Thursday, 23 June 2005

Kota, Suatu Pagi

Rupanya pagi memang tak selalu identik dengan cahaya matahari. Adakalanya mendung bertandang tanpa pemberitahuan di pagi hari, di saat semua orang berharap akan memulai harinya dengan sesuatu yang lebih baik, lebih cerah. Kemarin siang aku sempat bertanya kepada salah seorang mantan rekan kerjaku di kantor dulu, mengapa beberapa hari ini kota ini kerap diselimuti mendung dan hujan; padahal ini masih bulan Juni. Dia bilang, mungkin memang sedang ada seseorang yang sangat merindukan hujan. Atau mungkin Sapardi sedang akan merilis ulang album musikalisasi puisinya itu.

Tapi semalam yang datang bukan Sapardi. Sapardi memang pernah datang mengunjungiku, di suatu pagi. Tapi Sapardi tak bertamu di malam hari. Jelang tengah malam, malah Slank yang mengetuk pintu, setelah gelap listrik padam berubah temaram di antara cahaya purnama yang sedikit terhalang awan. Lalu Slank pun menyanyikan lagu pilihannya:

pagi dingin ga ada sinar mentari
dan langit pun terlihat gelap
mendung datang lagi
dan aku berdiri di atas gedung yang tinggi
memandang ramainya jakarta menyambut pagi ini

aku di sini… sendiri
aku di sini… uuh… sepi
mengapa aku di sini
jakarta pagi ini

pagi sunyi ga ada burung bernyanyi
putih embun pun kini telah terkontaminasi
aku seperti terbang ga memijak bumi
di antara merahnya emosi jakarta yang smakin ternodai

aku di sini… sendiri
aku di sini… uuh… sepi
mengapa aku di sini
jakarta pagi ini

aku di sini
walau apa yang terjadi
sampai aku mati


Apakah kota yang sedang kutinggali ini, pekan ini, juga tak beda dengan Jakarta? Mendung, hujan, juga polusi. Dan seseorang yang merasa sendiri, sepi. Begitukah kota?

Semalam, saat lagu itu didendangkan, sesuatu melintas di pikiranku. Mungkin sekali ada seseorang yang menyimpan perasaan khusus dengan lagu itu. Mungkin saja, ada seseorang di Jakarta, yang terbangun di pagi hari, lalu hanya mendapati mendung dan sepi. Riuh dan kesibukan belum dimulai. Dan tiba-tiba saja ia disergap oleh bayangan-bayangan tak keruan. Seseorang yang tiba-tiba dihadapkan pada suatu pertanyaan yang terdengar aneh: mengapa aku di sini. Semacam perasaan asing. Lebih tepatnya, perasaan terasing. Seseorang yang tiba-tiba merasa terdampar di suatu tempat, dan yang ada semata masa lalu yang terlalu sulit dicerna, dan masa depan yang terlalu sulit diterka. Semua membuat kekinian tak lagi memiliki referensi yang tepat.

Pagi yang mendung itu, diam-diam, mulai membuatnya teringat seseorang. Segerombolan serdadu rindu datang tanpa mengetuk pintu.

Seseorang diundang ke dua tahun yang lalu, di suatu senja, di kota yang berbeda. Seseorang sedang teramat merindukan pulang.

1 komentar:

Fuad Ngajiyo said...

Mungkin memang pagi tak selalu identik dengan 'cahya' matahari?