Sunday, 6 August 2017

Mengagumi Semesta, Mensyukuri Bumi


Judul buku: Eksplorasi Tata Surya
Penulis: A. Gunawan Admiranto
Penerbit: Mizan, Bandung
Cetakan: Pertama, Mei 2017
Tebal: 276 halaman
ISBN: 978-602-441-009-4


Ketertarikan manusia terhadap fenomena alam semesta telah muncul sejak ribuan tahun silam. Tak heran, disiplin ilmu astronomi menjadi salah satu cabang ilmu tertua.

Agustinus Gunawan Admiranto, peneliti di Pusat Sains Antariksa dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), menulis buku ini untuk memaparkan kembali pengetahuan- pengetahuan dasar astronomi berkaitan dengan tata surya dengan gaya penyajian yang sederhana.

Buku yang terdiri dari lima bab ini hanya berfokus pada tata surya, bukan seluruh benda langit yang telah dipelajari manusia. Pembahasan tentang tata surya banyak terpusat pada ulasan tentang matahari mulai dari proses pembentukannya, bagian-bagian yang menyusunnya, termasuk kemungkinan habisnya bahan bakar inti di matahari yang akan menyebabkannya membesar menjadi ”bintang raksasa merah”.

Matahari saat ini diperkirakan berusia 4,5 miliar tahun ditaksir akan menjadi bintang raksasa merah pada 6,4 miliar tahun mendatang (hlm 48). Bumi satu-satunya rumah bersama manusia merupakan planet istimewa sehingga bisa mendukung berlangsungnya kehidupan yang berkembang di permukaannya.

Planet yang mengorbit matahari pada 150 juta kilometer ini memiliki air dalam tiga tingkat wujud, yakni cair, beku, dan uap. Bumi tidak terlalu panas, seperti Merkurius dan Venus serta juga tidak terlalu dingin seperti Mars. Ketebalan atmosfer bumi yang seimbang memungkinkan kehidupan berlangsung di bumi.

Jika ketebalan atmosfer bumi seperti Venus yang 80 kali lebih tebal, tidak mungkin ada kehidupan di bumi. Sebaliknya, bila lebih tipis, maka meteor akan mudah masuk ke bumi dan tidak sempat terbakar di udara (hlm 77). Di antara fakta menarik tentang atmosfer adalah bahwa 20% oksigen yang ada di atmosfer ternyata dihasilkan oleh hutan di daerah Amazon.

Atmosfer saat ini merupakan atmosfer ketiga sejak bumi terbentuk dikendalikan oleh ganggang hijau biru yang terdapat di lautan. Ganggang inilah menjaga proses yang menghasilkan keseimbangan jumlah oksigen dan karbon dioksida. Ada juga bagian membahas tentang keadaan iklim bumi saat ini khususnya terkait dengan isu perubahan iklim.

Perubahan iklim global diperkirakan terjadi mulai era revolusi industri. Kecenderungan meningkatnya iklim global disebabkan oleh semakin banyaknya gas rumah kaca (karbon dioksida dan metana) yang terlepas ke atmosfer. Namun, para ahli masih tidak sepakat seberapa besar sumbangan manusia pada peningkatan jumlah gas rumah kaca ini (hlm. 91-92).

Bagian yang menarik dari buku ini terdapat di bagian ”lampiran”. Di sini Admiranto berusaha memberikan bantahan atas ”teori” bumi datar yang belakangan cukup populer. Penganut ”teori” bumi datar ini menurut Admiranto, umumnya tergolong tidak kritis dan menyukai hal-hal sensasional.

Mereka juga menyukai teori persekongkolan, misalnya dengan mengatakan bahwa NASA didirikanolehmantantokoh- tokoh Nazi Jerman. Ada rencana jahat dari pihak tertentu mengurangi penduduk bumi secara drastis (depopulasi) atau adanya sekelompok manusia ingin membentuk satu Tata Dunia Baru.

Pandangan kelompok ini sering tidak mendidik, menakut-nakuti, dan mempersempit nalar. Kelemahan utama kelompok ini adalah mereka tidak memiliki bangunan teori yang konsisten dan utuh untuk menjelaskan klaim-klaim mereka. Bahkan, teori ini dapat dibantah dengan pengamatan dan pembuktian sederhana.

