contoh tentang bagaimana liberalisasi di bidang migas sebagaimana yang tampak dalam UU No 22/2001 tentang Minyak dan Gas Bumi berimplikasi terhadap masa depan pengembangan industri migas nasional. Kholid juga menelaah konfigurasi ekonomi politik yang melatarbelakangi lahirnya UU tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat dunia belakangan ini dilanda krisis energi, kita semakin sadar betapa minyak memiliki aspek strategis yang sangat signifikan. Kebutuhan akan minyak di semua negara, terutama yang tengah memacu aktivitas ekonomi mereka, sangatlah tinggi. Sementara itu, ketersediaan sumber daya alam minyak terbatas. Karena itu, tak heran jika masalah minyak sering berimbas politis. Keterlibatan Amerika di peta konflik Timur Tengah, misalnya, tak bisa dilepaskan dari kepentingannya untuk memperoleh jaminan suplai minyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Membaca uraian yang sangat kaya data di buku yang dikembangkan dari tesis di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI ini, pembaca akan dapat menyimpulkan bahwa UU Migas No 22/2001 bukanlah karya otonom para legislator di DPR dan bukan pula prakarsa otonom negara. Ia lahir dalam suatu konstelasi geopolitik minyak yang menempatkan Amerika sebagai negara yang paling berkepentingan dengan skenario liberalisasi industri minyak di seluruh dunia. Undang-undang tersebut merupakan produk tekanan politis kekuatan ekonomi yang hendak memayungi dan melegalkan jaringan modal dan bisnis mereka di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bisa dirunut dari saat Indonesia terpuruk dalam krisis moneter di penghujung 1997, yang kemudian menempatkan Indonesia tergolek di kursi pasien lembaga kreditor internasional seperti IMF dan World Bank. Mereka itu kemudian menyodorkan resep liberalisasi dan deregulasi sektor keuangan yang di antaranya mewujud dalam bentuk pencabutan subsidi pendidikan, pangan, dan kesehatan. Liberalisasi di bidang energi adalah salah satu poin kesepakatan yang membuka peluang bagi masuknya investor asing di sektor hulu dan hilir migas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melalui proses yang cukup panjang, yakni sejak Maret 1999, UU Migas yang baru, yang menggantikan UU No 8/1971 tentang Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara (UU Pertamina), disahkan DPR pada 23 Oktober 2001. UU ini menjadikan Pertamina tak lagi berpola usaha yang terintegrasi (hulu dan hilir). Peran ganda Pertamina sebagai regulator sekaligus operator dilucuti. Fungsi regulator ditangani oleh BP Migas dan BPH Migas untuk mengatur kegiatan sektor hulu dan hilir, sedang Pertamina menjadi sekadar salah satu pelaku usaha. Dari sinilah, pemain-pemain asing di bidang migas menemukan pintu masuk yang cukup leluasa untuk bermain di komoditi strategis ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dominasi asing dengan kehadiran UU Migas ini menjadi semakin tampak. Jika dengan UU Pertamina No 8/1971 saja partisipasi Pertamina di sektor migas tidak pernah meraih 10 persen, UU Migas semakin menguatkan dominasi maskapai tambang minyak dunia dalam industri migas nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan dan tinjauan kritis dari beberapa fraksi DPR saat RUU Migas digodok tak mampu mementahkan upaya kekuatan internasional yang bermain di belakang untuk melapangkan jalan liberalisasi migas ini. DPR dihegemoni pemerintah, dan pemerintah berada di bawah dominasi dan tekanan lembaga donor. Demikian pula, upaya sejumlah elemen masyarakat yang mengajukan&lt;span style="font-style: italic;"&gt; judicial review&lt;/span&gt; ke Mahkamah Agung di awal 2003 juga berakhir dengan kecewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu argumen untuk menggusur wewenang Pertamina adalah korupsi yang merajalela. Padahal, penghapusan monopoli Pertamina terbukti tak mengakhiri riwayat korupsi di badan usaha ini. Inefisiensi birokrasi baru serta permainan mafia dan calo minyak hingga kini sulit diatasi. Mekanisme impor dan cengkeraman mafia minyak membuat negara dan rakyat harus menanggung harga BBM yang lebih mahal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perspektif yang kuat yang ditonjolkan buku ini adalah bahwa UU Migas telah berimplikasi pada rapuhnya kekuasaan negara untuk menjaga ketahanan dan kedaulatan energi sehingga komoditas strategis yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak ini terjerat dalam mangsa spekulasi para pelaku bisnis dunia. K Tunggul Sirait, pensiunan Guru Besar ITB yang juga mantan anggota Pansus RUU Migas DPR RI, dalam pengantar buku ini menulis bahwa bagian-bagian penting buku ini mengingatkan kita bahwa ada “kain merah-putih yang terkoyak” dalam tata kelola energi nasional karena hadirnya UU Migas tersebut, yang dinilai banyak pihak sangat liberal dan mendurhakai Pasal 33 UUD 1945.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain ulasan yang komprehensif dan pemaparan data yang lengkap, buku ini menjadi sangat menarik dan kontekstual untuk dibaca karena ia hendak mengajak kita semua merenungkan soal harga diri, martabat, dan kedaulatan kita sebagai sebuah bangsa. Menjelang 64 tahun Indonesia merdeka, dan melewati satu abad kebangkitan nasional, bangsa kita nyatanya masih harus bergelut dan berjuang keras untuk meraih kedaulatannya. Pertanyaannya: apakah perjalanan Orde Reformasi saat ini sebenarnya mengarahkan kita semua untuk merebut kedaulatan, otonomi, dan kemandirian kita sebagai bangsa, atau justru membuai kita dalam kepalsuan citra kesejahteraan di bawah bayang kekuasaan aktor-aktor global?