Friday, 25 March 2011

Juara Sepanjang Masa


Hampir tiga bulan yang lalu, di sebuah pertemuan dengan wali murid di sekolah tempat saya mengajar, ada sebuah pertanyaan menarik yang dilontarkan oleh seorang wali murid. Dia bertanya tentang prestasi murid di sekolah dalam ajang perlombaan baik di tingkat lokal, regional, maupun nasional. “Apa ada yang pernah menang olimpiade sains baik di tingkat regional atau nasional?” katanya.

Pertanyaan ini saya duga muncul setelah belakangan masyarakat Madura, khususnya di wilayah Sumenep dan Pamekasan, cukup sering mendapat informasi di media massa tentang pelajar Madura yang menang di ajang bergengsi olimpiade sains internasional.

Faktanya, murid-murid di sekolah tempat saya mengajar, SMA 3 Annuqayah, tak memiliki prestasi bergengsi seperti itu. Menurut catatan sekolah, murid SMA 3 Annuqayah kebanyakan “hanya” pernah menang di beberapa ajang lomba tingkat kabupaten. Memang, sekolah kami masih belum punya prioritas untuk membibit murid-murid di ajang lomba seperti itu. Kami menghadapi banyak keterbatasan. Pembelajaran sains, terutama yang mengarah pada prestasi akademik seperti ini, masih belum menjadi agenda pengembangan yang utama.

Sejauh ini, pikiran saya tentang prioritas pengembangan pendidikan di sekolah lebih banyak tertuju pada upaya untuk menciptakan satu model pendidikan yang kontekstual, yakni suatu model pendidikan yang betul-betul berupaya menghubungkan aktivitas pembelajaran dengan kebutuhan murid dan komunitas masyarakat. Setelah beberapa tahun bergelut di dunia pendidikan, saya merasa bahwa pendidikan di sekolah sering tidak cukup tersambung dengan kebutuhan anak didik dan masyarakat serta kurang mampu memancing daya kritis mereka membaca kenyataan hidup di sekitar.

Contoh yang sering saya kemukakan untuk gagasan ini terkait dengan bidang pertanian dan kesehatan. Saya kadang menyesalkan mengapa sekolah kurang menyentuh dan mengembangkan hal yang terkait dengan pertanian dan kesehatan dari apa yang selama ini sudah tumbuh dan berkembang di masyarakat. Padahal murid-murid di sekolah tempat saya mengajar hampir semua berlatar belakang keluarga petani dengan kemampuan ekonomi yang terbatas.

Saya cukup sering bertanya-tanya kenapa sekolah tidak berusaha memahami, menelaah lebih dekat, dan bahkan mungkin mencarikan jalan keluar bagi keluhan-keluhan dan kesulitan hidup yang dihadapi kaum petani. Tentang pengembangan pupuk, benih, pestisida, pemasaran hasil pertanian, dan sebagainya. Ini bukan berarti sekolah harus ikut-ikutan masuk ke wilayah politik atau kebijakan. Paling tidak ada upaya-upaya nyata untuk bisa ikut berempati dengan masalah-masalah sehari-hari yang dihadapi petani.

Saya yakin bahwa para petani sesungguhnya punya khazanah pengetahuan tentang bagaimana mengolah lahan dan produk pertanian mereka—demikian juga halnya di bidang kesehatan. Nah, yang saya sesalkan, di tengah ancaman hilangnya khazanah pengetahuan lokal gara-gara tergeser oleh gugus pengetahuan (modern) baru (di bagian ini, saya teringat Vandana Shiva yang menyinggung tentang penyingkiran pengetahuan lokal oleh ideologi developmentalisme), mengapa sekolah seperti diam saja?

Buat saya, kepekaan untuk membaca masalah yang ada di masyarakat semacam ini perlu diutamakan untuk didorong di sekolah. Dengan kata lain, sesederhana apa pun pengetahuan yang mungkin dan berhasil diolah serta dicapai oleh murid dan komunitas sekolah pada umumnya, yang paling penting adalah bagaimana capaian itu bisa memberi manfaat kepada masyarakat dan komunitas. Paling tidak, jika belum ada hal yang berhasil dicapai, kegiatan pembelajaran oleh murid dan guru di sekolah diarahkan pada visi seperti ini.

Kembali ke soal ajang kompetisi seperti olimpiade sains internasional sebagaimana disebut di atas, saya kadang bertanya-tanya: di manakah mereka saat ini, pelajar-pelajar yang pernah menorehkan prestasi emas di olimpiade internasional itu? Apa yang sudah mereka berikan kepada komunitas tempat mereka dibesarkan? Apakah mereka bisa turut serta menjaga dan mengembangkan khazanah pengetahuan nenek moyang mereka?

