Friday, 20 October 2017

Buku dan Pendidikan di Amerika

Perpustakaan Fordson High School di Detroit, Michigan 

Saat mendapatkan penjelasan dari Kepala Sekolah Al Fatih Academy (AFA), Ms. Afeefa Syeed, bahwa sekolah yang dikelolanya tidak menggunakan buku paket dalam proses pembelajaran di kelas, saya cukup terkejut. Apa alasannya? Menurut Afeefa, buku pelajaran dapat berpotensi membatasi ruang lingkup pembelajaran. Pembelajaran bisa menjadi kaku dan hanya terfokus pada buku teks yang digunakan.

Di Al Fatih Academy—sekolah swasta yang mengelola pendidikan dari jenjang PAUD hingga SMP di Reston, Virginia—pembelajaran lebih ditekankan pada arahan kurikulum yang telah disusun dengan pendekatan terpadu, interdisipliner, dan terutama menggunakan metode inquiry. Dengan arahan tema dan pembahasan sesuai kurikulum sekolah dan juga nilai-nilai pokok yang ingin dikembangkan, siswa difasilitasi untuk belajar dengan bertanya dan berpikir tentang hal-hal yang ada di sekitar mereka.

Saya melihat dokumen kurikulum mereka. Pada tingkat Kindergarten, saya menemukan satu halaman tema pembelajaran tentang “My Five Senses”. Saya dapat melihat bagaimana subjek-subjek pelajaran—sains, ilmu sosial, bahasa, seni, matematika, dan keislaman—dapat terintegrasi dalam tema tersebut. Saya juga sempat melihat dokumen kurikulum untuk Islamic Studies dengan konsentrasi akidah di jenjang SD, dan memperhatikan bagaimana di tiap jenjang tingkat kerumitan materi disusun dengan baik.

Pembelajaran tanpa buku pelajaran ala Al Fatih Academy, yang saat ini siswanya semua berjumlah 292 anak itu, dalam pandangan saya haruslah mengandalkan guru yang mumpuni dalam mengelola kelas sesuai dengan arahan dan target kurikulum. Selain itu, saya melihat peran ketersediaan fasilitas buku di perpustakaan sangatlah penting juga diperhatikan.

Di Perpustakaan Al Fatih Academy, saya menemukan buku-buku menarik yang rasanya akan cukup sulit saya temukan dalam versi bahasa Indonesianya. Saya cukup terkagum-kagum saat menemukan buku versi anak-anak yang dipetik dan diolah dari karya besar Imam al-Ghazali. Beberapa buku yang terlihat seperti serial terbitan Fons Vitae tersebut dicetak dengan kemasan hardcover dan full colour.

Ada yang isinya lebih dominan gambar, yakni dalam bentuk cerita bergambar, yang kemudian di bagian belakang disajikan terjemahan bahasa Inggris yang dipetik dari salah satu bab Ihya’ Ulumiddin. Untuk yang ditujukan pada pembaca yang levelnya lebih tinggi, gambar tidak terlalu dominan, tapi tetap dengan tata letak dan perwajahan yang menarik.



Di Perpustakaan Al Fatih Academy yang dapat dibilang tidak terlalu besar, saya juga menemukan buku-buku cerita yang menarik, seperti fabel lingkungan yang cukup ternama yang dikemas dalam buku berjudul When the Animals Saved Earth, dan juga buku-buku anak lainnya.

Terprovokasi dengan buku-buku semacam ini yang kemudian juga saya temukan dalam kunjungan ke sekolah-sekolah lainnya di Amerika selama tiga pekan di bulan September lalu, saya mencoba membeli beberapa buku anak di toko daring Amazon. Setelah memilih dan membeli beberapa buku yang di antaranya memang merupakan buku yang saya temukan di beberapa perpustakaan sekolah di Amerika, di Amazon saya menemukan buku-buku anak dan remaja yang menarik lainnya yang memperlihatkan kekayaan dunia bacaan berbahasa Inggris.

Selain itu, saya juga menemukan dugaan kuat bahwa dalam proses penyediaan sumber bacaan untuk kalangan anak dan remaja tersebut, pihak-pihak yang sangat berkompeten ikut serta dengan baik. Dugaan ini saya simpulkan dari salah satu buku yang saya beli yang berjudul Painting Heaven: Polishing the Mirror of the Heart (Ghazali Children) terbitan Fons Vitae. Buku komik tipis yang diolah dari bagian kecil dalam bab ‘Ajâibul-Qalb dari kitab Ihya’ Ulumiddin ini melibatkan Profesor Coleman Barks yang terkenal dengan terjemahannya atas puisi-puisi Rumi. Barks, penyair dan profesor emiritus di University of Georgia, menyiapkan naskah untuk buku yang saya beli dengan harga 16,71 dolar Amerika ini (sebelum pajak). Sedangkan yang menggarap ilustrasinya adalah Demi Hunt yang memang telah terlibat dengan penerbitan ratusan buku anak dan mendapatkan berbagai penghargaan bergengsi.

Selain itu, saya juga ingat bahwa Ms. Afeefa Syeed, kepala sekolah Al Fatih Academy, juga tercatat sebagai konsultan untuk penerbit Simon & Schuster Children’s Book Division—penerbit yang di antaranya menerbitkan buku-buku karya William J. Bennett.

Nama William J. Bennett ini menjadi masuk dalam rekam ingatan saya lantaran dia menerbitkan sebuah buku yang cukup membuat saya penasaran karena saya temukan di hampir semua perpustakaan sekolah yang saya kunjungi di Amerika. Bukunya berjudul The Book of Virtues: A Treasury of Great Moral Stories. Setelah saya membaca sebagian isi buku ini di versi Kindle yang saya beli di Amazon, pertanyaan saya tentang pendidikan moral di Amerika sedikit terjawab.

Buku yang menghimpun cerita, puisi, dan esai-esai terpilih ini berusaha membantu menumbuhkan moral literacy (kesadaran moral atau melek moral) di kalangan anak-anak dan remaja. Caranya adalah dengan berbagi keutamaan (virtues) yang termuat dalam cerita, puisi, dan esai-esai tersebut, pada anak-anak, pelajar, orangtua, dan juga guru. Dalam pengantarnya, Bennett menjelaskan empat alasan penggunaan model pendidikan moral yang dikembangkan dalam buku ini.

Pertama, cerita-cerita yang terhimpun dalam buku ini dapat menjadi titik rujukan tentang praktik konkret berbagai keutamaan moral. Kedua, kisah-kisah dalam buku ini dapat menarik perhatian anak-anak. Ketiga, cerita-cerita dalam buku ini membantu anak-anak untuk menjangkarkan diri mereka dengan akar budaya, sejarah, dan tradisi mereka. Keempat, dengan mengajarkan kisah-kisah dalam buku ini berarti kita terlibat dengan usaha pembaruan dan pemaknaan kontekstual atas kisah-kisah tersebut.

Buku yang berfokus pada 10 sifat utama ini ternyata juga dibuat dalam versi yang lebih spesifik. Bennett juga menulis buku The Book of Virtues for Your People, The Children’s Book of Virtues, dan The Book of Virtues for Boys and Girls. Bennett juga menulis buku The Moral Compass: Stories for a Life’s Journey, The Children’s Book of Heroes, The Children’s Book of America, dan lain-lain.

Satu hal lain yang cukup menarik tentang buku dan pendidikan di Amerika saya temukan di University of Dallas di Texas. Saat kunjungan ke Departemen Pendidikan kampus tersebut, saya bersama teman-teman rombongan International Visitor Leadership Program (IVLP) berkesempatan mengikuti salah satu kelas perkuliahan di kampus berlatar Katolik tersebut. Nah, kebetulan kelas yang kami ikuti terkait dengan buku. Nama mata kuliahnya “Multicultural Literature”.



Pada saat kami mengikuti kelas tersebut, dosen sedang fokus pada pembahasan tentang bagaimana cara mempertimbangkan buku yang cocok untuk digunakan sebagai bahan pembelajaran di tingkat sekolah dasar dan yang lebih rendah. Selain pemaparan yang menarik, dosen juga membagikan beberapa tulisan pendukung yang di antaranya juga memuat data-data tentang buku anak menarik dari berbagai belahan dunia. Dia juga membawa contoh buku-buku dan mengajak mahasiswa untuk mendiskusikannya di kelas.

