Saturday, 27 March 2010

Perkenalan yang Terlambat


“Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali,” demikian sebuah ungkapan bijak mengatakan. Kalimat ini terlintas di pikiran saya saat baru beberapa menit menonton film dokumenter berjudul Addicted to Plastic (2009). Di bagian pembuka film itu, ada gambaran singkat betapa kehidupan kita mulai dari kamar tidur hingga berbagai kegiatan yang lain telah dikepung habis-habisan oleh plastik.

Saya merasa terlambat berkenalan dengan informasi penting perihal plastik—dengan berbagai masalahnya. Meski saat duduk di bangku Madrasah Aliyah pernah tertarik pada isu lingkungan dan sempat menulis sebuah artikel tentang lingkungan, saya merasa cukup terlambat untuk mendapatkan “pencerahan” yang pada gilirannya berlabuh pada sikap yang konsisten, lebih konkret, dan lebih luas.

Saat mengikuti acara Environmental Teachers’ International Convention (ETIC) 24-29 Maret 2008 yang lalu di Kaliandra, Pasuruan, momentum “pencerahan” itu pun datang. Forum yang kaya inspirasi itu mendorong saya untuk kemudian menemukan berbagai informasi mendasar yang cukup revolusioner buat saya berkaitan dengan isu lingkungan.

Plastik adalah yang paling awal. Hasil penelusuran saya di internet memberi saya banyak informasi yang cukup mengejutkan. Buat saya yang hidup dan dibesarkan di kampung di pedalaman Madura, saya baru sadar bahwa plastik sebenarnya adalah sejenis makhluk yang hadir secara diam-diam di sekitar saya, sampai akhirnya saya tersadar ketika mereka telah memberi ancaman nyata yang mewujud dalam tumpukan sampah yang nyaris tak dapat terurai.

Air minum dalam kemasan plastik adalah contoh yang cukup mudah dilihat. Saya tidak tahu kapan persisnya orang-orang di kampung saya dan yang lainnya menjadi begitu terpikat dengan produk ini. Air dalam kemasan sudah menjadi bagian hidup sehari-hari masyarakat di sekitar saya. Di sekolah, kantor-kantor pemerintah, bahkan saat bertamu ke tetangga pun, saya biasanya akan disuguhi air dalam kemasan plastik. Semakin hari jenisnya pun semakin beragam—tak hanya air minum biasa, tapi juga teh, dan sebagainya. Sulit saya bayangkan sebelumnya: bahkan saya bisa mendapatkannya setelah ikut tahlilan di tetangga.

Kantong kresek adalah wujud lain dari plastik yang paling populer. Dari pusat perbelanjaan di kota-kota hingga pasar tradisional di desa, hampir semua menggunakan kantong kresek atau berbahan plastik. Mungkin karena proses kedatangannya yang cukup samar, orang-orang kebanyakan sulit bersikap kritis untuk mempertanyakan muasal dan nasib akhir dari kantong kresek yang diterima setiap kali mereka berbelanja ini. Mereka tak sadar bahwa usia kantong-kantong kresek itu akan jauh lebih panjang dari rata-rata usia kita. Tak hanya itu, mereka juga tak sadar akan harga yang harus dibayar untuk itu semua.

Ketaksadaran ini sering kali saya temukan saat saya berbelanja. Juli 2009, saat berkunjung ke Yogyakarta, saya sempat mampir ke sebuah toko buku dan membeli dua buah buku tipis. Saya membayar Rp 24.800,- untuk dua buku tersebut. Kebetulan saya tak membawa tas ransel. Akan tetapi, karena merasa kedua buku itu dapat saya pegang dengan nyaman, saya menolak kantong kresek yang diberikan oleh pelayan toko itu.

Si pelayan tampak keheranan dan setengah memaksa saya untuk menerima kantong kresek itu. “Mbak, saya tak mau menambah jumlah sampah,” kata saya, singkat.

Tapi dia tetap memaksa. “Gapapa Mas, ini. Nanti kalau sudah di luar, buang saja ke tempat sampah kalau memang tak mau,” katanya dengan nada dan ekspresi yang tak nyaman.

