Thursday, 6 September 2007

Sejarah Buku-Buku


Pagi ini ada seseorang yang mengembalikan beberapa buku yang dipinjamnya dariku. Satu di antaranya ternyata kembali dalam keadaan cacat: ada satu halaman yang sedikit sobek, dan ternyata, yang lebih parah lagi, jilidnya lepas mendua. Saat kubuka dengan perlahan, kelihatan ada semacam jurang yang menganga. Bekas-bekas lem yang sudah tak kuat lagi merekatkan lembar-lembar halaman itu tampak menyedihkan dan tak berdaya. Beberapa lembar halaman di perbatasan jilid yang mendua itu seperti sudah akan segera copot satu-satu.

“Saya sudah menyimpannya di lemari. Tapi ternyata masih ada yang ngambil tanpa setahu saya, dan beginilah jadinya. Saya mau menggantinya,” katanya, setelah dia lebih dulu memberi tahu soal halaman yang sobek.

“Nggak usah,” jawabku. “Lagi pula, tiga buku yang kamu pinjam itu tergolong buku langka. Saya ga yakin sekarang masih ada yang menjualnya. Termasuk yang jilidnya lepas itu.”

“Aduh, bagaimana ya. Saya ingin bertanggung jawab. Saya mau memesannya ke penerbit, langsung,” katanya, dengan wajah yang menunjukkan rasa penyesalan bercampur sedikit ketakutan.

“Nggak usah, ga usah dipikirkan. Kali ini saya maafkan. Anggaplah ini hadiah ulang tahun buat kamu,” jawabku. Kemarin sore aku memang ketemu dia, dan dia baru menerima hadiah ulang tahun dari teman-temannya.

“Ya udah, makasih ya…” katanya sambil sedikit senyum-senyum malu.

“Banyak di antara buku saya yang udah langka, udah ga ada lagi di toko-toko buku.”

“Terus buku-buku itu dapat dari mana?,” temannya bertanya, seperti ingin membantu mengatasi rasa bersalah yang masih tersisa di temannya.

“Buku-buku itu sudah lama saya beli. Lihat saja tanggalnya. Ada yang sudah sepuluh tahun yang lalu. Dan penerbitnya udah gulung tikar beberapa tahun lalu. Jadi kalo sekarang ga mungkin bisa dapat bukunya kan?”

“Iya, udah kalo gitu. Maafkan ya udah bikin bukumu cacat.”

“Iya,” jawabku singkat. Mereka kemudian berlalu. Mungkin masih dengan rasa bersalahnya.

Aku jadi ingat buku-bukuku yang lain. Beberapa bukuku itu tak hanya ada yang sudah langka, sudah seperti menjadi barang antik, tetapi ada juga beberapa bukuku yang menyejarah. Memiliki buku yang sudah sulit ditemukan di toko buku memang menjadi kebanggaan tersendiri. Kadang ada beberapa teman yang ingin fotokopi. Tapi, buku-buku yang menyejarah lain lagi. Nilainya lebih dari itu.

Aku jadi ingat buku yang baru tuntas kubaca semalam. Judulnya Creative Writing, karya AS Laksana. Buku itu aku dapatkan dengan memesan kepada teman di Jogja. Kebetulan kami bertemu di acara pernikahan teman kami di Gresik, beberapa waktu yang lalu. Buku pesananku itu dia bawa ke Gresik. Nah, aku ternyata asyik membaca buku itu selama di perjalanan. Dari Gresik ke Surabaya. Dari Surabaya ke Sumenep.

Ngomong-ngomong, bagi beberapa penulis, perjalanan memang sering menjadi sumber ilham. Konon, Arswendo Atmowiloto banyak menangkap isyarat ilham untuk tulisannya saat ia bepergian. Nawal el Saadawi, sastrawan feminis asal Mesir juga menulis semacam buku perjalanan yang reflektif. Diah Marsidi, seorang wartawan senior Kompas, juga menuliskan kisah-kisah perjalanannya yang menarik dalam buku Sekali Merengkuh Dayung.

Ada beberapa buku yang kubaca dalam suasana perjalanan. Sebuah buku yang dibaca dalam perjalanan biasanya selalu menarik. Jika tidak, kita bisa berhenti membacanya, dan menyimpannya rapi di tas ransel. Buku yang tuntas kubaca semalam itu aku baca di antara Gresik, Surabaya, dan Sumenep. Di Gresik, aku sedikit membacanya ketika baru melaju bersama bis yang mengangkutku menuju Surabaya. Di Surabaya, aku sempat membaca beberapa bab dari buku 164 halaman itu ketika sedang menginap di rumah paman. Juga ketika sedang menunggu teman, di trotoar sebuah jalan besar yang di tengahnya ditanami pohon-pohon rindang. Membaca saat menunggu ternyata kadang memang tak bisa total, karena menunggu kadang menyelipkan perasaan tak tenang. Apalagi menunggu sesuatu yang istimewa.

Pagi ini, aku juga ingat Pangeran Kecil, karya Antoine de Saint-Exupéry. Aku membeli buku itu di sebuah akhir pekan, sepulang dari kantor, lebih tiga tahun silam, lalu aku langsung membawanya serta dalam perjalananku dari Jogja ke Malang, dan terus ke Jombang.

Aku juga ingat buku-buku yang lain, baik yang kubaca dalam perjalanan, kubeli di perjalanan, atau yang aku dapatkan di sebuah acara bersama teman-teman. Atau ketika aku mendapatkan sebuah buku langka di antara tumpukan buku usang yang tak diperhatikan orang.

Sebenarnya aku ingin meminjamkan buku Creative Writing itu kepada si peminjam buku yang mengembalikan tiga bukuku pagi ini. Tapi ga jadi. Aku bukan ragu dengan cara dia menjaga bukuku. Aku jadi merasa ada yang istimewa dengan buku itu—buku yang baru tuntas kubaca semalam, setelah sebelumnya separohnya aku baca dalam perjalanan. Aku baru sadar, bahwa buku-buku ada yang memiliki sejarah—seperti juga lagu-lagu, dan perjalanan. Menulis buku juga memiliki sejarah. Demikian pula, membaca sebuah buku juga punya sejarah. Seperti halnya kita yang punya sejarah.

Aku tinggal di dalam itu semua. Di sana, aku tak sendiri.


2 komentar:

MOMMO said...

:D fuih, kerong banget dengan Luk-Guluk, Hehehehe, kemaren ada yang nulis tentang bani syarqawi di http://agkarim.staff.ugm.ac.id

MOMMO said...

kak,,, saya sudah kirim email ke kak izi. oya saya juga sudah khatam rindu pulangnya,,, soalnya saya download pake teleport. :D tolesnah ce' lemma'en. eantosah update-annya :D