Sepulang dari kunjungan di kampus tersebut, saya mencoba menjelajah ke laman kampus University of Dallas, dan ternyata saya menemukan mata kuliah yang lain di Department of Education yang juga berkaitan dengan buku. Ada mata kuliah Child and Young Adult Literature, Writing Children’s Books, Reading in the Secondary Schools, Developmental Reading, Diagnostic and Corrective Reading, dan juga Storytelling.

Lebih jauh, di laman kampus University of Dallas, saya menemukan satu hal yang sangat menarik, yakni bahwa kampus ini menyelenggarakan kelas-kelas dengan jumlah mahasiswa sekitar 16 orang per kelas yang membahas teks-teks babon untuk beberapa disiplin, seperti filsafat, teologi, ekonomi, sejarah, dan lain-lain. Kelas semacam ini diharapkan dapat mengantarkan profesor dan mahasiswa yang ikut serta untuk terlibat dalam dialog mendalam dan bermakna yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan menginspirasi mereka untuk mencintai pengembaraan intelektual sehingga itu semua dapat bermanfaat untuk karier akademik dan kehidupan mereka secara umum kelak. Di laman kampus juga disebutkan buku-buku induk yang akan dibahas, seperti The Communist Manifesto karya Marx dan Engels, Crime and Punishment karya Fyodor Dostoevsky, The Question Concerning Technology karya Martin Heidegger, Genealogy of Morals karya Friedrich Nietzsche, dan sebagainya.

Pada titik ini, saya melihat kesadaran yang kuat akan pentingnya buku dalam proses pendidikan sehingga hal yang berkaitan dengan buku mendapatkan tempat yang istimewa dalam perkuliahan di bidang pendidikan atau kegiatan perkuliahan lain pada umumnya di University of Dallas.

Membandingkan antara keadaan dunia perbukuan dalam kaitannya dengan praktik dunia pendidikan di Amerika dan situasi di Indonesia, saya melihat jurang yang cukup lebar dalam berbagai aspeknya. Ketersediaan buku-buku bermutu yang sangat menunjang pada proses pendidikan, mungkin termasuk juga kemudahan aksesnya oleh masyarakat dan pelajar pada khususnya, keterlibatan dan dukungan kalangan ahli dan akademisi untuk menghasilkan produk buku yang bermutu, perhatian dunia pendidikan termasuk kampus untuk memanfaatkan buku-buku tersebut dalam proses pendidikan, semuanya tampak begitu padu sehingga dengan jelas memperlihatkan jurang yang cukup lebar tersebut.

Mengakui adanya jurang yang lebar dalam hal mutu dunia perbukuan dalam kaitannya dengan praktik pendidikan antara di Amerika dan di Indonesia mungkin akan terdengar sebagai hal yang menyedihkan. Namun begitu, kita tahu bahwa pengakuan dan kesadaran semacam ini dapat juga menjadi peluang dan tantangan: bahwa ada sesuatu, atau bahkan banyak hal, yang masih harus kita lakukan dengan penuh kerja keras untuk bersama-sama membangun dunia pendidikan yang lebih baik dan membangun peradaban yang lebih maju di masa depan.

Read More..

Friday, 13 October 2017

Legenda Demonstran di Seberang White House


Ada hal menarik saat untuk pertama kalinya kami berkegiatan di Amerika, yakni jalan-jalan ke White House di Washington DC. Saat itu hari Ahad siang, 9 September 2017. Itu adalah hari kedua kami di Washington DC untuk rangkaian kegiatan sekitar 3 pekan di beberapa kota di Amerika. Mobil yang mengantar kami dari hotel menurunkan kami di Lafayette Square yang terletak di salah satu sisi White House.

Lafayette Square tidaklah amat luas. Setelah pemandu berbincang ringan tentang taman itu dan juga tentang White House, kami kemudian melintasi taman itu ke arah Gedung Putih. Begitu melewatinya, kami tiba di halaman luar White House yang dikelilingi pagar dan dijaga oleh beberapa petugas kepolisian.

Siang itu pengunjung begitu ramai lalu-lalang di situ. Namun, begitu masuk ke area halaman luar White House, perhatian saya langsung tertuju pada sebuah tenda yang di sekitarnya dipenuhi dengan tulisan-tulisan dan foto-foto semacam poster. Seorang lelaki berjanggut dan menggunakan kursi roda tampak di depan tenda berbicara keras ke arah orang-orang yang melintas.

Rombongan kami tak berhenti lama di tenda tempat orang yang tampak sedang melakukan aksi demonstrasi itu. Rombongan kami keburu bergerak mendekat ke arah White House mengikuti gerak pemandu yang terus memberi penjelasan.

Sambil mendengarkan penjelasan pemandu yang bergerak mulai dari depan White House, terus ke arah kanan ke Blair House dan Eisenhower Executive Office Building, dan kemudian berbalik ke arah gedung Treasury Department, di pikiran saya kadang melintas tenda demonstrasi dan sosok berjanggut itu.

Agak penasaran, hari Selasa pagi, 12 September, setelah shalat subuh saya berangkat sendiri dari One Washington Circle, hotel tempat saya menginap, ke White House dengan jalan kaki. Jarak 1,5 km ditempuh sekitar 16 menit. Hari masih gelap. Saya mengambil jalur Jalan K, lalu Jalan H, hingga tiba di Lafayette Square. Mendekati halaman luar White House yang tak berpenerangan yang cukup, saya mendengar gema suara orang yang seperti berteriak. Sampai di area halaman luar White House, di samping tenda demonstran itu, lurus ke arah White House, saya melihat sesosok orang menghadap pagar White House. Dialah sumber suara itu. Di hadapannya ada tiga orang petugas kepolisian.

Saya berusaha menangkap omongannya. Pembicaraannya ternyata tentang bencana Badai Irma di kawasan Florida. Dia menuntut pemerintah untuk benar-benar memberi perhatian kepada warga yang terkena musibah alam tersebut.

Saya mencoba mendekat ke arah petugas, lalu pura-pura bertanya letak ATM Bank of America terdekat, hanya untuk mencoba melihat dari dekat sosok lelaki yang berteriak itu. Si petugas tidak tahu pasti ATM yang saya tanyakan. Saat bertanya, saya melirik ke sosok lelaki yang agak gemuk dan mengenakan pakaian berwarna merah muda itu. Dia bukan orang yang saya lihat di hari Ahad sebelumnya dengan berkursi roda di dekat tenda. Dia tampak tidak terganggu dengan kedatangan saya ke petugas di dekatnya. Dia tetap bermonolog ke arah White House.

Saat Jum’at sore (15 September) saya melewati kawasan White House itu lagi, saya masih melihat si demonstran dengan tendanya.

Meninggalkan Washington DC pada hari Sabtu 16 September untuk pindah ke kota Detroit di Michigan, saya masih belum menyadari bahwa tenda dan demonstran di Lafayette Square seberang White House itu adalah sebuah legenda. Sementara itu, saya hanya menyimpan rasa kagum bahwa ada orang demonstrasi (yang dilakukan berhari-hari) di depan White House yang dibiarkan begitu saja oleh petugas kepolisian. Terlintas pertanyaan apakah itu bagian dari praktik kebebasan berbicara di Amerika.

Tenda dan demonstran di White House kembali muncul dalam pikiran saya saat di kota Detroit saya berjumpa dengan seorang perempuan yang tengah melakukan aksi demonstrasi sendirian di sebuah persimpangan jalan di dekat gedung perkantoran Renaissance Center. Dia mengangkat tulisan besar yang intinya mengecam General Motors yang persis berkantor di gedung Renaissance Center itu. Beberapa tulisan lainnya disiapkan di dekatnya.

