Sunday, 4 June 2017

Spiritualitas Islam Menjawab Tantangan Zaman


Judul buku: Islam Tuhan, Islam Manusia: Agama dan Spiritualitas di Zaman Kacau
Penulis: Haidar Bagir
Penerbit: Mizan, Bandung
Cetakan: Pertama, Maret 2017
Tebal: xxxiv + 288 halaman
ISBN: 978-602-441-016-2


Kemajuan ilmu dan teknologi yang semakin canggih pada satu sisi ikut menenggelamkan pamor agama. Apalagi agama belakangan kadang menunjukkan wajah yang menakutkan saat terorisme dan kekerasan berdasar agama kerap terjadi.

Buku yang ditulis oleh Haidar Bagir, pendiri Penerbit Mizan, ini mencoba merekonstruksi dan menyegarkan pemahaman atas aspek-aspek pokok dalam Islam sehingga ia dapat berkiprah untuk kemanusiaan dan masa depan kehidupan dunia yang lebih baik bersama agama dan unsur peradaban masyarakat yang lain.

Pembahasan dimulai dengan memberikan gambaran masalah yang dihadapi umat manusia pada umumnya dan bangsa Indonesia pada khususnya. Secara umum, dunia menghadapi krisis makna, kehampaan hidup, dan kegalauan yang lahir seturut dengan perkembangan ilmu dan teknologi. Kemajuan teknologi komunikasi secara ironis justru melahirkan misinformasi dan disinformasi yang sebagian menggerogoti ikatan sosial dan menipiskan rasa saling percaya. Luapan informasi justru membuat orang kehilangan arah.

Kekacauan akibat disorientasi di tengah kemelimpahan informasi ini menurut Haidar turut memberi andil bagi lahirnya paham-paham keagamaan yang radikal. Ideologi radikal bagi Haidar adalah pegangan keyakinan keagamaan yang instan dan simplistik untuk mendapatkan ketenteraman hidup. Ideologi radikal ini menjadi dasar pembenaran bagi tindakan kekerasan para penganutnya di tengah rasa frustrasi akibat tekanan sosial ekonomi yang mereka hadapi.

Pada bagian berikutnya Haidar berusaha menggali kekayaan khazanah Islam yang kiranya dapat disodorkan sebagai gagasan alternatif untuk mengatasi berbagai masalah tersebut. Pada bagian ini Haidar tampak memberi penekanan pada unsur pemikiran Islam yang bercorak filosofis untuk dijadikan sebagai alat baca kritis dan kerangka pandang dalam upaya memberi jalan keluar.

Secara tegas, Haidar menyebut “hermeneutika sebagai metode untuk memahami teks agama secara lebih terbuka dan relevan dengan tantangan-tantangan masa.” Karena hermeneutika lahir bukan dari rahim peradaban Islam, Haidar juga membuat perbandingan dengan metode takwil yang menurutnya memiliki unsur yang sejalan dengan hermeneutika.

Pada bagian ini, Haidar menggambarkan busur hermeneutik (hermeneutic arc) yang dicetuskan Paul Ricouer dalam konteks Islam sebagai berikut: teks agama/naql dipahami dengan akal/‘aql, dicek lagi dengan naql, diverifikasi lagi dengan ‘aql, dan seterusnya.

Dalam hal perkembangan sains, Haidar percaya bahwa ekses buruk teknologi yang muncul di antaranya akibat perceraian sains dengan filsafat. Terlepasnya sains dari kesatuan organiknya dengan filsafat memutus kemungkinan sains untuk memberi perhatian pada aspek transenden dan religius yang dapat digali dari filsafat.

Untuk menjawab tantangan zaman, Islam secara internal menurut Haidar harus mendorong sikap moderat (wasathiyyah), sikap terbuka, dan mengupayakan persatuan. Bagi Haidar, prinsip moderasi adalah salah satu risalah pokok Islam yang digambarkan al-Qur’an dan hadits. Selain itu, sejarah mengajarkan bahwa Islam memiliki dan berproses melalui keragaman mazhab yang luar biasa yang dirawat dalam semangat persatuan.

Dialog dengan umat agama lain dan gugus peradaban lain, termasuk budaya lokal, juga perlu dilakukan untuk saling memperkaya perspektif dalam melabuhkan visi kemanusiaan agama pada kehidupan nyata.

Benang merah solusi yang ditawarkan Haidar untuk meneguhkan peran Islam dalam kehidupan masa kini adalah dengan menghidupkan sisi spiritualitas Islam. Bagi Haidar, di antara masalah pokok yang membuat Islam menjadi tumpul dan ketinggalan zaman adalah kecenderungan orientasi keagamaan pada aspek hukum. Haidar percaya bahwa aspek spiritualitas Islam yang mempromosikan penghayatan keagamaan berorientasi cinta akan mampu menguatkan kiprah agama.

Jantung penggerak peradaban adalah agama, dan jantung agama adalah spiritualitas. Menurut Haidar, pemaparan tentang ibadah dalam sumber-sumber pokok Islam pada tingkatan yang tertinggi “selalu bermakna hubungan antara makhluk dan Tuhan yang berdasarkan cinta.”

Agama yang kental dengan nuansa spiritual dan cinta dipercaya akan mampu memupuskan fundamentalisme dan radikalisme keagamaan yang kaku, keras, formalistis, dan cenderung dangkal. Di sisi yang lain, Islam Cinta, demikian Haidar menyebut, juga akan mampu menjawab problem-problem sekularisme seperti kehampaan makna hidup dan sebagainya.

Dengan Islam Cinta, Haidar percaya bahwa Islam akan menjadi lengkap sebagai “Islam Tuhan dan Islam Manusia”. Artinya, Islam tidak hanya akan melangit di dunia transenden tetapi juga akan membumi dan memberi sumbangan nyata bagi kemanusiaan.

Meski dihimpun dari berbagai tulisan yang terbit dalam rentang tahun 1986 hingga 2016, alur pemikiran Haidar dalam buku ini terlihat jelas dan cukup sistematis. Apalagi, jalinan sistematika pembahasannya ditegaskan dalam pendahuluan sepanjang 13 halaman. Namun demikian, pada beberapa bagian gagasan yang dikemukakan memang tidak cukup mendalam. Wajar, kebanyakan tulisan dalam buku ini berasal dari media massa populer dengan ruang terbatas.

Upaya untuk menguatkan kiprah agama (Islam) di era kekinian tentu saja masih membutuhkan pemikiran dan aksi lebih jauh. Buku ini dapat dilihat sebagai semacam peta umum yang memuat beberapa gagasan kunci, meski mungkin juga belum cukup lengkap. Haidar, misalnya, belum secara cukup jelas menjelaskan posisi dan strategi Islam Cinta—yang juga mengusung nilai moderasi yang tentu sangat terkait dengan nilai keadilan—dalam menghadapi kapitalisme yang eksploitatif pada orang-orang lemah yang terpinggirkan.

Pada titik ini, paling tidak buku ini ikut mengingatkan para intelektual muslim dan tokoh-tokoh agama lainnya untuk bersama-sama berefleksi dan membaca ulang agama secara kritis demi menjawab tantangan zaman yang kian kompleks.

Versi pendek tulisan ini dimuat di Koran Jakarta, 2 Juni 2017.



Read More..

Tuesday, 10 January 2017

Kebijaksanaan Islam untuk Mengarungi Kehidupan


Judul buku: Al-Hikam Al-Islamiyyah: Untaian Mutiara Kebijaksanaan Islam dalam Kitab Suci, Sabda Nabi, dan Ujaran Ulama Sufi
Penulis: Imam Jamal Rahman
Penerbit: Serambi, Jakarta
Cetakan: Pertama, Juni 2016
Tebal: 330 halaman
ISBN: 978-602-290-067-2


Kebahagiaan hidup akan sulit diraih jika hanya dijalani secara dangkal. Kebahagiaan membutuhkan penghayatan yang mendalam untuk memaknai setiap tapak saat menjalani kehidupan. Penghayatan hidup ini dapat diraih dengan orientasi yang jelas berlandaskan nilai-nilai spiritual.

Imam Jamal Rahman, praktisi dan ahli spiritualitas agama-agama, melalui buku ini memaparkan butir-butir mutiara spiritualitas Islam yang dapat dijadikan kemudi dan titik tolak orientasi dalam menjalani hidup. Ada 33 mutiara spiritualitas yang dijelaskan Rahman dalam buku ini. Sumbernya berasal dari al-Qur’an, hadis, dan ujaran ulama sufi.

Rahman memulai uraiannya dengan kutipan dari sumber yang diacu, lalu diulas secara bebas dengan penekanan pada aspek spiritualitas tertentu. Di setiap penutup ulasannya, Rahman memberikan renungan praktis yang dapat dijadikan latihan untuk membentuk dan mempertajam aspek spiritualitas yang dibahas sebelumnya.