Saya tambah heran dan jadi bertanya-tanya dalam hati, apakah dia memaksa karena alasan promosi, yakni karena di kantong kresek itu ada nama toko buku ini?

“Mbak, tanpa kantong kresek, saya bisa membawa dua buku saya dengan nyaman. Jadi tak perlu. Lagi pula, sampah plastik itu butuh puluhan atau bahkan ratusan tahun untuk dapat terurai di tanah,” jawab saya sambil bergegas meninggalkannya yang tampak masih menunjukkan rasa jengkelnya atas penolakan saya.

Ini bukan pengalaman pertama saya berhadapan dengan pelayan toko yang keheranan saat ada pembeli menolak diberi kantong kresek. Sebenarnya, di penghujung 2008, di toko buku yang sama, saya juga mengalami kejadian serupa—dengan pelayan yang berbeda.

Bagi saya, pengalaman seperti ini jelas menunjukkan lemahnya pengetahuan dasar mereka tentang bahaya sampah plastik sehingga mereka tidak merasa sedang dikepung oleh bahaya sampah plastik. Akhirnya, peluang besar untuk menyampah dengan kantong kresek menjadi biasa. Sebaliknya, menolak kantong kresek tampak sebagai sikap yang aneh.

Biasanya, jika memang berniat untuk berbelanja, saya akan membawa kantong kain atau tas ransel dari rumah. Saat di rumah, saya cukup sering membawa tas plastik daur ulang karya murid-murid SMA 3 Annuqayah jika memang berniat mau berbelanja. Sering kali tas plastik daur ulang ini menjadi perhatian orang, termasuk pelayan toko. Pada saat itulah saya sering mendapat kesempatan untuk sekadar berbagi info mendasar tentang bahaya sampah plastik.

Berbagi pengetahuan, berbagi pengalaman, dan berbagi kesadaran. Itulah yang juga saya lakukan bersama murid-murid SMA 3 Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, sejak April 2008. Sepulang dari ETIC di Pasuruan, bersama murid-murid saya mencoba menyebarkan informasi tentang bahaya sampah plastik. Sejauh ini, kami menggunakan media hasil kreasi daur ulang sampah plastik sebagai penarik perhatian atau sebagai pintu masuk ke perbincangan yang lebih luas dan mendalam. Dari satu sekolah ke sekolah yang lain, juga dari satu komunitas ke komunitas yang lain, kami mencoba mengajak mereka untuk mencermati perubahan di sekitar, khususnya bagaimana sampah plastik telah pelan-pelan semakin mengancam.

Sampai di sini saya berkesimpulan bahwa sering kali kita butuh informasi dan pengetahuan untuk bisa mengubah perilaku tertentu. Tentu tak semua jenis informasi dan pengetahuan bisa memberi pengaruh perubahan. Mungkin kita juga harus pintar mengolahnya, meraciknya dengan “bahan” yang lain, agar informasi dan pengetahuan itu bisa menginspirasi untuk perubahan.

Dan ini bukanlah hal yang mudah.

Selain informasi dan pengetahuan, saya percaya bahwa dukungan sistem itu perlu, seperti bahwa kantong kresek itu tak dibagikan secara gratis di pusat perbelanjaan, seperti juga kenyamanan bersepeda di Belanda, dan semacamnya.

Akan tetapi, setelah tujuh bulan tinggal di Eropa, saya menjadi semakin percaya bahwa pengetahuan dan dukungan sistem saja mungkin tak akan cukup. Di Belanda dan Norwegia, misalnya, meski kantong kresek di pusat perbelanjaan ada harganya (EUR 0,22 di Belanda dan NOK 0,70 di Norwegia), saya kadang masih melihat orang belanja tak membawa kantong sendiri dari rumah sehingga harus beli kantong kresek.

Lain dari itu, teman flat saya yang orang Eropa ternyata juga tak terbiasa memilah jenis sampah, meski di komplek asrama mahasiswa di sini tong sampah dibuat terpisah dan para mahasiswa diingatkan untuk memilah sampah. Saat teman-teman di Milis Keluarga Trondheim, milis warga Indonesia di Trondheim, Norwegia, membahas tentang Earth Hour, ada yang kritis mempertanyakan mengapa lampu di kampus NTNU Trondheim sering menyala di malam hari meski mungkin ruangannya sedang tak digunakan.