Kesan saya saat menyaksikan aksi solo demo di pagi hari di kota Detroit yang katanya memang sedang dilanda krisis ekonomi sehingga di antaranya mengakibatkan terjadinya PHK yang cukup masif itu adalah soal kegigihan. Rupanya untuk mengungkapkan aspirasi atau tuntutan memang tak harus beramai-ramai. Satu orang sudah cukup. Asal cari tempat yang tepat. Seperti juga halnya aksi demo di Lafayette Square itu.



Saat saya bermaksud menuliskan catatan tentang dua aksi solo demo di Washington DC dan Detroit itu, saya mencoba menggali data di internet. Saat mencoba mengamati dua foto tersebut yang sempat saya ambil, khususnya foto tenda dan demonstran di White House, saya cukup terkejut saat saya melihat bendera Palestina ukuran kecil dipasang di atas tenda, bersebelahan dengan bendera Amerika.

Wah! Tenda dan demonstran ini pasti bukanlah hal sembarangan. Bendera Palestina bukan sesuatu yang biasa jika ia dipasang di dekat White House. Tapi mengapa saya tidak ingat pernah mendengar komentar atau pemaparan tentang tenda dan demonstran itu dari pemandu saat keliling kota Washington DC? Apa saya melewatkan bagian itu?

Saya coba minta bantuan Google dengan kata kunci teks yang saya temukan di foto tersebut. Saya menggunakan kata kunci “William Thomas anti nuclear peace vigil”. Saya juga coba “Palestine flag white house”, juga dengan variasi bahasa Indonesia. Dan ternyata saya menemukan cerita tentang legenda!

Dari Wikipedia dan beberapa sumber lainnya, saya jadi tahu bahwa tenda dan demonstran di Lafayette Square itu sudah memulai aksinya sejak 3 Juni 1981. William Thomas adalah pelopornya. Thomas yang kelahiran New York ini adalah seorang aktivis anti-nuklir dan juga aktivis perdamaian. Saat meninggal pada 23 Januari 2009, aksinya di depan White House yang sudah menjadi legenda dilanjutkan oleh Concepcion Picciotto—biasa disebut Connie—yang telah mengikuti aksi Thomas sejak Agustus 1981. Connie yang berdarah Spanyol ini meninggal pada 25 Januari 2016, dan aksinya kini dilanjutkan oleh rekan-rekannya sesama aktivis perdamaian yang tergabung dalam kelompok White House Peace Vigil (WHPV).

Adapun bendera Palestina yang dipasang di tenda demonstran itu, itu merupakan tanda bahwa isu Palestina adalah salah satu fokus masalah yang disuarakan selain masalah Irak dan juga Suriah yang belakangan juga hangat. Dari kunjungan saya selama tiga pekan di Amerika, saya akhirnya dapat memahami bahwa isu perdamaian dan perang di berbagai negara di dunia sangatlah berkaitan dengan Amerika karena faktanya cukup banyak warga yang mengalami konflik di berbagai negara tersebut yang kemudian hijrah ke Amerika.

Begitu selesai membaca beberapa informasi di internet tentang tenda dan demonstran di depan White House itu, saya merasa cukup menyesal bahwa saya baru mengetahui tentang legenda demonstran yang katanya sempat berkali-kali berurusan dengan pengadilan di Amerika akibat aksinya yang tercatat sebagai aksi demonstrasi terlama di Amerika yang tak bisa dibubarkan oleh pemerintah. Aturan bahwa aksi demonstrasi tidak boleh sampai menginap tidak bisa menghentikan aksi kelompok White House Peace Vigil ini, karena aksi ini jauh lebih awal digelar daripada terbitnya peraturan tersebut.

Andai saya tahu saat saya masih tinggal di Washington DC, mungkin saya bisa menggali informasi secara langsung di sana. Saya bisa bertanya tentang suka duka para aktivis perdamaian yang bergantian meneriakkan tuntutannya pada salah satu pusat politik di dunia itu. Saya mungkin juga akan menanyakan tentang keluarga mereka dan juga aneka tanggapan yang mereka terima dari para pengunjung di tempat itu.

Ah, semua hanya tinggal penyesalan. Ini akibat keterbatasan pengetahuan saya sehingga saya melewatkan salah satu legenda demonstran yang bernilai penting di Amerika. Akhirnya, saya sendiri tidak tahu apa saya masih akan punya kesempatan untuk kembali ke Lafayette Square itu untuk sekadar berbincang, foto bareng, atau turut menyumbang 10 atau 20 dolar untuk aksi damai tersebut.

Read More..

Friday, 6 October 2017

Nasionalisme Sederhana ala Warga Amerika


Ada pelajaran kecil yang cukup berharga yang saya dapatkan dari kunjungan saya ke Amerika selama 3 pekan dalam rangka undangan Department of State (Kementerian Luar Negeri) untuk program International Visitor Leadership Program (IVLP). Pelajaran itu tentang nasionalisme yang terwujud dalam bentuk sederhana tapi saya rasakan cukup kuat dan berdampak.

Selama 3 pekan di Amerika, berpindah dari kota ke kota (Washington DC, Detroit di Michigan, Dallas dan Austin di Texas, dan Portland di Oregon), saya menyaksikan warga Amerika banyak yang memasang bendera Amerika di rumah-rumah mereka. Tidak semua berbentuk bendera. Ada juga kain dekoratif yang dipasang di pagar rumah tapi bermotif bendera Amerika.

Menurut pengalaman saya, di Indonesia, orang-orang ramai memasang bendera umumnya hanya pada bulan Agustus, yakni dalam rangka peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia.

Memasang bendera memang tampak sebagai laku sederhana. Tapi saya pikir kecintaan pada negara dan perasaan sebagai suatu bangsa di antaranya dapat terpupuk melalui tindakan-tindakan seperti itu. Identitas juga terbentuk melalui ungkapan sederhana yang dilakukan terus-menerus dan terjadi secara masif. Sifat masif di sini saya pikir dapat berfungsi untuk saling menguatkan dan saling menegaskan.



Selain di rumah-rumah, saya juga menemukan bendera Amerika dipajang di gedung-gedung publik, seperti sekolah, bandara, kantor, dan sebagainya. Tidak hanya di halaman, bendera kadang saya temukan di salah satu ruangan di gedung publik seperti sekolah.

Dalam pertunjukan Rodeo di Fort Worth, Texas, saya menyaksikan di arena dalam ruangan dekorasi bermotif bendera Amerika di sepanjang pagar tribun. Selain itu, pertunjukan dimulai dengan nyanyian kebangsaan yang juga menampilkan seseorang yang berkuda mengelilingi arena sambil membawa bendera Amerika.



Pernah juga sekali saya melihat sepeda onthel yang di belakangnya dipasang bendera Amerika sampai bersusun empat. Saya melihat sepeda itu di halaman Capuchin Soup Kitchen di Detroit.

Memasang bendera mungkin memang hal yang sederhana. Sekilas, maknanya seperti tak seberapa. Tapi kita tahu, di negeri kita, ada juga orang-orang yang sangat serius mempersoalkan bendera sehingga mereka melarang sikap hormat pada bendera sebagaimana lazim dilakukan pada upacara-upacara—konon, menurut mereka, hormat bendera bisa termasuk syirik, dosa terbesar dalam agama.

Dalam konteks kehidupan bernegara dan berkebangsaan, saya pikir memasang bendera adalah salah satu cara sederhana untuk menanamkan rasa kebangsaan dan untuk membentuk identitas dan nasionalisme. Identitas di sini, dalam konteks Indonesia, tentu merupakan identitas yang berlandaskan pada nilai-nilai Pancasila yang menghargai kemajemukan dan memberi tempat pada asas-asas pokok seperti ketuhanan, kemanusiaan, dan juga keadilan.

Read More..

Monday, 2 October 2017

Washington DC, Kekuatan Gagasan, dan Identitas


Tak terasa tiga pekan berlalu begitu cepat. Rasanya baru kemarin saat saya menginjakkan kaki untuk pertama kali di Washington DC tepat pada hari Sabtu, 9 September. Sekarang saya sudah dalam perjalanan pulang, melintasi Samudera Pasifik.

