Sunday, 4 June 2017

Spiritualitas Islam Menjawab Tantangan Zaman


Judul buku: Islam Tuhan, Islam Manusia: Agama dan Spiritualitas di Zaman Kacau
Penulis: Haidar Bagir
Penerbit: Mizan, Bandung
Cetakan: Pertama, Maret 2017
Tebal: xxxiv + 288 halaman
ISBN: 978-602-441-016-2


Kemajuan ilmu dan teknologi yang semakin canggih pada satu sisi ikut menenggelamkan pamor agama. Apalagi agama belakangan kadang menunjukkan wajah yang menakutkan saat terorisme dan kekerasan berdasar agama kerap terjadi.

Buku yang ditulis oleh Haidar Bagir, pendiri Penerbit Mizan, ini mencoba merekonstruksi dan menyegarkan pemahaman atas aspek-aspek pokok dalam Islam sehingga ia dapat berkiprah untuk kemanusiaan dan masa depan kehidupan dunia yang lebih baik bersama agama dan unsur peradaban masyarakat yang lain.

Pembahasan dimulai dengan memberikan gambaran masalah yang dihadapi umat manusia pada umumnya dan bangsa Indonesia pada khususnya. Secara umum, dunia menghadapi krisis makna, kehampaan hidup, dan kegalauan yang lahir seturut dengan perkembangan ilmu dan teknologi. Kemajuan teknologi komunikasi secara ironis justru melahirkan misinformasi dan disinformasi yang sebagian menggerogoti ikatan sosial dan menipiskan rasa saling percaya. Luapan informasi justru membuat orang kehilangan arah.

Kekacauan akibat disorientasi di tengah kemelimpahan informasi ini menurut Haidar turut memberi andil bagi lahirnya paham-paham keagamaan yang radikal. Ideologi radikal bagi Haidar adalah pegangan keyakinan keagamaan yang instan dan simplistik untuk mendapatkan ketenteraman hidup. Ideologi radikal ini menjadi dasar pembenaran bagi tindakan kekerasan para penganutnya di tengah rasa frustrasi akibat tekanan sosial ekonomi yang mereka hadapi.

Pada bagian berikutnya Haidar berusaha menggali kekayaan khazanah Islam yang kiranya dapat disodorkan sebagai gagasan alternatif untuk mengatasi berbagai masalah tersebut. Pada bagian ini Haidar tampak memberi penekanan pada unsur pemikiran Islam yang bercorak filosofis untuk dijadikan sebagai alat baca kritis dan kerangka pandang dalam upaya memberi jalan keluar.

Secara tegas, Haidar menyebut “hermeneutika sebagai metode untuk memahami teks agama secara lebih terbuka dan relevan dengan tantangan-tantangan masa.” Karena hermeneutika lahir bukan dari rahim peradaban Islam, Haidar juga membuat perbandingan dengan metode takwil yang menurutnya memiliki unsur yang sejalan dengan hermeneutika.

Pada bagian ini, Haidar menggambarkan busur hermeneutik (hermeneutic arc) yang dicetuskan Paul Ricouer dalam konteks Islam sebagai berikut: teks agama/naql dipahami dengan akal/‘aql, dicek lagi dengan naql, diverifikasi lagi dengan ‘aql, dan seterusnya.

Dalam hal perkembangan sains, Haidar percaya bahwa ekses buruk teknologi yang muncul di antaranya akibat perceraian sains dengan filsafat. Terlepasnya sains dari kesatuan organiknya dengan filsafat memutus kemungkinan sains untuk memberi perhatian pada aspek transenden dan religius yang dapat digali dari filsafat.

Untuk menjawab tantangan zaman, Islam secara internal menurut Haidar harus mendorong sikap moderat (wasathiyyah), sikap terbuka, dan mengupayakan persatuan. Bagi Haidar, prinsip moderasi adalah salah satu risalah pokok Islam yang digambarkan al-Qur’an dan hadits. Selain itu, sejarah mengajarkan bahwa Islam memiliki dan berproses melalui keragaman mazhab yang luar biasa yang dirawat dalam semangat persatuan.

Dialog dengan umat agama lain dan gugus peradaban lain, termasuk budaya lokal, juga perlu dilakukan untuk saling memperkaya perspektif dalam melabuhkan visi kemanusiaan agama pada kehidupan nyata.

Benang merah solusi yang ditawarkan Haidar untuk meneguhkan peran Islam dalam kehidupan masa kini adalah dengan menghidupkan sisi spiritualitas Islam. Bagi Haidar, di antara masalah pokok yang membuat Islam menjadi tumpul dan ketinggalan zaman adalah kecenderungan orientasi keagamaan pada aspek hukum. Haidar percaya bahwa aspek spiritualitas Islam yang mempromosikan penghayatan keagamaan berorientasi cinta akan mampu menguatkan kiprah agama.