Misalnya, pembuktian dengan pergerakan kapal laut jika dilihat dari pantai atau bayangan bumi di bulan saat terjadi gerhana (hlm 272-275). Buku ini mengisi kekosongan minimnya buku ilmiah dasar tentang astronomi yang dikemas secara populer dan berbahasa Indonesia.

Penyajiannya yang tersaji dengan model tanyajawab dilengkapi dengan ilustrasi pendukung serta QR code di nyaris setiap halaman untuk menggali informasi lebih jauh di YouTube, membuat buku ini terasa nyaman dan mudah dicerna. Buku ini muncul pada saat pemanasan global terus meningkat seiring industrialisasi dan globalisasi merangsek hingga ke pelosok desa di negara-negara berkembang.

Meningkatnya pemanasan bumi berbanding lurus dengan tingkat ketamakan manusia untuk terus menerus mengeksploitasi alam. Pada satu sisi, eksploitasi alam mengakibatkan rusaknya sebagian besar hutan yang menjadi sumber keseimbangan alam.

Pada sisi lain, pusat-pusat baru industri dan pabrik-pabrik terus menghasilkan emisi gas karbon dioksida yang menimbulkan efek rumah kaca dan selanjutnya meningkatkan suhu bumi. Buku ini memberi pemahaman yang baik tentang alam semesta, termasuk bumi.

Dengan membaca buku ini, kiranya akan muncul rasa kagum sekaligus rasa syukur kita sebagai salah satu makhluk hidup yang tinggal di dalamnya. Kewajiban kita selanjutnya adalah ikut menjaga keseimbangan alamiah yang ada di dalamnya agar kehidupan bisa terus berlangsung dengan baik.


Tulisan ini dimuat di Koran Sindo, 6 Agustus 2017.


Read More..

Tuesday, 25 July 2017

Biografi Pemikiran Para Penggugat Kemapanan


Judul buku: Membongkar Rezim Kepastian: Pemikiran Kritis Post-Strukturalis
Penulis: Haryatmoko
Penerbit: Kanisius, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, 2016
Tebal: 160 halaman
ISBN: 978-979-21-4561-8


Buku yang ditulis oleh Haryatmoko ini menghimpun pemikiran singkat enam filsuf Prancis dari kelompok post-strukturalis. Mereka adalah para filsuf penggugat kemapanan, yakni Michel Foucault, Pierre Bourdieu, Jean Baudrillard, Paul Ricoeur, Gilles Deleuze, dan Jacques Derrida. Pemikiran mereka merayakan salah satu sisi corak berpikir kefilsafatan, yakni aspek dekonstruktif, yang bekerja dengan mempertanyakan pandangan tertentu yang sifatnya sudah cukup mapan untuk dikritik, digugat, dan dibongkar. Bagi mereka, kemapanan dan kepastian dapat menggiring pada kemandekan dan menghalangi perkembangan.

Michel Foucault dikenal sebagai filsuf yang mengemukakan gagasan tentang relasi kuasa dan pengetahuan. Selama ini, kekuasaan biasanya diidentikkan dengan negara sehingga kekuasaan bersifat terpusat. Menurut Foucault, kekuasaan bersifat menyebar dan produktif. Karena bersifat menyebar, mereka yang terlibat tidaklah sedikit. Hasilnya pun tidak selalu terangkum dalam hal-hal yang bersifat negatif.

Dahulu, kekuasaan sering dikaitkan dengan perang atau aturan dalam bentuk perintah dan larangan. Namun, bagi Foucault, kekuasaan dapat berwujud dalam relasi antara pasien dan klien, tes wawancara di sebuah perusahaan, atau jajak pendapat. Dari relasi-relasi semacam itu, kekuasaan yang beroperasi menghasilkan pengetahuan. Pengetahuan inilah yang kemudian dikembangkan yang pada gilirannya turut berperan dalam pembentukan individu modern. Dari situ, didefinisikanlah hal yang normal dan hal yang tidak normal (hlm. 14-17).

Jika Bourdieu mengungkap sisi narsistik setiap orang demi memperoleh pengakuan sosial, Baudrillard meletakkan fenomena konsumsi manusia modern dalam kerangka “manipulasi tanda”. Manusia modern terjebak dalam rimba tanda yang merupakan reduksi dari realitas. Cara mereka membuat keputusan konsumsi dipandu oleh aturan tanda, baik demi mendukung posisi kelasnya maupun untuk mengafirmasi hidup dan identitas mereka.

