Thursday, 11 February 2016

Kemampuan Membaca sebagai Ciri Pendidikan Unggul

Landasan, Tantangan, dan Pengembangannya




Upaya untuk terus membenahi sektor pendidikan di Indonesia terus dilakukan dengan berbagai cara. Program pembenahan kurikulum, peningkatan kompetensi guru dan pengelola pendidikan, pemerataan akses pendidikan, pengembangan muatan pelajaran di bidang-bidang tertentu, dan sebagainya, telah dilakukan baik oleh pengurus publik maupun masyarakat umum. Pembenahan tersebut ada yang berupa perbaikan sistem atau terkait dengan aspek tertentu dalam dunia pendidikan.

Sekitar pertengahan 2015 yang lalu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Anies Baswedan, meluncurkan program Penumbuhan Budi Pekerti (PBP) melalui Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015. Program yang dapat dilihat kesinambungannya dengan program pendidikan karakter yang dicanangkan sejak tahun 2010 ini sempat menerima banyak tanggapan baik berupa dukungan maupun kritik. Sejumlah pakar mengkhawatirkan program ini akan sama tidak efektifnya dengan penataran P4 di era Orde Baru. Beberapa pakar mengkhawatirkan kegiatan berupa upacara bendera, menyanyikan lagu kebangsaan, atau doa bersama yang diamanatkan dalam peraturan tersebut hanya akan menjadi seremoni yang kering.

Terkait program PBP tersebut, ada hal menarik yang tampaknya masih kurang mendapat perhatian besar dari masyarakat luas. Dalam program PBP tersebut, terselip kegiatan harian berupa membaca buku nonpelajaran selama 15 menit sebelum pembelajaran dimulai. Tentang hal ini, Anies Baswedan menjelaskan bahwa dengan program ini diharapkan siswa mendapatkan porsi untuk mengembangkan potensi dirinya sendiri.

Sampai sejauh ini, tampaknya belum ada penjelasan yang cukup teperinci, khususnya dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, mengapa kegiatan membaca ini masuk dalam program PBP atau bagaimana kaitan yang lebih jelas antara membaca dan budi pekerti.

Terlepas dari soal ini, kita semua sepakat bahwa membaca itu sangat penting dalam proses pendidikan. Namun apakah membaca memang hanya terkait dengan soal ilmu dan pengetahuan?

Menurut A. Dardiri Zubairi (2014), kepala Madrasah Aliyah Nasy’atul Muta’allimin Gapura, Sumenep, berdasarkan pengamatannya di beberapa sekolah di Sumenep, ada kecenderungan bahwa siswa-siswa yang mempunyai rekam jejak rajin dalam membaca (dan menulis) berpeluang lebih mudah sukses saat melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi dan atau saat berkiprah di tengah-tengah masyarakat.

Dugaan ini patut dicermati lebih mendalam karena ini dapat mengantarkan kita pada jawaban tentang kaitan antara membaca dan budi pekerti atau dengan hal lain yang lebih luas. Tulisan ini hendak menguji dan menelusuri lebih jauh tentang keterampilan atau kemampuan membaca dalam kerangka yang lebih luas, yakni dalam konteks pendidikan unggul. Pertanyaan dasarnya: seberapa luas sebenarnya cakupan dan implikasi dari kemampuan membaca yang dimiliki seseorang khususnya siswa atau peserta didik di sekolah? Berdasarkan keluasan dan area cakupannya, bisakah kemampuan membaca kita posisikan sebagai salah satu ciri pendidikan unggul? Seberapa kuat pemosisian itu dan bagaimana nilai kontekstualnya?

Untuk memperjelas posisi dan status normatif dari kemampuan membaca, tulisan ini akan menguraikan tantangan kontekstual dari pembentukan kemampuan membaca terutama dalam kaitannya dengan era informasi yang semakin canggih ini. Setelah itu, akan dibahas juga strategi pengembangan kemampuan membaca di sekolah atau lembaga pendidikan serta mendiskusikan tantangan penerapannya.


Kekuatan Membaca

Untuk melihat lebih jauh kekuatan atau daya yang dapat dihasilkan dari kemampuan membaca, kita bisa menempuh dua jalan utama. Pertama, kita dapat membuat sebuah analisis internal yang bersifat reflektif terhadap kegiatan membaca. Pemaparan ini dapat bertolak dari refleksi atas pengalaman yang bersifat individual maupun berangkat dari berbagai penelitian psikologi kognitif yang relevan.

Jalan kedua dapat berupa uraian historis-sosiologis atas peranan kegiatan atau kemampuan membaca dalam kerangka yang lebih bersifat komunal. Pada model ini, diuraikan implikasi konkret yang bersifat faktual-sosiologis atas aktivitas membaca yang sifatnya masif berdasarkan pengalaman kelompok masyarakat tertentu.

Pada dua alur pembahasan tersebut, kegiatan atau kemampuan membaca sangat identik dengan buku. Artinya, saat berbicara tentang daya yang dihasilkan dari kegiatan membaca, yang dimaksudkan terutama adalah kegiatan membaca berobjek buku atau teks yang relatif panjang dan sistematis.

Melalui jalur analisis yang pertama, kita bertolak dari pemahaman bahwa membaca pada dasarnya adalah kegiatan yang bersifat individual berupa upaya untuk menyerap makna dari teks yang disusun secara sistematis. Pengertian ini terkait dengan kegiatan membaca yang dilakukan untuk kepentingan informatif atau keilmuan yang sifat orientasinya relatif berjangka panjang. Ini berbeda dengan kegiatan membaca dalam keperluan yang sifatnya praktis dan berorientasi jangka pendek.

Sebagai kegiatan keilmuan, membaca disebut sebagai sebuah kegiatan yang berorientasi jangka panjang karena ini terkait dengan karakter potensi inteligensi manusia. Kegiatan inteligensi manusia mengandaikan adanya waktu dan intervensi yang bersifat konstan. Diperlukan sebuah pendekatan yang bersifat memusat agar objek inteligensi dapat ditangkap secara lebih utuh (Leahy, 2001: 157).

Waktu yang relatif lama dan konstan dan disertai dengan pendekatan memusat menuntut adanya kegigihan atau tekad yang kuat dalam kegiatan membaca. Menuntaskan bacaan pada dasarnya adalah mengikuti alur gagasan penulis teks yang bisa memuat serangkaian data dan argumentasi dengan berbagai lika-liku penalarannya. Saat membaca, pembaca secara tidak langsung diajak untuk menangkap kepaduan gagasan yang dibangun oleh penulis teks melalui unit-unit gagasan yang tersusun sedemikian rupa (Mushthafa, 2013: 144).

Dengan demikian, kebiasaan membaca pada tingkat individual dapat mendorong bagi terbentuknya pribadi yang tekun dan gigih. Karakter tekun dan gigih ini, menurut penelitian Angela Lee Duckworth (2013) yang dipaparkan di TED.com, adalah kunci penting kesuksesan para pelajar atau karyawan yang ditelitinya selama beberapa tahun—bukan IQ, penampilan fisik, atau yang lainnya. Pribadi dengan tekad yang kuat akan memiliki semangat dan ketahanan yang baik untuk meraih tujuan-tujuan jangka panjang yang oleh Duckworth diibaratkan seperti pelari maraton.

Etos dan semangat keilmuan berupa kesungguhan hati yang bersifat terus-menerus, kerja keras, dan semangat pantang menyerah merupakan di antara beberapa hal yang disebutkan dalam kitab klasik Ta‘lim al-Muta‘allim yang termasuk dalam hal yang mesti dimiliki oleh seorang pelajar (Azzarnuji, tt: 20-25).

Selain membentuk individu yang tekun dan melatih diri untuk fokus dan berkonsentrasi, membaca juga mendorong kerja pikiran yang bersifat kritis. Saat mencerna teks, pembaca juga didorong untuk memadukan gagasan teks yang sedang dihadapinya dengan berbagai perasan gagasan dari teks yang telah dipahami sebelumnya. Dengan mempertemukan gagasan teks yang dibaca dengan persediaan pengetahuan pembaca berarti sama halnya dengan melangsungkan dialog di antara berbagai teks yang pernah dijumpai pembaca. Dialog antar-teks ini tentu saja bersifat lintas-masa menurut zaman penulisan teks masing-masing sesuai dengan karakternya yang sangat mungkin beragam sekali.

Dalam dialog semacam ini, pikiran didorong untuk bekerja secara kritis mulai dalam proses memahami gagasan satu teks, menemukan kesinambungan atau keterkaitannya dengan teks-teks serupa, menilai dan membandingkan kekuatan gagasan atau data yang disajikan, dan memberi makna kontekstualnya dengan lingkungan hidup dan gagasan si pembaca.

Dengan demikian, kegiatan membaca sangat jelas tampak sebagai kegiatan belajar yang bersifat aktif. Dalam kegiatan membaca, yang lebih dominan adalah aktivasi kesadaran analitis-logis. Ini berbeda dengan kegiatan menonton televisi, yang di situ titik yang berperan besar adalah gambar/imaji, yang dengan demikian “berbicara lebih langsung dan lebih menyentuh totalitas persepsi (kognitif, afektif, imajinatif)”. Karena itu, menurut I. Bambang Sugiharto, dalam kegiatan menonton kekuatan-kekuatan tak sadar (hasrat, kehendak, dst.) lebih menguasai kesadaran (Sugiharto, 1998: 110-112).

Sementara itu, melalui penelusuran historis-sosiologis, tak diragukan lagi bahwa membaca atau buku menjadi penggerak penting kemajuan peradaban. Michael H. Hart, penulis buku klasik 100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia menempatkan Nabi Muhammad sebagai tokoh paling berpengaruh. Kita tahu bahwa mukjizat terbesar Nabi Muhammad adalah kitab suci al-Qur’an yang kemudian berbentuk teks. Setelah teks al-Qur’an disusun secara padu pada masa ‘Utsman bin ‘Affan, sampai sekarang al-Qur’an telah menginspirasi lahirnya ribuan teks-teks lain (Mushthafa, 2014).

Rasanya bukanlah satu kebetulan pula jika tokoh-tokoh lain yang oleh Hart dianggap paling berpengaruh juga sangat terkait dengan kegiatan membaca. Hart, misalnya, menempatkan Ts’ai Lun, sang penemu kertas dari Tiongkok, dan Johannes Gutenberg yang dicatat sebagai penemu mesin cetak sebagai tokoh paling berpengaruh nomor tujuh dan delapan (Hart, 2012: 39-49). John Farndon, penulis buku 50 Gagasan Luar Biasa yang Mengubah Dunia menempatkan “internet” dan “menulis” di urutan pertama dan kedua gagasan terpenting yang mengubah dunia. Menurut Farndon, internet membuka informasi sehingga tumpah ruah dan mengubah cara orang berkomunikasi. Menulis dijadikan penanda untuk menyebut era prasejarah dan era sejarah. Adanya tulisan memungkinkan terawetkannya gagasan dan dokumen sehingga ia dapat dipelajari orang yang berasal dari tempat yang tak sama dan dari zaman yang berbeda (Farndon, 2011: 364-379).

Contoh terbaik untuk melihat pengaruh buku dan kegiatan membaca bagi kemajuan peradaban adalah masa keemasan Dinasti Abbasiyah di Baghdad pada abad kesembilan. Bayt al-Hikmah yang dibangun Khalifah al-Ma’mun di Baghdad pada tahun 830 tidak saja menjadi perpustakaan yang mengumpulkan buku-buku pengetahuan berbagai tema dari seluruh penjuru dunia yang terjangkau saat itu. Bayt al-Hikmah juga menjadi akademi dan biro penerjemahan yang menjadi tempat berlangsungnya dialog keilmuan antarperadaban secara intens. Proses dan dinamika kerja-kerja ilmiah berbasis kegiatan membaca dan berpusat pada buku ini melibatkan banyak pihak. Al-Ma’mun mengerahkan banyak orang untuk memburu naskah ilmu dari berbagai penjuru dunia. Bahkan al-Ma’mun juga berkorespondensi dengan Raja Leo dari Armenia untuk mencari karya-karya Yunani. Al-Ma’mun juga mempekerjakan para penerjemah yang dibayar mahal untuk mengalihbahasakan teks-teks yang berhasil diburunya itu ke dalam bahasa Arab (Hitti, 2005: 381-394; bdk. Freely, 2011: 77-101).

Dari Bayt al-Hikmah dan proyek penerjemahan itulah lahir karya-karya orisinal dan dari situ juga lahirlah praktik-praktik awal metode keilmuan berbasis observasi dan eksperimen yang kemudian disebut metode ilmiah (Farndon, 2011: 323-324).


Peradaban Tautan dan Kembalinya Scriptura Continua

Kemajuan di bidang teknologi informasi dan komunikasi memang memberi kemudahan akses dan kecepatan lalu-lintas informasi yang tiada tara. Namun begitu, tidak sedikit pihak yang mencatat potensi membahayakan internet dan globalisasi yang mengiringinya. John Updike, seorang sastrawan dari Amerika Serikat, pada tahun 1995 menulis esai menyambut Pameran Buku Frankfurt yang mencoba merefleksikan situasi dunia perbukuan di tengah membanjirnya informasi yang dituang melalui internet waktu itu.

“...sungai elektronika yang meluap tanpa pembatas dan membanjiri segalanya, tak jarang dengan rupa informasi "sampah" dan tak jelas ditujukan kepada siapa. Substansinya terlalu kerdil dibanding kejeniusan teknologinya, sementara pada saat yang sama, kekuatan dahsyat revolusi elektronika telah menggerogoti kontak dengan kehidupan” (Hadar, 2000).

Kutipan ini berusaha menunjukkan paradoks teknologi internet dalam konteks peradaban. Ada tiga poin yang dikemukakan. Pertama, ketakterbendungan arus informasi. Kedua, kedangkalan muatan informasi yang diusung. Ketiga, kecenderungan teknologi untuk mengacaukan pola hubungan masyarakat.

Saat mengantarkan permasalahan dalam pembahasan tentang pendidikan karakter di sekolah, Paul Suparno, mantan rektor Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, menyebutkan pentingnya penguatan pendidikan karakter dengan melihat pengaruh buruk informasi yang melimpah, yakni saat siswa tidak punya kemampuan kritis dalam memilah dan mengambil keputusan tindakan atas dasar informasi yang didapatkannya dari internet pada khususnya. Selain itu, pengaruh kemajuan teknologi juga melahirkan sikap hidup instan dan budaya konsumtif (Suparno, 2015: 22-25).

Penelusuran yang cukup lengkap tentang pengaruh internet pada semangat yang dibawa oleh peradaban buku dilakukan oleh Nicholas Carr dalam bukunya yang berjudul The Shallows (2011). Carr tidak memfokuskan pembahasannya pada dimensi sosiologis dari pengaruh internet, tapi ia menitiktekankan pengaruh internet bagi pembentukan cara berpikir. Kesimpulan pokok yang dikemukakan Carr dalam buku ini adalah bahwa internet menurunkan kemampuan kita untuk berpikir secara mendalam serta menggerus kemampuan kita untuk berkonsentrasi dan merenung—hal-hal yang sangat mendukung kreativitas dan inovasi. Internet mendorong cara berpikir yang dangkal, serba instan, cepat, dan massal.

Untuk tiba pada kesimpulan itu, Carr melakukan penelusuran historis tentang cara orang membaca dari waktu ke waktu dan pengaruhnya terhadap pembentukan cara berpikir (otak). Menurut Carr, sebelum abad ketiga belas, naskah tulisan berhuruf Latin tidak mengenal pemisahan antarkata dengan spasi seperti sekarang ini. Hal ini terjadi karena bahasa tulis pada mulanya mencerminkan asal muasal bahasa di dalam tuturan. Kita tahu bahwa saat berbicara kita tidak menyisipkan jeda di antara tiap kata—tak ada “spasi”. Ini yang disebut dengan scriptura continua. Scriptura continua membuat proses membaca membutuhkan daya kognitif yang besar. Membaca menjadi pekerjaan yang berat bagi pikiran. Karena itu, biasanya dahulu orang membaca dengan suara keras agar proses pemahaman gagasan menjadi lebih mudah. Di Yunani dan Romawi, kadang seseorang memerintahkan budak-budak mereka untuk membacakan teks yang ingin dicerna. Demikian pula, para penulis biasanya mendiktekan karya mereka kepada para juru tulis profesional (Carr, 2011: 61-67).

Saat para juru tulis mulai menggunakan spasi dan kemudian disusul dengan penemuan mesin cetak pada pertengahan abad kelima belas, kegiatan membaca dan menulis mulai menemukan karakter kuatnya. Perkembangan pengetahuan dan ilmu kemudian memiliki jiwa individualisme yang kuat. Membaca dan menulis menjadi kegiatan pribadi terutama dalam pengertian pergulatan gagasannya dan nuansa reflektifnya. Elizabeth Eisenstein menyebutkan bahwa membaca secara mendalam kemudian juga menyertakan “keheningan, kesenyapan, dan sikap yang sama yang dulunya diasosiasikan dengan ibadah spiritual semata”. Pada titik ini daya dobrak kegiatan membaca dan menulis mulai tampak. Karakter yang semakin personal dalam kegiatan membaca dan menulis mendorong orang untuk lebih berani menuangkan dan mengolah gagasannya bahkan berhadapan dengan otoritas agama di Eropa waktu itu (Carr, 2011: 69-74).