Maka menjawab pertanyaan si wali murid di atas tadi, saya katakan bahwa untuk saat ini, sekolah kami lebih memprioritaskan pada upaya penumbuhan semangat berbagi kepada masyarakat, semangat untuk memberikan hal sekecil apa pun pada masyarakat, yang kalau bisa tak hanya bersifat sesaat, tapi berkelanjutan. Jika ada murid punya kemampuan menjahit, mari kita dorong dia untuk dapat mengajarkan keterampilannya itu pada rekannya di sekolah. Jika ada yang bagus mengaji al-Qur’an, mari dorong dan beri dia kesempatan untuk mengajarkannya pada teman di sekolah.

Saya berpikir bahwa prestasi di lomba-lomba, jika hanya menjadi alat (entah untuk tujuan apa), kadang bisa melenakan. Bila sudah menang lomba ini itu, seakan semuanya selesai. Sampai di situ saja. Padahal pendidikan di sekolah bukan dirancang agar anak pintar menjawab soal-soal di ajang cerdas cermat atau saat menghadapi ujian.

Tentu cara pandang seperti ini bukan serta merta berarti bahwa menang di ajang lomba bertaraf internasional bukan menjadi impian kami. Forum semacam itu sangat baik untuk memberi kesempatan murid-murid memiliki pengalaman dan interaksi yang lebih kaya—meski pengalaman yang kaya juga bisa didapat dari forum-forum lain di luar ajang lomba.

Sekolah tempat saya mengajar masih memiliki banyak keterbatasan. Dengan dana yang terbatas, kami berupaya mengelola kegiatan pengembangan mutu pendidikan, termasuk yang secara langsung berkaitan dengan kegiatan ekstra-kurikuler, dengan penekanan visi pada pembentukan sistem pendidikan yang menekankan pada upaya menjawab tantangan dan kebutuhan kontekstual masyarakat yang berkesinambungan dan padu.

Dengan kerangka ini, prestasi kependidikan pada akhirnya buat saya terutama bukanlah soal menang di lomba ini itu. Tapi lebih pada bagaimana murid-murid dibekali kepekaan, kemampuan, pengetahuan, dan pengalaman untuk membaca dan merespons persoalan di sekeliling mereka. Memang mungkin prestasi semacam ini tak cukup mudah terlihat secara langsung. Tak ada piala dan panggung megah yang membanggakan. Tapi saya pikir jenis prestasi yang semacam ini dapat lebih baik, setidaknya pada sisi nilai keberlanjutan dan manfaat bagi masyarakat.

Saya pikir, dengan visi semacam ini, saya ingin menjaga agar kegiatan pendidikan dapat tetap memihak pada kelompok-kelompok marginal yang rentan terhadap berbagai bentuk ancaman kehidupan global sekarang ini. Bagi saya, agenda visi semacam ini cukup menantang karena harus dinegosiasikan dalam sebuah sistem yang cukup rumit dan tak steril dari kepentingan banyak pihak. Akan tetapi, jika kami nanti berhasil membuat sedikit saja langkah maju dalam kerangka visi semacam ini, ya, sedikit saja, rasanya kami seakan telah menjadi juara sepanjang masa.

5 komentar:

inspiring idea said...

Berkibarlah Annuqayahku! :-D

Bernando J. Sujibto said...

Gus, mebaca tulisan ini, saya jadi ingat waktu berdiri di pojokan sekolah SMA-mu, di tengah hasil kreasi anak-anak masa depanmu. Begitu agung prestasi yang sebenarnya di sana, sbeuah perestasi yang bisa dijumput langsung oleh yang membutuhkannya. BUkan prestasi yang dikukus ke dalam/menjadi medali! Lanjutkan Gus, ini adalah awal yang sebenarnya tentang pendidikan itu!

naqib said...

saya tertarik dengan fenomena penyingkiran pengetahuan lokal oleh ideologi developmentalisme. saya melihat bagaimana peristiwa ini sedang benar-benar menggerogoti generasi kita saat ini tanpa sama sekali disadari.Hal ini terjadi baik pada perorangan maupun pada lembaga, termasuk di pesantren kita Annuqayah. Mempertahankan nilai-nilai lokal inilah yang harus kita usahakan meskipun kita juga butuh juara-juara lomba sebagai pemicu semangat.Semoga pikiran sang Kepala dipahami oleh warga sekolah.

M Mushthafa said...

K Naqib, terima kasih atas kunjungan dan komentarnya. Penyingkiran pengetahuan lokal, betul, ini ancaman nyata. Yang terpenting, harus segera diambil tindak konkret. Ngereng..

Nailul Hasan said...

nice note, salam kenal Pak dari Pasean-Pamekasan