Pada titik ini, konsumsi mendorong orang untuk menjadi individualistis. Pemenuhan hasrat pada barang atau jasa konsumsi tertentu lebih ditentukan oleh dorongan pribadi sehingga lambat laun solidaritas kian luntur (hlm. 71).

Sementara itu, Paul Ricoeur membangun konsep hermeneutika yang mulai masuk ke ranah ontologis dengan mencangkokkan hermeneutika pada fenomenologi. Ricoeur menawarkan cara baca baru atas teks yang di antara kategori hermeneutikanya mendorong pembaca untuk melakukan pengambilan jarak terhadap diri sendiri dalam proses pemahaman diri (apropriasi).

Secara lebih khusus Ricoeur menawarkan pengambilan jarak dalam bentuk analogi permainan. Bagi Ricoeur, dalam kaitannya dengan hubungan antaragama, pengambilan jarak melalui permainan membuka peluang bagi perjumpaan informal yang dapat melepaskan dari keseriusan hidup dan ketakutan atas sanksi sosial. Dari situ, diharapkan ada pemahaman baru yang lebih segar dengan terbukanya kemungkinan penafsiran yang bersifat kreatif (hlm. 97-102).

Filsuf “pemberontak” lainnya adalah Jacques Derrida yang dikenal dengan metode “dekonstruksi”. Filsuf yang menjadi salah satu ikon penting pemikir post-strukturalis ini mengembangkan metode dekonstruksi untuk membongkar rezim kepastian. Dekonstruksi mencoba menawarkan cara untuk mengungkap kontradiksi dalam politik teks sehingga diperoleh pemahaman atau kesadaran yang lebih tinggi.

Dekonstruksi menyuburkan cara pandang kritis dengan mengungkap selubung ideologis yang hadir secara samar dalam politik bahasa. Penggambaran identitas terkait istilah pribumi dan pendatang serta konstruksi istilah minoritas dan mayoritas, misalnya, secara diam-diam sejak awal sudah bercorak ideologis dan jika digali lebih mendalam menyimpan kontradiksi internal yang cukup kompleks (hlm. 134-135).

Cara berpikir kritis yang coba ditumbuhkan oleh para filsuf yang dihadirkan dalam buku ini sangat penting untuk dipelajari di tengah situasi kehidupan yang diam-diam kadang menghadirkan penindasan terselubung yang bertolak dari cara berpikir yang dogmatis dan kaku.


Versi pendek tulisan ini dimuat di Koran Jakarta, 24 Juli 2017.


Read More..

Sunday, 4 June 2017

Spiritualitas Islam Menjawab Tantangan Zaman


Judul buku: Islam Tuhan, Islam Manusia: Agama dan Spiritualitas di Zaman Kacau
Penulis: Haidar Bagir
Penerbit: Mizan, Bandung
Cetakan: Pertama, Maret 2017
Tebal: xxxiv + 288 halaman
ISBN: 978-602-441-016-2


Kemajuan ilmu dan teknologi yang semakin canggih pada satu sisi ikut menenggelamkan pamor agama. Apalagi agama belakangan kadang menunjukkan wajah yang menakutkan saat terorisme dan kekerasan berdasar agama kerap terjadi.

Buku yang ditulis oleh Haidar Bagir, pendiri Penerbit Mizan, ini mencoba merekonstruksi dan menyegarkan pemahaman atas aspek-aspek pokok dalam Islam sehingga ia dapat berkiprah untuk kemanusiaan dan masa depan kehidupan dunia yang lebih baik bersama agama dan unsur peradaban masyarakat yang lain.

Pembahasan dimulai dengan memberikan gambaran masalah yang dihadapi umat manusia pada umumnya dan bangsa Indonesia pada khususnya. Secara umum, dunia menghadapi krisis makna, kehampaan hidup, dan kegalauan yang lahir seturut dengan perkembangan ilmu dan teknologi. Kemajuan teknologi komunikasi secara ironis justru melahirkan misinformasi dan disinformasi yang sebagian menggerogoti ikatan sosial dan menipiskan rasa saling percaya. Luapan informasi justru membuat orang kehilangan arah.