Namun revolusi teknologi informasi dan komunikasi yang terjadi saat ini yang ditandai dengan kehadiran internet menurut Carr ternyata justru menarik kembali lahirnya kerumitan membaca yang serupa dengan fenomena scriptura continua. Carr memaparkan banyak penelitian yang secara umum mengarah pada kesimpulan bahwa rancangan menu dan tampilan di halaman-halaman internet mengerdilkan kerja otak untuk berpikir mendalam dan reflektif. Halaman-halaman internet dipenuhi dengan tautan sehingga internet bisa disebut sebagai peradaban tautan. Tautan di sebuah halaman, menurut beberapa penelitian, memecah konsentrasi pembaca. Carr menjelaskan prosesnya sebagaimana berikut:

Sebagai pembaca, ketika kita mendapati sebuah link, kita harus berhenti sejenak, sekurang-kurangnya selama seper sekian detik, memberi kesempatan korteks prafrontal kita untuk mengevaluasi apakah kita harus mengkliknya ataukah tidak. Pengarahan kembali sumber-sumber mental, dari membaca kata-kata menuju pemberian penilaian, mungkin tidak terasa bagi kita—otak kita cepat—tapi ternyata menghambat pemahaman dan ingatan, terutama kalau sering diulang-ulang. Ketika fungsi-fungsi eksekutif korteks prafrontal berjalan, otak kita bukan hanya menjadi terlatih tetapi juga diperlemah. Secara amat nyata web mengembalikan kita pada waktu scriptura continua, ketika membaca merupakan tindakan yang berat secara kognitif (Carr, 2011: 128).

Carr di antaranya mengutip penelitian tahun 2001 yang membandingkan dua kelompok pembaca yang diminta membaca teks yang sama. Bedanya: satu diminta membaca teks linier (dokumen kertas tradisional) dan satu lainnya membaca teks versi web yang memiliki sejumlah tautan. Hasilnya, orang-orang yang membaca teks linier memahami lebih banyak, mengingat lebih banyak, dan belajar lebih banyak dibandingkan pembaca halaman web bertautan. Carr juga memaparkan penelitian-penelitian serupa. Misalnya, ada yang meneliti teks dengan tautan yang lebih banyak cenderung menurunkan kadar pemahaman pembacanya dibandingkan dengan teks dengan tautan yang lebih sedikit. Dari situ disimpulkan bahwa “ada kaitan yang kuat antara jumlah link dan disorientasi atau kelebihan beban kognitif” (Carr, 2011: 133-135).

Memang ada benarnya juga bahwa di hadapan perangkat teknologi, termasuk internet dan alat-alat terkait, ada manusia sebagai subjek atau pelaku yang akan menentukan hasil yang lebih jelas dan konkret. Kecenderungan internet yang sedemikian rupa ini bukanlah satu kemestian di hadapan subjek yang beragam karakter, kemampuan, dan latar belakangnya. Tentu saja, ada banyak hal yang bernilai positif dari kehadiran internet. Namun, poin pokok yang ingin dikemukakan Carr dalam bentuk yang sederhana adalah bahwa internet menurunkan kemampuan membaca secara mendalam. Akhirnya, membaca sekilas (skimming) menjadi bentuk kegiatan yang dominan—bukan membaca intensif. Di satu bagian, Carr menggambarkan kecenderungan ini dengan metafor yang menarik: “yang sedang kita alami adalah pembalikan dari sejarah awal peradaban: kita berevolusi dari pengolah pengetahuan pribadi menjadi pemburu dan peramu di belantara data elektronis” (Carr, 2011: 148).


Generasi Gadget dan Ruang Hening di Sekolah

Tepat di titik yang menantang ini, masyarakat Indonesia pada umumnya dan para siswa di sekolah pada khususnya menghadapi tantangan potensi negatif teknologi informasi dan kesiapan mereka menyongsong era yang semakin kompleks. Ninok Leksono, redaktur senior Kompas, mengungkapkan sebuah ironi bahwa keterhanyutan masyarakat Indonesia dalam gelombang pasang revolusi teknologi informasi tidak hanya mungkin berada di wilayah akademik dan kebudayaan, tapi juga secara ekonomi. Sejauh ini, Indonesia menjadi target pasar yang sangat potensial bagi produsen teknologi informasi. Pada tahun 2008, belanja Indonesia untuk teknologi informasi dan komunikasi mencapai Rp 27 triliun per tahun, sedangkan kontribusi Indonesia dalam bidang kreasi atau produksinya justru minimal—untuk tidak mengatakan tidak ada (Leksono, 2011: xi-xii).

Perkembangan pengguna internet di Indonesia terus menanjak. Menurut data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pada tahun 2003 pengguna internet di Indonesia berjumlah sekitar 8 juta atau 3,6 persen. Jumlah ini naik menjadi 63 juta pada 2012, 71,2 pada 2013, dan 88,1 pada 2014. Kemudian, kecenderungan pengakses dari perangkat bergerak (mobile) juga semakin meningkat. Pada 2013, pengakses internet dari perangkat seluler berjumlah 65 persen, lalu pada 2014 naik menjadi 85 persen. Selanjutnya, menurut data tahun 2012, mayoritas pengakses internet (64,2 persen) berusia 12-34 tahun. Ini berarti, kalangan muda, termasuk pelajar, adalah pengguna mayoritas (Nistanto, 2015; Rusman, 2013: 35).