Jantung penggerak peradaban adalah agama, dan jantung agama adalah spiritualitas. Menurut Haidar, pemaparan tentang ibadah dalam sumber-sumber pokok Islam pada tingkatan yang tertinggi “selalu bermakna hubungan antara makhluk dan Tuhan yang berdasarkan cinta.”

Agama yang kental dengan nuansa spiritual dan cinta dipercaya akan mampu memupuskan fundamentalisme dan radikalisme keagamaan yang kaku, keras, formalistis, dan cenderung dangkal. Di sisi yang lain, Islam Cinta, demikian Haidar menyebut, juga akan mampu menjawab problem-problem sekularisme seperti kehampaan makna hidup dan sebagainya.

Dengan Islam Cinta, Haidar percaya bahwa Islam akan menjadi lengkap sebagai “Islam Tuhan dan Islam Manusia”. Artinya, Islam tidak hanya akan melangit di dunia transenden tetapi juga akan membumi dan memberi sumbangan nyata bagi kemanusiaan.

Meski dihimpun dari berbagai tulisan yang terbit dalam rentang tahun 1986 hingga 2016, alur pemikiran Haidar dalam buku ini terlihat jelas dan cukup sistematis. Apalagi, jalinan sistematika pembahasannya ditegaskan dalam pendahuluan sepanjang 13 halaman. Namun demikian, pada beberapa bagian gagasan yang dikemukakan memang tidak cukup mendalam. Wajar, kebanyakan tulisan dalam buku ini berasal dari media massa populer dengan ruang terbatas.

Upaya untuk menguatkan kiprah agama (Islam) di era kekinian tentu saja masih membutuhkan pemikiran dan aksi lebih jauh. Buku ini dapat dilihat sebagai semacam peta umum yang memuat beberapa gagasan kunci, meski mungkin juga belum cukup lengkap. Haidar, misalnya, belum secara cukup jelas menjelaskan posisi dan strategi Islam Cinta—yang juga mengusung nilai moderasi yang tentu sangat terkait dengan nilai keadilan—dalam menghadapi kapitalisme yang eksploitatif pada orang-orang lemah yang terpinggirkan.

Pada titik ini, paling tidak buku ini ikut mengingatkan para intelektual muslim dan tokoh-tokoh agama lainnya untuk bersama-sama berefleksi dan membaca ulang agama secara kritis demi menjawab tantangan zaman yang kian kompleks.

Versi pendek tulisan ini dimuat di Koran Jakarta, 2 Juni 2017.



Read More..

Tuesday, 10 January 2017

Kebijaksanaan Islam untuk Mengarungi Kehidupan


Judul buku: Al-Hikam Al-Islamiyyah: Untaian Mutiara Kebijaksanaan Islam dalam Kitab Suci, Sabda Nabi, dan Ujaran Ulama Sufi
Penulis: Imam Jamal Rahman
Penerbit: Serambi, Jakarta
Cetakan: Pertama, Juni 2016
Tebal: 330 halaman
ISBN: 978-602-290-067-2


Kebahagiaan hidup akan sulit diraih jika hanya dijalani secara dangkal. Kebahagiaan membutuhkan penghayatan yang mendalam untuk memaknai setiap tapak saat menjalani kehidupan. Penghayatan hidup ini dapat diraih dengan orientasi yang jelas berlandaskan nilai-nilai spiritual.

Imam Jamal Rahman, praktisi dan ahli spiritualitas agama-agama, melalui buku ini memaparkan butir-butir mutiara spiritualitas Islam yang dapat dijadikan kemudi dan titik tolak orientasi dalam menjalani hidup. Ada 33 mutiara spiritualitas yang dijelaskan Rahman dalam buku ini. Sumbernya berasal dari al-Qur’an, hadis, dan ujaran ulama sufi.

Rahman memulai uraiannya dengan kutipan dari sumber yang diacu, lalu diulas secara bebas dengan penekanan pada aspek spiritualitas tertentu. Di setiap penutup ulasannya, Rahman memberikan renungan praktis yang dapat dijadikan latihan untuk membentuk dan mempertajam aspek spiritualitas yang dibahas sebelumnya.

Menurut Rahman, kisah kehidupan Nabi Muhammad adalah salah satu sumber inspirasi spiritualitas yang sangat penting. Kisah Nabi Muhammad memperlihatkan kekuatan transformatif spiritualitas ketika ego berhasil ditundukkan dan ditransformasikan untuk melayani Tuhan dari segala kemanusiaan. Kemajuan Islam yang berarti setelah Nabi hijrah ke Madinah mengajarkan kepada kita bahwa perubahan hidup itu membutuhkan hijrah pribadi—baik perpindahan spiritual maupun fisik.

