Saturday, 30 September 2017

Shalat Jum'at di Gereja


Ada sedikit kejutan di hari terakhir kami di Amerika. Setelah kegiatan terakhir, yakni evaluasi program, dilaksanakan, saya dan beberapa teman bermaksud untuk shalat Jum'at. Menurut panduan yang dikeluarkan panitia, shalat Jum'at terdekat digelar oleh Muslim Student Association Portland State University di salah satu gedung kampus. Jaraknya sekitar 1 mil dari hotel tempat kami menginap. Menurut Google Maps, dari hotel ke tempat tersebut dapat ditempuh dengan jalan kaki 22 menit.

Di luar gerimis, persis seperti ramalan cuaca di televisi yang saya tonton sebelum subuh. Saya berangkat dengan membawa payung, berdua dengan Pak Yasir, dosen dari UIN Arraniry Banda Aceh. Kami bergegas di antara terpaan angin karena khawatir terlambat.

Saya berjalan di depan mengikuti petunjuk Google Maps. Tak sulit untuk menemukan gedung yang dimaksud. Gedung Peter W Stott sudah terlihat. Begitu pintu masuk terlihat, kami bergegas ke dalam. Setelah beberapa saat mencari, ternyata tak ada shalat Jum'at di gedung itu. Menurut salah seorang yang kami temui, katanya sebagian gedung itu sedang direnovasi sehingga mungkin tempat shalat Jum'at dipindah. Dia memberi petunjuk agar kami ke tempat Muslim Student Association di gedung sebelah.

Kantor Muslim Student Assoiation ternyata cukup jauh. Setelah mencari-cari kantor Muslim Student Association di gedung dimaksud, kami menemukan informasi yang cukup mengejutkan: shalat Jum'at hari ini digelar di First Christian Church di 1314 SW Park Ave, dan khotbah akan dimulai pada pukul 13.40.

Beruntung sekali di kantor tersebut ada jaringan Wi-Fi gratis. Saya segera cek Google Maps. Ternyata gedung First Christian Church tidak jauh dan tidak sulit. Enam menit jalan kaki, begitu menurut Google Maps. Gedungnya bersebelahan dengan Oregon Historical Society yang sebelumnya kami tempati salah satu sesi kegiatan.

Saat itu waktu menunjukkan pukul satu lewat beberapa menit. Masih cukup waktu untuk ke sana. Sebelum meninggalkan kantor Muslim Student Association, saya berkirim pesan ke teman-teman yang lain tentang perubahan tempat shalat Jum'at tersebut dan lokasi gereja di Google Maps.

Sesampai di depan gereja yang dimaksud, kami mencari pintu masuk. Pintu masuk utama tertutup rapat, terkunci. Ternyata di sebelah ada pintu yang sepertinya mengarah ke kantor gereja, dan di pintunya tertulis pengumuman tentang pelaksanaan shalat Jum'at di situ.

Setelah menunggu sebentar, seorang perempuan muda datang membukakan pintu. Dengan ramah, dia mengantar kami ke tempat pelaksanaan shalat Jum'at, yakni di lapangan basket yang ada di kompleks gereja. Saat kami tiba, hanya ada 2 orang di situ. Waktu menunjukkan pukul 13.10.

Namun tak lama setelah saya tiba, orang-orang mulai berdatangan. Lalu datang pula beberapa anak muda yang kemudian menggelar tikar bermotif sajadah di ruangan tersebut. Saat tikar mulai digelar, beberapa teman kami datang juga.

Seperti di pengumuman, khotbah dimulai pada pukul 13.40. Khotibnya masih muda. Saya menduga dia mahasiswa di Portland State University. Khotbahnya tidak lama. Standar. Isinya di antaranya seruan untuk meneladani sosok Nabi Muhammad saw dalam konteks kehidupan dan tantangan kaum muslim di Amerika. Sekitar pukul 2, shalat Jum'at digelar.

Setelah shalat Jum'at, panitia dari Muslim Student Association memberi pengumuman singkat. Di antaranya tentang pemindahan tempat shalat Jum'at. Dia menjelaskan bahwa Muslim Student Association sangat senang karena telah diberi tempat oleh First Christian Church untuk shalat Jum'at di situ; bahkan petugas di kantor gereja tersebut tidak pulang, menunggu selesainya pelaksanaan shalat Jum'at. Lalu dia mengumumkan bahwa ada kotak amal untuk gereja di belakang jika ada jamaah yang berkenan membantu.