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Versi yang sedikit berbeda dengan tulisan ini dimuat di &lt;a href="http://www.jawapos.com/mingguan/index.php?act=detail&amp;amp;nid=82253"&gt;Harian &lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;"&gt;&lt;a href="http://www.jawapos.com/mingguan/index.php?act=detail&amp;amp;nid=82253"&gt;Jawa Pos&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a href="http://www.jawapos.com/mingguan/index.php?act=detail&amp;amp;nid=82253"&gt;, 26 Juli 2009&lt;/a&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9718171-5372777778284098684?l=rindupulang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rindupulang.blogspot.com/feeds/5372777778284098684/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9718171&amp;postID=5372777778284098684&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/5372777778284098684'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/5372777778284098684'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rindupulang.blogspot.com/2009/07/jerat-liberalisasi-dan-kedaulatan.html' title='Jerat Liberalisasi dan Kedaulatan Energi'/><author><name>M Mushthafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14972221113444541130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_3KV1whPNznA/R6GvxNRKpvI/AAAAAAAAAAg/WtDlof24hV0/S220/My+Name+is+Musthov+for+Blog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/SmwN455dSmI/AAAAAAAAAoY/6TXUpXMVpWU/s72-c/Di+Bawah+Bendera+Asing.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9718171.post-1473190920981631937</id><published>2009-07-27T04:25:00.006+07:00</published><updated>2010-04-24T14:00:32.133+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Movie'/><title type='text'>King: Berbagi Semangat dan Inspirasi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/SmwGcYpa6QI/AAAAAAAAAoQ/f1Ul3YLkskU/s1600-h/Poster+Film+King.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 223px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/SmwGcYpa6QI/AAAAAAAAAoQ/f1Ul3YLkskU/s320/Poster+Film+King.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5362668341013702914" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Satu hari mampir di Jogja sebelum melanjutkan perjalanan ke Jakarta, saya sempat nonton &lt;a href="http://www.aleniapictures.com/kingmovie/home.php"&gt;film &lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;a href="http://www.aleniapictures.com/kingmovie/home.php"&gt;King&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;di Ambarukmo Plaza bersama Badrus. Saya menerima ajakan Badrus untuk nonton film ini lebih sebagai pengisi waktu, dan juga karena saya merasa sudah lama sekali tak menonton film di studio bioskop di Jogja—menurut catatan saya, terakhir nonton di bioskop Jogja September 1999. Tak ada ketertarikan khusus, karena informasi yang saya dapat tentang film itu hanya sekilas saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata film itu melebihi bayangan saya sebelumnya. Ini film istimewa yang penuh inspirasi, tak kalah dengan&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Laskar Pelangi&lt;/span&gt; (2008). Saya jadi teringat beberapa film yang kemudian saya sukai padahal sebelum menontonnya tak ada bayangan bahwa film itu akan luar biasa—seperti &lt;span style="font-style: italic;"&gt;King &lt;/span&gt;ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;King &lt;/span&gt;adalah sketsa biografis pebulu tangkis Indonesia ternama, Liem Swie King, yang juga dijuluki King Smash. Hanya saja, biografi King tidak dituturkan dengan cara yang lurus-lurus saja dan konvensional. Kisah hidup dan perjuangan King untuk meraih kesuksesannya di bidang bulu tangkis disajikan dengan menggunakan sosok lain, yakni Guntur (diperankan oleh Rangga Aditya), anak desa yang menjadi tokoh utama film ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Hidup di sebuah desa terpencil, Guntur dibesarkan hanya berdua bersama ayahnya yang sangat mencintai bulu tangkis. Namun, ayahnya, yang diperankan dengan luar biasa oleh Mamiek Prakoso, bukannya pintar bermain bulu tangkis. Di kampungnya, dia hanya menjadi komentator di setiap pertandingan bulu tangkis, dan sehari-hari menjual bulu angsa untuk dijadikan shuttlecock.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup berdua dengan obsesi yang tinggi dan kehidupan ekonomi yang pas-pasan, si ayah mendidik Guntur dengan cukup keras. Setiap gagal dalam pertandingan, Guntur mendapatkan hukuman disiplin dari ayahnya. Jadi, Mamiek yang lebih sering tampil sebagai komedian di televisi ini banyak menampilkan akting marah dan serius di hadapan anaknya—sehingga konon Mamiek butuh latihan khusus marah untuk perannya di film ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guntur bukan tipe orang yang mudah menyerah. Dengan raket kayu yang kadang membuatnya tak percaya diri, dia terus berlatih keras dan berusaha untuk menjadi juara di kampungnya. Provokasi temannya, Raden (diperankan oleh Lucky Martin), yang mengatakan bahwa di dalam piala yang diperebutkan terdapat uang berlimpah, membuat Guntur semakin keras berlatih, berharap bahwa uang itu nantinya dapat dia belikan raket yang bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan penggambaran karakter dan alur yang sangat hidup, tak membosankan, penuh lika-liku, serta sarat dengan relasi dan drama kemanusiaan yang menyentuh, perjalanan Guntur meraih impiannya pun perlahan menunjukkan kemajuan yang berarti. Kerja keras dan dukungan orang-orang di sekitarnya sangatlah berarti. Namun demikian, ada saat-saat ketika Guntur tampak surut dan putus asa menghadapi hal-hal yang tampak mengecewakannya. Ada juga momen ketika dia merasa perlu menghargai hal-hal sederhana yang dimilikinya sehingga itu menginspirasi dan menyalakan kembali semangatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sungguh kagum dengan kerja tim kreatif film ini (di antara mereka ada nama &lt;a href="http://www.facebook.com/inbox/readmessage.php?t=1036168364177#/profile.php?id=1277401768&amp;amp;v=info&amp;amp;viewas=1112714255&amp;amp;ref=ts"&gt;Dirmawan Hatta&lt;/a&gt;, penulis skenario, kawan yang dulu pernah saya kenal di Komunitas B21 UGM). Seperti halnya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Laskar Pelangi&lt;/span&gt;, film ini juga berhasil mengangkat satu sisi realitas kehidupan di tanah air di antara kesederhanaan dan segala keindahannya. Mengambil latar di desa, film ini menampilkan gambar-gambar yang menawan dari alam pedesaan yang masih perawan. Menurut berita, film ini mengambil lokasi syuting di Bondowoso—saya jadi ingin berkunjung ke teman-teman di Bondowoso.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, film ini juga kaya dengan wawasan multikultural. Dengan memilih menuturkan biografi King melalui Guntur yang seorang Jawa, film ini seperti semacam silaturahim budaya antara etnis Tionghoa dengan elemen kultural lainnya di nusantara. Di film ini pula, ada sosok Batak yang lama tinggal di Jawa. Dan tentu penonton film ini juga tak akan melupakan si tukang pos berwajah Papua yang melafalkan bahasa Jawa. Sungguh, sekali lagi, Arie Sihasale, produser sekaligus sutradara film yang sebelumnya sukses dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Denias &lt;/span&gt;(2006) ini, telah berhasil menampilkan wajah nusantara yang indah dan inspiratif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat meninggalkan Jogja keesokan harinya, di antara perjalanan sambil menyaksikan indahnya alam dari atas kereta, alur dan momen-momen inspiratif dari film ini kadang hadir dengan sejumlah pikiran dan pertanyaan lanjutan. Ada banyak hal inspiratif milik kita di sekitar kita yang perlu terus dibagikan kepada sesama, agar kita dapat belajar menghargai dan mengambil pelajaran dari itu semua. Karena itu, seperti sering saya katakan ke beberapa teman, berbagi informasi, berbagi pengalaman, berbagi pengetahuan, dan berbagi inspirasi itu sejatinya juga bernilai ibadah.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9718171-1473190920981631937?l=rindupulang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rindupulang.blogspot.com/feeds/1473190920981631937/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9718171&amp;postID=1473190920981631937&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/1473190920981631937'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/1473190920981631937'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rindupulang.blogspot.com/2009/07/king-berbagi-semangat-dan-inspirasi.html' title='King: Berbagi Semangat dan Inspirasi'/><author><name>M Mushthafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14972221113444541130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_3KV1whPNznA/R6GvxNRKpvI/AAAAAAAAAAg/WtDlof24hV0/S220/My+Name+is+Musthov+for+Blog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/SmwGcYpa6QI/AAAAAAAAAoQ/f1Ul3YLkskU/s72-c/Poster+Film+King.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9718171.post-7134702900468209482</id><published>2009-07-26T08:33:00.007+07:00</published><updated>2010-04-25T05:11:38.075+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Daily Life'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='European Adventures'/><title type='text'>Keliling Dunia (di) Jakarta (2)</title><content type='html'>Pekan ini saya kembali melanjutkan berbagai persiapan teknis keberangkatan saya. Setelah libur panjang tiga hari yang saya isi dengan kunjungan ke beberapa rekan dan saudara di sekitar Sawangan dan Ciputat, hari Selasa (21/7) saya ke Departemen Luar Negeri untuk mengambil kutipan akta kelahiran yang dilegalisasi. Saya berharap setelah dari Deplu saya bisa langsung memproses aplikasi visa/residence permit saya di Kedutaan Norwegia—syukur-syukur juga ke Kedutaan Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berharap demikian, saya berangkat dari Parung lebih awal dan alhamdulillah saya tiba di Deplu sebelum jam sepuluh. Namun sial nasib saya di hari itu. Ternyata dokumen saya belum selesai ditandatangani oleh pejabat berwenang. Beberapa orang yang juga dijanjikan selesai di hari itu juga tampak kecewa karena belum selesai. Oleh petugas, saya dan beberapa orang lainnya diminta untuk menunggu di situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat menunggu di Deplu, saya tidak bisa berkonsentrasi untuk membaca-baca buku yang saya bawa. Siang itu suasana di ruang tunggu Deplu cukup ramai, tidak seperti di hari Kamis, saat saya memasukkan dokumen. Saya menunggu lebih dari satu jam. Di saat menunggu itulah, saya kembali bertemu dengan P dan beberapa orang rekannya yang sepertinya sedang membantu melegalisasi dokumen. Di antara orang yang kemudian berbincang dengan P, ada seorang berwajah Arab, berkacamata, dan memiliki jambang yang cukup lebat, yang tampak juga sedang membantu proses legalisasi. Ini saya ketahui ketika dia menerima telepon, dan saya kemudian mendengarkan pembicaraan tentang angka-angka biaya yang sudah dikeluarkan oleh si penerima telepon itu. Saat hendak meninggalkan Deplu, saya sempat berpapasan dengan P, dan dia menyapa sekilas sambil tampak terburu-buru bergegas di hadapan saya menuju pintu keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ketidaklancaran di Deplu membuat proses selanjutnya tertunda. Dari kawasan Gambir, saya langsung menuju kawasan Mega Kuningan, tepatnya Menara Rajawali, tempat kantor Kedutaan Norwegia. Sayangnya, saat saya sampai di situ jam menunjukkan pukul dua belas kurang beberapa menit, sehingga saya tak dilayani oleh petugas bagian visa. Untuk diketahui, di Kedutaan Norwegia dan Belanda (mungkin juga yang lain), urusan konsuler hanya buka hingga pukul dua belas siang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selasa siang itu, saya pun keluar dari Menara Rajawali dengan agak kecewa. Karena sudah tak ada agenda penting lain yang bisa saya kerjakan, saya mencoba melihat-lihat lokasi teror bom di sebelah Menara Rajawali, yakni JW Marriott dan Ritz Carlton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/Smu-1HaXUoI/AAAAAAAAAoA/u8RUja5JZas/s1600-h/21072009%28017%29.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/Smu-1HaXUoI/AAAAAAAAAoA/u8RUja5JZas/s200/21072009%28017%29.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5362589601046680194" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Tampak banyak petugas keamanan berjaga di sana. Garis polisi juga menghalangi akses jalan, sehingga jalur di lingkar Mega Kuningan dialihkan. Dari Menara Rajawali, saya pun harus berjalan memutar ke arah luar Mega Kuningan untuk tiba di depan Ritz Carlton. Tiba di sana, saya melihat lapangan yang telah dijadikan tempat parkir banyak kendaraan yang saya duga milik para pemburu berita dan petugas keamanan. Ada tenda polisi di salah satu sudut lapangan. Di sekitar lokasi peledakan, tampak beberapa wartawan lalu lalang. Di antaranya tampak wartawan televisi sedang melaporkan langsung dari lapangan. Tampak pula beberapa wartawan asing dengan kamera yang cukup besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bermodal kamera HP yang sudah mulai memburuk hasilnya, saya pun mencoba mengambil gambar di sekitar tempat itu dari beberapa sudut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kembali lagi ke kawasan Kuningan pada hari Rabu (22/7), keesokan harinya. Yang dituju pertama adalah Kedutaan Belanda. Akan tetapi, ternyata pelayanan konsuler di hari Rabu tutup—saya kurang cermat membaca informasi di website Kedutaan Belanda. Saya pun melanjutkan ke Menara Rajawali, Kedutaan Norwegia. Seperti hari sebelumnya, pengamanan di Menara Rajawali yang juga menjadi kantor beberapa kedutaan itu tampak lebih ketat dibandingkan dengan kunjungan saya sebelumnya sebelum terjadi bom di hari Jum'at. Setiap pengunjung masih diperiksa petugas, termasuk warga negara asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/Smu_SCHz3RI/AAAAAAAAAoI/c2PXC2Yu5_Q/s1600-h/22072009%28004%29.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/Smu_SCHz3RI/AAAAAAAAAoI/c2PXC2Yu5_Q/s200/22072009%28004%29.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5362590097842887954" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Alhamdulillah, urusan aplikasi visa/residence permit di Kedutaan Norwegia berlangsung lancar. Saya juga tak perlu mengeluarkan biaya (hampir dua juta rupiah) untuk itu, karena saya membawa surat pengantar (rekomendasi) dari Uni Eropa. Setelah dokumen-dokumen diperiksa dan dinyatakan tak ada masalah, saya tinggal menunggu informasi selanjutnya dari Kedutaan. Sekitar pukul sebelas siang, saya meninggalkan Menara Rajawali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Kamis saya kembali ke Kedutaan Belanda untuk memproses legalisasi akta kelahiran yang sudah diproses di Dephukham dan Deplu. Ini dia yang membedakan dengan Norwegia. Untuk proses di Kedutaan Norwegia, setelah dilegalisasi di dua Departemen itu, dokumen bisa langsung digunakan untuk proses izin tinggal di Norwegia. Sedang untuk Belanda, prosesnya masih bertambah lagi. Setelah dilegalisasi di dua Departemen, kutipan akta kelahiran saya masih harus dilegalisasi di Kedutaan Belanda. Jadi, hari Kamis (23/7) saya memasukkan akta kelahiran saya. Biaya legalisasi di Kedutaan Belanda Rp. 367.000,- per dokumen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/SnhEYyNnXRI/AAAAAAAAAo4/S2_JZZo4qgo/s1600-h/27072009%28006%29.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/SnhEYyNnXRI/AAAAAAAAAo4/S2_JZZo4qgo/s200/27072009%28006%29.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5366114148598373650" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Dokumen yang dilegalisasi itu saya ambil hari Jum'at (24/7) keesokan harinya. Namun, sebelum ke Kedutaan Belanda, saya mampir dulu ke Bank  BCA Mampang untuk mentransfer biaya MVV visa Belanda. Meski saya sudah menanyakan informasi dan memastikan segala sesuatunya ke pihak BCA sehari sebelumnya, ternyata proses transfer masih agak ribet dan cukup memakan waktu. Baru setelah itu saya meluncur ke Kuningan untuk mengambil akta kelahiran yang sudah dilegalisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah akta kelahiran saya dapatkan, dari Kedutaan Belanda saya langsung melanjutkan proses berikutnya: menerjemahkan akta kelahiran saya di penerjemah tersumpah (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;sworn translator&lt;/span&gt;)—Kedutaan Norwegia tak mensyaratkan proses penerjemahan ini karena kutipan akta kelahiran saya yang baru sudah bilingual. Dari milis, saya mendapatkan informasi jasa penerjemah yang biasa digunakan oleh para calon mahasiswa yang akan studi di Belanda. Penerjemah ini bernama Ediati Kamil yang beralamat di Jalan Saharjo 39 di kawasan Manggarai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah prosesnya berjalan cukup lancar. Saya tidak terlalu kesulitan untuk menemukan rumah si penerjemah ini, meski harus berjalan kaki beberapa ratus meter. Sebelum Jum'atan, saya sudah di bus kota menuju Mampang untuk mampir di INFID (shalat Jum'at).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekan kedua di Jakarta ini tampak lebih padat daripada pekan sebelumnya. Di sela berbagai persiapan itu, saya bersyukur bisa sekalian juga beraktivitas yang lain, seperti berkunjung ke teman dan saudara di sekitar Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika semua berjalan lancar, pekan depan adalah pekan terakhir saya di Jakarta. Selain sedikit urusan di Kedutaan Belanda (melanjutkan proses legalisasi akta kelahiran), pekan depan akan ada dua pertemuan pre-departure, yakni yang diselenggarakan oleh Uni Eropa dan Kedutaan Belanda. Di dua acara itu, saya akan berjumpa dengan rekan-rekan yang lain, baik sesama penerima Erasmus Mundus Scholarship 2009 maupun para calon mahasiswa yang akan studi di Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan terkait:&lt;br /&gt;&gt;&gt; &lt;a href="http://rindupulang.blogspot.com/2009/07/keliling-dunia-di-jakarta-1.html"&gt;Keliling Dunia (di) Jakarta (1)&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&gt;&gt; &lt;a href="http://rindupulang.blogspot.com/2009/08/keliling-dunia-di-jakarta-3-habis.html"&gt;Keliling Dunia (di) Jakarta (3-Habis)&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://rindupulang.blogspot.com/2009/08/keliling-dunia-di-jakarta-3-habis.html"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9718171-7134702900468209482?l=rindupulang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rindupulang.blogspot.com/feeds/7134702900468209482/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9718171&amp;postID=7134702900468209482&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/7134702900468209482'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/7134702900468209482'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rindupulang.blogspot.com/2009/07/keliling-dunia-di-jakarta-2.html' title='Keliling Dunia (di) Jakarta (2)'/><author><name>M Mushthafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14972221113444541130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_3KV1whPNznA/R6GvxNRKpvI/AAAAAAAAAAg/WtDlof24hV0/S220/My+Name+is+Musthov+for+Blog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/Smu-1HaXUoI/AAAAAAAAAoA/u8RUja5JZas/s72-c/21072009%28017%29.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9718171.post-3036157213470574934</id><published>2009-07-20T14:09:00.006+07:00</published><updated>2010-05-11T14:47:38.041+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Daily Life'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='European Adventures'/><title type='text'>Keliling Dunia (di) Jakarta (1)</title><content type='html'>Untuk mengurus kelengkapan persyaratan keberangkatan saya melanjutkan studi ke Eropa, saya pun berangkat ke Jakarta. Dari rumah, saya tidak langsung menuju Jakarta. Saya ke Jogja terlebih dahulu untuk mengantar adik saya kembali ke pondok, transit di kos teman satu hari, baru melanjutkan perjalanan ke Jakarta. Dari Jogja, saya ke Jakarta dengan kereta, berangkat Sabtu (11/7) jelang jam sembilan pagi. Tiba di Jakarta sekitar setengah lima sore, saya langsung menuju Parung, tempat bibi saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua agenda utama yang harus saya selesaikan: melegalisasi kutipan akta kelahiran, dan memproses aplikasi visa ke Norwegia. Misi pertama mulai dikerjakan pada hari Senin (13/7). Rencananya, di hari itu saya akan memproses legalisasi akta kelahiran di &lt;a href="http://www.depkumham.go.id/xdepkumhamweb/xunit/xditjenahu/"&gt;Departemen Hukum dan HAM RI&lt;/a&gt;. Saya tiba di kantor kementerian yang beralamat di Kuningan itu sebelum pukul sepuluh. Loket tempat pelayanan legalisasi dokumen dan yang lain tampak masih belum begitu ramai. Setelah mengambil nomor antrean dan menunggu sebentar, saya maju ke loket legalisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang petugas berkaca mata yang tampak dingin menanyakan dokumen yang akan dilegalisasi. Saya, yang hanya mendapat informasi tentang proses legalisasi dari milis, mencoba menegaskan beberapa hal terkait dengan negara tujuan saya, yakni Belanda dan Norwegia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ternyata dokumen yang akan saya legalisasi, yakni fotokopi akta kelahiran, tidak bisa diproses hari itu di Dephukham. Pasalnya, saya tidak membawa spesimen tanda tangan pejabat Capil yang tanda tangan (melegalisasi) di fotokopi akta kelahiran itu. Sebenarnya saya sudah mendapat informasi bahwa saya mesti membawa spesimen tanda tangan itu. Akan tetapi, yang saya pahami, spesimen yang dibawa adalah spesimen penanda tangan kutipan akta kelahiran, dan tidak usah spesimen tanda tangan pejabat Capil yang melegalisasi fotokopi akta kelahiran saya. Karena itu, di Capil Sumenep, saya hanya meminta spesimen tanda tangan Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Sumenep, pejabat yang menandatangani kutipan akta kelahiran saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petugas Dephukham mengatakan bahwa dokumen kutipan akta kelahiran saya (yang asli) bisa diproses untuk dilegalisasi di Dephukham, tapi yang fotokopi tidak bisa. Dia menjelaskan bahwa saya harus mendapatkan spesimen tanda tangan si pejabat, atau—alternatifnya—saya meminta pengesahan dokumen versi fotokopi itu ke notaris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari loket, saya berembuk dengan bibi saya perihal langkah berikutnya. Ketika kami sedang berbincang, seseorang tampak mendekat dan menanyakan masalah saya. Saya jelaskan kepadanya. Saya juga mencoba menanyakan tentang dokumen yang akan saya legalisasi apakah sebaiknya juga termasuk dokumen yang asli. Dia bilang, kalau yang ke Belanda bisa yang fotokopi, tapi yang Norwegia tidak tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang kemudian memperkenalkan diri dan berinisial P serta sempat memberikan nomor ponselnya ke saya itu kemudian juga menjelaskan soal pengesahan notaris dan biaya yang mesti dikeluarkan untuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mempertimbangkan penjelasan P dan petugas Dephukham, akhirnya saya memutuskan untuk ke Kedutaan Norwegia dan Belanda terlebih dahulu untuk mendapatkan kepastian. Untung saja, kedua kedutaan itu masih berada di wilayah Kuningan juga, sehingga perjalanan ke sana tak cukup memakan waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, ke &lt;a href="http://www.norwegia.or.id/"&gt;Kedutaan Norwegia&lt;/a&gt;, yang berkantor di Menara Rajawali kawasan Mega Kuningan—bersebelahan dengan Ritz Carlton Hotel yang baru saja mendapat teror bom itu. Di sana saya sekalian menanyakan kembali prosedur dan persyaratan aplikasi visa. Khusus untuk legalisasi akta kelahiran, ternyata untuk Norwegia tidak seribet Belanda. Mereka menerima legalisasi dokumen versi fotokopi. Selain itu, jika kutipan akta kelahiran kita sudah ada terjemahan bahasa Inggrisnya (akta kelahiran versi baru yang bilingual), kita tidak perlu menerjemahkannya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain Norwegia, lain pula Belanda. Untuk masuk ke tempat pelayanan informasi pun, di &lt;a href="http://www.mfa.nl/jak-id/"&gt;Kedutaan Belanda&lt;/a&gt; kami tidak diperkenankan membawa tas dan ponsel. Tas dan ponsel harus diletakkan di loker setelah saya mengambil semacam nomor antrean. Maklum, Kedutaan Belanda memiliki komplek gedung yang luas, tidak seperti Kedutaan Norwegia yang berkantor bersama beberapa kedutaan negara Skandinavia yang lain serta perusahaan di Menara Rajawali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petugas di Kedutaan Belanda yang logat bicara bahasa Indonesianya sudah berbau Belanda itu menyarankan agar dokumen yang dilegalisasi itu yang asli saja, karena menurutnya ada kota tertentu di Belanda yang tidak menerima versi fotokopi. Sampai di sini saya menyimpan rasa penasaran saya: mengapa dokumen asli (akta kelahiran) mesti dilegalisasi? Biasanya, dokumen yang perlu dilegalisasi itu kan versi fotokopi, pikir saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agenda selanjutnya adalah mencari pengesahan ke notaris. Dari Kedutaan Belanda, kami mampir ke kantor INFID di Mampang Prapatan. Dari situ, sambil mencari informasi notaris, saya juga mencoba mencari informasi tentang apakah untuk kota Utrecht menerima dokumen akta kelahiran versi fotokopi (yang sudah dilegalisasi). Petugas Kedutaan Belanda sebenarnya menyarankan agar saya meminta informasi ke International Office Utrecht University, agar mereka menanyakan ke dinas terkait di Utrecht. Akan tetapi, menurut saya ini jelas akan memakan waktu; sementara email penting saya yang terakhir belum dibalas oleh mereka. Saya pun mencoba mencari informasi dari rekan-rekan yang ada di Utrecht. Beruntung di siang itu beberapa di antara mereka sedang online di Facebook. Saya pun menanyakan hal ini, dan ternyata saya tak menemukan jawaban yang pasti. Akhirnya, saya putuskan bahwa untuk ke Belanda saya akan melegalisasi dokumen akta kelahiran yang asli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah membuat keputusan ini, saya pun ke notaris diantar oleh Om Warno. Saya diantar ke notaris yang biasa dipakai INFID yang kebetulan tak terlalu jauh dari Mampang. Di sana saya mengesahkan dua lembar fotokopi akta kelahiran, karena aplikasi visa Norwegia membutuhkan dua salinan dokumen. Biaya per lembar lima puluh ribu rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak bisa melanjutkan proses legalisasi ke Dephukham di hari itu, karena jam sudah menunjukkan pukul tiga sore. Maka saya pun kembali ke kantor Dephukham keesokan harinya. Tiba di Dephukham sekitar pukul setengah sebelas di hari Selasa (14/7), saya masih harus melengkapi syarat-syarat legalisasi berupa fotokopi KTP (sudah disiapkan), materai sejumlah dokumen yang akan dilegalisasi (3 lembar), fotokopi dokumen yang akan dilegalisasi, dan surat permohonan serta map khusus yang dibeli di Koperasi AHU Dephukham.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat antre di loket yang kebetulan cukup ramai di siang itu, saya bertemu kembali dengan P yang tampak baru masuk ke tempat antre. Dia tampak sudah sangat akrab dengan tempat ini. Dia sempat bertanya ke saya tentang proses legalisasi yang saya lakukan. Saat dia membuka tasnya, saya sempat melihat dia membawa lembaran materai yang sangat banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, sebelum jam dua belas siang, permohonan legalisasi saya sudah masuk dan diproses. Setelah itu, saya langsung membayar biaya legalisasi (dua puluh lima ribu rupiah per dokumen) di Bank BNI di komplek Dephukham.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/Sma5jkIegOI/AAAAAAAAAn4/PlYbQYQ8_FY/s1600-h/16072009.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/Sma5jkIegOI/AAAAAAAAAn4/PlYbQYQ8_FY/s200/16072009.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5361176427076944098" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Dua hari berikutnya, yakni hari Kamis (16/7), saya kembali ke Dephukham untuk mengambil dokumen saya itu. Alhamdulillah lancar. Lagi-lagi saya melihat P ada di situ sedang berbincang dengan seseorang. Setelah saya selesai memproses legalisasi di Dephukham, saya jadi mengerti mengapa dokumen asli pun harus dilegalisasi. Di cap/stempel legalisasi Dephukham, tertulis: “LEGALISASI TANDA TANGAN”. Jadi, rupanya Dephukham ini melegalisasi keaslian tanda tangan di dokumen kita sebagai pengantar sebelum dokumen kita itu “diinternasionalisasi” (digunakan dalam wilayah hukum internasional) untuk kemudian diproses di kedutaan negara yang kita tuju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Dephukham, saya langsung meluncur ke Departemen Luar Negeri di dekat Gambir. Proses legalisasi di Deplu tak seribet di Dephukham. Loket tampak tak begitu ramai, karena di Deplu saya lihat jenis layanan di loket tak sebanyak di Dephukham. Persyaratannya pun sederhana: fotokopi dokumen yang akan dilegalisasi (yang sudah dicap di Dephukham), map kuning yang saya beli di toko/fotokopi dekat Deplu, dan biaya legalisasi sebesar sepuluh ribu rupiah per dokumen. Petugas Deplu mengatakan bahwa saya bisa mengambil dokumen saya di hari Selasa (21/7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses pengurusan legalisasi dokumen ini memang menjadi pekerjaan teknis yang cukup ribet dan cukup memakan waktu, tenaga, dan biaya. Akan tetapi, saya berusaha menikmatinya. Saya cuma agak menyesalkan mengapa informasi yang cukup terperinci tentang hal-hal terkait tak saya temukan di website lembaga-lembaga itu, termasuk di website kedutaan. Khusus terkait dengan Kedutaan Norwegia, saya mendapatkan informasi tentang aplikasi visa dari mereka via email (catatan: konsultasi via email harus berbahasa Inggris), dan ketika saya berkunjung langsung ke sana, saya mengambil formulir aplikasi visa/residence permit (yang sebenarnya bisa saya unduh dan cetak sendiri dari website mereka) dan mendapatkan kejelasan tentang legalisasi akta kelahiran (bahkan saya sampai diperlihatkan contoh dokumen yang sudah diproses).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk proses legalisasi di Dephukham, sebenarnya saya sempat menelepon langsung ketika masih di rumah menanyakan persyaratannya secara lebih jelas karena tak berhasil menemukan penjelasannya di website. Sayangnya, petugas yang menerima telepon saya terkesan enggan memberikan penjelasan lengkap di telepon. Jadinya, spesimen tanda tangan yang saya bawa ternyata kurang tepat—padahal saya mendapatkannya dengan proses yang agak berliku di Sumenep.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kekurangjelasan informasi itu hanya berakibat bahwa saya harus bolak-balik menegaskan atau menyiapkan hal yang kurang jelas sebelumnya, itu masih mending. Saya menduga bahwa kekurangjelasan informasi ini di antaranya membuka peluang adanya praktik-praktik yang cukup mengganggu di Dephukham. Dari beberapa orang yang juga mengajukan proses legalisasi, saya menjadi tahu bahwa di Dephukham ini banyak orang-orang yang menawarkan jasa membantu proses legalisasi dengan imbalan tertentu—jelasnya: calo. Justru dari mereka inilah beberapa informasi mengenai persyaratan atau prosedur legalisasi bisa didapat lebih terperinci, meski mereka jelas menyimpan motif tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan aturan, koordinasi dengan instansi terkait tampak lemah. Catatan Sipil Sumenep, misalnya, tidak paham soal legalisasi akta kelahiran di Dephukham ini dalam kaitannya dengan persyaratan spesimen tanda tangan. Menurut P, spesimen dibutuhkan karena contoh tanda tangan pejabat Capil di daerah yang mestinya dikirimkan ke Dephukham nyatanya tak tersedia (tak dikirimkan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kekurangjelasan informasi inilah, calo di Dephukham menawarkan jasa, di antaranya, untuk memproses pengesahan ke notaris dengan tarif yang ternyata cukup jauh dari standar. Seorang yang saya jumpai di Dephukham dan sedang memproses legalisasi ijazah untuk melanjutkan studi ke Taiwan menceritakan bahwa di komplek gedung Dephukham ini sebenarnya ada notaris yang bisa mengesahkan fotokopi dokumen kita, dengan tarif yang ternyata cukup murah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah blog, saya menemukan seseorang yang juga mencoba menjelaskan proses legalisasi akta kelahiran menulis bahwa “rumitnya birokrasi ternyata bisa menjadi mata pencaharian untuk sebagian orang”. Benar juga ya, pikir saya. Akan tetapi, masalahnya, seperti saya singgung di atas, fenomena ini juga terkait dengan transparansi informasi yang buruk dan koordinasi antar-instansi pemerintah yang lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat di kantor Dephukham, sempat terpikir: ini instansi yang termasuk berupaya menegakkan supremasi hukum di negeri ini. Akan tetapi, kenyataannya, warga masyarakat yang sedang ingin mendapatkan pelayanan administrasi hukum di sini justru kadang masih harus “terteror” oleh calo (bukan “drakula” lho) yang gentayangan yang terjadi—di antaranya—gara-gara akses informasi yang terbatas. Pertanyaannya: apakah aparat hukum di negeri kita masih belum mengagendakan atau memprioritaskan upaya pemberantasan “terorisme percaloan” di berbagai sudut dan instansi pemerintah di negeri ini—mungkin juga termasuk calo politik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan terkait:&lt;br /&gt;&gt;&gt; &lt;a href="http://rindupulang.blogspot.com/2009/07/keliling-dunia-di-jakarta-2.html"&gt;Keliling Dunia (di) Jakarta (2)&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&gt;&gt; &lt;a href="http://rindupulang.blogspot.com/2009/08/keliling-dunia-di-jakarta-3-habis.html"&gt;Keliling Dunia (di) Jakarta (3-Habis)&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9718171-3036157213470574934?l=rindupulang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rindupulang.blogspot.com/feeds/3036157213470574934/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9718171&amp;postID=3036157213470574934&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/3036157213470574934'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9718171/posts/default/3036157213470574934'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rindupulang.blogspot.com/2009/07/keliling-dunia-di-jakarta-1.html' title='Keliling Dunia (di) Jakarta (1)'/><author><name>M Mushthafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14972221113444541130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_3KV1whPNznA/R6GvxNRKpvI/AAAAAAAAAAg/WtDlof24hV0/S220/My+Name+is+Musthov+for+Blog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_3KV1whPNznA/Sma5jkIegOI/AAAAAAAAAn4/PlYbQYQ8_FY/s72-c/16072009.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9718171.post-3512419977810779392</id><published>2009-07-16T15:40:00.007+07:00</published><updated>2010-05-25T16:39:41.001+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Daily Life'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Madura'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='European Adventures'/><title type='text'>Arogansi, Mental-Tak-Mau-Melayani, ataukah Hidup-Salah-Zaman?</title><content type='html'>Setelah agak terlantar beberapa waktu karena masih merampungkan tugas-tugas di sekolah dan yang lainnya, akhirnya saya pun mulai mengurus kepentingan saya untuk melanjutkan studi. Pengumuman kelulusan saya di program Master of Applied Ethics di &lt;a href="http://www.uu.nl/EN/informationfor/internationalstudents/appliedethics/Pages/study.aspx"&gt;Utrecht University&lt;/a&gt; (Belanda) dan &lt;a href="http://www.ntnu.no/studies/manvetikk"&gt;NTNU&lt;/a&gt; (Norwegian University of Science and Technology) Trondheim (Norwegia) beasiswa dari Komisi Eropa (badan eksekutif Uni Eropa) sebenarnya sudah agak lama, tepatnya 1 Mei yang lalu. Tapi sejak pengumuman keluar, saya tidak bisa fokus ke berbagai persiapan yang perlu saya lakukan, baik teknis maupun nonteknis. Saya hanya sempat membuat paspor dan mengumpulkan informasi awal dari internet tentang beberapa hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hari sebelum Pilpres 2009, saya mengirimkan aplikasi visa saya ke Belanda. Pengiriman aplikasi visa sempat tertunda agak lama, dan saya sempat sangat khawatir gara-gara nomor mahasiswa saya di Utrecht University tak kunjung diinformasikan oleh International Office—padahal saya sudah kirim email dan sempat menelepon juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, aplikasi visa Norwegia tidak bisa diproses karena saya mesti memproses legalisasi akta kelahiran. Legalisasi akta kelahiran ini juga saya perlukan untuk keperluan di Belanda nanti, termasuk untuk pengambilan visa Belanda di konsulat/kedutaan. Dan untuk urusan inilah saya masih terhambat oleh birokrasi Catatan Sipil di Sumenep.