Menurut Rahman, kisah kehidupan Nabi Muhammad adalah salah satu sumber inspirasi spiritualitas yang sangat penting. Kisah Nabi Muhammad memperlihatkan kekuatan transformatif spiritualitas ketika ego berhasil ditundukkan dan ditransformasikan untuk melayani Tuhan dari segala kemanusiaan. Kemajuan Islam yang berarti setelah Nabi hijrah ke Madinah mengajarkan kepada kita bahwa perubahan hidup itu membutuhkan hijrah pribadi—baik perpindahan spiritual maupun fisik.

Sementara itu, orientasi hidup bermula dari pengenalan diri yang cukup. Misteri kehidupan harus dijawab dengan mengetahui siapa diri kita, dari mana kita datang, dan ke mana kita akan pergi. Kaum spiritual mengajarkan bahwa kehadiran manusia tak lain adalah untuk mengenal Tuhan. Selain dengan laku ibadah, jalan untuk mengenal juga ditempuh melalui pelayanan kepada manusia dan semua ciptaan. Pelayanan yang autentik akan mengantarkan seseorang pada unsur ilahi yang terdapat pada semua makhluk.

Namun jalan spiritual ini sering terhalang oleh selubung duniawi yang menyeret manusia pada jalur yang jauh dari tujuan ilahi. Menurut Rahman, selubung spiritual itu bisa berwujud kesehatan dan kekayaan. Kata Rahman, saat hidup kita tak ada masalah, saat kita baik-baik saja dan makmur, kita tidak banyak menaruh perhatian pada masalah-masalah spiritual.

Untuk menguatkan spiritualitas, Rahman mencatat pentingnya komunitas spiritual yang autentik, yakni orang-orang dekat yang tulus, penuh cinta, dan setia untuk saling mendukung dan membimbing dalam menapak jalan spiritual. Rumi menyebut komunitas semacam ini dengan Lingkaran Cinta. Individu-individu dalam komunitas ini akan saling menyokong, ibarat dinding yang berdiri membentuk bangunan sehingga bisa menopang atap.

Rahman juga berbicara tentang spiritualitas dalam kerangka masyarakat majemuk. Menurut Rahman, kita sering terkungkung dalam diri kecil kita termasuk dengan identitas kelompok kita sendiri. Lebih jauh, kita kadang memiliki perasaan superioritas moral di hadapan kelompok lain. Bagi Rahman, ini adalah cerminan ego diri yang belum berhasil dijinakkan.

Dalam situasi ini, ego yang masih liar ini dapat menutup peluang untuk bekerja sama dengan orang di luar kelompok kita.

Dalam konteks ini, firman Allah yang menjelaskan tentang keragaman ciptaan dalam al-Qur’an surah al-Hujurat ayat 13 oleh Rahman dimaknai sebagai seruan untuk menjalin ikatan manusiawi tanpa harus terpaku pada identitas kelompok. Saling mengenal adalah basis kerja sama untuk kebajikan dan senjata untuk menumpas prasangka.

Rahman mengambil contoh kasus penolakan sebagian warga Amerika atas proposal untuk membangun satu masjid dan pusat antariman di Ground Zero di kota New York. Yang mengejutkan, 61 persen rakyat Amerika yang menolak ternyata secara pribadi tak punya kenalan seorang muslim seorang pun.

Selain gaya bertutur yang mengalir dan renyah, kelebihan buku yang versi bahasa Inggrisnya berjudul Spiritual Gems of Islam ini terletak pada aspek praktis yang dipaparkan untuk mempertajam aspek spiritualitas tertentu. Alur yang memberi ruang untuk panduan dan latihan praktis dalam buku ini persis seperti yang digunakan Rahman dalam karyanya yang lain yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, yakni The Fragrance of Faith: The Enlightened Heart of Islam (diterjemahkan dengan judul Wajah Sejuk Agama) dan Sacred Laughter of the Sufis (diterjemahkan dengan judul Tiada Sufi Tanpa Humor).

Ketika menjelaskan kehidupan Nabi Muhammad sebagai sumber inspirasi spiritualitas, misalnya, Rahman memberi panduan agar pembaca mencoba mencontoh satu laku spiritual tertentu dari Nabi dalam waktu tertentu untuk merasakan kekuatan transformatif yang bisa dicapai.

Buku ini mengajak pembaca untuk menyelam ke kedalaman sari pati kehidupan, yakni spiritualitas yang autentik, yang belakangan ini tidak saja terselubung oleh arus kehidupan duniawi, tapi juga kadang tertutup oleh spiritualitas semu yang cukup memperdaya. Buku ini mencoba menyegarkan kembali sumber-sumber pokok ajaran Islam secara kontekstual dengan bingkai dimensi spiritual yang sangat penting untuk dikemukakan di tengah kecenderungan penghayatan keagamaan yang dangkal.

Tulisan ini dimuat di Harian Radar Madura, 8 Januari 2017.



Read More..

Wednesday, 14 December 2016

Jembatan untuk Pendidikan Kontekstual: Refleksi Kritis dari Lapangan


Judul buku : Mendidik Pemenang Bukan Pecundang
Penulis : Dhitta Puti Sarasvati & J. Sumardianta
Penerbit : Bentang Pustaka, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, April 2016
Tebal : xvi + 324 halaman


Salah satu kritik mendasar terhadap dunia pendidikan saat ini adalah kenyataan bahwa pendidikan, yakni sistem persekolahan, dipandang masih belum mampu menjawab tantangan zaman. Lulusan sekolah masih banyak gagap menghadapi kenyataan hidup di masyarakat saat mereka terjun dan bergelut langsung dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu pertanda yang dapat dikemukakan terkait dengan problem krisis sosial-ekologis yang dihadapi umat manusia saat ini. Dalam pandangan sejumlah pihak, sekolah dipandang belum cukup mampu untuk menanamkan kepekaan ekologis atau melek ekologis (ecological literacy) terhadap para siswa di sekolah sehingga siswa gagal memberi tanggapan kritis atas krisis sosial-ekologis yang dihadapi umat manusia.

Di sisi yang lain, kesenjangan praktik pendidikan di sekolah dengan kebutuhan masyarakat dan tantangan zaman juga terasa kurang terjembatani oleh dunia akademis, yakni pendidikan tinggi yang mengelola jurusan keguruan dan ilmu pendidikan.

Buku berjudul Mendidik Pemenang Bukan Pecundang yang ditulis oleh dua orang praktisi pendidikan ini kiranya dapat menjadi jembatan untuk menghidupkan kembali pendidikan kritis dan pendidikan kontekstual. Pendidikan kritis dan pendidikan kontekstual yang dimaksudkan di sini adalah model pendidikan yang mampu menanamkan kepekaan kepada para peserta didiknya atas situasi masyarakat yang bergerak cepat dan praktik pendidikan yang mampu menjawab tantangan zaman di masa mendatang.

Dhitta Puti Sarasvati, penulis buku ini, adalah lulusan Teknik Mesin ITB dan Pendidikan Matematika Universitas Bristol (UK) yang saat ini mengajar di Fakultas Pendidikan, Sampoerna University, setelah sebelumnya menjadi guru honorer dan juga aktif di Ikatan Guru Indonesia (IGI). Sedangkan J. Sumardianta, penulis lainnya, mengajar di SMA Kolese De Britto, Yogyakarta.

Pada bagian pengantar, dijelaskan bahwa “buku ini ditulis bagi para pendidik, calon pendidik, dan orangtua untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi dunia nyata” (hlm. xiv). Generasi seperti apa yang diharapkan dapat lahir dari sekolah ideal oleh penulis buku ini? Dari judulnya, pembaca bisa menjawab: generasi pemenang, bukan generasi pecundang.

Penulis buku ini menjelaskan makna “pemenang” pada tulisan pertama dengan membuat pembedaan antara generasi muda tipe pengemudi (driver) dan penumpang (passenger). Dengan mengutip Rhenald Kasali, dijelaskan bahwa generasi pemenang memiliki sejumlah ciri, misalnya visioner, proaktif dan siap memelopori perubahan, siap turun tangan, mampu melihat solusi dalam tiap masalah, suka bekerja keras, menjadi trend setter, dan sebagainya. Sementara itu, generasi penumpang yang juga diidentikkan dengan pecundang digambarkan bermental pasif, kurang mandiri, cepat menyerah, mudah mengeluh dan frustrasi, sulit mencari alternatif jalan keluar, dan sebagainya (hlm. 5-8).

Sesuai dengan karakternya yang merupakan kumpulan tulisan, maka dalam buku ini tidak ada uraian yang sifatnya sistematis untuk menjawab cara sekolah membentuk generasi pemenang itu. Pembaca harus menyimpulkan sendiri bagaimana generasi pemenang itu dibentuk oleh sekolah. Dalam menjelaskan masalah ini, buku ini memberi jawaban secara teoretis maupun praktis. Maksudnya, ada jawaban yang digali dari gagasan atau teori, ada pula yang dijawab melalui pemaparan praktik yang baik (good practice) di lapangan.

