Saturday, 31 August 1996

“Kekeringan” Batin Manusia Modern


Fenomena kemanusiaan di era yang disebut sebagai zaman modern ini menggambarkan sebuah gambaran menarik tentang potret kehidupan manusia dalam perjalanan meniti kehidupannya di dunia. Zaman modern yang ditandai dengan berbagai macam perkembangan pesat di berbagai segi kehidupan manusia, terutama perkembangannya di bidang teknologi, telah membawa dampak yang sangat terasa pengaruhnya dalam tatanan kehidupan sosial masyarakat. Kecenderungan hidup pun sedikit demi sedikit mengalami perubahan yang cukup berarti. Sementara, tampak sebuah kenyataan bahwa teknikalisme serta bentuk-bentuk yang terkait dengannya semakin memiliki peran sentral dalam kehidupan manusia.1 Ketergantungan terhadap teknologi, sebagai salah satu bentuk kongkritnya, adalah suatu fakta yang mengisyaratkan akan hal tersebut.

Maka, sebagai akibatnya orientasi hidup manusia juga turut mengalami pergeseran. Manusia modern, sebagaimana digambarkan oleh banyak pengamat, telah mulai kehilangan arah untuk mendapatkan makna hidup yang dicarinya. Di sisi yang lain, bencana alam, perang antar bangsa, pencemaran akibat industrialisasi, menyebarnya wabah penyakit yang ganas, pemerkosaan hak-hak asasi manusia dan semacamnya mulai mewarnai kehidupan manusia modern. Dari satu sisi gambaran di atas, maka abad ke-20 ini juga dikenal dengan abad kecemasan (the age of anxiety).2

Apalagi memasuki abad pasca-modern ini, yang dianggap menyimpan segudang ancaman, terutama bagi keberlangsungan spiritualitas manusia, tantangan itupun menjadi semakin bertumpuk saja. Masyarakat dari hari ke hari semakin diberondong dan terkurung oleh berbagai macam budaya-budaya dan tata nilai yang oleh Jean Baudrillard sebagaimana dikutip Yasraf A. Piliang disebut realitas-realitas semu (hyper-real).3

Tulisan berikut ini berusaha untuk melihat lebih jauh permasalahan-permasalahan manusia modern dalam usahanya mencari makna hidup yang hakiki, di tengah-tengah perkembangan global di seluruh penjuru dunia. Di akhir tulisan ini, penulis mencoba memberikan sekedar tawaran solusi alternatif atas permasalahan tersebut, ditinjau dari perspektif Islam sebagai sebuah ajaran hidup yang komprehensif.


Era Modern dan Krisis Makna Hidup

Dalam sebuah teorinya tentang transformasi sosial, Alvin Toffler mengatakan bahwa perkembangan masyarakat dari sudut teknologi adalah bermula dari tahap primitif ke arah gelombang transformasi peradaban yang mengarah ke revolusi pertanian dan revolusi industri, yang diakibatkan dari penemuan-penemuan di bidang teknologi. Selanjutnya, untuk negara-negara yang telah maju, transformasi berikutnya mengarah pada transformasi gelombang ketiga yang disebutnya sebagai abad informasi.4

Sejak revolusi industri di Inggris tumbuh dan berkembang sebagai akibat timbulnya gerakan renaissance, terjadilah perubahan besar-besaran pada tatanan kehidupan manusia dengan menghancurkan tatanan-tatanan lama yang berkembang, yang kemudian terbentuklah sebuah acuan baru sebagai pedoman menjalani kehidupan manusia. Orientasi rasionalisme dan materialisme sedikit demi sedikit berkembang menjadi sebuah nilai yang inheren dalam masyarakat saat itu. Di bidang orientasi nilai kehidupan, perhatian manusia beralih kepada capaian-capaian duniawi yang bersifat materi dan penuh dengan semangat individualistis. Bahkan masyrakat ketika itu kemudian bersikap kritis terhadap ajaran-ajaran agama, dengan dalih menyejalankan ajaran agama itu dengan ilmu pengetahuan modern. Maka timbullah berbagai macam isme-isme baru yang merupakan mata rantai dari paradigma nilai yang berkembang sebelumnya. Isme-isme itu antara lain adalah hedonisme, liberalisme, kapitalisme, sekularisme, permissive, dan sebagainya.5

