Saturday, 16 March 2013

Air Hujan Mencari Jalan Pulang

Air menggenang di tepi jalan masuk ke kompleks PP Annuqayah setelah hujan lebat mengguyur. Foto diambil pada 21 November 2008, dengan kamera Nokia E50.

Di musim hujan, tak ada orang mengeluh soal kekurangan air. Namanya saja musim hujan. Air tumpah nyaris tiap hari dari langit. Tanah lebih sering basah. Tak ada debu beterbangan. Pohon-pohon segar menghijau dan bermekaran.

Namun coba ingat musim kemarau. Tanah kerontang. Debu akan sangat cepat menebal di bangku dan meja yang sehari dua hari tak dibersihkan. Pohon-pohon gersang. Orang akan enggan menanam pohon di musim kemarau, kecuali ia bersiap untuk secara rutin memberinya jatah air setiap satu atau dua hari.

Ke manakah perginya air hujan yang turun selama beberapa bulan di musim penghujan? Di manakah ia berada saat musim kemarau tiba?

Air hujan yang turun ke bumi itu selalu merindukan pulang. Tapi hamparan bumi telah memberinya nasib yang berbeda-beda.

Bersyukurlah kau, wahai air hujan, jika di saat musim hujan kau menemukan jalan yang lapang untuk masuk ke kedalaman tanah. Kau akan mengikuti akar-akar tanaman yang menghunjam ke perut bumi. Atau bisa saja kau akan menyusuri terowongan-terowongan mini yang dibor oleh si lemah cacing yang tak berkaki. Atau mungkin kau menemukan orang yang berbaik hati yang memberimu celah lebar, sumur resapan, sehingga kau lebih mudah diantar ke kedalaman.

Tapi jika tanah telah ditutupi aspal atau dilapisi semen, kau akan berjalan ke sana kemari, wahai air hujan. Catatan nasib dan perjalananmu akan lebih panjang. Kau harus berkelana lebih lama untuk menemukan jalan menuju pulang. Kau harus bergentayangan. Kau harus bekerja keras mencari sisa-sisa celah di antara sampah-sampah plastik yang menghadang jalanmu. Aspal, semen, dan plastik, terlalu keras untuk kau tembus. Dan perjalananmu mungkin harus lebih banyak di permukaan.

Jika kau harus bergentayangan dan bersusah payah mencari jalan pulang, mungkin akhirnya kau akan kesal. Lalu pikiranmu digelayuti hasrat untuk membalas dendam. Kau lalu berhimpun dan bergandeng tangan menyatukan kekuatan. Dan pesta pembalasan pun kau rayakan. Itulah yang mungkin secara langsung kau lakukan di musim hujan.

Sedang bila tiba musim kemarau, kau telah berada di sana di kejauhan, di sungai yang mengering dan lautan yang mulai kotor dengan sampah plastik. Kau tak menemukan tempat yang leluasa untuk berdiam di daratan, di kedalaman.

Jadi jangan heran, wahai manusia, bila saat kemarau air begitu jauh di sana, entah di mana. Karena tanah tak memberinya pintu untuk sekadar bertamu. Dan pohon-pohon pun mengerang kepanasan diterpa terik setiap siang. Dan tanah tak bisa lagi merasakan sejuknya pelukanmu, wahai air hujan.

Namun begitu, wahai manusia, jangan hanya bisa mengutuk pada nasib. Berbuatlah sesuatu. Mumpung masih musim hujan, mari bantu air menemukan jalan pulang.


Baca juga:
>> Diguyur Hujan

4 komentar:

Mahalli Ra said...

"Mumpung masih musim hujan, mari bantu air menemukan jalan pulang."

Saya seperti sedang membaca buku-buku untuk matakuliah Sosiologi Lingkungan.

M. Faizi said...

tadi siang saya lewat Grand Canyon-nya Guluk-Guluk, yaitu Congaban. Ada tanah longsor di sana. Beberapa orang sedang membersihkanb longsoran. Entah mereka atas kesadaran sendiri atau sedang menjalankan tugas dari siapa.

Zyadah said...

terima kasih telah mengingatkan.
salam ta'dhim.

M Mushthafa said...

@Mahalli: kalau buku teks/pelajaran seperti ini tulisannya, gimana ya rasanya?
@Faizi: ya, korban balas dendam sudah banyak. Tapi kita ternyata pelupa akut.
@Zyadah: terima kasih telah mampir dan berkomentar.