Misalnya, buku ini mengutip pendapat Prof. Soedjatmoko bahwa jantung sekolah berkualitas ada tiga, yakni perpustakaan, laboratorium, dan interaksi (hlm. 17-18). Perpustakaan merupakan sumber informasi yang untuk konteks saat ini sebenarnya tak dapat digantikan sepenuhnya dengan internet. Perpustakaan dalam bentuknya yang konvensional yang memuat buku-buku, majalah, dan semacamnya, pada tingkat mendasar mendorong siswa di sekolah untuk memiliki kemampuan mencari dan mengolah informasi. Tanpa kemahiran dasar ini, internet yang menyediakan informasi tak terbatas akan jauh berkurang nilainya. Internet hanya akan menjadi gudang data belaka. Malahan jika siswa—atau bahkan juga guru—langsung masuk ke dunia internet tanpa dasar kemampuan melek informasi yang cukup maka bisa saja ia terperangkap pada mentalitas instan.

Jika perpustakaan berfungsi sebagai penyedia informasi, laboratorium adalah tempat siswa melakukan praktik, bereksplorasi, bereksprimen, dan meneliti. Tentu saja, laboratorium yang dimaksudkan di sini bukanlah laboratorium dalam arti sempit. Laboratorium dapat berupa alam terbuka, pasar tradisional, dan sebagainya. Satu hal yang digarisbawahi buku ini adalah bahwa kita sebagai bangsa Indonesia sangatlah beruntung karena memiliki kondisi alam dan kondisi sosial budaya yang sangat kaya yang sebenarnya dapat menjadi laboratorium yang luar biasa maknanya bila mampu dimanfaatkan secara baik oleh guru dan siswa.

Interaksi adalah unsur penting yang ketiga pada ciri sekolah berkualitas. Interaksi adalah roh yang menjadikan para pelaku di sekolah bersatu dalam semangat belajar dan meraih kehidupan yang lebih baik. Interaksi, atau juga disebut relasi, meliputi jalinan mendalam antara guru dan murid, guru dan orangtua, murid dan orangtua, termasuk juga relasi masyarakat sekolah dan pengetahuan.

Jalinan antara para pelaku, terutama antara guru dan murid, akan memberikan sentuhan yang mengilhamkan perubahan baik pada tataran kognitif maupun sikap. Jalinan yang baik akan mengikat para pemangku kepentingan di sekolah pada misi mendasar sekolah sebagai salah satu motor penggerak peradaban.

Namun demikian, dalam iklim pembelajaran yang penuh beban administrasi dan berlangsung begitu formal, interaksi yang hangat di sekolah tidak mudah kita temukan. Justru terkadang interaksi yang hangat ini ditemukan di sekolah-sekolah pinggiran. Puti dalam buku ini memberi contoh sebuah sekolah di Garut, Jawa Barat, yang pada setiap Jum’at sore menggelar acara kumpul-kumpul secara guyub antara guru, perwakilan murid, orangtua, dan masyarakat, untuk membicarakan perbaikan mutu sekolah.

Selain tiga hal pokok yang menjadi jantung pendidikan berkualitas tersebut, buku ini juga menyinggung tujuan pendidikan dan pembelajaran, termasuk orientasi belajar. Pada tingkat yang sederhana, proses pembelajaran diorientasikan untuk membekali pengetahuan dan keterampilan pada siswa. Pada tingkat lainnya, proses pendidikan juga diorientasikan untuk menanamkan kecintaan siswa pada ilmu. Selain itu, proses pendidikan juga dilakukan untuk membentuk sikap siswa menghadapi tantangan zaman, termasuk hidup bersama dalam kehidupan masyarakat yang beragam. Demikan juga, belajar perlu diorientasikan agar mendorong siswa menjadi manusia yang terus-menerus berusaha agar lebih bermartabat, lebih kritis, lebih toleran, dan menjadi lebih baik (hlm. 90-95).

Ada satu bagian dalam buku ini yang cukup menarik yang menggambarkan orientasi pembelajaran. Puti yang lulusan perguruan tinggi terkemuka dan sebelumnya juga menempuh pendidikan yang baik di lembaga unggulan merasakan bahwa ternyata keseluruhan proses pendidikan formal yang diikutinya tidak cukup berhasil mengenalkan dan menanamkan kepekaan atas realitas sosial masyarakat yang timpang. Pengalaman Puti sebagai guru honorer di sebuah sekolah pinggiran di Bandung membuka dan menggugah kesadarannya bahwa masih banyak masyarakat Indonesia yang belum dapat menikmati pendidikan berkualitas. Kesadaran akan realitas sosial yang timpang ini justru baru muncul saat Puti bekerja sebagai guru dan pendidik (hlm. 29).

Dari kenyataan ini terlihat betapa orientasi dan proses pendidikan di negeri ini tampaknya memang masih belum berhasil mengarah pada model pendidikan kritis dan pendidikan kontekstual sebagaimana yang menjadi semangat pemaparan buku ini.

Namun demikian,buku ini juga beusaha mengangkat praktik-praktik pendidikan yang sederhana tapi mencerahkan untuk keluar dari keterbatasan sistem persekolahan yang ada saat ini. Misalnya, Puti bertutur tentang Komunitas Sahabat Kota (KSK) di Bandung yang merupakan organisasi nirlaba yang menghimpun sejumlah anak muda lokal di Bandung untuk membantu mengoptimalkan tumbuh kembang anak-anak dengan memanfaatkan berbagai potensi setempat.

Komunitas yang lahir pada tahun 2007 ini percaya bahwa anak-anak belajar paling baik dari lingkungan hidup mereka. Untuk itu, komunitas ini mengajar anak-anak untuk menjelajahi kota tempat mereka tinggal dan belajar dari sana. Misalnya, mereka diajak untuk membuat peta hijau, yakni peta yang berkaitan dengan berbagai potensi dan masalah lingkungan hidup. Dari komunitas ini, pembaca bisa melihat upaya-upaya kreatif untuk mendorong anak-anak peka terhadap lingkungan dan menjadikan lingkungan sebagai pengilham dan sekaligus sumber belajar (hlm. 257).

Sebagai bagian dari refleksi dari lapangan, buku ini berhasil keluar dari model pendekatan yang semata terfokus pada unsur mikro dalam proses pendidikan di sekolah dan menghindar dari pembicaraan terkait kebijakan pengurus publik. Buku ini tidak saja mengangkat isu-isu yang bersifat mikro dan personal, tapi juga secara kritis mengupas beberapa kebijakan pemerintah di bidang pendidikan. Misalnya, terkait wajib belajar yang dicanangkan pemerintah, buku ini mengingatkan bahwa wajib belajar itu yang terpenting adalah soal penerapannya, yakni bahwa kebijakan ini dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Menurut Puti, kebijakan wajib belajar terutama bukan soal apakah 12 tahun atau 9 tahun, tapi lebih pada soal yang mendasar, yakni terkait dengan ketersediaan layanan pendidikan yang bisa diakses oleh seluruh warga, kualitas layanan pendidikan yang baik, dan perubahan paradigma bahwa pendidikan adalah hak setiap warga negara (hlm. 104-109).

Dalam buku ini, Puti juga mengkritik penerapan kebijakan pendidikan inklusi yang cenderung hanya sekadar menerima murid yang berkebutuhan khusus tanpa persiapan yang cukup. Akibatnya, murid yang berkebutuhan khusus tersebut menjadi terlantar di sekolah (hlm. 35-36).

Terkait berbagai hal ideal yang dibicarakan tentang dunia pendidikan, baik yang dikupas langsung dalam buku ini maupun yang dibicarakan masyarakat umum, buku ini mengingatkan bahwa, bagaimanapun, gagasan-gagasan besar tentang hal ideal dalam dunia pendidikan harus diikuti dengan kerja-kerja konkret untuk mengurus detail yang memungkinkan gagasan-gagasan besar tersebut dapat terwujud (hlm. 119).

Buku ini berhasil mengisi ruang kosong yang ada di antara dunia akademis dalam bidang kajian pendidikan dan praktik pendidikan yang berlangsung di masyarakat. Dengan menghadirkan potret kerja-kerja pendidikan di lapangan yang dibarengi dengan refleksi kritis dan juga perbandingan dengan praktik pendidikan di tempat yang lain, dan kadang juga disorot dengan perspektif teori, buku ini berupaya untuk mengembalikan watak kritis dan kontekstual kerja pendidikan.

Dengan cara ini, buku ini tampaknya cukup mampu untuk menjadi pemantik awal sebagai jembatan di antara dunia praktik dan dunia teoretis, khususnya dunia teoretis yang berkembang di lingkungan akademis di perguruan tinggi ilmu kependidikan, menuju pendidikan yang kritis dan kontekstual. Tentu saja, sebagai sebuah jembatan, buku ini tak akan banyak bernilai jika faktanya catatan-catatan dari lapangan seperti yang ada dalam buku ini tidak mendapat tempat di dunia akademis.