Transformasi industrial tersebut tentunya berdampak luas bagi segi kehidupan manusia secara keseluruhan. Segi-segi kehidupan masyarakat kemudian banyak didominasi oleh pabrik-pabrik, sebagai sebuah bagian dari faktor industri. Dalam artian, masyarakat diorganisasi seefisien mungkin sehingga manusia mirip sebuah mesin.6 Sehingga dampak lain yang begitu terasa, menurut Max Weber, adalah keterasingan manusia dari anggota masyarakatnya. Karena dalam masyarakat kapitalis, manusia akan selalu lebih banyak mengadakan kontak dengan alat-alat daripada dengan sesama manusia. Sementara dalam kehidupan bernegara manusia hanya menjadi instrumen dalam mekanisme kehidupan. Maka alienasi manusia tersebut menjadi sebuah realitas sosial yang nyata.7

Walaupun segenap usaha pembangunan dikerahkan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia, baik kebutuhan lahiriah atau batiniah, ternyata industri—atau lebih tepatnya teknologi—belum dapat memenuhinya dengan sempurna. Kejenuhan terhadap aktivitas kerja dan kesibukan hidup sehari-hari kemudian dicarikan jalan keluarnya. Maka dikembangkanlah industri pariwisata dan hiburan (entertainment)—dalam artian yang sangat luas—sebagai salah satu alternatif. Namun ternyata, ia tak mampu mengatasi permasalahan ini. Bahkan ia hanya menjadi usaha politis pihak penguasa untuk memalingkan rakyat dari isu-isu politik yang sedang hangat di masyarakat.8

Upaya-upaya pencarian makna hidup manusia modern akhirnya mereka tempuh dengan cara-cara yang aneh dan tidak sesuai denagn fitrah kemanusiaannya atau bahkan dengan cara yang berbahaya.9 Masyarakat modern yang kini telah mengalami ketidaksadaran massal itu akhirnya hanya berusaha menemukan makna hidupnya itu berputar-putar dalam realitas semu. Kita dapat melihat orang-orang yang terjerat pada kecanduan narkotik, mabuk-mabukan dan sebagainya. Hal-hal tersebut mereka tempuh sebagai usaha untuk meraih kebahagiaan dan makna hidup. Namun sayang cara yang mereka tempuh tidak mampu menjamin akan tercapainya apa yang mereka cari itu. Akibatnya, manusia modern kemudian mengalami apa yang oleh Viktor E. Frankl disebut sebagai frustrasi eksistensial, setelah mereka gagal untuk menemukan makna hidup yang diimpikan itu.10 Akhirnya, manusia modern diliputi oleh berbagai macam tekanan jiwa, yang terwujud dalam bentuk stress, neurosis noogenik, dan sebagainya. Dan, bertambahlah problem yang mereka hadapi itu dengan masalah-masalah baru yang kian kompleks.

Menurut Seyyed Hossein Nasr, seorang tokoh yang dikenal dengan ide-idenya tentang filsafat perennial, masyarakat modern telah kehilangan visi keilahiannya dalam menghadapi realitas hidup. Visi tersebut menjadi tumpul ketika mereka telah menjadi pemuja ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga integritas kemanusiaannya menjadi tereduksi dan kemudian ia terperangkap ke dalam sistem rasionalitas yang sangat tidak manusiawi.11