Selain kegiatan resmi berupa diskusi tentang tema-tema umum untuk mengenal Amerika dan sistem kehidupannya, saya bersama teman-teman lain berkesempatan mengunjungi tempat-tempat penting di Washington DC. Kebetulan juga hotel tempat kami menginap berjarak dekat dengan beberapa landmark Washington DC.

Secara khusus, pada hari kedua di Amerika, 10 September, kami mendapat kesempatan untuk keliling kota Washington DC selama sekitar 3 jam. Dari kegiatan itu, dan juga dari kegiatan diskusi, saya mendapatkan pemahaman tentang kekuatan gagasan yang ada di balik bangunan-bangunan penting di Washington DC yang juga dapat menjadi gambaran berkaitan dengan gagasan tentang Amerika.

Saat Washington City Tour, pemandu pertama mengantar kami ke Gedung Putih, yang sebenarnya mungkin hanya berjarak sepeminuman teh dari hotel kami. Hal pertama yang menarik buat saya tentang gedung putih adalah gagasan tentang bagaimana gedung pemerintahan dipersepsikan sebagai gedung rakyat sehingga katanya di situ gedung-gedung pemerintahan tidak secara definitif memiliki pintu atau halaman depan.

Sebagai gedung yang menjadi tempat untuk melayani masyarakat, Gedung Putih misalnya, tak memiliki apa yang disebut pintu atau halaman depan. Hanya disebut pintu jalan A, pintu jalan B, dan seterusnya. Jadi di sini saya menangkap ada unsur yang bersifat substantif di satu sisi dan unsur praktis di sisi lain.

Selain itu, ada juga hal menarik dari cerita pemandu. Katanya, beberapa kata kunci terkait pemerintahan di Amerika dibuat dengan keinginan untuk berbeda dengan tempat lain. Misal, di Amerika, kementerian luar negeri, lembagai pemerintah Amerika yang mengundang kami untuk program International Visitor Leadership Program (IVLP) ini disebut dengan istilah "Department of State" atau "State Department", bukan Ministry of Foreign Affairs sebagaimana lazim digunakan.

Demikian pula, penulisan "In God we trust" yang terdapat dalam mata uang dolar Amerika konon katanya dilakukan untuk membedakan dengan Uni Soviet, seteru Amerika, yang identitasnya tak mau dihubung-hubungkan dengan aspek ketuhanan.

Secara historis, tentu saja ide-ide menjadi landasan pokok yang menggerakkan roda sejarah sebuah bangsa. Gagasan tentang Pancasila bagi Indonesia misalnya menjadi hal yang sangat penting hingga sekarang. Demikian juga di Amerika. Gagasan tentang kebebasan beragama, sekularisme, dan juga federalisme menjadi hal pokok yang menjadi dasar sistem kehidupan masyarakat.

Di Washington DC, beberapa gagasan itu direkam dalam bentuk monumen, seperti Lincoln Memorial yang menggambarkan ide hebat Abraham Lincoln dalam menyatukan masyarakat Amerika saat mereka bertikai.

Gagasan juga kadang terwujud dalam hal yang cukup praktis, seperti pengaturan nama jalan. di Washington DC, tidak sulit untuk menghapalkan jalan, karena ada yang dibuat berurut abjad (seperti jalan K, jalan L, dan lain-lain) selain juga menggunakan nama-nama kota. Di kota lainnya, nama jalan kadang menggunakan nomor.

Kita tahu bahwa untuk membangun masyarakat dan membangun bangsa membutuhkan landasan yang baik. Gagasan-gagasan besar perlu dibangun, didiskusikan, dikuatkan, dan dilembagakan serta diterjemahkan dalam alur yang lebih praktis dan aplikatif. Dari Washington DC, saya mencoba belajar tentang bagaimana gagasan itu diolah dan terus mengalami dinamika hingga kini.

Los Angeles-Tokyo (Samudera Pasifik), 1 Oktober 2017


Read More..

Sunday, 1 October 2017

Pelajaran Empati dari Detroit


Saat jam menunjukkan pukul 4 sore, seorang tugas segera memberi tahu kami bahwa sudah waktunya untuk memulai. Kami sudah berbaris di belakang deretan aneka menu makanan. Di ujung kanan, ada dua orang petugas dari Capuchin Soup Kitchen. Mereka berdua memulai menyiapkan makanan. Kotak makanan diambil. Menu-menu mulai dimasukkan ke dalam kotak. Kami juga memasukkan menu makanan sesuai yang sudah ditugaskan, sesuai dengan bagian kami masing-masing.

Ada yang memasukkan sayuran. Ada yang meletakkan roti. Saya kebagian memasukkan sendok, garpu, dan pisau ke dalam kotak. Rekan di sebelah saya membagikan minuman.

Kami bertugas dengan gegas. Orang-orang yang semula duduk di kursi dan juga berdiri di ruangan yang mirip aula itu mulai berdatangan mendekat. Seorang rekan bertugas membagikan kotak yang sudah berisi makanan dan siap disajikan.

Demikianlah. Sore itu kegiatan kami dalam program International Visitor Leadership Program (IVLP) bertema Faith-Based Education ini memang berbeda. Biasanya kami berdiskusi dan atau mengunjungi lembaga atau sekolah tertentu. Namun sore itu kami mendapat kesempatan untuk menjadi relawan di Capuchin Soup Kitchen di kota Detroit, Michigan.

Capuchin Soup Kitchen adalah lembaga sosial yang dikelola komunitas religius Ordo Fransiskan yang membagikan makanan gratis kepada orang-orang sekitar 3 kali sehari. Aksi sosial ini bermula saat tekanan ekonomi hebat yang terjadi di Amerika Serikat pada dekade 1930-an. Saat ini, mereka menyajikan makanan gratis setidaknya 600 kotak per hari.

Sebagai sebuah lembaga sosial, Capuchin tidak hanya menggalang dana dari masyarakat. Mereka juga memiliki kegiatan berkebun yang hasilnya digunakan untuk aksi makan gratis tersebut. Selain itu, Capuchin juga membantu mengatasi masalah ekonomi masyarakat yang mencari makanan gratis di situ dengan cara memberi mereka keterampilan kerja sehingga diharapkan dapat berpenghasilan yang memadai. Saya di situ juga melihat ada pengumuman tentang kursus literasi yang diselenggarakan oleh Capuchin.

Kami mendapatkan pemaparan singkat tentang Capuchin sebelum kami ikut bertugas sebagai relawan dengan membagikan makanan gratis tepat pada pukul empat sore. Sekitar 45 menit sebelumnya kami tiba di situ dan disambut dengan menyaksikan video pendek profil Capuchin. Sayang karena waktu terbatas tak ada waktu untuk menggali lebih mendalam tentang profil dan kegiatan Capuchin karena kami harus bersiap memberi pelayanan.

Dari video profil singkat yang diputar, saya menemukan sebuah cerita yang sangat menyentuh. Pada salah satu bagian, dikisahkan bahwa pernah ada salah seorang relawan yang ikut membagikan makanan gratis di situ, dan saat dia membagikan makanan, ternyata salah seorang yang dia beri makanan adalah saudaranya sendiri yang sudah 15 tahun tak berjumpa.

Saat melayani orang-orang yang terus berdatangan, kami terkadang mendapatkan apresiasi dari mereka. Mereka berterima kasih dan mendoakan kami. "You're my hero," kata salah satu dari mereka. "May God bless you," kata yang lainnya.

Orang-orang yang kami layani itu cukup beragam. Tapi kebanyakan berkulit hitam. Tua, muda, juga ada anak-anak. Ada yang kadang minta jatah lebih, misalnya untuk roti atau susu.

Kami terus melayani nyaris tanpa henti. Arus kedatangan orang-orang tak pernah berhenti cukup lama. Kami terus berdiri sambil bertugas. Tak ada jeda yang cukup buat kami untuk sekadar duduk. Bila ada jeda, saya kadang menebarkan pandangan ke orang-orang yang duduk melingkar di antara meja dan kursi yang disediakan. Mereka tampak makan dengan lahap.