Sementara itu, orientasi hidup bermula dari pengenalan diri yang cukup. Misteri kehidupan harus dijawab dengan mengetahui siapa diri kita, dari mana kita datang, dan ke mana kita akan pergi. Kaum spiritual mengajarkan bahwa kehadiran manusia tak lain adalah untuk mengenal Tuhan. Selain dengan laku ibadah, jalan untuk mengenal juga ditempuh melalui pelayanan kepada manusia dan semua ciptaan. Pelayanan yang autentik akan mengantarkan seseorang pada unsur ilahi yang terdapat pada semua makhluk.

Namun jalan spiritual ini sering terhalang oleh selubung duniawi yang menyeret manusia pada jalur yang jauh dari tujuan ilahi. Menurut Rahman, selubung spiritual itu bisa berwujud kesehatan dan kekayaan. Kata Rahman, saat hidup kita tak ada masalah, saat kita baik-baik saja dan makmur, kita tidak banyak menaruh perhatian pada masalah-masalah spiritual.

Untuk menguatkan spiritualitas, Rahman mencatat pentingnya komunitas spiritual yang autentik, yakni orang-orang dekat yang tulus, penuh cinta, dan setia untuk saling mendukung dan membimbing dalam menapak jalan spiritual. Rumi menyebut komunitas semacam ini dengan Lingkaran Cinta. Individu-individu dalam komunitas ini akan saling menyokong, ibarat dinding yang berdiri membentuk bangunan sehingga bisa menopang atap.

Rahman juga berbicara tentang spiritualitas dalam kerangka masyarakat majemuk. Menurut Rahman, kita sering terkungkung dalam diri kecil kita termasuk dengan identitas kelompok kita sendiri. Lebih jauh, kita kadang memiliki perasaan superioritas moral di hadapan kelompok lain. Bagi Rahman, ini adalah cerminan ego diri yang belum berhasil dijinakkan.

Dalam situasi ini, ego yang masih liar ini dapat menutup peluang untuk bekerja sama dengan orang di luar kelompok kita.

Dalam konteks ini, firman Allah yang menjelaskan tentang keragaman ciptaan dalam al-Qur’an surah al-Hujurat ayat 13 oleh Rahman dimaknai sebagai seruan untuk menjalin ikatan manusiawi tanpa harus terpaku pada identitas kelompok. Saling mengenal adalah basis kerja sama untuk kebajikan dan senjata untuk menumpas prasangka.

Rahman mengambil contoh kasus penolakan sebagian warga Amerika atas proposal untuk membangun satu masjid dan pusat antariman di Ground Zero di kota New York. Yang mengejutkan, 61 persen rakyat Amerika yang menolak ternyata secara pribadi tak punya kenalan seorang muslim seorang pun.

Selain gaya bertutur yang mengalir dan renyah, kelebihan buku yang versi bahasa Inggrisnya berjudul Spiritual Gems of Islam ini terletak pada aspek praktis yang dipaparkan untuk mempertajam aspek spiritualitas tertentu. Alur yang memberi ruang untuk panduan dan latihan praktis dalam buku ini persis seperti yang digunakan Rahman dalam karyanya yang lain yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, yakni The Fragrance of Faith: The Enlightened Heart of Islam (diterjemahkan dengan judul Wajah Sejuk Agama) dan Sacred Laughter of the Sufis (diterjemahkan dengan judul Tiada Sufi Tanpa Humor).

Ketika menjelaskan kehidupan Nabi Muhammad sebagai sumber inspirasi spiritualitas, misalnya, Rahman memberi panduan agar pembaca mencoba mencontoh satu laku spiritual tertentu dari Nabi dalam waktu tertentu untuk merasakan kekuatan transformatif yang bisa dicapai.

Buku ini mengajak pembaca untuk menyelam ke kedalaman sari pati kehidupan, yakni spiritualitas yang autentik, yang belakangan ini tidak saja terselubung oleh arus kehidupan duniawi, tapi juga kadang tertutup oleh spiritualitas semu yang cukup memperdaya. Buku ini mencoba menyegarkan kembali sumber-sumber pokok ajaran Islam secara kontekstual dengan bingkai dimensi spiritual yang sangat penting untuk dikemukakan di tengah kecenderungan penghayatan keagamaan yang dangkal.

Tulisan ini dimuat di Harian Radar Madura, 8 Januari 2017.



Read More..