Pada bagian yang lain, di sisi eksternal teknologi modern telah menjadikan negara-negara berkembang sebagai obyek dari teknologi yang ada dengan penuh sikap ketergantungan kepada negara-negara maju sebagai penguasa industri. Keterikatan inilah yang kemudian menjadikan struktur politik dan pemerintahan negara berkembang tersebut cenderung menjadi eksploitatif, represif, serta memperlakukan masyarakatnya sebagai budak-budak yang banyak terbantung kepada elit penguasa.12 Maka, keinginan untuk dapat hidup lebih demokratis—yang sangat diimpikan oleh masyarakat negara berkembang itu—akhirnya menjadi sulit—untuk tidak mengatakan tidak mungkin—tercapai dengan sempurna. Selanjutnya, praktik politik totalitarianisme dan otoritarianisme menjadi sebuah realitas sejarah yang tak dapat dihindari.

Demikianlah, gambaran mengenai krisis yang sedang dialami oleh manusia modern, yang oleh Baigent—sebagaimana dikutip Nurcholish Madjid—disebut sebagai krisis epistemologis. Yaitu, masyarakat modern tidak lagi mengenal dan mengetahui makna dan tujuan hidup (meaning and purpose of life) yang hakiki.

Dan, akhir-akhir ini, manusia rupanya semakin menyadari bahwa seluruh krisis di bumi ini, tidak hanya disebabkan alasan material, tapi justru lebih pada sebab-sebab transendental. Yakni sebab-sebab cara pandang manusia terhadap alam ini. Atau—meminjam istilahnya Budhy Munawar-Rachman—dunia modern sekarang ini tidak lagi memiliki horizon spiritual. Bukannya horizon spiritual itu tidak ada, tetapi karena manusia modern itu hanya berputar-putar di daerah pinggirannya saja.13


Alam Keruhanian dan Manusia Modern

Salah satu dampak yang kita dapatkan dari berkembangnya ilmu pengetahuan modern dan teknologi adalah menipisnya kepercayaan kepada hal-hal yang gaib. Manusia modern telah meragukan hal-hal yang tidak dapat dijangkau ilmu pengetahuan modern dan hanya percaya kepada kenyataan-kenyataan empirik. Nurcholish Madjid memberikan sebuah gambaran, bahwa orang-orang dahulu mungkin harus berdoa agar tempat tinggalnya tidak disambar petir, karena mereka beranggapan bahwa petir adalah ekspresi kemurkaan Tuhan. Namun bagi manusia modern ia tidak bersikap demikian. Untuk menangkal petir, lanjut Nurcholish, manusia modern kini dapat menangkalnya dengan alat tertentu (penangkal petir).14

Padahal, menurut Ibnu Taimiyah sesuatu yang tidak dapat kita jangkau dengan akal pikiran belum tentu tidak ada wujudnya. Sementara, Huston Smith, sebagaimana dikutip oleh Nurcholish Madjid dari bukunya yang sempat menjadi best seller dunia berjudul Forgotten Truth, mengatakan bahwa apa-apa yang kita lihat ini pada hakikatnya tidak seperti apa yang nampak dalam pengalaman kita sehari-hari. Indera kita tidak dapat memberi informasi tentang hakikat alam yang sebenarnya.15

Al-Qur’an sendiri mengisyaratkan bahwa dimensi keruhanian itu sendiri terdapat dalam benda-benda di dunia ini, baik yang bernyawa atau yang tak bernyawa.16 Dan menilik dari apa yang tersirat dari beberapa ayat mengenai hal tersebut, sepertinya Al-Qur’an sedikit memberi perhatian bagi kita untuk memberikan perhatian lebih kepada dimensi keruhanian tersebut dalam usaha untuk mencapai kebahagiaan hidup.17

Sementara bila kita lihat dari struktur kepribadian manusia, ruh yang juga memiliki dimensi keruhanian tersebut merupakan salah satu dimensi yang memiliki kedudukan dalam struktur kepribadian manusia itu sendiri. Aspek kejiwaan manusia tersebut juga sangat menentukan dalam perilaku kehidupan manusia, terutama dalam upaya pemenuhan kebutuhannya. Sehingga bila ternyata kebutuhan ruhani mereka tidak terpenuhi, maka sepertinya akan ada sesuatu yang hilang (something lose) dalam kehidupan mereka. Dan inilah yang telah diabaikan oleh manusia-manusia di abad mesin ini.