Saat memperhatikan mereka dan juga bertugas melayani, pikiran saya berkecamuk ke sana kemari. Pikiran saya pulang ke rumah saya, menemui adik-adik saya, anak-anak saya, dan orang-orang dekat lainnya. Dunia macam apa yang akan mereka hadapi kelak? Di sini, di Amerika, negara yang katanya paling berkuasa di dunia dan mungkin mencapai tingkat kemajuan tingkat atas, ternyata masih cukup banyak orang-orang yang berkekurangan dan membutuhkan uluran tangan.

Ini mungkin juga bagian dari ironi. Kota Detroit pada khususnya, adalah kota yang dikenal sebagai pusat industri, utamanya otomotif. Raksasa otomotif Amerika, Ford dan General Motors, ada di sini. Saya ingat, dua hari sebelumnya kami berkunjung ke Henry Ford Museum yang di sana digambarkan inovasi Amerika melalui sosok Ford dan yang lainnya.

Tapi Detroit kini sudah mengalami kemunduran. Krisis ekonomi tahun 2008 dan juga kekalahan persaingan mobil-mobil produk Amerika pada mobil produk Jepang di sisi lain menyebabkan masalah sosial dan ekonomi yang cukup serius.

Tanpa terasa, waktu berjalan begitu cepat di Capuchin. Tapi orang-orang masih berdatangan Menurut petugas, Capuchin memberi layanan sampai pukul 7 petang. Namun demikian, kami harus pulang ke hotel untuk istirahat sehingga kami hanya melaksanakan tugas sebagai relawan selama satu jam. Setelah itu, tugas kami digantikan oleh relawan yang lain.

Saat waktu menunjukkan pukul 5, kami undur diri dari ruangan makan. Kami berterima kasih kepada pengurus Capuchin dan kemudian meninggalkan tempat itu.

Saat kami keluar, langit terlihat mendung. Orang-orang masih ada yang datang. Ada juga yang pulang. Saya melihat di antara mereka ada yang membawa sepeda onthel. Di bagian belakang berkibar bendera Amerika Serikat. Saya teringat salah seorang yang tadi ikut mendapatkan kotak makanan di dalam yang mengenakan atribut tentara.

Sore itu kami pulang dengan perasaan bermacam-macam. Saya teringat salah seorang rekan kami yang tadi di dalam tampak berkaca-kaca saat sibuk bertugas mengemas makanan. Saya yakin, selama sekitar satu jam, kami semua tidak hanya ikut memberikan makanan kepada orang-orang itu. Saya percaya bahwa sesungguhya merekalah yang telah memberikan sesuatu yang sangat berharga buat kami, yakni pelajaran tentang empati dan tugas berat untuk menerjemahkan pelajaran itu dalam aksi nyata bersama-sama.

Los Angeles-Tokyo (Samudera Pasifik), 30 September 2017

Read More..

Saturday, 30 September 2017

Shalat Jum'at di Gereja


Ada sedikit kejutan di hari terakhir kami di Amerika. Setelah kegiatan terakhir, yakni evaluasi program, dilaksanakan, saya dan beberapa teman bermaksud untuk shalat Jum'at. Menurut panduan yang dikeluarkan panitia, shalat Jum'at terdekat digelar oleh Muslim Student Association Portland State University di salah satu gedung kampus. Jaraknya sekitar 1 mil dari hotel tempat kami menginap. Menurut Google Maps, dari hotel ke tempat tersebut dapat ditempuh dengan jalan kaki 22 menit.

Di luar gerimis, persis seperti ramalan cuaca di televisi yang saya tonton sebelum subuh. Saya berangkat dengan membawa payung, berdua dengan Pak Yasir, dosen dari UIN Arraniry Banda Aceh. Kami bergegas di antara terpaan angin karena khawatir terlambat.

Saya berjalan di depan mengikuti petunjuk Google Maps. Tak sulit untuk menemukan gedung yang dimaksud. Gedung Peter W Stott sudah terlihat. Begitu pintu masuk terlihat, kami bergegas ke dalam. Setelah beberapa saat mencari, ternyata tak ada shalat Jum'at di gedung itu. Menurut salah seorang yang kami temui, katanya sebagian gedung itu sedang direnovasi sehingga mungkin tempat shalat Jum'at dipindah. Dia memberi petunjuk agar kami ke tempat Muslim Student Association di gedung sebelah.

Kantor Muslim Student Assoiation ternyata cukup jauh. Setelah mencari-cari kantor Muslim Student Association di gedung dimaksud, kami menemukan informasi yang cukup mengejutkan: shalat Jum'at hari ini digelar di First Christian Church di 1314 SW Park Ave, dan khotbah akan dimulai pada pukul 13.40.

Beruntung sekali di kantor tersebut ada jaringan Wi-Fi gratis. Saya segera cek Google Maps. Ternyata gedung First Christian Church tidak jauh dan tidak sulit. Enam menit jalan kaki, begitu menurut Google Maps. Gedungnya bersebelahan dengan Oregon Historical Society yang sebelumnya kami tempati salah satu sesi kegiatan.

Saat itu waktu menunjukkan pukul satu lewat beberapa menit. Masih cukup waktu untuk ke sana. Sebelum meninggalkan kantor Muslim Student Association, saya berkirim pesan ke teman-teman yang lain tentang perubahan tempat shalat Jum'at tersebut dan lokasi gereja di Google Maps.

Sesampai di depan gereja yang dimaksud, kami mencari pintu masuk. Pintu masuk utama tertutup rapat, terkunci. Ternyata di sebelah ada pintu yang sepertinya mengarah ke kantor gereja, dan di pintunya tertulis pengumuman tentang pelaksanaan shalat Jum'at di situ.

Setelah menunggu sebentar, seorang perempuan muda datang membukakan pintu. Dengan ramah, dia mengantar kami ke tempat pelaksanaan shalat Jum'at, yakni di lapangan basket yang ada di kompleks gereja. Saat kami tiba, hanya ada 2 orang di situ. Waktu menunjukkan pukul 13.10.

Namun tak lama setelah saya tiba, orang-orang mulai berdatangan. Lalu datang pula beberapa anak muda yang kemudian menggelar tikar bermotif sajadah di ruangan tersebut. Saat tikar mulai digelar, beberapa teman kami datang juga.

Seperti di pengumuman, khotbah dimulai pada pukul 13.40. Khotibnya masih muda. Saya menduga dia mahasiswa di Portland State University. Khotbahnya tidak lama. Standar. Isinya di antaranya seruan untuk meneladani sosok Nabi Muhammad saw dalam konteks kehidupan dan tantangan kaum muslim di Amerika. Sekitar pukul 2, shalat Jum'at digelar.

Setelah shalat Jum'at, panitia dari Muslim Student Association memberi pengumuman singkat. Di antaranya tentang pemindahan tempat shalat Jum'at. Dia menjelaskan bahwa Muslim Student Association sangat senang karena telah diberi tempat oleh First Christian Church untuk shalat Jum'at di situ; bahkan petugas di kantor gereja tersebut tidak pulang, menunggu selesainya pelaksanaan shalat Jum'at. Lalu dia mengumumkan bahwa ada kotak amal untuk gereja di belakang jika ada jamaah yang berkenan membantu.

Rasanya, shalat Jum'at terakhir di Amerika ini memberi kesan menarik buat saya. Pengalaman shalat Jum'at di gereja bagi saya adalah pengalaman pertama. Dan ini di antaranya menggambarkan bahwa paling tidak di tingkat akar rumput, kehidupan antar-umat beragama di Amerika tidak selalu jauh dari harmoni. Selama 3 pekan di Amerika, berpindah dari satu kota dan negara bagian yang berbeda (Washington DC, Reston di Virginia, Detroit di Michigan, Dallas dan Austin di Texas, dan Portland di Oregon), kami menemukan harmoni dan wajah toleransi yang mengesankan.

Di Dallas, Texas, misalnya, di masjid tempat kami Jum'atan saya menemukan surat dari komunitas Yahudi, komunitas Kristen, dan juga tetangga sekitar masjid, yang memberikan dukungan saat komunitas muslim mendapatkan perlakukan yang tidak nyaman dari kelompok masyarakat tertentu.