Rasanya, shalat Jum'at terakhir di Amerika ini memberi kesan menarik buat saya. Pengalaman shalat Jum'at di gereja bagi saya adalah pengalaman pertama. Dan ini di antaranya menggambarkan bahwa paling tidak di tingkat akar rumput, kehidupan antar-umat beragama di Amerika tidak selalu jauh dari harmoni. Selama 3 pekan di Amerika, berpindah dari satu kota dan negara bagian yang berbeda (Washington DC, Reston di Virginia, Detroit di Michigan, Dallas dan Austin di Texas, dan Portland di Oregon), kami menemukan harmoni dan wajah toleransi yang mengesankan.

Di Dallas, Texas, misalnya, di masjid tempat kami Jum'atan saya menemukan surat dari komunitas Yahudi, komunitas Kristen, dan juga tetangga sekitar masjid, yang memberikan dukungan saat komunitas muslim mendapatkan perlakukan yang tidak nyaman dari kelompok masyarakat tertentu.

Dari sudut konstitusi, kebebasan beragama di Amerika dijamin oleh undang-undang. Umat beragama harus tidak mendapat hambatan untuk melaksanakan ajaran-ajarannya. Dari komunitas-komunitas muslim yang kami kunjungi, kami mendapatkan kisah bahwa secara umum menjalankan ajaran Islam di Amerika tidak sulit. Bahkan di kampus Georgetown University Washington DC, kampus Jesuit tersebut mengangkat seorang imam untuk mahasiswa muslim yang memiliki kantor dan mengelola kegiatan keagamaan bersama pemimpin agama yang lain.

Kesan saya tentang hubungan antar-agama di Amerika mendapatkan pengalaman menarik saat shalat Jum'at di gereja. Tambahan lagi, saat saya keluar dari kompleks gereja, saya menemukan sebuah tulisan menarik di salah satu sisi gedung kompleks gereja. Begini kalimatnya: "As a christian I am sorry for times we've been silent and the narrow-minded, judgemental, deceptive, manipulative, ignorant, harmful ways we have denied rights, equality and inclusion to so many in the name of God."



Pengakuan dan permintaan maaf atas kesalahan dan sikap buruk kepada orang lain tidaklah mudah untuk dkeluarkan. Untuk bisa demikian, kita harus selangkah mengalahkan ego dalam diri kita. Dalam menghargai dan menghormati orang lain, itu mungkin salah satu tahap tersulit yang harus kita lewati.

Jum'atan terakhir di Amerika seperti merangkum dan menegaskan pesan penting tentang makna hidup bersama sebagai manusia yang melampaui sekat-sekat identitas kelompok yang berpotensi mengundang sikap tidak manusiawi dan tidak beradab.

Portland-Los Angeles, 30 September 2017

7 komentar:

M. Faizi said...

pengalaman penting yang perlu diceritakan kepada orang lain

abd hamid said...

Sip..Itu betul pengalaman yg menarik. Tp bila masjid blm siap untuk ditempati ibadah non-muslim, saya kira bukan berarti tidak toleran. Tp karena aturan masing2 tempat ibadah berbeda dan tak harus sama dlm memberi layanan

laskarpelangi said...

Salut Gus, pengalamannya menyegarkan terimakasih telah berbagi pengalaman dan pengetahuannya.dan tentu indah.

Chacings said...

Sungguh pengalaman yang berkesan..

Fauzan Rofiq said...

Amazing

Sang Pejalan said...

Inspiratif, semoga menjadi jalan hidayah toleransi bagi muslim fanatis

M Mushthafa said...

@M Faizi, Chacings, Fauzan Rofiq, laskarpelangi, Sang Pejalan: betul, pengalaman sederhana seperti ini bisa lebih bermakna bila dituturkan dan diperkaya dengan pengalaman orang lain.
@abd hamid: betul, ukuran toleransi bukan hanya soal memberi tempat untuk orang lain beribadah di tempat ibadah agama yang berbeda. konteks dan lainnya harus dilihat juga.
Terima kasih semuanya untuk komentarnya.