Kekacauan akibat disorientasi di tengah kemelimpahan informasi ini menurut Haidar turut memberi andil bagi lahirnya paham-paham keagamaan yang radikal. Ideologi radikal bagi Haidar adalah pegangan keyakinan keagamaan yang instan dan simplistik untuk mendapatkan ketenteraman hidup. Ideologi radikal ini menjadi dasar pembenaran bagi tindakan kekerasan para penganutnya di tengah rasa frustrasi akibat tekanan sosial ekonomi yang mereka hadapi.

Pada bagian berikutnya Haidar berusaha menggali kekayaan khazanah Islam yang kiranya dapat disodorkan sebagai gagasan alternatif untuk mengatasi berbagai masalah tersebut. Pada bagian ini Haidar tampak memberi penekanan pada unsur pemikiran Islam yang bercorak filosofis untuk dijadikan sebagai alat baca kritis dan kerangka pandang dalam upaya memberi jalan keluar.

Secara tegas, Haidar menyebut “hermeneutika sebagai metode untuk memahami teks agama secara lebih terbuka dan relevan dengan tantangan-tantangan masa.” Karena hermeneutika lahir bukan dari rahim peradaban Islam, Haidar juga membuat perbandingan dengan metode takwil yang menurutnya memiliki unsur yang sejalan dengan hermeneutika.

Pada bagian ini, Haidar menggambarkan busur hermeneutik (hermeneutic arc) yang dicetuskan Paul Ricouer dalam konteks Islam sebagai berikut: teks agama/naql dipahami dengan akal/‘aql, dicek lagi dengan naql, diverifikasi lagi dengan ‘aql, dan seterusnya.

Dalam hal perkembangan sains, Haidar percaya bahwa ekses buruk teknologi yang muncul di antaranya akibat perceraian sains dengan filsafat. Terlepasnya sains dari kesatuan organiknya dengan filsafat memutus kemungkinan sains untuk memberi perhatian pada aspek transenden dan religius yang dapat digali dari filsafat.

Untuk menjawab tantangan zaman, Islam secara internal menurut Haidar harus mendorong sikap moderat (wasathiyyah), sikap terbuka, dan mengupayakan persatuan. Bagi Haidar, prinsip moderasi adalah salah satu risalah pokok Islam yang digambarkan al-Qur’an dan hadits. Selain itu, sejarah mengajarkan bahwa Islam memiliki dan berproses melalui keragaman mazhab yang luar biasa yang dirawat dalam semangat persatuan.

Dialog dengan umat agama lain dan gugus peradaban lain, termasuk budaya lokal, juga perlu dilakukan untuk saling memperkaya perspektif dalam melabuhkan visi kemanusiaan agama pada kehidupan nyata.

Benang merah solusi yang ditawarkan Haidar untuk meneguhkan peran Islam dalam kehidupan masa kini adalah dengan menghidupkan sisi spiritualitas Islam. Bagi Haidar, di antara masalah pokok yang membuat Islam menjadi tumpul dan ketinggalan zaman adalah kecenderungan orientasi keagamaan pada aspek hukum. Haidar percaya bahwa aspek spiritualitas Islam yang mempromosikan penghayatan keagamaan berorientasi cinta akan mampu menguatkan kiprah agama.

Jantung penggerak peradaban adalah agama, dan jantung agama adalah spiritualitas. Menurut Haidar, pemaparan tentang ibadah dalam sumber-sumber pokok Islam pada tingkatan yang tertinggi “selalu bermakna hubungan antara makhluk dan Tuhan yang berdasarkan cinta.”

Agama yang kental dengan nuansa spiritual dan cinta dipercaya akan mampu memupuskan fundamentalisme dan radikalisme keagamaan yang kaku, keras, formalistis, dan cenderung dangkal. Di sisi yang lain, Islam Cinta, demikian Haidar menyebut, juga akan mampu menjawab problem-problem sekularisme seperti kehampaan makna hidup dan sebagainya.

Dengan Islam Cinta, Haidar percaya bahwa Islam akan menjadi lengkap sebagai “Islam Tuhan dan Islam Manusia”. Artinya, Islam tidak hanya akan melangit di dunia transenden tetapi juga akan membumi dan memberi sumbangan nyata bagi kemanusiaan.

Meski dihimpun dari berbagai tulisan yang terbit dalam rentang tahun 1986 hingga 2016, alur pemikiran Haidar dalam buku ini terlihat jelas dan cukup sistematis. Apalagi, jalinan sistematika pembahasannya ditegaskan dalam pendahuluan sepanjang 13 halaman. Namun demikian, pada beberapa bagian gagasan yang dikemukakan memang tidak cukup mendalam. Wajar, kebanyakan tulisan dalam buku ini berasal dari media massa populer dengan ruang terbatas.

