Saturday, 16 September 2006

Beban Cinta

Andai jodoh itu bukan rahasia Tuhan, apakah itu akan membuatnya lebih sederhana dan tak cukup memusingkan?

Yulis, tidakkah kau pernah berpikir, bahwa pada titik tertentu, dari sisi pandang tertentu, cinta itu dapat serupa beban yang harus ditanggung oleh mereka yang mengalaminya? Cinta memuat sejumlah daftar keharusan, yang mesti berada dalam bingkai ketulusan, berujung pada satu tujuan, agar mereka yang mengalaminya dapat mempersembahkan apa pun yang terbaik untuk semuanya, agar masing-masing dapat merasakan bahwa ada hal baru yang mencerahkan dalam jalinan hubungan mereka. Tapi cinta dapat saja serupa beban, bila apa pun yang harus dipersembahkan berwujud hal-hal yang berat, dan akhirnya seperti tak mampu terbayar.

Yulis, entah kenapa aku tiba-tiba berpikiran seperti ini. Kau tahu, aku pernah menanggung beban cinta yang lain, ketika semua keinginan dan niat yang telah begitu teguh terhadang oleh hal yang sama sekali tak bisa kuantisipasi; dan akhirnya, cinta yang terhimpun itu terhimpit dan terbendung, tak menemukan ruang untuk mengalir, dengan daya energi yang meletup semakin tak terkendali—untuk kemudian mewujud menjadi beban yang lain. (Aku tahu, kau tak akan suka jika aku masih berpanjang-panjang di alinea ini!).

Tapi beban cinta yang kini ada di pikiranku lain halnya. Beban cinta yang kumaksud adalah sejumlah kekhawatiran, tepatnya rasa cemas, yang mungkin dilanda seseorang saat ia berada di titik paling awal, ketika ia harus membuat keputusan bahwa ia akan bersiap untuk meneguhkan dan menetapkan rasa cintanya di suatu pelabuhan hati. Membuat keputusan cinta akan menjadi beban ketika ia tahu bahwa kelak ia akan sangat mungkin menghadapi hal-hal berat yang bersifat laten yang harus ditanggungnya; bahwa ia akan kesulitan mewujudkan impian, harapan, dan obsesi kekasihnya; bahwa rumah yang akan dihuninya masih centang-perenang oleh bermacam persoalan; bahwa orang-orang mungkin akan menatap aneh, kadang mencemooh, pada bahtera yang mereka tumpangi; bahwa ia seperti tak berada di jalur yang betul-betul sama dengan kekasihnya.

Apa aku terlalu tergesa membuat kesimpulan? Apakah alur pikiran semacam ini tak semestinya dihadirkan, untuk mula sebuah cinta yang menjanjikan banyak hal? Yulis, sebenarnya aku sendiri masih cukup bingung, apakah kekhawatiran di titik paling awal semacam ini cukup beralasan untuk suatu hal bertajuk cinta, yang kuyakini cukup mampu untuk meluluhkan berbagai dilema dan hambatan, serta cukup mampu untuk membangun rasa saling pengertian dan rasa permakluman. Mungkin saja kekhawatiranku ini terlalu berlebihan, atau malah mungkin menjadi cerminan dari sisa beban trauma dari masa silam. Mungkin saja beban cinta ini adalah wujud lain dari kompleks inferioritas yang menguasai pikiran, di tengah bayang-bayang perfeksi ideal yang berusaha diwujudkan!

Aku rasa kau tak akan suka jika aku terus mengotak-atik pikiran yang mungkin hanya omong kosong ini. Kau pasti akan bilang, apa yang kupikirkan ini hanya akan menambah pusing saja! Namun begitu, jika kau bilang bahwa kau sudah cukup pusing dan sudah cukup lelah dengan semuanya, aku juga ingin mengatakan bahwa aku pun merasa demikian. Sementara ini kuputuskan bahwa aku tak ingin dulu berpikir masalah ini, memilih itikaf saja, mengambil jeda, mengambil jarak, atau mungkin langkah mundur, untuk menemukan ruang pandang yang cukup baru dan berbeda, yang siapa tahu cukup berdaya guna dan menyegarkan.

Tapi entah mengapa pikiran tentang beban cinta ini muncul begitu rupa, menghadirkan rasa cemas yang seperti hendak mengantisipasi segala mimpi buruk yang mungkin datang. Dan tahukah kau, Yulis, bahwa jika pikiran-pikiran macam ini muncul, aku memang cukup mudah untuk terus menelusurinya hingga batas yang mampu kutempuh, hingga aku kembali ke tingkat kerumitan-teoretis yang sungguh memusingkan, bahkan meski tanpa rujukan-rujukan peristiwa yang jelas?

Tapi Yulis, syukurlah, bahwa aku masih bisa menemukan hal-hal yang dapat melegakan. Aku percaya bahwa dalam rahasia takdir cinta, dengan segala perih, kerumitan dan keindahannya, tersimpan banyak rahasia lain yang bisa jadi menyimpan keberuntungan buat kita yang menanti untuk ditemukan. Tinggal seberapa sabar dan seberapa jernih kita menghadapinya, dan akhirnya menemukannya. Kupikir, kita semua tengah mencari rahasia dan keberuntungan itu, tanpa sekarang harus tahu, dengan cara apa, di mana, dan dengan siapa kelak kita akan menuntaskannya.

2 komentar:

blogmales said...

Cinta harus memiliki.Buktinya ketika yang kita cintai di ambil orang.Kita merasa ada sesuatu yang telah dirampas dari diri kita.

Cinta tidak harus memiliki.Ketika kita kalah dalam memperebutkan yang kita cinati.

Masih ada Cinta yang lain.Yang ada dalam hati kita bukan lagi Cinta,tapi luka karena Cintanya telah berpaling pelan-pelan ha ha ha...

Mustova Have Nice Day !

Alvien said...

bila cinta harus kita pertahankan maka setidaknya kita harus mengutuk tuhan untuk merangkulnya dengan doa kita. saya merasa menarik dengan tulisan sampean ini. tulisan yang cukup menarik dan jarang saya temui. satu keajaiban yang tersimpan dalam perjalanan tulisan ini membuat saya berpikir ulang bagaimana beban cinta itu berhasil menguasai kita, yang membuat saya menarik lagi adalah"Andaikan jodoh itu bukan rahasia Tuhan, apakah itu akan membuatnya lebih sederhana dan tak cukup memusingkan".betul juga ya, Ra... kalau ternyata rahasia Tuhan itu telah menyimpan banyak kode yang tak pernah bisa kita pecahkan.
namun ternyata kita harus sadar bahwa cinta kita itu lahir dari hati kita dan hati kita itu terlahir dari rahasia Tuhan tersebut dan saya rasa memecahkan kode itu ada dalam diri kita. maka saya rasa Tuhan itu ternyata menjadi cinta buat hati kita.
itu saja,Ra... mohon tetap membimbing saya untuk menjadi hamba yang selalu dicintai TUHAN. selamat berkarya