Kehadiran buku ini pada gilirannya juga menyiratkan satu pesan yang kuat bagi dunia akademis bahwa kerja-kerja akademis haruslah terus dijaga ketersambungannya dengan realitas masyarakat melalui refleksi atas aksi-aksi di lapangan. Dengan demikian, membekali kemampuan refleksi kepada para mahasiswa kependidikan atau siapa pun yang akan terjun mengabdi di dunia pendidikan sangatlah penting, karena refleksi dari lapangan ini akan menjadi sumbangan yang sangat berharga bagi dunia pendidikan.

Dari sudut pandang dunia pesantren, buku ini memberi tantangan agar para pegiat pendidikan di pesantren juga mampu merefleksikan praksis yang mereka lakukan di lapangan. Kiranya sangat banyak hal menarik di dunia pendidikan pesantren yang penting untuk direfleksikan dan diangkat untuk dibagikan dengan khalayak luas. Kita mengenal sebuah buku yang sudah menjadi klasik yang ditulis oleh KH Saifuddin Zuhri, Guruku Orang-Orang dari Pesantren, yang menuturkan secara renyah dan cukup reflektif dunia pendidikan pesantren yang khas.

Buku ini menghidupkan kembali visi mendasar pendidikan sebagai landasan perubahan individu dan masyarakat ke arah yang lebih baik dengan landasan sikap kritis dan kemampuan berpikir kontekstual. Untuk ke sana, buku ini di antaranya memaparkan praktik-praktik inspiratif dan juga gagasan-gagasan kritis untuk menegaskan visi mendasar pendidikan tersebut.


Tulisan ini dimuat di Jurnal 'Anil Islam, Vol. 9, Nomor 1, Juni 2016.


Read More..

Monday, 28 November 2016

Belajar dari Kepemimpinan Fergie


Judul buku: The Legend’s Leadership Sir Alex Ferguson: Sukses Tiada Henti
Penulis: Jennie S. Bev
Penerbit: Kanisius, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, 2016
Tebal: 160 halaman
ISBN: 978-979-21-4481-9


Sir Alex Ferguson, yang akrab dipanggil Fergie, adalah legenda klub sepakbola Inggris Manchester United (MU). Dalam masa kepemimpinannya sebagai pelatih klub—sekitar 27 tahun—Fergie telah mempersembahkan puluhan trofi bergengsi.

Buku ini mengangkat nilai-nilai kepemimpinan yang menjadi ruh Sir Alex Ferguson sehingga dapat berhasil mengantarkan MU menjadi klub ternama. Pada bagian pertama, buku ini menyajikan sekilas biografi Fergie.

Fergie lahir pada penghujung tahun 1941 di kota Govan, Skotlandia, dari keluarga buruh. Fergie dikenal aktif di dunia politik dan mendukung Partai Buruh Inggris Raya. Pada tahun 2012 dia mendukung referendum agar Skotlandia tetap menjadi bagian dari Inggris Raya.

Di dunia sepakbola, Fergie memulai kariernya sebagai pemain dari tahun 1957 hingga 1974. Pada tahun 1974, saat usianya belum genap 33 tahun, Fergie memulai karier manajerialnya di klub East Stirlingshire. Kariernya di klub Manchester United dimulai pada 6 November 1986. Di masa awal, Fergie harus menghadapi para pemain yang “jago minum” dan dituntut cerdas untuk mendisiplinkan pemain.

Pada pertengahan dekade 1990-an, Fergie berhasil mengorbitkan beberapa pemain muda yang kemudian menjadi legenda Manchester United. Di antara mereka adalah David Beckham, Paul Scholes, Gary Neville.

Fergie tidak saja lihai memoles pemain muda hingga menjadi bintang lapangan. Ia juga pandai mengelola pemain bintang agar bisa tampil sebagai anggota tim yang saling mendukung. Di tengah persaingan keras Liga Primer Inggris, Fergie tampil cerdik mengelola berbagai potensi pemain dan juga mengelola isu—termasuk media—demi kekuatan dan keunggulan tim.

Dari sejarah hidup dan karier di dunia sepakbola, buku ini merekam 14 nilai-nilai hidup yang menjiwai perjalanan Fergie. Di antara nilai-nilai itu, dikemukakan bahwa Fergie adalah sosok yang senang akan tanggung jawab. Sejak muda, Fergie mengambil alih tugas ayahnya sebagai pencari nafkah keluarga. Inilah mungkin yang membuatnya memiliki standar kegigihan dan etos kerja keras yang tinggi. Fergie juga sangat menghargai kehangatan keluarga. Dari latar keluarga pekerja, ia belajar untuk mensyukuri hal-hal kecil, hidup sederhana, dan peduli pada orang lain.

Latar kehidupan keluarga Fergie yang termasuk “berkerah biru” membentuk karakter kerja keras dan juga rendah hati. Tensi emosi yang tinggi dalam persaingan Liga Inggris kadang dipenuhi dengan ejekan dan umpatan dari para pendukung tim lawan. Tapi Fergie berhasil melewati semuanya dengan baik.

Masa kerja Fergie yang cukup lama di MU menunjukkan bahwa ia berhasil melewati berbagai tekanan mental di dunia sepakbola Eropa yang semakin ketat persaingannya. Sesekali ia memperlihatkan gaya kepemimpinan yang cukup kontroversial seperti berkonfrontasi dengan media atau keras memarahi pemainnya.

Sebagai pemimpin, Fergie menerjemahkan disiplin pada aspek yang luas. Disiplin tidak hanya dalam soal mengendalikan dan mengelola pemain, tapi juga dalam hal memberikan arahan yang jelas dan jernih, mengelola perubahan, dan mendorong sikap berani.

Nilai-nilai kepemimpinan Fergie ini tidak saja terlihat dalam setiap pertandingan yang dipimpinnya. Nilai kepemimpinan Fergie ini juga berada pada lapis pengelolaan musim pertandingan dan pengelolaan klub. Dalam mengelola klub, nilai-nilai kepemimpinan dan kecerdasan Fergie terlihat dari fakta bahwa ia bertahan begitu lama di MU.

Buku ini memperlihatkan kepada pembaca bahwa sepakbola tidak saja menjadi ajang hiburan dan industri tapi juga sarat dengan nilai-nilai pembentukan karakter. Di tengah situasi persepakbolaan nasional yang tampak sulit untuk maju, kiranya buku ini dapat menjadi inspirasi perubahan untuk mendorong pengelolaan sepakbola dalam berbagai level secara lebih baik agar sepakbola juga dapat berkontribusi dalam perubahan mental dan ikut memajukan masyarakat.


Tulisan ini dimuat di Koran Sindo, 27 November 2016.
.


Read More..

Sunday, 6 November 2016

Beres-Beres Rumah dan Gaya Hidup Minimalis


Judul buku: The Life-Changing Magic of Tidying Up: Seni Beres-Beres dan Metode Merapikan ala Jepang
Penulis: Marie Kondo
Penerbit: Bentang Pustaka, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, Agustus 2016
Tebal: xviii + 206 halaman
ISBN: 978-602-291-244-6


Tak jarang hal yang dipandang remeh, kecil, dan biasa jika ditekuni dapat melahirkan hal yang luar biasa. Marie Kondo membuktikan hal ini saat namanya masuk di antara 100 Most Influential People of 2015 versi majalah Time berkat ketekunannya mendalami seni beres-beres dan metode merapikan rumah.

Urusan beres-beres dan merapikan rumah selama ini dianggap hal sepele yang tak perlu dipelajari secara khusus. Kenyataannya, menurut Marie Kondo, para “veteran” di bidang mengurus rumah, yakni perempuan 50-an tahun yang rata-rata mengurus rumah sekitar 30-an tahun, kewalahan mengurus rumah karena pendekatan konvensional mereka yang keliru.

Buku ini dapat dilihat sebagai buku yang bersifat praktis, yakni panduan untuk merapikan rumah. Namun, ketekunan, kecermatan, dan kedalaman penelaahan penulisnya yang saat ini berusia sekitar 31 tahun pada bagian tertentu buku ini memperlihatkan sisi yang mendalam, kritis, dan radikal, sehingga mungkin berada pada level yang cukup “filosofis”.

Merapikan rumah, menurut Marie, harus dilakukan secara total dan tuntas dalam satu jangka waktu. Perubahan drastis dan total akan menjadi terapi kejut untuk membentuk pola pikir dan gaya hidup yang rapi. Karena itu, berbenah menuntut tekad dan kesungguhan. Secara praktis, Marie kemudian memberi panduan untuk beres-beres rumah secara tuntas.

Pertama, Marie menerangkan bahwa berbenah itu sebenarnya meliputi dua aktivitas: membuang barang (yang sebenarnya tidak diperlukan) dan menyimpan atau meletakkan barang di tempatnya. Dari pengalamannya sebagai konsultan berbenah, Marie menemukan bahwa kliennya rata-rata menyimpan banyak sekali barang yang sebenarnya sudah tidak digunakan. Seorang klien, misalnya, membuang barang-barangnya hingga 200 kantong sampah bervolume 45 liter.

Ada juga klien yang menumpuk persediaan barang terlalu banyak di rumahnya: tisu toilet hingga 80 gulung, 60 sikat gigi, atau 100 kotak korek kuping yang masing-masing berisi 200 korek kuping.

Klien Marie yang mengoleksi buku banyak yang tak pernah menyentuh dan membaca beberapa bukunya. Saat diminta untuk memilah untuk menentukan buku yang akan dibuang, klien biasanya menjawab: “Siapa tahu saya ingin membacanya kapan-kapan.” Marie menimpali bahwa menurut pengalamannya, yang namanya “kapan-kapan” itu tak akan pernah datang.

Pada tahap membuang ini, terungkap bahwa ternyata orang-orang banyak yang takut akan menghadapi kesulitan hidup gara-gara kekurangan barang. Akhirnya mereka menimbun. Tapi pada giliran berikutnya ternyata timbunan barang itu membuat rumah mereka tidak rapi dan membuat mereka tidak bahagia. Menurut Marie, kita mestinya hanya menyimpan barang-barang yang dapat memberikan kebahagiaan dan membangkitkan kegembiraan.

Menurut Marie, dengan tuntas membuang barang yang sebenarnya tidak diperlukan hingga benar-benar pas sesuai kebutuhan, kita sebenarnya sedang merevitalisasi hubungan kita dengan benda-benda milik kita. Barang-barang yang diabaikan di rumah kita, bagi Marie, adalah barang-barang yang “terpenjara”. Mereka sebenarnya ingin pergi. Dengan membuangnya atau memberikannya pada orang lain, barang-barang itu menghirup udara kebebasan.

Setelah tuntas membuang barang-barang yang tak dibutuhkan, langkah berikutnya adalah disiplin meletakkan barang pada tempatnya. Marie menyarankan agar semua barang di rumah kita harus memiliki tempat yang jelas, tidak tersebar-sebar. Sering kali kita memiliki barang yang tak jelas tempat penyimpanannya sehingga bisa menjadi pangkal kesemrawutan di rumah. Selain kejelasan tempat, disiplin mengembalikan juga penting. Itulah pentingnya “alamat” yang jelas dari barang-barang kita di rumah.

Keajaiban berbenah adalah level kedua yang dipaparkan buku ini. Jika level pertama bersifat praktis, level kedua ini cukup bersifat filosofis. Pada level ini, pertama, kita diajak untuk “memanusiakan” barang-barang kita. Saat melipat baju, kata Marie, kita tidak saja sedang berusaha menghemat tempat penyimpanan pakaian. Ketika melipat baju, kita menyalurkan energi pada pakaian kita, kita juga berdialog, dan berterima kasih atas jasa pakaian kita yang telah menyokong kehidupan kita. Dengan memanusiakan barang-barang itu, kita belajar untuk mengapresiasi dan mensyukuri takdir barang-barang yang telah menjadi bagian dari hidup kita.

Selain itu, berbenah dapat mengantarkan pada pembentukan keterampilan membuat keputusan. Dalam berbenah, kita dilatih untuk membuat keputusan tentang barang yang benar-benar dibutuhkan. Pada saat yang sama, kita dilatih untuk mengikhlaskan barang yang sejatinya kita telantarkan.

Meski bertolak dari hal yang bersifat praktis dan secara eksplisit tak menyebut unsur ideologis yang menjadi landasannya, Marie Kondo dalam buku ini terlihat sedang mempromosikan gaya hidup minimalis atas dasar kesadaran kepedulian akan kelestarian alam. Kehidupan modern yang konsumtif membuat nafsu manusia untuk menumpuk barang kian tak terkendali sehingga kesadaran akan asal-muasal dan nasib barang kita menjadi terabaikan dan terlupakan.

Gaya hidup konsumtif ini tidak saja merusak kelestarian alam. Ia juga merusak kondisi psikologis manusia. Nafsu menumpuk barang nyatanya hanya membuat kita tidak tenang. Menurut beberapa ahli, hidup efisien, yakni hidup secukupnya, juga memberi manfaat psikologis—bukan hanya keuangan.

Lebih dari itu, gaya hidup minimalis yang diusung Marie Kondo dalam buku ini tampak memiliki muatan spiritual yang cukup kental. Jika dirumuskan dalam bahasa agama, mereka yang tak berhasil berbenah bisa saja termasuk orang yang “kufur nikmat”. Selain itu, penimbun barang dapat pula termasuk pada kelompok pemuja barang yang takut kehilangan dan begitu tergantung pada benda-benda duniawi.


Tulisan ini adalah naskah awal tulisan yang dimuat di Harian Jawa Pos, 6 November 2016.


Read More..

Sunday, 30 October 2016

Kota dan Potret Keterasingan Manusia


Judul buku: Orang-Orang Bloomington
Penulis: Budi Darma
Penerbit: Noura Books, Jakarta
Cetakan: Pertama, Mei 2016
Tebal: xiv + 298 halaman
ISBN: 978-602-385-021-1


Dalam sejarah perkembangan peradaban manusia, kota mula-mula merupakan pusat pergerakan kemajuan peradaban manusia. Sejak mengakhiri periode hidup nomaden dan mulai bertani pada sekitar 20.000 tahun yang lalu, manusia membangun kota dan unit-unit peradaban pendukung lainnya. Namun demikian, sebagai fenomena modern, kota ternyata juga menghadirkan potret kehidupan masyarakat yang mengandung kontradiksi.

Ajip Rosidi menggambarkan kontradiksi kota dalam salah satu puisinya yang berjudul “Djembatan Dukuh” (1956). Ajip Rosidi menulis: “...karena antara kita dan kota yang kita tinggali; karena antara rumah dan kita sendiri; tiada lagi hubungan.”

Orhan Pamuk, dalam karya memoarnya yang berjudul Istanbul (2003) menggambarkan kota Istanbul yang mengalami peralihan dari fase Dinasti Utsmani ke era Turki Modern. Pamuk mencatat bahwa dalam proses transisi tersebut ada kemurungan (huzun) yang hadir dalam kehidupan kota masyarakat Istanbul.

Jika Pamuk melihat Istanbul sebagai sebuah fenomena kemasyarakatan dalam konteks sosial, politik, dan kebudayaan yang cukup luas, kumpulan cerpen karya Budi Darma yang berjudul Orang-Orang Bloomington ini merekam fenomena kota modern dari sudut pandang pergulatan individu yang hidup di dalamnya. Pergulatan yang lebih bersifat individual ini pada satu sisi mencoba memperlihatkan cara kota menghadirkan masalah bagi manusia dalam menjalin hubungan dengan sesama.

Tujuh cerpen dalam buku ini mengangkat tujuh potret kehidupan warga kota Bloomington, Indiana, Amerika Serikat, dalam latar paruh kedua tahun 1970-an. Kota Bloomington, tempat Budi Darma menempuh pendidikan jenjang magister dan doktor pada dekade 1970-an, menurut Budi Darma dalam kata pengantar yang termuat dalam versi cetakan Penerbit Sinar Harapan tahun 1980—yang sayangnya tak dapat dibaca pada versi penerbitan ulang ini—“hanya bertindak sebagai sebuah kebetulan.” Bloomington bisa saja digantikan dengan kota lainnya. Dengan demikian, Budi Darma tampaknya memang ingin memperlihatkan fenomena kota dan pergulatan kejiwaan manusia yang bersifat universal.

Bloomington pada akhir dekade 1970-an sebenarnya bukan terbilang kota besar di Amerika Serikat. Penduduknya hanya sekitar 50 ribu jiwa. Namun, cerpen-cerpen dalam antologi ini membuat pembaca bisa merasakan kota Bloomington sebagai fenomena kehidupan modern. Semua cerpen secara khusus menggambarkan kehidupan para tokohnya di apartemen atau tempat kos dengan ciri kehidupan yang individualistis dengan berpijak pada konsep privasi yang cukup ketat. Nomor telepon bukan sesuatu yang biasa diobral kepada orang lain. Hubungan dengan orang lain tidaklah guyub, cukup kaku dan hanya seperlunya.

Lihatlah misalnya cerpen pertama yang berjudul “Laki-Laki Tua Tanpa Nama”. Dalam cerpen ini, tokoh “saya” menjadi lensa untuk memotret kehidupan tetangga kosnya yang misterius: seorang tua yang tak diketahui namanya dan suka membidik-bidikkan pistol ke tanah dari kamarnya di loteng. Cerpen ini menuturkan kisah tokoh saya yang berusaha mengenal lebih dekat sosok misterius ini. Meski oleh induk semangnya sudah diperingatkan untuk tidak ikut campur dengan urusan orang lain, tokoh saya tetap saja berusaha mengejar lelaki tua yang kabarnya veteran Perang Dunia Kedua itu.

Cerita berakhir dengan cukup tragis: si lelaki tua dalam sebuah drama yang singkat ditembak oleh Ny. Nolan, salah satu tetangga yang juga suka berperilaku aneh, yang ternyata menyimpan prasangka buruk pada lelaki tua itu berdasarkan pembicaraan dengan tokoh saya (hlm. 28-32).

Cerpen-cerpen dalam antologi ini mengungkap jalan pikiran tokoh utamanya yang di antaranya banyak suka ikut campur urusan orang, suka usil, merasa kesepian, dan juga dengki dan diliputi prasangka. Cerpen berjudul “Keluarga M” menceritakan kehidupan apartemen dengan tokoh saya yang dirundung kesepian. Di tengah kesepiannya itu, ia tampak begitu iri dengan kehidupan “keluarga M”, suami-istri dengan dua anak yang semua namanya berawalan huruf M. Gara-gara dua anak keluarga M itu membuat beret cat mobilnya, tokoh saya kemudian dikisahkan berusaha untuk mengganggu keluarga M, mulai dari usulan memasang mesin penjual Coca Cola dengan maksud agar dua anak itu suatu saat terkena pecahan botol, hingga pikiran-pikiran jahat bercampur doa agar keluarga M celaka (hlm. 77-83).

Saat keluarga M mengalami kecelakaan dan tokoh saya ingin membantu, keluarga M justru menolak. Sikap tokoh saya yang sering tampak dengki tapi kadang juga iba melihat keluarga M memperlihatkan konflik kejiwaan manusia yang pelik. Sayangnya, dalam cerpen ini, tokoh saya tak berhasil mengatasi kesepiannya dan juga upayanya untuk menjalin hubungan yang baik dengan orang lain.

Tema serupa juga menjadi pokok pikiran cerpen yang lain, yakni cerpen berjudul “Charles Lebourne” yang menceritakan seorang anak yang secara tak sengaja menemukan ayah yang telah meninggalkan ibunya dan memperlakukan ibunya secara aniaya. Pertemuan tak sengaja di lingkungan apartemen ini mengarah pada pergolakan batin tokoh saya yang ingin membalaskan derita ibunya tapi kadang juga muncul rasa iba melihat penderitaan ayahnya yang sakit-sakitan (hlm. 270-296).

Tujuh cerpen yang masing-masing sedikitnya terdiri dari sekitar 5 ribu kata ini—yang bisa dibilang relatif cukup panjang—ditulis dengan teknik yang baik oleh Budi Darma. Setiap cerpen memperlihatkan keutuhan cerita yang padu. Tak heran jika Budi Darma dianggap sebagai pengarang yang memberi warna baru dalam penulisan prosa di Indonesia.

Ketujuh cerpen dalam buku ini merupakan refleksi atas kondisi kejiwaan manusia modern yang hidup di lingkungan perkotaan. Dalam lingkungan yang cenderung individualistis, beberapa sifat dasar manusia yang luhur seperti belas kasih, rasa empati dan rasa peduli, tertantang oleh arus kehidupan yang juga berpotensi menyuburkan sikap batin negatif. Tak dapat dinafikan bahwa kala karakter negatif itu tumbuh, pada saat yang sama manusia juga bisa merasakan keterasingan, batin yang kosong, dan hidup yang hambar.

Momentum penerbitan kembali cerpen-cerpen Budi Darma, profesor emiritus di Universitas Negeri Surabaya, ini sangatlah tepat. Masyarakat Indonesia saat ini secara perlahan tengah mengalami proses peralihan ke pola kehidupan modern yang cenderung individualistis. Ini terjadi tak hanya di kota. Akibat revolusi teknologi informasi, jiwa kehidupan modern merambah ke mana-mana hingga ke desa.

Penerbitan ulang karya sastra Indonesia bermutu seperti buku ini sangat bernilai bagi pembaca sastra remaja dan belia yang kesulitan untuk mendapatkan buku-buku sastra Indonesia karya penulis terkemuka yang sudah tidak diterbitkan dan sulit didapat.

Kiranya, cerpen-cerpen Budi Darma yang secara berani menelanjangi pikiran-pikiran terdalam manusia-manusia Bloomington sebagai cerminan diri manusia modern ini dapat menjadi pendamping refleksi dalam membaca perubahan zaman dan pergulatan manusia yang hidup di dalamnya. Bisa jadi, di antara tokoh-tokoh yang diangkat dalam kumpulan cerpen ini ada “saya” yang tersembunyi yang diam-diam dengan keakutan masalah kehidupan modern saat ini.


Tulisan ini dimuat di Basabasi.co pada 29 Oktober 2016.

Read More..

Tuesday, 25 October 2016

Percik Kecil Sejarah dan Ikatan Tali Kebangsaan


Judul buku: Indonesia Poenja Tjerita: Yang Unik dan Tak Terungkap dari Sejarah Indonesia
Penulis: @SejarahRI
Penerbit: Bentang Pustaka, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, Juli 2016
Tebal: xviii + 226 halaman
ISBN: 978-602-291-238-5


Menyajikan peristiwa sejarah dalam penuturan yang menarik memang menjadi tantangan tersendiri. Sejarah yang identik dengan nama tokoh-tokoh atau tanggal-tanggal terkait peristiwa penting dalam perjalanan bangsa atau masyarakat kerap tersaji secara kering dan datar. Akibatnya, membaca buku sejarah kurang diminati.

Padahal, dalam kerangka kemasyarakatan dan kebangsaan sejarah sangatlah penting sebagai kekuatan kultural untuk memaknai kekinian dan tantangan masa depan.

Buku ini dihimpun dari tulisan-tulisan di media online “Sejarah RI” yang berfokus pada edukasi sejarah Indonesia. Melalui laman SejarahRI.com dan akun twitter @SejarahRI dan juga akun Facebook, Sejarah RI berupaya menyajikan percik sejarah-sejarah kecil atau alternatif atau yang di luar arus utama demi mendapatkan gambar utuh sejarah Indonesia dalam upaya membangun paradigma keindonesiaan (hlm. 221-222).

Membaca buku ini, tampaklah bahwa percik-percik sejarah di luar arus utama memang juga memiliki potensi yang kuat untuk menjadi tiang penyokong persatuan bangsa. Misalnya, di satu bagian, buku ini bercerita tentang perancang lambang Garuda Pancasila, yaitu Syarif Abdul Hamid Alkadrie atau Sultan Hamid II, putra sulung Sultan Pontianak. Sultan Hamid II ini berdarah Indonesia-Arab.

Pembuatan lambang negara ini mulanya disayembarakan, dan yang masuk “final” adalah karya Sultan Hamid II dan M. Yamin. Namun karya M. Yamin ditolak karena pada gambar yang dia buat ada unsur sinar matahari yang dianggap menunjukkan pengaruh Jepang. Setelah melewati beberapa proses, lambang rancangan Sultan Hamid II diperkenalkan oleh Presiden Soekarno kepada khalayak pada tanggal 15 Februari 1950 di Hotel Des Indes, Jakarta (hlm. 144-149).

Terkait dunia penerbitan, orang-orang Tionghoa peranakan sejak abad ke-19 telah menerbitkan surat kabar, majalah, dan buku sastra. Mereka menerbitkan karya dalam bahasa Melayu dengan berbagai variasinya. Kemudian pemerintah Hindia Belanda pada 14 September 1908 membentuk Commissie voor de Inlandsche School en Volkslectuur (Komisi Bacaan Rakyat) yang nyatanya berperan sangat penting dalam merangsang minat baca masyarakat. Yang diterbitkan komisi ini bukan hanya karya lokal, tapi juga ada terjemahan novel berbahasa Belanda, Inggris, Prancis, Jerman, dan juga Arab. Komisi ini pada gilirannya berkembang hingga menjadi lembagai yang dikenal dengan nama Balai Pustaka (hlm. 178-180).

Sebuah tulisan dalam buku ini juga mempersaksikan peran masyarakat luar Jawa, yakni bahwa surat kabar bumiputra yang pertama terbit adalah Warta Berita. Tulisan ini mematahkan pandangan umum yang mengatakan bahwa surat kabar bumiputra pertama adalah Medan Prijaji yang terbit di Bandung pada tahun 1907. Warta Berita ini terbit di Padang pertama kali pada tahun 1901, dengan pemimpin redaksi Datuk Sunan Marajo (hlm. 18-21).

Beberapa tulisan lain mengangkat tema kecil tapi menarik, seperti serba-serbi peristiwa yang menyertai Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945, asal-usul lomba panjat pinang, sejarah tahu Sumedang, sejarah rokok kuno di Indonesia, dan lainnya.

Ada juga yang mengangkat keteladanan para pemimpin bangsa, seperti kisah Sultan Hamengkubuwono IX yang memberi tumpangan kepada seorang ibu pedagang beras di Yogyakarta (hlm. 114-115).

Selain gaya bertutur yang renyah, buku ini menarik dan sangat penting untuk dibaca dalam kerangka kehidupan kebangsaan Indonesia. Di tengah berbagai persoalan bangsa dan tantangan zaman yang kian berat, buku ini kiranya mampu untuk menjadi tali pengikat semangat persatuan bangsa.