Bila kita melihat dimensi ruhani ini secara cermat dan sempurna, sebagaimana diungkapkan Jalaluddin Rakhmat, mengutip pendapat Harman, sebenarnya dimensi inilah hierarki pengetahuan tertinggi yang juga merupakan tujuan universal dari sains modern. Lebih lanjut Jalal memberikan gambaran sebagai berikut. Misalnya kita sakit flu. Pada tingkat sains pertama (sains fisikal) kita dapat menyebut penyebabnya adalah virus. Pada tingkat sains kedua (sains kehidupan), kita akan menyebut bahwa itu disebabkan terganggunya sistem kekebalan tubuh kita. Sementara pada tingkat sains ketiga (sains manusia) kita bisa mengatakan itu karena stress, baik karena masalah keluarga, masyarakat, lingkungan, dan sebagainya. Dan pada tingkat sains keempat (sains Ruhaniah) kita akan mempunyai persepsi yang lain. Kita tentunya akan mempertanyakan: stress itu bersumber dari mana? Maka jawabannya: stress itu adalah respon psikologis terhadap lingkungan yang bersumber dari persepsi “jiwa”.18

Akhirnya, tentu kita dapat menyimpulkan bahwa pada hakikatnya, dimensi ruhaniah inilah yang menjadi tujuan universal sains modern. Sementara itu, sains modern yang berkembang selama ini nampak cenderung bersifat reduksionis sekali. Sehingga untuk mencapai tingkat eksistensi sains yang lain tidak bisa untuk diterapkan.19


Kembali Kepada Yang Transenden

Ada sementara orang begitu pesimis dengan manusia modern. Rasa pesimis mereka tersebut bukannya diungkapkan tanpa alasan begitu saja. Tetapi berdasarkan atas realitas historis yang nampak di depan mata kita, yang memang nampak mencemaskan. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa “lonceng kematian” sains modern telah benar-benar berdentang. Suaranya menggema ke seluruh penjuru dunia dan telah mengagetkan manusia-manusia yang selama ini menomorsatukan sains modern itu. Kondisi modernitas ini membawa manusia pada persimpangan jalan yang betul-betul membingungkan. Dan pilihannya hanyalah antara to be or not to be.20

Lalu, kira-kira bagaimanakah jalan keluar dari aneka ragam problem manusia modern ini?

Mungkin, satu-satunya jalan yang perlu diambil oleh manusia modern ini adalah kembali kepada kebenaran transendental yang abadi, yang oleh Jalaluddin Rakhmat diistilahkan dengan kearifan perennial.

Kearifan perennial ini dapat kita katakan sebagai sebuah corak penghayatan keagamaan secara esoteris dengan berdasarkan kepada pengalaman-pengalaman spiritual yang berlandaskan kepada wahyu. Ini memang membutuhkan sebuah tingkat kedisiplinan yang tinggi yang bersifat medidatif. Kearifan perennial, mencoba untuk menggali kembali nilai-nilai suci dalam diri manusia yang bersifat metafisik, untuk kemudian diekspresikan dalam bentuk aksi sosial.21

Usaha semacam ini berangkat dari asumsi dasar bahwa di era modern ini manusia telah “menghapus agama” akibat kesadaran subyektifnya berkembang setelah pemikirannya diracuni oleh filsafat-filsafat modern yang penuh dengan nilai-nilai materialistis serta semangat membangun dunia material yang tinggi, dengan mottonya: Sapere Aude! (beranilah berpikir sendiri!).22