Di Indonesia pun, saya juga pernah mengalami paradoks serupa saat mengikuti sebuah acara yang diselenggarakan oleh lembaga yang menaruh minat besar pada pendidikan lingkungan. Sajian makan siangnya menggunakan kemasan styrofoam.

Memang, sikap konsisten itu tak mudah dilakukan.

Pengalaman menyaksikan paradoks semacam itu, baik di tanah air maupun di Eropa, menjadi hiburan tersendiri buat saya. Perkenalan saya yang terlambat dengan pengetahuan dan informasi yang revolusioner dalam kaitannya dengan gaya hidup ramah lingkungan tak membuat saya minder dan surut untuk mendorong diri saya sendiri agar bisa lebih konsisten.

Lebih dari itu, ada hal penting yang selalu saya garis bawahi, yakni bahwa dukungan pengetahuan dan informasi, sistem, dan mungkin perangkat teknologi ramah lingkungan, semuanya adalah faktor eksternal. Perubahan, bagaimanapun, selalu akan kembali ke diri kita sendiri—bukan yang lain.

Moholt, Trondheim, 27/03/2010 12.10

Baca juga:
Against Plastic Rubbish

12 komentar:

Cinta Syahadah said...

Membaca tulisan sampean. Saya malah merasa lebih terlambat lagi dalam menerapkan prinsip pola hidup yang ramah lingkungan ini Ke. Terimakasih Ke.. :-)

M. Faizi said...

ayo mulai sekarang

ahmad bassam said...

membayangkan saja cara berhenti menggunakan kemasan/tas plastik sudah pusing, apalagi melaksanakannya....

M Mushthafa said...

Memang tidak mudah, karena itu menyangkut perilaku kita yang telah terbentuk sedemikian rupa...
Terima kasih untuk apresiasinya.

dhof said...

menarik skali dan ada sisi romantisnya. Plastik sebagai kemasan hanya berakhir menjadi sampah, itu jelas kontra produktif dengan semangat pemeliharaan lingkungan. Tapi kalo boleh jujur Mustof, banyak juga lho manfaat plastik. Sebagai bahan baku pembuatan alat2 tertentu,misalnya alat2 rumah tangga, plastik terasa lebih ekonomis dan mudah perawatannya.
Takutnya, akan muncul sikap serba anti sama plastik. Mari kita bangun dulu sistemnya.

Bernando J. Sujibto said...

tidak lambat fa,
itu mungkin fase kesadaran yang sebenarnya diberikan oleh Allah..
ehm

M. Faizi said...

Kalau Anda berbelanja di Golden Sweat Pamekasan, kasir akan tetap memaksa Anda untuk menerima kantong plastik dengan alasan "aturan main". Saya sudah memberikan jawaban seperti Anda, tetapi mereka tetap tak mau tahu. Saya ambil kantong plastik itu dan saya serahkan kembali kepada petugas yang bertugas membungkus, "Nih buat kamu!" begitu saya bilang, hehe...

M Mushthafa said...

Memang ternyata masih banyak orang yg tidak paham akan bahaya sampah plastik..harus lebih giat lagi menyebarkan info dan memperkuat kesadaran cinta lingkungan...

M Mushthafa said...

Memang ternyata masih banyak orang yg tidak paham akan bahaya sampah plastik..harus lebih giat lagi menyebarkan info dan memperkuat kesadaran cinta lingkungan...

Kurnia Musik Jogja said...

saya suka sekali dengan artikel dan pemikiran mas.

cahyani sucitra said...

Sya jadi terinisiatif untuk mendaur ulang kembali sampah2 plastik tersebut. Terimkasih sblumnya atas informasi ini.

M Mushthafa said...

@Kurnia Musik Jogja: Terima kasih atas apresiasinya.
@Cahyani Sucitra: Mari tularkan kesadaran untuk merawat bumi. Terima kasih.