Generasi muda yang merupakan pengguna baru (“mualaf”) internet ini patut kita pikirkan keberadaannya jika kita memahami dan menerima berbagai kemungkinan negatif internet pada pembentukan cara berpikir mereka. Jika persoalan ini kita kembalikan pada peran sekolah maka pertanyaannya adalah: apa yang telah dilakukan sekolah untuk menyiapkan generasi muda dengan bekal yang cukup baik dalam menghadapi arus informasi dan internet pada khususnya yang berpotensi mengikis kemampuan berpikir mendalam dan mendorong sikap hidup instan?

Pada titik inilah penulis mengemukakan pandangan bahwa idealnya sekolah harus memiliki sejumlah rancangan program sebagai upaya untuk meningkatkan kompetensi membaca siswa. Kemampuan membaca yang baik idealnya dijadikan landasan pokok bagi upaya membangun pendidikan unggul, karena, sebagaimana uraian di atas, kemampuan membaca dapat mendorong bagi lahirnya potensi kreativitas, inovasi, dan sikap kritis. Gagasan untuk menjadikan kemampuan membaca sebagai landasan pokok pendidikan unggul ini bernilai kontekstual dan antisipatif karena arah perkembangan dunia dan teknologi informasi akan terus berlangsung.

Di tengah kultur belajar yang masih lemah dalam masyarakat kita, kehadiran internet yang semakin luas ini bisa saja menghambat upaya peningkatan mutu pendidikan jika tidak dibarengi dengan upaya kerja ekstra dan perhatian khusus. Bentuk perhatian khusus yang dimaksud di sini adalah dengan menjadikan kemampuan membaca sebagai landasan pokok atau ciri dasar pendidikan unggul.

Dilihat secara lebih dekat, perhatian pada peningkatan kemampuan membaca bagi siswa bisa juga disebut sebagai langkah untuk merawat ruang hening dalam diri siswa di tengah hiruk pikuk mereka di dunia gadget. Ruang hening itu, yang di antaranya dapat dijumpai siswa dalam kegiatan membaca intensif, belakangan juga cenderung diabaikan atau kurang diperhatikan seiring dengan upaya pengembangan metode pembelajaran kolaboratif secara berlebihan.

Susan Cain, penulis buku Quiet: The Power of Introverts in a World That Can’t Stop Talking (2012), memaparkan bahwa ada kecenderungan sekolah dan ruang kerja belakangan dirancang bukan sebagai ruang hening. Hal ini berangkat dari asumsi bahwa kreativitas dan produktivitas tumbuh dari tempat yang desain ruangannya tidak “individualistik”. Ruang kerja, misalnya, didesain tanpa dinding, hanya dengan sekat pendek. Bangku-bangku di kelas belakangan dibuat berkelompok. Bahkan, menurut Cain, untuk bidang pelajaran yang sifatnya cenderung lebih bersifat individual, seperti matematika dan pelajaran mengarang, siswa di sekolah kadang diminta untuk bekerja secara berkelompok. Susan Cain menyebut sekolah dan lingkungan kerja cenderung mengakomodasi karakter kaum ekstrover dibandingkan kelompok introver. Bahkan, ada pandangan di kalangan guru bahwa siswa yang introver dipandang sebagai siswa bermasalah.

Ruang hening dalam kegiatan membaca intensif memang tampak lebih cocok bagi kaum introver, dan ini yang sekarang cenderung kurang mendapat ruang di sekolah. Padahal, Cain mengungkapkan bahwa kaum introver memiliki kekuatan tersendiri yang juga dibutuhkan dalam kehidupan sosial. Cain mencatat bahwa menurut riset, siswa introver di sekolah cenderung lebih bagus nilainya dan lebih berpengetahuan. Bahkan, para pemimpin yang membawa perubahan di dunia termasuk dalam kelompok kaum introver, seperti Mahatma Gandhi, Eleanor Roosevelt, dan Rosa Parks. Cain juga menyebut tokoh-tokoh agama seperti Nabi Muhammad, Nabi Musa, Nabi Isa, dan Buddha, melakukan perubahan di masyarakat dengan daya reflektif mereka yang bertolak dari ruang hening (Cain, 2012).


Minimnya Sarana dan Siasat Menyemarakkan Kegiatan Membaca

Dari uraian ini, maka program membaca buku nonpelajaran selama 15 menit sebelum pembelajaran dimulai sebagaimana disebutkan dalam Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti (PBP) sangatlah cocok untuk dijadikan titik tolak pengembangan kemampuan membaca sebagai landasan pendidikan unggul. Tentu saja dibutuhkan program-program yang lain untuk meningkatkan kemampuan membaca di sekolah sesuai dengan potensi, permasalahan, dan konteks lokal masing-masing.

Agus M. Irkham, pegiat literasi, menanggapi peraturan menteri tersebut dengan menyinggung perpustakaan desa dan perpustakaan daerah untuk turut mengambil peran meski diakui bahwa pelaksanaannya masih cukup sulit. Selain itu, dia juga mengingatkan kewajiban pemerintah untuk membangun perpustakaan sekolah. Seruan ini berangkat dari kenyataan bahwa ketersediaan perpustakaan sekolah di Indonesia masih sangat minim. Dia mengutip data yang menyebutkan bahwa SD yang memiliki perpustakaan sekolah berjumlah 30 persen, SMP 36 persen, dan SMA 54 persen (Irkham, 2015). Harian Kompas edisi 23 April 2012 melaporkan bahwa dari 3.100 perguruan tinggi swasta di Indonesia, hanya 35 persen yang punya perpustakaan relatif baik.

Minimnya fasilitas inti, yakni perpustakaan sekolah, untuk meningkatkan kemampuan membaca ini menjadi permasalahan mendasar yang harus mendapatkan perhatian jika kita semua, khususnya pengurus publik, percaya bahwa keunggulan di bidang pendidikan akan sangat baik jika dibangun di atas dasar kemampuan membaca atau kecintaan pada buku. Namun demikian, terlepas dari minimnya sarana, tentu saja para pegiat pendidikan, pengurus publik, pengurus sekolah, para guru, dan masyarakat, harus terus berupaya bersiasat mengatasi kekurangan dan kelemahan di lingkar kewenangannya masing-masing dengan kegiatan yang sesuai dan terjangkau.

Saat terlibat dalam program penanaman kebiasaan membaca di SMA 3 Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, bersama beberapa guru kami menginisiasi program yang disebut Perpus Masuk Kelas. Di lembaga pendidikan yang belum memiliki perpustakaan sekolah ini, kami memilih cuplikan naskah yang bersumber dari buku, majalah, surat kabar, atau internet yang menarik dan memiliki keunggulan tertentu. Cuplikan yang berkisar antara sekitar 500 hingga 1500 kata diketik ulang di selembar kertas folio dan tiap naskah diperbanyak sekitar 40 lembar.

Naskah cuplikan dipilih dengan kriteria tertentu, di antaranya bahwa ia mengangkat tema atau ide yang menarik dan atau inspiratif serta dekat dengan kehidupan atau pengalaman siswa, memiliki gaya bertutur naratif atau mudah dicerna, dan bisa mendukung kegiatan pembelajaran dan pendidikan. Lebih dari sekadar cuplikan, naskah tersebut dilengkapi dengan kamus kecil di bagian akhir untuk memudahkan siswa dalam mencerna tulisan sekaligus memperkaya perbendaharaan kosakata.

Sekitar 100 naskah dengan beragam tema yang saat ini kami miliki ini diantarkan tiap hari ke ruang kelas pada jam pelajaran pertama. Ada perangkat administrasi yang dibuat untuk mencatat naskah yang sudah dibaca di tiap kelas setiap hari agar siswa dapat membaca naskah yang bervariasi.

Tanggapan positif siswa kami temukan dalam beberapa bentuk. Ada siswa yang ingin memfotokopi naskah tertentu. Ada yang menyalin beberapa kosakata baru. Ada yang ingin membaca buku sumber fragmen naskah.

Untuk program yang kami sebut Perpus Masuk Kelas inilah para guru dapat berkontribusi bersama-sama dengan saling menyumbang naskah terpilih sehingga sekolah bisa memiliki naskah yang lebih banyak. Kami membayangkan jika banyak guru dan sekolah yang mencoba menghimpun naskah terpilih seperti ini, maka sekolah-sekolah dapat bertukar dan saling memperkaya naskah (Mushthafa, 2013: 147-156).

Selain itu, SMA 3 Annuqayah juga membuat program Perpus-dalam-Kelas. Sekolah membuat lemari kecil yang diletakkan di semua kelas, lalu lemari itu diisi dengan buku-buku pilihan untuk dibaca siswa. Juga karena dana yang terbatas, buku-buku dalam Perpus-dalam-Kelas ini dipilih dengan cukup ketat dengan kriteria yang serupa dengan pemilihan naskah Perpus Masuk Kelas. Saat ini tiap kelas di SMA 3 Annuqayah memiliki rata-rata sekitar 50 eksemplar buku terpilih.

Program penanaman kebiasaan membaca yang lainnya berupa Tantangan Membaca. Dalam waktu tertentu, dalam hal ini satu bulan, siswa ditantang untuk membaca 5 buku terpilih di antara buku yang tersedia di kelas masing-masing. Bukti ketuntasan membaca berupa ringkasan atau resensi dengan alur umum dan kisi-kisi yang diarahkan dari sekolah. Siswa yang bersedia memaparkan pengalaman membaca mereka tidak hanya diberi sertifikat, tapi juga penghargaan buku dari sekolah.

Kegiatan Tantangan Membaca ini belakangan cukup populer di sekolah-sekolah di Indonesia berkah perjuangan gigih seorang aktivis literasi, Satria Dharma, yang juga menjadi tokoh kunci dalam organisasi Ikatan Guru Indonesia (Dharma, 2014: 52-59). Pada pertengahan 2015, Dinas Pendidikan Pemerintah Kota Surabaya menerbitkan surat yang meminta sekolah-sekolah di Surabaya untuk melaksanakan program Tantangan Membaca di jenjang SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/SMK/MA. Kebijakan ini di antaranya merupakan bagian dari kelanjutan dari pencanangan kota Surabaya sebagai Kota Literasi pada 2 Mei 2014.

Tiga program di atas adalah contoh siasat yang bisa dilakukan sekolah untuk menumbuhkan kebiasaan membaca intensif di kalangan siswa. Tentu saja, program semacam ini membutuhkan dukungan yang juga bersifat sistemik. Artinya, ada dukungan dari para pengambil kebijakan di sekolah sehingga program semacam ini dapat terlaksana dengan baik.

Untuk bisa mendapatkan dukungan, idealnya para pimpinan dan guru di sekolah punya visi yang sama dalam memandang peran strategis kemampuan membaca bagi siswa. Lebih dari itu, sebenarnya dalam masalah ini keteladanan guru dan kepala sekolah menjadi penting. Harus diakui, salah satu masalah yang menghambat dorongan membaca di sekolah di antaranya adalah belum kuatnya teladan dari para guru. Guru kadang hanya mendorong untuk membaca tapi bahkan tidak tahu untuk memberikan contoh bahan bacaan yang bermutu.

Peluang-peluang kegiatan yang lain untuk menumbuhkan kebiasaan membaca dan mendekatkan siswa dengan buku juga masih terbuka. Di antaranya berupa kegiatan yang sifatnya kerja sama di antara sekolah-sekolah atau lembaga yang telah melaksanakan program tertentu di bidang pembiasaan membaca. Demikian pula, kegiatan-kegiatan lain yang lebih menekankan kepada peningkatan peran guru dan pengelola sekolah untuk penanaman atau penguatan pembiasaan membaca.


Reorientasi Visi Pendidikan Unggul

Sekali lagi, untuk menggerakkan dan menghidupkan upaya penanaman kebiasaan membaca di sekolah pada tingkat paling dasar dibutuhkan visi di kalangan guru, pengelola sekolah, dan pengambil kebijakan terkait di tingkat lokal. Persepsi para guru, pengelola sekolah, dan pengambil kebijakan tentang ciri atau kriteria pendidikan unggul akan menentukan apakah penanaman kebiasaan membaca di sekolah akan memperoleh dukungan nyata—baik secara kebijakan maupun juga secara anggaran.

Sejauh ini, ada kesan bahwa keunggulan di sekolah lebih banyak ditentukan oleh persepsi yang bersifat populer yang secara relatif di antaranya juga dibentuk oleh media. Dalam beberapa tahun terakhir, kriteria keunggulan sekolah juga dipersepsikan dengan prestasi pada ajang-ajang lomba seperti olimpiade sains nasional atau internasional. Beberapa sekolah secara sengaja menargetkan dan mengupayakan agar siswanya dapat meraih prestasi di lomba bertaraf nasional atau internasional tersebut. Namun begitu, ukuran yang seperti ini pun kadang bisa tampak bersifat dangkal karena terkesan hanya memanfaatkan siswa tertentu demi popularitas.

Penelitian Raihani (2011: 99-103, 150-157, 211-217, 277-281) tentang kepemimpinan sekolah transformatif di beberapa sekolah di Yogyakarta di antaranya mengemukakan pandangan komunitas sekolah tentang keberhasilan sekolah (sekolah sukses). Dari tiga sekolah negeri yang diteliti, tidak ada yang secara khusus menyebutkan kemampuan membaca sebagai salah satu tolok ukur atau indikator keberhasilan sekolah. Jawaban yang muncul menyebutkan bahwa keberhasilan sekolah dapat diukur dengan nilai Ujian Nasional, seberapa banyak lulusannya yang diterima di perguruan tinggi terkemuka, ketersediaan fasilitas modern yang lengkap, kedisiplinan, keterampilan kerja, dan sebagainya.

Istilah “sekolah unggul” di antaranya diperkenalkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Wardiman Djojonegoro, pada 1994. Waktu itu, sekolah unggul adalah sekolah yang disiapkan secara khusus seperti dengan seleksi khusus untuk siswa baru, sarana penunjang yang mendukung, guru yang mumpuni, dan sebagainya. Namun, konsep dan praktik sekolah unggul yang seperti ini tidak lepas dari kritik karena dinilai cenderung diskriminatif (Permanasari, 2015).

Mengarahkan kembali kemudi sekolah untuk meraih keunggulan dengan berdasar pada kemampuan membaca tampaknya dapat mengatasi soal diskriminasi dan kecenderungan pemaknaan yang dangkal ini. Dengan siasat dan kerja sama yang baik, program pembentukan kebiasaan membaca di sekolah sangat mungkin dilakukan meski bentuk nyatanya memang perlu disesuaikan dengan situasi sekolah masing-masing. Dengan kekuatannya yang cukup besar dan potensial, kemampuan membaca dapat pula menjadi strategi untuk mengatasi berbagai keterbatasan di dunia pendidikan kita, sebagaimana tergambar dalam kutipan berikut:

...sebagai ruang belajar, buku mampu menembus berbagai keterbatasan yang dimiliki oleh ruang belajar seperti di sekolah. Kurikulum, kebijakan pendidikan nasional, keterbatasan alokasi waktu, dan mungkin faktor-faktor teknis lainnya, menjadi tantangan yang bisa menghambat pemenuhan semangat keilmuan murid di sekolah. Sebaliknya, buku menyerahkan banyak faktor penentu ruang belajar kepada si pembaca, sehingga dia dapat lebih leluasa dalam memenuhi hasrat dan semangat keilmuan serta “keliaran” imajinasi dan kreativitasnya (Mushthafa, 2013: 144).

Senada dengan ini, A. Dardiri Zubairi (2014) membagikan kisah-kisah siswa di lingkungannya yang disebutnya “siswa pinggiran” yang dapat mengatasi berbagai keterbatasan fasilitas di sekolahnya dan keterbatasan ekonomi di keluarganya di antaranya berkat tempaan kemampuan membaca yang ditumbuhkan di sekolah. Menurut Dardiri, kultur membaca dan menulis mampu merawat mimpi-mimpi anak-anak di madrasah pinggiran untuk melampaui kondisi sosio-historisnya “sebagai anak keluarga miskin, anak desa, dan anak yang seringkali mengalami perlakuan diskriminatif serta dipandang sebelah mata karena sekolah di madrasah”.

Sampai di sini, kiranya terjawab sudah bahwa amanat Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti yang di antaranya memuat program pembiasaan membaca bernilai strategis jika didalami dan dikembangkan. Bahkan, jika dipahami secara mendalam, dicermati makna kontekstualnya, dan dilaksanakan secara ajek, program ini dapat benar-benar mendukung pada program pendidikan karakter.

Sudah saatnya para pengelola pendidikan dan pengurus publik terkait melakukan langkah-langkah pengembangan pendidikan yang lebih pokok, lebih bermakna, memberi dampak jangka panjang, dan mampu menjawab tantangan zaman. Penekanan pada upaya penanaman kebiasaan membaca secara mendalam diharapkan dapat menjadi modal yang kuat untuk menyiapkan generasi yang tangguh dan kritis. Dari mereka, diharapkan kemajuan peradaban masyarakat yang kuat dan beradab sebagai sebuah bangsa dapat lebih mudah dicapai.