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Berdasarkan informasi yang saya himpun di internet (milis, blog), terutama berdasarkan pengalaman mereka yang sebelumnya pernah studi ke Belanda dan Norwegia dan juga negara Eropa lainnya, ketentuan dan persyaratan tentang legalisasi akta kelahiran ini memang beragam. Khusus di Belanda, secara umum bisa dibilang agak ribet. Mereka mensyaratkan bahwa akta kelahiran yang akan digunakan berusia tak lebih dari lima tahun. Saya menjadi lebih jelas ketika saya bertanya langsung ke Kedutaan Belanda. Selain itu, katanya, juga ada kantor kependudukan di salah satu kota di Belanda yang tak menerima dokumen legalisasi versi fotokopi—jadi yang dilegalisasi harus dokumen asli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Urutan proses legalisasi adalah sebagai berikut. Dokumen akta kelahiran yang akan dilegalisasi (asli dan atau fotokopi) diproses di Departemen Hukum dan HAM RI, setelah itu dilegalisasi di Departemen Luar Negeri RI, kemudian dilegalisasi di kedutaan negara yang kita tuju. Untuk legalisasi di Dephukham, mereka mensyarakatkan kita untuk membawa spesimen tanda tangan pejabat yang mengesahkan atau menandatangani dokumen kita itu (untuk diverifikasi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hambatan di Catatan Sipil Sumenep dimulai ketika pada hari Kamis tanggal 25 Juni saya hendak membuat kutipan akta kelahiran yang baru, karena akta yang saya punya dikeluarkan 12 tahun yang lalu sehingga tak akan diterima di Belanda nanti. (Lagipula, andai saya menggunakan akta keluaran tahun 1997, bagaimana saya bisa mendapatkan spesimen tanda tangan pejabat yang tanda tangan di akta tersebut?) Pejabat di Kantor Catatan Sipil Sumenep bersikeras bahwa jika sudah memiliki kutipan akta kelahiran, maka saya tidak bisa membuat kutipan yang baru. “Ini kan berlaku seumur hidup?” kata si pejabat. Ya, siapa yang tidak tahu bahwa akta kelahiran itu berlaku seumur hidup, pikir saya. Masalahnya: bisakah saya mendapatkan spesimen tanda tangan R.B.H. Abd. Karim, BA, pejabat Catatan Sipil yang katanya sudah pensiun itu? Sampai di sini si pejabat tak bisa memberi solusi, dan berargumen bahwa menurut Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan, saya tak boleh membuat kutipan baru (karena sudah punya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berbincang agak lama dengan pejabat Catatan Sipil Sumenep itu, sampai akhirnya saya sama sekali tak diberi pilihan jalan keluar. Pokoknya tidak bisa! Saya masih ingat, pertama pejabat di loket malah meminta saya agar membawa surat dari Dephukham yang menerangkan bahwa saya butuh kutipan akta kelahiran yang baru. Walah, ada-ada saja. Berdasarkan informasi yang saya dapatkan langsung dari Dephukham via telepon di hari itu, mereka mengatakan bahwa saya akan sia-sia saja jika terpaksa membawa akta kelahiran yang lama, karena itu nanti tidak akan diterima di Belanda. Saat ditanya tentang spesimen tanda tangan, pejabat di Dephukham itu mengatakan bahwa ketentuan soal itu tidak ada di undang-undang, tapi dijelaskan melalui surat edaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu saya pulang dengan kecewa. Setiba di rumah, saya pun mencoba mencari jalan keluar sendiri. Tampaknya saran rekan-rekan di milis benar: daripada ribet, lebih baik memproses ulang membuat kutipan akta kelahiran baru dengan alasan kutipan yang lama hilang. Ini kurang lebih mirip dengan saran dua orang yang saya jumpai di luar Kantor Catatan Sipil Sumenep, setelah mereka menyaksikan saya agak lama sedikit bersitegang dengan petugas di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penasaran, saya mencoba mencari ketentuan perundangan, termasuk yang disebut oleh si petugas Capil Sumenep. UU No 23/2006 berhasil saya unduh di internet. Juga Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 28 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil di Daerah, dan juga beberapa peraturan daerah di beberapa kabupaten/kota di Indonesia (termasuk Sumenep) terkait dengan itu. (Sebagai catatan, mendapatkan perda melalui laman instansi pemerintah di Sumenep tidaklah mudah; padahal, katanya, instansi di Sumenep sudah lama menerapkan E-Government). Saya coba baca-baca, dan ternyata tak satu pun saya temukan klausul eksplisit atau implisit yang menyatakan bahwa jika sudah punya kutipan akta kelahiran, tak boleh membuat kutipan yang baru. Bahkan, di perda kependudukan beberapa kabupaten, termasuk Sumenep, tercantum tarif/biaya pembuatan kutipan akta kelahiran yang kedua (dan seterusnya)—nah, berarti mestinya bisa buat lagi kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan saya: si pejabat Capil Sumenep sebenarnya tidak mengerti aturan yang sebenarnya. Mungkin dia cuma tidak mau ambil pusing dengan kasus baru (permintaan saya) yang dia alami siang itu, sehingga langsung saja ambil jalan pintas dengan mengatakan: tidak bisa! Saat saya mencoba berbagi dengan beberapa rekan soal kejadian ini, beberapa di antaranya mencatat beberapa kemungkinan yang lain. Ada yang mengatakan bahwa mental sebagian pejabat kita bukan melayani, dan mereka tampil arogan di hadapan masyarakat yang membutuhkan pelayanan yang mestinya menjadi kewajiban mereka. Apalagi, dalam konteks Sumenep, sebagian pejabat (merasa) berasal dari kasta masyarakat yang lebih tinggi dari orang kebanyakan. Adik saya menyebut kemungkinan seperti yang saya tulis di atas: ini kasus baru, mereka tak tahu peraturan yang sebenar