Paradigma kearifan perennial ini sebenarnya bukan isu baru bagi wacana pemikiran dunia filsafat. Ia sebenarnya telah tertanam sebagai nilai suci dalam nurani manusia pada bagian yang terdalam. Usaha untuk kembali menangkap pesan-pesan kearifan perennial ini hanyalah semacam usaha “penemuan kembali” kesadaran hakiki yang intrinsik tersebut.23

Inti dari kerangka berpikir kearifan perennial tersebut, adalah kembali kepada wahyu—sebagai sumber dan dasar sebuah agama—dengan menambah nilai-nilai semangat wahyu pada sains yang dikembangkan. Dan, belakangan gerakan pemikiran ini kemudian dikenal pula dengan gerakan tradisionalisme yang merindukan kebenaran abadi (sophia perennis). Ia berusaha untuk mengangkat derajat manusia pada tataran yang lebih tinggi dengan meninggalkan nilai-nilai materialisme yang terkandung dalam sains modern.

Ide dan gagasan seputar hal tersebut, akhir-akhir ini tersosialisasikan secara intens dan penuh dengan dinamika yang positif. Beberapa tokoh psikologi semisal Viktor E. Frankl, Stuart B. Litvak, Charles Tart, Robert Ornstein, dan sebagainya mulai ada gejala untuk mengembangkan psikologi tradisional yang banyak memadukan konsep-konsep keagamaan dengan psikologi.

Akhirnya, cerita tentang problem manusia modern memang masih tetap akan terus berlanjut seiring dengan perputaran zaman dari waktu ke waktu. Maka tak ada salahnya bila kita bersama kembali merenungkan, memikirkan serta mendialogkan hal tersebut dengan serius dan intensif sebagai sebuah refleksi dari rasa tanggung jawab kolektif sebagai umat manusia.


Catatan Kaki

1. Dari fenomena ini, Dr. Nurcholish Madjid mengatakan bahwa hakikat inti dari zaman modern ini adalah zaman teknik (technical age). Lihat, Dr. Nurcholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban, Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina, Cet. II, Desember 1992, hh. 451-2.

2. Hanna Djumhana Bastaman, Integrasi Psikologi dengan Islam: Menuju Psikologi Islami, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, Cet. I, Oktober 1995, h. 192.

3. Yasraf A. Piliang, Terkurung di Antara Realitas-Realitas Semu: Estetika Hiper-realis dan Politik Konsumerisme, Ulumul Qur’an, No. 4/Vol. V/Th. 1994, hh. 102-3.

4. M. Dawam Rahardjo, Intelektual, Inteligensia, dan Perilaku Politik Bangsa: Risalah Cendekiawan Muslim, Bandung: Mizan, Cet. I, Mei 1993, h. 163.

5. A. Naufal Ramzy, Islam Kontekstual di Tengah Kompleksitas Modernisme Global, makalah seminar pada Seminar Sehari bertema “Islam sebagai Kekuatan Alternatif Menyongsong Kebangkitan Islam”, dilaksanakan oleh OSIS MA 1 Annuqayah pada tanggal 23 Juli 1993 di Auditorium Annuqayah, Guluk-Guluk Sumenep, hh. 15-20.

6. Dr. Kuntowijoyo, Paradigma Islam: Interpretasi Menuju Aksi, Bandung: Mizan, Cet. III, Oktober 1991, h. 173

7. M. Dawam Rahardjo, Op. Cit., hh. 165-6.

8. Ini berdasarkan pada penjelasan Ngatawi al-Zastrow, seorang aktivis LSM dari Yogyakarta sekaligus mahasiswa IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ketika mempresentasikan makalahnya pada Dialog Terbuka SEMA STIS Annuqayah dengan tema “Peta Politik dan Gebyar Demokratisasi” pada tanggal 22 Juli 1995 di PP Annuqayah. Sementara itu, media massa, televisi, dan sebagainya yang berfungsi sebagai media hiburan dan informasi, akhirnya hanya menjadi semacam hidden tirany ketika berada di bawah regim otoriter. Lihat, Yudi Latif dan Idi Subandy Ibrahim, “Kekerasan” Spiritual dalam Masyarakat Pasca-Modern, Ulumul Qur’an, No. 03/Vol. IV/Th. 1994, hh. 73-5.

9. Soedjatmoko, Etika Pembebasan, Jakarta: LP3ES, Cet. I, Mei 1984, hh. 114-5.

10. Hanna Djumhana Bastaman, Dimensi Spiritual pada Psikologi: Logoterapi Viktor E. Frankl, Jurnal Ulumul Qur’an, No. 4/Vol. V/Th. 1994, h. 14. Mengenai pencarian makna hidup manusia, juga banyak dikupas pada tulisannya ini.

11. Komaruddin Hidayat, Upaya Pembebasan Manusia: Tinjauan Sufistik terhadap Manusia Modern Menurut Hossein Nasr, dalam M. Dawam Rahardjo (editor), “Insan Kamil, Konsepsi Manusia Menurut Islam”, Jakarta: PT Grafiti Pers, Cet. I, 1985, hh. 184-6.

12. Ziauddin Sardar, Teknologi dan Kemandirian Domestik: Sebuah Alternatif Islam, Jurnal Ulumul Qur’an, No. 8/Vol. II/Th. 1991, hh. 94-5.

13. Lihat, kata pengantar oleh Budhy Munawar-Rachman dalam Komaruddin Hidayat dan Muhammad Wahyuni Nafis, Agama Masa Depan, Perspektif Filsafat Perennial, Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina, Cet. I, Desember 1995, hh. xv-xvi.

14. Dr. Nurcholish Madjid, Islam Agama Peradaban, Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina, Cet. I, September 1995, hh. 146-7, dan h. 240.

15. Huston Smith memberikan gambaran, misalnya kita melihat sebuah kursi. Berdasarkan mata kita, kita mengatakan bahwa kita sedang melihat kursi. Padahal sesungguhnya bila kita lihat dengan kacamata sains (fisika) hakikat kursi itu adalah terdiri dari partikel-partikel dan atom-atom yang sangat kecil dan tak dapat kita tangkap oleh indera kita. Lihat, ibid., hh. 240-1, dan h. 245.

16. Misalnya dalam Al-Qur’an, Surat Bani Israil/17: 44, yang artinya: Langit yang tujuh dan bumi, juga penghuninya bertasbih kepada-Nya (Allah), dan tidak ada sesuatu apapun kecuali tentu bertasbih memuji-Nya, namun kamu sekalian (wahai manusia) tidak mengerti tasbih mereka. Lihat juga Q., s. Alu ‘Imran/3: 38.

17. Lihat, Q., s. Al-Baqarah/2: 1-7.

18. Jalaluddin Rakhmat, Kearifan Perennial: Paradigma Baru Sains, makalah pada Orasi Ilmiah Wisuda Sarjana dan Diploma III Universitas Asy-Syafi’iyah Jakarta pada tanggal 27 November 1993. Makalah ini kemudian dimuat di Republika, 14-16 Desember 1993.

19. Ibid.

20. Budhy Munawar-Rachman, “Lonceng Kematian” Sains Modern, Republika, 14 Januari 1994.

21. Jalaluddin Rakhmat, Op. Cit..

22. Budhy Munawar-Rachman, Pemikiran Filsafat di Dunia Islam Kontemporer, Republika, 24 Agustus 1994.

23. Budhy Munawar-Rachman, “Lonceng Kematian”…, Op. Cit.


Tulisan ini dimuat di Jurnal Pentas, Jurnal Keilmuan Siswa Madrasah Aliyah 1 Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep edisi keempat bulan Agustus 1996.

0 komentar: