Thursday, 4 April 2013

Dekor Ramah Lingkungan


Setelah saya memasang foto kegiatan Temu Guru Penulis di SMA 3 Annuqayah yang dilaksanakan 21 Maret lalu di sebuah grup Facebook, ada sebuah komentar menarik dari Ahmad Fawaid Sjadzili, seorang teman yang saat ini menjadi dosen di STAIN Pamekasan. Berbeda dengan komentar orang lain yang menyorot tema kegiatan atau narasumber yang hadir, Fawaid mengomentari dekor yang menjadi latar acara. Fawaid menulis bahwa ia menyukai kreativitas pembuat latar (dekor) yang mau bersabar dengan menggunting kertas dan menghindari cara-cara instan.

Memang, dari foto kegiatan tersebut terlihat bahwa dekor yang digunakan bukanlah spanduk dari plastik dengan huruf-huruf yang dicetak rapi dari program pengolah desain di komputer. Dekor berlatar kain biru dongker yang kemudian ditempeli kertas-kertas bertuliskan nama kegiatan itu dibuat secara manual oleh siswa.

Seingat saya, SMA 3 Annuqayah tidak pernah mengeluarkan biaya untuk membuat banner (spanduk) kegiatan yang menggunakan plastik dan dicetak dari desain komputer itu. Sejak saya menjabat sebagai kepala sekolah pada pertengahan 2010, saya memang menegaskan bahwa saya tidak suka dengan banner sekali pakai itu.

Selain biayanya relatif mahal, dekor menggunakan banner itu terasa mubazir karena hanya digunakan sekali. Lagi pula, dekor dengan cara manual (model lama) buat saya memberi kesempatan bagi pembuatnya untuk bersentuhan secara langsung dengan banyak benda, mulai dari gunting, kertas, lem, dan juga kain. Sedangkan desain berbasis komputer relatif terpusat pada komputer. Paling jauh, bila menggunakan komputer, perancangnya mencari bahan-bahan dari internet.



Sebenarnya tidak semua banner akan menjadi mubazir setelah digunakan di sebuah acara. Ada banner yang dibuat untuk kegiatan yang sifatnya rutin. Artinya, ia akan dipergunakan kembali pada kegiatan serupa di waktu yang berbeda. Untuk yang seperti ini, bagi saya tidak masalah membuat banner dengan bahan plastik. Atau, banner tersebut bisa saja dimanfaatkan untuk keperluan lain setelah digunakan pada acara yang dimaksud. Misalnya, digunakan sebagai latar sorot untuk LCD proyektor.

Pertengahan 2012 lalu, SMA 3 Annuqayah, misalnya, pernah menyelenggarakan bedah buku bekerja sama dengan salah satu unit perusahaan PT Mizan Pustaka, Bandung, dan Mizan menyediakan banner berbahan plastik dalam ukuran yang cukup lebar. Setelah kegiatan itu, kami memanfaatkan banner tersebut untuk kegiatan di luar ruangan yang membutuhkan latar sorot LCD proyektor.

Bagi sekolah yang memiliki dana besar, membuat banner berbahan plastik itu mungkin tidak masalah secara keuangan. Tapi bagi kami, sekolah yang dana kegiatannya cukup minim, sekian ratus ribu rupiah tampak akan jauh lebih bermanfaat untuk dibelanjakan buku bacaan untuk menambah koleksi perpustakaan atau bahan pengayaan referensi guru. Atau untuk membiayai kegiatan sekolah lainnya.

Terkadang dekor manual yang dibuat di SMA 3 Annuqayah menggunakan bahan-bahan yang mungkin bisa disebut sampah, seperti plastik bekas bungkus deterjen, atau juga koran bekas. Pada pertengahan 2009, saat memaparkan hasil proyek kegiatan lingkungan dalam kerangka School Climate Challenge Competition yang diadakan oleh British Council Indonesia, siswa SMA 3 Annuqayah membuat dekor dengan menggunakan sampah plastik. Demikian pula, pada kegiatan Kemah Lingkungan (2) yang diadakan oleh Pemulung Sampah Gaul (PSG) SMA 3 Annuqayah Juni 2012 lalu, siswa menggunakan sampah plastik sebagai bahan dekor.