Dari sudut konstitusi, kebebasan beragama di Amerika dijamin oleh undang-undang. Umat beragama harus tidak mendapat hambatan untuk melaksanakan ajaran-ajarannya. Dari komunitas-komunitas muslim yang kami kunjungi, kami mendapatkan kisah bahwa secara umum menjalankan ajaran Islam di Amerika tidak sulit. Bahkan di kampus Georgetown University Washington DC, kampus Jesuit tersebut mengangkat seorang imam untuk mahasiswa muslim yang memiliki kantor dan mengelola kegiatan keagamaan bersama pemimpin agama yang lain.

Kesan saya tentang hubungan antar-agama di Amerika mendapatkan pengalaman menarik saat shalat Jum'at di gereja. Tambahan lagi, saat saya keluar dari kompleks gereja, saya menemukan sebuah tulisan menarik di salah satu sisi gedung kompleks gereja. Begini kalimatnya: "As a christian I am sorry for times we've been silent and the narrow-minded, judgemental, deceptive, manipulative, ignorant, harmful ways we have denied rights, equality and inclusion to so many in the name of God."



Pengakuan dan permintaan maaf atas kesalahan dan sikap buruk kepada orang lain tidaklah mudah untuk dkeluarkan. Untuk bisa demikian, kita harus selangkah mengalahkan ego dalam diri kita. Dalam menghargai dan menghormati orang lain, itu mungkin salah satu tahap tersulit yang harus kita lewati.

Jum'atan terakhir di Amerika seperti merangkum dan menegaskan pesan penting tentang makna hidup bersama sebagai manusia yang melampaui sekat-sekat identitas kelompok yang berpotensi mengundang sikap tidak manusiawi dan tidak beradab.

Portland-Los Angeles, 30 September 2017

Read More..

Sunday, 6 August 2017

Mengagumi Semesta, Mensyukuri Bumi


Judul buku: Eksplorasi Tata Surya
Penulis: A. Gunawan Admiranto
Penerbit: Mizan, Bandung
Cetakan: Pertama, Mei 2017
Tebal: 276 halaman
ISBN: 978-602-441-009-4


Ketertarikan manusia terhadap fenomena alam semesta telah muncul sejak ribuan tahun silam. Tak heran, disiplin ilmu astronomi menjadi salah satu cabang ilmu tertua.

Agustinus Gunawan Admiranto, peneliti di Pusat Sains Antariksa dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), menulis buku ini untuk memaparkan kembali pengetahuan- pengetahuan dasar astronomi berkaitan dengan tata surya dengan gaya penyajian yang sederhana.

Buku yang terdiri dari lima bab ini hanya berfokus pada tata surya, bukan seluruh benda langit yang telah dipelajari manusia. Pembahasan tentang tata surya banyak terpusat pada ulasan tentang matahari mulai dari proses pembentukannya, bagian-bagian yang menyusunnya, termasuk kemungkinan habisnya bahan bakar inti di matahari yang akan menyebabkannya membesar menjadi ”bintang raksasa merah”.

Matahari saat ini diperkirakan berusia 4,5 miliar tahun ditaksir akan menjadi bintang raksasa merah pada 6,4 miliar tahun mendatang (hlm 48). Bumi satu-satunya rumah bersama manusia merupakan planet istimewa sehingga bisa mendukung berlangsungnya kehidupan yang berkembang di permukaannya.

Planet yang mengorbit matahari pada 150 juta kilometer ini memiliki air dalam tiga tingkat wujud, yakni cair, beku, dan uap. Bumi tidak terlalu panas, seperti Merkurius dan Venus serta juga tidak terlalu dingin seperti Mars. Ketebalan atmosfer bumi yang seimbang memungkinkan kehidupan berlangsung di bumi.

Jika ketebalan atmosfer bumi seperti Venus yang 80 kali lebih tebal, tidak mungkin ada kehidupan di bumi. Sebaliknya, bila lebih tipis, maka meteor akan mudah masuk ke bumi dan tidak sempat terbakar di udara (hlm 77). Di antara fakta menarik tentang atmosfer adalah bahwa 20% oksigen yang ada di atmosfer ternyata dihasilkan oleh hutan di daerah Amazon.

Atmosfer saat ini merupakan atmosfer ketiga sejak bumi terbentuk dikendalikan oleh ganggang hijau biru yang terdapat di lautan. Ganggang inilah menjaga proses yang menghasilkan keseimbangan jumlah oksigen dan karbon dioksida. Ada juga bagian membahas tentang keadaan iklim bumi saat ini khususnya terkait dengan isu perubahan iklim.

Perubahan iklim global diperkirakan terjadi mulai era revolusi industri. Kecenderungan meningkatnya iklim global disebabkan oleh semakin banyaknya gas rumah kaca (karbon dioksida dan metana) yang terlepas ke atmosfer. Namun, para ahli masih tidak sepakat seberapa besar sumbangan manusia pada peningkatan jumlah gas rumah kaca ini (hlm. 91-92).

Bagian yang menarik dari buku ini terdapat di bagian ”lampiran”. Di sini Admiranto berusaha memberikan bantahan atas ”teori” bumi datar yang belakangan cukup populer. Penganut ”teori” bumi datar ini menurut Admiranto, umumnya tergolong tidak kritis dan menyukai hal-hal sensasional.

Mereka juga menyukai teori persekongkolan, misalnya dengan mengatakan bahwa NASA didirikanolehmantantokoh- tokoh Nazi Jerman. Ada rencana jahat dari pihak tertentu mengurangi penduduk bumi secara drastis (depopulasi) atau adanya sekelompok manusia ingin membentuk satu Tata Dunia Baru.

Pandangan kelompok ini sering tidak mendidik, menakut-nakuti, dan mempersempit nalar. Kelemahan utama kelompok ini adalah mereka tidak memiliki bangunan teori yang konsisten dan utuh untuk menjelaskan klaim-klaim mereka. Bahkan, teori ini dapat dibantah dengan pengamatan dan pembuktian sederhana.

Misalnya, pembuktian dengan pergerakan kapal laut jika dilihat dari pantai atau bayangan bumi di bulan saat terjadi gerhana (hlm 272-275). Buku ini mengisi kekosongan minimnya buku ilmiah dasar tentang astronomi yang dikemas secara populer dan berbahasa Indonesia.

Penyajiannya yang tersaji dengan model tanyajawab dilengkapi dengan ilustrasi pendukung serta QR code di nyaris setiap halaman untuk menggali informasi lebih jauh di YouTube, membuat buku ini terasa nyaman dan mudah dicerna. Buku ini muncul pada saat pemanasan global terus meningkat seiring industrialisasi dan globalisasi merangsek hingga ke pelosok desa di negara-negara berkembang.

Meningkatnya pemanasan bumi berbanding lurus dengan tingkat ketamakan manusia untuk terus menerus mengeksploitasi alam. Pada satu sisi, eksploitasi alam mengakibatkan rusaknya sebagian besar hutan yang menjadi sumber keseimbangan alam.

Pada sisi lain, pusat-pusat baru industri dan pabrik-pabrik terus menghasilkan emisi gas karbon dioksida yang menimbulkan efek rumah kaca dan selanjutnya meningkatkan suhu bumi. Buku ini memberi pemahaman yang baik tentang alam semesta, termasuk bumi.

Dengan membaca buku ini, kiranya akan muncul rasa kagum sekaligus rasa syukur kita sebagai salah satu makhluk hidup yang tinggal di dalamnya. Kewajiban kita selanjutnya adalah ikut menjaga keseimbangan alamiah yang ada di dalamnya agar kehidupan bisa terus berlangsung dengan baik.


Tulisan ini dimuat di Koran Sindo, 6 Agustus 2017.


Read More..

