Sunday, 16 November 2014

Menjawab Ironi Era Manusia


Judul buku: Dunia Anna: Sebuah Novel Filsafat Semesta
Penulis: Jostein Gaarder
Penerbit: Mizan, Bandung
Cetakan: Pertama, Oktober 2014
Tebal: 246 halaman


Paul Crutzen, seorang ahli kimia dari Belanda, menyebut zaman kita saat ini sebagai Era Manusia atau Antroposen. Istilah ini merujuk pada besarnya dampak kehadiran manusia pada bumi. Dampak tersebut terangkum dalam frasa yang cukup populer beberapa dekade terakhir ini: perubahan iklim.

Menurut Crutzen, Era Manusia dimulai sejak akhir abad ke-18. Sejak itu, kadar CO2 di atmosfer meningkat secara teratur. Akibatnya, terjadi banyak penurunan mutu lingkungan, seperti pencemaran yang semakin akut, keanekaragaman hayati yang terus tergerus, cuaca ekstrem yang semakin tak menentu, yang semuanya diikuti dengan sejumlah kejadian buruk bagi manusia dan makhluk hidup lainnya.

Isu lingkungan dan perubahan iklim ini rupanya juga menarik minat Jostein Gaarder, penulis asal Norwegia yang sebelumnya dikenal dengan novel filsafat berjudul Dunia Sophie. Selain Dunia Sophie, Gaarder juga menulis novel-novel yang bernuansa filsafat, seperti Misteri Soliter dan Gadis Jeruk.

Novel yang dalam terjemahan bahasa Indonesia berjudul Dunia Anna ini adalah karya terbaru Gaarder, yakni diterbitkan pada tahun 2013. Sebagaimana karya-karyanya yang lain, dalam novel ini Gaarder menggunakan tokoh utama perempuan berusia remaja—yang dalam novel ini bernama Anna—untuk menyampaikan gagasan-gagasan utamanya kepada pembaca.

Berlatar tahun 2012 di Norwegia, Anna yang berusia 16 tahun bersama kekasihnya yang bernama Jonas merasa gelisah dengan dampak perubahan iklim yang dia saksikan di Norwegia. Salju yang biasanya tebal di sekitar pergantian tahun tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Pada saat yang sama, orang-orang memperbincangkan beberapa ekor rusa kutub yang berkeliaran di perkebunan—sesuatu yang tak biasa.

Dengan beberapa tanda tersebut, Anna dan Jonas menunjukkan kepeduliannya pada masalah perubahan iklim. Namun, sesuai dengan karakter Gaarder, kepedulian mereka tidak difokuskan pada bentuk gerakan nyata di lapangan. Keduanya tidak bergerak pada level aksi advokasi. Gaarder lebih banyak menyajikan renungan mendalam yang tampil dalam dialog kedua remaja tersebut. Namun begitu, dialog keduanya tidak melulu berkutat dalam hal yang bersifat filosofis. Keduanya juga menggali strategi nyata apa yang bisa dilakukan untuk menanggulangi krisis lingkungan yang dihadapi umat manusia.

Yang menarik, Gaarder telah memiliki strategi yang tepat untuk memperkuat gagasannya tentang perubahan iklim. Novel yang diterjemahkan dari bahasa Norwegia ini menggunakan latar dua lapis. Selain dunia Anna dan Jonas yang berlatar tahun 2012, ada juga tokoh Nova yang hidup pada tahun 2082. Anna tidak lain adalah nenek buyut Nova, yang dalam novel ini juga merupakan gadis remaja.

Kisah berlapis yang memang menjadi ciri khas Gaarder dalam karya-karyanya yang lain tampak sangat cocok untuk memperkuat problem perubahan iklim. Bagaimanapun, isu perubahan iklim menjadi semakin penting jika dipikirkan dalam kerangka lintas-generasi. Kepedulian terhadap lingkungan tidak lain adalah kepedulian atas umat manusia generasi mendatang. Dalam bahasa Gaarder, isu krisis iklim bukanlah konflik antar bangsa. “Yang saling berhadapan dalam konflik ini ialah generasi-generasi,” tulis Gaarder.

