Monday, 1 October 2007

Malam Penuh Bintang di Halaman Belakang


Dini hari, aku kembali menyaksikan malam yang penuh bintang di halaman belakang. Kubayangkan, aku seperti duduk di balai-balai rumahmu, Yulis, di antara pepohonan dan sawah luas yang membentang di sekeliling. Kau bilang tak ada balai-balai di halaman. Tapi kelak aku pasti akan meletakkan balai-balai di halaman belakang ini, tempat kita nanti sesekali menghabiskan malam sambil menyaksikan bintang-bintang.

Yulis, kau tahu cahaya terang di ufuk timur itu, yang bergerak dari dasar garis langit dan terlihat seperti baru keluar dari peraduannya. Itu bukan bintang. Itu Venus, Yulis. Konon Venus adalah benda langit yang paling terang jika dilihat dari bumi, selain matahari dan bulan. Konon, ada yang bilang bahwa perempuan itu berasal dari sana. Entah mengapa, aku tak tahu pasti. Apa karena muasal nama Venus berhubungan dengan dewi kecantikan Romawi? Dalam sistem tata surya, planet yang berjuluk “bintang pagi” itu adalah planet paling panas, melebihi Merkurius. Temperatur permukaannya mencapai 460 derajat celcius. Jaraknya sekitar 41 juta kilometer dari bumi. Ya, 41 juta kilometer, Yulis. Itu artinya, jika kita—aku dan kau, Yulis—jalan-jalan ke sana dengan berkendara cahaya, maka kita akan menempuhnya sekitar 137 detik. Dua menit 17 detik.

Di arah timur agak ke tenggara, dengan posisi yang cukup meninggi dari halaman belakang rumah kita, yang tak kalah terang itu namanya Sirius. Pelajar yang menekuni astronomi mengenalnya dengan nama Alpha Canis Majoris. Ia menampakkan wujudnya dari horison di timur sejak jelang tengah malam tadi, dan terus bergerak meninggi. Yulis, aku sulit membayangkan bahwa kita dapat bertamasya ke sana, meski dengan cahaya. Dari halaman belakang rumah kita, Sirius itu berjarak sekitar 81,4 triliun kilometer. Jika dengan cahaya, kita akan menempuhnya selama hampir sembilan tahun. Ya, sembilan tahun, Yulis. Jika kita jadi berkendara cahaya ke sana, entah sudah seperti apa wajah lucu ponakan-ponakanmu. Entah juga bagaimana nanti ibu dan yang lain akan menatap kita dengan sedikit heran, menyaksikan raut usia kita yang seperti sedikit tertahan.

Yulis. Dari halaman belakang rumah kita, hamparan bintang dan benda-benda langit lainnya itu seperti mengejek kepongahan kita, yang kadang lupa diri bercampur takabur, merasa bahwa diri kita adalah segalanya dan orang lain tak punya apa-apa. Padahal, apa sih kita ini? Bahkan, jika berkendara dengan cahaya, mungkin usia kita tak akan cukup untuk sampai tiba di Antares, yang tadi malam selepas tarawih kulihat bersinar temaram kemerahan di ufuk barat daya, sedikit di bawah Jupiter yang tampak lebih terang. Yulis, kau tahu Antares itu berapa jaraknya dari halaman belakang rumah kita? Bintang yang diameternya lebih besar tiga ratus kali ketimbang matahari itu berjarak sekitar 3,7 kuadriliun kilometer dari sini. Artinya, ditempuh selama sekitar 400 tahun jika kita berkendara cahaya ke sana!

“Akan tetapi, katanya bintang-bintang juga dapat memberi rasa tenteram.” Tiba-tiba kau kubayangkan berkata pelan sambil tetap menatap ke arah Venus. “Yulis kemarin sempat membaca buku yang Kakak kirimkan terakhir, yang bercerita tentang bagaimana Nabi naik ke Langit melesat bersama cahaya kilat, setelah beliau dirundung oleh serentetan kejadian yang menyedihkan—istri dan pamannya tercinta meninggal dunia, di tengah upaya dakwahnya yang menghadapi tantangan berat. Yulis pikir, Nabi mungkin sekali merasa kehilangan, sangat terpukul dan sedih. Namun, ketika Nabi naik ke Langit, Yulis pikir Nabi kemudian menyaksikan bintang-bintang dari jarak yang lebih dekat, melewati atau bahkan mungkin singgah di bintang-bintang itu, dan betul-betul dapat merasakan keagungan Penciptanya.”

“Ya, mungkin.”

“Dan di saat merasakan keagungan Pencipta bintang-bintang itu, Nabi tak lagi sedih dan berkecil hati. Hatinya tenteram, karena sadar bahwa ia menjalankan misi sucinya atas titah Sang Maha Pencipta,yang selalu berada bersamanya.” Yulis melanjutkan. Aku melirik sedikit. Aku melihat senyum manis di ujung kata-katamu, dengan mata yang bercahaya.

Angin pagi berembus pelan di halaman belakang, seperti menyapa kita yang terkagum-kagum memikirkan bintang-bintang itu. Apakah angin ini dikirim dari bintang-bintang itu? Cahaya bulan yang masih cukup terang memoles rasa takjub dengan suasana yang meneduhkan dan begitu indah. Bulan akan terus melanjutkan perjalanannya ke arah barat. Di kejauhan, sayup-sayup terdengar lantunan pengeras suara yang memutar ayat-ayat suci. Ayat-ayat itu bercerita tentang alam semesta, tentang unta yang dicipta, bumi yang dihampar, langit yang membentang, dan gunung yang menjulang. Ayat-ayat itu seperti meneruskan bisikan pelan bintang-bintang.

“Kak, apakah di bintang-bintang itu ada kehidupan yang lebih tenteram?” Tiba-tiba kau bertanya. Tatapanmu masih tak mau lepas dari bintang-bintang itu.

“Entahlah, Yulis. Tapi sepertinya Kakak sudah cukup tenteram hidup di sini. Kakak tak terpikir bahwa bintang dapat menjadi rumah yang lebih indah daripada di sini.”

“Apa Kakak tak lagi rindu pulang?”

“Yulis, Kakak sudah menemukan tempat untuk pulang. Kakak menemukan banyak bintang di sini. Tak hanya di malam ini. Tak hanya di halaman belakang ini. Bintang-bintang itu tinggal di hati Kakak. Bintang-bintang yang tak hanya mengajarkan Kakak untuk mengubur rasa congkak dan menerbitkan semangat. Bintang-bintang yang menyejukkan, teramat indah, dan selalu memancarkan sinar terang.”

Aku menjawab pelan, dengan tempo yang melambat. Dan aku menghentikan kata-kataku di situ. Yulis diam, tak melanjutkan bertanya. Suara binatang malam masih terdengar dari sekitar, di antara pematang dan rimbun semak dan pepohonan. Yulis mengubah posisi duduknya, menggenggam erat tanganku, sambil terus menatap Venus yang bergerak menaik.


* Tulisan ini terilhami oleh software komputer "Starry Night Backyard". Terima kasih kepada Hendro Setyanto yang telah memperkenalkan saya pada software ini.

2 komentar:

Angel said...

andai aku bisa... aku akan selalu menemanimu merangkai bintang-bintang itu menjadi untaian kata yang nantinya akan menjadi lantunan syair indah dan menemani kita dalam sepinya malam-malam panjang di halaman belakang rumah.. namun sayangnya, semua itu hanya impian dan menjadi lyric kehidupan yang tak ternyanyikan bahkan oleh jangkrik di halaman belakang....

Indahpermai said...

Bukit bintang...