Sunday, 14 February 2010

Mengunjungi Rumah Anne Frank

Dari luar, tak tampak sesuatu yang istimewa pada rumah itu. Di tepi sebuah kanal, berjarak sekitar 1,5 km dari Amsterdam Centraal Station, rumah yang berdiri kokoh itu tampak biasa saja, seperti rumah-rumah lain di sebelahnya. Namun, di siang hari, di pintu masuk rumah itu akan sering tampak orang-orang berbaris panjang membentuk antrean.

Rumah itu tak lain adalah “Anne Frank House”, sebuah museum yang mendokumentasikan kisah persembunyian Anne Frank dari kejaran rezim Hitler Jerman di era Perang Dunia Kedua. Gadis yang bernama lengkap Annelies Frank itu adalah satu dari jutaan korban pembantaian atas orang-orang Yahudi oleh Hitler.

Gadis kelahiran Frankfurt 12 Juni 1929 ini pada tahun 1933 bersama keluarganya mengungsi ke Belanda, saat Hitler memulai kekuasaannya yang anti-Yahudi di Jerman. Namun, pada bulan Mei 1940, tentara Jerman berhasil menduduki Belanda. Perburuan Yahudi pun juga terjadi di Belanda.

Terhitung sejak 6 Juli 1942, keluarga Anne Frank bersembunyi di rumah yang kini telah dijadikan museum itu. Lebih dua tahun mereka bersembunyi di tempat itu, sampai akhirnya di bulan Agustus 1944 tentara Nazi berhasil menemukan mereka.

Bagaimana kisah Anne Frank dapat tersiar ke seluruh penjuru dunia? Selama di persembunyian, Anne Frank menuliskan catatan-catatan hariannya dan akhirnya diterbitkan pertama kali pada tahun 1947. Saat ini, buku harian yang berjudul The Diary of a Young Girl itu telah diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa dunia, termasuk bahasa Indonesia.

Saat berkunjung ke museum ini, saya berusaha menangkap dari dekat suasana tempat yang menjadi latar penulisan salah satu autobiografi atau catatan harian yang paling menarik untuk dibaca itu. Rumah itu sendiri ditata sedemikian rupa sehingga tetap menyerupai kondisi aslinya.

Ketika berhasil menangkap mereka yang bersembunyi di rumah itu, tentara Jerman juga mengangkut semua furnitur. Akan tetapi, untuk dapat mengetahui gambaran lengkap kondisi rumah sebelum dikosongkan, di salah satu kamar terdapat miniatur rumah yang memberi gambaran detail setiap kamar-kamarnya.

Selain itu, di beberapa kamar terdapat semacam layar televisi yang menampilkan video-video pendek berkaitan dengan sejarah Anne Frank, termasuk video Otto Frank, ayah Anne Frank yang selamat dari eksekusi tentara Jerman.

Tentu saja, salah satu bagian paling penting dalam rumah ini adalah Secret Annex, sebutan untuk tempat persembunyian keluarga Anne Frank. Kamar yang menjadi persembunyian itu tampak begitu muram dengan pencahayaan yang terbatas. Toilet dan alat memasak yang cukup sederhana dibiarkan sebagaimana adanya.

Di salah satu sisi dinding, ada garis-garis pendek menandai perkembangan tinggi badan Anne Frank dan saudarinya, Margot. Dekat jendela, tampak sebuah iklan untuk Opekta, perusahaan Otto Frank, yang selama pendudukan tak dikelola secara langsung olehnya. Ada pula beberapa edisi majalah hiburan tergeletak di meja di ruangan yang lain, yang dahulu disuplai oleh pegawai Victor Kugler dan rekan-rekannya, yang mengamankan keluarga Anne Frank di rumah itu dan membantu mengelola perusahaan Otto.

Hidup yang muram dan sangat mendambakan kebebasan memang sempat tergambar dalam catatan harian Anne Frank. Bukalah catatan harian tanggal 24 Desember 1943, saat Anne Frank menulis: “I long to ride a bike, dance, whistle, look at the world, feel young and know that I’m free.”

Selama dalam persembunyian di Secret Annex, mereka harus menggunakan toilet dan bak cuci seminimal mungkin. Suara pun harus benar-benar dijaga—karena nyawa adalah taruhannya.

Sesungguhnya, hidup dalam persembunyian sekian lama karena nyawa yang terancam memang merupakan sebuah tragedi dan tekanan psikologis yang tak mudah dilewati. Hari-hari tak hanya dilalui dengan membosankan, tapi penuh waspada dan kecemasan. Apalagi untuk anak gadis belia seusia Anne Frank saat itu, yang mestinya melewati masa-masa indahnya dengan hari-hari penuh kebebasan. Namun, Anne Frank mengaku dengan tegas bahwa menulis dapat memberinya jalan pembebasan dalam mengatasi segala dukanya itu.

“When I write I can shake off all my cares. My sorrow disappears, my spirits are revived!”
tulisnya pada 5 April 1944. Menulis kemudian ternyata memang benar-benar menjadi satu-satunya jalan bagi Anne Frank untuk menyapa dunia yang sulit untuk dijangkaunya saat itu.

Rumah Anne Frank yang beralamat di Prinsengracht 263, Amsterdam itu mulai dibuka untuk masyarakat umum sejak 1960, 50 tahun yang lalu. Otto Frank sendiri yang secara aktif terlibat mengusahakan agar Secret Annex itu dapat diakses oleh publik sebagai sebuah museum.

Museum ini bukanlah museum biasa. Siapapun yang menyusuri ruang-ruang kecilnya yang penuh dengan sejarah pasti akan dengan cukup mudah terlibat secara emosional ke dalam situasi yang ingin digambarkannya. Sebagaimana disadari oleh Otto Frank, museum ini dapat menjadi tempat berbagi nilai-nilai kemanusiaan, hak asasi manusia, kesadaran akan ancaman prasangka, diskriminasi, dan kekerasan.

Meninggalkan Rumah Anne Frank, kesan mendalam tetap tertanam dalam ingatan. Saat ini, prasangka dan diskriminasi masih terus saja menghantui pergaulan masyarakat dunia. Kelompok masyarakat tertentu di berbagai belahan dunia masih sering dilekati dengan atribut-atribut tertentu yang secara sosial merugikan dan cenderung diskriminatif.

Rupanya, mempromosikan cara pandang yang sederhana untuk melihat orang lain memang tidak mudah. Proses dan dinamika sosial yang kompleks kadang mendorong seseorang untuk memperlakukan orang lain tidak sebagai manusia, tapi sebagai seseorang-dengan-atribut-tertentu—dengan berbagai konsekuensinya.

Beberapa pekan setelah mengunjungi Rumah Anne Frank, saya membayangkan, andai orang-orang yang telah pernah berkunjung ke rumah itu bisa menangkap kesadaran etis dalam memandang manusia yang lain, alangkah damainya dunia ini. Seandainya bukan seandainya.

Zeist, Utrecht, 5 Januari 2010.

Tulisan ini dimuat di Harian
Jawa Pos, 14 Februari 2010.

5 komentar:

M. Faizi said...

Kunjungan penuh inspirasi. Semoga kelak juga bisa berkeunjung, ke tempat orang terkenal yang lain....

Ke rumah Daniel Sahuleka, sudah?

M Mushthafa said...

Belum. Ke Museum Maluku di Utrecht juga tak sempat. Di Eropa buaaanyak sekali museum, dan bagus-bagus, inspiratif.

wazeen said...

negeri seribu museum ya kak?

M Mushthafa said...

saya ga sempat ngitung ada berapa :-) tapi memang inspiratif.. thanks.

lamanday said...

feature yg menyentuh, nuansanya reflektif