Tuesday, 25 July 2017

Biografi Pemikiran Para Penggugat Kemapanan


Judul buku: Membongkar Rezim Kepastian: Pemikiran Kritis Post-Strukturalis
Penulis: Haryatmoko
Penerbit: Kanisius, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, 2016
Tebal: 160 halaman
ISBN: 978-979-21-4561-8


Buku yang ditulis oleh Haryatmoko ini menghimpun pemikiran singkat enam filsuf Prancis dari kelompok post-strukturalis. Mereka adalah para filsuf penggugat kemapanan, yakni Michel Foucault, Pierre Bourdieu, Jean Baudrillard, Paul Ricoeur, Gilles Deleuze, dan Jacques Derrida. Pemikiran mereka merayakan salah satu sisi corak berpikir kefilsafatan, yakni aspek dekonstruktif, yang bekerja dengan mempertanyakan pandangan tertentu yang sifatnya sudah cukup mapan untuk dikritik, digugat, dan dibongkar. Bagi mereka, kemapanan dan kepastian dapat menggiring pada kemandekan dan menghalangi perkembangan.

Michel Foucault dikenal sebagai filsuf yang mengemukakan gagasan tentang relasi kuasa dan pengetahuan. Selama ini, kekuasaan biasanya diidentikkan dengan negara sehingga kekuasaan bersifat terpusat. Menurut Foucault, kekuasaan bersifat menyebar dan produktif. Karena bersifat menyebar, mereka yang terlibat tidaklah sedikit. Hasilnya pun tidak selalu terangkum dalam hal-hal yang bersifat negatif.

Dahulu, kekuasaan sering dikaitkan dengan perang atau aturan dalam bentuk perintah dan larangan. Namun, bagi Foucault, kekuasaan dapat berwujud dalam relasi antara pasien dan klien, tes wawancara di sebuah perusahaan, atau jajak pendapat. Dari relasi-relasi semacam itu, kekuasaan yang beroperasi menghasilkan pengetahuan. Pengetahuan inilah yang kemudian dikembangkan yang pada gilirannya turut berperan dalam pembentukan individu modern. Dari situ, didefinisikanlah hal yang normal dan hal yang tidak normal (hlm. 14-17).

Jika Bourdieu mengungkap sisi narsistik setiap orang demi memperoleh pengakuan sosial, Baudrillard meletakkan fenomena konsumsi manusia modern dalam kerangka “manipulasi tanda”. Manusia modern terjebak dalam rimba tanda yang merupakan reduksi dari realitas. Cara mereka membuat keputusan konsumsi dipandu oleh aturan tanda, baik demi mendukung posisi kelasnya maupun untuk mengafirmasi hidup dan identitas mereka.

Pada titik ini, konsumsi mendorong orang untuk menjadi individualistis. Pemenuhan hasrat pada barang atau jasa konsumsi tertentu lebih ditentukan oleh dorongan pribadi sehingga lambat laun solidaritas kian luntur (hlm. 71).

Sementara itu, Paul Ricoeur membangun konsep hermeneutika yang mulai masuk ke ranah ontologis dengan mencangkokkan hermeneutika pada fenomenologi. Ricoeur menawarkan cara baca baru atas teks yang di antara kategori hermeneutikanya mendorong pembaca untuk melakukan pengambilan jarak terhadap diri sendiri dalam proses pemahaman diri (apropriasi).

Secara lebih khusus Ricoeur menawarkan pengambilan jarak dalam bentuk analogi permainan. Bagi Ricoeur, dalam kaitannya dengan hubungan antaragama, pengambilan jarak melalui permainan membuka peluang bagi perjumpaan informal yang dapat melepaskan dari keseriusan hidup dan ketakutan atas sanksi sosial. Dari situ, diharapkan ada pemahaman baru yang lebih segar dengan terbukanya kemungkinan penafsiran yang bersifat kreatif (hlm. 97-102).

Filsuf “pemberontak” lainnya adalah Jacques Derrida yang dikenal dengan metode “dekonstruksi”. Filsuf yang menjadi salah satu ikon penting pemikir post-strukturalis ini mengembangkan metode dekonstruksi untuk membongkar rezim kepastian. Dekonstruksi mencoba menawarkan cara untuk mengungkap kontradiksi dalam politik teks sehingga diperoleh pemahaman atau kesadaran yang lebih tinggi.

Dekonstruksi menyuburkan cara pandang kritis dengan mengungkap selubung ideologis yang hadir secara samar dalam politik bahasa. Penggambaran identitas terkait istilah pribumi dan pendatang serta konstruksi istilah minoritas dan mayoritas, misalnya, secara diam-diam sejak awal sudah bercorak ideologis dan jika digali lebih mendalam menyimpan kontradiksi internal yang cukup kompleks (hlm. 134-135).

Cara berpikir kritis yang coba ditumbuhkan oleh para filsuf yang dihadirkan dalam buku ini sangat penting untuk dipelajari di tengah situasi kehidupan yang diam-diam kadang menghadirkan penindasan terselubung yang bertolak dari cara berpikir yang dogmatis dan kaku.


Versi pendek tulisan ini dimuat di Koran Jakarta, 24 Juli 2017.


Read More..

Sunday, 4 June 2017

Spiritualitas Islam Menjawab Tantangan Zaman


Judul buku: Islam Tuhan, Islam Manusia: Agama dan Spiritualitas di Zaman Kacau
Penulis: Haidar Bagir
Penerbit: Mizan, Bandung
Cetakan: Pertama, Maret 2017
Tebal: xxxiv + 288 halaman
ISBN: 978-602-441-016-2


Kemajuan ilmu dan teknologi yang semakin canggih pada satu sisi ikut menenggelamkan pamor agama. Apalagi agama belakangan kadang menunjukkan wajah yang menakutkan saat terorisme dan kekerasan berdasar agama kerap terjadi.

Buku yang ditulis oleh Haidar Bagir, pendiri Penerbit Mizan, ini mencoba merekonstruksi dan menyegarkan pemahaman atas aspek-aspek pokok dalam Islam sehingga ia dapat berkiprah untuk kemanusiaan dan masa depan kehidupan dunia yang lebih baik bersama agama dan unsur peradaban masyarakat yang lain.

Pembahasan dimulai dengan memberikan gambaran masalah yang dihadapi umat manusia pada umumnya dan bangsa Indonesia pada khususnya. Secara umum, dunia menghadapi krisis makna, kehampaan hidup, dan kegalauan yang lahir seturut dengan perkembangan ilmu dan teknologi. Kemajuan teknologi komunikasi secara ironis justru melahirkan misinformasi dan disinformasi yang sebagian menggerogoti ikatan sosial dan menipiskan rasa saling percaya. Luapan informasi justru membuat orang kehilangan arah.

Kekacauan akibat disorientasi di tengah kemelimpahan informasi ini menurut Haidar turut memberi andil bagi lahirnya paham-paham keagamaan yang radikal. Ideologi radikal bagi Haidar adalah pegangan keyakinan keagamaan yang instan dan simplistik untuk mendapatkan ketenteraman hidup. Ideologi radikal ini menjadi dasar pembenaran bagi tindakan kekerasan para penganutnya di tengah rasa frustrasi akibat tekanan sosial ekonomi yang mereka hadapi.

Pada bagian berikutnya Haidar berusaha menggali kekayaan khazanah Islam yang kiranya dapat disodorkan sebagai gagasan alternatif untuk mengatasi berbagai masalah tersebut. Pada bagian ini Haidar tampak memberi penekanan pada unsur pemikiran Islam yang bercorak filosofis untuk dijadikan sebagai alat baca kritis dan kerangka pandang dalam upaya memberi jalan keluar.

Secara tegas, Haidar menyebut “hermeneutika sebagai metode untuk memahami teks agama secara lebih terbuka dan relevan dengan tantangan-tantangan masa.” Karena hermeneutika lahir bukan dari rahim peradaban Islam, Haidar juga membuat perbandingan dengan metode takwil yang menurutnya memiliki unsur yang sejalan dengan hermeneutika.

Pada bagian ini, Haidar menggambarkan busur hermeneutik (hermeneutic arc) yang dicetuskan Paul Ricouer dalam konteks Islam sebagai berikut: teks agama/naql dipahami dengan akal/‘aql, dicek lagi dengan naql, diverifikasi lagi dengan ‘aql, dan seterusnya.

Dalam hal perkembangan sains, Haidar percaya bahwa ekses buruk teknologi yang muncul di antaranya akibat perceraian sains dengan filsafat. Terlepasnya sains dari kesatuan organiknya dengan filsafat memutus kemungkinan sains untuk memberi perhatian pada aspek transenden dan religius yang dapat digali dari filsafat.

Untuk menjawab tantangan zaman, Islam secara internal menurut Haidar harus mendorong sikap moderat (wasathiyyah), sikap terbuka, dan mengupayakan persatuan. Bagi Haidar, prinsip moderasi adalah salah satu risalah pokok Islam yang digambarkan al-Qur’an dan hadits. Selain itu, sejarah mengajarkan bahwa Islam memiliki dan berproses melalui keragaman mazhab yang luar biasa yang dirawat dalam semangat persatuan.

Dialog dengan umat agama lain dan gugus peradaban lain, termasuk budaya lokal, juga perlu dilakukan untuk saling memperkaya perspektif dalam melabuhkan visi kemanusiaan agama pada kehidupan nyata.

Benang merah solusi yang ditawarkan Haidar untuk meneguhkan peran Islam dalam kehidupan masa kini adalah dengan menghidupkan sisi spiritualitas Islam. Bagi Haidar, di antara masalah pokok yang membuat Islam menjadi tumpul dan ketinggalan zaman adalah kecenderungan orientasi keagamaan pada aspek hukum. Haidar percaya bahwa aspek spiritualitas Islam yang mempromosikan penghayatan keagamaan berorientasi cinta akan mampu menguatkan kiprah agama.

Jantung penggerak peradaban adalah agama, dan jantung agama adalah spiritualitas. Menurut Haidar, pemaparan tentang ibadah dalam sumber-sumber pokok Islam pada tingkatan yang tertinggi “selalu bermakna hubungan antara makhluk dan Tuhan yang berdasarkan cinta.”

Agama yang kental dengan nuansa spiritual dan cinta dipercaya akan mampu memupuskan fundamentalisme dan radikalisme keagamaan yang kaku, keras, formalistis, dan cenderung dangkal. Di sisi yang lain, Islam Cinta, demikian Haidar menyebut, juga akan mampu menjawab problem-problem sekularisme seperti kehampaan makna hidup dan sebagainya.

Dengan Islam Cinta, Haidar percaya bahwa Islam akan menjadi lengkap sebagai “Islam Tuhan dan Islam Manusia”. Artinya, Islam tidak hanya akan melangit di dunia transenden tetapi juga akan membumi dan memberi sumbangan nyata bagi kemanusiaan.

Meski dihimpun dari berbagai tulisan yang terbit dalam rentang tahun 1986 hingga 2016, alur pemikiran Haidar dalam buku ini terlihat jelas dan cukup sistematis. Apalagi, jalinan sistematika pembahasannya ditegaskan dalam pendahuluan sepanjang 13 halaman. Namun demikian, pada beberapa bagian gagasan yang dikemukakan memang tidak cukup mendalam. Wajar, kebanyakan tulisan dalam buku ini berasal dari media massa populer dengan ruang terbatas.

Upaya untuk menguatkan kiprah agama (Islam) di era kekinian tentu saja masih membutuhkan pemikiran dan aksi lebih jauh. Buku ini dapat dilihat sebagai semacam peta umum yang memuat beberapa gagasan kunci, meski mungkin juga belum cukup lengkap. Haidar, misalnya, belum secara cukup jelas menjelaskan posisi dan strategi Islam Cinta—yang juga mengusung nilai moderasi yang tentu sangat terkait dengan nilai keadilan—dalam menghadapi kapitalisme yang eksploitatif pada orang-orang lemah yang terpinggirkan.

Pada titik ini, paling tidak buku ini ikut mengingatkan para intelektual muslim dan tokoh-tokoh agama lainnya untuk bersama-sama berefleksi dan membaca ulang agama secara kritis demi menjawab tantangan zaman yang kian kompleks.

Versi pendek tulisan ini dimuat di Koran Jakarta, 2 Juni 2017.



Read More..

Monday, 10 April 2017

Bakti Sekolah Katolik untuk Pendidikan Indonesia


Judul buku: Lembaga Pendidikan Katolik dalam Konteks Indonesia
Penulis: Paul Suparno, dkk
Penerbit: Kanisius, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, 2017
Tebal: 336 halaman
ISBN: 978-979-21-5102-2


Salah satu potret masyarakat Indonesia yang damai tecermin dari sikap aktif berbagai unsur masyarakatnya dalam menyumbangkan kerja nyata bagi pembangunan bangsa. Buku ini merekam pergulatan para pegiat pendidikan berlatar Katolik dalam ikut memperjuangkan pembangunan bangsa melalui jalur pendidikan berbasis iman.

Kerja-kerja kependidikan oleh umat Katolik Indonesia dirintis oleh seorang misionaris Belanda, Pastor Fransiskus Van Lith, SJ (1863-1926), di Yogyakarta dan Jawa Tengah yang kemudian menyebar ke seluruh Indonesia. Pelayanan di bidang pendidikan bagi Van Lith diharapkan dapat mengantarkan “pemuda-pemuda Jawa sehingga mereka mendapat kedudukan yang baik dalam masyarakat” (hlm. 6).

Lembaga pendidikan Katolik yang kemudian muncul dan berkembang hingga saat ini bertolak dari semangat keagamaan. Paul Suparno, mantan rektor Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, dalam buku ini menegaskan bahwa sekolah Katolik dipandang sebagai kehadiran Gereja dalam dunia untuk “ikut meneruskan karya keselamatan Tuhan bagi umat manusia” (hlm. 48).

Namun demikian, dalam dinamikanya, sekolah-sekolah Katolik juga menghadapi tantangan berupa mulai pudarnya nilai-nilai kekatolikan yang dulu ditekankan, seperti nilai kasih. Di antara penyebabnya diduga karena beberapa sekolah Katolik mengikuti kurikulum pemerintah begitu saja. Paul Suparno dalam buku ini menegaskan 6 nilai kekatolikan yang harus ada, seperti nilai dan semangat kasih persaudaraan, nilai sosial dan keadilan, dan semangat mau diutus bagi orang lain (hlm. 50-51).

Tarsisius Sarkim, Wakil Rektor I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, melihat keberadaan lembaga-lembaga pendidikan Katolik secara lebih luas sehingga ia mengusulkan tiga agenda penting, yakni penegasan misi, penguatan tata kelola, dan peningkatan sumber daya (hlm. 61-89). Berdasarkan evaluasi internal yang dilaksanakan oleh Komisi Pendidikan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) pada 2016 atas lembaga-lembaga pendidikan Katolik di Indonesia, ditemukan bahwa di antara tantangan yang dihadapi adalah dalam hal rancangan terintegrasi internalisasi nilai-nilai Katolik, perencanaan terpadu pengembangan institusi, dan juga pengembangan sumber daya manusia (hlm. 22).

Selain membahas aspek idealisme pendidikan Katolik berdasarkan ajaran Gereja, buku ini juga mengulas praktik pendidikan dan model-model pembelajaran yang menarik dan inspiratif yang dikembangkan beberapa lembaga pendidikan Katolik. St Kartono, guru SMA Kolese De Britto Yogyakarta, menuturkan model pembelajaran Bahasa Indonesia dengan menggunakan materi-materi aktual dari koran (hlm. 165). Ada juga pemaparan tentang Sekolah Tarakanita yang menanamkan nilai-nilai cinta lingkungan di sekolah (hlm. 231) dan juga SMP Santa Ursula Bandung yang memberikan pendidikan kewirausahaan secara lebih tertata (hlm. 267).

Buku yang memuat 20 tulisan ini merupakan refleksi internal para pegiat pendidikan berlatar Katolik untuk menegaskan dan menguatkan bakti dan kontribusinya bagi kehidupan bangsa. Model reflektif seperti ini kiranya patut dicontoh oleh unsur masyarakat yang lain yang juga memberi kontribusi di bidang pendidikan bagi bangsa Indonesia.


Tulisan ini dimuat di Koran Jakarta, 8 April 2017.


Read More..