Tulisan ini adalah naskah awal dari tulisan yang dimuat di Koran Jakarta, 25 Oktober 2016.


Read More..

Friday, 16 September 2016

Kearifan Silat sebagai Paradigma Hidup


Judul buku: Jurus Hidup Memenangi Pertarungan
Penulis: Whani Darmawan
Penerbit: Bentang Pustaka, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, Mei 2016
Tebal: xxviii + 294 halaman
ISBN: 978-602-291-202-6


Banyak orang awam berpandangan bahwa silat identik dengan berkelahi. Lebih jauh, silat kadang dipahami sebagai olah tubuh. Namun demikian, silat dapat diposisikan lebih dari hal tersebut. Setidaknya itulah yang ditunjukkan oleh buku ini.

Buku ini ditulis oleh Whani Darmawan, seorang aktor kawakan dari Yogyakarta yang juga belajar silat di Perguruan Silat Budaya Indonesia Mataram (BIMA). Buku ini berisi renungan-renungan tentang dunia silat dalam kaitannya dengan laku hidup sehari-hari. Sudut pandangnya yang cukup bercorak filosofis menunjukkan bahwa penulis buku ini sudah mencapai taraf yang tinggi dalam menghayati laku dan latihan silat yang dijalaninya.

Perspektif yang diangkat buku ini adalah meletakkan silat sebagai paradigma hidup. Menurut Whani, dalam kehidupan setiap manusia pasti mengalami pertarungan, baik dengan orang lain, diri sendiri, atau persoalan tertentu. Dengan demikian, hidup bagi Whani adalah “serentetan latihan panjang dan pertarungan yang tak kunjung usai” (hlm. xxvi).

Kemampuan Whani untuk merefleksikan dunia silat dalam esai-esainya ditopang dengan keterampilannya dalam bertutur dan kejeliannya dalam mengangkat hal sederhana dalam renungan yang bermakna. Pada esai pertama, Whani menegaskan bahwa orang belajar silat mestinya bukan untuk maksud berkelahi. Belajar silat melibatkan kepaduan latihan tubuh, pikiran, dan jiwa. Tak hanya naluri, intelektualitas juga diasah dalam dunia silat (hlm. 3-4).

Menurut Whani, berkelahi kadang tidak membutuhkan alasan yang cukup. Sementara itu, belajar silat pada dasarnya adalah untuk mensyukuri dan memahami fungsi-fungsi tubuh dengan mempelajari cara kerja bagian-bagiannya hingga ke tataran spiritual.

Yang dimaksud tataran spiritual di sini adalah cara pandang yang melampaui dimensi fisik pada berbagai aspek olah tubuh. Contohnya, Whani menjelaskan gerakan berkelit dengan cara memiringkan tubuh yang disebut egos. Egos adalah gerak dasar yang penting yang tidak saja dipelajari untuk menghindar dan meminimalkan benturan, tapi juga untuk posisi menyerang.

Ditarik ke dalam kehidupan sehari-hari, Whani mengangkat ihwal cara hidup yang tak mengumbar konflik dan benturan. Menurut Whani, gesekan atau benturan dengan orang lain sering tak perlu dilakukan, meski bukan berarti kita harus melarikan diri dari masalah. Gerak egos seperti dalam silat itu mungkin memang terkesan tidak gagah dan tidak atraktif. Tapi gerak menghindar seperti egos dalam kehidupan kadang lebih produktif dan lebih bijak (hlm. 43-44).

Di bagian yang lain, Whani bercerita tentang Kazushi Sakuraba, seorang petarung dalam Ultimate Fighting Championship yang aktif pada 1990-an. Sakuraba adalah petarung yang berani tapi dengan kesadaran yang terpoles tanpa nafsu. Di atas pentas, Sakuraba enggan bersikap bombastis. Dia tak melayani tatapan mata yang konon menyimbolkan keberanian mental. Sakuraba tak hanya matang di teknik, tapi juga pada aras mental. Dia menghormati lawannya sebagai manusia (hlm. 195-198).

Di sini silat betul-betul terlihat bukan saja sebagai pendidikan fisik, tapi juga olah mental. Bela diri sebagai teknik diperlukan, tapi lebih dari itu, olah mental juga diperlukan.

Buku ini menggali dan mendedahkan salah satu kearifan yang terpendam dalam seni olah tubuh yang mampu memancarkan kebeningan dalam membaca dinamika kehidupan sehari-hari. Buku ini merupakan sumbangan berharga bagi khazanah kebudayaan Indonesia yang berhasil meneguhkan kaitan erat warisan kebudayaan silat dengan kearifan tradisional yang bersifat abadi.


Tulisan ini adalah naskah awal dari tulisan yang dimuat di Koran Jakarta, 16 September 2016.


Read More..

Monday, 15 August 2016

Menyelisik Labirin Spiritual Matsnawi


Judul buku: Struktur dan Makna Matsnawi Rumi: Tafsir Baru atas Matsnawi
Penulis: Seyed G Safavi
Pengantar: Seyyed Hossein Nasr
Penerbit: Mizan, Bandung
Cetakan: Pertama, Maret 2016
Tebal: 314 halaman
ISBN: 978-979-433-929-9


Matsnawi, karya besar Jalaluddin Rumi (1207-1273), menjadi salah satu rujukan penting dalam diskursus tasawuf dan spiritualitas. Kedahsyatan karyanya tampak dalam fakta bahwa ia dibaca oleh lintas-golongan, tak hanya umat Islam, dan telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dunia.

Namun demikian, Matsnawi yang terdiri dari 26.000 bait, 948 bab, dan terhimpun dalam 6 jilid buku selama sekitar tujuh abad dipandang sebagai karya yang acak, tidak tertata, dan tanpa struktur. Reynold Nicholson, pakar yang meneliti Matsnawi selama tiga puluh tahun, secara intuitif hanya menyiratkan adanya struktur sistematis karya tersebut namun tak berhasil mengungkapkannya secara jelas.

Buku karya Seyed G Safavi ini berusaha memecahkan kebuntuan tersebut dengan berusaha menyingkap struktur Matsnawi sehingga dari situ muncullah makna baru atas karya besar ini. Karya yang semula merupakan disertasi di SOAS University of London ini bertolak dari asumsi bahwa karya-karya pramodern disusun dengan tingkat keseriusan yang luar biasa. Di tengah keterbatasan teknologi kepenulisan di era pramodern, Safavi menduga kuat bahwa tidak mungkin Rumi menyusun komposisi besar karya ini secara sembarangan.

Dengan mempertimbangkan keterbatasan waktu dalam skema penelitian disertasi, Safavi memusatkan penelitiannya pada Matsnawi Buku Pertama. Untuk menyingkap struktur Matsnawi, Safavi membagi karya Matsnawi dalam lima unit struktur, yakni: ayat, bait, bab, wacana, dan buku. Kunci penyingkapan Safavi dari lima unit ini terletak pada unit wacana (maqâlât). Menurut Safavi, judul (‘unwân) bab dalam keenam buku Matsnawi disusun sendiri oleh Rumi. Dari bab-bab yang ada di setiap buku, Safavi menyingkap struktur wacananya sehingga struktur besar Matsnawi yang lebih utuh menjadi tersibak.

Dari hasil penelitiannya pada Matsnawi Buku Pertama, Safavi tiba pada kesimpulan bahwa Rumi menyusun Matsnawi dengan menggunakan dua prinsip penataan, yakni penyusunan sekuensial pada level bait dan bab, dan penyusunan sinoptik pada level wacana, buku, dan karya yang didasarkan atas prinsip paralelisme dan kiasmus.

Penemuan Safavi ini terinspirasi oleh beberapa penelitian lain yang mencermati teks-teks penting pramodern, seperti penelitian Mary Douglas tentang Kitab Imamat dan Kitab Bilangan (Perjanjian Lama), McMohan atas autobiografi spiritual Agustinus yang berjudul Confessions, penelitian Hanns-Peter Schmidt dan Martin Schwartz atas karya Zarathustra, dan lain-lain. Beberapa penelitian itu berhasil mengungkapkan adanya struktur tersembunyi di teks yang diteliti.

Prinsip paralelisme dan kiasmus termasuk model penulisan yang cukup lazim di era pramodern. Paralelisme memperlihatkan adanya garis non-linear hubungan antara dua segmen teks. Sedangkan kiasmus adalah pengulangan sebuah sekuen tetapi dengna susunan terbalik, misalnya A, B, C, D, C, B, A sehingga kadang juga disebut struktur cincin.

Untuk menemukan struktur seperti ini, Safavi tidak hanya melakukan pembacaan berulang untuk teks yang ditelitinya, tetapi juga memetakan secara tematik dengan teperinci seluruh bagian Matsnawi Buku Pertama. Inilah yang disebut dengan pembacaan sinoptik yang secara literal berarti “melihat seluruhnya” dan “melihat secara utuh”.