Mengurangi penggunaan dekor yang sekali pakai pada dasarnya merupakan bagi dari upaya untuk mendorong siswa dan komunitas sekolah untuk lebih peka dalam menggunakan barang-barang keperluan sehari-hari. Secara tidak langsung siswa diajak berpikir tentang asal-muasal benda-benda yang dipergunakan dan ke mana selanjutnya benda-benda itu bergerak.

Dekor manual bagi saya menjadi pilihan karena sifatnya yang lebih ramah lingkungan. Lebih dari itu, ini juga menjadi sarana untuk menanamkan nilai kepekaan dan sikap cinta lingkungan, yakni untuk menghemat penggunaan sumber daya alam, di tengah arah kehidupan yang kini semakin serba instan.

10 komentar:

Anonymous said...

bukannya lebih praktis pakai yang dicetak? cepat dan efisien secara waktu?

M Mushthafa said...

Apakah semua yang cepat dan praktis itu lebih baik? Ide dasar tulisan ini sebenarnya juga melawan sikap hidup instan.

Asy'ari Khatib said...

Semakin jauh menjalani kehidupan instan, semakin sadarlah kita bahwa banyak hal yang kita korbankan. Sepintas pola hidup instan ini memang tampak memberi kenyamanan, tetapi harga yang harus kita bayar teramat mahal. Tidak berbanding. Bukan hanya dari sisi penggerusan terhadap nilai-nilai spiritual, tetapi juga dari aspek-aspek lain yang bersifat lahiriah.

M. Faizi said...

bukan sekadar dekor model lama, yang ada dalam gambar di atas kayaknya tanpa mal. artinya, banner dibuat dengan jenis huruf yang tidak baku. sepintas memang tampak tidak rapi, tapi itu justru mengensankan betapa kreatif


dekor paling kreatif menurut saya dekor buat acara lan fang.

M. Faizi said...

silakan dicek dekor dalam acara ini

http://1.bp.blogspot.com/_N3mmDU8Jwww/TFdgacryIKI/AAAAAAAAAS4/XWR3Jof5FSE/s1600/P1070428.JPG

M Mushthafa said...

Ya, mungkin semacam improvisasi.
Dekor acara Lan Fang memang kreatif. Tapi sempat ada guru yang kurang setuju karena mengunakan seragam sekolah sebagai kain. Sementara meletakkan pakaian yang digantung di tempat umum cukup tabu untuk prang tertentu. Itulah risiko kreativitas dan inovasi. Wallahualam.

M Mushthafa said...

Betul, Pak. Sikap hidup instan kadang mengorbankan banyak hal. Bahkan spiritualitas pun belakangan juga kadang ditawarkan secara relatif instan.

rampak naong said...

ha...ha...tulisan jenengan ini ra..terasa menampar kesadaran saya. di sekolah saya sudah mulai pesen-pesenan banner..kayaknya saya sudah harus tobat nih..

salam kreatif ra

M Mushthafa said...

@A Dardiri: Jika setelah acara banner yang dibuat tak akan banyak dipergunakan, lebih baik dekornya pake yang model lama saja.
Terima kasih.

Untung Wahyudi said...

Waktu masih jadi pengurus organisasi santri di pesantren (2000-2002), saya dan teman-teman senang sekali pake dekorasi yang biasa, dibikin sendiri dengan menggunakan kertas warna-warni. Ini juga menuntut kami untuk belajar dengan tekun seni membuat tulisan letter (saya dulu menyebutkan begitu). Kadang kami harus lembur untuk membuat dekorasi.