Upaya untuk menguatkan kiprah agama (Islam) di era kekinian tentu saja masih membutuhkan pemikiran dan aksi lebih jauh. Buku ini dapat dilihat sebagai semacam peta umum yang memuat beberapa gagasan kunci, meski mungkin juga belum cukup lengkap. Haidar, misalnya, belum secara cukup jelas menjelaskan posisi dan strategi Islam Cinta—yang juga mengusung nilai moderasi yang tentu sangat terkait dengan nilai keadilan—dalam menghadapi kapitalisme yang eksploitatif pada orang-orang lemah yang terpinggirkan.

Pada titik ini, paling tidak buku ini ikut mengingatkan para intelektual muslim dan tokoh-tokoh agama lainnya untuk bersama-sama berefleksi dan membaca ulang agama secara kritis demi menjawab tantangan zaman yang kian kompleks.

Versi pendek tulisan ini dimuat di Koran Jakarta, 2 Juni 2017.



Read More..

Monday, 10 April 2017

Bakti Sekolah Katolik untuk Pendidikan Indonesia


Judul buku: Lembaga Pendidikan Katolik dalam Konteks Indonesia
Penulis: Paul Suparno, dkk
Penerbit: Kanisius, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, 2017
Tebal: 336 halaman
ISBN: 978-979-21-5102-2


Salah satu potret masyarakat Indonesia yang damai tecermin dari sikap aktif berbagai unsur masyarakatnya dalam menyumbangkan kerja nyata bagi pembangunan bangsa. Buku ini merekam pergulatan para pegiat pendidikan berlatar Katolik dalam ikut memperjuangkan pembangunan bangsa melalui jalur pendidikan berbasis iman.

Kerja-kerja kependidikan oleh umat Katolik Indonesia dirintis oleh seorang misionaris Belanda, Pastor Fransiskus Van Lith, SJ (1863-1926), di Yogyakarta dan Jawa Tengah yang kemudian menyebar ke seluruh Indonesia. Pelayanan di bidang pendidikan bagi Van Lith diharapkan dapat mengantarkan “pemuda-pemuda Jawa sehingga mereka mendapat kedudukan yang baik dalam masyarakat” (hlm. 6).

Lembaga pendidikan Katolik yang kemudian muncul dan berkembang hingga saat ini bertolak dari semangat keagamaan. Paul Suparno, mantan rektor Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, dalam buku ini menegaskan bahwa sekolah Katolik dipandang sebagai kehadiran Gereja dalam dunia untuk “ikut meneruskan karya keselamatan Tuhan bagi umat manusia” (hlm. 48).

Namun demikian, dalam dinamikanya, sekolah-sekolah Katolik juga menghadapi tantangan berupa mulai pudarnya nilai-nilai kekatolikan yang dulu ditekankan, seperti nilai kasih. Di antara penyebabnya diduga karena beberapa sekolah Katolik mengikuti kurikulum pemerintah begitu saja. Paul Suparno dalam buku ini menegaskan 6 nilai kekatolikan yang harus ada, seperti nilai dan semangat kasih persaudaraan, nilai sosial dan keadilan, dan semangat mau diutus bagi orang lain (hlm. 50-51).

Tarsisius Sarkim, Wakil Rektor I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, melihat keberadaan lembaga-lembaga pendidikan Katolik secara lebih luas sehingga ia mengusulkan tiga agenda penting, yakni penegasan misi, penguatan tata kelola, dan peningkatan sumber daya (hlm. 61-89). Berdasarkan evaluasi internal yang dilaksanakan oleh Komisi Pendidikan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) pada 2016 atas lembaga-lembaga pendidikan Katolik di Indonesia, ditemukan bahwa di antara tantangan yang dihadapi adalah dalam hal rancangan terintegrasi internalisasi nilai-nilai Katolik, perencanaan terpadu pengembangan institusi, dan juga pengembangan sumber daya manusia (hlm. 22).

Selain membahas aspek idealisme pendidikan Katolik berdasarkan ajaran Gereja, buku ini juga mengulas praktik pendidikan dan model-model pembelajaran yang menarik dan inspiratif yang dikembangkan beberapa lembaga pendidikan Katolik. St Kartono, guru SMA Kolese De Britto Yogyakarta, menuturkan model pembelajaran Bahasa Indonesia dengan menggunakan materi-materi aktual dari koran (hlm. 165). Ada juga pemaparan tentang Sekolah Tarakanita yang menanamkan nilai-nilai cinta lingkungan di sekolah (hlm. 231) dan juga SMP Santa Ursula Bandung yang memberikan pendidikan kewirausahaan secara lebih tertata (hlm. 267).

Buku yang memuat 20 tulisan ini merupakan refleksi internal para pegiat pendidikan berlatar Katolik untuk menegaskan dan menguatkan bakti dan kontribusinya bagi kehidupan bangsa. Model reflektif seperti ini kiranya patut dicontoh oleh unsur masyarakat yang lain yang juga memberi kontribusi di bidang pendidikan bagi bangsa Indonesia.


Tulisan ini dimuat di Koran Jakarta, 8 April 2017.


Read More..

Monday, 20 March 2017

Menakar Kematangan Hidup Berdemokrasi


Judul buku: Komunikasi dan Demokrasi: Esai-Esai Etika Komunikasi Politik
Penulis: Alois A Nugroho
Penerbit: Kanisius, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, 2016
Tebal: 240 halaman


Secara umum, demokrasi saat ini dipandang sebagai pilihan terbaik untuk menjadi acuan tata kelola kehidupan berpolitik dan bermasyarakat. Namun demikian, kenyataan menunjukkan bahwa realitas dunia politik yang berlandaskan demokrasi tak selalu mulus dan sesuai dengan harapan. Kadang ada kontradiksi, bahkan kadang ada situasi anarki.

Buku ini memuat kumpulan esai yang berusaha menyorot dan merefleksikan dinamika kehidupan politik di Indonesia khususnya di bidang komunikasi dan demokrasi dengan sudut pandang etika atau filsafat moral. Dengan sudut pandang yang bercorak reflektif dan filosofis ini, Alois A Nugroho, penulisnya, mencoba masuk ke aspek mendalam dari setiap peristiwa untuk kemudian mengulas perihal bagaimana sepatutnya kita mengambil sikap dalam situasi tersebut.

Misalnya tentang masalah kampanye negatif. Beberapa pemikir di bidang etika memandang kampanye negatif sebagai hal yang tidak etis karena dipandang lebih banyak memuat informasi yang menyesatkan atau menyimpang. Kampanye negatif kadang juga disampaikan secara anonim sehingga tak memiliki bobot pertanggungjawaban yang cukup.

Namun demikian, ada juga kelompok yang tidak sepenuhnya sepakat untuk mengutuk praktik kampanye negatif. Kampanye negatif yang rasional, yang menitikberatkan pada aspek gagasan dan kebijakan daripada aspek kehidupan pribadi, dipandang dapat meningkatkan kadar kelengkapan informasi bagi para pemilih.

Berbeda halnya dengan kampanye hitam yang disepakati tidak etis. Kampanye hitam menggerogoti semangat demokrasi karena hanya menyajikan fitnah dan menyesatkan rakyat sebagai partisipan demokrasi. Bahkan kampanye hitam dapat memecah belah kehidupan masyarakat.

Seiring dengan mulai maraknya kampanye hitam, seperti yang menimpa cawapres Boediono pada 2009 dan semakin marak pada pilpres 2014, pesan kebencian belakangan cenderung semakin meningkat seiring dengan semakin luasnya penggunakan media sosial di internet. Pesan kebencian menurut Rita Kirk Whillock sejatinya merupakan “anihilasi retoris” terhadap lawan. Pesan kebencian menutup kemungkinan dialog dengan menyudutkan dan mematikan lawan. Bahkan menurut Erich Fromm pesan kebencian juga menutup diri sendiri untuk berproses dan berubah.

Meski begitu, bukan berarti hal-hal negatif tidak boleh disiarkan di media. Penulis buku ini sepakat dengan Amartya Sen yang menyatakan bahwa media massa yang bebas seharusnya menjadi pijar demokrasi, termasuk dengan memberitakan kelompok yang menderita, terpinggirkan, atau tertindas. Di sini media massa berperan sebagai ruang publik dalam fungsi protektif, yakni melindungi rakyat dari penyalahgunaan wewenang kekuasaan.

Di era demokrasi, bagaimanapun, wewenang dan kekuasaan sangatlah penting untuk diawasi. Di salah satu bagian, buku ini mengungkap beberapa kasus etika administrasi negara yang menunjukkan bahwa kewenangan kini juga telah menjadi “komoditas langka.” Misalnya kasus Gayus dan mafia pajak. Pada level akar rumput, komodifikasi kewenangan yang melanggar etika dapat ditemukan dalam kasus pengurusan KTP, urusan kenaikan pangkat, pencalonan anggota DPRD, dan sebagainya.

Komodifikasi kewenangan jelas merupakan pelanggaran etis yang tak bisa dipandang sepele. Ia mencederai nilai dasar kewenangan yang sebenarnya diperuntukkan bagi pengaturan kehidupan bermasyarakat demi tercapainya masyarakat yang sejahtera. Singkatnya, komodifikasi kewenangan juga adalah tindakan korupsi. Sedangkan korupsi pada dasarnya adalah tindakan menikam demokrasi.

Kumpulan esai dalam buku ini semula dimuat di media massa dalam rentang tahun 2009 hingga 2015. Meski beberapa tulisan bertolak dari kasus khusus yang terjadi dalam jagad politik di Indonesia, buku ini tetap akan memiliki nilai kontekstual karena penulis menggunakan sudut pandang kefilsafatan dengan berpijak pada nilai-nilai abadi seperti keadilan, kesetaraan, tanggung jawab, dan sebagainya.

Lebih jauh, uraian-uraian reflektif dalam buku ini dapat menjadi bahan dan titik tolak untuk menakar kembali tingkat kematangan kita semua—rakyat atau masyarakat umum dan juga pengurus publik—dalam menjalani kehidupan berdemokrasi di era reformasi. Di tengah iklim komunikasi politik dan kehidupan demokrasi yang masih penuh tantangan, buku ini bernilai penting untuk mengingatkan kita semua agar terus berupaya keras membangun kehidupan demokrasi dengan landasan etika dan hati nurani.


Tulisan ini dimuat di Koran Sindo, 19 Maret 2017
.


Read More..

Tuesday, 10 January 2017

Kebijaksanaan Islam untuk Mengarungi Kehidupan


Judul buku: Al-Hikam Al-Islamiyyah: Untaian Mutiara Kebijaksanaan Islam dalam Kitab Suci, Sabda Nabi, dan Ujaran Ulama Sufi
Penulis: Imam Jamal Rahman
Penerbit: Serambi, Jakarta
Cetakan: Pertama, Juni 2016
Tebal: 330 halaman
ISBN: 978-602-290-067-2


Kebahagiaan hidup akan sulit diraih jika hanya dijalani secara dangkal. Kebahagiaan membutuhkan penghayatan yang mendalam untuk memaknai setiap tapak saat menjalani kehidupan. Penghayatan hidup ini dapat diraih dengan orientasi yang jelas berlandaskan nilai-nilai spiritual.

Imam Jamal Rahman, praktisi dan ahli spiritualitas agama-agama, melalui buku ini memaparkan butir-butir mutiara spiritualitas Islam yang dapat dijadikan kemudi dan titik tolak orientasi dalam menjalani hidup. Ada 33 mutiara spiritualitas yang dijelaskan Rahman dalam buku ini. Sumbernya berasal dari al-Qur’an, hadis, dan ujaran ulama sufi.

Rahman memulai uraiannya dengan kutipan dari sumber yang diacu, lalu diulas secara bebas dengan penekanan pada aspek spiritualitas tertentu. Di setiap penutup ulasannya, Rahman memberikan renungan praktis yang dapat dijadikan latihan untuk membentuk dan mempertajam aspek spiritualitas yang dibahas sebelumnya.

Menurut Rahman, kisah kehidupan Nabi Muhammad adalah salah satu sumber inspirasi spiritualitas yang sangat penting. Kisah Nabi Muhammad memperlihatkan kekuatan transformatif spiritualitas ketika ego berhasil ditundukkan dan ditransformasikan untuk melayani Tuhan dari segala kemanusiaan. Kemajuan Islam yang berarti setelah Nabi hijrah ke Madinah mengajarkan kepada kita bahwa perubahan hidup itu membutuhkan hijrah pribadi—baik perpindahan spiritual maupun fisik.