Pada tahun 2082, Nova digambarkan mewarisi sebuah dunia yang sekarat. Banyak sekali jenis flora dan fauna yang sudah musnah dari bumi. Yang ada hanya rekaman gambar atau video aneka makhluk yang tersimpan dalam sekumpulan arsip digital. Ada juga kebun binatang internasional versi “virtual” di Den Haag yang binatang-binatangnya tidak terdiri dari darah dan daging tapi tercipta dari sinar laser. Kebun binatang ini dibuat sebagai pengingat bagi umat manusia tentang pemusnahan besar-besaran akibat ulah mereka.

Dunia Anna dan dunia Nova disajikan saling bergantian dalam novel ini. Kedua dunia yang berlatar tahun berbeda dan berjarak 70 tahun ini silih berganti saling memperkuat ironi Era Manusia: bahwa kehadiran manusia memang benar-benar berdampak luar biasa pada bumi dan makhluk hidup yang ada di dalamnya.

Pesan yang mengemuka dengan sangat kuat dalam novel ini adalah soal tanggung jawab manusia untuk bersikap bijak dalam menggunakan sumber daya bumi. Gaarder tampak ingin memberi peringatan tentang ironi Era Manusia. Manusia yang sering disebut sebagai makhluk cerdas atau bijak (homo sapiens) nyatanya terbukti berbuat yang sesuka hati pada alam dan lingkungan sehingga memberi dampak buruk. Jika demikian, di manakah wawasan etis yang dimiliki manusia?

Dengan kerangka imajiner-futuristik yang dibangun dalam alur cerita novel ini, Gaarder menunjukkan bahwa apa yang kita lakukan saat ini, dalam bentuk sesederhana dan sekecil apa pun, dapat membentuk wajah bumi di masa depan yang bisa saja di luar bayangan kita. Melalui imajinasi Anna, Gaarder membuat pengakuan bahwa kita adalah generasi yang egois dan brutal yang semena-mena mengeksploitasi alam dan mengabaikan nasib generasi mendatang.

Pesan Gaarder ini tak disampaikan hanya melalui renungan para tokoh utamanya yang bercorak filosofis atau reflektif. Melalui Anna dan Nova, Gaarder juga mengungkap data-data faktual yang dapat menggugah kepedulian kita atas isu-isu lingkungan. Misalnya, tentang jumlah CO2 yang telah dilepaskan manusia di atmosfer selama sepuluh tahun terakhir, atau juga perbandingan dampak lingkungan dari sebuah perjalanan udara dari Oslo ke New York pulang-pergi.

Melalui novel ini, Gaarder mengajak umat manusia untuk berani “menjadi lebih besar daripada diri sendiri”. Secara sederhana, ajakan Gaarder ini berarti seruan untuk melepas egoisme yang sempit. Gaarder, yang pada tahun 1997 bersama istrinya menginisiasi penghargaan internasional bernama Sophie Prize bagi mereka yang peduli lingkungan, menegaskan bahwa “aku adalah bagian dari—aku juga mengambil bagian dalam—sesuatu yang lebih besar dan lebih berkuasa ketimbang diriku.”

Dengan cara ini, sekali lagi Gaarder menekankan pentingnya kepedulian dan tanggung jawab sesama manusia terutama dalam kerangka lintas-generasi. Yang penting digarisbawahi, Gaarder tampaknya juga berharap adanya kerja sama yang kuat antarbangsa di dunia untuk mengatasi krisis iklim. Dalam novel ini, digambarkan bahwa Nova menjalin hubungan dengan seorang pemuda Arab yang menjadi pengungsi iklim di Norwegia. Demikian pula, dalam salah satu dialog Anna dengan psikiaternya, tersirat ajakan untuk tidak berprasangka buruk pada orang-orang Arab.

Untuk poin yang terakhir ini, Gaarder cukup mewakili pandangan terbuka masyarakat Norwegia yang menjadi kebijakan politik pemerintah saat ini untuk menerima kaum imigran dari berbagai wilayah, termasuk imigran muslim dari Asia dan Afrika. Sikap Gaarder ini bukan tanpa alasan. Pandangan terbuka semacam ini penting dikembangkan karena bagaimanapun problem krisis iklim bukanlah masalah yang dihadapi kelompok masyarakat tertentu, tapi merupakan masalah umat manusia secara keseluruhan.

Penggunaan tokoh remaja dalam novel ini menjadi sangat kuat relevansinya karena kaum muda dapat memainkan peran yang sangat penting untuk mengubah wajah dunia menjadi lebih hijau dan lestari.


Tulisan ini dimuat di Harian Jawa Pos, 16 November 2014.

0 komentar: