Thursday, 15 January 2015

Resep Kaum Sufi untuk Transformasi Diri

Judul buku: Psikologi Sufi untuk Transformasi Hati, Jiwa, dan Ruh
Penulis: Robert Frager, Ph.D.
Penerbit: Zaman, Jakarta
Cetakan: Pertama, 2014
Tebal: 372 halaman


Ritme kehidupan manusia modern melaju dengan kecepatan tinggi. Rutinitas sehari-hari nyaris tak memberi jeda untuk sejenak merenung dan mengevaluasi terkait hal-hal mendasar yang sifatnya substansial. Tak heran, manusia modern kerap dihinggapi keterasingan.

Buku yang ditulis oleh Robert Frager, seorang mursyid yang juga doktor psikologi dari Harvard University, ini memberikan uraian sistematis untuk membawa pembacanya pada refleksi ke sisi terdalam diri manusia. Untuk masuk ke wilayah tersebut, Frager yang juga dikenal dengan nama Syekh Ragip al-Jerrahi ini tidak menggunakan perspektif psikologi Barat. Ia menggunakan pendekatan tasawuf.

Menurut Frager, psikologi Barat memiliki sejumlah kelemahan untuk bisa menyelam ke kedalaman diri manusia. Di antaranya, psikologi Barat menempatkan kesadaran rasional sebagai puncak kesadaran manusia. Selain itu, dalam kerangka psikologi Barat, perasaan akan identitas yang ditandai dengan harga diri dan perasaan yang kuat akan jati diri ego sangatlah penting. Padahal, itu semua akan menjelma tabir yang menghalangi diri manusia dengan Tuhan, unsur terpenting dalam pandangan dunia tasawuf (hlm. 38-41).

Salah satu kelebihan buku ini adalah uraiannya yang sangat sistematis. Setelah secara umum menjelaskan sudut pandang tasawuf dan perbedaannya dengan psikologi Barat dalam melihat manusia, Frager secara tertata menguraikan tiga unsur mendasar manusia, yakni hati, diri (nafs), dan ruh.

Dalam menjelaskan tentang hati, Frager menggunakan uraian sufi terkemuka, al-Hakim al-Tirmidzi, tentang empat stasiun hati. Menurut al-Tirmidzi, manusia memiliki empat stasiun hati, yakni dada (shadr), hati (qalb), hati-lebih-dalam (fu’ad), dan lubuk-hati-terdalam (lubb). Tiap stasiun menggambarkan tingkat spiritualitas yang berbeda. Dada (shadr) merupakan titik mula cahaya Islam yang menjadi tempat pertempuran kekuatan positif dan negatif. Jika kekuatan positif menang, unsur ilahiah dalam hati yang merupakan pusat spiritual akan menyala dan berkembang sehingga orang itu naik tingkat menjadi seorang mukmin (hlm. 64-66).

Di sisi lain, ada nafs (diri) yang dalam tawasuf digambarkan secara bertingkat. Manusia memiliki tujuh tingkat nafs yang juga menunjukkan tingkat spiritualitas. Namun, berbeda dengan empat lapis hati, nafs di tingkat terendah hanya menyimpan potensi keburukan. Itulah nafsu tirani. Saat manusia dikuasai nafsu tirani, yang terpikir olehnya hanya kenikmatan duniawi. Nafsu tirani menempatkan manusia pada posisi budak kesenangan pribadi. Ia kecanduan pada pujian. Sebagaimana namanya, ia menyerang diri manusia secara berulang dan berusaha membentuk menjadi kebiasaan (hlm. 102-105).

Transformasi diri terjadi saat seseorang bisa mengubah kekuatan utama yang menguasai dirinya dari nafsu rendah ke yang lebih tinggi. Secara berurut, ketujuh nafs itu adalah nafs tirani, penuh penyesalan, terilhami, tenteram, rida, diridai, dan suci (hlm. 99).

Sementara itu, ruh manusia tidak berupa lapisan atau tingkatan. Ruh manusia dalam model kaum sufi digambarkan memiliki tujuh dimensi. Ketujuh dimensi ruh itu—yakni ruh mineral, ruh nabati, ruh hewani, ruh pribadi, ruh insani, ruh rahasia, ruh maharahasia—memiliki unsur positif dan negatif sekaligus. Yang perlu dilakukan adalah menyelaraskan atau menyeimbangkan ketujuh sisi ruh tersebut (hlm. 164-167).

Selanjutnya, Frager menerangkan cara untuk menghidupkan hati, menjinakkan nafsu, dan menyeimbangkan ruh. Amalan-amalan tasawuf pada dasarnya mengarah pada hal tersebut. Frager menguraikan enam amalan utama tasawuf, yakni berpuasa, mengasingkan diri, adab, pelayanan, mengingat Tuhan, dan mengingat mati (hlm. 233-267). Selain keenam amalan tersebut, Frager menekankan pentingnya guru yang berperan sebagai pembimbing spiritual (hlm. 294-295).

Selain sistematika yang runtut, kelebihan buku ini adalah cara penyajiannya yang penuh dengan kisah penguat untuk mengantar pembaca pada refleksi mendalam. Selain itu, di setiap akhir bab, Frager memberi arahan berupa latihan yang bersifat praktis terkait tema yang dibahas.


Versi yang lebih pendek dari tulisan ini dimuat di Koran Jakarta, 15 Januari 2015.


2 komentar:

Rachma An-Nuur said...

Assalamualaikum, maaf. saya pengen banget punya buku ini. kira2 saya harus beli dimana? sepertinya di toko buku, baik Online mau toko buku belum ada. terimakasih

M Mushthafa said...

Rachma, ini buku sudah setahun terbitnya. Pasti ada di toko buku di Semarang atau daring. Atau langsung di toko daring Penerbit Zaman atau Serambi. Jika masih kesulitan, silakan hubungi saya di musthov@gmail.com.