Wallahu a‘lam.


Bahan Rujukan

Azzarnuji, tt, Ta‘lim al-Muta‘allim: Thariq al-Ta‘allum, Surabaya: Nurul Huda.

Cain, Susan, 2012, “The Power of Introverts,” presentasi TED Talks di Long Beach California pada Februari 2012, diakses di https://www.ted.com/talks/susan_cain_the_power_of_introverts/transcript?language=en pada 25 Juli 2013.

Carr, Nicholas, 2011, The Shallows: Internet Mendangkalkan Cara Berpikir Kita?, Bandung: Mizan.

Dharma, Satria, 2014, The Rise of Literacy, Surabaya: Eureka Academia.

Duckworth, Angela Lee, 2013, “The Key to Success? Grit,” presentasi di TED Talks Education di New York pada April 2013, diakses di https://www.ted.com/talks/angela_lee_duckworth_the_key_to_success_grit/transcript?language=en, pada 23 Juli 2013.

Farndon, John, 2011, 50 Gagasan Luar Biasa yang Mengubah Dunia, Jakarta: Gramedia.

Freely, John, 2011, Cahaya dari Timur: Peran Ilmuwan dan Sains Islam dalam Membentuk Dunia Baru, Jakarta: Gramedia.

Hadar, Ivan A., 2000, “Buku dalam Banjir Elektronika,” Harian Kompas, 29 Juli 2000.

Hart, Michael H., 2012, 100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia, Jakarta: Noura Books.

Hitti, Philip K., 2005, History of the Arabs: Rujukan Induk dan Paling Otoritatif tentang Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Serambi.

Irkham, Agus M., 2015, “Minat Baca Tak Bisa Menunggu,” dalam Harian Koran Tempo, 19 Agustus 2015.

Leahy, Louis, 2001, Siapakah Manusia? Sintesis Filosofis tentang Manusia, Yogyakarta: Kanisius.

Leksono, Ninok, 2011, “Membaca Kita, Sekarang, dan Esok Hari,” kata pengantar dalam buku Nicholas Carr, 2011, The Shallows: Internet Mendangkalkan Cara Berpikir Kita?, Bandung: Mizan.

Mushthafa, M., 2013, Sekolah dalam Himpitan Google dan Bimbel: Visi Pendidikan, Tantangan Literasi, Pendidikan Lingkungan, Yogyakarta: LKiS.

Mushthafa, M., 2014, “Inspirasi al-Qur’an untuk Literasi,” Harian Radar Surabaya, 7 Desember 2014.

Nistanto, Reska K, 2015, “Pengguna Internet Indonesia Tembus 88 Juta,” Kompas, 26 Maret 2015, diakses di http://tekno.kompas.com/read/2015/03/26/14053597/pengguna.internet.indonesia.tembus.88.juta pada 10 Desember 2015.

Permanasari, Indira, 2015, “Sekolah Unggul dan Penyakit Kambuhan Tahun Ajaran Baru,” Harian Kompas, 14 Juli 2015, diakses di http://print.kompas.com/baca/2015/07/14/Sekolah-Unggul-dan-Penyakit-Kambuhan-Tahun-Ajaran pada 10 Desember 2015.

Raihani, 2011, Kepemimpinan Sekolah Transformatif, Yogyakarta, LKiS.

Rusman, 2013, “Pengakses Internet di Indonesia dalam Angka,” dalam Majalah Intisari, April 2013.

Sugiharto, I. Bambang, 1998, “Tafsir dalam Permainan,” dalam Ahmad Sahal, dkk (Ed.), Utan Kayu: Tafsir dalam Permainan (Karya Pilihan Komunitas Utan Kayu), Jakarta: Yayasan Kalam.

Suparno, Paul, 2015, Pendidikan Karakter di Sekolah: Sebuah Pengantar Umum, Yogyakarta: Kanisius.

Zubairi, A. Dardiri, 2014, “Membangun Kultur Baca dan Menulis: Ikhtiar Merawat Mimpi Siswa ‘Pinggiran’,” makalah Seminar Hari Pendidikan Nasional bertema “Memajukan Kehidupan Bangsa dengan Jejaring Gerakan Literasi di Sekolah” di SMA 3 Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep, 24 April 2014.


Tulisan ini dimuat di Jurnal Literasi Volume 01 Nomor 01 Desember 2015-Februari 2016 yang diterbitkan oleh Dewan Pendidikan Kabupaten Sumenep.

4 komentar:

Satria Dharma said...

Sebuah artikel yang sangat menarik...! Rasanya kita perlu mengajak banyak pegiat literasi lainnya untuk merumuskan sebuah gerakan bersama untuk mendorong bangkitnya kegemaran membaca di sekolah dan dimasyarakat. Bagaimana...?! :-)

M Mushthafa said...

Terima kasih atas apresiasinya, Pak Satria Dharma. Betul, ide-ide untuk mendorong kemampuan dan kegemaran membaca dan menulis harus didorong dengan sebuah GERAKAN seperti yang sudah dicontohkan Pak Satria. Saya sangat setuju bahwa harus ada gerakan, dalam arti kerja (ber)sama, untuk tujuan ini.

Wibowo Akhmad said...

Bacaan yang inspiratif, meskipun sy bukan seorang guru. Tapi pengetahuan ini perlu saya miliki untuk menanamkan kegemaran membaca pada anak2 sy. Tksh pak mustofa

M Mushthafa said...

Terima kasih atas apresiasinya, Pak Wibowo Akhmad.