Sementara itu, orientasi hidup bermula dari pengenalan diri yang cukup. Misteri kehidupan harus dijawab dengan mengetahui siapa diri kita, dari mana kita datang, dan ke mana kita akan pergi. Kaum spiritual mengajarkan bahwa kehadiran manusia tak lain adalah untuk mengenal Tuhan. Selain dengan laku ibadah, jalan untuk mengenal juga ditempuh melalui pelayanan kepada manusia dan semua ciptaan. Pelayanan yang autentik akan mengantarkan seseorang pada unsur ilahi yang terdapat pada semua makhluk.

Namun jalan spiritual ini sering terhalang oleh selubung duniawi yang menyeret manusia pada jalur yang jauh dari tujuan ilahi. Menurut Rahman, selubung spiritual itu bisa berwujud kesehatan dan kekayaan. Kata Rahman, saat hidup kita tak ada masalah, saat kita baik-baik saja dan makmur, kita tidak banyak menaruh perhatian pada masalah-masalah spiritual.

Untuk menguatkan spiritualitas, Rahman mencatat pentingnya komunitas spiritual yang autentik, yakni orang-orang dekat yang tulus, penuh cinta, dan setia untuk saling mendukung dan membimbing dalam menapak jalan spiritual. Rumi menyebut komunitas semacam ini dengan Lingkaran Cinta. Individu-individu dalam komunitas ini akan saling menyokong, ibarat dinding yang berdiri membentuk bangunan sehingga bisa menopang atap.

Rahman juga berbicara tentang spiritualitas dalam kerangka masyarakat majemuk. Menurut Rahman, kita sering terkungkung dalam diri kecil kita termasuk dengan identitas kelompok kita sendiri. Lebih jauh, kita kadang memiliki perasaan superioritas moral di hadapan kelompok lain. Bagi Rahman, ini adalah cerminan ego diri yang belum berhasil dijinakkan.

Dalam situasi ini, ego yang masih liar ini dapat menutup peluang untuk bekerja sama dengan orang di luar kelompok kita.

Dalam konteks ini, firman Allah yang menjelaskan tentang keragaman ciptaan dalam al-Qur’an surah al-Hujurat ayat 13 oleh Rahman dimaknai sebagai seruan untuk menjalin ikatan manusiawi tanpa harus terpaku pada identitas kelompok. Saling mengenal adalah basis kerja sama untuk kebajikan dan senjata untuk menumpas prasangka.

Rahman mengambil contoh kasus penolakan sebagian warga Amerika atas proposal untuk membangun satu masjid dan pusat antariman di Ground Zero di kota New York. Yang mengejutkan, 61 persen rakyat Amerika yang menolak ternyata secara pribadi tak punya kenalan seorang muslim seorang pun.

Selain gaya bertutur yang mengalir dan renyah, kelebihan buku yang versi bahasa Inggrisnya berjudul Spiritual Gems of Islam ini terletak pada aspek praktis yang dipaparkan untuk mempertajam aspek spiritualitas tertentu. Alur yang memberi ruang untuk panduan dan latihan praktis dalam buku ini persis seperti yang digunakan Rahman dalam karyanya yang lain yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, yakni The Fragrance of Faith: The Enlightened Heart of Islam (diterjemahkan dengan judul Wajah Sejuk Agama) dan Sacred Laughter of the Sufis (diterjemahkan dengan judul Tiada Sufi Tanpa Humor).

Ketika menjelaskan kehidupan Nabi Muhammad sebagai sumber inspirasi spiritualitas, misalnya, Rahman memberi panduan agar pembaca mencoba mencontoh satu laku spiritual tertentu dari Nabi dalam waktu tertentu untuk merasakan kekuatan transformatif yang bisa dicapai.

Buku ini mengajak pembaca untuk menyelam ke kedalaman sari pati kehidupan, yakni spiritualitas yang autentik, yang belakangan ini tidak saja terselubung oleh arus kehidupan duniawi, tapi juga kadang tertutup oleh spiritualitas semu yang cukup memperdaya. Buku ini mencoba menyegarkan kembali sumber-sumber pokok ajaran Islam secara kontekstual dengan bingkai dimensi spiritual yang sangat penting untuk dikemukakan di tengah kecenderungan penghayatan keagamaan yang dangkal.

Tulisan ini dimuat di Harian Radar Madura, 8 Januari 2017.



Read More..