Pembacaan yang cermat mampu menyingkap makro-komposisi Matsnawi sehingga Safavi berhasil memetakan bab-bab yang ada pada Matsnawi Buku Pertama ke dalam dua belas wacana. Safavi menguraikan dua belas wacana hasil rekonstruksinya itu pada bagian kedua buku ini sehingga masing-masing bab atau bagian dalam satu wacana memperlihatkan prinsip paralelisme dan kiasmus. Lebih jauh, kedua belas wacana yang itu juga memperlihatkan dua prinsip paralelisme dan kiasmus.

Safavi menunjukkan paralelisme dan kiasmus di antara wacana pertama dan wacana kedua belas, wacana kedua dan kesebelas, dan seterusnya. Wacana pertama, misalnya, membahas tentang perjalanan nafs yang jatuh cinta pada dunia. Sedang pada wacana kedua belas perjalanan nafs sudah sempurna yang digambarkan dengan kepasrahan dan kepatuhan pada Kehendak Allah.

Pembacaan secara sekuensial dan sinoptik menegaskan bahwa Matsnawi Buku Pertama membahas tentang perkembangan nafs dari tahap nafs ammarah, nafs lawwamah, dan nafs mutmainnah. Jadi, Matsnawi Buku Pertama dapat dibagi dalam tiga blok yang masing-masing meliputi empat wacana.

Makna baru yang ditawarkan Safavi dengan strategi pembacaannya yang berhasil menemukan struktur mendalam Matsnawi juga sangat erat dengan tujuan penulisan Matsnawi itu sendiri, yakni untuk mengantarkan pembacanya pada transformasi spiritual.

Model pembacaan yang acak yang selama ini lazim digunakan yang juga semakin diteguhkan dengan banyak diterbitkannya berbagai versi petikan terpilih dari Matsnawi diyakini memang dapat memberi pengalaman dan pencerahan spiritual. Tapi itu adalah pembacaan tingkat pertama yang bersifat literal.

Pembacaan yang ditawarkan Safavi dapat disebut sebagai pembacaan reflektif sehingga hasilnya pembaca dapat menemukan pesan spiritual lapis kedua yang berusaha disampaikan Rumi melalui struktur canggih Matsnawi yang hanya dapat tersibak dengan kecermatan dan ketelitian. Cara ini juga dapat memberi pesan tentang bagian-bagian yang perlu mendapatkan perhatian lebih mendalam dalam konteks transformasi spiritual.

Pada titik ini, Safavi menyatakan bahwa dengan demikian Matsnawi tidak hanya membahas tentang pelatihan spiritual, tapi merupakan pelatihan spiritual itu sendiri. Sebagaimana diketahui, pada banyak bagian, Rumi menekankan pentingnya penempuh jalan spiritual (salik) agar tidak terkecoh dengan dunia yang tampak dan harus berusaha melampaui penampilan lahir.

Buku ini bernilai penting karena sumbangannya pada kajian atas karya besar Rumi mampu memberikan warna dan makna baru yang sangat penting dalam penelaahan teks klasik. Lebih jauh, metodologi yang digunakan buku ini sangat menarik untuk dijadikan model pembacaan pada teks-teks klasik lainnya.


Tulisan ini dimuat di Harian Radar Madura, 14 Agustus 2016.


Read More..

Friday, 12 August 2016

Marissa Mayer dan Misi Penyelamatan Yahoo


Judul buku: Marissa Mayer: Keputusan-Keputusan Kontroversial dan Misi Menyelamatkan Yahoo dari Kebangkrutan
Penulis: Nicholas Carlson
Penerbit: Bentang Pustaka, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, Desember 2015
Tebal: 368 halaman
ISBN: 978-602-291-125-8


Sungguh tragis nasib Yahoo, pelopor mesin pencari dan portal web yang berpengaruh, saat pada 25 Juli lalu diakuisisi oleh Verizon, perusahaan telekomunikasi di Amerika Serikat. Yahoo yang merajai dunia internet pada dekade 1990-an akhirnya harus tenggelam.

Buku ini mengangkat kisah jatuh bangun salah satu sosok yang berusaha menyelamatkan Yahoo di detik-detik terakhirnya, yaitu Marissa Mayer, CEO Yahoo yang memimpin sejak Juli 2012 di tengah situasi bisnis Yahoo yang membutuhkan penyelamatan.

Sebelum menuturkan kiprah Mayer di Yahoo, Nicholas Carlson, yang menjadi koresponden utama Business Insider, memulai pemaparannya dari awal Yahoo didirikan oleh Jerry Yang dan David Filo pada 1994. Yang dan Filo adalah mahasiswa Stanford yang di awal era internet membuat direktori daftar laman yang mereka sukai.

Mulanya, laman itu bernama “David and Jerry’s Guide to the World Wide Web.” Ternyata laman buatan mereka ini disukai banyak orang. Pada September 1994, kala telah memuat dua ribu tautan, laman mereka mendapatkan kunjungan 50 ribu kali dalam sehari. Empat tahun setelah itu, keduanya menjadi miliarder dunia (hlm. 31-36).

Setelah sukses besar, mulai tahun 2000 Yahoo menghadapi masalah seiring dengan masa dot-com bust. Yahoo ketinggalan zaman. Bisnis periklanannya mundur. Demikian pula, fasilitas mesin pencarinya tak bisa menyaingi Google yang ironisnya pada 1997 pernah ditawarkan untuk dijual pada Yahoo (hlm. 58-70).

Mulai tahun 2000, Yahoo mengalami persaingan bisnis yang ketat. Kehadiran Google yang semakin besar, Microsoft yang membuat situasi kacau saat berusaha membeli Yahoo, dan juga Facebook, membuat citra internet yang pada awal popularitasnya identik dengan Yahoo kemudian berubah. Beberapa CEO sudah pernah berusaha mengatasi masalah Yahoo, mulai dari Terry Semel yang mantan pemimpin Warner Bros, hingga Carol Bartz yang sukses di Autodesk.

Marissa Mayer direkrut Yahoo sebagai CEO pada Juli 2012. Mayer memiliki pengalaman yang menarik, yakni 13 tahun bekerja di Google dengan banyak peran strategis. Saat baru direkrut, orang-orang di Yahoo penuh dengan optimisme. Beberapa karyawan memasang poster bertuliskan kata “HOPE” di dinding. Poster ini meniru gaya poster terkenal Barack Obama karya Shepard Fairey (hlm. 248).

Gebrakan pertama Mayer di Yahoo adalah membangun moral karyawan dengan membuat rapat mingguan yang dihadiri oleh semua karyawan purnawaktu Yahoo. Mayer ingin membangun kultur perusahaan yang transparan. Mayer ingin komunikasi antara karyawan dan eksekutif Yahoo menjadi lebih terbuka (hlm. 264).

Untuk membangun kultur produktif, Mayer melarang karyawan bekerja dari rumah. Tapi Mayer memberi fasilitas makan gratis di Yahoo. Alhasil, dalam satu tahun pertama, kepemimpinan Mayer memperlihatkan hasil yang cukup baik. Saham Yahoo naik 60,6 persen sejak Mayer bergabung. Dua puluh produk Yahoo diluncurkan, dan satu di antaranya, yakni Yahoo Weather, mendapatkan penghargaan desain dari Apple. Pada Mei 2013, sepuluh ribu lamaran kerja masuk ke Yahoo dalam satu pekan (hlm. 284).

Namun, selang beberapa bulan kemudian, Mayer menghadapi tugas berat. Sistem evaluasi kinerja karyawan yang dibawa Mayer dari Google sebagai solusi penolakannya untuk memecat ribuan karyawan saat baru memimpin ternyata perlahan bermasalah. Iklim kerja sama rusak. Karyawan menuntut perbaikan. Lain dari itu, pendapatan perusahaan tak mengalami pertumbuhan. Pangsa pasar pencarian menyusut cepat. Yahoo Mail mulai runtuh (hlm. 315).

Kisah Mayer dalam buku ini ditutup dengan kembalinya tantangan berat untuk penyelamatan Yahoo babak berikutnya. Namun, pembaca buku ini sekarang sudah mengetahui kelanjutan kisah Mayer dan Yahoo melalui headline berita baru-baru ini yang mewartakan akuisisi oleh Verizon dengan nilai 4,83 miliar dollar AS.

Buku ini mendokumentasikan kisah jatuh-bangun Yahoo dan peran penting Marissa Mayer. Selain kekuatan ide dan kemampuan manajerial individu, buku ini memperlihatkan kekuatan kultur kreatif perusahaan yang sangat dinamis dan pencarian ide kreatif-inovatif menghadapi persaingan bisnis yang sangat ketat. Namun demikian, pembaca buku ini sekarang dapat menilai betapa Yahoo mungkin telah terlambat untuk berinovasi.

Selain data yang sangat kaya, kelebihan buku ini terletak pada gaya tuturnya yang lincah dan nyaman dicerna. Gaya penulisannya yang bermodel naratif membuat pembaca tak sabar untuk menuntaskan kisah yang penuh inspirasi ini.


Tulisan ini dimuat di Kabar Madura, 10 Agustus 2016.


Read More..